"Akhhh! Akhhhh!
"Yeahhh Shhh ahkhhh oh shithhh!
"emphhhhh!"
"Terus jalanghhhhh!!!" desah seorang lelaki tampan dengan tangan sibuk memainkan ular pitonnya sendiri. Lelaki itu tengah bermain solo dengan fantasi yang sangat liar.
"Akhhhhhhh!!" pekionya saaat cairan putih kental keluar. Matanya terbuka dan barulah dia tersadr, dengan cepat dia memasukkan ular pitinnya kembali.
Prang!
Tiba-tiba saja dia merasa kesal dan marah, lalu melempar asal gelas kaca hingga berserakkan di lantai. Dia adalah Devienchent, lelaki muda yang masih berusia 28 tahun, dia merupaka seorang ceo termuda dan terkaya saat ini di dunia perbisnisan.
"Akhhh!" erangnya tak tahan sembari mengepalkan tangannya berusaha memendam rasa gairah yang bergejolak, nyatanya permainan solo tak cukup membuatnya puas. Semua itu terjadi karena matanya tak sengaja menatap seorang wanita yang memakai seragam office girl, dia sendiri tidak tahu mengapa pertahanannya luluh lantak hanya dengan tak sengaja melihat belahan dada si office girl yang tadi ke ruangannya. Padahal sebelumya dia selalu bisa mengendalikan dirinya, meskipun berhadapan dengan wanita seksi sekalipun dia masih bisa menahannnya, tapi entah mengapa dengan wanita beraeragam office girl itu ia seakan hilang kendali tak bisa menahan gairahnya.
Devien memang memiliki bafsu yang sangat tinggi, tak banyak yang tahu akan hal itu. Hanya Daniel asisten pribadinya saja ya g tahu akan hal itu, karena Daniel lah yang selalu mencariknnya boneka untuk di tiduri memuaskan gairahnya. Itu pula alasannya tidak ingin berdekatan dengan seorang wanita, selama ini dia menyembunyikan kebisaannya gilanya itu dengan bertopeng lelaki dingin tak tersentuh, banyak yang beranggapan jika dirinya tak tertarik pada wanita. Nyatanya itu semu tidak benar, dia sangat tertarik pada wanita, karena dia sangat tertarik maka ia membentengi dirinya sendiri.
Akhhh! "Sial! Kenapa berdiri begini!" kesal Devient melihat ke bawahnya ada yang mengembung di balik celana cinos hitamnya.
"Siapa wanita itu!? Berani-beraninya dia sudah membuat aku gila seperti ini!" kesalnya dengan tangan mengepal.
Di raihnya ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu menghubungi seseorang, siapa lagi selain Daniel sang asisten.
"Daniel! Cepat bawa seseorang yang bisa ku jadikan boneka sekarang juga!" perintahnya.
Daniel di seberang telpon terkejut, pasalanya majikannya tidak pernah seperti ini, dia tidak pernah meminta di saat jam kerja seperti sekarang ini. "Sekarang Tuan?" tanya Daniel memastikan.
"Sekarang Daniel! Bawa cepat atau ku pecat!! Ahh ya, pastikan tidak ada yang tahu!" ucapnya sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Daniel langsung saja menghubungi seseorang, untung saja dia sudah siap siaga menyiapkan seorang wnaita baru yang bisa di tiduri majikannya itu dengan puas. Dengan cepat ia bergegas menjemput sosok wanita itu, beruntung keberadaan wanita itu tidak jauh dari perusahaan saat ini.
"Cepat! Sekarang kamu harus bekrja seperti yang kita janjikan." Ucap Daniel pada wanita yang memakai dres seksi.
"Sekarang?" tanya wanita itu ulang.
"Iya sekarang, masuk ke mobil cepat." Perintah Daniel, wanita itu langsung saja masuk ke dalam mobil Daniel. Dan Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggai kembali menuju perusahaan. Sesampainya di perusahaan, Daniel menahan tangan wanita yang bernama Jesi itu. "Ingat seperti perjanjian kita di awal, kamu harus melayani majikanku tanpa ada yang tahu, kamu tidak boleh melawan dan hanya boleh menurut, kamu hanya di pakai satu kali ini, setelah itu silahkan pergi sejauh mungkin, kau paham!?" ucap Daniel mengingatkan perjanjian mereka.
"Iya-iya aku paham." sahut wanita bernama Jesi itu dengan malas.
"Sebelum itu ganti pakaianmu menggunakan ini," suruh Daniel menyerahkan baju office girl.
Jesi mengerut tak suka melihat baju tersebut, "Pakai ini? Tapi ini jelek!"
"Pakai cepat atau-
"Iya baiklah aku pakai," potong Jesi sembari membuka bajunya langsung di hadapan Daniel tanpa malu-malu.
Daniel yang tak biasa, langsung saja mengalihkan pandangannya ke lain arah. Melihat itu Jesi berdecih, 'Sok suci!' batinnya.
"Sudah." Ucap Jesi yang telah selesai memakai baju office girl, sengaja Daniel menyuruhnya menggunkanan seragam officegirl agar tidak di ketahui oleh karyawan.
"Pakai topi ini, berjalan lah dengan kepala menunduk, ikuti langkahku!"
"Iya."
Keduanya pun keluar dan masuk ke dalam perusahaan, cukup banyak mata yang melihat ke arah mereka. Namun saat melihat baju wanita yang di belakang Daniel
memakai baju office girl, mereka pun tak banyak bicara dan kembali lanjut ke aktivitas masing-masing.
Sampai tiba di hadapan ruangan Devien, Daniel kembali menghubungi sang majikan, memberitahukan jika bonekanya telah siap.
"Hm, bawa masuk ke dalam!" perintah Devien di seberang telpon.
"Ayo masuk." Ajak Daniel. Saat tiba di dalam ruangan, Jesi mengerutkan keningnya saat tak mendapati sosok siapapun di dalam sana.
"Di mana majikanmu? Katanya aku di suruh memuaskannya? Di mana dia?" tanya Jesi runtun.
"Diam, tutup mulutmu!!! Dan dengarkan aku baik-baik, di dsana adalah ruangannya, di dalam sana dia sudah menunggu, kamu harus melayaninya, di larang penasaran akan wajah majikanku, karena dia sengaja memakai topeng, dan jangan pernah sesekali kamu berani penasaran pada wajahnya dan mencoba membuka topengnya, paham!!"
Meski sedikit bingung dan heran mendengar kata topeng, Jesi pun menganggukkan saja kepalanya.
"Sekarang masuk ke ruangan itu dan layani dia!" Jesi mengangguk dan berjalan menuju ruangan yang di tunjuk oleh Deniel, sementara Deniel setelah memastikan Jesi masuk ke dalam kamar rahasia sang majikan barulah dia keluar dari ruangan dan berjaga di depan ruangan.
Jesi masuk ke dalam yang di tunjuk oleh Deniel, saat ia masuk dia langsung menatap ke ranjang di mana ada lelaki berbaring terlentang tanpa busana, dan dia menggunakan topeng di wajahnya.
"Cepat kemari!!" bentak Devien.
Jesi melangkah ragu.
"Buka pakaianmu jalang! cepat!" bentak Devien kesal melihat Jesi yang lamban.
Tak sabar, Devien bangkit dari tidurnya, dan langsung menarik tangan Jesi, mendorongnya kasar ke ranjang, lalu membuka dengan cepat seluruh pakain office girl yang melelat pada tubuh Jesii.
Sret!!
di robeknya paksa kancing yang susah terlepas hingga baju itu robek. Jesi sedikit takut melihat itu, namun ia hanya bisa pasrah saja seperti yang di katakan oleh Deniel.
Devien diam memandangi tubuh Jesi yang sudah tak memakai kain sehelai pun, tanpa menunggu lama dia langsung saja mbuka lebar kaki Jesi dan memasukinya tanpa pemanasan, sontak saja membuat Jesi menjerit.
Devien tak perduli akan teriakan kesakitan dari Jesi, dia terus memacu pinggulnya bak orang kesetanan, tak puas satu posisi, Devien membalik tubuh Jesi lalu kembali menacapkan senjatanya yang besar dan panjang .
"Akhhjhh!" pekik Jesi.
Devien selalu seperti itu jika memakai para bonekanya, dia yak pernah peduli teriakan kesakitan dari si wanita yang ia pakai. Dia hanya peduli kepuasannya, gairahnya yang harus segara di tuntaskan.
"Akhhh akhhh!"
"Berteriaklah jalang!" ucapnya sembari terus memacu pinggulnya dengan kecepatan tinggi.
***
Sementara Deniel di luar, tepatnya di depan pintu ruangan sang majikan, terus melihat jam di pergelangan tangannya.
'Aisss Tuan, cepatlah! Jam rapat setengah jam
lagi!' ucapnya di dalam hati.
Memamg benar setengah jam lagi ada rapat penting yang harus di hadiri Devien, tapi entah mengapa lelaki itu hari ini malah meminta boneka untuk memuaskan gairahnya, padahal sebelum ini tidak pernah ia meminta di kantor, selalu di malam hati dan tentu jauh dari jam penting seperti ini.
'Tumben banget sih juga ni Tuan Devien minta bineka di jam sekarang, kan jadi pusing aku, mana Pak ketua bakal hadir lagi di rapat hari ini.'
Berkali-Kali Daniel merapalkan doa di dalam hati, agar sang majikan menyelesaikan permainannya sebelum rapat di mulai, yang terpenting sebelum ketua datang. Sosok ketua yang di sebut oleh Daniel, adalah Kakek dari Devien, lelaki tu pemilik perusahaan yang di pegang oleh Devien.
Layla yang baru saja datang dari menyiapakn ruang rapat keheranan melihat Daniel mondar mandir bagai setrikaan di hadapan ruangan sang majikan. Dengan kening berkerut, Layla menghampirinya, "Pak Daniel?" panggilnya menyapa. Daniel terlonjak dan lansgung tersenyum pada wanita cantik di hadapannya ini. "Iya Layla, ada apa?" tanya Daniel.
"Apa yang Bapak lakukan di hadapan ruangan Pak Bos?" tanya Laylya bingung.
Daniel meringis. 'Haduh layla cangggung layla canggung hatiku bingung," selorohnya di dalam hati bernyanyi lagu kllasik yang selalu di nyanyikan ibunya dulu. "Enggak Layla, tadi Pak Bos minta jangan ada yang mengganggu dia, saya di suruh berjaga di sini." Sahut Daniel.
Meski sedikit kebingungan. Layla pun mengangguk dan memilih berlalu menuju meja kerjanya mengambil beberapa berkas yang tadi mau ia ambil untuk rapat. Sebelum ia kembali, Layla kembali menatap Daniel sebentar. "Tapi Pak Bos ada di ruangannya 'kan Pak Daniel? Karena sebentar lagi rapat akan segera di mulai." Ucap Layla.
"Ah ya, ada. Ada kok, aman, akan saya pastikan dia datang tepat waktu, kamu tenang saja, dan urus saja keperluan rapat jangan sampai ada yang terlewat." Sahut Daniel dengan senyumannya.
"Emm baik Pak, saya permisi dulu," sahut Layla dan berlalu pergi. Daniel kembali menatap jam di perelangan tangannya lalu menatap ponselnya menunggu pesan dari sang majikan yang belum juga ia terima sampai sekarang. 'Oh ayolah Tuan, mau sampai kapan bersenang-senang,' racaunya di dalam hati.
Di dalam ruangan, Jesi tergolek lemas akibat permainan tanpa jeda yang di lakukan oleh Devien, nafas Jesi terengah-engah, dengan keringat bercucuran di badannya yang Seksi tanpa sehelai pakaian. Devien yang baru keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapi kembali, dia sudah memakai pakiannya, namun topeng masih melekat di wajahnya. Itu adalah aksesoris yang selalu ia pakai saat bercinta, dengan tujuan agar si lawan mainnya tidak mengenali wajahnya, dan agar semua tentang gairah terpendamnya itu tidak di ketahui banyak orang. Devien langsung saja keluar dari kamar rahasia yang berada di dalam kamarnya, dia bahkan tak menoleh sedikitpun ke arah Jesi yang terkulai lemas karenanya. Di raihnya ponsel miliknya dan lansgung menghubungi Daniel, tak sampai satu menit pintu langsung terbuka dan masuklah Daniel ke dalam ruangannya. "Urus dia! Aku tidak ingin melihat dia lagi, dan pastikan dia menutup mulutnya." Ucap Devien.
"Siap Tuan, saya akan mengurusnya." Sahut Daniel patuh.
"Hm, apa rapat sudah di mulai?" tanya Devien melepas topengnya lalu menyimpanya di dalam laci.
"Lima menit lagi Tuan, Ketua sedang dalam perjalanan."Sahut Daniel menyampaikan informasi yang ia dapat dari Layla.
"Hm, kalau begitu aku akan pergi, dan kamu pastikan dia pergi sebelum aku kembali, dan ingat jangan sampai ada yang tahu akan hal ini, dan pastikan dia menutup mulutnya." Ujar Devien sebelum melangkah pergi dari ruangannya. Daniel pun lansgung saja bergegas masuk ke dalam kamar pribadi sang majikan yang berada di dalam ruangan.
Saat masuk ke dalam kamar , di lihatnya Jesi tergolek dengan badan tanpa sehealai kain. Dengan cepat di hampirinya wanita tu. "Ayo bangun, dan bersiap untuk pergi."Ucapnya datar pada Jesi.
Jesi membuka matanya yang sedikit berat, di lihatnya Daniel di hadapannya saat ini. "Berikan aku waktu istriahat sebentar ak-"
"Tidak ada waktu nona Jesi, cepat berpakaian, dan pergi dari sini." Suruh Daniel tegas.
Dengan tubuh berat dan sedikit malas. Jesi bangkit duduk di atas ranjang dengan badan yang sudah hampir remuk. "Boss mu sungguh mengerikan." Ucapya sebelum beranjak masuk ke dalam kamar mandi membawa baju Office girl yang baru yang telah di siapkan oleh Daniel untuknya.
Daniel hanya diam saja, dia sudah tahu, memang seperti itu lah sang majikannya, gairahnya yang terpendam tak banyak orang tahu.
***
Di ruang Office girl, Nindy tengah bersih-bersih, namun Mbak Heni datang menghampirinya. "Nindy, apa yang kamu lakukan di sini? Sudah kamu letakkan air minum di ruang rapat?" tanya Mbak Heni.
Nindy lantas mengerutkan keningnya heran, pasalnya itu bukanlah tugasnya. Itu tugas Lulu.
Tapi Mbak itu 'kan bukan tugas saya." Sahut Nindy.
Mata Mbak Heni yang mendengar itu nyaris terlepas , meolot pada Nindy. "Kamu ini, baru juga bekerja lima hari di sini suah seperti ini, di sini semuanya di kerjakan bersama, bukan tugas-tugas sendiri." Marah Mbak Heni. Mbak Heni adalah kepala Oficce girl di sana.
Nindy pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ruang rapat untuk melihat apa yang kurang dari sana. Namun belum sampai ia di ruang rapat, langkahnya sudah di cegat oleh Bella.
"Heh anak baru!" cegat Bella .
Langkah Nindy pun terhenti, ia tersnyum ramah pada Bella yang berdiri bersedekap dada di hadapannya. "Iya Mbak Bella, ada apa?" tanya Nindy ramah dan sopan.
"Mau ke mana kamu?" tanya Bella dengan nada sinis.
"Mau ke ruang rapat Mbak, di suruh sama Mbak Heni mengecek sesuatu yang kurang di sana." Sahut Nindy apaadanya.
"Heh! Itu tuh tugas aku dan Lulu, kamu gak usah ikut campur, kamu itu belum berhak ikut campur pada urusan yang seperti itu, apa lagi langsung berurusan mengenai para petinggi perusahaan."
Nindy menghembuskan nafasnya berat. Baru lima hari dia bekerja di perusahaan itu tapi rasanya batin dan mentalnya benar-benar terkuras mati-matian, memiliki rekan kerja yang memiki sifat senioritas semua.
"Tapi tadi saya di perintahkan sama Mbak Heni, itu bukan kemauan saya Mbak." Sahut Nindy mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya.
"Halah kamu itu, bilang aja kamu mau cari perhatian kan sama para petinggi perusahaan? Biar apa? Biar di jadikan sugar baby? Halah Nin, muka dan body jelek seperti kamu jangan berharap banyak."
Tangan Nindy mengepal kuat mendengar hal yang di lontakan Bella menyinggung harga dirinya. "Heh Mbak, jaga mulutnya ya! Saya memang baru di sini, tapi bukan berati Mbak Bella bisa semena-mena sama saya, saya tidak pernah berfikiran seperti yang Mbak sebutkan tadi, saya murni bekerja disini tidak ada niat macam-macam. Jadi Mbak tolong di jaga ucapannya!" sahut Nindy tak terima, dia merasa rendah dengan ucapan Bella.
Bella tentu tidak terima dengan sahutan Nindy, dia anggapnya Ninndy berlagak dan berani melawannya yang sudah senior dan lama di sana. "Heh! Kamu jangan sok hebat ya! Kamu berani sama saya!" bentak Bella maju.
Nindy berdecih! DI tatpanya nyalang Bella di hadapannya saat ini. "Aku tidak takut jika aku benar." Sahutnya tanpa gentar.
"Berani kamu sama aku ya!!" Tangan Bella melayang hendak menampar, namun sebuah suara menghentikannya tangannya yang menguara siap mendarat di permukaan kulit pipi Nindy yang mulus bersih.
"Ada apa ini!?" suara tegas itu kembali terdengar.
Bella langsung menarik tangannta dan menyembunyikannya di balik badannya sendiri. "Maaf Pak," hanya itu kata yang di keluarkan Bella. Sedangkan Nindy hanya diam dengan kepala menunduk.
Mata Devien terpaku pada sosok Nindy, sosok yang membuatnya menggila hari ini. Matanya menatap lekat ke arah Nindy yang menundukkan kepalanya. Merasa di tatap demikian, Nindy perlahan mengangkat kepalanya, dan Devien pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Saya tidak suka ada keributan di perusahaan saya, jika masih ingin rebut silahkan keluar dari perusahaan ini!" ucap Devien lalu melenggang pergi meninggalkan Nindy dan juga Bella yang masih menundukkan kepalanya hormat.
Setelah Devien pergi barulah, Nindy beranjak pergi. "Permisi Mbak," pamitnya pada Bella, dia masih menghargai Bella, itu sebabnya dia masih berpamitan, meskipun hatinya tengah kesal pada wanita itu.
Saat tiba di hadapan ruangan rapat, Devien berhenti di mana ada Layla yang sudah menunggu di sana. "Apa Kakek sudah datang?" tanyanya pada Layla.
"Belum Pak, masih di perjalanan." Jawab Layla.
"Lalu , Deren?" tanya Devien lagi.
"Pak Deren sudah datang Pak." Sahut Layla lagi.
Devien pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Deren merupakan Adik sepupunya yang menjabat sebagai wakil Ceo di perusahaan. Dia dan Deren sedikit bertolak belakang. Deren dan Ibunya sangat berambisi menjadi penerus EJ Group yang saat ini mereka kelola. EJ Group merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri, perusahaan itu di dirkan oleh Emile Jayandara, lelaki tu yang sekarang memiliki dua cucu yaitu Devienchent Jayandra dan Deren Jayandra.
"Ayo, kita masuk." Ajak Devien yang di angguki kepala oleh Layla, saat mereka masuk, para orang yang berada di dalam pun langsung bangkit dari kursinya dan menunduk hormat pada Devien.
"Duduklah kembali, kita akan tunggu Kakek terlebih dahulu, beliau masih di perjalanan." Ucap Devien sembari duduk di kursinya.
Deren diam menatap Devien, merasa di tatap, Devien pun langsung mengalihkan pandangannya hingga tatapan dua lelaki tampan yang masih memiliki hubungan darah itu bersitubruk.Devien mengangkat satu alisnya, melihat itu Deren langsung memutuskan kotak mata mereka.
Tak lama pintu terbuka, dan masuklah Emile Jayandra dengan tongkatnya, di belakangnya ada dua orang anak buahnya yang selalu ikut kemanapun dia pergi. Mereka semua pun langsung bangkit dari duduk masig-masing, lalu membungkukkan badan memberikan hormat pada Emile si pendiri perusahaann. "Duduklah-dudukah."Pesilahkan Emile dengan kekehannya.
***
"Ambil ini!" Daniel memberikan segepok uang pada Jesi.Mata Jesi berbinar melihat uang dua gepok di tangannya. Rasa lelah yang tadi mendera tubuhnnya seketika menghilang melihat banyaknya uang di tangannya. Senyumnya bahkan merekah. "Uh aku sennag kalau begini, katakan saja jika membutuhkanku lagi," ujar Jesi mengedipkan matanya pada Daniel.
Daniel terkekeh lalu berdecih pelan. "Kau tahu? Tuanku tidak memakai boneka bekas sampai dua kali. Jadi jangan berharap."Ucap Daniel penuh penekanan.
Jesi hanya diam, dan mengangkat bahunya acuh. "Oke baiklah jika Tuamu tidak mau, kamu bisa menghubngiku jika kamu berminat padaku?' ujar Jesi menggoda.
Daniel berdecih lagi, meski dia sering mencarikan boneka untuk mainan sang majikan,tapi Daniel bukanlah lelaki yang seperti itu. "Aku tidak tertarik pada barang bekas." Ujar Daniel dingin.
Ck! "Majikan sama anak buah sama-sama balagu!" kesal Jesi kesal. Daniel tak memperdulikan perkataan Jesi.
"Ingat jangan sampai ada yang tahu soal ini, atau nyawamu taruhannya." Ucap Daneil lagi mengingatkan.
Jesi memutar bola matanya malas. "Oh ayolah aku masih ingat semua pesanmu. Lagipula aku sudah mendapat bayaran ku yang sangat setimpal, jadi kamu selow saja." Sahut Jesi.
"Oke, baguslah kalau begitu, sekaramg turun dari mobilku."
Jesi mencibir Daniel, lalu keluar dari mobil lelaki tu, dan Daniel lagsung melajukan mobilnya kembali menuju perusahaan.
***
Usai rapat, Devien dan Deren bertahan di ruangan, itu atas perintah sang Kakek. Jadilah kini hanya ada mereka bertiga saja di ruangan rapat. "Apa kabar Kek?" tanya Devien.
"Seperti yang kamu lihat, Kakek sehat, dan Kakek masih menunggu kedatanganmu ke rumah." Sahut Emile.
Devien hanya diam tak menjawab, selama ini Devien memang tinggal sendiri, semua itu karena dia tidak cocok dengan sang Tante, Ibu dari Deren yang tinggal di sana.
"Minggu depan ulang tahun Ayahmu, datanglah ke rumah Devien." Suruh Emile.
"Ck! Merayakan ulang tahunnya? Tidak akan, Kakek tahu bagaimana aku membencinya 'kan?" sahut Devien. Devein sangat membencu sang Ayah, semua itu karena permasalahan beberapa waktu tahun silam, saat dirinya yang masih kecil. Ibunya di tinggalkan oleh Ayahnya karena memilih wanita lain kala itu, karena sakit hati, Ibu Devien sakit-sakitan hingga meninggal. Semua itu melekat di ingatan Devien, itu sebabnya dia sangat membenci lelaki berstatus Ayahnya itu.
Deren hanya diam saja sedari tadi, toh di tidak memiliki topic untuk ikut menyambung ucapan keduanya. Deren sendri sebenarnya tidak begitu tertarik dengan duani bsinis, jiwa sebenarnya ada di seni, hanya saja sang Ibu yang selalu memaksanya ikut andil di perusahaan.
Emile menatap Deren yang sedang memainkan ponselnya."Mau sampai kapan kamu menjadi berandal tidak beretika Deren?" Ucapan sang Kakek sontak membuat Deren langsung meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Maaf Kek." Hanya itu yang di ucapkan Deren dengan kepala menunduk.
"Kamu ini tidak pernah berubah. Jika hanya untuk mengacau Kakakmu di sini sebaiknya kamu keluar saja dari perusahaan ini." Perkataan Emile cukup menyinggung Deren, namun lelaki itu hanya diam saja.
"Kakek pulang dulu, pertimbangan lagi keputusan mu Devien." Ucap Emile sebelum beranjak pergi. Devien dan Deren pun bergegas bangkit hendak mengantar lelaki tua bertongkat itu.
Namun tiba-tiba Emile berbalik. "Tidak perlu mengantarku, aku masih tahu jalan keluar dari perusahaan ini." Ucapnya menghentikan langkah Devien dan Deren. Hingga lelaki tua itu menghilang di balik pintu barulah Devien dan Deren mengankat pandangan mereka yang sebelumnya menunduk.Mata keduanya pun bersitubruk, hanya bersitatap saja, tanpa berkata sepatah kata. Deren pun langsung saja melenggang pergi meninggalkan Devien.
Lima menit berlalu, barulah Devien beranjak meninggalkan ruangan rapat. Namun baru saja ia membuka pintu ruangan rapat, bersamaan dengan itu Nindy ingin masuk ke dalam. "Emm maaf Pak," ucap Nindy dan langsung menyingkir memberikan Devien jalan.
Devien menatap Nindy dari atas sampai bawah, di lihatnya bagian dada wanita itu yang cukup berukuran besar, Devien bahkan bisa menebak ukurannya meski tapa melihat.
'Ck! sial! Kenapa wanita ini bisa membuatku menggila seperti ini. ' Gairahnya bangkit lagi.
**
"Akhhh enakk Tuann terus tusuk akhhh! emphhh!"
"apa ini enak emommhhhh? akan ku sodok kau samapi puas jalanghh"
"akhhh sodok terushhhhh enakkk!!"
plok plok!
"Akjhh!"
"Pak? Bapak? Bapak tidak apa-apa?" suara itu menyadarkan Devien dari khayalan liarnya.
Devien bergegas kembali ke ruanganya, pertemuannya dengan Nindy di ruang rapat nyatanya kembali sukses membangunkan gairahnya. 'Akhh sial! Apa yang terjadi padaku!' erangnya frustasi.
Dengan cepat Devien beranjak pergi, karena setelah ini sudah tidak ada yang penting lagi.
"Daniel,"panggilnya pada Daniel.
"Iya Tuan." Daniel menghampiri.
"Aku akan pulang sekarang, wanita itu sukses membuat aku kembali bergairah, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Ah ya nanti malam bawa boneka baruku ke tempat biasa." Bisiknya pada Daniel sebelum beranjak pergi.
Daniel terdiam sesaat, dia masih bingung dengan siapa sosok wanita yang sukses membuat majikannya itu menggila seperti sekarang padahal sebelumnya tidak begini. 'Siapa wanita yang di maksud Tuan?' tanya Daniel di dalam hati.
Malam hari seperti yang di perintahkan Devien, Daniel datang membawa wanita yang akan menjadi boneka pemuas sang majikan.
Sedangkan Devien sudah menunggu di apartemen tempat biasa dia menuntaskan gairah terpendamnya, lelaki itu sudah menunggu di kamarnya dengan topengnya.
"Masuk dan layani dia, kamu di larang membuka topengnya," ucap Daniel memberitahu wanita berambut pendek yang akan menjadi boneka malam ini.
Ceklek!
Wanita itu masuk ke dalam kamar, di lihatnya sosok lelaki yang duduk di sofa dengan topengnya.
Wanita berambut pendek igu langsung saja melancarkan aksinya dengan di awali melucuti pakaiannya sendiri.
Devien hanya diam saja menatap wanita berambut pendek dari balik topengnya. Dia terus memperhatikan dalam diam wanita itu melucuti pakaiannya hingga sudah tak btersisa apa-apa. Sialnya entah menagap malam ini dia tak berminat pada wanita itu, pikiriannya hanya tertuju pada sosok Nindy, bahkan wanita yang bertelanjang di depannya saat ini seakan atak berpengaruh apa-apa padanya. 'Ada apa denganku?' batinnya keheranan sendiri.
Devien tersentak saat wanita bermabut pendek itu sudah di hadapannya dan duduk di pangkuannya, mulai bergerak sensual, Devien pun hanya membiarkan saja wanita itu bergeak, dia tidak ada niat untuk bergerak saat ini, pikirannya tak bisa berhenti memikirkan sosok Nindyy. Sakin anehnya dia, dia mulai berfantasi jika wanita bermabut pendek yang saat ini tengah membelainya itu adalah Nindy.
Tesadar, dengan cepat Devien menggelengkan kepalanya mencoba membuang sosok Nindy dari pikirannya. Tak mau larut terlalu lama pada sosok Nindy, Devien pun langsung membawa sedikit kasar wanita berambut pendek itu ke ranjang, lalu menghempasnya, dan tanpa pemanasan seperti sebelum-sebelumnya dia langsung mengajar wanita itu, membuat wanita yang di bawahanya mengerang kesakitan karena di masuku secara tiba-tiba di saat masing kering.
Namun Devien tak pernah peduli akan hal itu, yang ia tahu dia harus menuntaskan gairahnya , nafsunya yang gila itu. Devien memang tidak pernah melakukan pemanasan sebelum berhubungan, dia bahkan tak memperdlikan kepuasan lawan mainnya, baginya semua wanita yang di pakainya itu adalah sebuah boneka yang ia bayar untuk memuaskannya, jadi dia bebas memeperlakukan seperti apapun mainananya.
"Akhhh Ampun Pak! Ahkhhh!" pekik kesakitan wanita yang di bawah Devien, dia sudah menitikkan air matanya, tak di sangkanya jika lelaki yang du layaninya seakan kesetanan menungganginya berbagai macam gaya tak pernah berhenti ataupun instirahat sejenak.
"Diam! Kau tidak di perbolehkan berbicara selain mendesah!' bentak Deven selalu begitu yang ia ucapkan jika bonekanya meohon berhenti dengan semua apa yang dia lakukan.
"Akhhh Pakhhh akithhhhh akhhh!"
"Diam sialan!!"bentak Devien sembari terus menghujam ular pitonnya ke dalam goa lembab berlendir.
"akhhh ouhhhhh!" desahan wanita itu semakin membuat Devien menggila memompa pinggulnya, suara penyatuan kulit pun sangat terdengar nyaring.
***
Sementara Daniel seperti biasa pula dia menunggu di luar kamar menyiapkan sejumlah uang yang akan menjadi bayaran para wanita yang di jadikan boneka oleh sang majikan.
Dia sudah sangat lama bekerja dengan Devien, hanya dia yang tahu kebiasaan mengerikan sang majikan, hanya dia yang tahu jika sang majikan memiliki sebuah gairah yang terpendam, memiliki nafsu besar, selama ini orang-orang hanya tahu jika Devien lelaki tampan kaya raya dingin dan tak tersentuh oleh wanita. Padahal di balik segalanya ada sebuah kebiasan yang tersembunyi di balik sempurnanya sosok Dveiencent Jayandra.
Satu jam berlalu, Devien keluar dari kamar tempat ia memakai bonekanya, lelaki itu keluar masih dengan topengnya, sedangkan bagian bawahnya hanya terlilit handuk sebagai penutup. "Daniel, bereskan wanita itu." Perintahnya pada Daniel.
Daniel bangkit dari duduknya dan mengangguk patuh pada sang majikan. "Siap Tuan." Ucapnya dan permisi masuk ke dalam ruangan. Sedangkan Devien masuk ke kamar yang lain, kamarnya. Kamar, yang di jadikannya tempat beristirahat, dia tidak mau membawa bonekanya itu ke kamar pribadinya, dia selalu melakukannya di ruangan lain.
Daniel masuk, di lihatnya wanita bermbut pendek itu terkulai lemas, tak cuma wanita itu saja yang seperti itu jika habis melayani Devien, tapi hampir semua wanita yang di jadikannya boneka pasti berakhir seperti itu. Daniel berjalan mendekati ranjang yang berantakkan tak berbentuk lagi. "Hey bangun," panggil Daniel pada wanita itu.
Perlahan wanita berammbut pendek itu bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Jangan protes ataupun mengeluh, karena hal ini sudah kita bicarakan di awal, dan kamu sudah menyetujuinya, sekarang bangun dan ambil bayaranmu ini, lalu pergi dan jangan pernah muncul ataupun buka mulut itupun jika masih ingin hidup." Ucap Daniel berbicara sebelum wanita itu membuka mulutnya untuk protes.
Daniel memberikan satu gepok uang pada wanita itu. "Itu bayaranmu dan pergi sekarang juga." Ucap Daniel.
Dan sama seperti para wanita-wanita yang di jadikan boneka oleh Devien, mereka semua langsung bersemangat dan berbinar jika setelah di beri uang, dan rasa lelah mereka seakan menghilang begitu saja.
Seperti saat ini, wanita berambut pendek yang tadi letih sekali itu tiba-tiba saja bugar dan penuh semangat setelah mendapat uang dalam jumlah banyak, bahkan dengan cepat ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya . Setelah semua pakaianna terpakai dengan sempurna, ia menoleh ke arah Daniel. "Aku pergi, terimakaih atas bayarannya." Ucapnya dan melanggag pergi.
"Ingat nyawamu adalah taruhannya jika kamu bercerita pada siapapun mengenai hal ini."
Langkah wanita itu terhenti, ia menoleh menatap Daniel dengan senyuman di wajahnya. "Aman, aku penjaga rahasia yang handal." Ucapnya memuji dirinya sendii sebelum benar-benar keluar dari apartemen besar itu.
****
Sementara di salah satu rumah sederhana, seorang wanita berbadan mugil itu tengah menangis tersedu-sedu di hadapan rumah."Pergi?! Saya tidak ingin kamu tingga di sini lagi!' usir seorang wanita peruh baya.
Nindy memungut bajunya yang berserakan karena di lempar oleh sang Tante. "Tante, Nindy mohon, jangan usir Nindy." Mohonya lagi.
"Saya bilang pergi sialan!"