Bab 1

Ayah Abigail, Danu Wiratmaja memanggil putrinya ke ruang kerja di rumahnya yang besar itu. Putrinya yang saat ini sudah berusia 25 tahun baru saja pulang dari berkumpul dengan teman-teman elitnya, dengan terpaksa mendatangi ruang kerja sang ayah.

“Kenapa, Yah?” tanya putrinya dengan nada kesal.

“Kok gitu. Gak ada sopan-sopannya! Kamu itu masih ikut ayah lho,” tegur Danu.

“Bukan begitu, Ayahku sayang. Gail capek habis dari luar. Ibu di mana?” jawabnya mengalihkan topik.

“Gak perlu ngalihin topik. Ibu ada di dapur nyiapin makan malam. Ayah ada permintaan, eh, bukan permintaan. Lebih tepatnya perintah,” sahut Danu dengan senyum yang tengil.

“Apalagi Ayah? Aku tidak ingin mengelola Perusahaan. Suruh Abbas aja!” protes Gail menolak perintah ayahnya tanpa mendengarkan terlebih dahulu.

Gail memilih berdiri dari duduknya untuk pergi dari sana karena ayahnya masih saja membahas masalah penerus Perusahaan. Padahal dari awal dia sudah menolak untuk menjadi penerusnya.

“Lho, anak ini turunannya siapa sih! Iya, Perusahaan memang jatahnya Abbas, tapi bukan itu yang ayah maksud. Ayah ingin kamu memenuhi wasiat dari kakekmu,” terang ayahnya menjelaskan. “Ayo duduk.”

“Tentang apa?” tanya Gail yang tidak terlihat antusias dengan wasiat kakeknya. “Gak aneh-aneh kan?”

“Gak kok, ayah sudah berdiskusi sama ibu dan ibu setuju dengan ayah. Jadi mau tidak mau kamu harus mau,” goda ayahnya dengan senyum jahil.

“Ya udah sih, Ayah. Dari tadi gak disebutin. Gail capek, ngantuk!” protes Gail.

Danu yang sangat mengenal sifat putrinya karena kebanyakan sifat di masa mudanya menurun kepada putrinya saat ini. Yang sangat menurun justru sifat yang jelek, yaitu keras kepala.

“Ayah ingin kamu menikah dengan cucu dari teman kakekmu sesuai wasiatnya!” cerocos ayahnya cepat agar anak sulungnya setuju.

“Apa! Gak salah, Yah” sanggah Gail.

“Gak, bener kok,” balas Danu.

“Ayah, ih. Sekarang bukan jamannya perjodohan ya! Aku gak mau!” Gail pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan membanting pintu ruangan tersebut.

Ibunya yang mendengar suara keras itu segera menuju sumber suara. Dia melihat anak gadisnya naik tangga dengan tergesa dan melihat suaminya yang keluar dari ruang kerja.

“Ayah sudah bilang sama Gail?” tanya ibunya menebak dan diangguki oleh sang suami.

“Apa Ibu bilang, Gail gak bakal setuju,” cibir istrinya.

“Iya, tapi gimana dong, Bu. Keluarga Kusuma meminta jawaban lho, apalagi putranya akan pulang ke Indonesia akhir bulan ini,” cerita Danu kepada istrinya.

“Iya, Ibu tahu, nantilah Ibu yang beri pengertian ke Gail. Ayo sekarang kita makan dulu,” ajak Latifa ke ruang makan.

Sementara di kamar, Gail melepas dress yang sedari tadi dipakainya dan berganti dengan jubah mandi. Dia memilih untuk mandi meski malam karena berapa jam sudah dihabiskan di luar. Dia membersihkan wajah dari sisa-sisa riasan yang menempel pada wajah ayunya.

Entah turunan siapa wajah ayu tersebut karena dia terkadang dibilang mirip ayah, terkadang lain juga mirip ibunya. Namun, jika diperhatikan lebih detail lagi, untuk alis dan mata dia mengambil dari ayah sedangkan untuk hidung dan mulut dari wajah ibunya. Paduan keduanya begitu sempurna.

Usai membereskan riasannya dan menyiapkan air di bathtub, dia menenggelamkan diri ke dalam air hangat yang wangi aroma mawar.

“Apa-apaan sih ayah ini. Hari ini kok jodoh-jodohan. Aku kan belum ingin menikah!” omelnya pada ruang hampa di kamar mandi.

Setengah jam sudah dia berendam, akhirnya dia memilih untuk keluar karena air sudah menjadi dingin. Dia mengambil pakaian yang biasa dipakainya di rumah dan keluar untuk makan malam bersama dengan keluarganya.

Gail turun dari kamarnya menuju ruang makan dan di sana kedua orang tuanya sudah setengah selesai makan malam.

“Kok gak tunggu Gail sih?” tanyanya.

Kedua orang tuanya diam saja seperti tidak menganggapnya ada.

“Ayah, Ibu?” tanyanya. “Kenapa gak jawab sih?”

“Masih perkara perjodohan? Kalo aku jawab bersedia, kalian mau ngomong sama aku lagi?” lanjutnya.

“Bener mau ya?” tanya Danu memastikan.

“Tuh kan, baru mau ngomong. Kalian gini amat deh jadi orang tua!” protes Gail sembari mengambil nasi karena dia lapar.

“Ya, namanya juga wasiat. Kalo bukan wasiat, ayah sama ibu gak bakal maksa kamu.” Danu menjelaskan. “Wasiat itu kalo gak dijalankan, yang hidup yang dosa. Sebisa mungkin kita hindaril” lanjutnya.

“Tapi aku masih belum ingin nikah, Yah,” rengek Gail manja. “Ayah sama ibu sudah bosen ya ngerawat aku.”

“Hush, kok gitu sih. Ayah sama ibu itu mikirnya kamu kapan dewasanya. Sampe sekarang gak mau kerja di Perusahaan, cuma di toko bunga milik ibu aja. Itupun gak mau handle urusan keuangan. Cuma jualan bunga aja padahal kamu pinter lho,” timpal ibunya.

“Aku gak mau terikat, Bu. Lagian harta ayah siapa yang mau ngabisin hayo,” elak Gail.

“Satu alesan lagi Ibu pengen kamu nikah itu pengen punya cucu. Biar bisa ibu rawat dan banggain ke teman-teman arisan ibu,” sindir Latifa.

“Ya kalo gitu kenapa Ibu sama Ayah gak buat adik lagi aja daripada aku yang disuruh nikah,” balas Gail sekenanya.

Seketika nafsu makan Gail hilang entah ke mana. Mendengar orang tuanya mendesak dia untuk menikah dengan orang yang belum dikenal. Karakternya seperti apa, orang tuanya juga belum tahu. Mereka hanya tahu saat pria itu masih kecil. Kok segampang itu menyerahkan anak Perempuan satu-satunya mereka ke orang yang tidak dikenal.

“Lagian kok percaya banget lho padahal gak pernah ketemu sama anaknya teman Ayah,” lanjut Gail dengan protesnya.

“Ayah sudah ketemu sekitar tiga bulan lalu dengan pria itu dan ayah menilai baik dan pastinya cocok untuk kamu, Sayang. Ayah gak mungkin menyerahkan kamu kepada pria yang tidak baik. Gimana?” tanya Danu.

“Oke, aku mau dijodohin, tapi boleh tau dia umur berapa?” tanya Gail.

“Dia umur 4 tahun lebih tua dari kamu, Nak.” Danu menjawab tegas.

“Ya sudah, atur pertemuan kapan, tapi aku gak mau langsung nikah!” Kedua orang tua Gail berpandangan saling menatap dengan tatapan seperti mendiskusikan sesuatu.

“Kok gitu pandangannya? Gak ada yang disembunyikan, kan?” tuduh Gail curiga.

Karena sepertinya orang tuanya memiliki rencana yang dia sendiri tidak tahu apa itu. Kadang dia sendiri tidak bisa menebak apa yang orang tuanya rencanakan.

“Gak, Sayang. Kamu terlalu curiga,” timpal Latifa. “Nanti ibu bantu atur ya pertemuan kalian. Ayo sekarang lanjut makan.”

Gail lanjut menghabiskan makan malamnya dalam diam. Sambil dia terus berpikir apa yang harus dia lakukan dengan perjodohan ini. Sebelumnya, dia harus mengetahui motivasi pria ini, mengapa setuju dengan perjodohan ini?

Bab 2

Ketika Gail sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam, baru terpikirkan dalam otaknya jika dia belum bertanya tentang pekerjaan pria yang akan ditemuinya. Meski dia tidak gila uang, paling tidak dia ingin mengetahui apa yang lelaki itu hasilkan untuk menafkahinya. Untuk masalah pendidikan dia tidak menuntut harus setara dengannya.

Namun, pikiran tersebut tidak lama menetap di otak Gail karena dia telah memasuki zona rahasia yang dia buat tanpa ada orang yang tahu bahkan para asisten rumah tangga. Ini rahasia yang dia simpan selama empat tahun terakhir. Rahasia yang membuat dia tidak ingin terikat untuk bekerja dengan orang lain meski itu adalah orang tuanya sendiri.

Ketika pintu ruang rahasia tersebut tertutup, dia mulai fokus dan tenggelam pada apa yang dikerjakannya tanpa gangguan karena telah dia pasang peredam suara.

***

Gail terbangun pukul 08.00 pagi, sedangkan dia harus datang ke toko bunganya pukul 09.00 pagi untuk mempersiapkan pesanan seseorang yang akan diambil pukul 11.00 siang. Memang dia memiliki pegawai yang membantunya merangkai bunga, tetapi terkadang dia masih belum puas dengan hasil yang mereka buat. Sebenarnya hasil dari ketiga pegawainya itu bagus, tetapi dengan Gail yang memiliki sikap perfeksionis yang sangat merepotkan bagi orang lain.

Dia memang terkadang hanya menambahkan beberapa tangkai bunga lagi dan membuang beberapa tangkai bunga yang dianggapnya tidak cocok. Yang dibuang terkadang justru lebih banyak daripada yang ditambahkan. Namun, memang hasilnya menjadi lebih bagus dari hasil rangkaian pegawainya.

Padahal sikap perfeksionis itu juga terkadang merugikan dirinya sendiri. Saat dia mengerjakan sesuatu dan timbul rasa tidak puas akan hasilnya. Dia akan mengobrak-abrik hingga mencapai kepuasan tersebut. Namun, ketika kepuasan tidak tercapai dia akan mengalami perubahan mood yang parah dan justru merusak hasil karyanya.

Dia beranjak masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke toko bunga yang dimilikinya. Eh, lebih tepatnya milik ibunya karena selama ini dia memilih untuk menjadi pegawai. Lebih tepatnya, menempati posisi sebagai manajer salah satu toko bunga.

***

Gail turun dari kamarnya dengan tergesa dan melewatkan ruang makan karena dia sudah terlambat. Seperti inilah yang membuatnya tidak menyukai bekerja kepada orang lain. Harus taat pada aturan yang berlaku dan memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.

Dia menyambar salah satu kunci mobil miliknya yang tergantung di tempat gantungan kunci dan segera keluar dari rumah. Namun, panggilan ibunya membuatnya berhenti dan menghampiri di ruang makan.

“Kenapa, Bu?” tanya Gail.

“Kamu mau ke mana? Masih pagi begini,” desak ibunya.

“Mau ke toko bungalah, Bu. Ada pesanan buat nanti siang.” Gail protes kepada ibunya karena makin membuatnya terlambat. “Sudah ya, Bu, Yah. Aku berangkat.”

“Coba deh liat jam tanganmu sekarang hari apa. Cepet!” perintah Ayahnya.

Gail melihat kedua orang tuanya hanya tersenyum geli melihatnya sudah rapi dan cantik di pagi hari.

“Betapa rajin anak gadis kita, Yah,” goda Latifa.

Gail lanjut memperhatikan jam tangan pintar yang melingkar di tangan kirinya dan betapa malunya dia bahwa hari ini adalah hari Minggu. Sementara, toko bunganya tutup apabila hari Minggu dan tanggal merah atau hari besar.

“Ih, Ayah, Ibu mah gitu. Kenapa gak langsung bilang aja sih. Gak perlu bikin malu,” cebik Gail.

Mendengar putrinya yang masih memberikan protes kepada keduanya justru semakin membuat mereka tertawa keras dan wajah Gail semakin merah. Dia mengembalikan kunci ke tempatnya dan dia beranjak kembali ke kamarnya untuk mengurung diri.

“Lho, anaknya pergi, Yah. Padahal ibu belum bilang pertemuannya minggu depan.” Latifa baru saja mengingat apa yang ingin disampaikan ke putrinya.

Gail masuk ke kamarnya dengan membanting keras pintu kamarnya. Dia sangat malu sudah terburu-buru karena kurang teliti memeriksa kalendernya.

“Apa sebaiknya aku mempekerjakan orang lain ya untuk mengatur jadwalku. Huft!” gerutunya.

Dia mulai melepaskan pakaian kerjanya dan mengganti dengan baju rumahan. Hari ini dia ingin bersantai saja di dalam kamar, tetapi tak lama perutnya berbunyi sehingga mau tidak mau membuatnya harus turun lagi ke bawah.

***

Saat ini, Latifa sedang menghubungi Marinka, calon besannya karena putrinya telah setuju untuk menikahi putra Marinka.

“Halo, jeng Marin,” sapa Latifa ketika panggilannya tersambung.

“Iya, jeng Tifa,” balas Marinka tak kalah semangat.

“Putri saya sudah setuju nih. Gimana kelanjutannya?” tanya Latifa.

“Dhakaa si dari awal sudah setuju, jeng, tapi ya gitu katanya pengen ketemu berdua aja sama Abigail.” Marinka menjelaskan kepada Latifa.

“Emang kapan jeng Dhakaa pulang dari Paris?” tanya Latifa lagi biar dia bisa mempersiapkan putrinya.

“Kira-kira 2 minggu lagi, jeng. Gimana?” Marinka meminta pendapat calon besannya.

“Boleh, sekalian dipilih malam minggu saja ya, biar lebih romantis untuk mereka. Tempatnya kita juga yang tentukan karena Gail ikut apa kita,” ujar Latifa.

“Wah, nurut sekali ya Abigail, hihi. Aku bakal punya mantu,” kekeh Marinka.

“Kita berdua lho jeng sama-sama punya mantu. Baiklah, jeng, saya tunggu info selanjutnya untuk persiapan berikutnya. Eh, tapi saya mau tanya, jeng. Apa jeng Marin memberikan foto Gail kepada Dhakaa?” tanya Latifa kepo.

“Belum, karena tidak sempat dan saya juga tidak memiliki foto Abigail yang terbaru. Biarkan saja, jeng.” Marinka mengusulkan agar keduanya ada rasa penasaran saat nanti bertemu.

“Oke, ya udah, jeng. Saya mau lanjut memasak dulu,” pamit Latifa menutup panggilan.

Senyum terkembang di wajah Latifa setelah berkonsultasi dengan calon besannya. Memang tidak salah dia menyetujui wasiat mertuanya. Calon besannya sangat baik meski mereka baru bertemu sekali saat di pertemuan di sebuah pesta perusahaan. Jadi, dia yakin jika calon suami untuk putrinya tidak mungkin jika tidak baik.

Keseharian Latifa sebagai full time istri dan ibu di rumah membuatnya tidak pernah bosan dalam melakukan pekerjaan rumah yang tidak pernah habis. Meski memiliki asisten rumah tangga yang membantunya dalam pekerjaan rumah, tidak membuat Latifa bosan karena selalu ada saja yang dia kerjakan.

Sembari menunggu Gail turun dari kamarnya, dia memasak makanan favorit putrinya agar putrinya mau memaafkan dirinya dan suaminya. Juga dia akan menyampaikan informasi yang baru saja diterima dari calon besan.

Di sisi lain, Gail terpaksa keluar dari kamarnya karena perutnya terasa lapar sedari tadi pagi belum terisi. Dia diam-diam memasuki dapur untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana, tetapi ternyata di sana sedang ada ibunya yang memasak. Dia bisa mencium ibunya sedang memasak daging empal kering, kesukaannya.

Latifa yang belum tahu bahwa putrinya sudah berada di belakangnya. Karena Gail yang sedang kelaparan pun mengeluarkan bunyi ketika dia tidak sengaja mengambil gelas membuat Latifa menoleh.

“Eh, Sayang, sini, ibu masak buat kamu makan. Belum makan dari tadi pagi kan?” tanya ibunya perhatian.

“Iya, Bu, aku laper,” rengek Gail.

“Ayo, sana ambil nasi. Sudah matang kok sebagian, tinggal goreng sebentar.” Latifa mengambil beberapa potong untuk digoreng sebelum dia hidangkan ke putrinya.

“Oiya, Nak. Jangan lupa dua minggu lagi luangkan waktu ya. Karena saat itu kamu akan bertemu dengan suamimu!” ujar ibunya biasa saja membuat Gail rasa laparnya sedikit berkurang.

Bab 3

“Hah!” teriak Gail tanpa sadar.

“Kok teriak sih,” protes ibunya.

“Kok cepet banget, Bu. Dua minggu, aku gak siap.” Gail berpikir mencari alasan apalagi untuk menghindari ini.

“Lho, dua minggu ke depan itu untuk jadwal kalian bertemu pertama kali. Bukan langsung nikah, kan kamu kepengen ketemu katanya,” ucap Latifa mengingatkan.

Gail hanya diam dan memang ini yang dia sanggupi kemarin. Dalam pikirannya ketika dia menyanggupi bahwa pertemuan itu masih akan memakan waktu yang lama. Namun, ternyata dia salah. Dia harus mencari cara untuk menunda pernikahan ini.

“Ayo makan dulu. Ini daging empal kesukaanmu sudah matang.” Latifa memberikan sepiring berisi empal.

“Makasih, Ibu.” Gail berdiri untuk mengambil nasi di piringnya.

Selanjutnya dia makan dalam diam karena tenggelam dalam pikirannya.

“Gail,” panggil ibunya beberapa kali karena tidak dijawab oleh putrinya.

“Eh, iya, Bu. Kenapa?” tanya Gail.

“Kamu dari tadi ngelamun terus lho. Gak sabar ya pengen ketemu calon suami.” Latifa tidak hentinya menggoda Gail.

“Ih, apaan sih Ibu tuh. Bu, boleh tahu nama dia siapa?” tanya Gail.

“Kenapa? Penasaran ya,” goda Latifa. “Namanya Dhakaa, a-nya dua yang di belakang.”

“Eh, harus gitu banget,” jawab Gail.

“Iya, suka protes kalo denger cerita dari ibunya. Hihi, sopan kok anaknya, Sayang.” Latifa menceritakan saat mereka sedang berhubungan melalui video call.

“Ya, semoga aja beneran baik dan sopan kayak ibu bilang,” lanjut Gail sembari menghabiskan semua makanan di piringnya.

“Ibu, masakannya tetep enak. Aku gak bakal bisa buat kayak Ibu deh,” puji Gail setelah menyelesaikan makanannya.

Gail memang bisa memasak meski tidak sebaik ibunya, tetapi masakan yang dibuatnya tetap enak.

“Nanti kamu bisa memasak sendiri untuk keluargamu seperti ibu dulu,” kata Latifa mengenang masa mudanya.

“Ibu ngomong apa sih,” protes Gail. “Yaudah, aku balik ke kamar lagi. Oiya, Bu, Abbas kapan pulang dari kuliahnya kan dia sudah lulus.”

“Abbas sekalian nunggu wisudanya akhir tahun ini, jadi dia bakal di sana daripada bolak balik ke sini,” terang ibunya.

“Jadi, akhir tahun nanti ayah sama Ibu berangkat ke sana?” tanya Gail.

“Iya, kamu juga lho. Masak sebagai kakaknya gak mau datang. Lha kamu dulu pas wisuda adikmu datang lho,” protes Latifa mengingatkan putrinya.

“Iya, ya, tergantung tanggal berapa, Bu. Karena aku ada acara di sekitaran tanggal itu,” timpal Gail membela diri.

“Ya udah, kamu bilang saja ke Abbas sendiri,” saran Latifa.

Gail meninggalkan setelah mendengarkan ceramah panjang ibunya. Dia naik ke atas dengan mulut cemberut dan wajah tertekuk karena sepertinya harus mengatur ulang jadwalnya. Namun, dia harus menunggu konfirmasi dari adiknya, Abbas.

***

Setelah perutnya kenyang, Gail terpikir sebuah ide untuk mencari orang yang bisa bekerja dengannya membantunya mengatur jadwal. Karena dia sudah mulai kesulitan untuk mengatur jadwalnya di akhir tahun. Belum lagi jadwal dengan pekerjaannya di toko bunga ibunya.

Karena pekerjaan rahasianya yang sedang dijalaninya ini naik daun. Beberapa produk yang berhasil dia keluarkan sedang booming saat ini. Banyak yang sangat menyukai produknya terutama di kalangan anak muda. Namun, hingga saat ini dia tidak pernah menunjukkan dirinya ke publik.

Karena murni dia tidak mencari popularitas, dia hanya bertujuan untuk mengungkapkan apa yang ada di otaknya. Tidak disangka, karyanya booming dari pertama saat dikenal oleh orang lain. Sebenarnya, dia tidak berniat untuk menyembunyikan pekerjaan ini dari keluarganya, tetapi entah kenapa dia masih belum ingin menceritakan pekerjaannya. Hingga sekarang sudah berjalan hampir 2 tahun dia tetap tidak menceritakan kepada orang tuanya.

“Maafin Gail,” ucapnya pelan kepada foto keluarga yang ada di atas meja kerja di ruang rahasianya.

Mungkin keluarganya akan memaklumi mengapa dirinya tidak bercerita tentang kegiatannya, tetapi dia merasa belum siap. Belum siap untuk dihakimi oleh keluarganya. Cukup orang-orang di luar sana yang menghujatnya.

Gail melanjutkan pekerjaannya agar malam ini dia terbebas dan bisa tidur lebih cepat untuk menyambut hari esok. Namun, dia masih penasaran dengan siapa dan bagaimana calon suaminya sayangnya informasi yang dia dapat dari ibunya hanya sebuah kata, Dhakaa. Tidak ada yang lain, nama keluarga atau informasi lain selain dia sedang berada di luar negeri.

Dia ingin turun kembali ke ibunya untuk bertanya tentang Dhakaa, tetapi nanti yang ada malah digoda terus dianggap tertarik sama laki-laki ini.

“Ah, sudahlah aku selesaikan pekerjaanku dulu baru nanti urusan sama lelaki itu,” gumamnya.

Beginilah Gail apabila sudah fokus, keluarganya sudah paham dengan aktivitasnya yang selalu berada di kamar selama 2 tahun ini. Orang tuanya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Gail hanya turun sekali karena dia mengambil beberapa snack yang ada di dapur. Saat itu, dia melihat ayahnya.

“Yah, mau tanya dong. Siapa nama keluarga yang jadi calon suamiku?” tanya Gail.

“Lho belum dikasih tahu ibu kamu?” balas Danu.

“Cuma namanya aja tadi, Dhakaa.” Gail bercerita.

“Oh, bilang gak ya, enaknya,” kekeh Danu yang malah menggoda.

“Ih, Ayah, apa susahnya sih tinggal bilang.” Gail malah meninggalkan ayahnya dengan hati yang dongkol.

“Tau gitu gak perlu nanya ayah,” gerutu Gail sembari naik tangga.

***

Dua minggu kemudian, hari yang sudah ditunggu oleh kedua ibu dari kedua keluarga yang sama-sama bersemangat. Namun, tidak dengan Gail yang sedari tadi pagi masih cemberut. Menurut ibunya yang mengatakan mereka akan bertemu ketika makan siang nanti.

Tidak tahu kenapa, Gail yang seharian ini masih belum rela menjalani perjodohan ini, tetapi tidak menyangkal dirinya yang gugup untuk bertemu dengan Dhakaa.

“Duh, apaan sih jantungku dari tadi gak mau diem. Hati juga gelisah,” ujarnya menenangkan dirinya.

Dari arah pintu kamar, ibunya memasuki kamarnya dan mendengar perkataannya sehingga menimpali, “Gak perlu gelisah, Dhakaa ganteng kok, beneran cocok untuk kamu, Gail.”

“Apa sih, Bu. Aku gak gelisah karena dia ganteng atau jelek kok. Terus nanti aku taunya dari mana,” protes Gail.

“Kan, berangkatnya sama ibu, Sayang. Jadi nanti makan siangnya berempat lalu ibu sama jeng Marinka akan meninggalkan kalian berdua untuk saling mengenal selama dua jam.” Latifa menjelaskan rencana mereka.

“Tuh kan, Ibu punya waktu dua minggu lho buat ngomong ke Gail. Kenapa mesti ndadak gini sih!” pekik Gail sedikit kecewa sama ibunya.

“Ibu gak mungkin meninggalkan putri Ibu sama lelaki yang belum dikenal jika tidak ada mendampinginya.” Latifa menjelaskan. “Ibu minta maaf kalo ngasih tau dadakan karena ibu gak mau tiba-tiba kamu gak muncul di pertemuan itu.”

“Ck,” cebik Gail karena sudah ketahuan rencananya.

Pukul 11.00 siang, Latifa dan Gail berangkat dari rumah menuju restoran di hotel dengan Gail yang menyetir mobilnya sendiri. Setengah jam kemudian, mereka tiba lebih dulu di ruang privat karena tidak ingin terganggu dengan pengunjung yang lain.

Latifa dan Gail memilih untuk duduk terlebih dahulu dan memesan minum terlebih dahulu. Mereka memutuskan untuk menunggu tamunya. Sepuluh menit kemudian, pintu ruang privat tersebut terbuka dan masuklah dua orang ibu dan lelaki yang tegap dengan pakaian kasual.

“Jeng Marinka,” seru Latifa yang heboh bertemu dengan calon besannya.

Sedangkan Gail menatap ke arah laki-laki yang juga menatapnya. Membuat Gail menjadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Namun, lelaki itu justru mendekatinya dan menyapanya dengan suara yang berat.

“Halo,” sapa Dhakaa yang membuat bulu kuduk Gail meremang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED