Pagi hari yang tenang Aldi melangkah menuju balkon di lantai 2 kediamannya. Menggunakan piyama dengan secangkir cappucino buatannya dia menikmati susana yang begitu tenang.
Dari balkon dia melihat 2 orang gadis penghuni kos tampak bersantai di kursi-kursi tepi kolam renang. Mereka pun menyapa ketika melihat Aldi di balkonnya.
Aldi adalah seorang arsitek sekaligus interior design & Consultant. Kini dia lebih sering membagikan video-video tutorialnya melalui youtube dengan pengikut sebanyak 5 juta lebih. Selain itu di waktu-waktu tertentu dia juga mengisi sesi webinar yang diadakan oleh beberapa perusahaan dan universitas.
Di usia yang menginjak 35 tahun kehidupan Aldi terbilang sukses dengan banyaknya aset dan penghasilan yang dimilikinya. Namun ada kisah pilu di balik semua kesuksesan.
Aldi berasal dari keluarga yang pas-pasan, dia menjalani kehidupan kuliahnya dengan keterbatasan. Beruntung karena kecerdasan dan prestasi serta pandangannya yang visioner dia bisa mendapatkan beasiswa dari sebuah perusahaan swasta.
Selepas kuliah dia memulai kerja kerasnya di perusahaan yang telah membiayai kuliahnya tersebut. Karena potensinya Aldi pun disekolahkan kembali di luar negeri sekaligus meningkatkan pengalamannya di bidang arsitektur desain.
Tidak lama setelah kembali ke Indonesia, Aldi bertemu dengan seorang gadis yang kemudian melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Namun kehidupan asmaranya tidak dapat mengalahkan kesibukanya dalam pekerjaan.
Setelah pergantian kepemimpinan negara, banyak tender-tender pembangunan dibuka. Aldi pun mengambil kesempatan dengan mengambil lebih banyak pekerjaan yang menyita waktunya sepanjang hari.
Ditengah kerja kerasnya dia mendulang banyak rupiah dari proyek-proyek besar yang sedang berlangsung pembangunannya. Namun di sisi lain kehidupan pernikahannya tampak berjalan menuju ambang perpisahan.
Kurangnya perhatian menjadi alasan bagi mantan istri Aldi untuk menceraikannya. Beruntung mereka belum memiliki seorang anak dari hasil pernikahannya sehingga mereka bisa benar-benar berpisah setelah proses cerai selesai.
Setelah proyek-proyek yang dikerjakannya perlahan berkurang karena telah diselesaikannya, barulah dia merasakan keheningan dalam hidupnya. Sedikit rasa menyesal muncul dalam benak Aldi, hingga dia pun memutuskan mencari kesibukan tambahan.
Sejak itu selain tetap mengambil tawaran pekerjaan sebagai arsitek, di sela-sela waktunya dia membuat video-video tutorial tentang desain bangunan. Seiring bertambahnya pengikut di dunia maya Aldi merasakan peluang yang lebih menjanjikan di sosial media tersebut.
Dia pun mulai mencari peluang-peluang online dengan menjadi tutor di acara-acara webinar yang menjadi relasinya. Sesekali dia bahkan berperan menjadi dosen pengganti bagi salah satu universitas di kotanya.
Setelah melewati semua perjalanan itu kini Aldi merasa ingin lebih mengurangi waktu kerjanya dan mulai menikmati hidupnya. Dia pun membangun sebuah rumah kost setinggi 4 lantai dengan total 30 kamar yang tersedia khusus bagi wanita.
Ditambah 2 lantai sebagai kediaman pribadinya, kost miliknya ini tampak megah dan modern dengan berbagai fasilitas pendukung seperti AC, water heater, ranjang spring bed, ruangan dapur dan kamar mandi dalam serta wifi dan televisi.
Di lantai 4 terdapat mini garden, kolam renang dan pool side yang berisi meja kursi untuk bersantai. Di tempat itulah Aldi biasa menghabiskan waktunya sembari bekerja.
Setelah selesai menyesap kopinya Aldi pun kembali ke dalam dan mempersiapkan diri untuk sebuah sesi webinar yang akan dimulai beberapa menit lagi.
Di tengah langkahnya dia melihat sebuah kalender yang tergantung di dinding dekat area dapurnya. Terlihat nama-nama para penghuni kos tertulis di setiap tanggal.
“Hmm malam ini siapa ya, oh Liya. Besok hmm Olive dan Kathy berdua ya, Olive akan memasuki masa pmsnya jadi minta maju, oke siap. Lalu lusa wah ini yang aku tunggu si Desita” gumam Aldi.
Setelah itu Aldi pun bersiap-siap dengan kemejanya dan menyiapkan diri di meja kerjanya. 2 layar monitor di hadapannya dengan keyboard wireless dan sebuah microfone di sudut monitor.
Sesi webinar pun dimulai dengan sambutan dan rundown acara yang dibacakan oleh moderator, hingga akhirnya tiba waktunya bagi Aldi untuk mengisi sesi pertama.
“Halo semua apa kabar selamat pagi dan salam sejahtera, kita bertemu kembali bersama saya Aldi Rey. Sebelumnya terima kasih kakak Viona sebagai moderator, dan terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah bergabung dengan kami pagi hari ini” sapa Aldi melalui laya monitornya.
Aldi tampak sudah biasa melakukan presentasi di hadapan publik, dia berbicara layaknya seorang dosen yang sedang membagikan berbagai ilmu dan pengalamannya.
Pembawaan Aldi yang santai dan tenang membuat para partisipan menyimak materi Aldi dengan baik dan nyaman.
Di tengah-tengah proses presentasinya tiba-tiba Aldi merasa ada sesuatu yang menggerayangi bagian bawah tubuhnya. Namun karena dia sedang dilihat oleh banyak orang melalui webcam di atas monitornya membuatnya tidak bisa langsung memeriksa apa yang terjadi.
Dia merasakan tangan-tangan menyentuh bagian pahanya dan mulai menurunkan celana pendeknya. Ya Aldi hanya mengenakan kemeja di bagian atas untuk keperluan presentasi. Sementara bagian bawah dia masih mengenakan celana pendek yang biasa dipakainya di dalam rumah.
Nafasnya terasa mulai berat dan sedikit terengah ketika tangan-tangan itu mulai merogoh sesuatu dari balik celana dalam Aldi. Tak lama kemudian sensasi hangat dan basah dirasakannya dari ujung bagian sensitifnya.
Aldi pun berusaha bertahan di depan kamera selagi menahan sensasi tersebut. Kini dia benar-benar tak sanggup lagi menahan ketika sesuatu yang lebut itu mulai membangunkan dan memenuhi miliknya dan membuat detak jantungnya semakin tak karuan.
“Baiklah kawan-kawan selanjutnya bisa diamati dari video tutorial yang sudah saya siapkan berikut ya” ujar Aldi yang kemudian mengganti tampilan layar menjadi sebuah video persentasi.
Dengan cepat dia melihat ke arah bawah meja dan rupanya ada seorang gadis yang tengah memberikan stimulus padanya. Dia adalah Ericca, seorang pegawai swasta di perusahaan periklanan yang sedang mengejar sertifikat keahlian arsiteknya dengan meminta bantuan pada Aldi sebagai tenaga ahli.
Dia rela melakukan apapun untuk mendapatkan sertifikat tersebut. Awalnya dia hanya datang beberapa kali dalam seminggu untuk meningkatkan ilmunya, lalu semakin sering dan Ericca tampak semakin nyaman berada di sisi Aldi.
Kepribadian Aldi menciptakan karisma yang sulit untuk ditolak, sebagai balas jasa Ericca pun berusaha menyiapkan berbagai kebutuhan Aldi, termasuk kebutuhan biologisnya layaknya seorang isteri.
Kini dia lebih sering menginap di rumah Aldi daripada pulang kembali ke rumahnya. Aldi pun tidak terlalu ambil pusing akan keberadaannya karena dia merasa keberadaan Ericca tidak merugikan sedikitpun baginya.
“Uuuh kau ini, apa kau tidak tahu aku sedang mengisi sesi pertama?” ujar Aldi yang memegangi wajah Ericca yang begitu manis. Matanya yang indah dan rambut hitam tebal yang bergelombang serta tubuhnya yang mungil benar-benar sulit untuk ditolak.
“Hihi tentu saja aku tahu, lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kau lakukan dengan situasi ini?” ujar Ericca.
Tentu Aldi harus meninggalkan Ericca sesaat sampai sesi acaranya selesai, namun dengan wajah yang begitu manis dan situasi yang mendebarkan sulit bagi Aldi untuk meninggalkannya begitu saja.
Aldi pun menarik tubuh Ericca dan mengangkat tubuhnya ke atas meja di samping monitor. Dengan ganas dia terus melumat bibir mungil dan lembut itu dan dengan liarnya beradu lidah dengan Ericca.
Aldi pun melepaskan tali piyama yang dipakai oleh Ericca, setelah dibuka tampak tubuh Ericca yang tidak dalam balutan apapun seakan sudah siap untuk dinikmati.
Aldi lalu merebahkan tubuh ericca perlahan dan menggeser wajahnya ke bawah di area sensitif Ericca. Dengan salah satu tangan menutupi gunung kembar Ericca, tangan yang lain membantu stimulus yang dia berikan di bawah.
Dengan liar lidah Aldi bergerak membasahi bagian ujung liangnya tersebut. Dengan memasukkan jari tengahnya dia pun dapat merasakan liang yang hangat itu mulai basah.
Ericca menggelinjang tak karuan menerima rangsangan itu. Dia yang tadinya membuka lebar kedua pahanya, kini menjepit kepala Aldi dengan kuat.
Semakin cepat lidahnya bergerak diiringi gerakan jari yang menggelitik membuat Ericca mendongakkan kepalanya dan tak kuasa menahan kenikmatan itu.
Setelah puas di posisi tersebut, Ericca pun memberikan perlawanan dengan bangkit dari posisinya dan balik menyandarkan tubuh Aldi di meja kerjanya.
Ericca pun bergerak turun memainkan stik daging milik Aldi yang sudah sangat kencang tersebut. Dengan lihai dia menggerakkan lidahnya membasahi seluruh permukaan benda tersebut.
Dengan lihai Ericca memainkan lidahnya dan melumat seluruh permukaan milik Aldi, kemudian dia mencoba memasukkan semuanya ke dalam mulutnya.
Karena ukuran yang terlalu besar bagi mulutnya, hanya separuh bagian saja yang dapat dimasukkannya.
Setelah dirasa cukup basah Ericca pun beranjak dan mendorong Aldi untuk merebahkan dirinya di atas meja.
Dengan berpijak pada kursi, Ericca pun melangkah naik di atas meja kerja Aldi. Dia tampak terkejut melihat aksi Ericca tersebut.
Aldi mengingat durasi video yang dia buat adalah sekitar 30 menit, yang artinya dia harus menyelesaikan permainan sebelum video presentasinya berakhir.
Ericca yang berada di atas Aldi pun mulai menggerakkan tubuhnya ke depan dan ke belakang. Dengan satu tangan bertumpu pada paha Aldi, satu tangan lainnya memainkan rambut hitamnya membuat penampilannya semakin seksi.
“Wow kau benar-benar luar biasa” ujar Aldi yang melihat aksi Ericca dengan sedikit cahaya matahari yang menembus dari celah-celah tirai.
Dengan tubuh yang condong ke belakang membuat 2 gunung kembar Ericca menjulang dengan indah, membuat Aldi tak kuasa menahan diri untuk meremasnya.
Ericca pun mendesah ketika kedua gunung kembarnya yang kenyal telah terjajah oleh tangan-tangan Aldi.
Dengan liar dia meremas dan memainkan ujung payudara tersebut hingga membuat Ericca melambung tak karuan.
Ericca kemudian mengangkat dan membalikkan tubuhnya membelakangi Aldi. Dia menyuguhkan pemandangan indah dari bagian belakang tubuhnya yang begitu bulat.
Aldi tampak mengerang dan memejamkan matanya sembari memegangi benda bulat yang sedang bergerak di antara kedua pahanya tersebut.
Setelah puas dengan posisinya, Aldi pun beranjak dengan tubuh yang masih menempel dengan Ericca. Dia mengangkat Ericca dan memintanya berdiri di sisi meja. Dengan posisi berada di belakang tubuh ericca, Aldi pun mulai menggerakkan pinggangnya kembali.
Lebih cepat dan lebih cepat lagi, Aldi mengangkat dagunya seraya menikmati sensasi jepitan di area sensitifnya tersebut.
Ericca tempak melirik monitor yang tengah menampilkan video persentasi Aldi yang berjalan mendekati menit ke 13 yang artinya Aldi harus segera menyelesaikan permainannya.
“Hihi sepertinya kali ini aku berhasil mengalahkanmu ya” ujar Ericca
“Huh sial, 10 menit lagi ya” ujar Aldi yang kemudian meningkatkan serangannya pada Ericca.
Dia menarik tubuh Ericca hingga dia berdiri di depan tubuhnya. Tetap dalam pose yang sama Aldi menekan Ericca dalam posisi berdiri. Dengan bebas dia memainkan kedua gunung kembar ericca yang begitu kencang dan kenyal.
Ericca tampak kewalahan dengan serangan Aldi dari belakang ini, dia pun menarik wajah Ericca dan melumat bibir indahnya dari samping.
“Hmmpp hhmmpp” Ericca hanya bisa menopang dirinya dengan berpegangan pada tepi meja ketika tangan-tangan Aldi bergerak bebas di tubuhnya.
Sesekali Aldi mendorong dengan kuat membuat mata Ericca terbelalak, kemudian Aldi meningkatkan lagi ritme pingganggnya menekan Ericca.
Ericca tampak memejamkan mata dan memegangi tangan Aldi yang menahan bahunya ketika menekan tubuhnya dengan kuat. Ericca tampaknya telah memasuki fase klimaksnya ketika tangannya mulai mencengkeram lengan Aldi dengan kuat.
Aldi pun menarik dirinya dan membalikkan tubuh Ericca lalu merebahkannya di atas meja.
Membuka kedua pahanya selebar mungkin kemudian memasukkan kembali miliknya. Liang yang basah membuat Aldi bisa segera memasukkan miliknya sepenuhnya.
Aldi pun meningkatkan ritme pinggangnya menekan tubuh Ericca dan memegangi kedua kaki Ericca agar tetap terbuka lebar.
Tekanan yang begitu kuat dan dalam membuat Ericca lebih cepat memasuki fase klimaksnya. Tangannya pun berusaha menahan dorongan Aldi tersebut.
"Uhh uhh udah Al aku uhh uhh" Ericca tak kuasa menahan getaran pada tubuhnya, dia hanya mengerang beberapa saat menahan sensasi tersebut sambil mencengkeram kuat tangan Aldi.
Aldi pun menyadari bahwa Ericca telah sampai pada titik klimaksnya, namun Aldi justru semakin meningkatkan ritmenya untuk menyusul Ericca.
Setelah getaran hebat itu berkurang kini hanya rasa lelah dan perih yang dirasakan Ericca. Dia pun berusaha menahan tekanan perut Aldi dengan sisa tenaganya.
Suaranya tak dapat lagi tertahan "aahh aahh Al hmmpp" tangan Aldi seketika menutupnya karena mereka berada di dekat microfone walaupun Aldi sudah mematikan menu tersebut namun dia tetap berjaga-jaga.
Ericca tampak terkulai lemas bahkan hampir tak sadarkan diri ketika Aldi masih terus menggoyang tubuhnya.
Aldi pun memasuki fase Klimaksnya, dengan cepat dia pun menarik dirinya dari tubuh ericca di detik-detik terakhir.
Semburan dahaga yang kuat pun melesat dengan jauh hingga mencapai wajah Ericca.
“Uuaahhhh” sebuah erangan panjang dengan memejamkan mata diiringi dengan getaran di seluruh tubuh Aldi. Sementara Ericca hanya bernafas dengan tubuh yang begitu lemah.
Dia pun melihat video di monitornya yang sudah mulai memberikan salam di akhir persentasi.
Dengan cepat Aldi pun kembali ke kursinya dan membenahi kemeja yang sedikit berantakan.
“Hai kawan-kawan terima kasih telah menyimak video tutorial barusan, jadi sesuai materi yang baru saja dibahas setelah ini kita akan memasuki sesi tanya jawab. Apakah kalian sudah mempersiapkan pertanyaan kalian?” sapa Aldi melalui webcamnya.
Ericca tampak tersenyum di sebelah Aldi dengan masih di posisinya yang terbaring lemas.
Setelah sesi webinar itu berakhir kini giliran Ericca yang meminta panduan privat tentang materi yang sedang dikerjakannya.
“Hei apa tidak ada dari mereka yang menyadari derasnya keringat yang menetes dari wajahmu tadi?” goda Ericca.
“Haha benarkah sebanyak itu? Kurasa mereka tidak menyadarinya”
“kau benar-benar menjalani hidup yang indah Aldi, bagaimana kau memulai semua ini ?” tanya Ericca
“Hahaha yah aku hanya pandai bersyukur. Tapi memang itu semua tidaklah mudah” ujar Aldi yang kemudian membawanya pada ingatan kehidupan masa lalunya.
4 tahun yang lalu ...
***
4 tahun yang lalu di sebuah rumah sakit swasta.
Aldi perlahan membuka matanya, rasa sakit di kepala kembali menghampirinya. Dia berada di sebuah ruangan perawatan VIP.
Dia dijenguk sahabatnya Leonard, seorang kepala penanggung jawab proyek dari perusahaan developer ternama.
"Hei kau sudah sadar bro? Apa yang kau rasakan bro?" Tanya Leonard
"Oh hei, hhh yah masih sedikit pusing, tubuhku rasanya kaku sekali". Jawab Aldi
"Tentu saja karena kau telah tertidur selama 2 hari disini. Menurut dokter kondisimu baik-baik saja hanya kelelahan karena jam istirahat yang tidak teratur"
"Hhh ini pertama kalinya terjadi setelah sekian lama aku bekerja, mungkinkah tubuhku sudah selemah itu"
"Kau terlalu memaksakan diri kawan. Kurangilah job-job yang kau kerjakan, nikmatilah hidup kawan. Kita tidak pernah tahu kapan jantung ini akan mendadak berhenti" ujar Leonard.
"Hahaha kau terdengar seperti ibuku sekarang. Pekerjaan ini sudah membuatku kecanduan, sulit untuk berhenti"
"Dasar kau ini, apa kau bahkan pernah melihat isi rekeningmu? Sampai seberapa banyak uang yang ingin kau kumpulkan ?"
"Yah memang tidak pernah haha, entahlah mungkin aku merasa berapapun uang yang kukumpulkan tidak akan pernah cukup"
"Sudahlah sakit ini adalah teguran untukmu untuk lebih memperhatikan kesehatanmu. Apa ada sesuatu yang kau inginkan kawan? Aku harus meninggalkanmu sebentar"
"Tidak ada Leo terima kasih"
Setelah Leo pergi Aldi pun tampak merenungkan kehidupannya. Sejak memasuki bangku kuliah dia terus bekerja keras tanpa mengenal lelah.
Terbaring dalam ruangan yang sunyi tanpa ditemani siapapun membuatnya merasa inilah waktunya untuk berubah, berpikir untuk mulai menyiapkan masa tua dengan kehidupan yang tenang.
Setelah kembali dari rumah sakit, Aldi mulai merancang desain sebuah bangunan. Dia mendesain sebuah bangunan kost yang cukup mewah termasuk rumah masa depannya.
Dengan relasinya yang cukup banyak di bidang penjualan property, tak sulit baginya untuk menemukan lokasi yang tepat dan strategis.
Berkat hasil dari mega proyek yang terakhir dia kerjakan bersama timnya, dia memiliki dana yang cukup untuk segera mewujudkan rencananya tersebut.
Dengan dana senilai 7 Milliar dia merampungkan pembangunan sebuah gedung 6 lantai tersebut dalam waktu 10 bulan.
Ditambah dengan 4 milliar lagi dia telah memenuhi 30 ruangan di gedung tersebut dengan kebutuhan dasar seperti perabotan, ranjang, televisi dan lainnya.
Satu tahun setelah proses perancangan, kini bangunan Kost tersebut siap untuk menerima penyewanya.
Dengan lokasi yang nyaman karena tidak berada di jalur lalu lalang kendaraan, serta fasilitas yang lengkap dan harga yang terjangkau tidak butuh waktu lama untuk memenuhi setiap kamar dengan para penyewanya.
Kost itu hanya menerima para gadis karena Aldi berpikir penghuni wanita akan lebih sering membersihkan areanya ketimbang pria.
Berdasarkan prinsip itu Aldi memberi nama kostnya sebagai Paradise Kost. Tak hanya itu namun rupanya Aldi telah menyiapkan sesuatu di setiap kamar tersebut.
Beberapa bulan pun berlalu sejak mulai beroperasinya Paradise Kost.
Aldi masih menikmati waktu-waktu santainya dengan tidak menerima job apapun.
Dia memulai hari dengan berolahraga di ruangan fitnes kecil di lantai 2 kediamannya. Menyiapkan sarapannya sendiri dan bersantai di tepi kolam renang sambil mengikuti informasi-informasi perkembangan pembangunan negara.
Sesekali dia mengobrol ringan dengan beberapa panghuni. Dan terkadang dia lebih banyak mengobrol dengan pak Darmin si penjaga sekaligus perawat bangunan kost yang tinggal di lantai basement.
Tugas pak Darmin cukup banyak mulai dari membersihkan seluruh area kost yang dilewati secara umum, mengganti kebutuhan-kebutuhan dasar seperti lampu, keran dan lainnya.
Selain mendapatkan sebuah kamar secara cuma-cuma, Pak Darmin juga mendapat gaji setiap bulannya.
Suatu hari Aldi baru saja kembali dari joging sorenya di sekitar area kostnya. Walaupun dia memiliki treadmill di ruang fitnesnya namun dia sesekali lebih suka melakukan olahraga di luar ruangan.
Aldi kemudian bertemu dengan Mila seorang gadis mahasiswi semester 8 yang tengah mempersiapkan skripsinya.
Dia datang bersama seorang teman wanita yang menggunakan hijab dan masker. Dengan sopan mereka menyapa Aldi.
"Halo sore pak" sapa Mila
"Hei hallo Mila, habis dari mana ini?"
"Baru pulang dari ekskul pak makanya agak sore pulangnya"
"Oh iya iya ya sudah silahkan lanjutkan mbak Mila"
Aldi beberapa kali melihat teman berhijabnya itu datang, dia berpikir mungkin wanita itu adalah teman yang membantu Mila menyiapkan materinya.
Setelah mereka berdua berlalu pak Darmin pun menyapa Aldi.
"Pak permisi cuma mau info, tadi neng Mila minta ijin sama saya buat temannya supaya boleh menginap malam ini. Kelihatannya mereka mau ada tugas kelompok begitu" ujar Pak Darmin.
"Oh iya iya pak siap ndakpapa, terima kasih pak Dar. Eh Pak nanti malam kalau ngasi obat buat kolam tolong ditambahi takarannya ya, besok pagi saya mau ada rencana pakai kolam itu soalnya" pinta Aldi.
"Oh begitu, siap-siap pak"
Aldi pun melanjutkan dengan membersihkan diri di kamar mandi menyiapkan makan malamnya.
Malam hari Aldi bekerja membuat video tutorial desain perencanaan sebuah bangunan rumah yang akan dia tayangkan di channel youtubenya.
Di sela-sela istirahatnya dia mencoba mengakses kamera cctv yang terpasang di setiap ruangan kost.
Ya di dalam ruangan, dia menyiapkan 2 kamera tersembunyi di masing-masing ruang utama dan kamar mandi.
Berkat hubungannya dengan seorang ahli IT bernama Tom Richard, dia mendapatkan perangkat yang bagus yang sulit ditemukan di ruangan-ruangan tersebut.
Dia langsung teringat oleh gadis bernama Mila dan kawannya yang sore tadi bertemu dengannya.
Setelah mencari beberapa menu, dia pun menemukan nomer kamar Mila dan mulai mengakses kamera tersembunyi yang ada di ruangan tersebut.
"Haaahhh apa maksudnya ini?" Ujar Aldi yang terlihat terkejut dengan mulut yang terbuka lebar.
DIa melihat seorang pria sedang menghimpit tubuh Mila dari belakang. Dengan cepat Aldi pun menekan tombol record untuk memisahkan filenya dari file rekaman utama spy cam tersebut.
Pria itu tampak begitu ganas menghimpit Mila dan melumat bibirnya.
Kedua tangannya pun begitu aktif meremas dua gunung kembar Mila yang mungil.
Dengan tinggi sekitar 160cm dan berat 58kg, Mila benar-benar terlihat menggemaskan karena tubuhnya yang mungil dan berisi.
Mereka melakukan itu dalam posisi berdiri, dengan si pria berada di belakang Mila.
ALdi pun penasaran siapakah pria tersebut karena yang dia tahu Mila datang bersama rekan wanitanya.
ALdi kemudian memutar kembali video dari Spycam tersebut ke belakang.
Sekali lagi dia harus terkejut atas apa yang dilihatnya di monitornya, Aldi pun seketika tertawa terbahak-bahak dengan apa yang sedang ditontonnya.
"What the fvck ? Hahaha parah parah parah anak ini sumpah" teriak Aldi yang tertawa Begitu lepas Melihat kelakuan wanita berhijab yang bersama Mila tersebut..
***
Setelah bertemu dengan Aldi, Mila memasuki kamar bersama rekannya yang mengenakan hijab dan masker.
Setelah pintu ditutup dan dikunci, rekannya tersebut pun melepaskan hijabnya.
Rupanya dibalik pakaian hijab tersebut
terdapat sosok pria yang sedang menyembunyikan dirinya.
Sesuai tata tertib kost yang diberlakukan bahwa tamu pria hanya diijinkan bertamu hingga pukul 22.00 dan tidak diijinkan untuk menginap.
Pria yang merupakan kekasih Mila itu pun melakukan hal itu agar dapat menginap di kamar Mila.
"Ayo beb siapin makan malamnya udah laper banget aku" ujar pria bernama Anton tersebut.
Tanpa menjawabnya Mila pun menyiapkan makan malam yang telah mereka beli, ekspresi wajah Mila tampak murung dan sedih namun dia tampak selalu menuruti permintaan kekasihnya itu.
"Hhh males banget mereka sampe nagih ke rumah, terpaksa deh aku nginep disini dulu beberapa hari. Kamu juga tumben banget sih tanggal segini udah gak ada uang, emang bapak kamu lagi susah ya?" Tanya Anton.
"Iya minggu lalu mobil pick up papa yang buat antar-antar kecelakaan dan urusan sama polisi, ini dia lagi repot nyari duit buat nyelesaikan kasusnya sama korban" jelas Mila.
"Huuhh payah ini, kamu gak bisa pinjem-pinjem temenmu siapa gitu beb?" Paksa Anton
"Siapa gk ada lagi yang bisa aku pinjam, sama Vivi aja aku masih sisa 200, sama Yuna 350, Lily 150 sama Jocky juga 200, malu aku ketemu mereka di kampus tiap hari" jelas Mila.
"Ya udah jangan marah gitu lah aku kan cuma nanya. Ya kalu sampe minggu depan aku belum dapat uang paling-paling aku jual Video kita hihi" ancam Anton.
"Kamu itu selalu gitu, aku ini lagi usaha buat nyariin uang. Kamu ngancam-ngancam aja bisanya. Aku juga malu banget tau tadi ketemu Pak Aldi, udah 3 bulan aku belum bayar kost"
"Eh iya kenapa gak nyoba pinjam bapak kos kamu ya, dia kelihatannya baik banget gitu lo"
"Kamu nih ya bener-bener gak ada otak, gila kamu. Udah nunggak 3 bulan malah mau utang ke dia, mikir donk" ujar Mila dengan nada yang tinggi
"Ck iya iya udah udah ayo makan cepet, lapar aku" ujar Anton.
Setelah makan Anton pun meminta Mila untuk melayaninya seperti biasa.
"Ayo beb sini beb, kangen aku sama punyamu" ujar Anton
Tanpa perlawanan Mila pun melepaskan seluruh kain yang melekat padanya dan mulai melangkah dan berlutut di hadapan Anton yang duduk di tepi ranjang.
Dia menurunkan celana Anton dan celana dalamnya.
Perlahan Mila menggenggam milik Anton dan menjulurkan lidahnya untuk membasahi benda tersebut.
Anton mengangkat dagunya menikmati hangatnya mulut Mila yang membasahi miliknya.
Di tengah-tengah kenikmatan itu Anton tersadar bahwa dia harus meraih ponselnya untuk merekam momen itu.
Mila sebenarnya tidak menginginkan semua itu terjadi, namun saat dia berhasil terkena rayuan maut Anton dan melakukan hubungan intim untuk pertama kali, rupanya Anton telah mempersiapkan ponsel yang merekam hubungan mereka.
Anton pun mengancam akan menyebarkan video itu jika Mila menolak keinginannya. Akhirnya setelah itu hubungan-hubungan berikutnya pun selalu di rekam oleh Anton dan menambah banyak koleksi Video seksnya dengan Mila.
Mila yang tak kuasa menolak tetap melanjutkan aksinya. Menjulurkan lidahnya dari bawah ke atas dan memasukkan semua benda itu ke dalam mulutnya.
Setelah cukup puas dan cukup basah, Anton pun meminta Mila untuk menaikinya di atas ranjang, sedangkan Anton berbaring sambil terus merekam setiap aksi Mila.
Perlahan Mila mulai bergerak naik dan turun di atas tubuh Anton. Dengan satu tangan memegang ponsel, tangan Anton yang lain meraih benda kenyal yang berguncang di hadapannya tersebut.
Mila tampak begitu seksi dengan payudara yang masih kencang karea usianya yang masih 22 tahun.
Parasnya yang manis dengan rambut hitam tebal menghiasi wajahnya yang chubby membuatnya sangat menarik bagi kaum adam.
Dia meremas dengan kuat payudara Mila disertai sedikit tamparan membuatnya tampak mengerang kesakitan.
Kemudian Anton pun meminta Mila merubah posisinya jadi membelakangi Anton. Sekali lagi Mila bergerak naik dan turun, kini air mata Mila tampak perlahan keluar dari sudut netranya.
Dari belakang tangan Anton dengan bebas memainkan kedua gunung kembar Milik Mila yang begitu menggemaskan.
Setelah merasa puas dengan posisi tersebut, Anton pun meminta Mila untuk berdiri bersandar pada dinding. Anton pun meletakkan ponselnya di tempat yang pas untuk merekam adegan mereka.
Kemudian Anton mulai bergerak menghimpit Mila ke dinding dengan kuat. Mila pun tampak mengerang menahan tekanan dari Anton tersebut.
Dari balik kamera pengintai yang terpasang di perabotan rak di bawah televisi yang tergantung di dinding, Aldi melihat adegan panas mereka dan merekamnya secara terpisah.
"Wah wah anak-anak ini parah ya ternyata. Nakal juga mereka sampe nekat menyamar begitu" gumam Aldi.
Namun Aldi rupanya menikmati adegan panas tersebut. Melihat tubuh Mila yang mungil cukup menarik baginya.
Namun ada sedikit rasa heran ketika dia melihat ekspresi Mila yang tampak sedih sementara si pria yang sedang merekam adegan tersebut tampak begitu bernafsu.
"Oohhh iya bener itu beb enak banget" ujar Anton.
Mila duduk membelakanginya sembari memainkan rambutnya dan memperlihatkan lekuk lehernya yang mulus dan indah.
"Beb beb aku mau keluar beb" ujar Anton yang dengan cepat mendorong tubuh Mila dan membalikkannya lalu membuatnya berlutut di depan lutut Anton.
Dengan memfokuskan rekaman ponsel pada wajah Mila, Anton pun melepaskan dahaganya dengan semburan yang kuat.
"Uuaaarrgghh" sebuah erangan dari Anton yang tengah memijat area sensitifnya untuk memastikan dia telah mengeluarkan semua isinya.
"Huuaaahh mantap, bersihin ya beb" Anton pun merebahkan tubuhnya di ranjang sambil tetap merekam wajah Mila yang sedang menjulurkan lidahnya membersihkan area di sekitar milik Anton.
"Hhh sip, sekarang save dulu di server biar ndak hilang" gumam anton.
"Sudah 15 video beb di berbagai lokasi, yakin kah beb ndak mau di publish di situs luar? Kan ndak ada yang kenal beb wajah kamu?" Ujar Anton.
Mila tak terlalu merespon ucapan Anton tersebut. Dia hanya memakai kembali pakaiannya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Terserah kamu hun, aku emang boleh nolak" gumam Mila.
"Haha ndak ndak Beb jangan marah donk. Aku tidur dulu ya beb capek banget ini. Nanti malem kalau aku pengen lagi aku ambil sendiri ya" ujar Anton.
Mila tak merespon ucapan itu dan melangkah keluar kamar untuk mencari udara segar.
Dia pun melangkah ke lantai rooftop dan duduk di sisi kolam sembari mengusap air matanya.
Dari lantai 2 meja kerjanya, Aldi pun melihat Mila yang sedang duduk dengan gelagat yang sedih.
"Hmm kasihan banget Mila. Pacarnya itu benar-benar bajingan" gumam Aldi.
Layar Aldi masih menampilkan situasi di dalam kamar Mila dimana Anton tidur dengan dengkuran yang terdengar oleh spycam milik Aldi.
Dia mendengar percakapan mereka sepanjang adegan panas tersebut dan tampaknya mengetahui sedikit apa yang dirasakan oleh Mila.
Aldi pun membuat 2 cangkir kopi dan melangkah mendekati Mila.
"Hei Mila lagi cari angin ya?" Sapa Aldi.
"Eh bapak, iya lagi gerah pak" jawab Mila yang spontan berdiri dari kursinya dan terlihat mengusap air matanya.
"Kebetulan ini saya juga, tadi saya lihat ada kamu jadi sekalian saya buatkan kopi. Yuk silahkan"
"Aah haha aduh jangan repot-repot pak"
Mereka pun duduk bersama di kursi di tepi kolam tersebut dalam suasana malam yang cukup menenangkan.
"Mila, saya boleh bertanya ndak sama Mila?"
Deg, ekspresi Mila berubah seketika menjadi tegang "ii iya tanya apa pak silahkan"
***