Arga langsung diam ketika ia mendengar jawaban Diana. Lebih tepatnya tercengang seperti melamun.
"Sekarang, bisa gue minta novel itu?" tanya Diana dengan mudah.
"Sejak kapan lo suka gue?" tanya Arga akhirnya.
Diana berdecak dan melipat kedua tangannya di dadanya. "Lo sengaja memperlambat, ya?"
"Jawab aja, Di."
"Sejak kelas 10. Sama kayak lo," jawab Diana tanpa malu.
"Dan lo baru bilang sama gue sekarang?"
"Lo juga kan, Ga? Kita sama. Udahlah, ya ... Lagian nggak akan ada artinya juga. Toh, gue tolak lo," sambar Diana langsung.
Arga langsung memberikan novel itu pada Diana dan Diana menerimanya seraya memeriksa novel itu apakah ada cacat atau tidak.
"Sorry, Ga. Gue duluan," ucap Diana dan berlalu darinya.
Jantung Diana berdetak lebih cepat saat ia keluar perpustakaan. Ia langsung menuju toilet perempuan dan mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Perlahan ia memejamkan matanya dan mengingat kejadian barusan. Akhirnya ia jujur juga pada Arga walau hanya karena novel yang sudah di tangannya.
'Sial! Bakal jadi semakin canggung nanti!' rutuknya dalam hati.
Saat ia melihat geng Laura masuk ke dalam toilet, Diana pun beranjak pergi. Sayangnya, geng Laura mencegahnya dengan wajah mereka yang menyerupai wanita-wanita jahat.
"Lo nggak beneran nggak terima cintanya Arga, kan?" tanya Laura dengan suara yang dibuat-buat.
"Penolakan kemarin emangnya nggak cukup buat lo lihat?" tanya Diana kesal.
Laura tersenyum puas sambil memainkan rambutnya yang diputar-putar dengan jemarinya.
"Yah, cukup sih. Gue cuma mau mastiin dari lo sendiri aja."
"Minggir kalau gitu!" bentak Diana seraya menepis tubuh geng Laura yang menutupinya.
Beberapa dari mereka mengaduh namun tidak berani untuk mengejar Diana. Diana memang wanita berani dan disegani di kalangan para perempuan di sekolahnya.
Diana bahkan dua kali berturut-turut dinobatkan menjadi sie atau seksi keamanan dalam organisasi OSIS. Sebenarnya ia tidak mau, tapi karena para senior dan guri melihat karakter-karakter siswa, kebetulan sekali Diana sangat cocok pada bidang itu.
Di kelas 12 sekarang, jabatannya sudah dipindahtangankan pada adik kelasnya. Sehingga semua siswa yang kelas 12 bisa berkonsentrasi pada ujian nasional mereka.
Diana masuk ke dalam kelasnya saat semua sudah masuk. Ia tidak berhasil membaca novel itu lebih awal karena waktunya dimakan oleh Arga saat di perpustakaan.
Arga hanya menatapnya dalam diam membuat Diana sedikit risi dan merasa canggung.
Bunyi bel istirahat membuat Diana senang karena ia akhirnya bisa leluasa membaca novel yang ia dapati. Ia juga menolak ajakan teman-temannya ke kantin dan memilih berada di dalam kelas saja.
Tiba-tiba Arga muncul dengan membawa sekantong plastik berisikan makanan.
"Buat lo. Gue lihat di kantin lo nggak ikut teman-teman lo. Jadi, gue inisiatif beliin lo makanan," ucap Arga.
Belum sempat mengucapkan terima kasih, Arga sudah berlalu darinya. Mungkin karena ia tidak ingin mengganggu Diana atau membuat Diana merasa malu jika sampai teman-temannya tahu mereka terlihat dekat.
Bagaimana pun, Diana diajarkan sopan santun sama orang tuanya. Karena ia enggan mengucapkannya langsung, Diana mengirimkan pesan pada Arga. Kebetulan ia punya nomor Arga karena sesekali anak itu sering meneleponnya malam-malam saat sebelum Arga mengungkapkan perasaannya.
Waktu memang berlalu begitu cepat. Tidak terasa sekolah pun usai dan semuanya kembali pulang ke rumah.
Diana menunggu sopirnya menjemputnya dan teman-temannya tidak bisa menemaninya lantaran mereka semua punya kesibukan masing-masing.
Sambil menunggu jemputan, Diana memilih membaca novel tadi di depan sekolah.
Selama beberapa menit hanyut dalam cerita, Diana sampai tidak tahu bahwa ada seseorang yang duduk di hadapannya memandangnya.
"Kenapa sih, lo bisa secantik ini?" suara yang Diana kenal, membuatnya terkejut.
"Astaga!" ia berseru sambil memandang kanan dan kirinya.
"Nggak ada siapa pun. Santai aja, sih," timpal Arga saat ia tahu bahwa Diana sedang memastikan keadaan.
"Duh! Kenapa di sini, sih? Pakai gombal segala!"
Arga terkekeh geli. Ia melepas helmnya dan menaruhnya di sampingnya.
"Pulang bareng gue aja, yuk?" tawar Arga.
"Nggak. Sopir gue pasti jemput. Dia lagi kena macet aja," tolak Diana. Sebenarnya ia tidak tahu kenapa sopirnya lama sekali datang menjemputnya. Jadi, sebisa mungkin Diana memberi alasan pada Arga agar bisa menolaknya.
"Ya, udah ... Gue temani lo."
"Nggak usah, Ga. Lo bisa pulang duluan aja."
"Dan ngebiarin cewek yang gue suka sendirian? Sorry ... No way!" tolak Arga.
Diana menghembuskan nafasnya. Ia lalu memasukkan novelnya ke dalam tasnya.
Diliriknya Arga yang sibuk dengan ponselnya. Diana pun ikut-ikutan memainkan ponselnya agar suasana tidak terasa canggung.
"Setelah lulus, lo kuliah, Ga?" tanya Diana tiba-tiba.
Arga langsung memalingkan matanya pada Diana. Ia kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana sekolahnya.
"Iya. Kuliah. Kayaknya, sih ... Nggak tahu, gue nggak yakin."
"Kok nggak yakin?"
"Bokap maunya gue langsung kerja di kantornya. Lah, gue mana mau! Gue maunya kuliah dulu, ya kalau rezekinya sukses, gue merintis deh jadi pengusaha," jelas Arga. "Kalau nggak ya kuliah sambil kerja," sambungnya.
Diana mengangguk-anggukan kepalanya. "Gue dengar-dengar, bakalan capek tuh, kalau kuliah sambil kerja."
"Kan, dengar-dengar, cantik ... Belum juga nyoba. Dicoba dulu aja, kalau emang capek, ya tetap dilanjut. Lagian kalau sampai berhenti di tengah jalan, kebayang nggak betapa tanggungnya, emannya uang yang udah dipakai atau otak yang udah setengah bekerja?" terang Arga sambil berdecak
Diana terkekeh geli mendengar balasan Arga. Arga memang orang yang sangat realistis. Sampai-sampai ia bahkan sudah memikirkan hal ke depannya.
"Cantik juga kalau ketawa," puji Arga lagi.
"Berhenti puji orang, ah!"
"Emang cantik. Eh, terus lo gimana? Kuliah? Kuliah dong, ya?" tanyanya balik.
Diana mengangguk. "Bener. Gue harus kuliah. Tuntutan nyokap, tapi dikasih kebebasan mau pilih jurusan apa pun yang gue suka."
Arga mengacungkan kedua jempolnya pada Diana sebagai tanda 'bagus'. Ia mendukung apa pun yang diinginkan Diana.
"Ga ... Gue mau tanya deh, sama lo," tiba-tiba nada suara Diana berubah serius.
"Apa?"
"Sebenarnya, apa sih, yang lo suka dari gue? Padahal banyak yang cantik. Kayak Laura itu, menurut gue di atas gue, loh."
Arga diam sejenak. Kemudian ia menghela nafasnya. "Kan gue udah pernah bilang. No reason. Dan, tingkat kecantikan seseorang itu juga berbeda, Di. Lo bisa bilang Diana cantik, tapi menurut gue nggak. Lagian, yang gue lihat juga bukan cuma cantiknya doang kali."
"Kalau nggak ada alasan, itu artinya—"
"Cinta dan sayang. Iya, gue emang cinta dan sayang lo. Sesederhana itu. Nggak mungkin sejak kelas 10 gue terus-terusan suka sama lo. Perasaan itu jadi berubah. Gue udah jatuh cinta sama lo, Di," potong Arga dengan jelas.
Diana tidak bisa berhenti memikirkan Arga yang semakin hari semakin benar-benar membuktikan pada dirinya bahwa ia memang sudah mencintainya. Diana hanya bisa diam tanpa membalas apa yang Arga lakukan untuknya. Ia hanya tidak ingin memberikan harapan palsu untuk Arga.
Sampai akhirnya ketika mendekati hari kelulusan dan semua kelas 12 diliburkan seraya menunggu datangnya surat pengumuman kelulusan ke rumah mereka, menjadi waktu yang tepat untuk Diana menghindari Arga.
Diana juga berpesan pada pembantunya mau pun Paula, Ibunya, untuk mengatakan bahwa ia tidak ada di rumah jika Arga datang ke rumahnya. Setidaknya Diana akan menemuinya seminggu sekali lalu akan menjadi terlihat sibuk seolah tidak di rumah.
"Yah, nggak ada ya, Tante? Hmm ... kalau begitu, bisa titip ini, Tante?" Arga tampak kecewa ketika ia tahu bahwa Diana sedang tidak ada di rumah.
Paula sebenarnya kasihan melihat Arga yang hampir setiap hari datang ke rumah Diana hanya untuk sekadar berkunjung menemuinya.
"Apa ini, Arga?" tanya Paula.
"Itu novel-novel kesukaan Diana, Tante. Setelah saya perhatikan, Diana suka membaca novel terjemahan ya, Tante?"
Arga tersenyum walau senyum itu terasa hambar ketika dilihat.
"Iya, Arga ... Diana suka banget sama novel-novel terjemahan. Makasih, ya. Nanti biar Tante bilang ke dia."
"Ya, sudah kalau begitu saya pamit pulang ya, Tante."
Arga menyalami Paula untuk memberikan rasa hormatnya dan ia meninggalkan rumah Diana dengan perasaan yang benar-benar kecewa.
Paula langsung menyerahkan sekantong plastik pemberian Arga pada putrinya itu. Diana langsung melihatnya dan tersenyum senang ketika melihat isinya.
"Diana, kamu udah besar. Mama nggak melarang kamu dekat dengan cowok selagi hubungan itu sehat, tapi kalau kamu begini terus terhadap Arga, kasihan dia, Sayang," jelas Paula pada Diana.
Diana tahu Paula tidak akan memarahinya jika ia dekat dengan laki-laki sebayanya. Tapi Diana sendiri sudah punya prinsip bahwa ia hanya akan pacaran ketika menghasilkan uang sendiri.
"Iya, Ma. Aku tahu. Tapi kan, setiap orang punya prinsip tersendiri, Ma."
"Dan memangnya apa prinsipmu?" sambar Paula bertanya. Kedua tangannya terlipat di dadanya menatap Diana.
Diana sebenarnya malu mengatakan prinsip atau pun alasannya itu kepada Paula. Ia tidak seintens itu untuk berbagi cerita. Tapi mau tidak mau, Diana harus mengatakannya.
"Aku mau pacaran saat aku bisa menghasilkan uang sendiri, Ma. Aku nggak mau, ya, pacaran pakai uang orang tua!" jelasnya dengan tekad yang kuat.
Paula menggeleng-gelengkan kepalanya menatap putri semata wayangnya itu. "Terus langkahmu buat menghasilkan uang itu bagaimana, Diana?"
Kali ini Diana tidak menjawab. Ia belum kepikiran sampai ke sana. Yang ia pikirkan, lulus kuliah lalu bekerja dan memiliki uang atas hasil kerjanya.
"Belum kepikiran, kan? Mama cuma mau bilang, jangan menyesal untuk sesuatu yang peluangnya sudah kelihatan. Pikirkan, OK?" Paula menasihatinya dan kemudian pergi ke dapur meninggalkan Diana.
Nasihat Paula benar-benar menghantui Diana sepanjang hari.
Di satu sisi, Diana memang tidak bisa memungkiri bahwa ia menyukai Arga. Di sisi lain, ia tidak ingin berpacaran atau mengarah ke hal yang serius. Masih ada beberapa hal yang Diana sendiri ingin lakukan di masa lajangnya.
Semua membuat pikiran Diana mendadak jadi keruh. Ia pun memutuskan untuk jalan-jalan bersama ketiga temannya, Hani, Amel dan Sinta.
Mereka membuat janji temu langsung di lokasi yang tak lain dan tak bukan adalah mal, pusat perbelanjaan yang tentunya menjadi sorotan bagi masyarakat untuk berbelanja.
Ketika Diana sudah bertemu dengan mereka. Mereka pun akhirnya keliling mal dan memasuki beberapa outlet yang sekiranya menarik.
"Jadi lo di sini, Di?" tiba-tiba suara yang Diana kenal dan sedang ia hindari mendadak muncul tepat di belakangnya.
Ketiga temannya sudah masuk outlet pakaian wanita sementara Diana terhenti karena Arga mencekal pergelangan tangannya.
"Arga ... He he," sapa Diana dengan cengiran gugupnya.
"Lo baru aja atau dari tadi?" tanya Arga serius.
"Errr ... Dari tadi, kok. Kenapa?"
"Ayo, ikut gue." Tiba-tiba cekalan tangannya yang tidak dilepaskannya itu menarik Diana menjauh dari outlet di mana teman-temannya berada.
"Duh, Ga, gue lagi sama teman-teman gue, tahu!" sambar Diana kesal.
"Udah, nanti gue yang hubungi mereka satu per satu."
"Eh, jangan! Bentar, bentar, bentar!" seru Diana hingga Arga menghentikan langkahnya.
Diana mengeluarkan ponselnya dan kemudian ia menelepon Hani. Buat Diana, Hani adalah sosok Ibu dalam pertemanan mereka.
Setelah Diana menjelaskan alasannya bahwa ia mendadak sakit perut dan pulang, walau itu hanya sebuah alasan, Diana mematikan panggilannya.
"Lo masih sembunyiin hubungan kita sama mereka?" tanya Arga setelah ia mendengar bagaimana Diana memberi alasan yang sangat membuatnya kecewa.
"Hubungan kita nggak ada apa-apa, Ga. Nggak lebih dari sekadar teman, OK?!"
Arga memilih tidak membalas ucapan Diana. Ia kembali menarik Diana untuk mengikutinya dan mereka memasuki food court.
"Makan?" tanya Diana tak percaya bahwa Arga menariknya hanya untuk makan.
Arga mengangguk dan mereka berjalan perlahan untuk menatap outlet mana yang akan mereka pilih.
"Pilih, mau yang mana," perintah Arga.
Diana mau tak mau pun ikut memilih makanan yang kelihatannya enak.
"Nasi ayam opor, deh. Minumnya es milo," ujar Diana.
"Itu aja? Nggak nambah?" tanya Arga.
Diana lalu kembali memikirkan yang ia inginkan. Kemudian ia sadar sesuatu, Diana hanya membawa uang pas tanpa kartu ATM.
"Tunggu, uang gue pas, Ga. Nanti gue nggak bisa bayar!" lirih Diana ke arah telinga Arga.
"Gue yang bayar. Dan ini bukan uang bokap atau nyokap. Gini-gini gue juga kerja, kali," sahut Arga.
Diana melongo mendengar ucapan Arga sampai ia harus disenggol Arga agar kembali memilih apa yang ia inginkan lagi.
"Itu dulu aja. Serius!" kata Diana sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"OK. Jangan sungkan minta yang lo mau."
Hanya anggukan yang Diana berikan pada Arga untuk meresponsnya. Mereka pun memilih meja dan kursi yang dipilih oleh Diana sendiri dengan letak yang berada di paling ujung. Diana belum siap jika suatu saat seseorang yang mereka kenal atau temannya, melihat mereka di mal sedang berduaan.
Diana serius memperhatikan Arga yang kini tengah mengutak atik ponselnya dengan serius selagi menunggu makanan tersaji di depan mereka. Diana pikir, ternyata Arga terlihat tampan jika dilihat sedekat dan seserius ini.
"Sorry," tiba-tiba Diana berkata.
"Hah? Kenapa?" Arga sepertinya sudah terbiasa dengan orang yang mengajaknya bicara, maka ponselnya ia taruh di sakunya.
"Gue meremehkan lo. Maksud gue, gue nggak tahu kalau lo ternyata punya penghasilan di luar waktu sekolah lo," jelas Diana.
"Lagian, gue nggak perlu ngasih tahu atau pamer juga, kan? Hari ini gue terpaksa bilang karena tahu pasti lo nolak ajakan gue karena pikir lo pasti gue pakai uang orang tua, padahal ya nggak."
Diana hanya tersenyum dan merasa bersalah. Kembali ia memikirkan nasihat Paula tentang peluang yang sebenarnya sudah terlihat dan kita hanya tinggal mengeksekusinya.
"Ga, gue mau bicara serius tentang hubungan kita. Itu pun kalau lo berminat membahasnya," ucap Diana.
"Bilang sekarang, Di. Nggak ada kata nggak minat kalau memang lo mau bahas hubungan kita."
Awalnya Diana menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan. Lalu bibirnya mulai terbuka seperti ada adegan slow motion dalam pergerakannya.
"Lo tahu kan, gue nggak mau pacaran sebelum gue menghasilkan uang sendiri?" tanya Diana.
Arga mengangguk dan mendengarkan dengan serius. "Lalu?"
"Hmm ... apa lo setuju kalau kita komitmen saja tanpa pacaran? Artinya nggak ada aturan selama kita komitmen sama hubungan kita untuk ke arah yang lebih serius."