“Rheina, sebagai teman satu desa sama Sarah, kamu yang seharusnya datang ke rumahnya dan mencari tau keadaan dia,” kata Satria teman satu angkatan di kampus.
Sarah adalah teman sejak kami sekolah menengah dan sudah satu Minggu ini dia tidak masuk kuliah. Beberapa teman yang biasanya tidak terlalu peduli dengan Sarah pun mulai menggumamkan kata-kata. Pasti mereka menyesal karena sering membully Sarah dan akibatnya gadis itu tidak mau lagi masuk kuliah.
Sarah memang termasuk siswi yang aneh, dia tidak banyak bicara, terlalu serius bila menatap orang lain, dan selalu berbicara tidak jelas. Banyak para siswa mengolok-oloknya bahkan tak jarang membully, aku yang menjadi teman satu mejanya kerap sekali kesal dengan sikap mereka.
“Bagaimana, Rhein?” tanya Satria lagi meminta jawabanku.
“Baik, aku akan ke rumahnya nanti setelah kelas selesai,” kataku akhirnya menyanggupi permintaan teman-teman.
“Bagus kalau begitu, kami tunggu kabarnya besok,” ucap Satria yang langsung membahas hal lain seputar kuliah.
Sepulang dari kampus, aku langsung menacap gas motor matic ku ke arah pulang, sebenarnya arah rumah Sarah dan aku berlainan arah, tapi tidak apa lah, aku sekalian saja.
“Rhein, tunggu, Rhein!” Seseorang berteriak memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan ternyata Ayu teman sekelas ku yang memanggil. Aku pun menghentikan laju motorku dan menunggunya sampai ke tempatku.
“Kamu serius mau ke rumah Sarah?” tanya Ayu dengan napas masih tersengal-sengal akibat berlari tadi.
“Iya, kenapa? Kamu mau ikut?” tanyaku menodong.
Ayu menggeleng cepat, membuat rambut sebahunya ikut bergoyang-goyang.
“Gak, aku cuma mau kamu hati-hati aja.”
Aku menyipitkan mata. “Hati-hati?”
“Kamu kan tau kalau Sarah itu agak sedikit aneh di sekolah, aku khawatir keluarganya pun seperti itu,” kata Ayu berbisik. Aku, Ayu, dan Sarah memang satu sekolah dulu saat di menengah atas.
“Hust! Gak boleh begitu,” kataku mengingatkan.
“Ya, sudah. Aku cuma minta kamu hati-hati saja, Rhein.”
“Iya, iyaa. Aku berangkat nih,” ujarku sembari kembali menekan stater motorku.
Ayu pun mengangguk dan mundur menjauh. Aku bergegas menekan gas dan kendaraan roda duaku mulai meluncur di jalanan. Setelah menempuh jarak kurang dari dua kilometer dari arah sekolah akhirnya aku sampai di kediaman Sarah. Rumah itu tidak terlalu besar dan jauh dari tetangga, terdapat pohon mangga yang rindang di halaman depan, banyak daun-daun kering yang berserakan di bawahnya dan beberapa sampah plastik. Seperti tidak ada yang membersihkan atau memang rumah itu tidak ada penghuninya.
Aku mematikan mesin motorku dan menurunkan standar samping. Aku belum turun dari motor, ketika seseorang membuka pintu depan rumah Sarah. Pria tinggi dengan tubuh yang atletis dan berkulit sawo matang muncul dari balik pintu itu. Pria itu memakai kaus berwarna biru navy dan celana jeans yang sudah dipotong selutut. Usianya sekitar dua atau tiga tahun di atasku. Wajahnya lumayan ganteng tapi tatapan matanya sangat menyiratkan kesan tidak suka.
“Ngapain kamu?!” tanyanya ketus.
Aku melangkah ke arahnya dan hendak naik ke teras rumah. Setahuku dia adalah kakaknya Sarah, tapi aku tidak tahu namanya siapa.
“Berhenti di situ!” teriaknya lagi dengan suara lantang.
Aku mengerutkan kening. Mau tak mau aku pun berdiri diam di tempatku.
“Aku mau cari Sarah, dia ada di dalam, kan?” kataku langsung.
“Sarah sudah mati, kami menguburnya kemarin!” katanya masih dengan nada ketus.
“Hah?!” Aku tidak akan percaya semudah itu dengan kata-katanya barusan.
“Sudah sana pulang!” usirnya seraya mengibas-ibaskan tangan ke arahku.
Tapi aku bersikeras tidak akan pulang sebelum bertemu dengan Sarah. Aku sudah berada di sini dan tidak mungkin aku akan pulang dengan tangan kosong.
“Aku mau ketemu Sarah dulu, baru sehabis itu pulang,” ujarku menawar dan naik ke atas teras berdiri tepat di hadapannya.
“Eh, eh! Dikasih tau melawan ya!”
Entah mengapa sikap pemuda ini tidak ada baik-baiknya sama sekali padaku.
“Sarah!” teriakku lantang.
Laki-laki itu melotot tajam ke padaku. Aku balas menatapnya tajam. Dia pikir aku takut.
“Di mana Sarah?” tanyaku lagi ngeyel.
“Dibilang dia sudah mati! Tidak percaya sekali kamu, huh!” dengusnya bersungut-sungut.
Tentu saja aku tidak percaya.
“Di mana kalian menguburnya?” tanyaku menantang.
“Dasar cerewet! Sini ikut!” katanya lalu berjalan ke belakang rumah. Aku pun mengikutinya dari belakang.
Laki-laki itu terus berjalan menyusuri jalan setapak di belakang rumah yang dipenuhi dengan tumbuhan merambat dan pohon-pohon rimbun.
“Mau kemana?” tanyaku yang mulai berpikir macam-macam.
“Katanya tadi mau ketemu Sarah,” balasnya tanpa menoleh ke arahku. “Nama kamu siapa?” tanyanya kemudian.
“Rheina.” Aku menjawab cepat. Kulihat kepala laki-laki itu manggut-manggut. “Kamu?” tanyaku balik.
“Peduli amat!” ketusnya lagi.
Sialan! Makiku kesal. Benar-benar kurang ajar dia. Lelaki itu terus berjalan mengikuti jalan setapak, entah ke mana dia akan menuju. Di sekitar sini hanya ada pohon-pohon dan tumbuhan tidak ada apa-apa lagi selain itu, bahkan kami sudah agak jauh dari rumah. Aku mulai paranoid. Takut bila lelaki itu akan memperkosaku. Argh!
“Jangan mikir yang macam-macan, kamu pikir aku tertarik sama kamu, cuih!” katanya seraya membuang ludah.
“Dih, sombong!” Aku mendengus, ternyata selain menyebalkan dia pandai membaca pikiran. Aku harus hati-hati.
Aku memilih berhenti tidak lagi mengikutinya, biarkan saja dia berjalan sendirian.
“Kenapa berhenti?” tanyanya tapi aku memilih tidak menjawabnya. “Jangan salahkan aku kalau kamu di gigit ular nanti,” katanya menakut-nakuti.
Aku melotot, lalu berjalan cepat menuju ke arahnya. Kami sampai ke aliran sungai yang jernih airnya. Kemudian lelaki itu membuka kausnya berikut dengan celananya. Mataku terbelalak dengan apa yang kulihat.
“Apa-apaan?!”
“Aku mau mandi,” katanya enteng. Dia sudah telanjang bulat dan ... sesuatu yang panjang di bagian tubuhnya pun sedikit bangun. Aku memejamkan mata, tak berani melihat ke arahnya. Aku akui ini bukan pertama kalinya aku melihat pria telanjang bulat, walau biasanya hanya dalam film biru. Tapi, tetap saja pemandangan di depanku membuat wajah ku kian memanas.
Kudengar suara tawa dari mulut lelaki kurang ajar tersebut. Benar kata Ayu, keluarga Sarah semua aneh!
Aku benar-benar bodoh mau saja mengikutinya sampai ke sini. Ada sebuah batu besar tak jauh dari aku berdiri, gegas aku ke sana dan berdiri bersandar pada batu itu. Lelaki itu sudah menceburkan dirinya ke sungai yang aliran airnya sedang. Tubuh berototnya yang berkulit coklat terlihat sangat menggairahkan, dengan susah payah aku menelan ludah.
“Mau bergabung?” tawarnya dengan senyum miring. Aku mengalihkan wajahku ke arah lain. “Rheina Anindara.”
Aku menoleh ke arahnya lagi ketika dia menyebut nama lengkapku. Kembali lelaki itu tersenyum miring.
“Aku tau siapa kamu, putri Pak Bono orang paling kaya di desa,” katanya menyebut nama ayahku. “Siapa sih, yang gak kenal sama pria tukang kawin.”
Aku menunduk menatap sepatu kets-ku yang tertimbun di rerumputan. Aku memang selalu malu bila menyangkut dengan ayahku. Ayah memiliki empat istri, dan aku adalah anak dari istrinya yang kedua. Istri pertama ayah meninggal setelah melahirkan, lalu menikahi ibu untuk merawat putranya yang masih berusia satu bulan saat itu. Lalu, tiga tahun kemudian ibu melahirkan aku, tetapi saat itu juga ayah menikah lagi dengan seorang gadis muda yang katanya sudah kadung hamil anak ayah. Tetapi, hanya ibu yang boleh tinggal di rumah utama, sementara dua istri ayah yang lainnya di bangunkan rumah masing-masing. Namun, tak lama usiaku menginjak remaja, ayah sudah menikah lagi dengan seorang janda dari desa seberang.
Aku menatap sepasang kaki basah di depan kakiku. Sontak aku mendongakkan kepala dan mendapati laki-laki itu sudah berdiri di depan tubuhku dengan bertelanjang dada, dan untungnya dia sudah mengenakan celana jeans-nya.
“Aku pikir kamu kesambet,” katanya.
Mungkin aku kesambet karena melihat burung miliknya!
“Ayo!” katanya seraya berjalan lebih dulu di depanku.
“Dasar setan!” Aku bersungut-sungut, kesal.
“Auch!” Aku menubruk sesuatu yang keras dan basah yang ternyata lelaki itu berhenti mendadak dan aku menubruk punggungnya.
“Kamu bilang apa tadi? Setan?” tanyanya dengan wajah yang sedikit menoleh ke belakang.
“Iya, kamu setan!” kataku menegaskan.
“Mulutmu itu ya, minta dibungkam,” katanya. “Belum aja aku bungkam bisa megap-megap kamu nanti,” katanya lagi menambahi.
“Coba aja kalau berani,” tantangku.
Lelaki itu tertawa mengejek. “Nanti nangis terus ngadu ke ayahmu, bisa habis aku dihajar sama para bodyguardnya,” ujarnya dengan tertawa miring, mengejek.
“Sembarangan! Aku bukan anak kecil yang suka mengadu,” dengusku sebal.
Lelaki yang tidak aku ingat namanya itu masih tergelak, entah apa yang lucu.
“Di mana Sarah?” tanyaku lagi.
“Ck! Cerewet sekali kamu!” omelnya.
“Aku ke sini nyari Sarah bukan buat nemenin kamu mandi!” ketusku lagi saking kesalnya.
Lelaki itu kembali berjalan dengan bertelanjang dada, membuatku semakin tak karu-karuan.
Kami tiba di belakang rumahnya, aku masih bersungut-sungut karena lelaki itu tidak mau memberi tahu di mana adiknya berada.
“Sana pulang!” usirnya.
“Lalu, Sarah?” tanyaku yang masih tetap kekeh ingin bertemu dengan adiknya itu.
“Besok kamu ke sini lagi, nanti aku antar ketemu dia,” janjinya.
“Ugh! Menyebalkan. Awas aja kalau bohong!” ujarku sembari berjalan ke arah motorku yang masih terparkir di depan rumahnya.
***
Esoknya di kampus, beberapa teman mengerubungiku mereka ingin tahu dengan keadaan Sarah yang mana aku sendiri pun tidak tahu.
“Lho, bukannya kamu kemarin ke rumah Sarah, Rhein?” tanya Ayu.
Aku mengangguk. Tetapi bingung mau menjawab apa, masa aku bilang kalau aku ke sana nemenin kakaknya Sarah mandi. Kan, tidak lucu.
“Kakaknya bilang kalau Sarah sudah mati dan mereka sudah menguburnya,” ucapku spontan.
“Hah?!” Beberapa teman terkejut mendengar ucapanku barusan. Aku yakin mereka tidak akan percaya.
“Yang benar, Rhein?!” tanya salah satu dari mereka.
Aku gelagapan. Aku sendiri pun tidak yakin dengan apa yang lelaki itu katakan.
Sepulang dari kampus aku kembali mendatangi rumah Sarah, dan berharap lelaki sialan itu mau memberi tahu di mana adiknya berada. Demi sumpah aku penasaran! Setelah mematikan mesin motor, bergegas aku berjalan ke teras rumah dan mengetuknya.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada sahutan, aku mencoba mengintip ke jendela barangkali lelaki itu tertidur.
“Ngapain kamu ngintip-ngintip? Mau maling?!”
Aku menoleh ke arah suara teguran ketus di belakang. Di sana lelaki sialan dengan segala ucapan sinisnya berdiri. Sepertinya dia baru saja pulang. Lelaki itu memakai kaus putih dengan celana jeans panjang berwarna biru yang sudah pudar warnanya.
“Kamu yang nyuruh aku ke sini, kemarin,” kataku membela diri, seraya melirik ke arahnya yang berjalan melewati ku untuk membuka pintu rumahnya.
“Gak harus ngintip-ngintip juga, kan. Kalau ada apa-apa yang hilang kamu mau ganti?!”
Astaga! Orang ini benar-benar minta dipukul. Padahal aku hanya mengintip bukan mencuri.
“Hei! Aku cuma ngintip bukan mau mencuri!” ucapku kesal.
“Hai! Hei! Hai! Hei! Gak sopan kamu!”
Mataku melotot menatapnya marah. Benar-benar sialan lelaki ini. Hampir saja ingin ku getok kepalanya dengan kepalan tangan, tetapi aku urungkan. Aku mengikutinya masuk ke dalam rumah, lelaki itu langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa lusuh berwarna merah pudar. Matanya terpejam, kaki panjangnya dia biarkan memanjang di atas lantai berkeramik putih. Sementara aku berdiri di depannya, bingung hendak melakukan apa.
“Ngapain kamu berdiri di situ!” ketusnya lagi.
Aku berjalan menuju sofa dan duduk di sebelahnya. Aku akan mencoba untuk berbicara baik-baik padanya.
“Di mana Sarah?” tanyaku dengan nada yang selembut mungkin.
“Aku bakal kasih tau kalau kamu mau kocokin penis ku dulu,” ujarnya santai.
Kembali mataku melotot marah ke arahnya. Sialan! Lelaki ini benar-benar sudah gak waras!
“Peduli setan! Aku udah gak berminat lagi sama adik kamu, biarlah dia mati dengan tenang seperti yang kamu bilang kemarin.” Aku berdiri dari duduk hendak melangkah ke luar.
Tiba-tiba dia menarik tanganku.
“Apa lagi?!” tanyaku ketus.
“Yakin, gak mau?” katanya.
Aku menelan ludah saat pandangan mataku mengarah pada gundukan di tengah selangkangannya.
“Sini,” katanya lagi, seraya menarik tanganku. Aku jatuh berlutut dengan kaki menekuk tepat di hadapannya. Aku lebih mirip kerbau yang dicucuk hidungnya, mau mau saja menurutinya.
Lelaki itu menurunkan retsleting celana jeans-nya dan memundurkan celana hingga menampilkan celana boxer hitam di sana. Lalu, tiba-tiba sesuatu yang panjang menyembul keluar.
Napasku naik turun, jantungku berdegup kencang menatap benda panjang berwarna cokelat gelap dan berurat itu berdiri tegak tepat di depan wajahku.
“Hisap, Rhein!” titahnya, seraya menempelkan kejantanannya ke bibirku. Dan, bodohnya aku diam saja tidak pergi dan tidak juga mengelak. Mau marah pun aku tidak bisa. “Rhein!” panggilnya lagi dengan suara menggeram.
Mata kami saling bertatapan langsung. Tanpa sadar lidahku mulai menjilat kepala penisnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu. Lalu, dengan semangat memasukan batang kemaluannya ke mulutku perlahan hanya setengah, lama-lama sepenuhnya kejantanannya memenuhi mulutku sampai mentok ke tenggorokan.
“Ahh, Rhein ... sudah kuduga kau pasti mahir melakukan itu,” racaunya dengan mata terpejam.
Ya! Ini memang bukan blowjob pertamaku. Aku sering dipaksa melakukan itu oleh Raka, kakakku, setiap kali pria bangsat itu sedang horny. Bila menolak dia akan mengancam memperkosaku. Untung saja dia masih waras untuk tidak memperkosa adiknya sendiri.
Aku terus mengulum batang kemaluannya dengan sangat cepat. Tangannya menjambak rambutku dan memaju- mundurkan dengan cepat.
“Ahh, Rheina ... gadis pintar ...,” erangnya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
Lelaki itu duduk tegak, dan mulai menaikan kausku mencari payudaraku dan meremasnya kuat. Kedua tangannya meremas dan memilin putingku hingga membuatku bergelinjang.
Aku merasakan kejantanannya menegang di mulutku dan menembakan cairan kental yang langsung tertelan ke tenggorokanku.
“Uhuk!” Aku mengeluarkan batang kemaluannya secara paksa karena tersedak dengan cairan spermanya yang memenuhi mulutku.
Aku mengusap mulutku yang belepotan cairan lelaki itu yang saat ini terlihat puas dengan permainan blow job-ku.
“Kau hebat, Rhein. Aku tidak menyangka kau mahir melakukannya. Apa Raka sering menyuruhmu melakukan itu atau ... ay-”
“Bangsat!” Aku langsung menerjang naik menindih tubuh lelaki itu untuk memukulinya membabi-buta.
“Rhein!” Lelaki itu mencoba mengelak dari pukulan-pukulan yang aku layangkan. Kurang ajar dia, berani menghinaku dan keluargaku walau faktanya sedikit benar tetap saja aku marah.
Lelaki sialan itu berhasil menahan tanganku dan berbalik menindih tubuhku. Sekarang aku berada di bawahnya, dengan nafas yang naik turun dan emosi masih menyelimuti, aku berusaha membebaskan diri dari cengkeramannya.
“Lepasin aku, Brengsek!” teriakku dengan suara tertahan. Walaupun aku yakin tidak akan ada orang yang mendengar bila aku berteriak sekencang pun.
“Kamu brutal, Rhein,” katanya. Tanpa aba-aba bibirnya langsung membungkam bibirku, lidahnya melesak masuk ke dalam mulut mencari-cari lidahku dan membelitnya.
Memang sialan lelaki ini!
Warning! 21+
POV Wira
Kami bergelut di atas lantai yang dingin, usai menciumnya secara kasar, aku menarik kausnya hingga lolos dari kepalanya. Bongkahan kembar bulat nan padat nampak indah menantang di hadapanku. Aku mulai mencumbui payudaranya yang ranum setelah menyingkirkan bra berwarna hitam dari tubuhnya. Jemariku meremas dan menghisap putingnya yang berwarna coklat muda menggoda.
“Ahh ... ahh.” Dia mendesah ketika aku menggigiti kecil puting susunya.
Tubuhnya seakan kehabisan tenaga tak mampu melawan kekuatan tubuhku yang berkali lipat dari kekuatannya. Rheina terlihat pasrah ketika aku memelorotkan celana kain beserta celana dalam yang dikenakannya. Kedua tanganku masih meremas dadanya, sementara bibirku menciumi kulit tubuhnya terutama di bagian perutnya yang rata dan mulus tanpa cela.
Dia cantik dan sangat mempesona ketika pertama kali aku melihatnya di depan rumah kemarin. Itu sebabnya aku memintanya untuk datang lagi ke sini. Kupikir dia tidak akan datang setelah aku mengerjainya kemarin. Ternyata dia benar-benat datang, membuatku semakin ingin mencumbuinya habis-habisan.
Aku merasakan napasnya masih memburu, menikmati setiap sentuhan ku di inci tubuhnya yang polos.
Saat aku membuka kedua kakinya, nampak vagina berwarna coklat kemerah-merahan di kelilingi oleh rambut halus di sekitarnya. Aku menelan ludah. Kemudian kutekuk kakinya dan membenamkan kepalaku ke bagian pusat gairahnya.
“Ahh ....”
Rheina mendesah atas perbuatan bejatku pada vaginanya yang sudah basah. Lidah hangatku menjilat dan menghisap klitorisnya secara rakus. Rasanya gurih, tapi enak.
Tangannya meremas payudaranya sendiri. Dia mulai menikmati permainan ini. Aku belum pernah melihat gadis cantik dengan rambut acak-acakan mendesah senikmat itu di hadapanku.
Tubuhnya kembali menggelinjang tatkala dua jariku masuk ke dalam pusat gairahnya. Dua jariku mengocok-ngocok pusat gairahnya dengan sangat brutal.
“Ahh ... ahh!”
Kembali, lenguhan dan erangan sensual lolos dari bibirnya yang sedikit tebal. Apa yang aku lakukan pada bagian sensitifnya terbukti sangat membuatnya nikmat.
Aku tak sabar ingin cepat-cepat memasukan kejantananku ke bagian intinya yang terlihat sangat menggoda dan membuatku semakin bernafsu. Setelah puas dengan permainan lidah dan jari, aku mulai mensejajarkan batang kejantananku yang kembali mengeras ke pusat gairahnya yang terlihat berkedut menginginkan dimasuki.
“Akh!”
Terasa sempit, aku menatap Rheina yang memejamkan mata. Kepala penis ku sudah masuk, tetapi aku membiarkannya dulu.
“Sakit, Rhein?” tanyaku. Gadis itu menggeleng lemah.
Kembali aku mendorong penisku masuk menerobos liang kewanitaannya, dan ...
“Akh, sakiit!” Rheina mengerang kesakitan.
Aku tau, dan sedikit menyesal telah mengambil keperawanannya, tapi juga merasa bangga karena berhasil mencicipinya lebih dulu. Aku memang lelaki bejat!
Kubiarkan dulu, batang milikku di sana. Setelah Rheina merasa nyaman aku akan kembali menggenjotnya. Aku mengusap pahanya yang mulus, dan meremas payudara ranumnya. Dia menatapku dengan pandangan sayu.
Setelah, kira-kira Rheina sudah sedikit nyaman dengan penisku di dalam miliknya, aku pun kembali menggenjotnya dengan mantap.
Ahh ... betapa beruntungnya aku mendapat keperawanan Rheina.
Aku mulai memaju-mundurkan kejantananku ke vaginanya yang masih sempit. Dinding kemaluannya mencengkeram kuat batang penisku yang keras. Aku semakin bergairah dengan vaginanya yang sempit.
Kulihat Rheina menikmati permainan ku, dia mendesah dan mengerang nikmat.
“Panggil namaku, Rhein,” kataku saat aku menggenjotnya dengan kecepatan penuh.
“Sia-pa na-ma mu ... ahh ...,” desahnya sensual.
“Wira. Ayo teriakan namaku, Sayang,” bisikku di telinganya.
Aku mempercepat hujamananku di liang vaginanya, napas kami saling memburu akibat gairah dan kenikmatan yang tiada tara.
“Wi-raa ... ahh ... enak!” teriaknya ketika dirinya sampai pada puncak klimaksnya, sementara aku belum sampai pada titik itu. Kedua tangannya mencengkeram kuat di bahuku, sehingga kuku-kuku jarinya menancap yang aku yakin akan meninggalkan luka di sana.
Bibir vaginanya berkedut dan menjepit batang penisku semakin kuat. Cairan hangat miliknya meleleh ke lantai keramik. Aku kembali menghujamnya tanpa henti. Hingga sampai pada puncaknya.
Aku menarik keluar kejantananku yang masih menegang dan menyemprotkan cairan kentalnya di atas payudara Rheina.
“Ahh ...,” lenguhku puas.
Aku mengangkat tubuh polos Rheina ke atas sofa dan mendudukkan tubuhnya di atas pangkuanku yang sama-sama telanjangnya.
“Enak?” tanyaku seraya merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajahnya yang cantik.
“Huum,” gumamnya malu.
Dia sangat menggemaskan, membuatku ingin terus melumat bibirnya dengan kasar, dan dia tidak menolak. Tanganku mengusap punggungnya yang mulus. Kupikir dia sudah tidak perawan mengingat Raka adalah pemuda brengsek yang hobinya meniduri anak gadis orang. Ya, aku mengenal Raka Satya, kakak Rheina. Dulu kami satu sekolah menengah yang sama, tetapi aku tidak terlalu akrab dengan dia.
“Kamu udah janji mau antar aku ke Sarah,” katanya setelah aku menyudahi ciumannya.
“Iya.”
Usai bercinta di ruang tamu kami mandi bersama di sumur belakang. Aku yang sudah selesai lebih dulu menungguinya di dapur sembari menyesap kopi hitam. Tidak lama kemudian, Rheina muncul dengan pakaian yang sudah lengkap.
“Kenapa rumahnya sepi?” tanya Rheina, kepalanya memindai seluruh ruangan.
“Bapak kabur, ibu di rumah sakit,” jawabku acuh. Mataku kembali memindai tubuh molek itu dengan tatapan lapar.
“Ibu kamu di rumah sakit?” tanya Rheina terkejut. “Berarti Sarah di rumah sakit juga?” katanya lagi.
“Gak. Ibu di rumah sakit di temanin Bibi, adiknya ibu.”
“Lalu, Sarah?”
Aku bangkit dari dudukku dan menghampirinya berdiri tepat di hadapannya.
“Kamu cerewet sekali, huh!” ucapku ketus seraya menangkup pipinya dan melumat bibirnya rakus.
Rheina mendorong tubuhku menjauh darinya. Aku tersenyum miring. Bisa saja aku menerkamnya dan mengajaknya bercinta lagi. Hanya saja aku tidak akan lakukan itu, mengingat ini baru pertama kalinya dia lepas keperawanan.
“Sarah di mana?” tanyanya lagi masih tak mau kalah menodongku.
“Dia menjadi jaminan di rumah Tuan Kasman.”
“Jaminan? Jaminan apa?” tanyanya penasaran. “Kenapa Sarah bisa menjadi jaminan?”
Gadis ini benar-benar bikin aku horny lagi. Bangsat!
“Bapak meminjam uang dengan nominal besar pada Tuan Kasman untuk bermain judi dan Sarah menjadi jaminan nya, tanpa sepengetahuan ibu dan aku. Bapak kalah judi dan tidak bisa membayar semua hutangnya, lalu Tuan Kasman menyuruh anak buahnya membawa Sarah.”
“Kenapa kamu tidak mencegah mereka? Kakak macam apa kamu sebenarnya, sih?”
Astaga! Gadis ini! Kalau bisa, aku ingin menyekapnya saja dan kujadikan budak seksualku. Biar tau rasa dia!
“Saat kejadian itu aku masih berada di luar kota. Bibi yang menghubungiku mengabari kalau bapak kabur, ibu jatuh pingsan, terkejut karena putrinya di bawa kabur anak buah Tuan Kasman.
Aku mendatangi kediaman Tuan Kasman dan dia memintaku untuk membawa uang supaya bisa menebus Sarah,” ungkapku panjang lebar semoga saja gadis sialan itu paham dengan penjelasanku.
“Oh, seperti itu,” ucapnya dengan mimik lucu yang membuatku gemas ingin menidurinya lagi. “Bawa aku ke sana!”
“Kemana?”
“Ke tempat Tuan Kasman, kemana lagi?!”
“Untuk apa? Dia akan tidak tahan dengan gadis cantik bisa-bisa kau bakal dijadikannya tawanan juga,” kataku menakutinya.
“Apa menurutmu aku cantik?” tanyanya.
“Siapa bilang kamu cantik?!”
“Tadi kamu yang bilang secara tidak langsung kalau aku ini cantik.”
“Kamu masih di bawah rata-ratanya, bahkan aku pun tidak tertarik denganmu!”
“Yakin kamu tidak tertarik padaku?” katanya menantang.
“Jangan terlalu besar kepala, Nona.”
Rheina melepas kausnya kembali untuk mengujiku.
“Sialan! Kau memang gadis jalang!” Aku langsung mengangkat tubuh langsing gadis itu dan mencium bibirnya. Sudah kupastikan kami akan melakukan ronde kedua.