Bab 1

Lampu malam bersinar redup di dalam kamar Ana, rintik-rintik hujan berjatuhan membasahi bumi, membuat udara malam terasa semakin dingin menusuk hingga tulang, suara kucing nampak semakin kencang bersama pasangan kucing lainnya yang ikut berdiam di teras rumah Ana, dan dengan begitu teganya membiarkan kedua telinganya menggunakan headset agar tidak menganggu dirinya sedang mengerjakan skripsi di tengah malam dalam kesendiriannya, dari dekat seorang gadis muda menembus deadline skripsinya di depan laptop, ia mengetik dengan cepat sambil memilah buku dan jurnal yang ia telah simpan di folder wisuda 2022 sebelumnya.

Ana Purbalarang, namanya, bisa dipanggil dengan sebutan Ana, gadis cantik dengan pesonanya yang selalu bekerja keras, begitulah adanya, namun jangan salah sangka ia tidak pernah berpacaran karena dirinya terlalu pemilih dalam mencari pasangan hidup hingga dirinya menanggung biaya kehidupannya sendiri tanpa adanya sang kekasih maupun suami dalam hidupnya.

Ia adalah gadis cantik yang berprofesi sebagai mahasiswa ilmu hukum terkenal di kota J bahkan eksistensinya tidak perlu dipertanyakan karena dirinya mengikuti berbagai organisasi hingga berjualan semasa kuliahnya, selain itu ia adalah mahasiswa yang paling telat lulus di angkatan 2017nya, bahkan teman-teman angkatannya telah lulus dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan ternama.

Ia sudah berada di titik frustasi, dan tentu saja pilihannya mengambil skripsi yang bernuansa internasional harus dibayar sampai titik ini, berangkat tanpa adanya usaha adalah hal yang sia-sia, dari itu mari bekerja keras dan kurangi berkhayal serta berangan terlalu tinggi.

"Nak, tidurlah, matamu sudah berhari-hari di depan laptop dan belum kunjung di tanda tangani juga oleh dosen bimbinganmu," ucap ibunya kepada Ana, setelahnya Ana menjawab dalam diam karena terlalu berkonsentrasi dengan laptopnya.

Dalam diam Ana meraih handphone yang baru saja melihat catatan revisi dari dosen bimbingannya, Ana berulang kali menghela napas dan kembali menikmati lagu sedihnya yang menggelitik di dua gendang telinganya, sembari menikmati permen untuk menghilangkan kantuk yang sudah begadang semasa kuliahnya, jangan lewatkan lampu yang remang-remang di dalam kamar.

Sudah dua belas jam ia akhirnya berhasil mengirimkan revisinya kepada dosen pembimbing. Pikirannya meluncur kemana-mana meminta agar dosen bimbingan segera menyetujui proposal skripsi dan masuk akal kenapa ia bisa berada disini? Kenapa ia berada di tubuh mungil yang entah dunia mana ini?

Ia sebelumnya hanya ingin menyelesaikan seluruh pekerjaannya baik dari skripsi, jurnalis, hingga menulis novel, dan terbangun di tubuh mungil ini. Akh tidak-tidak ini pasti mimpi bukan haha?

Mana ada hal konyol seperti ini di dunia ini bukan? Selain kepercayaan dari mitologi yunani mungkin?

Ia berteriak yang keluar suara bayi, ia melihat lengan gumpalan bulat itu miliknya. Ia gigit terasa sakit membuat ia mendesis. Ini memang tubuhnya, tapi bagaimana bisa?? Ini tak masuk akal, tidak mungkin kan ia bertransmigrasi di tubuh orang lain??

Tapi apa alasannya?

Apa yang membuat ia masuk ke dalam tubuh ini?

Perasaan ia hanya merasakan kantuk mendallam saat mematikan laptopnya dan bergegas tidur..Ehh udah tapi kan harusnya dia ke neraka atau ke surga!

Dimana ibunya?

Ia itu gadis berumur 23 tahun yang belum wisuda di angkatan 2017-nya. Ia hanya orang sederhana yang menginginkan kelulusan dan mencari uang, ah tidak-tidak ia memang sudah mencari uang saat ayahnya meninggal di semester awal perkuliahan.

Ia bekerja menulis novel, menjadi jurnalis, berjualan, hingga membuat joki tugas orang lain. Ia orangnya pendiam dalam hal gosip, dan banyak bicara saat orang mempertanyakan kemampuan berpikirnya yang terlihat tidak suka membaca buku.

Ohh tragisnya hidupku. Sudah mau bebas dari masa muda, kini dirinya harus mengulanginya dari awal kehidupan lagi..!! mana ijazah sarjana hukumku..!! baju wisuda hingga selempang cumlaude. Ya Allah ia ingin menangis keras saat ini.

Pertanyaan menggerayangi di kepalanya hingga ia mendengar suara dari semak-semak yang mendengarkan tangisan bayinya.

"Kita bunuh atau pungut anak itu??" tanya dari wanita cantik kepada suaminya. Wanita cantik itu berambut putih panjang, bertanduk iblis yang mengenakan mahkota, dan berpakaian tipis berwarna merah panjang hingga terlihat lekuk tubuhnya sambil membawa senjata di tangan kanannya.

Sang ratu iblis pun mendekat dirinya. Mata bayi yang sekarang ditempati oleh Ana itu mengejang terkejut dibuatnya. Anak itu? Dirinya? Ia akan dibunuh begitu? Apa? Baru juga hidup beberapa menit dia disini malah ingin dibunuh?? Big no.!!

"Dibunuh boleh juga, karena semua manusia yang memasuki hutan terlarang ini tidak boleh mengetahui rahasia gaib, jika kita memungutnya dunia gaib akan runtuh oleh kehadiran seorang manusia ini di masa depan," ujar suaminya yang berpakaian senada dengan sang ratunya.

Apakah ini dunia gaib?

Bayi yang malang....

Sungguh kejam dunia.. dunia kejam sekali rupanya hiks hiks Ana ingin menangis jadinya. Tapi umurnya sudah 23 tahun mana mungkin menangis. Tapi kali ini ia katakan. Ia ingin menangis!! Ia ingin mengatakan pada takdir yang sungguh tidak adil bagi dirinya! Sangat tidak adil saat melihat orang lain lulus wisuda, mendapatkan kerjaan, kini dirinya malah berpindah sebelum menuntaskan masa sarjananya dan mau dibunuh pula oleh dunia gaib!! hiks hiks.

Ana berpikir keras agar dirinya tidak dibunuh oleh pasangan gaib dan kejam itu. Kedua pasangan gaib yang melihat sosok mungil yang berwajah merah ruam itu tertarik, lihat matanya yang emerald lari kesana kemari, kaki dan tangannya bergerak sana sini dengan pipi merahnya. Sesekali pula berekspresi seperti orang dewasa yang memelas untuk tidak dibunuh.

Huu itu menggemaskan...!

Ana kaget ketika bibirnya ditoel oleh raja iblis yang tampan, jantungnya berdegup kencang mengerjab menatap sang pelaku, bahkan matanya berkaca-kaca tampa ia sadari.

'Yaa Tuhan lelaki ini tampan sekali, bolehkah aku menjadi wanitanya?" batinnya akan tetapi terdengar oleh raja iblis yang dingin itu.

'Menarik. Akan aku kabulkan saat dewasa nanti.'

'Oh tidak. Apa yang aku bicarakan. Saat ini aku terambang dalam hidup dan mati. Aku belum bisa menikmati hubungan bersama pria. Terutama lelaki tampan yang sepertinya raja iblis ini. Hiks Hiks," teriaknya akan tetapi bukan suara itu yang keluar tapi malah bibir yang berceloteh tanpa suara. Karena apa? Lidahnya yang masih pendek dan dia masih bayi. Ia mengerjab pelan menatap sang pria dan wanita itu dengan wajah memelas. Oh ayolah ia belum mau meninggal lagi sekarang.

Raja iblis yang mendengar teriakan si kecil bayi itu hanya bisa menahan tawanya dalam hati sebelum sang ratu curiga.

Sosok yang mengusap bibirnya terkekeh melihat ratu disisinya yang juga memandang anak disisinya itu. "Kau tahu? Anak ini sungguh menarik. Kita bisa manfaatkan dia sebelum kita memiliki anak," ujar raja iblis yang ingin membunuhnya tadi.

Apa tadi mereka bilang ingin memanfaatkan aku? Dalam hal apa?

Demi umur panjang! Dimanfaatkan sepertinya tidak apa-apa asalkan tidak di luar batasanku.

Kekehan keduanya terdengar."Ya ampun raja. Kau ingin punya anak dariku?"

"Ya.. tapi malam ini aku akan bercinta denganmu hingga kau dapat melahirkan anak kita berdua."

Wajah ana terlihat memerah saat ia mendengarkan bahasa vulgar dari kedua sejoli yang akan mengadopsinya. Oh tidak, apakah ini ujian bagiku yang belum merasakan hubungan intim bersama pria dari kehidupan laluku?

Bab 2

Guuuwaa...Hahah Ana mau terkekeh dan tertawa keras akan tingkah mesumnya, bagaimana bisa ia tersenyum menjijikan begini, mana menggoyang-goyangkan sambil memikirkan kisah pasangan yang berhubungan intim, memberikan wajah misterius sekaligus terimut miliknya. Hei jangan menertawakan dirinya yang tidak pernah berpacaran atau melihat orang tampan!! Ia tahu umurnya sudah 23 tahun tapi ini demi mengetahui dirinya bisa bertransmigrasi ke dede bayi ini.

Kekehan raja tampannya itu terdengar. "Ya ampun, otak sekecil ini bisa berpikiran mesum juga ya..!!"

Sial kenapa otak mesumnya bisa diketahui oleh raja tampan ini?

Wajah memelasnya Ana menatap Raja tampan. Sang raja tampan pun mengerti isyaratnya agar tidak terdengar oleh ratunya. Apabila ratunya mengetahui kalau anak bayi ini adalah seorang anak remaja yang menginginkan dirinya bisa-bisa ia terbunuh sebelum menghadapi dunia.

Berhasil!!

"Rajaku..Ayo kita berdua segera pergi sebelum manusia-manusia menjijikan itu kemari."

Terima kasih Ratu..! Kau penyelamatku dari dinginnya malam ini!

Raja tampannya pun membawa bayinya secara langsung, sedangkan ratunya hanya menatapnya datar dan tak mempedulikan keberadaan bayi yang digendong secara langsung oleh Raja hingga Ana terlihat berbinar-binar tak percaya.

'Huuu ini membuat jantungku berdetak. Apakah aku jatuh cinta dengan raja tampanku ini? Ingin rasanya aku berubah menjadi dewasa dan memilikimu!' batin Ana hingga tak sadar raja tampannya pun tersenyum.

Raja tampan itu tersenyum menatap mata emerald Ana, ia menatapnya dalam tetapi ana malah tersenyum mau menepuk pipinya, ia terkekeh.

"Kau...Namamu aku beri Nyi Ratamsari Nona Ana," ujarnya pelan mencium bibirnya.

Bibirnya dicium dong? Bukankah itu artinya ciuman pertamaku?? Apakah ini mimpi atau nyata? Wajah kemerahan Ana terlihat lucu karena bahagia membuat detak jantungnya susah untuk dikondisikan, meski dirinya masih berukuran seorang bayi.

"Aku menantikan dirimu sudah dewasa Nona Ana," ujar dari raja tampan itu lagi.

Ana mengangguk semangat membuat raja tampannya terhibur."Sudah aku duga jiwamu ke dunia ini telah menarik perhatianku."

Namun Ana tersadar membuat Ana diam mengerjab pelan. Raja tampannya pun kembali terkekeh."Apa aku harus mengubah tubuhmu sebentar menjadi dewasa?"

'Hei! Apakah aku benar-benar bisa berubah?'

"Tapi bagaimana dengan ekspresi ratu bila seorang bayi ini telah menarik perhatianku sebagai raja? Apakah dia akan cemburu? Ataukah menyiksamu sebagai budak?"

Sial bahkan Ana sampai lupa kalau dunia ini bukan dunia manusia lagi, ada yang kuat dan ada yang lemah di dalam ruangan raja ini saking paniknya, ingin rasanya ia kembali ke dunia penuh skripsi saja dibandingkan berurusan dengan satu kesalahan bisa menabas beberapa nyawa, ia menjadi miris dan juga menghela napas. Ia tidak suka keadaan yang mengancam nyawa ini, tetapi bagaimana lagi? Ia harus berterima kasih kepada raja tampan karena dirinya berada di samping tidur raja dan memberikan pengalaman menjadi bayi yang berotak mesum.

Iya garis miring sedikit mesum dengan raja tampannya ini tidak perlu diulangi.!!

Raja tampan itu memberikan senyuman tanpa arti yang belum diketahui oleh siapapun. Memeluk Ana lebih erat dan berkata. "Aku mengubahmu Nyi Ratamsari menjadi seorang wanita dewasa dan menjadikanmu sebagai selir kesayanganku serta berguna untuk menghancurkan ratuku di masa depan."

Ia tak salah dengar kan?

Raja tampannya ini terlihat baik tapi hatinya jahat terhadap ratunya sendiri. Oh tidak! Ana akan segera berubah.

Ana merasakan tubuhnya terawang di udara, perlahan Ana membuka matanya, ia memegangi kepalanya yang terasa pusing, seakan telah berputar-putar ribuan kali, ia segera duduk dan menemukan dirinya berada dalam pangkuan raja tampan dengan menggunakan gaun berwarna hijau dihiasi dengan selendang merah.

Raja tampan itu beralih menatap bayi yang dipangkuannya telah menjadi dewasa, menggunakan pakaian hijau yang senada dengan anting dalam tubuhnya, matanya emerald, perhiasan putih di atas kepalanya serupa dengan kalungnya.

Ana terdiam, posisi intim apa ini?

Kok ia seperti merasakan nuansa di film-film yang berubah wujud. Raja tampan yang mengetahui Ana berbicara dalam batinnya hanya tersenyum menyeringai sebelum Ana merasakan alarm berbahaya yang terlintas dalam otak kecilnya.

Ana yang melihatnya melotot kaget."Apa yang raja ingin lakukan pada hamba?" tanya Ana saat raja tampan itu mendorong dirinya menjauh dari posisi intim.

Ana terlihat pias saat debaran jantungnya berdetak seakan ketakutan yang menjulur ke seluruh tubuhnya.

Ternyata dunia ini lebih gila rupanya!!

Sial kekuatan raja tampan ini seperti neraka...

Raja tampan itu memutar bola mata malas, "Siapa yang menyuruhmu naik ke ranjang sang raja?" tanya raja tampan itu yang telah mengubah bola matanya menjadi merah.

Ribuan ular menghampiri sang raja saat ia mengeluarkan kekuatannya, keringat dingin Ana membasahi sekujur tubuhnya.

'Tunggu! Kenapa jadi begini ceritanya? Apakah dia telah melupakan wujudku yang bayi dan menjadi dewasa ini?'

Ana mencoba tenang meski takut dan menghela napasnya pelan. "Sebenarnya aku adalah selir kesayanganmu Raja. Apakah yang mulia Raja telah melupakan hamba yang cantik ini?" Raja tampan itu berlalu meninggalkan Ana seraya menggunakan kekuatannya hingga terdorong keluar dan membuat Ana mengeluarkan darah di dalam mulutnya.

"Aku tidak mengenal selir seperti dirimu!"

Ana melirik raja tampan itu sekilas dan ingin menangis, hatinya itu terluka, ia menganggap raja tampan itu bagaikan dewa penolong tapi sekarang dia menjadi malaikat pencabut nyawa kepadanya, semoga saja ada keajaiban dan membuat dirinya tidak mati.

Tapi, tunggu dulu

Nama yang diberikan raja tampan ini mirip antagonis novel yang ia baca, dan berakhir mati mengenaskan karena kehilangan kepercayaan keluarga, serta kepribadiannya yang manja dan sombong.

Tapi bukannya Ana muncul di waktu yang tepat dan merasakan kemewahan sebelum akhir itu terjadi?

Tapi mengapa dirinya belum merasakan kemewahan telah dituduh yang tidak-tidak oleh raja tampan ini?

Ana harus mencari tahu tentang ini nanti...

Sekarang saatnya untuk melarikan dirinya dari situasi yang rumit.

"Pengawal, singkirkan wanita manusia ini ke laut! Aku muak melihat wajahnya yang mencoba naik ke atas ranjangku!" titah raja kepada para pengawal yang berwujud ular.

"Laksanakan yang mulia raja," jawab para pengawal yang mengubah wujudnya menjadi manusia dan menyeret Ana dengan tidak manusiawi hingga terluka parah di sekujur tubuhnya.

"Hei manusia, jangan harap dirimu menjadi ratu bagi rajaku, kau adalah manusia rendahan yang akan selalu menjadi budak bagi kehidupan alam gaib."

"Kau cantik, tapi dirimu adalah manusia hina dan tidak akan setara dengan kekuatan alam gaib disini, jangan harap kamu kembali kesini dan menginginkan kasih sayang raja. Terutama, naik ke ranjang raja tanpa perintah darinya."

Takdir tolong aku...!! beri aku satu kali kehidupan yang waras untuk merasakan namanya kehidupan tanpa luka baik batin dan fisik.

'Apakah ada yang mendengarkan permintaan tolongku disini?'

Bab 3

Ana dibuang ke laut dari tebing yang curam. Para pengawal raja tampan itu hanya tertawa setelah membuang dan menyiksanya. Hal itu menarik perhatian siapapun yang disana, siapa yang tidak tahu kalau raja tampan itu berhati kejam serta dingin ini??

Byuur...

Saat ini Ana sudah masuk ke dalam air di dunia ini, ia tidak menyangka jika dirinya sudah akan mati kembali disini, bersama hewan air yang menggerumuninya, sampai kedua matanya hampir terlelap karena kehabisan napas. Tetapi ia sering mendengar peribahasa yang mengatakan suatu hal yang diuji berat akan selalu datang keajaiban yang tidak terduga.

"Ratuku apa yang kau pikirkan sampai tidak bertindak apapun kepada para pengawalku? Kau tahu? Aku tidak pernah mengizinkanmu mati sebelum kau bisa menggunakan hal itu." Raja tampan itu disana memberikan ciuman kehidupan untuk Ana dan mengubah seluruh tubuh Ana hingga bergaun putih.

Ya, raja tampan itu bernama Raden Xiyu. Xiyu menatap ratunya yang masih terbilang selir ini dengan khawatir.

Ia membawa Ana ke pinggiran yang jauh dari hutan larangan dunia gaib. Xiyu melihat ratunya masih terdiam tanpa gerak-gerik sedikit pun di tubuhnya. "Maafkan aku, tapi ini demi kebaikanmu ratuku. Kau harus menjalani semua ini agar kau bisa kembali kepadaku," ujarnya berbisik.

'Dimana aku? Siapa yang menciumku? Kenapa aku tidak bisa melihat wajahnya?'

Ana bertanya-tanya dalam ruang gelap di hatinya, terlihat banyak cahaya yang berbentuk kunang-kunang untuk membangunkan dirinya dalam kegelapan. Namun dirinya hanya bisa melihat potret tubuhnya yang berciuman dengan seseorang tanpa terlihat jelas wajahnya.

Tanpa ia sadari, ia telah bangun dari tidur panjangnya, dan Raden Xiyu telah meninggalkannya seorang diri.

"Hah hah hah... Dimana aku? Gaunku dan tubuhku berubah wujud lagi? Rasanya seperti aku mimpi tapi terlihat jelas itu nyata." Ana bercermin di pinggiran dekat sungai yang dimana ia terbaring lama.

Ana melihat gaunnya berwarna putih seperti putri yang dimanjakan dan tanda dari ikatan kepalanya berbentuk pernak-pernik putih ini menunjukkan kalau dirinya berubah wujud untuk ketiga kalinya. Hal aneh yang terjadi lagi ialah matanya bukan berwarna emerald lagi melainkan berwarna hitam.

Kehidupan di sini sangat jauh dari kehidupanku dulu. Yang terkuatlah yang akan dihargai sama seperti hukum riba. Syukurlah, aku masih diberikan kehidupan setelah kematian untuk kedua kalinya.

Akhirnya aku selamat dari dunia gaib yang aneh itu, setidaknya ini mungkin masih dunia manusia dan berbekal pengalaman untuk bertahan hidup di hutan telah diajarkan saat aku masih mahasiswa, ketika aku mengikuti Himpunan Mahasiswa Para Pecinta Alam.

Saat Ana sedang sibuk membasuh wajahnya di sungai jernih itu tiba-tiba atmosfer di sekitarnya mendadak menjadi sangat panas, seperti sedang berada di dalam aura gelap sang raja tampan yang hampir membunuhku di tempat.

"Apa yang terjadi mengapa tiba-tiba tekanan udaranya meningkat drastis?" Ana belum menyadari jika ada sesuatu yang sedang menatapnya dengan tajam.

Tiba-tiba saja sebuah panah api melesat ke arahnya, untung saja Ana sempat menghindar sehingga ia tak terluka.

"Hei siapa kamu cepat keluar, apa maksudmu mengangguku? Aku tidak merasa telah mengusikmu." Ana kesal karena diserang secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

Dari balik semak-semak keluarlah seorang manusia menggunakan pakaian kerajaan yang ditemani oleh ular besar berbentuk anaconda disampingnya yang seharusnya ada di alam gaib hutan larangan itu.

Pakaian kerajaan yang digunakan oleh manusia itu memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sixpack, menggunakan selendang emas di belakangnya, dan memakai kalung hitam keemasan.

Ah, ini sungguh membingungkan mengapa tiba-tiba ada manusia yang ditemani ular besar seperti hewan peliharannya sendiri dan lagi merupakan hal yang mustahil kalau manusia berteman dengan hewan buas. Bukankah ini sangat aneh?

Sssttt...

Ular itu kembali berdesis seraya melilitkan Ana dan berbicara kepada tuan manusianya saat melihat Ana hampir ketakutan akan dimakan olehnya. Malangnya Ana baru hidup sudah mau dibawa ke dalam kematian lagi. Apakah takdir sedang mempermainkan dirinya saat ini?

"Aa..apa yang kau lakukan padaku?" Ana hanya berusaha mencerna situasi saat ini. Rasanya setiap ia hidup selalu ada kemalangan yang terjadi menghinggapi dirinya saat ini.

"Ck..ck.. Kau pura-pura bodoh lagi?" Alex berwajah dingin dan meminta ularnya untuk melepaskan lilitan Ana seraya duduk di pangkuan sang anaconda bagaikan raja.

"Maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti arti dari pembicaraanmu?" Ana merasakan napasnya hampir tiada lagi setelah tidur dari mengerjakan skripsi menghadapi kematian, dan bertemu raja tampan yang sudah merenggut nyawanya dengan kekuatan serta siksaan para pengawal di alam gaib itu.

"Sudahlah, aku tidak ingin menjelaskannya. Hanya saja, hukuman keluarga terhadap dirimu telah berakhir hari ini. Kau bisa kembali ke rumah, tapi jangan harap mereka memanjakanmu lagi setelah kau menghancurkan seluruh kepercayaan kami terhadap dirimu." Alex berwajah serius dan melemparkan giok ke Ana.

"Baiklah jika seperti itu, maka aku akan segera kembali ke rumah dan mengembalikan kemanjaan serta kepercayaan mereka kepadaku."

"Cih, hanya kata yang tidak berguna dalam mulutmu dan tidak pernah terbukti sama sekali."

"Aku tidak akan mengecewakanmu. Kalau boleh tahu siapa namamu? Dan bagaimana aku kembali ke rumah dengan giok ini?"

"Cih, sudah lupa semuanya. Aku alex dan teteskan darahmu ke dalam giok itu. Maka, kau bisa kembali ke rumah dengan teleportasi yang disediakan oleh giok."

"Terima kasih, Alex tampan."

Setelah itu Ana melukai sedikit jarinya dan meneteskannya ke giok yang diberikan oleh Alex tersebut hingga muncul sebuah lubang teleportasi yang berwarna gelap itu pertanda bahwa ia bisa kembali ke rumah setelah sekian lama dihukum di hutan belantara tanpa para pengawal.

"Baiklah Alex aku akan kembali ke rumah dan menunggumu disana hingga perkataanku bukanlah omong kosong belaka." tiba-tiba saja Ana tersebut sudah menghilang dan masuk ke dalam lubang teleportasi.

"Sungguh melelahkan sebaiknya dirinya tidak berulah lagi agar kerajaan tetap stabil." Alex melesat menuju paviliunnya bersama anacondanya.

Dan benar saja seluruh penghuni paviliunnya itu sudah ada di dalam kamar Ana dengan wajah dingin yang terlihat sangat jelas, akibat perilaku Ana sudah di luar batasnya. Ayahnya bernama Raden Wijaya, memberikan tekanan batin kepada Ana.

"Kau masih hidup?" ya suara itu sangat dikenali Ana. Ayahnya tersebut langsung memberikan kata-kata yang sarkas, seolah-olah menginginkan kematiannya di hutan belantara.

"Apa tuan menginginkan kematianku? Begitukah cara tuan menyapa sang anak?" Ah, ada-ada saja batuan ujian Ana hingga ia lupa kalau dunia ini bukanlah dunia manusia saat ia menggunakan kata-kata melawan, seketika dadanya terasa sesak dan tertunduk lemas hingga menghormat kepada ayahnya.

"Jangan membantahku kalau kau masih ingin hidup di kerajaan ini, terutama sifatmu yang manja dan sombong ini membuat ayah malu." Raden Wijaya pun menyuruh Ana tetap berlutut dengan darah yang kembali keluar dari mulutnya.

"Maafkan aku ayah. Saat waktunya tiba aku akan menunjukkan kalau karakterku sekarang telah berubah dari masa lalu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED