Bab 1

Ilham : Maaf, lamarannya aku batalkan karena alasan pribadi.

Aku tercengang melihat pesan yang dikirim Mas Ilham via WhatsApp. Pasalnya dia datang ke rumah melamar dua minggu lalu, tetapi sekarang malah memutuskan sepihak bahkan dengan cara tidak hormat.

Bukan aku ingin dihargai, tetapi hubungan yang melibatkan keluarga itu jika ingin diakhiri seharusnya dilakukan dengan baik. Tidak usah memikirkan perasaanku, cukup orang tua dan keluarga lainnya. Pesan singkat itu teramat melukai hati hingga aku kesulitan mengambil napas.

"Ada apa, Yum?" tanya ibu memecah lamunan. Ponsel yang ada dalam genggaman jatuh ke lantai tanpa mampu aku cegah.

"M-mas Ilham, Bu." Aku menatap kedua mata ibu yang sayu. 

"Kenapa dengan Ilham?"

Tanpa mampu menjawab, aku langsung menghamburkan diri dalam pelukan ibu berharap semua ini hanya mimpi. Selama ini tidak ada praduga akan dilukai calon suami yang kelihatannya taat pada agama dan Tuhannya. Air mata merembes begitu cepat bahkan bahu mulai terguncang. Aku tidak bisa menangis dalam diam.

Ibu mengelus lembut belakangku. Aku mengerti pasti beliau masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Mungkin juga menebak kalau Mas Ilham mengalami kecelakaan atau sakit keras. Namun, kurasa hati ini tidak sanggup untuk menyampaikan pesan aksara itu. Terlalu sakit.

"Aku ke kamar dulu, Bu. Nanti kalau sudah tenang baru cerita ke Ibu," ucapku sambil memungut ponsel dan menyembunyikannya dalam kantong gamis.

"Tapi kamu baik-baik saja, 'kan?"

"Iya, Bu. Aku baik-baik saja." Aku berusaha tersenyum walau sebenarnya sulit sekali.

Setelah itu, aku melangkah pelan masuk kamar dan mengunci dari dalam. Sekali lagi kubaca pesan itu untuk memastikan kalau ini bukan halu atau mimpi bahkan sengaja mencubit lengan. Dua detik kemudian aku memberanikan diri menelepon Mas Ilham dan langsung terhubung.

Hening. Aku terlalu takut memulai pembicaraan duluan apalagi kami kenal melalui proses ta'aruf. Sebenarnya sudah lama mengenalnya, tetapi untuk lebih dekat baru enam bulan terakhir. Huh, jantung berdegup begitu cepat.

"Ada apa, Yum?" Suara Mas Ilham terdengar santai seakan pesan yang dikirim itu tidak pernah ada.

Dengan mengumpulkan keberanian, aku mulai membuka suara. "P-pesan yang Mas Ilham kirim t-tadi maksudnya apa?"

"Oh itu ...." Mas Ilham terdengar mengembuskan napas berat, lalu melanjutkan, "lamarannya aku batalkan karena alasan pribadi, Yum. Tolong, kamu sampaikan ini sama orangtua dan keluargamu. Maaf sekali."

Aku yang sedang berdiri langsung terduduk di lantai seraya menggigit bibir menahan luka. Kalimat Mas Ilham bagai petir yang menyambar di siang bolong. Enteng sekali dia mengucapkan itu bahkan seakan aku ini tidak punya hati.

Memutuskan lamaran karena alasan pribadi? Aku tidak mengerti maksud dari kalimat itu, apa karena kami yang bukan keluarga kelas atas atau tinggal di kampung? Bahkan ada prasangka lain bahwa Mas Ilham telah menemukan perempuan yang jauh lebih cantik.

"K-kamu gak lagi bercanda, 'kan?" Aku masih menyimpan secuil harapan.

"Tidak, aku serius. Maafkan aku karena tidak bisa datang meminta maaf secara langsung. Jangan hubungi aku lagi karena ... lupakan saja!"

"Hubungan kita sudah melibatkan orangtua, ini cara yang tidak baik untuk membatalkan lamaran, Mas!" kataku dengan suara tertahan.

"Baiklah, nanti ummi akan menelepon keluargamu. Assalamu'alaikum, Ukhti Yumna."

Belum sempat aku menjawab salam lelaki itu, panggilan sudah terputus. Aku hanya bisa mengembus napas kasar untuk melonggarkan dada yang terasa sesak. Air mata jatuh membentuk anak sungai. Hati sudah sangat hancur dan entah bagaimana cara menyampaikan ini pada keluarga.

Terutama Mas Dika yang kemarin membujukku untuk menolak lamaran Mas Ilham. Dia selalu berasumsi bahwa lelaki itu bukan yang terbaik karena firasat padahal mereka tidak saling mengenal. Aku yang selalu berusaha menerima takdir dengan prasangka baik tidak peduli dengan penolakan Mas Dika.

Ponsel berdering memecah lamunan, nomor baru ini mungkin milik orangtua Mas Ilham. Dengan tangan gemetar aku menekan ikon hijau hingga panggilan terhubung. Perlahan benda pipih itu aku dekatkan ke telinga dan berucap salam, ada jawaban dari seberang sana.

"Ini ummi, Nak. Maaf sekali dengan keputusan Ilham. Ummi juga kaget karena tidak diberitahu lebih dulu dan sekarang tidak tahu harus melakukan apa. Untuk ke rumahmu meminta maaf dan menjelaskan semua ini rasanya sulit," lirih perempuan paruh baya yang aku panggil ummi sejak resmi menjadi calon menantunya.

"Ummi, apa kalian tidak memikirkan perasaanku diperlakukan seperti ini? Bukan hanya aku, tetapi orangtua dan keluarga besar lainnya. Kabar pernikahan yang akan dilangsungkan dua bulan ke depan sudah beredar di kalangan tetangga dan kerabat–"

"Maafkan kami, Nak. Kami sebagai orangtua Ilham tidak tahu harus melakukan apa karena ini sudah menjadi keputusannya." Ummi memotong kalimatku. Beliau seperti ingin membela diri.

Dengan berat hati aku memutus panggilan telepon sepihak. Rasanya benar-benar hancur bahkan tidak sanggup rasanya jika berita ini diketahui tetangga. Mereka tidak akan ragu untuk menggunjing bahkan mungkin saja menyalahkan jilbabku. Takdir begitu kejam merenggut kebahagiaan yang baru dimulai.

Ponsel kembali berdering, ada telepon dari nomor yang sama. Aku mengusap wajah gusar, lalu beralih memijit kening. Ingin sekali berteriak untuk meminimalisir luka, tetapi apa kata tetangga? Sungguh, aku frustrasi dengan keputusan yang tidak terduga ini.

"Tuhan, aku harus apa? Tidak terbayang bagaimana terlukanya ayah sama ibu kalau sudah tahu lamaran ini batal," monologku disertai senyum getir.

Ketukan di pintu membuatku terperanjat. "Yumna, ibu mau masuk!"

Terpaksa aku beranjak, mengusap air mata dan meraih kenop pintu. Ibu menatap sendu dan langsung menyeretku pelan masuk kamar. Beliau menggeleng sambil menggenggam erat tangan ini.

"Ada apa? Ceritakan sama ibu, Yum!"

Ponsel kembali berdering untuk kedua kalinya. Tanpa ragu lagi, aku mengangkan telepon itu dan menyerahkan pada ibu. Selebihnya biar Tuhan yang mengatur. Aku sudah siap dengan semua cemooh atau hinaan dari tetangga. Semoga Allah melindungiku dan sekeluarga.

"Loudspeaker dulu, Yum! Ibu tidak bisa mendengar jelas!" titah ibu, aku pun menekan ikon speaker. Setelah itu beliau melanjutkan, "silakan diulang, Bu!"

Embusan napas berat dari ummi terdengar sekali. Aku bisa mengerti bagaimana malunya beliau menyampaikan keputusan yang sangat tidak beretika ini. Namun, bagaimana lagi karena Mas Ilham sudah memilih yang bahkan alasan jelasnya belum diungkapkan.

Dada berdebar tak ubahnya pacuan kuda menunggu kalimat ummi. Aku bahkan ingin menghilang saja karena tidak sanggup melihat kesedihan di wajah ibu. Bukan mungkin, pasti beliau menitikkan air mata mengetahui anak gadisnya batal dipersunting lelaki yang dulu dibanggakannya.

"Kami minta maaf, Bu. Dengan berat hati lamaran Yumna Alishba Nazafarin dibatalkan," lirih ummi yang berhasil membuat air mata kembali tumpah tanpa permisi. Ibu memandangku dengan linangan air mata.

Bab 2

"Maksudnya apa, ya, Bu?" 

"Maaf sekali karena lamaran Yumna dibatalkan sepihak oleh Ilham, Bu. Kami sebagai orangtua tidak tahu akan seperti ini bahkan sangat malu pada keluarga Yumna. Keputusan ini ditentukan Ilham seorang diri dan–"

"Cukup! Tolong jangan dilanjutkan lagi, Bu." Mata ibu sudah basah oleh air mata. Ponsel itu diletakkan perlahan tanpa memutus sambungan telepon. Ibu menatap penuh luka. Aku sampai menunduk karena sesak melihat pemandangan ini. "Alasannya apa, Yum?!" tanya ibu menggoyangkan bahuku.

Air mata semakin mengalir deras. Aku terlalu takut untuk mengangkat wajah. Lagi pula tidak tahu harus menjawab apa ke ibu karena Mas Ilham memberi alasan yang tidak masuk akal. Lelaki itu terlalu pecundang. Dia datang dengan sekoper janji manis yang tidak ada keinginan mewujudkan.

Seharusnya tidak seperti ini karena hanya melukaiku. Ini tidak adil, bahkan bisa jadi Mas Ilham sedang bercanda ria dengan teman-temannya. Entah bagaimana marahnya ayah apalagi kemarin aku memutuskan kuliah yang sudah semester lima karena lelaki itu.

Sekali lagi, semua di luar dugaan karena Mas Ilham terkenal baik di kalangan teman-temannya. Bahkan ustaz kemarin bilang kalau Mas Ilham itu tidak pernah dekat dengan perempuan lain sebelumnya. Hal yang paling membuat hati yakin selain istikharah adalah keberaniannya membawa keluarga untuk melamar langsung tanpa mengajak pacaran.

"Yumna!" desak ibu.

Hanya denting jam yang terdengar menyakitkan sekarang. Aku sangat bingung dan malu sekarang. Untuk berdiri di kaki sendiri pun rasanya sulit. Bukan hanya tanggapan tetangga, tetapi juga teman-teman. Beruntung undangan pernikahan belum disebar karena masih dua bulan lagi.

Aku menelan saliva sambil mengepal tangan. Seandainya saja bisa menghajar lelaki itu, sudah pasti kulakukan. Padahal minggu kemarin aku sempat berbincang hangat dengan adik dan saudara iparnya yang perempuan. Takdir ini sungguh menjadi kejutan yang luar biasa tepat di hari ulang tahunku.

"Aku juga tidak tahu, Bu. Bahkan kalau saja boleh, biar aku sendiri yang menanggung luka ini." Air mata mengalir semakin deras. Sesak sekali. 

Sebelum memutuskan lamaran, apakah Mas Ilham tidak berpikir berapa banyak hati yang terluka dan wajah yang menanggung malu? Apakah mungkin dia lelaki yang tidak punya hati atau punya, tetapi sama sekali tidak digunakan? Mas Ilham sepertinya tidak sadar bahwa setiap perbuatan akan mendapat balasan serupa, dia punya adik perempuan dan semoga tidak merasakan luka sepertiku.

Beribu tanya merajai hati dan pikiran. Aku sampai tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Ibu sudah tahu kenahasan ini, di manik matanya terpancar luka yang teramat dalam. Aku menggigit bibir ketika mengingat ayah juga Mas Dika. Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan mereka nanti.

"Katakan pada ibu, Nak. Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan sampai Ilham melakukan hal seceroboh itu?" 

Kalimat Mas Ilham kembali terngiang dalam pikiran. Aku memejamkan mata berusaha menikmati luka yang semakin membelenggu jiwa berharap ada sosok lain yang mengobati luka ini. Harapan yang digantung kepada selain Allah memang mengecewakan.

Sebenarnya aku berharap pada Allah, tetapi Mas Ilham terlalu meyakinkan sehingga ada secuil harapan dalam hati yang berlabuh padanya. Padahal sepanjang malam aku berdoa agar Allah melancarkan niat kami untuk beribadah.

"Mas Ilham punya alasan tersendiri, Bu. Aku tidak menuntut terlalu dalam karena masih belum resmi menjadi istrinya." Aku berusaha menjawab dengan tenang walau hati seperti diporak-porandakan.

"Walau bagaimanapun, ayahmu harus tahu. Namun, biarkan Dika duluan yang diberitahu karena kebetulan dia ada di kamarnya."

"Aku takut, Bu. Mas Dika pasti marah dan langsung mendatangi Mas Ilham."

"Tidak, biar ibu yang menyampaikan padanya, tapi kamu juga harus hadir."

Kami pun ke luar kamar mencari Mas Dika. Kebetulan sekali dia sedang berdiri di depan pintu kamarnya. Dilihat dari penampilan, dia hendak ke luar rumah. Aku semakin takut menatap kakak laki-lakiku itu. Dia memang penyayang, makanya tidak bisa menerima jika ada yang melukai adiknya.

Ibu memintanya duduk di ruang tengah dulu. Mas Dika sempat menolak karena mau berkunjung ke rumah temannya, tetapi ibu memaksa dengan dalih ini masalah penting. Akhirnya, Mas Dika mengalah dan kami duduk saling berhadapan, sementara ayah masih bekerja di kebun.

"Adikmu, Dik. Lamarannya dibatalkan Ilham sepihak. Orangtuanya sudah mengklarifikasi bahwa itu keputusan Ilham sendiri dan mereka malu untuk datang meminta maaf."

"Ilham membatalkan lamarannya, Bu?" Mas Dika memasang raut wajah terkejut dan beralih memandangku. "Kenapa, Yum?"

Aku menunduk, tidak mau menjawab pertanyaan Mas Dika. Dia pasti marah besar dan mengungkit perkara penolakannya kemarin yang aku abaikan.

Ibu menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Suaranya serak, pasti menahan sesak dalam dada. Aku kembali menitikkan air mata mendengar cerita itu. Lelaki yang pergi meninggalkan setelah memberi sebuah harapan. Ibarat diterbangkan ke angkasa, lalu dijatuhkan dengan cara yang mengenaskan.

Aku seperti mati rasa dan trauma dengan kejadian ini. Namun, tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Cinta yang baru saja tumbuh sudah mati dalam sekejab. Senyum ibu ketika membahas Ilham tidak lagi terpancar. Keadaan di rumah berbeda hampir seratus persen. 

"Aku harus memberi pelajaran pada Ilham, Bu. Keliatannya aja yang salih, padahal tidak punya etika. Orangtuanya juga bersalah, seharusnya mereka datang ke sini walau sudah sangat malu. Memangnya mereka saja yang malu? Kita lebih malu, Bu!" tekan Mas Dika.

"Tenang, Dik. Kita tunggu keputusan ayahmu dulu. Nanti sore baru ibu cerita atau mungkin malam nanti ketika lelahnya sudah hilang." Ibu masih berusaha menenangkan Mas Dika.

"Apa mungkin karena kita bukan orang kaya, Bu?" 

Aku mengangkat wajah mendengar pertanyaan itu. Mas Dika menatapku dengan raut kasihan. Aku tahu dia ingin memeluk dan menenangkan, tetapi hatinya masih kacau. Di matanya ada semburat merah menandakan Mas Dika memendam amarah. Tangannya pun terkepal kuat.

"Maafkan aku, Mas. Mungkin ini sudah takdir daripada nanti menikah, sebulan kemudian sudah jadi janda." Aku membuka suara setelah mengumpulkan keberanian. Berusaha bersikap tenang seakan tidak ada hati yang tercabik.

"Bukan karena kita miskin, tapi Ilham ada alasan lain yang sifatnya pribadi. Memang kita menanggung malu, merasakan sakit yang luar biasa karena tidak pernah menyangka akan seperti ini. Namun, tidak juga boleh menyalahkan Ilham karena alasannya masih belum jelas." Kembali ibu berusaha bersikap bijak.

"Kalau saja Ilham itu lelaki, dia harus datang meminta maaf di depan adikku!" tegas Mas Dika, "aku tidak terima Yumna menangis sementara Ilham bersikap biasa saja. Hanya pecundang yang tidak berani menampakkan diri setelah melakukan kesalahan!"

"Siapa yang pecundang?" Suara ayah mengagetkan kami semua. Jantung berdebar semakin cepat saja.

'Tolong aku, Tuhan,' batinku menangis.

Bab 3

Ayah langsung duduk di samping Mas Dika. Wajah lelahnya masih terlihat jelas, peluh membasahi tubuh lelaki yang sangat mencintaiku itu. Untuk menghindari amarah, ibu meminta ayah mandi lebih dulu untuk melepas penat.

Aku bernapas lega ketika ayah tersenyum, lalu melangkah ke kamar mandi. Sekarang harus mencari tahu cara menyampaikan berita ini ke ayah. Lelaki paruh baya yang menjadi pahlawan untuk istri dan anaknya itu pasti sangat terluka ketika anak gadis satu-satunya harus ditinggal lelaki yang telah melamar dua minggu lalu.

"Telepon Ilham!" titah Mas Dika membuatku membelalakkan mata.

"T-tapi, Mas?" 

Mas Ilham mengembus napas kasar. "Telepon atau mas datangi langsung!" geramnya.

Ibu memegang tanganku dengan tatapan seakan meminta segera menelepon Mas Ilham. Aku takut Mas Dika melakukan kekerasan karena mereka seumuran, yaitu tiga tahun di atasku. Dengan ragu aku merogoh ponsel dan menelepon lelaki yang saat ini masih bersemayam dalam hati.

Panggilan ke tiga baru diangkat. Tanpa diduga, Mas Dika merampas ponsel itu dari genggamanku. Tangan kekarnya menekan ikon loudspeaker, lalu mengusap wajah kasar. Aku yakin, dia tersulut emosi.

"Maaf, Mas Ilham tadi ke luar–"

"Ini siapa?" potong Mas Dika cepat. Dia terlihat tidak sabaran.

"Nurul Hafizah."

Mas Dika menatapku penuh tanya, aku mengangkat kedua bahu sebagai tanda tidak tahu. Baru saja Mas Dika ingin menutup telepon, tiba-tiba terdengar suara Mas Ilham. Mereka mengobrol ringan yang kemudian harus berhenti karena Nurul memberitahu ada telepon untuknya.

"Halo?" sapa Mas Ilham dari balik telepon.

"Ilham, kalau kamu benar lelaki, datang ke rumah sekarang!" gertak Mas Dika.

"Sekarang tidak bisa karena ada urusan dengan ca ... maksudku dengan Nurul."

"Urusanmu dengan adikku belum selesai, aku tunggu sekarang atau aku yang datang langsung ke rumahmu!" 

Mas Ilham setuju dengan permintaan itu, suaranya gagap. Terdengar pula rengekan Nurul yang tidak terima hari ini batal jalan-jalan. Aku jadi curiga perempuan itulah yang menjadi alasan Mas Ilham memutuskan lamaran. Entah apa status mereka, tidak ada yang tahu.

Sepuluh menit kemudian, ayah keluar dari kamar dengan wajah berseri-seri. Aku merasa tidak enak jika saja senyum itu akan sirna dalam hitungan detik. Beliau duduk di samping ibu sekarang, lalu bertanya tentang apa yang membuat kami kumpul di ruang tengah padahal seharusnya melakukan kesibukan masing-masing.

"Ibu mau bicara, tapi tolong jangan marah." Ibu berusaha santai walau wajahnya terlihat tegang. "Tentang Ilham dan Yumna," lanjutnya.

"Kenapa? Ada masalah? Tanggal pernikahan tidak cocok atau apa? Ditunda?" kejar ayah.

"Ilham mem–"

"Ibu!" potongku seraya memegang bahu ibu. "Mungkin sebaiknya aku saja yang bicara pada ayah, Bu."

Setelah mendapat anggukan dari ibu, aku menarik napas panjang berulang kali. Tidak lama setelah itu, aku mulai menceritakan dari awal sampai akhir dengan suara gemetar dan air mata yang berbaris membasahi pipi. Ayah tercengang, kedua matanya membelalak sempurna.

Senyum itu benar sirna. Aku sangat terluka pun menyesal tidak mendengarkan Mas Dika. Kalau saja waktu itu aku menolak lamarannya, pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Keluarga kami hanya akan merasakan bahagia. Ataukah ini bagian dari ujian?

"Lalu, apa orangtuanya Ilham tidak ada tindakan apa-apa selain menelepon?" tanya ayah dengan suara lemah.

"Tidak, Yah, katanya terlalu malu untuk bertatap muka." Mas Dika yang menjawab.

Tatapan ayah kosong, aku jadi ingat kejadian dua hari sebelum lamaran. Orangtua Mas Ilham menelepon dan memberi kabar kalau beliau akan datang membawa rombongan keluarga dan seorang ustaz untuk meminang. Saat itu mata ayah berbinar sampai menangis haru, lalu beliau dengan gerak cepat menelepon saudaranya yang ada di kota untuk datang ke rumah menghadiri acara lamaranku.

"Ayah kenapa?" tanya Mas Dika saat itu.

"Adik kamu, Dik. Adik kamu mau dilamar laki-laki yang agamanya baik!" jawab ayah antusias.

Mas Dika tersenyum, langsung memelukku sejenak. Bahkan dia tidak merasa sedih jika aku menikah lebih dulu. Sebegitu sayangnya Mas Dika pada adik sendiri. Sementara ibu, beliau terus berucap syukur dan tidak sabar menunggu hari berikutnya.

"Ilham telah mencoreng nama baik keluarga kita. Lamaran yang dibatalkan ini akan menjadi buah bibir tetangga bahkan sampai satu kampung," lirih ayah masih dengan tatapan kosongnya memecah lamunanku.

***

Setelah salat asar, Mas Ilham sudah tiba di rumah. Dia sendirian padahal tadi saat menelepon sedang bersama perempuan yang entah siapa. Aku menggigit bibir dengan rasa was-was takut Mas Dika tidak bisa menahan emosi.

"Apa alasanmu memutus lamaran ini sepihak, Ilham? Juga kenapa tidak bicara langsung, melainkan hanya mengirim pesan." Ayah membuka percakapan. Mas Ilham terlihat biasa saja tanpa rasa bersalah.

"Tidak ada salahnya menyampaikan lewat pesan WhatsApp karena belum menikah, Pak. Orang yang sudah menikah saja bisa menalak istrinya dengan mengirim sms."

"Ilham!" bentak Mas Dika, dia berdiri dengan tangan terkepal. Beruntung ibu langsung memaksanya duduk kembali.

"Kalian datang ke sini dengan cara baik-baik, melamar dengan melibatkan ustaz pula. Kami terima dengan baik bahkan tanggal pernikahan sudah ditentukan. Lalu, kenapa sekarang tiba-tiba memutus lamaran tanpa diskusi atau memberi alasan yang masuk akal?" Ayah masih berusaha meredam amarah.

Mas Ilham menunduk, bibirnya terkatup rapat. Entah kenapa aku merasa kasihan juga pada lelaki itu. Walau bagaimana pun akhirnya dia datang juga ke sini meski tanpa orangtua atau keluarga lainnya yang menemani. Namun, tidak bisa disangkal bahwa luka yang berusaha aku balut kembali menganga.

Lelaki itu masih diam, tiba-tiba dari luar rumah muncul seorang perempuan yang memakai jilbab sepinggang. Dia cantik dan sangat manis. "Maaf, semuanya. Aku mau minta antar pulang sama Mas Ilham karena ibuku menelepon."

Semua pandangan mengarah pada perempuan itu. Mungkin dia yang bernama Nurul Hafizah karena suaranya persis saat di telepon tadi. Dada bergemuruh hebat karena terbakar api cemburu. Aku memang kalah cantik darinya.

"Maaf, Pak, Bu. Aku harus pamit mengantar Nurul pulang dulu." Suara Mas Ilham masih terdengar santai. Aku jengkel dibuatnya.

"Kamu lelaki tidak bertanggung jawab, Ilham!" geram Mas Dika mengarahkan telunjuk di depan wajah Mas Ilham.

"Aku tidak peduli kamu bilang apa, Dik. Satu hal yang pasti adalah aku bukan lagi calon suami adikmu, tetapi Nurul. Ya, ini perempuan yang berhasil memikat hatiku sehari setelah melamar Yumna."

Ayah berdiri hendak memukul Ilham, tetapi ditahan ibu. Aku tahu beliau naik pitam mendengar anaknya diperlakukan buruk seperti itu. Akan tetapi, aku tidak bisa berbuat banyak karena sekarang kami bukan siapa-siapa.

"Semoga Mas Ilham bahagia bersama Nurul," lirihku, lalu melangkah masuk kamar dengan hati hancur tanpa kepingan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED