Marlina mempercepat langkahnya ketika mendengar deru sepeda motor semakin mendekat. Sepeda motor kini sejajar berjalan di sampingnya.
“Hai Adik manis, kok cepet banget jalannya?” tanya salah satu dari mereka.
“Ikutan naik motor bareng yuk!” ajak yang lainnya.
Dua kakak kelasnya itu tertawa terbahak-bahak. Marlina acuh sambil mengeratkan tali tas punggungnya di dada. Dengan berlari kecil Marlina berusaha menjauh dari sepeda motor itu.
Marlina kini sekolah di SMA yang letaknya sangat jauh dari kampungnya. Banyak orang di kampungnya yang tidak menyelesaikan sekolah SMA karena letaknya yang sangat jauh. Selain itu, akses jalan umum harus memutar ke arah kecamatan. Rute terdekat hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki dan harus menyebrangi sungai.
Marlina hanya seorang diri ketika berangkat dan pulang sekolah, melewati berkilo-kilo kebun karet dan sungai, ia tak gentar. Namun nyali Marlina sangat ciut kali ini. Dua pemuda itu menatapnya dengan penuh nafsu. Beberapa langkah lagi Marlina menyeberangi sungai.
Celakanya Marlina justru terpeleset sehingga seluruh tubuhnya tercebur ke air. Ketika Marlina berdiri, tampak baju basahnya melekat ke seluruh tubuh.
“Ha ... ha ... ha … pemandangan yang bagus sekali!” ucap salah satu pemuda yang naik motor.
Dua pemuda itu segera turun dari motornya dan mendekati Marlina. Marlina berusaha berlari untuk menghindari kedua pemuda itu, tapi dia malah terpeleset lagi. Marlina menangis sambil merintih, ternyata kakinya berdarah akibat tergores batu di sungai.
Kedua pemuda itu berebut menjamah tubuh Marlina. Marlina hanya bisa menangis sambil memukul-mukul tangan kedua orang itu, tapi tenaga keduanya lebih besar daripada pukulan Marlina.
Tiba-tiba terdengar bunyi petir menyambar diiringi dengan hujan yang sangat deras. Gunawan salah satu dari pemuda itu melihat ke arah langit dan merasa ketakutan. “Jat, ayo pergi! Petir ini peringatan dari yang di Atas.”
“Kamu takut? Pergi aja duluan, tanggung nih!”
Gunawan berlari menjauh lalu menaiki sepeda motornya dan menjauh. Tinggallah Marlina yang sudah koyak bajunya dengan Jatmiko. Dengan ganas Jatmiko menikmati tubuh Marlina yang sudah melemah. Hujan deras menjadi saksi kebejatan kakak kelas Marlina. Darah mengalir dari kedua pahanya terbawa air hujan. Tak seorang pun mendengarkan rintihan Marlina di tengah kebun karet.
Jatmiko mengatur nafasnya lalu terlentang menghadap ke langit, merasakan tetesan air ke tubuhnya. Sebelum Marlina bangun dari posisinya, Jatmiko terlebih dulu mengenakan pakaiannya dan berlalu meninggalkan Marlina seorang diri di tengah kebun karet. Marlina tak kuasa bergerak, tubuhnya terasa sakit semua, terlebih hatinya yang hancur berkeping-keping.
Marlina teringat nasehat kedua orang tuanya yang melarang sekolah di kecamatan karena jalannya jauh dan sepi. Hal inilah yang paling ditakuti kedua orang tuanya.
Ayah dan ibunya hanya memiliki seorang anak yaitu Marlina. Harapan keduanya berujung pada Marlina. Namun kejadian ini membuat Marlina malu, takut dan kecewa untuk pulang ke rumahnya. Marlina takut kalau Ayah dan Ibunya marah atau bahkan sedih mengetahui keadaannya saat ini.
Marlina merasa benar-benar hancur. Sekujur badannya terasa sakit. Dia berharap mati untuk menutup segala peristiwa kelam hari ini. Matanya tertutup bersama gelegar petir yang tak kunjung henti seakan langit marah dan menghukumnya.
Hari semakin gelap ketika Marlina tersadar bahwa hujan telah berhenti mencurahkan kemarahan langit. Marlina tidak dapat menemukan di mana bajunya, dia menangis dan berusaha membenturkan kepalanya ke batu besar. Dari kejauhan tampak sorotan lampu senter.
“Hei, siapa kamu?” ucap orang itu mendekati Marlina.
“Aku gak suci lagi, biarkan aku mati,” isak Marlina.
“Ya Allah, Nduk. Mana bajumu?” tanya orang kedua sambil menyorot ke sekelilingnya. Tak ada baju di sekitar gadis itu, mungkin sudah hanyut terbawa air sungai.
“Ini, pake sarung saya dulu,” tawar bapak tadi sambil melepas sarungnya dan memakaikannya ke Marlina.
Marlina hanya bisa pasrah dililitkan sarung ke badannya, lalu dituntun menjauhi sungai.
“Cari ikannya nanti aja, Pak. Bawa anak ini pulang dulu, kasian. Kayaknya dari tadi dia kehujanan.” Kedua orang itu berjalan pelan sambil menuntun Marlina. Lalu mereka berjalan pelan ke arah kampung.
“Assalamualaikum, Bu. Kami gak jadi nyari ikan,” ucap bapak tadi seraya memasuki rumahnya. Tampak keluar seorang ibu tua dan melihat ke arah kami. Marlina kembali meneteskan air mata dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai.
“Hah, siapa ini, Pak?” tanya Ibu itu.
“Tadi kami menemukan dia di sungai sebelum nyari ikan, mau bunuh diri, gak pake baju, jadi aku pinjami sarungku,” jawab si bapak.
“Ya Allah kasian, sini Nduk sama Ibu.” Ibu itu menggiring Marlina ke kamar, “Kamu pakai ini ya, Ibu buatkan teh hangat dulu,” ucap Ibu itu lalu berlalu ke dapur.
Setelah mengganti pakaiannya, Marlina duduk di pinggir dipan sambil menangis lagi.
“Minum ini dulu ya, Nduk,” ibu itu menyodorkan segelas teh hangat dan sepiring nasi dan telor goreng. Marlina makan sambil menangis terharu, masih ada orang baik di sini yang melindunginya.
Marlina kembali teringat kedua orang tuanya, bila dia pulang ke rumahnya, apa kedua orang tuanya menyambut hangat seperti ini, atau bahkan membuang dan mengucilkannya.
Tangis Marlina semakin kencang mendapati ibu itu mendekap tubuhnya dengan kasih sayang, seorang ibu yang baru dikenalnya memberikan kasih sayang setelah tubuh dan hatinya hancur.
Setelah agak mereda tangis Marlina, Ibu itu perlahan menyuapi Marlina sedikit demi sedikit. Perut Marlina kini telah kenyang, kantuk pun menyerang. Dia merebahkan tubuhnya di atas dipan dan menutup matanya kelelahan.
Ketika sinar mentari menembus di celah-celah jendela, Marlina merasakan asap dari kayu bakar di dapur. Lalu dia keluar kamar dan mendekati ibu itu, “Bu, terima kasih semuanya.”
“Owalah, dah bangun, Nduk? Kamu mau ke kamar mandi dulu? Itu di luar pintunya.”
Marlina mengangguk pelan, rasa nyeri di kemaluannya membuat Marlina kembali meneteskan air matanya. Aku telah rusak, aku sudah tidak suci lagi, ucap Marlina sambil menangis. Seringai wajah kakak kelasnya membuatnya bergidik.
“Nduk, sudah mandinya?” suara Ibu itu menyadarkan Marlina. Marlina segera menyelesaikan mandinya lalu keluar dari kamar mandi.
Ibu pemilik rumah menepuk dipan kayu di sebelahnya mengajak Marlina duduk dan menikmati sarapan. Marlina menyantap dengan lahap nasi goreng yang masih mengepul itu.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Ibu itu membelai kepalanya dengan lembut.
“Namamu siapa?”
“Marlina,” jawabnya pelan.
“Ibu antar kamu pulang ya?”
Marlina menggeleng pelan, lalu menitikkan air mata kembali.
“Bu… Ibu dimana?” teriak dari arah depan.
“Aku di dapur, Pak!” jawab si ibu dengan berteriak juga.
Muncul bapak yang semalam diikuti ayahnya Marlina di belakangnya. Ayahnya segera berlari dan mendekap dan mencium Marlina dengan penuh kasih sayang, tak lama kemudian ibu dan neneknya Marlina mendekat dan ikut memeluk Marlina.
“Maafkan Ayah, Mar. Ayah tidak bisa menjaga kamu!”
Pelukan ibu melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.
“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” Ayah menggoyang-goyangkan tubuh Ibu.
Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan memborehkannya di kening ibunya Marlina. Ibunya Marlina tak bergeming.
“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.
Pelukan Ibunya Marlina melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.
“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah menggoyang-goyangkan tubuh ibu.
Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan mengusap-usap nya di kening Ibu, Ibu tetap bergeming.
“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” teriak ayahnya Marlina sambil memeluk tubuh istrinya.
Semua orang hanya membisu melihat ibunya Marlina terkulai lemas. Marlina tak kuasa menahan tangis, dia merasa bahwa dialah penyebab kematian sang ibu..
Orang kampung bersama-sama membawa jenazah ibunya Marlina ke rumah Pak Maryono, ayah Marlina. Sepanjang jalan Marlina menjadi bahan pembicaraan orang, baik dari kampungnya maupun warga kampung sebelah.
Siang itu Ibu segera dimakamkan, tangis haru mengiringi pemakaman Bu Maryono. Hampir semua mata pelayat menatap jijik ke arah Marlina. Nenek Sholihati, neneknya Marlina, merasa risih dengan tatapan mereka lalu menarik tangan Marlina ke kamar.
“Gendhuk di sini saja ya, gak usah keluar kamar dulu.” belai Nenek Sholihati di dahi Marlina. Marlina hanya bisa mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Ketika Nenek Sholihati beranjak keluar kamar, Marlina menarik tangan neneknya, “Mar pengen nganter Ibu ke makam, Nek.”
“Nanti saja kalau Ibu sudah dimakamkan, kita ziarah yang lama ya, Sayang. Sekarang kamu di kamar dulu dan jangan keluar, demi kebaikanmu,” ucap Nenek Sholihati sambil melenggang menjauhi kamar.
Suara keramaian menjauh, menandakan para pelayat ikut turut mengantar jenazah ibunya ke makam. Marlina hanya bisa menangisi nasibnya yang telah kehilangan masa depan terlebih kehilangan ibu tercinta.
Setelah pemakaman, Nenek Sholihati kembali ke rumah bersama Pak Maryono. Nenek Sholihati langsung menutup pintu agar tidak ada lagi pelayat atau tamu yang datang. Nenek masuk ke kamar Marlina kemudian memeluk erat cucu tunggalnya. “Kita harus kuat menjalani cobaan ini sayang, jangan biarkan pengorbanan ibumu menjadi sia-sia. Kamu harus bangkit, tunjukkan ke warga sini bahwa kamu tetap kuat dengan melanjutkan sekolah di SMA sana.”
“Tidak ... tidak, Nek. Mar gak mau sekolah lagi. Mar sekolah justru kehilangan Ibu. Mar gak mau kehilangan lagi. Mar telah hancur. Mar mau di rumah aja sama Nenek” isak Marlina.
Nenek Sholihati hanya mengelus pipi cucunya kemudian tersenyum mengangguk tanda setuju.
Malam ini mereka duduk diam bertiga di ruang sempit bercahayakan lampu tempel yang redup. Makanan di meja tak tersentuh, tak ada rasa lapar, hanya ada rasa sedih, kecewa dan marah dalam hati. Sejak pemakaman istrinya tadi, tak ada sepatah kata keluar dari mulut Pak Maryono. Hanya Nenek Sholihati yang tetap sabar melayani Marlina.
Sudah beberapa hari pemakaman Bu Maryono, Pak Maryono tidak pergi ke kebun. Dia masih meratapi kepergian separuh jiwanya.
Pagi ini Nenek Sholihati mengajak Marlina keluar ke depan rumahnya untuk berbelanja sayur pada pedagang sayur keliling.
“Eh, ada Marlina. Mau cari sayur apa?” sapa pedagang sayur ramah.
“Mau cari masalah ada gak, Bang?” tanya Bu Gembrot dengan acuh, kang sayur hanya tersenyum.
“Lah iya, anak perempuan kok sengaja banget cari masalah sekolah jauh-jauh. Diganggu orang baru tau rasa dia,” timpal Bu Gendis tak mau kalah.
“Gitu caranya ngebunuh orang tua pelan-pelan.”
“Liat tuh bapaknya sampe gak berani keluar rumah karena malu menanggung aib anaknya yang sok kepinteran sekolah SMA.”
“Pak Kuncoro bos karet itu aja sekolahnya cuma SD lho, kalo sekolah sampai tinggi bisa jadi bos apa?”
“Memang kalau sudah sekolah yang tinggi, bisa langsung jadi presiden ya?”
“Bu Maryono itu kan dari dulu gak bisa dikagetin, gampang pingsan. Anaknya malah sengaja bikin ibunya cepet mati!”
“Mungkin dia sengaja uji nyali, berangkat sekolah yang jauh biar jadi jagoan ya, akhirnya ilang deh tu keperawanan.”
“Cari yang gratis lho, menu singkat, padat dan enak di air-airan.”
Gelak tawa ibu-ibu yang mengelilingi kang sayur membuat dada Marlina sesak.
“Kalo anakku ngelawan kaya gitu mending dikurung di rumah, diikat sekalian biar gak keluar rumah!”
Nenek Sholihati menjauh sambil menarik tangan cucunya.
Ternyata dari rumah, Pak Maryono mendengar apa yang ibu-ibu bicarakan tentang anak dan istrinya. Dia hanya bisa meneteskan air mata. Gagal sudah niatan untuk menjaga martabat keluarganya.
Nenek Sholihati tak kuasa melihat menantunya yang besar itu kini tampak rapuh setelah kepergian tulang rusuknya. Terlebih Marlina yang sudah berusaha menata hatinya kembali hancur akibat gunjingan tetangga.
Saudara dan tetangga yang dulu akrab kini satu per satu menjauh. Tidak ada empati sama sekali dengan keluarga Pak Maryono. Marlina menutup diri dari lingkungan. Hanya Nenek Sholihati yang memberanikan diri keluar rumah bekerja agar kebutuhan isi perut orang serumah tercukupi.
Pak Maryono lebih banyak diam dan cenderung menjauh ketika diajak bicara oleh Nenek Sholihati. Nenek Sholihati sangat memahami keterpurukan menantu dan cucu kesayangannya.
Suatu pagi Pak Maryono bersiap-siap ke kebun untuk menyadap batang karet milik bos Kuncoro. Nenek Sholihati merasa terharu melihat perubahan menantunya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk seterusnya, ucap Nenek Sholihati dalam hati. Meski enggan mendekati putrinya, Pak Maryono tetap menyalami tangan keriput mertuanya dengan takzim.
Marlina merasa dosa yang dia lakukan tidak dimaafkan ayahnya. Ayahnya hanya diam bila diajak bicara olehnya, sedikit bicara jika ditanya Nenek Sholihati.
Matahari belum tinggi, Pak Maryono telah kembali ke rumah. Dia menaruh peralatannya, menenggak segelas air putih lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Nenek Sholihati dan Marlina hanya saling berpandangan melihat tingkah laku Pak Maryono.
Pasti ada sesuatu di kebun yang menyebabkan Pak Maryono kembali ke rumah dengan cepat.
Tak lama berselang, Sodikin, seorang pegawai bos Kuncoro datang ke rumah mengantarkan beberapa rupiah sebagai upah Pak Maryono yang tak diambil dari sebelum peristiwa kematian sang istri.
“Tadi ayahnya Marlina ke kebun, kenapa tidak diserahkan langsung padanya?” tanya Nenek Sholihati.
“Dia langsung kabur waktu diajak bicara sama pak bos, tersinggungan sih dia,” jawab Sodikin sambil tertawa keras.
“Kamu bilang apa sama pak bos tentang menantuku?” cecar nenek Sholihati.
“Ya aku bilang, kalo Pak Bos mau nambah istri, ambil aja tuh si Marlina, jadi gak mahal, tapi Pak Bos gak mau sama yang seken, mau yang orisinil aja biar kerasa kinyis-kinyis, malah si Maryono langsung kabur, Aku deh yang kebagian nganter uang ini, sekalian cuci mata liat si Marlina, boleh kan Nek?” beber Sodikin.
Nenek Sholihati hanya diam sambil memandang tajam ke arah Sodikin. Merasa tersudut akhirnya Sodikin pamit undur diri.
Marlina hanya diam dari balik dinding mendengar obrolan itu, hatinya teriris jadi bahan ejekan bos tempat ayahnya bekerja.
Sore ini Bu Bos Kuncoro datang ke rumah membawa beberapa kantong plastik besar ke rumah Nenek Sholihati. “Nek, ini bahan makanan untuk Nenek sekeluarga,” ucap Bu Bos seraya menaruh kantong plastik tersebut.
“Terima kasih, Bu. Semoga Ibu dilimpahkan rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah.” Nenek Sholihati terharu sambil menitikkan air mata karena kebaikan Bu Bos.
“Saya minta tolong jauhkan cucu nenek dari suami saya, saya tidak rela dimadu apalagi dengan anak yang sudah tidak suci lagi. Saya harap Nenek mengerti maksud dan tujuan saya datang kesini!”
Nenek Sholihati langsung terkejut mendengar ucapan Bu Bos tadi, “Cucuku tidak serendah itu, meski dibeli dengan berjuta-juta, tak akan kuserahkan cucuku itu pada siapa pun!”
“Tidak rendah tapi kok kesucian diumbar kemana-mana.”
“Baiklah, terima kasih atas bingkisannya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar!”
“Satu pesanku, jaga cucumu agar bau busuknya tidak mengganggu pernapasan orang lain.” Bu Bos melenggang angkuh ke luar rumah.
Bruk
Suara benda besar jatuh di kamar. Nenek Sholihati dan Marlina berlari menuju kamar ayahnya. Mereka melihat Pak Maryono tergeletak di lantai.
Pelukan Ibunya Marlina melemah dan kemudian ambruk di tengah-tengah kami.
“Bu … Ibu kenapa, ayo bangun, jangan pingsan lagi!” ayah menggoyang-goyangkan tubuh ibu.
Ibu pemilik rumah memberikan minyak kayu putih dan mengusap-usap nya di kening Ibu, Ibu tetap bergeming.
“Ibu kenapa?” isak Marlina bertanya pada semua orang yang ada di situ.
“Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” teriak ayahnya Marlina sambil memeluk tubuh istrinya.
Semua orang hanya membisu melihat ibunya Marlina terkulai lemas. Marlina tak kuasa menahan tangis, dia merasa bahwa dialah penyebab kematian sang ibu..
Orang kampung bersama-sama membawa jenazah ibunya Marlina ke rumah Pak Maryono, ayah Marlina. Sepanjang jalan Marlina menjadi bahan pembicaraan orang, baik dari kampungnya maupun warga kampung sebelah.
Siang itu Ibu segera dimakamkan, tangis haru mengiringi pemakaman Bu Maryono. Hampir semua mata pelayat menatap jijik ke arah Marlina. Nenek Sholihati, neneknya Marlina, merasa risih dengan tatapan mereka lalu menarik tangan Marlina ke kamar.
“Gendhuk di sini saja ya, gak usah keluar kamar dulu.” belai Nenek Sholihati di dahi Marlina. Marlina hanya bisa mengangguk pelan sambil menitikkan air mata. Ketika Nenek Sholihati beranjak keluar kamar, Marlina menarik tangan neneknya, “Mar pengen nganter Ibu ke makam, Nek.”
“Nanti saja kalau Ibu sudah dimakamkan, kita ziarah yang lama ya, Sayang. Sekarang kamu di kamar dulu dan jangan keluar, demi kebaikanmu,” ucap Nenek Sholihati sambil melenggang menjauhi kamar.
Suara keramaian menjauh, menandakan para pelayat ikut turut mengantar jenazah ibunya ke makam. Marlina hanya bisa menangisi nasibnya yang telah kehilangan masa depan terlebih kehilangan ibu tercinta.
Setelah pemakaman, Nenek Sholihati kembali ke rumah bersama Pak Maryono. Nenek Sholihati langsung menutup pintu agar tidak ada lagi pelayat atau tamu yang datang. Nenek masuk ke kamar Marlina kemudian memeluk erat cucu tunggalnya. “Kita harus kuat menjalani cobaan ini sayang, jangan biarkan pengorbanan ibumu menjadi sia-sia. Kamu harus bangkit, tunjukkan ke warga sini bahwa kamu tetap kuat dengan melanjutkan sekolah di SMA sana.”
“Tidak ... tidak, Nek. Mar gak mau sekolah lagi. Mar sekolah justru kehilangan Ibu. Mar gak mau kehilangan lagi. Mar telah hancur. Mar mau di rumah aja sama Nenek” isak Marlina.
Nenek Sholihati hanya mengelus pipi cucunya kemudian tersenyum mengangguk tanda setuju.
Malam ini mereka duduk diam bertiga di ruang sempit bercahayakan lampu tempel yang redup. Makanan di meja tak tersentuh, tak ada rasa lapar, hanya ada rasa sedih, kecewa dan marah dalam hati. Sejak pemakaman istrinya tadi, tak ada sepatah kata keluar dari mulut Pak Maryono. Hanya Nenek Sholihati yang tetap sabar melayani Marlina.
Sudah beberapa hari pemakaman Bu Maryono, Pak Maryono tidak pergi ke kebun. Dia masih meratapi kepergian separuh jiwanya.
Pagi ini Nenek Sholihati mengajak Marlina keluar ke depan rumahnya untuk berbelanja sayur pada pedagang sayur keliling.
“Eh, ada Marlina. Mau cari sayur apa?” sapa pedagang sayur ramah.
“Mau cari masalah ada gak, Bang?” tanya Bu Gembrot dengan acuh, kang sayur hanya tersenyum.
“Lah iya, anak perempuan kok sengaja banget cari masalah sekolah jauh-jauh. Diganggu orang baru tau rasa dia,” timpal Bu Gendis tak mau kalah.
“Gitu caranya ngebunuh orang tua pelan-pelan.”
“Liat tuh bapaknya sampe gak berani keluar rumah karena malu menanggung aib anaknya yang sok kepinteran sekolah SMA.”
“Pak Kuncoro bos karet itu aja sekolahnya cuma SD lho, kalo sekolah sampai tinggi bisa jadi bos apa?”
“Memang kalau sudah sekolah yang tinggi, bisa langsung jadi presiden ya?”
“Bu Maryono itu kan dari dulu gak bisa dikagetin, gampang pingsan. Anaknya malah sengaja bikin ibunya cepet mati!”
“Mungkin dia sengaja uji nyali, berangkat sekolah yang jauh biar jadi jagoan ya, akhirnya ilang deh tu keperawanan.”
“Cari yang gratis lho, menu singkat, padat dan enak di air-airan.”
Gelak tawa ibu-ibu yang mengelilingi kang sayur membuat dada Marlina sesak.
“Kalo anakku ngelawan kaya gitu mending dikurung di rumah, diikat sekalian biar gak keluar rumah!”
Nenek Sholihati menjauh sambil menarik tangan cucunya.
Ternyata dari rumah, Pak Maryono mendengar apa yang ibu-ibu bicarakan tentang anak dan istrinya. Dia hanya bisa meneteskan air mata. Gagal sudah niatan untuk menjaga martabat keluarganya.
Nenek Sholihati tak kuasa melihat menantunya yang besar itu kini tampak rapuh setelah kepergian tulang rusuknya. Terlebih Marlina yang sudah berusaha menata hatinya kembali hancur akibat gunjingan tetangga.
Saudara dan tetangga yang dulu akrab kini satu per satu menjauh. Tidak ada empati sama sekali dengan keluarga Pak Maryono. Marlina menutup diri dari lingkungan. Hanya Nenek Sholihati yang memberanikan diri keluar rumah bekerja agar kebutuhan isi perut orang serumah tercukupi.
Pak Maryono lebih banyak diam dan cenderung menjauh ketika diajak bicara oleh Nenek Sholihati. Nenek Sholihati sangat memahami keterpurukan menantu dan cucu kesayangannya.
Suatu pagi Pak Maryono bersiap-siap ke kebun untuk menyadap batang karet milik bos Kuncoro. Nenek Sholihati merasa terharu melihat perubahan menantunya. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk seterusnya, ucap Nenek Sholihati dalam hati. Meski enggan mendekati putrinya, Pak Maryono tetap menyalami tangan keriput mertuanya dengan takzim.
Marlina merasa dosa yang dia lakukan tidak dimaafkan ayahnya. Ayahnya hanya diam bila diajak bicara olehnya, sedikit bicara jika ditanya Nenek Sholihati.
Matahari belum tinggi, Pak Maryono telah kembali ke rumah. Dia menaruh peralatannya, menenggak segelas air putih lalu masuk ke dalam kamarnya tanpa bicara sepatah kata pun.
Nenek Sholihati dan Marlina hanya saling berpandangan melihat tingkah laku Pak Maryono.
Pasti ada sesuatu di kebun yang menyebabkan Pak Maryono kembali ke rumah dengan cepat.
Tak lama berselang, Sodikin, seorang pegawai bos Kuncoro datang ke rumah mengantarkan beberapa rupiah sebagai upah Pak Maryono yang tak diambil dari sebelum peristiwa kematian sang istri.
“Tadi ayahnya Marlina ke kebun, kenapa tidak diserahkan langsung padanya?” tanya Nenek Sholihati.
“Dia langsung kabur waktu diajak bicara sama pak bos, tersinggungan sih dia,” jawab Sodikin sambil tertawa keras.
“Kamu bilang apa sama pak bos tentang menantuku?” cecar nenek Sholihati.
“Ya aku bilang, kalo Pak Bos mau nambah istri, ambil aja tuh si Marlina, jadi gak mahal, tapi Pak Bos gak mau sama yang seken, mau yang orisinil aja biar kerasa kinyis-kinyis, malah si Maryono langsung kabur, Aku deh yang kebagian nganter uang ini, sekalian cuci mata liat si Marlina, boleh kan Nek?” beber Sodikin.
Nenek Sholihati hanya diam sambil memandang tajam ke arah Sodikin. Merasa tersudut akhirnya Sodikin pamit undur diri.
Marlina hanya diam dari balik dinding mendengar obrolan itu, hatinya teriris jadi bahan ejekan bos tempat ayahnya bekerja.
Sore ini Bu Bos Kuncoro datang ke rumah membawa beberapa kantong plastik besar ke rumah Nenek Sholihati. “Nek, ini bahan makanan untuk Nenek sekeluarga,” ucap Bu Bos seraya menaruh kantong plastik tersebut.
“Terima kasih, Bu. Semoga Ibu dilimpahkan rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah.” Nenek Sholihati terharu sambil menitikkan air mata karena kebaikan Bu Bos.
“Saya minta tolong jauhkan cucu nenek dari suami saya, saya tidak rela dimadu apalagi dengan anak yang sudah tidak suci lagi. Saya harap Nenek mengerti maksud dan tujuan saya datang kesini!”
Nenek Sholihati langsung terkejut mendengar ucapan Bu Bos tadi, “Cucuku tidak serendah itu, meski dibeli dengan berjuta-juta, tak akan kuserahkan cucuku itu pada siapa pun!”
“Tidak rendah tapi kok kesucian diumbar kemana-mana.”
“Baiklah, terima kasih atas bingkisannya. Saya rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, silahkan keluar!”
“Satu pesanku, jaga cucumu agar bau busuknya tidak mengganggu pernapasan orang lain.” Bu Bos melenggang angkuh ke luar rumah.
Bruk
Suara benda besar jatuh di kamar. Nenek Sholihati dan Marlina berlari menuju kamar ayahnya. Mereka melihat Pak Maryono tergeletak di lantai.