Bab 1

Di ruangan kepala sekolah nampak seorang gadis berhijab warna biru toska, gadis cantik itu adalah Naiya Humairah. Dia seorang guru kontrak yang sudah dua tahun mengabdi di sekolah dasar Jeumpa. Hari ini dia dipanggil oleh kepala sekolahnya.

“Naiya. Kamu apa tau kenapa saya panggilkan menghadap ke ruangan saya?”tanya Kepala sekolah yang bernama Faisal.

“Maaf Pak. Naiya nggak tau.”jawab Naiya singkat

“Naiya. Sekolah kita di minta menyumbang satu orang guru kontrak untuk bertugas di sekolah dasar di desa Tangse. Kamu tau kan kota Tangse itu?”tanya Faisal.

“Tau Pak. Sangat jauh dari kota kita. Apa saya yang Bapak pilih?”

“Ia Naiya. Maafkan saya, karena mereka meminta guru yang belum menikah. Dan di sekolah kita hanya kamu saja yang masih sendiri. Bagaimana apa kamu bersedia?”

Naiya berpikir beberapa saat, dia menimang-nimang apa dia bisa hidup di desa terpencil itu? Hingga lima menit kemudian dia memberi jawaban yang membuat hati Faisal lega.

“Demi nama sekolah kita, Naiya bersedia Pak. Kira-kira berapa lama saya di kontrak disana Pak?”tanya Naiya.

“Saya belum mendapat kabar Naiya, tapi menurut perkiraan saya tidak lama. Mukin dua bulan, karena nanti akan datang guru pns yang bertugas disana.”jawab Faisal.

Kemudian Faisal menelpon administrasi sekolah untuk membuatkan surat perjalanan dinas untuk Naiya.

“Naiya. Apa kamu punya saudara di Tangse?”tanya Faisal.

“Nggak Pak. Ayah dan Umi asli orang Bireuen.”kata Naiya.

Faisal kemudian menelpon seseorang entah siapa.

“Naiya. Bapak punya saudara jauh disana namanya Mak Ijah. Nanti saya akan hubungi dia dan meminta bantuannya untuk menjaga kamu disana. Nomor ponsel Mak Ijah ada sama isteri saya.”ujar Faisal.

Naiya menganggukkan kepalanya, hatinya sangat senang karena kepala sekolahnya tidak langsung melepasnya begitu saja.

“Alhamdulillah Pak Faisal tidak membiarkan Aku sendiri disana.”gumam Naiya.

Selang lima menit datang seorang pemuda membawa sebuah kertas di tangannya.

“Pak. Ini surat keterangan pindah tugas Naiya sudah saya buatkan.”ucapnya.

“Bawa kemari biar saya tanda tangan.”

Pemuda itu berjalan menuju ke meja kerja Faisal.

“Razi. Kamu besok ada kerja? Bisa nggak kamu antarkan Naiya ke Tangse?lumayan jauh kotanya. Kasian dia sendirian.”pinta Faisal.

Razi melihat Naiya yang memberi isyarat lewat matanya.

“Ia Pak. Saya akan mengantar Naiya kemana saja. Asal tidak ke kuburan”canda Razi.

Faisal tersenyum mendengar gurauan anak buahnya itu.

“Naiya. Kamu bisa pulang sekarang. Biar bisa istirahat dan menyiapkan keperluan kamu selama dua bulan di sana.”kata Faisal.

“Baik Pak. Terimakasih.”

“Jangan lupa ini surat buat kepala sekolah disana.”kata Faisal seraya menyerahkan surat pada Naiya.

Naiya mengambil surat tersebut dan mohon pamit.

“Saya permisi Pak.”

Naiya keluar dari ruang kepala sekolah beriringan dengan Razi.

“Apa mau Aku antar pulang? Aku udah nggak ada kerjaan lagi nih.”tanya Razi.

“Boleh, sekalian kita belanja ya? Tapi kamu yang bayar.”jawab Naiya.

“boleh siapa takut, kamu harus belanja sampai lima juta. Kalau nggak kamu harus bayar sendiri belanjaan kamu. Gimana?” senyum jahil terukir di wajah tampan Razi.

Naiya dan Razi mereka bersahabat sudah lama sejak mereka kuliah dan di pertemukan kembali di sekolah yang sama. Banyak teman-teman yang mengatakan jika mereka itu sangat cocok dan kemungkinan berjodoh.

“Boleh saja.siapa takut. Awas kalau kamu nggak sanggup bayar. Gaji kamu satu tahun buat Aku.”ancam Naiya.

Razi tertawa lepas mendengar ancaman sahabatnya itu.

“Boleh siapa takut. Uang Aku nggak akan habis sampai tujuh keturunan Naiya. Apa lagi buat belanjain calon isteri yang cantik seperti kamu.”Razi kembali mengoda Naiya.

“Calon istri? Bisa hancur generasi penerus Aku kalau wajah suamiku seperti kamu.hahaa.”

Naiya langsung berlari meninggalkan Razi yang sangat kesal mendengar perkataan Naiya.

“Awas Kamu Naiya. Jatuh cinta dengan Aku tau rasa kamu. Tapi gimana ya kalau Aku dan Naiya jadian? Heboh satu jagat raya.wkwk.”Razi tertawa sendiri dan berlari menyusul Naiya ke ruangan guru.

Nampak Naiya sedang mengabsen dirinya dan kemudian dia mengambil beberapa buku dan memasukkannya ke dalam tasnya.

“Razi. Kenapa kamu bengong disitu? Udah kayak orang bodoh kamu. Tanda tangan absen terus. Biar kita bisa pulang sekarang.”kata Naiya yang melihat Razi tertegun melihat dirinya.

Tanpa banyak bicara Razi pun menandatangani absen kehadirannya.

Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran.

“Pasangan pengantin baru mau kemana?”ledek Ilham salah satu guru yang baru sampai di parkiran.

“Siapa pengantin baru Pak? Kami? Ogah Aku Pak Ilham,kalau jodoh dengan Razi. Gantengnya minus banget Pak.hahaha.”ujar Naiya.

“Aku sumpahin kamu jatuh cinta ke Naiya.”jawab Razi kesal.

Ilham tersenyum melihat tingkah kedua rekan kerjanya itu.

“Jangan-jangan mereka jodoh ya? Habisnya tiap ketemu berantem melulu. Satu jam baik sepuluh jam bertengkar.”gumam Ilham.

Naiya kesal mendengar perkataan Razi yang menyumpahinya.

“Sumpah orang jelek kayak Kamu mana bisa Allah kabulkan..heee.”tawa Naiya. Lesung pipi dan hidungnya yang mancung menambah karisma di wajahnya.

“Alah sok cantik Kamu Naiya. Nanti klepek-klepek sama Aku.”ucap Razi nggak mau kalah.

“Aku emang cantik dari sononya. Dan kamu jeleknya udah tercatat di lauh al-mahfuzh.”tambah Naiya lagi.

Razi sangat kesal mendengar jawaban Naiya. Dia hendak mencubit Naiya namun berhasil ditangkis Naiya.

“Bukan mahram. Jangan sentuh Aku, kalau nggak mau tangan kamu patah.”

Ilham yang sudah tidak mau mendengar berdebatan mereka akhirnya ikut bicara.

“Kalian ini sudah kayak tom and jery aja, nggak pernah akur. Malu dikit dengan umur. Apa lagi kalian seorang pendidik.”nasehat Ilham.

Naiya dan Razi terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Ilham.

“Naiya kita pulang aja yuk? Nanti kamu nggak sanggup belanja lagi, gara capek berantem dengan Aku.”ajak Razi.

“Ya udah Yuk! Pak Ilham kami pergi dulu ya?”pamit Naiya.

Razi dan Ilham pun pergi meninggalkan Ilham di tempat parkir.

Razi adalah anak petani yang sangat kaya, sawah milik orang tuanya sangat banyak. Belum lagi kebun kelapa sawitnya.Dia hanyalah anak tunggal.

Sementara Naiya mempunyai dua orang saudara laki-laki. Ayah Naiya seorang ustat pemilik sebuah pesantren kecil.

Razi membukakan pintu mobilnya untuk Naiya.

“Masuk Naiya cantik bin manis.”goda Razi.

Naiya tersenyum menanggapi gurauan Razi.

Razi membawa mobilnya ke sebuah swalayan terdekat, dia memarkirkan mobilnya di tempat parkir.

Mereka masuk ke dalam swalayan, Naiya mencari semua kebutuhannya dari sabun, shampo,parfum, odol dan juga sikat gigi. Semua dia masukkan ke dalam keranjang belanjaan. Razi membayar semua barang yang di beli Naiya.

Mereka menuju ke toko pakaian, Naiya memilih beberapa baju tidur untuk dirinya, tak lupa pakaian dalam wanita juga dia beli.

Selesai berbelanja Naiya memanggil Razi untuk membayarnya.

“Kalau kayak gini kita jalan, dikira kita pasangan suami isteri ya Nai?hee”tawa Razi.

“Jangan bilang yang nggak-nggak kamu Zi. Kamu pulang aja deh. Kalau ngomong ngelantur melulu.”usir Naiya.

Razi tersenyum melihat wajah kesal Naiya.

“Cantik banget kamu Nai kalau lagi marah.”batin Razi. Diam-diam dia mulai mengagumi Naiya, sahabatnya.

Setelelah berkeliling swalayan, Naiya mengajak Razi makan sate.

“Razi. Kita makan sate ya? Kapan lagi kita kumpul kayak gini, Aku telpon Yanti dulu ya?biar rame.”kata Naiya.

Dia mengambil ponsel di dalam tasnya dan mengirim pesan pada sahabatnya Yanti.

“Yuk kita berangkat, dia langsung ke warung sate Teungku Ali.”ajak Naiya.

Mereka pun meninggalkan tempat itu menuju ke warung sate.

Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sudah sampai. Razi memesan tiga porsi nasi dan juga tiga porsi sate.

“Nai. Kamu nggak takut kalau pergi ke Tangse itu? Aku dengar kota itu masyarakatnya masih banyak menganut ilmu hitam.”kata Razi.

“Aku sebenarnya takut Zi. Cuman kamu kan tau gimana Pak Faisal, tidak ada yang bisa menolak keinginan dia. Kamu doain ya? Aku nggak kenapa-napa disana.”jawab Naiya.

“Pastilah Aku doain yang terbaik buat kamu, sekalian Aku berdoa semoga kita berjodoh.haha.”

Naiya tersenyum mendengar candaan Razi.

Tak lama kemudian datang seorang gadis berhijab menghampiri mereka.

“Nai. Zi. Apa kabar kalian?”tanya Yanti.

“Kalau Aku sangat baik Yan, Apa lagi di temanin gadis secantik Naiya. Perasaan Aku seperti tinggal di surga.”ujar Razi. Naiya yang mendengar perkataan Razi langsung menjitak kepalanya.

Akhirnya mereka makan bersama dengan lahapnya.

"Yan. Aku di pindah tugaskan ke sekolah dasar di kota Tangse. Nama desanya Blang bungong."kata Naiya setelah mereka selesai makan.

"Apa ke kota Tangse? Jangan Naiya."

"Kenapa Yan?"

Kemudian Yanti membisikkan sesuatu yang membuat Naiya ketakutan.

Bab 2

Yanti membisikkan sesuatu pada Naiya membuatnya ketakutan.

Razi yang melihat Naiya hampir menangis menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan Yanti.

"Yan. Apa yang kamu katakan? Liat tuh Naiya sampai pucat banget mukanya."kata Razi.

Yanti memperhatikan raut wajah Naiya yang memucat.

"Nai. Maafin Aku, tapi Kamu jangan percaya kali. Karena itu mitos yang aku dengar dari saudara Aku."hibur Yanti.

Naiya merasa tenang sedikit setelah Yanti menghiburnya.

"Nai. Apa yang Yanti katakan pada kamu?"tanya Razi yang masih penasaran.

"Kata Yanti kota Tangse itu banyak penganut ilmu hitam dan sering para gadis yang jadi korban."jawab Naiya.

Razi syok mendengar yang dikatakan Naiya.

"Nai. Batalin aja, Kamu nggak usah ke sana. Aku juga khawatir takutnya kamu kenapa-napa."pinta Razi.

Naiya memikirkan perkataan dua sahabatnya itu. Bila dia tidak menerima Pak Faisal akan sangat marah, pasti dia tidak mau lagi menjadi donatur tetap pesantren ayahnya.

"Insya Allah Aku nggak akan kenapa-napa. Doain yang terbaik buat Aku ya?"kata Naiya.

Razi dan Yanti tidak bisa berbuat banyak,karena mereka tau sifat keras kepala Naiya.

Setelah berbincang-bicang cukup lama,mereka pun memutuskan untuk pulang.

"Naiya. Ini kamu simpan alamat saudara Aku yang di Tangse. Namanya Wak Dar. Orangnya baik sekali. Nanti Aku akan telpon dia dan meminta untuk menjaga kamu."kata Yanti. Dia memberikan secarik kertas pada Naiya.

Naiya memeluk erat sahabatnya itu, hingga tidak terasa air matanya jatuh ke pipi mulusnya.

"Terimakasih Yan. Kamu sahabat terbaik Aku."bisik Naiya.

Razi yang melihat kedua sahabatnya berpelukan mencoba menggoda keduanya.

"Nai. Yan. Aku nggak kalian peluk?"

Naiya dan Yanti langsung menjitak kepala Razi bergantian.

"Ini pelukan dari kami."kata Naiya dan Yanti bersamaan.

"Aaawuuw. Sakit. Emang kalian teman nggak ada akhlak."rungut Razi kesal.

Setelah membayar tagihan makan,Razi mengajak Naiya pulang.

"Nai. Pulang yuk? Nanti keburu sore. Kamu kan mesti bicara dengan Ayah dan Umi kamu."

Naiya pun mengikuti perkataan Razi, mereka berpisah di tempat parkir. Yanti pulang dengan motor maticnya dan Razi mengantar Naiya pulang.

Didalam mobil Naiya masih memikirkan perkataan Yanti.

"Zi. Apa benar ya? Ada orang yang mau ilmu tinggi harus membunuh gadis perawan? Ini kan zaman modern."kata Naiya.

"Benar Nai. Aku nggak pecaya sih. Cuman dulu kakek pernah cerita, ada desa yang sangat berbahaya kalau di datangi gadis cantik. Bukan untuk dijadikan tumbal, melainkan dijadikan budak seks untuk jin peliharaan bagi yang memelihara jin."ungkap Razi.

Kembali rasa gelisah menyelimuti hati gadis itu.

Tak terasa mereka pun sampai di sebuah pondok pesantren.

"Nai. Sudah sampai."kata Razi mengejutkan lamuna Naiya.

Naiya turun dari mobil dan membawa barang belanjaannya di bantu oleh Razi.

Nampak kedua orang tua Naiya sudah berdiri di depan rumah sederhana mereka.

"Naiya. Kenapa banyak kali belanja Nak? Pemborosan namanya."cecar Umi Naiya.

Razi mencium tangan kedua orang tua Naiya dengan takzim.

"Saya yang taktir Umi, karena Naiya akan pindah mengajar besok."kata Razi.

"Pindah? Kemana Nai?"tanya Ayah Naiya yang bernama ustat Ali.

"Kota Tangse Ayah."

"Apa Tangse?"

Ustat Ali sangat terkejut mendengar kota tempat anaknya mengajar.

Razi memasukkan semua barang belanjaan ke dalam rumah Naiya.

Tak lama kemudian Dia pamit pada mereka semua.

"Saya permisi. Nai. Besok lepas subuh kita berangkat ya?"kata Razi.

"Ya. Zi. Makasih banyak."balas Naiya.

"Yups.."

Razi kembali ke mobilnya dan pulang ke rumahnya.

"Naiya. Apa kamu benar-benar akan kesana besok?"tanya ustat Ali.

"Ia Ayah. Kenapa apa Ayah tidak mengizinkan Aku pergi?"tanya Naiya.

"Bukan nggak kasih izin, hanya saja kota itu sangat jauh delapan jam perjalanan Nak."jawab Ustat Ali.

"Ia Ayah. Sangat jauh, makanya Aku minta tolong sama Razi untuk mengantarkan Aku. Apa Ayah marah?"

"Tidak Nak. Razi itu pemuda yang baik

Andai saja dia mau melamar kamu. Ayah langsung terima lho."gurau Ustat Ali pada putrinya.

"Iih Ayah. Apa nggak ada yang lain selain Razi? Kan banyak tuh anak kawan Ayah yang ustat. Jodohinlah Aku dengan mereka jangan dengan Razi. Dia nggak termasuk katagori idaman Aku."ucap Naiya kesal.

Entah kenapa semua orang terdekatnya selalu menjodohkan mereka.

"Sudahlah Yah. Biarkan Naiya istirahat dulu di kamarnya."lerai Umi Naiya.

Naiya lalu masuk ke kamarnya sambil membawa semua barang yang dia beli.

Naiya mengambil tas kopernya. Satu persatu baju dia masukkan. Mukena dan sajadah juga dia masukkan kedalam tas.

Naiya membuka sebuah kotak didalam lemarinya. Nampak sebuah Al Quran berwarna keemasan , kemudian dia masukkan ke dalam sebuah tas sandang.

Hingga matanya memperhatikan sebuah tasbih berwarna hitam, didalamnya ada lafaz Allah. Naiya tersenyum dan mengambilnya.

"Ini hadiah dari kakek, Aku akan membawanya bersamaku."gumam Naiya.

Kemudian dia mengambil tasbih itu dan meletakkannya di bawah bantal tidurnya.

Naiya mengambil barang yang dia beli tadi siang dengan Razi. Sebuah tas besar sudah dia siapkan. Selesai berkemas dia kèluar dari kamarnya menemui Ayah dan Uminya.

Namun dia sangat terkejut melihat seorang lelaki tua yang sangat dia kenal sedang tersenyum padanya.

"Kakek." Naiya berhamburan kepelukan Kakeknya yang bernama Mustafa.

Keduanya pun saling melepas rindu.

"Kakek kapan datangnya? Kok nggak ada yang kasih tau Nai?"tanya Naiya. Dia duduk disamping kakeknya.

Kakek Naiya tinggal di seberang kampung tempat tinggal Naiya. Dia memiliki sebuah padepokan silat. Naiya banyak mewarisi ilmu bela diri dari kakeknya.

"Kata Ali. Kamu mau pergi ke Tangse besok ya? Hati-hati saja ya? Apa lagi desa blang bungong itu."jawab Mustafa.

"Emang kenapa desa itu Kek?"

"Di sana banyak anak gadis yang tidak bisa menikah, mereka semua perawan tua. Namun sebenarnya mereka sudah tidak gadis lagi. Itu cerita yang kakek dengar entah benar atau nggak."kata Maustafa.

Dia lalu mengambil sebuah cicin bermata, warnanya putih dan memberikan pada Naiya.

"Pakailah, usahakan jangan lepas dari jari kamu."perintah Mustafa.

Naiya memakai cincin yang kakeknya berikan.

"Kok bisa pas dengan jari Naiya ya?"tanya Naiya bingung.

"Karena kamu gadis istimewa Nak. Tidak semua orang bisa memakai cincin itu, termasuk Kakek.Nanti kamu akan tau sendiri apa fungsi dari cincin itu,"ujar Mustafa.

Ketika mereka berbincang datanglah Umi dan Ayahnya Naiya.

"Abah kalau masalah Naiya langsung datang, Aku yang rindu dengan Ayah hampir satu abad tapi Ayah nggak peduli."ucap Ali.

Umi dan Naiya tersenyum menanggapi lelucon Ali.

"Naiya itu cucu perempuanku satu-satunya. Makanya Aku harus benar menjaganya. Emang kamu Ali. Sibuk teros dengan anak murid kamu. Untung saja uminya Naiya telpon Abah."kata Mustafa.

Mereka semua bercanda ria hingga waktu asar pun sudah tiba.

Ali mengajak Mustafa untuk solat berjamaah dengan para santri.

Naiya dan Umi pun beranjak dari duduknya menuju ke kamar masing-masing untuk solat.

Naiya mandi terlebih dahulu dan mengambil air wudhu.

Dia langsung solat asar empat rakaat,setelah solat dia mengambil tasbih yang dibawah bantal tidurnya.

Naiya terus berzikir dengan khusyuknya hingga dia tertidur dan masuk ke dalam dunia mimpi.

Nampak olehnya banyak gadis-gadis yang menangis di sebuah pohon yang sangat besar.

Mereka semua terdiam melihat Naiya datang.

Salah seorang dari mereka mengambil sebuah kayu dan mengejar Naiya.

Naiya berlari sangat kencang namun tiba-tiba dia terjatuh dan kayu yang di pegang gadis itu kena kepalanya.

Bab 3

menjerit dengan sangat kuat dia mengucap asma Allah dengan sepenuh hatinya. Tiba-tiba dia langsung terbangun dari mimpinya itu.

"Alhamdulillah ya Allah. Apa ya arti mimpi itu. Siang hari pun Aku bisa mimpi."gumam Naiya.

Waktu begitu singkat waktu magrib pun tiba, selesai solat magrib keluarga Naiya berkumpul di ruang makan. Tawa dan canda tercipta di antara mereka. Apalagi abang Naiya yang suka sekali menggoda adik bungsunya.

"Nai. Jangan sampai kamu jatuh hati dengan orang tangse ya? Aku nggak mau terima adik ipar orang kampung."ucap Basri, Abang tertua Naiya.

"Ia Naiya. Pilihlah kayak si Razi. Ganteng bin tajir lagi.haha."tungkas Darwis. Abang Naiya yang kedua.

Mustafa hanya bisa tersenyum mendengar cucu laki-lakinya menggoda Naiya.

"Jodoh Aku. Orang special yang pastinya seorang hafiz. Kalian tuh jangan urus jodoh Nai. Bang Basri dan Bang Darwis dulu yang kawin. Jangan sampai di panggil bujang lapuk.hahaha." ucap Naiya.

Umi dan Ali akhirnya melerai mereka bertiga.

"Sudah kita makan dulu, nanti sambung lagi."kata Umi.

Mereka pun meneruskan makan malam mereka.

Suara sendok dan garpun yang menemani mereka semua.

Setelah makan mereka semua ke ruang tengah. Naiya dan Umi membereskan meja makan, seorang asisten rumah tangga bernama Bi Minah membantu mencuci piring.

"Ayah. Besok siapa yang akan antar Naiya ke Tangse? Aku nggak sempat, anak santri sedang ujian."kata Basri.

"Naiya perginya dengan Razi, kamu juga ikut ya Darwis. Nggak baik Naiya berduaan dengan yang bukan mahramnya."titah Ali.

"Baik Ayah. Aku akan ikut, mana tau nanti jumpa jodoh disana."timpal Darwis.

"Di sana Kakek dengar cantik-cantik anak gadisnya, tapi banyak yang nggak menikah."tungkas Mustafa.

Ali, Basri dan Darwis heran dengan apa yang Ali katakan.

"Kalau cantik kenapa nggak ada yang nikahin Kek?"tanya Basri penasaran.

"Itu masih menjadi misteri, Kakek hanya berharap Naiya tidak kenapa-napa disana. Dan dia bisa membantu para gadis yamg disana."jawab Mustafa.

Semuanya terdiam dalam pikiran masing-masing. Hingga Darwis meminta agar Naiya tidak ke sana.

"Ayah. Jika Naiya tidak pindah tugas kan bisa? Kenapa mesti dia sih?"unggap Darwis.

"Naiya tidak mungkin menolak permintaan Pak Faisal. Dia yang selalu menjadi donatur pesantren kita."kata Ali.

"Sudahlah Darwis. Kita berdoa saja Nai baik-baik saja."ucap Mustafa.

Umi dan Naiya membawa keripik pisang dan buah ke ruang tengah.

"Naiya jam berapa besok kita pigi? Abang yang ikut antar kamu."tanya Darwis.

"Benar nih Bang? Mau antar Naiya atau ada tujuan lain?"goda Naiya.

Darwis menepuk jidat Naiya dengan tangannya.

"Mau nggak Aku antar? Atau nggak pigi sama sekali?"

"Iih. Tambah bodoh nih kepala Nai. Gara-gara Bang. Habis subuh kita langsung berangkat."ucap Naiya.

"Gitu doong, kalau di tanya langsung jawab,"seloroh Basri.

Semua dalam ruangan tersenyum melihat ketiga saudara itu bergaduh.

Basri duduk di samping Naiya dan memeluk adiknya itu.

"Nai. Kamu hati-hati di kampung orang ya? Jaga harga diri kamu baik-baik. Nama keluarga kita sangat baik di masyarakat, jangan sampai kamu membuat malu dan mencoreng nama Ayah kita."nasehat Basri.

"Ia Bang. Insya Allah. Nai minta doanya dari kalian semua terutama ayah dan Umi. Semoga Naiya bisa menjalankan tugas Naiya dan menjaga nama baik keluarga kita."ucap Naiya, air matanya jatuh perlahan di pipi mulusnya.

Umi langsung memeluk putri bungsunya itu.

"Sudah, jangan nangis Kamu sudah dewasa, moga aja ketemu jodoh disana ya?"bisik Umi.

"Ih Umi. Aku kerja disana mana sempat cari jodoh." Naiya tersenyum mendengar perkataan Uminya itu.

Mustafa melihat ke arah jam, waktu isya telah tiba. Dia meminta Basri untuk mengantarnya pulang.

"Bas. Tolong antarkan Kakek pulang ya? Kasian murid kakek di padepokan nggak ada gurunya."kata Mustafa.

"Baik Kek. Yuk kita berangkat sekarang."ajak Basri.

Umi dan Ali serta Darwis menyalami Mustafa. Naiya juga menyalami kakeknya.

"Naiya. Kamu jangan pernah lupa berzikir pada Allah ya Nak. Hanya pada Allah kita memohon pertolongan. Jangan pernah tergoda dengan tipuan setan yang selalu menyesatkan kita."nasehat Mustafa.

"Ia Kakek. Terimakasih sudah mengingatkan Nai."

Setelah Mustafa pulang, Darwis dan Ali ke mesjid, karena waktu isya telah tiba.

Umi dan Naiya masuk ke dalam kamar masing-masing.

Naiya segera mengambil air wudhu dan menunaikan solat isya. Naiya kembali berzikir dengan khusyuk.

Sekitar setengah jam berzikir, Naiya mengambil al quran dan membacanya.

Sementara itu di rumah Razi, pemuda itu sedang meminta izin pada kedua orang tuanya untuk mengantar Naiya ke tangse.

"Ma.Ayah. Besok subuh Aku ke Tangse ya? Mau antar Naiya. Dia di pindah tugaskan ke sana."kata Razi.

"Naiya kenapa pindah Razi?"tanya Mamanya yang bernama Siti.

"Aku nggak tau kenapa dia dipindahkan, jauh lagi. Kasian Aku liatnya Ma. Dia sendiri yang pindah yang lain nggak."jawab Razi.

"Ya sudah. Kamu antar saja dia. Apalagi dia itu sahabat kamu. Atau kamu minta ikut pindah juga ke sana, biar Naiya ada temannya."kata Ayah Razi,Fazli namanya.

Ketika mereka sedang berbicara datang seorang lelaki tua bertongkat ke arah mereka.

"Siapa yang mau kamu antar Zi? Dan kemana?"tanyanya.

"Itu Kek. Naiya. Kakek kan kenal, gadis yang berjelbab panjang yang selalu berselisih paham dengan Kakek."kata Razi.

"Ooh gadis cantik itu? Calon kamu ya?"

"Hhaha. Kakek ini ada aja. Naiya mana mau sama Aku. Keluarganya semua hafiz, lah Aku ini tidak terlalu paham dengan agama."

Tawa Razi pecah mendengar kata Kakeknya.

"Razi. Tangse itu jauh lho. Kamu beli bekal yang banyak tuh buat Naiya. Pergi aja sekarang kalau subuh mana ada toko yang buka. Beli roti dan keripik pisang atau makanan yang bisa tahan lama."ucap Siti.

"Apa? Tangse? Naiya pindah ke sana? Kalau bisa janganlah Razi. Bahaya tuh kota apalagi desa blang bungong itu."kata Rudy.

Razi kembali bingung dan merasa kasian dengan Naiya. Banyak yang mengatakan kita itu berbahaya.

"Aku juga heran Kek, kenapa Naiya yang di pilih pindah. Padahal kan banyak guru lain di sekolah kami. Hanya saja Naiya yang belum menikah."kata Razi.

Perkataan Razi membuat rasa curiga di hati Rudy.

"Zi. Pak Faisal itu sudah menikah belum? Coba kamu cari tau tentang dia di sekolah. Takutnya dia sengaja menjebak Naiya."ungkap Rudy.

Razi menimang perkataan Kakeknya itu. Ada kejanggalan di balik pindahnya Naiya ke kota tangse.

Dia berjanji akan mencari tau penyebab Faisal memindahkan Naiya ke sana.

"Jika nanti Pak Faisal emang menjebak Naiya. Aku yang akan memasukkan dia ke penjara Kek."ucap Razi geram.

Rudy tersenyum melihat kegalauan di hati cucunya,dia tau kalau Razi menyukai Naiya.

"Razi. Cari tau secepatnya jangan sampai Naiya dalam bahaya disana. Apalagi kamu tidak bersamanya."ucap Rudy.

"Ya Kek. Aku akan meminta beberapa teman untuk memasang perekam dan cctv di ruangan Pak Faisal."kata Razi.

Dia masuk ke dalam kamarnya dan menelpon seseorang.

Setelah itu dia kembali ke tempat ayah dan mamanya.

Dia pamit pada kedua orang tuanya juga kakeknya.

Razi mengemudi mobil menuju ke sebuah toko kue. Dia memarkirkan mobilnya, lalu masuk ke dalam toko.

Razi mengambil sebuah keranjang, dia berkeliling mencari roti untuk Naiya, dia memilih beberapa roti bantal dan juga selai ada selai rasa kacang, strobery kesukaan Naiya. Serta empat buah roti sobek. Juga sebuah kue bolu rasa cokelat.

Razi juga mengambil beberapa minuman kaleng serta makanan ringan.

Setelah berbelanja Razi membayarnya di kasir. Beberapa menit kemudian dia keluar dari toko kue itu. Namun matanya melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang berbicara di telpon.

"Itu bukannya Pak Faisal. Aku ke sana aja,"gumam Razi.

Dia melangkah perlahan menuju ke tempat Faisal, langkahnya berhenti sesaat mendengar pembicaran Faisal.

"Ya. Dia besok ke sana.jaga dia baik-baik sebelum ritual kita lakukan."ucap Faisal.

Razi syok mendengar perkataan Faisal dia segera berbalik arah. Namun sebuah tepukan di bahu membuatnya terkejut.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED