Tangis Selena masih mengalir. Tubuhnya sangat sakit terutama pada bagian bawah. Entah sudah berapa kali Jeno memperkosanya hari ini. Dia bahkan tak bisa mendapatkan kesempatan untuk istirahat dan menjelaskan kondisi dirinya pada Jeno.
Seorang pembantu berumur 45 tahun mendekatinya. Perempuan itu memicingkan tatapan kejam dan galak pada Selena.
Selena tersentak kaget saat perempuan tua itu menarik kasar selimut yang menutupi tubuh telanjang Selena. Perempuan itu menarik tangan kiri Selena dengan kasar.
“Jangan menangis terus! Anak pencuri sepertimu tidak pantas menangis di sini!” bentak pembantu itu dengan kasar.
Tubuh Selena yang sakit dan lemah begitu mudah terjatuh di lantai. Rasa sakit semakin lekat menyelubungi seluruh tubuhnya. Dia berharap ada seseorang yang mau membantunya. Sayangnya, semua itu hanyalah khayalan Selena.
“Bangun! Sana mandi! Isi sendiri bak mandimu! Jangan menyusahkan Tuan Jeno!” hardik pembantu itu dengan pandangan jijik dan jengah.
Mulut pembantu itu terus melontarkan ucapan kasar pada Selena. Tentu saja Selena tak mengerti alasannya.
Hati kecilnya ingin membalas ucapan perempuan itu. Namun, dia terlalu malu bertelanjang bulat di depan perempuan tua itu. Daripada beradu mulut, Selena memilih bangkit dari posisi terjatuhnya dan melangkah tertatih-tatih masuk ke dalam kamar mandi.
Dia berusaha menahan isak tangisnya agar tak lagi terdengar. Tangannya bergerak menarik setekan kunci pintu kamar mandi. Setelah yakin pintu kamar mandi tertutup, dia memutuskan untuk mengisi bak mandi dan berendam di sana.
Selena bersyukur air hangat membantu memulihkan rasa sakit pada sekujur tubuhnya. Dia mengambil sabun cair sebanyak mungkin dan membersihkan tubuhnya.
Tangisannya kembali mengalir membasahi pipinya. Dia merasa dirinya sangatlah kotor. Dia bukanlah Selena yang lugu seperti dulu lagi. Kini dia sudah ternoda dan tak bisa melepaskan diri dari pria yang memiliki panggilan Tuan Jeno itu.
“Kenapa dia sejahat itu padaku,” ratap Selena. Dia masih tak paham dengan perilaku Jeno yang keji padanya. “Apa orang tuaku berutang padanya? Ayah ….”
Tangisan Selena semakin deras. Dia memang sudah satu minggu ini tak menghubungi ayahnya. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaan paruh waktu dan persiapan kuliah.
“Apa yang terjadi pada Ayah?” gumam Selena. Pandangannya yang memerah dan masih dipenuhi air mata menengadah menatap langit-langit kamar. Dia memejamkan matanya. Hatinya berdoa semoga ayahnya baik-baik saja.
Tak terasa, Selena malah jatuh tertidur di dalam bak mandi. Sebuah keberuntungan karena wajahnya terjatuh di bagian tepian datar bak mandi sehingga wajahnya tak tenggelam di dalam air. Namun, Selena tetap berendam di sana semalaman.
Jeno yang baru pulang kediamannya saat dini hari menyadari ada kejanggalannya. Dia sama sekali tak melihat keberadaan Selena di dalam kamarnya. Padahal, dia sudah memberitahu Dewi, pimpinan pembantu yang dia percaya mengatur rumahnya.
“DEWI!” teriak Jeno garang. Pria itu tak bisa bersabar sedetik pun.
Dewi yang baru saja bangun dan berniat ke dapur untuk membuat sarapan langsung terkejut kaget. Dia segera berlari menaiki tangga untuk menghadap pada Jeno.
“Ada apa, Tuan Jeno?” tanya Dewi, si perempuan tua yang ditemui Selena kemarin sebelum berendam mandi.
“Mana perempuan itu?” balas Jeno menghardik. “Bukannya aku sudah memerintahmu untuk menjaganya? Kenapa dia hilang?”
Dewi terkesiap kaget dan takut. Seingatnya, Selena masuk ke kamar mandi. Karena tak kunjung keluar kamar mandi, Dewi menaruh makanan di meja dan mengunci pintu agar Selena tak kabur.
“Seharusnya tidur, kan, Tuan?” timpal Dewi takut.
Jeno memukul pintu dengan kasar hingga suaranya terdengar menggema di seluruh ruang rumah. “Kau pikir aku buta? Kalau dia tidur, aku sudah tahu dia ada di kasur!”
Pandangan Jeno berapi-api. Dia tak suka dengan orang yang bekerja dengan teledor.
Keringat dingin langsung membanjiri sekujur tubuh Dewi. Dia memeras otaknya agar Jeno tak marah dan memecat dirinya. Menjadi bawahan Jeno sangatlah menakutkan. Jeno lebih galak dan perfeksionis dibanding sang almarhum papa.
“Co-coba saya cari di kamar mandi,” ujar Dewi.
Jeno berdecak. Dia mengizinkan Dewi memeriksa kamar mandi dan tetap mengawasinya dengan pandangan mata yang tajam.
Dewi mencoba membuka pintu kamar mandi. Namun, pintu terkunci dari dalam.
Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. “Buka! Buka!” teriak Dewi. Dia ingin memaki Selena yang sudah dipastikan ada di dalam kamar mandi dan tak mau menjawab panggilannya. Namun, dia mengurungkan keinginannya itu karena Jeno ada di hadapannya.
Jeno tak sabar dengan yang Dewi lakukan. Pria itu langsung mendorong Dewi menyingkir dari depan pintu dan mendobrak kasar pintu kamar mandi.
Dalam tiga kali dobrakan, pintu kamar mandi berhasil dibobol. Jeno melangkah ke kamar mandi. Pandangannya membulat kaget ketika dia melihat Selena tak sadarkan diri di bak mandi.
Langkah Jeno langsung berlari ke bak mandi. Dia menyentuh air dalam bak yang sudah dingin beku. Selena juga tampak tak sadarkan diri. Namun, suhu tubuhnya begitu tinggi.
“Panggilkan dokter!” teriak Jeno pada Dewi.
“I-iya, Tuan,” sahut Dewi. Dia bingung tapi tetap berlari keluar kamar Jeno dan menelepon dokter keluarga.
Jeno menggendong tubuh telanjang Selena keluar dari bak mandi. Dia membawanya dan membaringkannya di kasur.
Tangan Jeno mengambil selimut dan menutupi tubuh Selena dengan selimut itu. Dia memanggil pembantu perempuan lainnya untuk memakaikan pakaian pada tubuh Selena.
Selena tak sadarkan diri hingga sore hari. Dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bahkan, saat terbangun, tubuhnya masih terasa sulit digerakkan dan rasa panas menyengat tubuhnya.
“Haus … air ….” rintih Selena pelan. Dia tak bisa bersuara banyak. Semua energinya seperti tersedot ke ruang hampa dan sulit untuk dikembalikan.
Jeno yang menunggui Selena sambil bekerja segera menoleh. Telinga pria itu setajam telinga elang. Sedikit bunyi saja, dia mampu mendengarkannya.
Jeno melepaskan kacamatanya dan menaruhnya di meja. Pria itu bangkit dari duduknya dan mendekati Selena.
“Air ….” pinta Selena. “Haus ….”
Jeno segera membantu Selena duduk. Dia menaruh dua lapis bantal sebagai penyangga tubuh punggung dan kepala Selena saat tertidur.
Dia mengambilkan air hangat yang ada di teko. Sebuah sedotan stainless steel dia taruh di dalam gelas itu. “Minumlah,” Jeno mendekatkan sedotan itu ke mulut Selena.
Selena meminum perlahan air hangat itu dari sedotan. Sedikit demi sedikit, rasa hausnya terobati.
Pandangan Selena masih buram. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan mengerjap-ngerjapkan pandangannya.
Perlahan dia menaikkan pandangannya dan menatap ke depan. Dia ingin tahu siapa yang menolongnya.
Hati Selena berhenti berdetak saat dia melihat Jeno ada di depannya. Pria yang sudah memperkosanya itu telah menolongnya. Rasanya begitu menyesakkan dan membuatnya begitu benci.
Dengan segenap tenaga, tangan Selena bergerak menepis gelas itu hingga jatuh ke lantai. “Pergi! Biarkan aku mati!” teriak Selena dengan suara parau dan pelannya.
Bola mata Jeno membeliak lebar. Dia terkejut dengan sikap Selena yang langsung menghardiknya dengan kasar. Bahkan, Selena menampik gelas minum hingga jatuh pecah ke lantai gelasnya.
Ekor mata Jeno langsung menatap tajam Selena. Dia memegangi kedua pergelangan tangan Vania dengan erat.
“Argh! Sakit!” desis Selena.
“Kalau kamu tahu kamu sakit, tidak seharusnya kamu bersikap kasar seperti ini padaku,” Jeno menatap galak Selena.
Tatapan Jeno benar-benar tajam. Jantung Selena langsung terhenti saat mendapatkan tatapan itu. Tubuhnya gemetar ketakutan dengan sendirinya. Matanya langsung terpejam rapat.
Selena takut jika Jeno akan memperkosanya lagi. Apalagi, Jeno mencengkeram pergelangan tangannya dengan begitu kuat. Tenaga lemah Selena yang sedang sakit tak bisa membalas perilaku kasar Jeno yang penuh dengan kekuatan. Selena hanya bisa pasrah pada Jeno.
Hati Jeno kasihan pada Selena. Dia teringat pada adik perempuannya. Cengkeraman tangannya mengendur.
“Sekarang diam saja dan makan apa yang kusuapkan ke mulutmu!” bentak Jeno.
Selena masih menciut takut hatinya. Matanya masih tertutup rapat.
Sementara itu, tangan Jeno mengambil piring berisi nasi dan lauk. Dia menyuapi Selena dengan tangannya sendiri.
Selena hanya membuka mulut ketika permukaan bibirnya disentuh oleh sendok. Dia tak berani membuka mata karena hatinya ketakutan hanya karena tatapan tajam mata Jeno.
Pria itu menyeramkan. Selena menyembunyikan rasa takutnya dengan menggenggam erat selimut. Itulah cara Selena untuk menyalurkan rasa takutnya agar tidak meledak-ledak seperti amarahnya pada Jeno tadi.
Namun, pandangan Jeno tajam. Pria itu tahu bahwa Selena takut padanya. Pandangannya langsung melihat jemari tangan Selena yang gemetaran dan mencengkeram ujung atas selimut.
Jeno memutuskan mengabaikan hal itu. Meski dia tahu Selena ketakutan, dia tetap menyuapkan makanan hingga habis. Yang dia pikirkan adalah Selena makan dan minum obat. Setelah itu, dia bisa sedikit tenang dan membiarkan Selena tidur hingga malam nanti.
Selena akhirnya menghabiskan makanan itu dengan susah payah. Dia juga sudah minum obat.
“Tidurlah!” suruh Jeno dengan nada memerintah tegas.
Selena langsung berbaring dan menaikkan selimutnya hingga menutupi wajahnya. Dia bahkan berbaring miring memunggungi Jeno.
Jeno bisa melihat Selena memilih diam dan menghindarinya. Namun, dia tak peduli. Yang terpenting baginya adalah Selena tak mati.
Keberadaan Selena sangat penting bagi Jeno. Dia bisa mengancam ayah Selena dan membuatnya muncul. Dia tak akan pernah melepaskan Selena hingga ayah Selena muncul di hadapannya dan mengiba.
Jeno bangkit dari duduknya. Dia memanggil pembantu muda untuk mengurusi Selena.
“Kamu pekerja baru kan di sini?” tanya Jeno. Dia memandangi pembantu mudanya di kediamannya.
Perempuan itu memiliki mata sedikit sipit. Wajah dan badannya gemuk. Setidaknya ukuran tubuhnya tiga kali lipat dari ukuran tubuh Selena.
“Iya, Tuan. Saya baru lulus dari seleksi yang diselenggarakan di sini,” jawab si perempuan yang berusia sepantaran dengan Selena itu.
“Rawat dia sampai sembuh. Jangan berperilaku kasar seperti Dewi. Aku akan memotong tanganmu kalau kamu tidak bisa bekerja dengan baik,” ancam Jeno tegas.
“Ba-baik, Tuan,” sahut si pembantu lugu itu.
Selena pun ikut bergidik ngeri mendengar ancaman Jeno. Hatinya kembali berdebar keras. Dia takut jika Jeno mengatakan ancaman serupa padanya.
Selena tak takut mati. Namun, dia takut dibiarkan hidup dalam kondisi cacat.
Selena masih muda. Dia memiliki banyak cita-cita. Meski sudah kehilangan keperawanan, Selena masih berharap bisa tetap hidup dan mewujudkan cita-citanya yang lainnya.
Tadi pun dia berteriak ingin mati pada Jeno hanya karena rasa frustasi yang impulsif keluar begitu saja akibat ledakan amarah. Dia sungguh tak mau mati.
Selena memejamkan matanya lebih rapat. Dia berusaha keras agar bisa tidur.
Untungnya efek obat benar-benar cepat muncul. Selena bisa tertidur pulas sampai malam.
Butuh tiga hari bagi Selena untuk sembuh. Dia bersyukur karena pembantu baru yang ditugaskan untuk merawatnya sangat baik dan sopan.
Namanya Ratna. Gadis gemuk itu berusia setahun lebih muda dibanding Selena. Sesekali Ratna kikuk di hadapan Selena. Namun, Selena tetap nyaman dan bisa akrab dengan mudah.
“Kamu tahu Bu Dewi?” tanya Selena saat membersihkan kasur bersama dengan Ratna.
“Non, biar saya aja yang bersihkan. Nanti Tuan Jeno marah. Takut banget saya,” ujar Ratna. Dia menarik selimut dari tangan Selena. “Non, duduk aja ya?”
“Aku hanya mengambil selimut kotor dan mau menata sprei saja,” tutur Selena.
“Non, Tuan Jeno menakutkan. Saya nggak berani,” Ratna menggelengkan kepala ketakutan.
Selena kasihan pada Ratna. Dia pun menyerahkan selimut dan membiarkan Ratna membersihkan kamar.
Selena duduk di kursi. Dia menikmati camilan yang disediakan untuknya.
“Bu Dewi sudah bekerja seperti biasanya, Non,” terang Ratna. “Non, nggak perlu cemas.”
Selena mengangguk paham. Dia sebenarnya tidak cemas pada perempuan tua yang bersikap kasar padanya. Dia justru berharap Dewi mendapatkan hukuman.
Sayangnya, posisi Dewi sangatlah strategis. Dia adalah pimpinan para pembantu di kediaman Jeno. Meski Dewi membuat kesalahan, Jeno tak akan langsung memecatnya. Kecuali, kesalahan yang dibuat Dewi sangatlah besar.
“Ratna, aku mau jalan-jalan. Apa boleh?” tanya Selena. Dia sudah lama terkurung dalam kamar. Dia ingin melihat-lihat kondisi di luar.
“Iya, Non. Tapi, aku ke tempat cucian dulu buat masukin semua pakaian kotor ini,” Ratna menunjukkan keranjang berisi pakaian kotor.
Selena mengangguk setuju. Dia tersenyum senang karena akhirnya bisa jalan-jalan keluar kamar.
Langkah Selena mengekori Ratna. Dia hanya mencoba menghafal ruang di kediaman Jeno yang besar. Namun, dia belum memiliki rencana untuk kabur.
Kabur bukanlah hal yang bisa dilakukan secara impulsif. Jika ingin kabur, Selena harus tahu seluruh ruang di kediaman Jeno dan menentukan ruang kosong yang bisa menjadi celah baginya untuk kabur.
Selena menganggap jalan-jalan bersama Ratna ini adalah bagian dari persiapan awal baginya untuk bisa kabur dari kediaman Jeno yang menakutkan. Dia tetap berpikir kediaman dengan arsitektur barat dan barang-barang mewah itu menakutkan. Semuanya karena sifat Jeno yang seperti seorang kriminal tiap kali berada di hadapan Selena.
“Ratna, sepertinya aku harus kembali ke kamar,” Selena merasa takut karena pikirannya terus mengingat Jeno.
“Kenapa, Non?”
“Aku takut Tuan Jeno pulang dan nggak suka lihat aku berkeliaran,” terang Selena. Dia tetap tahu diri bahwa di rumah megah itu dia hanyalah budak penghibur untuk Jeno.
“Iya udah, Non. Ayo saya antar,” ucap Ratna.
Selena menggelengkan kepala. “Nggak usah. Aku langsung ke kamar. Kamu siapkan makan siang dan camilan untukku aja,” balas Selena.
Langkah Selena berlari kecil menaiki tangga. Dia mengendap-endap dan sesekali mengecek ruang sekitar.
Selena berhenti melangkah saat dia melihat pintu kamar Jeno terbuka. Dia mengintip dan melihat Dewi sedang membuka lemari Jeno.
Pandangan Selena membeliak lebar saat dia melihat Dewi mengambil satu gepok uang seratus ribu rupiah. Dewi memasukkan satu gepok uang itu ke dalam saku bajunya dan buru-buru mengunci pintu lemari seperti sedia kala.