Bab 2

Ruangan yang begitu luas saat ini hening, hanya ada dua manusia yang sedari tadi diam. Nathan sedari tadi pandangannya tidak pernah lepas dari wajah cantik Claire. Hanya ada suara detak jam mahal di dinding marmer dan napas Claire yang tidak stabil.

Nathan yang duduk di sofa tepat di depan, Claire mengenakan setelan abu gelap yang tampak sempurna di tubuhnya. Dengan tatapan dingin dan tak terbaca seperti di malam gala waktu itu. Namun, ada sesuatu yang lebih menyeramkan dalam sorot matanya, yaitu kekuasaan.

"Bagaimana, sudah kamu tandatangani?" suara Nathan pelan, tapi tegas, memecah keheningan.

Claire menggenggam jemarinya yang dingin. "Aku... hanya ingin ayahku sembuh."

Nathan berdiri dan menatap keluar jendela. "Aku bisa membeli apapun di dunia ini. Tapi tidak bisa membeli darah dagingku sendiri dari seorang wanita yang kemanduluannya diwarisi keluarga bangsawan.

Claire yang sedari tadi duduk dengan menunduk, bahkan tangannya terlihat gemetar. Setelah menginjakkan dirinya di lantai 56, lantai tertinggi yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus. Rasa takut menggumpal di dadanya tapi tidak memiliki pilihan.

"Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah bagimu, Claire. Tapi, bukankah aku memberimu solusi yang terbaik," ucap Nathan dengan suaranya yang kali ini terdengar lebih lembut.

Claire masih diam dengan menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan.

"Kamu pasti berpikir jika aku adalah pria monster dan sebagainya, menawar tubuhmu demi anak."

"Aku seorang anak ingin memberikan yang terbaik untuk, ayah," ucapnya. "Kita saling membutuhkan dengan dua hal yang berbeda. Aku tahu bahwa di dunia ini tidak kan satu orang pun memberikannya secara cuma-cuma."

Keheningan, entah kenapa ruangan ini tiba-tiba sunyi setelah Claire bicara sedangkan Nathan masih berdiri menatap keluar jendela. Hingga dimana Claire kembali memberanikan diri bersuara.

"Bukankah banyak cara untuk memiliki anak, contohnya seperti mengadopsi anak," ucap Claire pelan dan penuh kehati-hatian.

Nathan menoleh, "Karena aku tidak ingin membesarkan anak orang lain. Aku ingin dari darah dagingku sendiri."

Claire menelan ludah, "A-apa istrimu tahu?"

"Tidak, aku melakukannya tanpa sepengetahuannya," ucap Nathan. "Sejak awal memang pernikahanku diatur oleh keluargaku dan untuk bisnis."

Nathan kembali duduk di sofa lalu membuka map yang berada di meja dan menyodorkan ke Claire.

"Ini kontraknya, kamu bisa menandatanganinya sekarang. Kamu juga akan tinggal di apartemen yang sudah aku siapkan. Kamu juga akan menjalani pemeriksaan rutin dari dokter yang sudah aku pilihkan. Selama berhubungan denganku maka jangan coba-coba dekat dengan pria lain. Setelah anak lahir kamu akan mendapatkan kompensasi tambahan dan bebas pergi."

Claire membaca dengan seksama dan tidak ingin melewatkan hal sekecil apa pun. Bahkan nominal uang yang dituliskan di kertas itu cukup menyelamatkan ayahnya, bahkan lebih.

"Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?"tanyannya pelan.

"Aku tidak memilih dokter sembarangan, dan aku yakin jika kamu bisa melahirkan anak untukku. Aku juga menyuruh dokter untuk memastikan semuanya dengan baik, aku juga akan melakukan bagian yang diperlukan."

Wajah Claire memerah memahami maksud tersirat dari kalimat itu.

"Jadi... kita akan," Claire tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

"Ya," jawab Nathan dengan begitu tenang. "Tenang saja aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi, pastikan satu hal Claire, jika kamu sudah putuskan ini maka kamu tidak bisa pergi."

Hening, Claire kembali menatap kertas di hadapannya, dia bisa saja berdiri dan keluar dari ruangan ini. Kembali menjadi gadis yang bekerja sana-sini untuk membiayai pengobatan ayahnya dan mungkin saja tidak bisa menyelamatkan ayahnya.

Tangan Claire bergerak mengambil pulpen yang disodorkan oleh Nathan. Claire menandatangani kontrak itu.

Di hari yang sama, Claire di bawa ke apartemen mewah di Fifth Avenue. Di sana juga sudah ada wanita muda yang menyambutnya bernama Riley, "Saya akan menjadi asisten nona selama nona tinggal di sini. Tugas saya memastikan kebutuhan nona terpenuhi dan saya juga akan menemani nona kemana pun nona pergi kecuali saat nona bersama dengan tuan, Nathan."

Claire tidak bicara banyak, dia hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam apartemen. Dimana apartemen itu sangat luas lengkap dengan isinya dan bersih jauh dari tempat yang selama ini dia tinggali bersama dengan ayahnya. Sofa mahal dan dapur minimalis yang bersih dan tertata rapi, balkon luas dengan pemandangan Central Park.

"Semua pakaian, nona yang dibelikan oleh tuan akan dikirim sore ini. Dokter juga akan datang tiga kali seminggu untuk pemeriksaan awal."

Claire mengangguk pelan, kepalanya pusing, semuanya terjadi begitu cepat.

Malam ini dia berdiri di depan cermin besar di kamar yang dia tempati. Gaun tidur sutra menempel indah di tubuhnya, dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri di depan cermin, dia terlihat cantik, anggun, namun kosong.

Ponselnya tiba-tiba bergetar, pesan singkat dari nomor tidak dikenal.

"Ini aku, Nathan. Aku ingin bertemu besok dan aku ingin kamu menyiapkan dirimu."

Claire menatap pesan itu lama. Lalu membalasnya.

"Baik."

Claire memeluk dirinya sendiri, membiarkan air matanya keluar diam-diam. Langkah awal sudah dia ambil, tawaran iblis sudah dia terima dan dia sudah tidak bisa keluar. Claire harus menerima resikonya, dia lakukan demi ayah tercintanya.

"Maafkan, Claire. Ayah pasti akan kecewa pada Claire jika tahu ini," gumamnya dengan sesenggukan.

Bagaimana juga ini adalah pilihan yang terbaik dari pada dia harus melihat ayahnya yang terus berada di ranjang rumah sakit terlalu lama dan entah sampai kapan hingga sang ayah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya yang pada akhirnya akan meninggalkan Claire selamanya. Claire tidak ingin itu semua terjadi, Claire masih menginginkan sang ayah selalu berada di sampingnya.

Terlalu lama menangis di depan kaca akhirnya Claire berdiri dari duduknya. Claire merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran besar dan empuk. Apa yang Claire terima jauh dari kata yang dimiliki Claire sebelumnya.

"Ayah. Claire berharap ayah sembuh," ucapnya pelan dan ada senyuman tipis di bibirnya.

Claire menghela napas panjang, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan semuanya. Namun, apa ini kenyataannya dia masih takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana jika dia tidak bisa memberikan anak pada Nathan? Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan bekerja seperti semula.

Claire menggelengkan kepalanya, pasti dia bisa melakukannya dan melahirkan anak untuk Nathan. Dia adalah wanita sehat dan dia juga tidak memiliki penyakit, pasti semuanya akan baik-baik saja.

Claire akhirnya tertidur. Lelah, tidak hanya karena tubuhnya, tapi karena pikirannya tidak berhenti berputar. Ditambah jika Nathan menginginkannya besok saat mereka bertemu, tentu saja Claire belum siap, dia takut apa lagi melakukan hal itu untuk pertama kalinya.

Bab 3

Ruangan yang luas dan megah, dipenuhi keheningan yang terasa mencekam. Claire dudu di sofa berhadapan sengan jendela kaca yang menampilkan gemerlap kota New York. Pemandangan itu indah, dingin... dan asing. seperti hidunya saat ini. Ya, saat ini dia sedang berada di kantor Nathan, tepatnya di ruangannya dan kali keduanya dia menginjakkan dirinya ke kantor milik Nathan.

Di seberang sana, Nathan menatapnya tanpa ekspresi. Pria itu mengenakan jas hitam armani, tampak begitu sempurna dan berwibawa, aura kekuasaan menyelimuti setiap gerak geriknya.

"Jadi, kamu sudah mempersiapkan dirimu?" tanyanya pelan tapi tajam.

Claire mengangguk, kedua tangannya tergenggam erat di atas pahanya. Suaranya nyaris tak terdengar, "Aku siap... dan aku akan menuruti perintahmu."

Nathan menatapnya dalam sejenak, lalu berjalan perlahan mendekat. "Kontrak yang kamu tandatangani berlaku sampai kamu melahirkan anakku. Setelah itu, kamu bebas. Apartemen yang kamu tempati sekarang akan menjadi milikmu. Dan untuk ayahmu, mulai hari ini dia akan mendapat perawatan terbaik. Operasinya akan dilakukan segera."

Kalimat itu menghantam dada Claire seperti palu godam. Tapi dia tetap diam, hanya mengangguk. Ini adalah jalan yang dia pilih sendiri demi ayahnya, dan tidak boleh goyah.

Malam harinya, Claire meninggalkan rumah sakit tempat ayahnya dirawat, dengan hati campur aduk. Dia mengenakan mantel tebal pemberian Nathan, dia masuk ke mobil hitam yang menunggunya di pelataran, di dalam sudah ada Riley. Ya, Claire menyuruh Riley untuk menunggunya di dalam mobil.

Perjalanan menuju apartemen terasa cepat. Setibanya di depan pintu, Riley berjalan di belakang Claire dan membungkuk sopan.

"Tuan, sudah menunggu anda di dalam. Jika nona membutuhkan saya maka nona bisa menghubungi saya dan selamat malam nona," ucap Riley ramah sebelum pergi.

Claire hanya mengangguk, sebelum dia masuk ke dalam. Claire menghembuskan napas panjangnya untuk menghilangkan rasa takut dan gugupnya menghadapi Nathan.

Begitu dia masuk sudah disambut oleh Nathan dengan senyuman. Namun, senyuman itu semakin membuat takut Claire.

"Kenapa kamu begitu lama," ucapnya datar. "Aku paling tidak suka menunggu, lain kali jangan diulangi lagi atau kamu akan menanggung akibatnya."

"A-aku minta maaf," ucap Claire menunduk.

Nathan menghela napas dan mendekat. "Aku memaafkanmu untuk malam ini, dan saat bicara padaku jangan menunduk, aku paling benci, tenang saja aku tidak akan menggigitmu."

Nathan meraih dagu, Claire sehingga keduanya saat ini begitu dekat. Claire dapat merasakan hembusan napas hangat milik Nathan. "Claire, jangan takut padaku. Kamu harus terbiasa dengan kedekatan kita seperti ini."

Nathan bisa melihat wajah cantik milik, Claire. Claire memiliki kulit lembut, hidung mancung dan bibir tipis berwarna pink. Ingin rasanya Nathan melumat bibir pink itu namun Nathan masih berusaha menahannya.

Hingga akhirnya Nathan melepaskan dagu Claire dan beranjak pergi ke balkon, "Claire, bersihkan lebih dulu badanmu karena aku ingin tidur bersamamu setelah tubuhmu bersih."

Claire menelan ludah tanpa berkata-kata dan segera pergi menuju kamarnya untuk segera membersihkan badannya.

Kini, Claire keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur tipis yang lembut menyentuh kulitnya dengan rambut basah, dan pipi merah karena malu. Claire terkejut karena mendapati Nathan yang sudah berbaring di kasur dengan tatapan matanya tertuju padanya.

"Kemarilah, Claire. Kamu tidak perlu takut karena malam ini kita hanya akan tidur bersama," ucap Nathan tersenyum.

Perlahan Claire berjalan mendekat ke ranjang, dia merangkak ke atas ranjang dengan hati-hati. Claire membaringkan tubuhnya dan membelakangi, Nathan. Namun, Claire dikejutkan dengan Nathan yang memeluknya dari belakang. Pelukan yang erat sekaligus memberikan kehangatan karena Claire mengenakan baju tidur yang begitu tipis.

"Kamu begitu harum, Claire. Aku suka harum tubuhmu, Claire," ucap Nathan dengan suaranya sedikit parau.

Nathan juga memberikan kecupan hangat di tengkuk, Claire sehingga membuatnya tegang dan membuat Claire seperti patung karena tidak berani bergerak. Claire hanya bisa diam dan menikmati sentuhan yang diberikan oleh Nathan.

"Claire, apa kamu sudah tidur?" tanyannya.

"B-belum," Claire menelan ludah.

Belaian tangan Nathan semakin ke bawah, mengusap paha mulus Claire dengan lembut, "Rilex, Claire. Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya akan membuatmu enak dan puas akan tetapi bukan malam ini dan ini hanya pemanasan saja."

Keesokan paginya, Claire terbangun ia menatap langit-langit kamar, setelahnya dia menoleh ke samping dan tidak menemukan Nathan. Ya, dia ingat karena semalam tidur dengan Nathan.

Ceklek...

"Selamat pagi, nona. Apa, nona baru saja bangun," sapa Riley yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan berjalan ke arah jendela dan membuka gorden agar cahaya matahari masuk ke dalam.

"Nona mau sarapan apa biar, Riley siapkan," ucap Riley

Claire terdiam sejenak, "Mungkin roti isi coklat dan satu gelas susu. Oh, iya Riley. Apa kamu melihat Nathan?"

Riley tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya. "Tuan sudah pergi ke kantor nona, apa nona ingin menelepon, tuan?"

"Tidak usah Riley, lalu apa yang harus aku lakukan hari ini?" tanya Claire pada Riley.

"Nona akan pergi ke kampus, karena tuan sudah mendaftarkan nona kuliah kembali. Jadi, nona akan disibukkan dengan kuliah," ucap Riley ramah.

"A-apa? Kenapa dia tidak memberitahuku," ucap Claire pelan.

"Mungkin, tuan lupa semalam untuk bicara pada nona. Saat pagi tadi tuan ingin bicara dengan nona akan tetapi nona masih tidur dan tuan tidak ingin menganggu tidur nona," ucap Riley.

Siangnya, Nathan pergi ke rumah sakit dimana ayah, Claire di rawat. Ya, Nathan memang ingin memastikan sendiri jika operasi ayah, Claire akan segera dilakukan. Ditemani oleh asistennya, Maria yang selalu berada di sampingnya, "Maria, segalanya sudah kau urus bukan?"

"Sudah, tuan. Untuk operasi ayah, nona Claire akan dilakukan satu jam lagi. Apa anda akan memberitahu nona Claire, tuan?" tanya balik Maria.

"Tidak, aku tidak ingin menganggunya karena dia sedang di kampus, beritahu saja jika operasi sudah selesai. Tolong kau suruh salah satu anak buahku untuk mengawasi ayah, Claire di rumah sakit dan selalu berikan kabar terbaru tentang perkembangan ayah, claire," ucap Nathan, yang saat ini keduanya sedang berjalan di lorong rumah sakit.

"Baik, tuan akan saya laksanakan," ucap Maria, sopan.

Nathan dan Maria langsung memasuki mobil yang sudah menunggu mereka dan selanjutnya mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit. Tujuan, Nathan adalah kembali ke kantor karena dia masih ada meeting bersama dengan para investor satu jam lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED