“Apa yang sedang Anda lakukan, Nona Galina?" tanya Anatoly dengan suara berat dan datarnya. Tanpa ekspresi dan terkesan merasa risih.
Jemari lentik itu tetap saja bergerak menggoda jemari kokoh di hadapannya. Wanita itu hanya berharap sang pria tampan dengan wajah sedingin gunung es itu akan tergoda dengan ulahnya. Ia berusaha mencondongkan tubuhnya agar tonjolan-tonjolan indah itu terpampang menggoda. Siapa yang tidak ingin berdekatan dengan tentara tampan seperti Kapten Anatoly Bezrukov?
Sebuah kesempatan emas ketika pria yang hampir tak pernah bersentuhan dengan wanita itu mau menemui wanita sepertinya dalam acara kencan buta. Bukan kencan sesungguhnya yang diinginkan Anatoly sebenarnya, tapi karena ini lebih seperti paksaan.
Namun apa yang terjadi? Pria yang tidak pernah berminat untuk menyentuh wanita itu jelas tidak tergoda sama sekali. Betapapun indah bentuk tubuh atau parasnya yang rupawan. Anatolky seperti mati rasa.
Apakah ia tidak berorientasi menyimpang? Seperti itulah kata banyak orang mengomentari prinsipnya yang aneh. Hidupnya hanya untuk negara dan tidak punya waktu dengan wanita. Aneh? Begitulah Anatoly di mata rekan-rekannya, tapi di balik semuanya itu. Dalam dunia tentara, Anatoly adalah tentara paling gemilang. Karirnya cemerlang dan ia termasuk jajaran tentara terpandang. Lencana penghargaannya bertaburan dan rasa cinta tanah airnya tak akan bisa diragukan.
Tapi ketika berhadapan dengan wanita, ia tidak bergeming.
Kembali pada Anatoly yang sekarang sedang kencan buta didampingi dengan pasangan suami istri sekaligus sahabat baiknya, Letnan Yury. Letnan Yury dan istrinya berniat mencarikan Anatoly pasangan apalagi pria itu sudah terlalu lama melajang. Merekalah oknum di balik kencan buta ini.
Wanita berambut pirang itu menatap Anatoly dengan mata genitnya saat tangannya akhirnya berhasil mendarat di atas telapak tangan berotot milik sang tentara tampan. Merasa tangannya disentuh, Anatoly melirik sekilas pada wanita berambut pirang itu dengan wajahnya yang datar.
Wanita itu tidak mundur. Ia malah sengaja menarik kursinya mendekat ke arah Anatoly. Sejak tadi ia menanti mendapatkan perhatian dari sang pria tampan di sisinya itu. Ini kesempatan emas baginya. Mungkin pria akan terkesan saat bersentuhan kulit dengan seorang wanita, apalagi seperti Galina yang memang cantik.
“Sedari tadi aku lihat kau hanya memperhatikan Yury dan Feodora mengobrol. Padahal ada aku di sisimu dan sedang menanti perhatianmu. Bisakah kau menoleh ke arahku sejenak saja? Aku juga ingin diajak mengobrol,” ucap Galina dengan manja.
Anatoly mendengus. Entah mengapa kata-kata manja Galina membuat ia tidak bisa tahan dalam situasi ini. Tidak seperti di medan perang yang ia bisa langsung menyerang bahkan menembak ke semua musuhnya, di situasi kencan buta seperti ini ia harus menekan emosinya habis-habisan khususnya pada kaum wanita yang menyebalkan seperti ini. Dan ia benci itu!
Cukup sudah Anatoly menggunakan topengnya. Ia ingin berhenti berpura-pura sekarang. Bukannya menjawab sang wanita, Anatoly malah berdiri. Lihatlah, semua pasang mata sekarang tertuju pada pria kekar itu!
“Hei, Bro mengapa kau berdiri? Ayo duduklah. Kita belum selesaikan makan siang kita,” ujar Yury setengah berbisik, menarik lengan Anatoly untuk duduk. Ia tidak enak hati menjadi tontonan puluhan pasang mata di ruangan itu hanya karena Anatoly berdiri mendadak dan bahkan setengah menghentak meja makan di hadapannya.
Bukannya menurut, Anatoly malah menghujami Yury dengan tatapan menusuknya.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa melanjutkan acara ini. Permisi!” Tanpa basa-basi, Anatoly pergi dari ruangan itu. Membuat sang tuan rumah jadi tidak enak hati pada Galina dan pada istrinya. Acara yang seharusnya berakhir romantic ini mendadak jadi kacau karena penolakan Anatoly.
“Anatoly!”
Yury berteriak memanggil namun sahabatnya itu enggan berbalik.
Setelah keluar dari dalam restoran, Anatoly melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya. Ia masih merasakan tidak nyaman bersama dengan wanita penggoda seperti Galina. Entah mengapa, ia sungguh tidak suka berdekatan dengan seorang wanita. Anatoly mendengus sebal. Ia lebih baik pergi secepatnya dibandingkan terjebak dalam situasi horror seperti di dalam. Lebih baik ia memilih uji nyali di wahana rumah hantu dibanding terjebak di sebuah restoran dengan seorang wanita yang seperti nenek sihir. Anatoly benci!
Di tengah perjalanan menuju ke markasnya, ponsel Anatoly berdering. Membuyarkan kemarahannya seketika, apalagi saat di layarnya tertera nama “Komandan”. Ia menegakkan tubuhnya dan bergegas mengangkat panggilannya.
“Siap, laksanakan! Saya akan segera tiba di lokasi.”
Anatoly meminta berhenti di halte terdekat dan ia turun dari bus. Berlari sekuat tenaga menuju markas militer yang tak jauh dari halte. Rupanya tugas penting menantinya. Semoga tugas pentingnya tidak berhubungan dengan wanita. Ia benci berdekatan dengan wanita!
***
“Aku benci ini!” maki Anatoly lirih.
Ia baru saja ditugaskan untuk memimpin pasukannya dalam membekuk sindikat perdagangan wanita yang dijalankan sebuah kartel raksasa Rusia. Mereka sudah beroperasi lebih dari tiga tahun. Kartel Rusia itu beroperasi dengan membujuk serta menyekap para turis wanita yang berkunjung ke Rusia. Awalnya bertingkah seperti warga negara yang ramah dan menawarkan tur gratis keliling kota Moskow dengan harga murah. Tapi saat sang turis terlena dengan semua tawaran, mereka diculik, diberikan obat perangsangg lalu dijadikan pekerja pemuas nafsu pria yang berani membayar mahal.
Selama ini mereka sangat lihat berkelit dan bersembunyi. Bahkan belum pernah tertangkap karena mereka memiliki intel di kepolisian yang selalu membeberkan rencana penggerebekan sebelumnya. Tapi setelah intel mereka tertangkap basah beberapa waktu lalu, mereka tidak memiliki informan lain. Ini kesempatan yang terbaik untuk membuyarkan aksi mereka tersebut. Dan Anatoly serta pasukannya yang terpilih.
Sejujurnya ia tidak pernah suka berurusan dengan misi apapun yang berkaitan dengan wanita, tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak bisa menolak misi khusus yang diberikan oleh pimpinan. Apalagi ini menyangkut kehormatan bangsanya di mata dunia. Ia akan menyelesaikan misinya dengan cepat sehingga tidak perlu berkaitan dengan wanita yang nantinya akan ia selamatkan.
Setelah penjelasan misi yang panjang dari pimpinan, Anatoly memimpin penjelasan teknis penggerebekan pada anak buahnya. Tak butuh waktu lama, kini mereka telah berangkat menuju ke lokasi. Setelah menyiagakan senjata mereka, Anatoly memberikan pengarahan komandonya.
“Dalam hitungan kelima, kita akan mulai operasi penangkapan ini. Amankan semua korban dan tangkap semua orang yang terlibat,” komandonya.
Kepala-kepala anak buahnya serentak mengangguk. Mereka pun bersiap di posisi sambil menyiagakan senjata laras panjang mereka dan bertiarap. Yang tersisa hanyalah wajah-wajah tegang yang sedang bersiaga.
Sang Kapten bersembunyi dalam posisinya sambil memantau kondisi anak buahnya yang sudah menyamar menjadi pengguna jasa perdagangan tersebut dari balik layar komputer yang terhubung dengan kamera pengintai super mini yang dibawa anak buahnya.
“Dennis, kau sudah siap?” tanya Anatoly melalui earphone-nya yang terhubung dengan anak buah termudanya yang sudah melangkah masuk ke lokasi.
“Aku sudah masuk ke dalam lokasi. Kalian bisa melihat ini?” lapor Dennis sambil mengarahkan kamera pengintai berukuran mini yang dibawanya masuk ke dalam lokasi. Ia disusupkan dan bertingkah seperti pria-pria teler lainnya. Sebelum menjadi tentara, Dennis memang adalah aktor panggung yang terkenal. Aktingnya sekarang memang tak perlu diragukan. Dennis bahkan bisa mengelabui penjaga di depan dengan mudah.
Pria muda itu sudah berbaur dengan para pengguna yang lain. Ia menyelinap dari ruangan ke ruangan dan menunjukkan semua hal yang terjadi di sana. Semua yang ia lihat disiarkan langsung di dalam truk komando, tempat Anatoly berada.
Dari pengamatan Anatoly, sang Kapten, mereka bisa melihat ruangan-ruangan itu begitu mencekam. Suara teriakan dan erangan terdengar di setiap sudut. Ada berbagai kamar di sana dan setiap kamar berisi wanita-wanita sakau yang hanya bisa menerima perlakuan kasar pria-pria hidung belang yang sama telernya dengan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dan tawa keras beberapa orang petugas yang memanggul tubuh seorang wanita yang lunglai karena pengaruh obat bius. Rupanya mereka mendapatkan mangsa baru. Entah turis wanita dari mana lagi kali ini.
“Kalian lihat kan? Mereka membawa mangsa-mangsa baru di sini. Dan kali ini mata mereka cukup jeli memilih target. Dia wanita yang paling cantik yang ada di sini. Dia diperlakukan sangat istimewa layaknya primadona. Bahkan aku melihat wanita itu baru saja digiring keluar dari ruangan lelang. Sepertinya dia dibeli dengan harga yang mahal. Aku..”
“Dennis! Fokus pada misimu.” Ucapan Dennis yang selalu panjang lebar itu dihentikan mendadak oleh Anatoly. Ia tidak ingin membuang waktu.
“Maafkan saya, Kapten! Kurasa ini waktunya kita bertindak sebelum ada korban lebih banyak lagi!” ucap Dennis lirih dan Anatoly setuju.
Dennis membuntuti petugas-petugas itu menuju ke ruangan paling ujung. Tak berapa lama seorang pria dalam balutan jasnya terlihat semringah ikut masuk ke dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat mesum dan berharap mendapat kepuasan di dalam sana. Dennis penasaran dan membuntuti rombongan itu sebelum akhirnya langkahnya dicegat oleh pria-pria berbadan kekar.
Dennis berakting dan ia memilih untuk memutar balik arah jalannya lalu bertingkah seolah pria yang tak sadarkan diri.
“Kapten, kurasa ini waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan. Perhatian mereka semua sepertinya tertuju ke ruangan VVIP ini. Tempat korban mereka yang baru akan ‘diperiksa’ untuk pertama kalinya,” usul Dennis dengan suara lirih yang dibuat-buat untuk menyempurnakan acting sakaunya.
Sang Kapten mengangguk. Inilah saatnya melakukan penyerangan, saat semua pengguna itu ada di dalam ruangan dan penjagaan mulai berkurang.
Sang Kapten memberikan aba-aba pada pasukannya. Dennis secepat kilat keluar dari tempat itu agar tidak terkena tembakan.
“Sekarang!!!”
Tembakan-tembakan berkumandang ke semua sudut tempat itu. Ditambah beberapa granat - granat gas air mata dilemparkan dan membuat ledakan di setiap tempat. Membuat semua orang di dalamnya panik dan mereka semua berlarian keluar.
Hanya orang-orang teler dan tak bisa bergerak yang tertinggal di sana. Mereka yang sudah tenggelam dalam fantasinya dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat seluruh penjaga berhasil dibekuk, Kapten Anatoly memimpin anak buahnya untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan semua korban.
Mereka menyisir setiap ruangan dan menggeledah setiap sudut ruangan. Membebaskan semua tawanan dan para korban. Membawa mereka keluar dan membawa mereka ke dalam mobil van dengan tujuan ke rumah penampungan sementara atau juga kantor imigrasi untuk mengurus pemulangan mereka kembali. Satu per satu wanita malang itu dibebaskan.
Anatoly terus menyisir ruangan dengan teliti agar tidak ada korban yang tertinggal. Hingga akhirnya kaki Anatoly sampai di ruangan paling ujung. Ruangan paling belakang yang sepertinya terhindar dari tembakan-tembakan yang diluncurkan tadi. Dindingnya yang lebih tebal masih terlihat bersih dari tembakan dan lubang. Sebuah ruangan dengan dinding antipeluru. Satu-satunya ruangan yang istimewa. Kata Dennis, itu adalah ruangan bagi sang primadona. Sebuah ruangan yang menjadi tempat korban baru sekaligus primadona lelang mereka “diperiksa".
Walau ia benci harus berhadapan dengan wanita, namun sekali tugas selamanya adalah tugas. Penyisiran tetap harus dilakukan.
Anatoly membuka pintunya perlahan sambil menyiagakan senjatanya. Berjaga-jaga jika di dalamnya ada orang-orang yang bisa mencelakakannya.
Dari luar, ia mendengar suara tangisan seorang wanita namun suaranya terdengar tertahan karena bibirnya disumpal sesuatu. Selebihnya telinganya mendengar suara tertawa seorang pria dan sedang mengucapkan kata-kata kotor dan penuh nafsu dalam Bahasa Rusia.
"Pria bodoh! Hanya demi lendir dan lubang, dia rela menghabiskan uangnya. Bodoh!" makinya dalam hati. Mengata-ngatai pria tambun yang tak tahu diri dan hanya berani pada wanita lemah tak berdaya. Andai saja wanita itu tidak diikat, ia ingin tahu seberapa kuat wanita itu akan melawannya. Bahkan mungkin saja sang wanita lebih perkasa dibanding tubuh pria tambun itu. Ia hanya tebal dompet tapi ototnya setipis kertas.
Anatoly membuka pintu ruangan itu lebih lebar dan melihat seorang wanita muda dengan rambut panjangnya menjuntai menutupi separuh wajahnya, yang tangan kaki serta mulutnya terikat sedang meringkuk di belakang sana. Sebagian wajahnya terlihat lebam dan tangan kakinya terluka karena tali-tali kasar yang menggores kulit tipisnya, apalagi di cuaca bersalju seperti sekarang. Cuaca dingin membuat kulit terasa lebih tipis, kering dan gampang tergores luka.
Di balik setiap luka dan lebam itu, Anatoly menemukan wanita dengan penampilan yang berbeda dibanding korban yang telah diselamatkan, bahkan bisa dibilang memiliki postur tubuh yang istimewa. Paras wanita itu cantik dengan rambut kecoklatan bergelombang dan sepasang bola mata kehijauannya yang indah. Tubuhnya proporsional dengan lekuk tubuh yang indah. Tunggu! Sepertinya ada yang salah di sini. Mengapa Anatoly begitu mengamati fisik wanita itu? Bukankah dia tidak peduli dengan wanita? Lagipula, wajah wanita itu masih tertutup helaian rambutnya. Benarkah dia seistimewa itu? Anatoly tidak mau lagi peduli. Ia harus menyelesaikan misi.
Anatoly mengamati gerak-gerik wanita itu dari jauh. Ia melihat tubuh wanita yang ringkih itu terlihat bergetar. Wanita itu tampak begitu ketakutan dan air mata trauma itu luruh begitu saja di pipi mulusnya. Ia hanya bisa menatap nanar dan memelas pada pria hidung belang yang sudah membuat penampilannya seperti ini. Ia sepertinya sudah diperlakukan dengan kasar dan dianiaya. Pakaiannya sudah koyak di sebagian besar bagian area dada dan menunjukkan kulit mulusnya yang bahkan sudah dipenuhi luka lebam, luka cakaran dan bekas-bekas kebiruan berbentuk menyerupai bibir.
Wanita itu melirik ke arah Anatoly dan sekilas wanita itu menatapnya dengan penuh harapan. Ia hanya berharap seseorang yang datang adalah penolongnya. Tapi apakah seperti itu? Wanita itu kembali dilanda ketakutan saat kembali menoleh ke arah pria bertelanjang dada yang kini di hadapannya dan hendak mencumbu serta memuaskan hasratnya pada tubuh wanita itu tanpa peduli jika pintu ruangannya sudah terbuka.
"Mari selesaikan semuanya!" Anatoly menghitung satu hingga tiga lalu masuk mendadak ke dalam dengan senjata teracung.
Begitu Anatoly masuk, pria tambun itu terkejut bukan main. Ia hendak menyerang namun dorr! Tembakan itu berhasil melumpuhkan pria tambun itu dan jatuh tengkurap kemudian tak bergerak. Menyisakan wanita yang baru saja berteriak ketakutan bersama dengan Anatoly.
Wanita itu dilanda ketakutan sekarang. Pertama kalinya ia melihat mayat jatuh di hadapannya. Dan pria bengis yang membunuh pria tambun itu sekarang sudah ada di hadapannya sambil membawa senjatanya yang masih berasap.
“Kapten, kami sudah mengamankan semua korbannya,” suara dari wireless walkie talkie-nya terdengar dengan bahasa yang wanita itu tidak pahami. Apa yang mereka katakan? Wanita itu bergidik ngeri. Mungkin saja rencana pembunuhannya yang entah karena apa sebentar lagi.
Anatoly tidak mengindahkan laporan yang terakhir. Ia malah berdiri lalu terdiam di hadapan wanita malang itu. Mata Anatoly sepertinya tidak bisa lepas dari wanita cantik di hadapannya itu. Padahal, sebelumnya ingin rasanya ia mengelak dari wanita itu, tapi apa boleh buat,tugas dan tanggung jawab jualah yang membuatnya bertahan. Namun bertemu dengan wanita itu seperti membangkitkan sesuatu yang terpendam dari benak Anatoly. Apa itu?
Tidak, ada rasa yang tak beres dalam dadanya. Darahnya berdesir melihat wanita yang tengah menatapnya dengan pandangan ketakutannya. Wajah itu nampak tak biasa dan memantik rasa lain yang tak pernah ia rasakan.
Anatoly meneguk ludahnya kasar. Merasakan ada yang salah pada dirinya tapi ia tak tahu rasa apa itu.
Wanita itu memundurkan dirinya hingga membentur dinding demi menghindari Anatoly. Tidak ingin dibunuh atau bahkan diperlakukan lebih buruk dari pria tambun itu. Bagaimanapun juga sang gadis masih ingin hidup!
Wanita itu kemudian menangis lirih sambil menggeleng saat melihat Anatoly mendekat. Otaknya mendeteksi kehadiran Anatoly adalah tanda bahaya. Sudah cukup ia berhadapan dengan pria kurang ajar seperti tadi, ia hanya berharap pria dengan pistol itu tidak akan melakukan hal buruk padanya. Saat punggungnya membentur dinding, wanita itu makin meringkuk di sudut ruangan dan tangisannya makin menjadi.
“Ampuni aku… Ampuni aku… hiks,” ucapnya sambil menangis dan dalam mulut tersumpal. Tentu saja Anatoly tidak paham arti ucapan wanita itu. Ia bisa menebak wanita itu pasti berasal dari negara-negara seperti Belanda atau Jerman. Pelafalannya sedikit berbeda dan cukup unik. Namun semuanya tidak bisa dipastikan karena bibir tipis menggoda itu masih tersumpal.
Anatoly yang semula membawa pistolnya kini menyarungkannya kembali lalu berjongkok di depan wanita itu sambil menatapnya dalam dan misterius. Menyadari bahwa korban yang diselamatkannya kali ini sudah ketakutan. Akan lebih merepotkan jika wanita itu memberontak saat dibawa keluar. Ia harus bersikap lebih baik sekarang. Lupakan jargon-jargon anti wanita dan wanita itu merepotkan yang biasa ia kumandangkan. Lupakan juga perasaan aneh yang ia rasa. Untuk urusan perang dan menyelamatkan sandera, semuanya tidak berarti. Anatoly harus bergegas menyelesaikan misi.
“Apa istimewanya dirimu hingga mereka menjadikanmu calon primadona di sini?” gumamnya dalam Bahasa Rusia yang wanita itu tidak pahami, mencoba mengingkari pesona wanita itu padanya. Ia menyibakkan rambut dari wajah wanita itu. Anatoly terperanjat! Anatoly akui, wanita itu adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui. Darahnya berdesir walau ia tidak tahu apa artinya semua hal itu dalam dirinya. Ia menampik jauh-jauh anggapan bahwa dirinya sedang jatuh cinta karena nyatanya memang Anatoly tidak ingin jatuh cinta pada wanita. Gengsi untuk mengatakan tertarik pada wanita. Ya, mungkin itu isi hati Anatoly sebenarnya.
Begitu menatap Anatoly yang bergumam tidak jelas, wanita itu hanya menggeleng dan menangis. Takut pria tampan di hadapannya ini bertingkah lebih kejam dibandingkan pria-pria hidung belang lainnya di luar sana. Apalagi kali ini wanita cantik itu tidak bisa berkutik lebih jauh lagi. Pria di hadapannya memegang senjata api yang siap dilesatkan kapan saja.
Tangan kokoh Anatoly mengambil pisau dari saku belakang celananya dan hendak membuka tali pengikat wanita itu. Namun sang wanita yang ketakutan itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyeruduk Anatoly hingga tersungkur. Lalu dengan kakinya yang masih terikat, ia berusaha melompat-lompat menuju ke arah pintu ruangan. Bagaimanapun wanita itu ingin melarikan diri. Ia tidak mau berlama-lama di sini.
“DASAR MEREPOTKAN!” Sekali lagi jargonnya terbukti. Memang wanita itu makhluk paling merepotkan yang pernah ada. Bukannya sadar ia akan ditolong, Anatoly malah diseruduk seperti matador dan bantengnya. Ia hilang kesabaran. Wanita itu akan berulah jika ia tidak melakukan sesuatu.
Anatoly melesatkan tembakan ke atap sebanyak dua kali dan membuat wanita itu langsung merunduk ketakutan. Bunyi gelegar peluru yang menembus atap itu terdengar seperti halilintar yang menyambar ganas. Ia tidak ingin jadi sasaran peluru sembarangan dari tentara itu. Ia shock dan tubuhnya kembali bergetar sambil menutupi telinganya.
Anatoly menghembuskan nafasnya kasar lalu berjalan mendekati wanita itu dan menarik tangannya yang terikat untuk berdiri. Menatap dalam mata kehijauan wanita itu yang begitu indah di balik tabir air matanya untuk beberapa detik. Ada rasa aneh yang kembali muncul dalam benak Anatoly saat menatapnya tapi ia tidak tahu apa artinya itu.
Tidak... tidak! Anatoly harus fokus pada misinya. Tidak boleh ada wanita dalam hidupnya. Itu prinsipnya.
Namun otaknya terus saja memproses rasa aneh yang muncul itu. Apakah otaknya merasakan iba? Apa? Iba? Bagaimana bisa Anatoly memiliki rasa iba dan simpati pada seorang wanita? Jelas, ini tidak mungkin! Anatoly menampik jauh-jauh pikiran itu. Sudah sejak lama ia mengubur dalam-dalam rasa iba dan simpati pada wanita. Tidak mungkin ini keluar begitu saja pada wanita yang baru bersentuhan kulit dengannya.
"Ini hanya pikiran tidak jelas. Wanita seperti dia pasti hanya akan merepotkanku!" ia mencoba mengenyahkan isi hatinya. Jika terus dipikirkan, lama-lama ia akan menikmatinya. Tapi Anatoly tidak mau terjebak. Ia butuh cepat sebelum perasaan dan pikirannya berubah. Lebih baik kembali bersikap antipati.
“Bekerja samalah atau kau akan celaka,” kata Anatoly ketus di hadapan wanita yang tengah menangis itu. Tak ingin berlama-lama dalam situasi ini, Anatoly harus bertindak agar wanita itu tidak membuat onar lagi atau agar perasaan aneh itu tidak datang lagi. Tangannya secepat angin mendarat dengan keras di atas tengkuk wanita itu dan membuat kesadaran sang gadis terbang seketika. Wanita itu langsung lunglai di tempat.
Dengan tangan kokohnya, Anatoly menggendong tubuh lunglai wanita itu ke atas lengan kokohnya dan keluar dengan senyuman misterius di bibirnya. Otaknya sudah merencanakan banyak hal dan tidak ada yang bisa menebak jalan pikirannya yang selalu misterius.
“Ledakkan sekarang!”
Seketika bangunan di belakangnya meledak tak bersisa.
Dua hari sebelumnya,
“Helen, apa yang sedang kamu lakukan di Rusia?” Suara berat dengan nada tenang sekaligus penuh penekanan pria itu terdengar dari seberang panggilan. Beberapa saat sebelumnya ia berbicara dengan kakaknya, namun baru sejenak ia berbicara ponselnya disahut oleh sang ayah.
Penerima panggilannya adalah seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Wanita dengan paras rupawan, mata kehijauan dengan rambut panjang kecoklatannya. Tingkah lakunya sangat energik dan ceria, walau sedikit kekanakan dan tidak suka dikekang. Wanita yang memiliki hobi traveling berkeliling dari negara ke negara. Memuaskan rasa ingin tahu dan keinginannya belajar pada budaya baru. Sungguh wanita sempurna yang mampu memikat banyak pria yang mendekat.
Sayangnya, sang ayah adalah ayah yang sangat protektif sehingga Helen harus melakukannya diam-diam. Sialnya, kali ini ia tertangkap. Sebentar lagi entah apa langkah protektif yang akan ayahnya ambil.
Helen memutar bola matanya malas. Ia yakin kali ini ia pasti akan dimarahi hingga kupingnya panas.
“Ya, Yah? Aku memang baru saja sampai di Rusia. Ayah bagaimana? Sehat di sana? Tidak kangen putri ayah yang cantik ini?” jawab Helen mengalihkan perhatian demi mencegah Carlen Brandt, peneliti kenamaan serta kebanggaan asal Jerman sekaligus ayahnya, marah berkepanjangan. Walau Helen tahu pada akhirnya hati ayahnya akan melunak. Tapi tak ada salahnya kan menutup bom amarah yang akan meletus dengan karung basah?
“Helen, jangan mengalihkan pembicaraan. Ayah bertanya, mengapa kamu harus ke Rusia?” suara Carlen terdengar lebih berat dan penuh penekanan. Terasa sekali jika ia menahan emosinya karena putri pembangkangnya yang satu ini.
“Memangnya kenapa? Nggak boleh? Rusia kan negara impianku, Yah. Aku janji tidak akan memboroskan uang ayah kok. Janji!” janji Helen seperti anak kecil. Ia menebak ayahnya mungkin marah karena ia akan memboroskan uangnya di Rusia. Maklum, sudah jadi kebiasaan Helen jika bersolo travelling, ia akan menggunakan kartu kredit unlimited dengan sesuka hati.
Carlen hanya bisa mengelus dadanya. Putri pembangkangnya memang tidak pernah tahu sulitnya posisi Carlen saat ini. Bukannya ia melarang tanpa sebab. Pasalnya pusat riset miliknya sekarang menerima proyek besar senjata biokimia dari Amerika dan ia sudah menandatangani kontrak agar tidak bersentuhan atau bersinggungan dengan Rusia, negara yang masih berseteru dengan Amerika.
Sekarang malah putrinya dengan gampangnya berpelesir ke Rusia. Jelas posisi Carlen serba sulit.
“Helen, ini terakhir kali ayah mengingatkanmu. Ayah tidak mau marah dan ayah tidak ingin berdebat. Kamu tahu kan kalau perusahaan ayah dilarang bersinggungan dengan Rusia?”
“Iya, Helen paham. Lalu?”
Carlen sepertinya harus bersabar menghadapi putrinya yang entah pura-pura tidak tahu atau memang ia sendiri yang terlalu polos.
“Sekarang kau di Rusia.”
“Oh…” Hanya “Oh”??? Astaga! Helen memang tidak peka. Oke, sekarang darah panas Carlen sudah memuncak ke ubun-ubun. Dan… meledak!
“HELEN! PULANG SEKARANG! AYAH AKAN MENGIRIM JET PRIBADI UNTUKMU.”
“TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU DAN TIDAK AKAN PULANG. TITIK!”
“HELEN!!!!” suara Carlen sudah naik ke ubun-ubun. Putri bungsunya memang benar-benar keterlaluan. Bahkan, Helen sudah menekan tombol mematikan ponselnya sebelum Carlen mengakhiri ucapannya. Ia tidak ingin mendengar ocehan dan ancaman dari ayahnya lagi. Ia hanya ingin berwisata di negeri beruang merah yang tengah bersalju lebat ini dengan tenang. Lupakan tentang ayahnya dan sekarang Helen akan menikmati perjalanannya.
“Tujuan pertama… shopping!” ucapnya berbinar begitu melihat toko-toko berjajar di area bandara. Helen pun tenggelam dalam dunia yang dicintainya.
***
Dada Carlen kembang kempis sedari tadi. Amarahnya sudah memuncak ke ubun-ubun akibat putri nakalnya yang membuatnya marah. Jika Helen ke negara lain mungkin Carlen masih bisa maklum. Tapi tidak dengan Rusia! Bisnis Carlen dalam masalah besar jika investor proyeknya tahu putrinya bahkan ke Rusia.
Carlen menghela nafasnya. Menurunkan tensi tinggi yang menghantam otaknya sekarang. Ia adalah ilmuwan dan ia harus lebih tenang menghadapi segala situasi.
“Anak itu! Bagaimana bisa dia pergi ke Rusia? Urusannya bisa menjadi rumit sekarang! Jangan sampai berita ini menyebar ke telinga investor, paham?” omel Carlen, mencoba memperingatkan Herald, putra sulungnya yang memegang posisi direktur di perusahaannya. Carlen lebih memilih berkutat dengan laboratorium dan penelitian, sementara putranya didapuk menjalankan bisnis dan manajemen perusahaannya.
Herald menghela nafas sambil menutup lembaran dokumen terakhir yang harus ia tanda tangan. Adiknya memang selalu begitu.
“Apakah perlu aku menjemputnya dengan jet pribadi, Yah?” tanya Herald yang mengerti sekali bagaimana jika ayahnya marah. Apalagi ini menyangkut putri tengil sekaligus adik kesayangannya.
“Tidak perlu. Jika memang dia tidak pulang, ya sudah! Jangan harap pintu rumah terbuka lagi untuknya. Dasar anak nakal! Aku ingin tahu bagaimana rasanya tinggal sendirian di negeri asing. Biar dia tahu rasa!” kata Carlen dengan emosi.
Namun Herald tahu jika kemarahan ayahnya hanyalah sementara. Ia tidak bermaksud mengusir atau mengutuk putrinya. Herald tahu betul ayahnya seperti apa. Ia pun menghitung dalam hati karena ayahnya biasa berubah pikiran setelah lima detik meluapkan emosinya.
“Lima…”
“Herald, apakah aku terlalu berlebihan? Bagaimana jika kita menjemput Helen sekarang juga?”
Herald tertawa.
“Tidak perlu, Yah. Ayah hanya perlu memberikan kepercayaan bagi Helen. Biarkan dia berwisata beberapa hari lalu kita akan jemput dia pulang. Sekarang lebih baik ayah berangkat dulu ke Estonia,” ucap Herald menenangkan. Ia beranjak dari tempat duduknya dan hendak membawa ayahnya pergi. Tapi ayahnya malah menampik tangan Herald. Sedikit bingung dengan ucapan putranya itu.
“Tapi…” Herald mendorong pundak ayahnya untuk terus berjalan ke depan.
“Sudah. Ayah tidak perlu mencemaskan apapun. Aku yakin Helen akan baik-baik saja. Dia sudah dua puluh lima tahun. Helen bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Tapi…”
“Ayah hanya perlu fokus dengan riset. Investor sudah meminta prototipe produk itu diujicobakan segera. Aku akan mengurus Helen!” kata Herald dengan sedikit keras karena suara baling-balik helikopter terdengar kencang dari balik sebuah pintu di hadapannya.
Herald membuka pintu di ujung koridor yang menghubungkan langsung dengan helipad di mana sudah ada sebuah helikopter yang menunggu mereka. Tanpa bisa berbicara lebih banyak lagi, Herald membuka pintu helikopter dan mendorong tubuh pendek ayahnya untuk masuk ke dalam.
“Berangkat sekarang!” perintah Herald dengan sedikit berteriak pada pilot helikopter lalu ia menutup pintu dan melambaikan tangan pada ayahnya.
Carlen menghela nafasnya. Semoga Herald benar. Putri kecilnya tidak berbuat onar apalagi membuat masalah besar di Rusia. Lebih jauh lagi ia berharap semoga tidak ada investor yang mengetahui hal ini lalu membahayakan bisnisnya.
“Ke Estonia. Sekarang!” pintanya pada sang pilot. Helikopter itu pun terbang sesuai arahan dan petunjuk Carlen.
Setelah ayahnya pergi, Herald mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana.
“Ini aku. Batasi limit kartu kreditnya hingga cukup untuk dua hari di sana.”
Herald bernafas lega dan sambil tersenyum ia menggelengkan kepalanya. Semoga kemarahan ayahnya tidak berlanjut setelah ini.
“Helen… Helen… Kau memang gadis tengil!”