Devanka berjalan dengan santai, menerobos gelapnya malam yang diiringi semilir angin. Sesekali bulu kuduknya berdiri, antara takut atau hanya sekedar karena hembusan angin malam.
Biasanya dia tidak pernah pulang selarut ini, hari ini adalah hari yang cukup sial untuknya, karena dia harus lembur tanpa pemberitahuan sebelumnya. Biasanya ketika dia lembur, ada sang ayah yang dengan setia menjemputnya, walau hanya dengan berjalan kaki. Kali ini dia tidak bisa menghubungi ayahnya, ponselnya kehabisan daya dan dia harus lembur di gudang penyimpanan yang letaknya 100 meter dari supermarket tempatnya bekerja.
Devanka bekerja di sebuah supermarket ternama di Jakarta, sebuah kota besar yang sangat megah namun kejahatan juga cukup meraja lela. Langkah Devanka mulai pelan, dia merasa ada seseorang yang tengah membuntutinya. Rasa takut menyerang perlahan dan dia bersiap untuk segera lari. Namun keinginannya hanyalah hayalan semu, tiba tiba tubuh mungilnya disergap oleh seseorang bertubuh besar dan sangat tinggi.
Mulut Devanka dibekap sangat kuat oleh seseorang yang memiliki tangan besar dan kasar. Devanka terus berontak, namun apa daya kekuatannya hanya sebatas kecil, seseorang yang menyergap tubuhnya jauh lebih besar dan kekuatannya luar biasa. Tubuh Devanka tersungkur ke tanah lalu di seret oleh seseorang yang ternyata adalah seorang pria. Tubuhnya tinggi besar, sangat menyeramkan dan membuat Devanka ketakutan.
Situasi yang sangat menakutkan. Devanka hanya bisa terus berteriak sekuat tenaga, walau dia tau semua hanyalah percuma. Tangan Devanka ditarik dengan begitu kasar, tubuhnya berguling guling, tidak mampu untuk berdiri. Pria itu terus menarik tubuhnya, masuk ke area semak semak.
Malam yang sepi seolah menenggelamkan teriakan minta tolong Devanka. Tidak ada satu orangpun yang mendengar, Devanka hanya sendiri, semakin jauh dari jalan raya yang tadi dia lewati.
Sayup sayup Devanka mendengar pria itu berbicara "kau akan menjadi milikku malam ini, aku akan membuat tubuhmu menggelinjang dan akan aku nikmati senti demi senti kulitmu yang mulus itu." Mendengar itu Devanka semakin ketakutan, teriaknya semakin kencang namun semua masih percuma.
Dia berusaha melihat dengan jelas ke arah pria itu, pria dengan tubuh besar, penuh dengan otot yang terbentuk sempurna. Wajahnya sedikit seram, dengan kumis tebal yang menghiasi wajahnya. Usianya kisaran lima puluh tahun, dan Devanka mula ingat dengan wajah itu. Itu adalah Tuan Santoso, tetangga sebelah rumah yang sering menatapnya dengan senyum ramah lewat jendela lantai atas rumahnya yang langsung berhadapan dengan kamar Devanka. Iya, Devanka yakin, itu adalah tetangganya yang dia pikir baik dan santun karena sering menyapanya dengan lembut.
"Tu-tuan Santoso, tolong lepaskan aku, aku tidak akan melaporkan semua kejadian ini," ucap Devanka mengiba dengan suara yang terdengar parau karena menahan sakit akibat tubuh yang ditarik paksa.
Tuan Santoso melempar tubuh Devanka di pojokan sebuah gudang kosong. Gelapnya malam, hanya disinari lampu bohlam kecil yang tergamtung di ujung gedung, semakin membuat suasana terasa mecekam, ketakutan begitu terasa dan keputus asaan hendak segera mendekat.
"Tu-tuan tolong, jangan lakukan ini kepadaku," ucap Devanka lirih sambil terus melelehkan air mata penuh ketakutan.
"Aku sudah lama menunggu saat ini! tidak mungkin aku akan menyia nyiakannya, aku sudah mengintaimu sejak lama," ucap Tuan Santoso dengan pandangan yang cukup menakutkan.
Tuan Santoso menarik jaket tebal Devanka dengan paksa dan kasar. Sekali hentak langsung terlepas, membuat Devanka kedinginan dan nyaris beku. Devanka bisa mencium aroma aneh keluar dari mulut pria paruh baya itu. Sepertinya pria itu sedang mabuk. Menemukan fakta itu, tubuh Devanka mulai lemas, seberapa besar usahanya untuk lepas dari pria itu sepertinya akan percuma. Alkohol membuat pria itu semakin arogan dan lebih berani, tidak ada lagi belas kasian atau sekedar memberi iba pada gadis muda yang sebenarnya sudah dikenalnya itu.
Pria itu melihat Devanka dengan pandangan penuh nafsu, matanya berbinar merah dan seolah seperti harimau yang siap memangsa targetnya.
"To-tolong tuan, jangan lakukan ini," pinta Devanka memelas.
"Aku akan menikmati setiap senti tubuhmu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan yang tidak pernah kau rasakan, kau akan sangat ketagihan seperti candu dan setelah ini kau akan meminta dengan senang hati kepadaku," ucap tuan Santoso diiringi dengan tawa keras seolah senang karena akan mendapatkan apa yang diimpikannya.
"Aku tidak pernah merasakan darah perawan seumur hidupku dan aku akan mendapatkannya hari ini," ucapnya berambisi.
Devanka adalah anak gadis dari keluarga Lumawi, anak satu satunya pak tua Lu yang berasal dari suku Jawa dan bertinggal di Jakarta. Keluarga yang terkenal selalu menjaga kehormatan atau bisa dibilang keperawanan anak anaknya. Bagi mereka, menjaga keperawanan anak gadisnya di tengah perkembangan jaman yang mulai gila ini adalah sebuah keharusan apalagi sudah merupakan tradisi turun temurun, karena mereka meyakini bahka ketika seseorang melakukan perbuatan keji di luar pernikahan, maka akan ada karma tuju turunan yang akan menimpa keluarganya.
Kepercayaan itu masih mereka pegang teguh hingga saat ini. Mereka akan berjuang mati matian untuk menjaga keperawanan anak gadis yang lahir di keluarga mereka. Menjaga mereka sekuat tenaga hingga dipinang oleh pria terbaik.
Ada sebuah aturan penting di keluarga Lumawi, semua anak perempuan harus menjaga keperawanananya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bukan hanya keperawanan alat kelaminnya dalam artian selaput dara yang masih tersegel utuh, namun juga seluruh tubuhnya. Perempuan dari keluarga Lumawi yang belum menikah dipastikan adalah perawan seutuhnya, dan bisa menikah dengan perawan seutuhnya adalah sebuah keagungan tertinggi bagi setiap pria.
Tuan Santoso memandang ke arah Devanka yang terlihat ketakutan itu. Menatapnya tajam, menusuk hingga membuat bibir Devanka bergetar karena takut dan juga kedinginan. Tuan Santoso menatap ke arah bibir itu, bibir tipis berwarna merah muda itu adalah bibir perawan yang tidak pernah dikecup oleh pria manapun, betapa beruntungnya dia hari ini, akan bisa mencium bibir itu dengan sepuasnya. Dia sudah membayangkan betapa brutalnya hal yang akan dia lakukan terhadap gadis perawan itu.
Devanka yang tengah dipeluk ketakutan mulai menangis sejadi jadinya, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya, haruskah dia menjadi musibah bagi keluarganya karena tidak mampu menjaga keperawanannya. Dia benar benar ketakutan, tubuhnya mulai lemas tak berdaya, dia mulai menangis dan berteriak sejadi jadinya.
"Bunuh aku!" terial Devanka.
"Le-lebih baik kau membunuhku daripada kau perlakukan aku seperti ini Tuan Santoso," teriak Devanka yang diiringi dengan tangis memilukan.
"Yang akan aku berikan adalah kenikmatan Devanka, kenapa kau malah memilih kematian," ucapnya lirih namun terdengar menakutkan.
"To-tolong tuan, tolong jangan lakukan ini," teriak Devanka ketika tangan pria itu mulai mengarah ke tubuhnya dan hendak menyergapnya. Devanka berteriak sejadi jadinya, teriakan ketakutan yang penuh dengan kenestapaan. Matanya tertutup, mulai terlintas bayangan masa depan, betapa hancurnya hidupnya setelah ini. Dia akan menjadi orang terasing yang penuh kehinaan, sendiri dalam kenestapaan, tidak lagi ada masa depan, apalagi keluarga yang mungkin akan mengambabnya pembawa karma buruk.
Tiba tiba Devanka mendengar sesuatu yang sangat keras, benturan benda tumpul yang diiringi dengan teriakan keras kesakitan. Devanka memberanikan diri membuka mata, dia mendapati ayahnya memukuli tuan Santoso dengan membabi buta.
"Rasakan ini! beraninya kau melakukan hal gila pada putriku," teriak Ayah Devanka kesal sembari terus menghujani tuan Santoso dengan pukulan keras menggunakan balok kayu panjang. Melihat ayahnya, Devanka segera berlari dan memeluk pria paruh baya itu dengan pelukan erat penuh kelegaan. Seperti guyuran air surga, membasahi api abadi yang siap melenyapkan seisi bumi.
"Ayah," ucap Devanka yang mulai menangis sejadi jadinya di pelukan ayahnya itu. Ayah Devanka bernama pak Sabto Lumawi, keturunan Jawa dari keluarga Lumawi. Dia akan berusaha mati matian untuk menjaga anak gadisnya, bahkan dia rela bertaruh nyawa demi menjaga kehormatan anaknya.
"Aku sudah mencarimu ke mana mana, jangan pulang selarut ini lagi, ayah tidak ingin kau mengalami hal seperti ini lagi."
"Ayah menjemputmu di supermarket, tapi manager Zack mengatakan kau ada lembur di gedung penyimpanan, ayah sudah mencarimu di sana, tapi katanya kau sudah pulang. Kau tau betapa khawatirnya ayahmu ini," ucap Ayah Devanka sambil terus memeluk putri kesangaannya itu.
"Ayah," ucap Devanka lirih sambil terus menangis di sisi ayahnya.
Sungguh beruntung Devanka, musibah besar tidak jadi meremukkan masa depannya. Dia tidak harus menjadi pembawa karma buruk untuk keluarganya.
Devanka membasuh seluruh tubuh dengan air yang keluar dari shower di kamar mandinya. Dia berkali kali menuang sabun dan menggosok tubuh mulusnya itu.
Devanka masih mengingat betul ketika pria tua itu menyeret dan membanting tubuhnya ke lantai. Hati dan pikirannya penuh dengan rasa ketakutan yang semakin lama semakin menguasai diri, ketakutakan yang tidak mampu tergambarkan, dia benar benar berada pada titik tertakut di dalam hidupnya.
Tidak ada yang terjadi dengan Devanka, namun peristiwa itu memberinya trauma dan ketakutan tersendiri. Hari harinya dipenuhi dengan bayangan pristiwa mengerikan di malam itu, di dalam pikirannya selalu terlintas wajah menakutkan dari sosok pria yang dikenalnya baik dan sopan.
Betapa sulitnya menjadi gadis perawan di kota besar seperti kota Jakarta ini. Banyak kejahatan meraja lela dan hubungan bebas mulai semakin tak terbendung. Banyak orang mulai mengesampingkan norma, tidak ada lagi yang berusaha menjaga tradisi dan budaya.
Sejak kecil Devanka selalu diajari nilai penting leluhurnya, untuk tetap menjaga keperawanan hingga bertemu dengan pria yang menjadi jodohnya. Meminangnya dengan perasaan tulus, ingin bersama dan menjaga, dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
Keperawanan yang sesungguhnya, tidak hanya mengenai selaput dara yang masih utuh, tetapi juga tidak pernah melakukan aktifitas seksual apapun. Setiap jengkal tubuh masih perawan dan suci, tidak pernah tersentuh oleh lelaki. Itulah arti keperawanan yang sesungguhnya bagi keluarga Lumawi.
Tidak adil juga mengatakan seseorang masih perawan hanya karena selaput daranya masih utuh, tetapi kegiatan seksualnya sangat tidak bisa diremehkan. Sudah sepantasnya dan seharusnya juga seorang gadis menjaga kehormatannya dan juga keluarganya, untuk tetap menjadi gadis perawan sebelum adanya pernikahan. Bagi keluarga Lumawi, keperawanan adalah harga mati yang harus dijaga mati matian. Ini adalah keperawanan yang seutuhnya, tersegel dengan baik, tidak ada yang lebih berharga dari pada mendapatkan jodoh gadis perawan yang menjaga kehormatanya secara sempurna.
Peristiwa malam itu menyisakan ketakutan dan trauma mendalam pada Devanka. Dia takut untuk melangkahkan kaki keluar dari rumah, baginya dunia seperti penuh dengan sorot mata tajam yang siap menerkamnya. Kabar terakhir yang dia dengar, ayahnya sudah melaporkan tuan Santoso ke polisi, dengan sigap polisi sudah menangkap dan memenjarakannya.
Harusnya Devanka tenang dengan kabar itu, namun justru dia semakin ketakutan, takut jika orang lain melakukan hal yang sama kepadanya. Devanka memutuskan untuk berhenti dari supermarket tempatnya bekerja dan memilih untuk menyembuhkan traumanya dengan cara bekerja di kebun bunga milik bibi Rose, yang letak kebun dan kiosnya cukup dekat dengan rumahnya. Selain dekat, Devanka sangat menyukai bunga bunga indah, itu membuatnya lebih tenang dan damai. Paling tidak dia bisa melupakan peristiwa menyeramkan itu.
***
"Hai Devanka, kau bekerja di sini sekarang?" tanya Sekretaris Pete yang merupakan pamannya.
"Iya paman, menyenangkan bisa bekerja dengan bibi Rose," ucap Devanka seraya mengulaskan senyum tipis.
"Iya, senang melihatmu ceria. Paman sudah mendengar berita itu, beruntung tidak ada yang terjadi padamu, paman juga akan berusaha menjagamu sebaik mungkin," ucap paman Pete yang terdengar begitu menyayangi Devanka.
Seperti yang sekretaris Pete katakan, keluarga Lumawi adalah keluarga yang terkenal sangat menjaga keperawanan dan kehormatan anak keturunannya.
Ibu Devanka sudah meninggal sekitar delapan tahun yang lalu, akibat kecelakaan dan dia hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Paman Pete yang merupakan adik dari ibunya bekerja sebagai orang kepercayaan di keluarga Hamzah, keluarga yang cukup kaya di kota Jakarta ini.
Keluarga Hamzah memiliki grup usaha yang mengelola perkembangan kota Jakarta hampir 60 persen, itu membuat keluarga mereka kaya raya. Sektor pangan hingga property, sebagian besar adalah milik keluarga Hamzah.
Lewat bantuan Paman Pete, Devanka pernah bekerja di supermarket yang merupakan milik keluarga Hamzah, hampir satu tahun Devanka bekerja di sana hingga peristiwa menyeramkan itu terjadi. Devanka berharap dengan bekerja di tempat bibi Rose, dia bisa melupakan semua peristiwa menyeramkan itu.
"Pesanan paman sudah siap?" tanya Paman Pete.
"Oh sekretaris Pete, kau sudah datang rupanya. Bunga sedap malam dan mawar putih pesananmu sudah aku siapkan, seperti biasanya, masih segar dan wangi," ucap bibi Rose yang tiba tiba muncul dari dalam kios bunga segar miliknya.
"Iya, aku harus membawa bunga segar ini sebelum jam tuju pagi, jika tidak aku akan mendapat masalah besar," ucap paman Pete menjelaskan.
Setelah mendapatkan pesanannya, paman Pete segera berlalu dengan mobil hitam milik majikannya itu. Bibi Rose menceritakan jika paman Pete akan datang setiap tiga hari sekali untuk mengambil bunga sedap malam dan mawar putih, masing masing sepuluh tangkai, bunga terbaik dan baru dipetik, tidak boleh ada yang layu. Selidik, bunga itu adalah bunga kesukaan kakek Hamzah, pemilik Hamzah Grup, grup perusahaan pemegang kendali hampir 60 Persen kota ini. Sangat kaya, terpandang dan dihormati. Bisa dibilang kekayaannya tidak akan habis bahkan setelah keturunan ketuju sekalipun. Menurut berita, dia memiliki putra tunggal yang menjadi pewaris terakhirnya, satu satunya, namun putra mahkotanya tersebut meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Walaupun tuan besar Hamzah tidak lagi memiliki putra, namun dia memiliki seorang cucu dari pernikahan putranya. Cucunyalah yang akan menjadi pewaris tunggal keluarga kaya tersebut. Mewarisi semua kekayaan kakeknya, pewaris tunggal dari kekayaan seutuhnya. Sungguh sebuah keberuntungan yang dibalut dengan luka lara mendalam, kaya raya namun harus hidup tanpa orang tua.
"Ah, uh, oh, lanjutkan, itu enak sekali," erangan lembut terdengar begitu menggoda. Terlihat Monalisa menggelinjang sejadi jadinya ketika Reynold memainkan lidah di lekuk lehernya.
Reynold terlihat begitu lihai, memainkan lidah yang mulai menyusuri lekuk leher Monalisa hingga sesekali naik ke atas telinga dan menciuminya hingga basah. Monalisa begitu menikmati permainan lidah Reynold, tubuhnya menggelinjang dan sesekali terdengar erangan nikmat keluar dari mulutnya seolah ingin membuat Reynold semakin terbakar, hingga terdengar suara pintu diketuk dengan begitu keras.
"Tok, tok, tok." Reynold dan Monalisa mendengar suara ketukan itu, namun mereka berdua seolah membiarkannya. Tangan Reynold semakin kencang mendekap tumbuh wanita berparas cantik dan bertubuh mulus itu. Tangan Rey semakin liar menelusuri lekuk tubuh wanita muda yang hanya mengenakan handuk mandi itu. Tangannya begitu lincah menyusuri dari rahang hingga turun ke leher lalu menelusup masuk keselah handuk kimono yang sedikit terbuka. Tangannya mendarat di atas dua gunung yang indah itu, lalu meremasnya lembut. Dari balik handuk terlihat tangannya begitu trampil. Perlakuan itu membuat Monalisa senang dan beberapa kali memekik keenakan.
"Tuan muda! tuan muda!" teriak seseorang dari balik pintu. Suara teriakan dan ketukan semakin keras terdengar. Reynold terpaksa harus menghentikan kegiatan itu dan itu membuat Monalisa sedikit kecewa.
"Masuk!" teriak Reynold setelah merapikan penampilannya yang hanya mengenakan handuk mandi berbentuk kimono.
"Tu-tuan muda, ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap sekretaris Pete.
"Ada apa? Ini masih sangat pagi kenapa menggangguku," ucap Reynold kesal.
"Sa-saya hendak menyampaikan bahwa kakek jatuh pingsan dan ingin bertemu dengan tuan muda," ucap sekretaris Pete dengan terbata bata.
"Apa? Kakek? Kenapa tidak bilang dari tadi," ucapnya kesal lalu segera berlari keluar menuju ke arah kamar kakek Hamzah.
"Aku sudah bilang, jika urusan kakek kau harus segera memberitahuku, tidak ada yang lebih penting dari pada kakek," ucap Reynold kesal.
"Baik tuan muda," ucap sekretaris Pete sambil terus berjalan mengikuti langkah kaki Reynold yang terlihat gugup.
"Kakek! kakek!" teriak Reynold ketika sudah sampai di kamar kakeknya itu. Di sana terlihat kakek Hamzah terbaring lemas di tempat tidurnya. Matanya terpejam dengan tubuh tertutup selimut tebal.
"Kakek, apa yang terjadi?" tanya Reynold seraya menggenggam erat tangan kakek yang sangat dia cintai itu. Reynold adalah cucu satu satunya kakek Hamzah, pewaris tunggal kekayaan Hamzah grup. Orang tua Reynold meninggal ketika terjadi kecelakaan pesawat lima belas tahun lalu. Saat itu usia Reynold baru menginjak sepuluh tahun, dia harus kehilangan orang tuanya dan sejak saat itu dia diurus oleh kakeknya. Reynold hanya memiliki kakek Hamzah, itu yang membuat Reynold begitu mencintai kakeknya.
Tidak ada yang bisa membuat Reynold bertekuk lutut kecuali kakeknya, hanya kakek Hamzah yang mampu mengendalikan perangai Reynold. Sebenarnya Reynold adalah pria yang cukup baik, santun dan sangat pandai berbisnis, mewarisi darah pengusaha hebat dari kakek dan ayahnya, hanya saja karena tidak mendapat kasih sayang yang cukup, sering kali Reynold melampiaskan kehausannya akan kasih sayang pada beberapa wanita panggilan yang sering diajaknya menginap di rumah mewahnya.
Kakek Hamzah mulai khawatir dengan perilaku cucu kesayangannya itu. Dia berusaha mencari cara, bagaimana bisa sedikit demi sedikit merubah perangai buruk Reynold tanpa harus kehilangan kasih dan hormatnya. Kakek Hamzah tidak ingin kehilangan cucu kesayangannya itu, manakala dia terlalu keras dalam memaksakan kehendak.
Iya, seperti halnya Monalisa, dia adalah salah satu wanita panggilan Reynold yang sering menemani Reynold tidur, hanya untuk bersenang senang, tidak pernah ada cinta di dalamnya.
"Kakek, bicaralah," ucap Reynold penuh dengan kekhawatiran.
"Ka-kakek tidak apa apa, jangan khawatir," ucapn kakek Hamzah lirih. Reynold terus menggenggam tangan kakeknya, beberapa kali mencium dan mengelus lembut tangan orang yang sangat dia sayangi itu.
Reynold adalah putra mahkota di Hamzah Grup, kaya raya dan terhormat. Tidak ada wanita yang mampu menolaknya, ditambah lagi dia begitu tampan. Tubuhnya tinggi dengan otot rapi yang sempurna. Kulitnya putih, bersih dan sangat membuat iri kaum wanita yang melihatnya, karena untuk ukuran kulit seorang pria, dia memiliki kulit yang sempurna. Wajahnya oval, beralis tebal, bola matanya sedikit kecoklatan, hidung mancung dan bibir merah tipis nan menawan. Dia cukup keras dan arogan, perangainya sering membuat orang orang takut untuk menentang permintaannya. CEO muda dengan banyak prestasi, arogan angkuh dan dingin. Namun dia terkenal suka berkencan dengan beberapa wanita cantik, hanya untuk berkencan dan bersenang senang.
Menurut rumor yang berkembang, hampir semua kariawan wanita di kantornya yang memiliki paras cantik nan menggoda pernah memuaskan hasratnya, hanya cinta semalam, rumornya begitu, siapa yang bisa menolak pria tampan nan kaya raya itu. Bahkan setiap Hamzah Grup membuka lowongan untuk pegawai wanita, selalu ada syarat khusus yaitu cantik dan menarik, selain syarat utama tetap pada kemampuan dan keahlian yang mumpuni. "Kakek, Jangan membuat Rey takut, hanya kakek yang Rey miliki," ucap Reynold lembut seraya terus menciumi tangan kakeknya. Reynold duduk bersimpuh disebelah tempat tidur kakeknya, dengan tangan yang terus menggenggam tangan tua kakeknya. Di depan kakek Hamzah, Reynold yang gagah perkasa itu berubah menjadi anak lelaki yang manis. Tidak ada keangkuhan dan kesombongan, yang ada hanya anak manis yang penuh dengan kasih sayang.
"A-ada yang harus kakek sampaikan," ucap kakek Hamzah diselingi dengan batuk yang begitu mengganggu tenggorokannya.
"Kakek," ucap Reynold khawatir.
"I-ini sangat penting, kakek harus menyampaikannya kepadamu," kakek Hamzah terdengar sangat hati hati.
"Di dalam tradisi keluarga kakek, kakek selalu menjunjung tinggi kehormatan. Kau tau Reynold, 50 hari lagi adalah hari ulang tahun kakek yang ke 80. Kakek hanya mau satu hal," ucap kakek Hamzah dengan suara parau, seolah menahan sesuatu yang begitu menyakitkan di tenggorokannya.
"Apa itu kek? Rey akan melakukan apapun yang kakek minta, apapun, bahkan nyawa sekalipun," ucap Reynold yakin.
"Kakek hanya minta, selenggarakan pernikahanmu tepat di hari ulang tahun kakek. Dengan gadis perawan sejati. Di dalam keluarga kakek, seluruh penerusnya hanya boleh menikah dengan gadis perawan sejati. Laksanakan perintah kakek sebelum kakek pergi untuk selama lamanya," ucap kakek Hamzah dengan penuh harap.
"Kakek yakin?" tanya Reynold memastikan dan cukup heran dengan permintaan kakeknya yang tiba tiba.
"Bagi keluarga kakek, kehormatan adalah yang utama," ucapan kakek Hamzah yang diakhiri dengan batuk hebat.
"Ka-kakek," Reynold semakin khawatir dengan kondisi kakeknya.
"Sekretaris Pete!" teriak Reynold memanggil sekretaris kepercayaan kakeknya itu.
"Carikan aku gadis perawan sejati seperti yang kakek mau, segera!" ucap Reynold sengan suara lantang dan jelas.
"Baik tuan muda," ucap Sekretaris Pete yakin dan segera beranjak pergi.
***
Reynold terlihat memasuki kamarnya dengan gontai, langkahnya begitu berat. Dia mulai memimirkan apa yang harus dia lakukan, benarkah dia akan menikah demi menuruti semua yang kakeknya minta. Bisa jadi ini adalah permintaan terakhir, Reynold tidak kuasa untuk menolaknya.
Di dalam kamar, Reynold terlihat melempar vas bunga yang tadinya berdiri tegak di atas meja. Vas bunga dengan bunga mawar warna putih, bunga kesukaan almarhum ibunya yang sekarang juga menjadi bunga kesukaannya. Melihat itu, Monalisa yang masih berada di kamarnya mulai mendekat, memeluk tubuh gagah Reynold dari belakang. Tangannya mengusap lembut dadanya, tidak ada penolakan dari Reynold, seolah dia mempersilahkan wanita muda itu untuk memperlakukannya demikian. Monalisa semakin liar mempermainkan tangannya, dia mulai menelusuri dada Reynold yang masih tertutup handuk putih, turun hingga ke arah perut. Monalisa terlihat memasukkan tangannya ke selah handuk yang langsung menuju ke arah perut Reynold, terus mengusapnya lembut hingga ke arah bawah, tempat sensitif yang menjadi kelemahan Reynold. Terdengar suara Reynold mulai mendesah dan menggerakkan tubuhnya karena geli. Seketika Reynold membalikkan tubuhnya dan memeluk Monalisa erat.
Reynold terlihat mulai membalas perlakuan Monalisa. Dia menghujadi monalisa dengan ciuman penuh gairah, mulai dari bibir, lalu turun ke leher dan sebentar turun ke arah dada. Monalisa begitu menikmati apa yang Reynold lakukan. Beberapa kali desahan kecil mulai keluar sari mulutnya. Dia menggelinjang tidak karuan, erangan demi erangan menjadi suara yang terdengar begitu melelehkan telinga. Perlakuan Reynold seolah membuat Monalisa terbang ke langit, terbang bersama awan putih dan menari nari. Tiba tiba Reynold berhenti, pikirannya melayang memikirkan apa yang kakek Hamzah katakan beberapa menit lalu.
"Ada apa Rey?" tanya Monalisa dengan nafas yang masih belum beraturan.
"Kemasi barangmu dan keluar," ucap Reynold yang terdengar tidak biasa.
Monalisa adalah salah satu wanita panggilan yang sering menemani Reynold, namun dia cukup istimewa, mampu menyenangkan hati Reynold dan cukup mendapat tempat istimewa di sisi Reynold Monalisa kaget mendengar kata-kata itu, lalu segera mengambil barang pribadinya dan pergi dengan wajah musam penuh kecewa. Reynold mulai melempar tubuhnya ke arah tempat tidur, beberapa kali menarik pikiran untuk sekedar memikirkan apa semua yang dia dengar itu nyata. Menikah dengan gadis perawan? Memangnya ada di jaman sekarang? Perawan sempurna yang tak tersentuh sedikitpun oleh pria. Mungkin ada, gadis kampung dari desa pinggiran, yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Apa mungkin ada yang cantik? Tidak mungkin aku menikah dengan gadis yang tidak membuatku berselera. Kira kira itu yang Reynold pikirkan.
Pria casanova yang selalu bebas memilih wanita manapun yang dia inginkan, harus menikah dengan gadis lugu yang masih perawan, mungkinkah itu terjadi? Tapi kehendaknya tidak lah lebih kuat dari kehendak kakeknya, tidak ada perintah yang lebih penting selain perintah dari sang kakek. Hari hari Reynold akan diisi dengan deretan gadis lugu yang akan dia pilih untuk menjadi istrinya, setidaknya hingga lima puluh hari kedepan, atau lebih tepatnya sebelum ulang tahun kakeknya, dia harus menemukan gadis istimewa itu.