".... Namun, ingat satu hal dariku, bahwa jika kau menarik ulur keputusanmu, maka aku bisa berlaku kejam dari Richard. Apa kau tidak masalah?" Entah apa yang sedang direncanakan oleh lelaki gagah tersebut. Mark seolah menguji mental Maria.
"Bukankah Anda bosnya di sini? Aku bahkan tidak diberi pilihan ketiga. Lantas mengapa Anda masih bertanya?" Rupanya Maria cukup bijak. Memberi jawaban cerdas yang sukses membuat kagum Mark.
"Good, ternyata kau cukup cerdas di usia belia." Mark tersenyum sinis memuji karakter Maria.
"Tunggu apa lagi? Apa kau sedang menunggu Richard?" tukas Mark.
"Ha?"
Maria tercengang tak paham. Mendadak Mark berucap teka-teki.
"Ah, iya." Namun, sedetik kemudian Maria paham maksud dari pria tersebut.
Sementara itu, di ruang berbeda. Terlihat seorang pria berusia empat puluh tahun tengah menghitung dolar dengan mata berbinar.
Jumlah uang itu tidaklah sedikit. Mencakup sembilan digit.
"Wah, kalau harga per wanita seperti ini, maka aku bisa menguasai kota. Aku akan menjadi orang kaya yang tak tertandingi. Hahaha." Adalah Richard, pria kurang ajar yang tak tahu malu.
Sudah sejak lama dia menjajaki pekerjaan kotor itu. Mengunjungi daerah terpencil untuk menipu orang awam.
Setelah berhasil, ia pun membawa mereka ke dalam kubangan dosa. Menjajakan tubuhnya kepada pria hidung belang. Seperti Maria contohnya.
Saat itu Maria sedang putus asa mencari kerja di tengah kota. Dalam ketidak berdayaan, Richard tiba-tiba menawarkan pekerjaan.
Maria yang tak ingin membelakangi kedua orang tuanya, lantas mengajak Richard bertemu mereka.
Selena dan Rio yang merupakan orang tua gadis cantik tersebut, sangat gembira saat diiming-imingi pekerjaan oleh Germo itu. Tanpa mereka sadari, bahwa hidup anak semata wayangnya itu telah masuk dalam perangkap.
Mengingat peristiwa itu membuat hati Maria kian menjerit. Dua hari menjadi tawanan Richard membuat hidupnya dalam kesengsaraan.
"Apa kau yakin, Mark? Ini bukan jumlah sedikit untuk seorang gadis kampung sepertinya. Entah dia benar-benar masih perawan atau justru telah ditiduri oleh banyak pria sebelumnya." Richard tak menyangka bila Mark rela menembus Maria dengan jumlah fantastis.
Tak tanggung-tanggung, angka dua belas digit menjadi saksi bisu transaksi hari itu.
"Jika kau berkata demikian, artinya kau meragukan dirimu sendiri. Bukankah kau yang memungutnya di desa saat itu? Atau kau sengaja menipunya?" Ekspresi Mark cukup santai menanggapi pernyataan Richard. Namun, sukses membungkam mulut lelaki biadab tersebut.
Sedangkan Richard sendiri menjadi canggung. Kebohongannya mulai ketahuan.
"Lagi pula, bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa dia masih perawan? Atau kau sudah mencobanya lebih dulu sebelum aku? Lantas kau ingin aku memakai bekasmu?"
Kali ini Mark tak memberi Richard kesempatan untuk menyanggah. Seperti ada kemarahan di dalam sana, mengganggu perasaan.
"Astaga Mark, kau salah paham. Tentu saja aku tidak berani memberimu wanita bekas. Dia benar-benar masih suci. Kau bisa tahu begitu tidur dengannya." Sungguh Richard menjijikan. Tak sungkan memperjual belikan wanita. Sedangkan dia sendiri lahir dari rahim seorang wanita. Bukan dari pohon bambu kuning.
Mark tidak menanggapi, dia hanya tersenyum sinis.
"Baiklah, dia milikmu sekarang. Kau berhak atas dirinya. Kecuali gadis itu sanggup membayar kembali dua belas digit ini. Seperti yang kau ketahui, meski dia mengabdikan seluruh hidupnya, gadis itu tak akan sanggup." Terdengar Richard menyepelekan harga diri Maria.
"Jika kau masih mencintai bisnis ini, sebaiknya jangan menghina wanitaku!" Tidak disangka, Mark justru membela Maria begitu Richard menyudutkannya.
Terlihat pria itu sangat marah. Entah ada kesan apa antara dirinya dan Maria. Mungkin saja Mark tidak sadar pada apa yang telah ia lakukan. Hal itu seakan terjadi di alam bawah sadarnya.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Tentu saja Richard tak akan berani terhadap Mark.
Mark adalah penguasa kota tempatnya bernaung. Dan Mark pula lah yang memberinya peluang usaha. Meski demikian, pria berusia tiga puluh enam tahun tersebut tak pernah sekalipun menyentuh para gundik. Mark masih perjaka. Namun, di mata dunia ia merupakan pria garang yang hobi bermain wanita malam.
Kedatangannya ke tempat itu bukan untuk meniduri salah satu pelacur. Melainkan ada hal lain yang hendak diincarnya. Entah apa itu.
Mark berdiri, meraih cerutu di atas meja Richard. "Aku pamit. Namun, ingat satu hal. Jangan pernah usik hidup gadis itu, atau kau akan menanggung akibatnya." Ancaman itu tak main-main. Mark terlihat sangat serius.
"Baik, aku paham," sahut Richard.
Setelah berdiskusi, Mark pun keluar dan mendapati Maria tengah berdiri di balik pintu sedang tertunduk. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kau masih ingin berada di tempat ini?" ucap Mark begitu melewati Maria dua langkah.
Tanpa memberi jawaban, gadis itu menurut. Mengikuti jejak langkah Mark sembari menghela napas.
Jiwa Maria bergejolak. Ada rasa haru serta marah. Kedua rasa itu datang secara bersamaan.
Terharu karena Mark bersedia menebusnya dengan jumlah tak main-main, serta membela dirinya di depan Richard.
Namun, di sisi lain Maria marah terhadap Mark. Entah alasan apa yang membuatnya begitu murka terhadap lelaki gagah tersebut.
Bug!
Maria menabrak punggung Mark yang sengaja menghentikan langkah. Seolah tahu, bahwa wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kau lebih suka berjalan di belakangku?" tanya Mark dengan tatapan tak terbaca.
"Bukankah aku adalah pelayan Anda? Sudah seharusnya aku berada di belakang. Bukan di depan, apa lagi di samping Anda," sarkas Maria secara beruntun.
"Kau masih kecil, tapi lidahmu cukup tajam. Apa kau menaruh belati di dalamnya?" balas Mark, sengaja menggoda Maria.
Namun, Maria tak menanggapi. Dia memalingkan wajah dari Mark.
"Setidaknya jangan menjauh, atau anak buah Richard akan menculikmu." Mark melingkarkan tangan ke panggul Maria. Membawa gadis cantik itu kedalam pelukan.
Alhasil Maria pun terkesiap tak percaya. Bagaimana bisa Mark memperlakukan dirinya sedemikian rupa. Tidakkah Mark tak terlalu menakutkan dari apa yang diucapnya beberapa saat lalu?
Kini tatapan keduanya saling beradu untuk beberapa saat. "Apa kau mulai tergoda padaku? Sebaiknya kuatkan iman sebelum hatimu patah!" Namun, sedetik kemudian Mark kembali menggoda gadis berparas manis tersebut.
"Dasar gila!" umpat Maria bernada pelan. Meski begitu, Maria sangat takut. Kini hidupnya dijamin oleh seorang pria dewasa. Ibarat menjadi simpanan Om tampan.
"Ya Tuhan, semoga saja pria ini tidak menyakitiku." Maria hanya bisa berdoa di dalam hati. Berharap tak akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Sementara itu, sadar atau tidak, karakter Mark mulai berubah saat bersama Maria. Sikap pria itu mulai mencair. Sedangkan dulu pria itu nyaris tak menunjukkan sisi hangatnya.
Namun, lihatlah sekarang. Dia bahkan berani menggoda gadis remaja yang baru saja ditebusnya hingga dua belas digit.
Mobil sedan hitam membawa Maria dan juga Mark. Di dalam mobil itu mereka hanya diam membisu. Bahkan suara musik pun tidak terdengar sama sekali.
Keheningan menemani mereka menuju kastil megah milik Mark.
Dua jam perjalanan, akhirnya mereka pun tiba. Maria melirik bangunan di depannya. "Apakah ini istana?" batin gadis itu.
"Apa kau lebih suka tinggal di dalam mobil?" cetus Mark yang sudah keluar dari mobil.
"Kalau aku diberi pilihan untuk tinggal di mobil, maka aku lebih baik diam di sini," bisik Maria.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Mark penuh selidik.
"Tidak!"
Maria pun keluar, mengikuti jejak langkah Mark memasuki kastil yang menjulang tinggi.
Warnanya coklat tua, bagian dalam dipenuhi pernak-pernik klasik nan unik.
Di sudut ruangan lantai satu terdapat tirai kristal putih. Ada pula patung harimau yang tampak menyeramkan. Mata hewan buas itu berwarna merah menyala.
Sedangkan lampu gantung terlihat remang-remang.
Hampir seluruh ruangan memiliki bola lampu kuning. Sehingga menambah kesan klasik yang begitu kental.
Maria mulai bergidik ngeri tatkala patung harimau itu bersuara. Rupanya suara tersebut merupakan kunci untuk menuju lantai atas.
"Ini rumah atau istana hantu? Mengapa sangat menyeramkan?" batin Maria semakin ketakutan.
Bug!
Seperti biasa, Maria kerap tidak memperhatikan jalannya. Sehingga punggung Mark menjadi sasaran.
"Apa kau selalu menyimpan bola matamu di belakang? Mengapa kau selalu menabrakku?" cetus Mark kesal.
"Maafkan aku. Aku hanya takut pada harimau itu," sahut Maria jujur.
"Harimau?" Kening Mark berkerut tak paham. Namun, sedetik kemudian pandangannya tertuju pada patung harimau yang terpampang di dinding dekat lift.
Kini Mark paham, bahwa Maria takut pada benda mati tersebut. "Hati-hati, biasanya menjelang malam hari patung itu berubah menjadi mahkuk abstrak." Alih-alih menenangkan Maria, Mark justru semakin menakut-nakutinya.
"Apa?" Dan benar saja, wajah Maria semakin pucat. Ekspresinya kian kentara.
"Tenang saja, dia tidak akan menggigit bila kau menjadi anak yang patuh," imbuh pria itu. Lantas menekan tombol lift ke lantai sembilan.
Sesampainya di sana, Mark disambut oleh beberapa pelayan. Mereka menunduk memberi hormat. Di antaranya ada yang berbisik, "Apakah gadis itu istri Tuan Mark?"
"Mungkin saja. Dia terlihat sangat polos dan kampungan," kata pelayan yang lainnya.
"Dengar, mulai saat ini kamar di ujung sana adalah miliknya. Tidak boleh ada yang mendekat kecuali perintah dariku. Apa kalian paham?" Mark mulai mengeluarkan mandat. Memerintah para pelayan agar memperlakukan Maria dengan baik selayaknya manusia.
"Baik, Tuan," sahut seluruh pelayan itu secara bersamaan.
"Rebeca, antar dia ke kamarnya. Pastikan semuanya tersedia dengan baik. Jangan sampai ada yang terlupakan," titah Mark kemudian.
"Baik, Tuan."
Maria dibawa oleh Rebeca, pelayan berusia dua puluh sembilan tahun.
"Silahkan, Nona." Wanita dengan rambut pirang itu memberi interupsi kepada Maria untuk mengikutinya.
Sedangkan Mark memasuki kamar pribadinya yang tak jauh dari kamar Maria tadi.
"Silahkan masuk, Nona. Mulai sekarang ini adalah kamar Anda. Jika Anda membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saja aku. Sebab, mulai saat ini aku adalah pelayan Anda."
Maria terkesiap. Matanya pun turut membeliak. Betapa tidak, beberapa waktu lalu Mark memintanya untuk menjadi pelayan. Lantas apa yang terjadi saat ini? Mengapa Rebeca justru menjadi pelayannya? Apakah itu artinya pelayan juga mempunyai pelayan? Atau pelayan memiliki tingkatan?
Jika benar demikian, bukankah Maria masih tergolong baru di tempat itu? Lalu bagaimana bisa ia mempunyai pelayan? Ataukah Mark sengaja membodohi dirinya untuk menjadikan ia sebagai pendamping?
Bila itu benar, maka Mark merupakan kaum pedofil. Menyukai anak dibawah umur menjadi istri.
"Pelayanku? Bukankah aku juga seorang pelayan di sini? Lalu bagaimana bisa kau..."
"Maaf, Nona. Saya tidak berkewajiban untuk menjawab pertanyaan Anda. Hal itu Anda bisa tanyakan langsung pada Tuan Mark. Permisi," sahut Rebeca penuh misteri.
Wanita bergincu nude itu pun pamit undur diri.
"Ada apa ini sebenarnya? Mengapa aku mempunyai pelayan pribadi? Bukankah kedatanganku ke tempat ini untuk menjadi pelayan seperti yang lainnya? Aku harus bertanya pada Mark," bisik Maria.
Tanpa berpikir lagi, Maria pun keluar kamar. Hendak menemui Mark. Namun, sialnya ia masih belum mengetahui di mana letak kamar pribadi pria tersebut. Alhasil Maria pun tersesat.
Dia tak tahu arah jalan pulang. Ruangan itu terlalu berliku. Terlebih lagi ada cermin besar sebagai pembatas tembok. Hal tersebut menyebabkan ia kebingungan. Hanya Mark lah yang tahu persis bagaimana cara menemukan jalan keluar.
"Apakah aku tersesat? Mengapa aku tidak menemukan ruangan yang lain? Bukankah tadi ada ruangan lain di ujung sana?" Maria semakin kebingungan. Pasalnya sebelum Rebeca mengantarnya ke dalam kamar, ia melihat ada sebuah pintu di ujung ruangan yang menunjukkan, bahwa masih ada ruang lain di sana.
Maria tidak mau putus asa, ia terus mencari cara untuk keluar. Naas, wanita itu tidak menemukan apapun di sana. Semakin ia bergerak, ruangan itu kian mengecil, hingga menghimpitnya.
Ting!
Namun, beberapa saat kemudian terlihat cermin itu bergerak mundur. Memberi ruang untuk Maria. Lalu tembok yang tadinya menghimpitnya perlahan terbuka. Hingga nampaklah Mark di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengapa kau keluar dari kamarmu?" tanya Mark penuh penekanan.
Sesungguhnya Mark sangat lelah. Dia hendak beristirahat, tetapi tombol yang menghubungkan kamarnya dan Maria berbunyi cukup kencang.
Tombol itu ibarat alarm, bahwa ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi.
"Aku sedang mencari kamar Anda, Tuan," sahut Maria.
"Kamarku? Untuk apa kau mencari kamarku? Apakah kau ingin menjalankan tugasmu sebagai pelayan?" Jawaban pria itu sontak membuat Maria terdiam.
"Apakah itu artinya aku akan menjadi budak pria ini?" Maria mulai berfantasi liar. Membayangkan ia menjadi budak seks pria tersebut.
"Tuan..."
"Dengar, aku bukan pedofil seperti yang kau pikirkan saat ini. Aku adalah pria normal. Kau hanya murni akan menjadi pelayanku. Bukan partner hidupku. Jadi, singkirkan pikiran buruk dari otak kecilmu sebelum aku melakukan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya." Seakan tahu apa yang dipikirkan Maria, Mark pun mengultimatum gadis manis tersebut.
"Lalu mengapa Tuan memberiku seorang pelayan?" tanya Maria akhirnya.
Mark tidak langsung menjawab. Pria itu mendekati Maria secara perlahan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Lantas pemuda tampan itu memasukan kedua tangan ke dalam saku celana sembari berkata, "Karena kau adalah pelayanku, bukan pelayan mereka. Hanya aku yang boleh memerintahmu. Bukan orang-orang itu. Apa kau paham sekarang?"
Tidak, Maria masih belum paham. Bagaimana bisa seorang pelayan memiliki pelayan? Bukankah ini artinya berbeda? Maria seakan menjadi pelayan istimewa dalam kastil tersebut. Atau dengan kata lain ia merupakan istri dari Sang pemilik gedung megah itu.
"Tidak! Aku tidak paham," sahut Maria akhirnya.
"Kembalilah ke kamarmu, nanti malam aku akan jelaskan. Sekarang aku benar-benar lelah," ungkap Mark.
"Nanti malam? Apakah itu artinya dia akan memintaku untuk tidur bersama? Bukankah barusan dia berkata, bahwa ia bukanlah seorang pedofil? Lalu apa ini?" Maria mulai panik dalam hati. Berpikir segala kemungkinan yang akan terjadi beberapa jam yang akan datang.
"Mengapa diam saja? Apa kau lebih suka terkurung dalam ruangan ini?" imbuh pria itu setelah tak mendapati pergerakan dari Maria.
"Baiklah," sahut Maria dengan nada pelan.
"Sebenarnya apa yang akan dilakukan pria itu padaku? Apakah ini awal dari segala penderitaan yang ku alami kelak? Ya Tuhan, tolong jangan uji aku sampai melebihi batas kemampuan." Maria berdoa di dalam hati sembari meninggalkan Mark.