Bab 1

Sebuah rumah mewah nan megah disusuri oleh Laura, diikuti oleh seorang pria bertubuh besar yang tadi menegur dirinya di depan gerbang, juga menggeledah sekujur tubuh. Laura ketakutan, bahkan itu belum hilang sampai sekarang. Entah siapa orang yang akan ditemui olehnya, hingga memiliki rumah dengan penjagaan super ketat dari pria-pria bersenjata.

"Tunggu di sini!" kata pria itu, nadanya sangat berat.

"Baik," lirih Laura menjawab.

Berdiri di teras rumah tanpa boleh untuk masuk lebih dulu, gadis berusia dua puluh tahun itu menoleh ke sana dan kemari, mengabsen setiap sudut halaman luas yang tampak indah. Matanya segera tertunduk, tatkala tajam manik mata mengarah padanya, dari seorang penjaga. Jantung Laura berdegup kencang, jari-jari dimainkan olehnya di depan tubuh.

"Masuklah, tuan menunggumu di dalam! Pelayan akan mengantarkanmu!" suara berat itu kembali menyeruak, Laura tersentak.

"Ba-baik, terima kasih banyak." Laura mengangguk.

Seorang pelayan wanita menanti di ambang pintu, isyarat mata diberikan oleh bodyguard padanya agar segera pergi mengantarkan. Rumah itu ternyata sungguh mewah, Laura tidak bisa untuk berhenti mengagumi. Ukiran-ukiran indah nan cantik, dilengkapi dengan perabot yang memancarkan harga jual menjulang.

Langkahnya terhenti di sebuah pintu tinggi warna hitam, pelayan di depannya mengetuk. Terdengar suara samar namun tegas, wanita berseragam putih hitam itu menekan hendel pintu. "Silakan masuk," katanya sembari mengulurkan tangan ke dalam ruangan.

Laura menelan saliva, entah mengapa ketakutannya berlipat ganda. Langkah diperintah untuk melangkah, tanpa dibiarkan melawan. Terasa udara dingin mencekam begitu ia masuk ke dalam, ruangan serba hitam yang sangat luas. Ada seseorang duduk di balik meja berwarna senada, tatapannya bak serigala siap memangsa.

"Se—selamat sore, Tuan. Sa—saya datang kemari untuk melamar pekerjaan sebagai pengasuh," ucapnya terbata, memaksa bibir siap membeku untuk bergerak.

Lelaki itu memutar kursi, dia berdiri dan berjalan menghampiri. Ah, dia sangat tampan dan tubuhnya tinggi tegap, batin Laura mengagumi lelaki yang kini duduk di meja, menyilangkan kaki di atas lantai dan menelisik setiap senti tubuhnya.

Laura risi dengan tatapan diberikan, dia menundukkan kepala serta pandangan. Namun, lelaki pemilik suara berat nan serak itu tak menyukai, dan memintanya mengangkat kepala. "Lihat aku saat berbicara!" katanya.

Laura mengangkat pandangan juga kepalanya, jari-jari tak usai saling meremas di depan tubuh.

"Siapa namamu?!" tanyanya.

"Laura, Tuan. Saya mendengar tentang Anda yang mencari pengasuh untuk seorang anak, untuk itu saya datang kemari."

"Virgin?" tanya lelaki itu mengejutkan.

"Y-ya?!" gugup, melebarkan kedua mata.

"Aku ingin melihatnya. Jadi, buka semua pakaianmu!" perintah lelaki bernama Greyson Haidar.

"A-apa? Mem-membuka pakai-an?" semakin gugup Laura, dia mungkin salah mendengar dan mengulang perkataan.

"Kamu tuli?!" tatap Grey tajam.

"Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Saya kemari untuk melamar sebagai pengasuh, bukan pelacur. Terima kasih banyak!" ucap Laura cepat, dia berbalik badan.

"Lima puluh juta sebagai uang muka, berapa pun yang kamu inginkan setiap bulannya!" sarkas Grey, menghentikan langkah Laura. "Aku tidak akan mematok gaji bulanan, cek kosong akan kuberikan padamu setiap bulan, dan kau bisa mengisinya sesuka hati!" sambung Grey.

Laura menoleh, dia berbalik badan. "Berapa pun?" tanyanya, terangkat kedua alis Grey memberi jawaban.

Tatapan lelaki itu seolah menantikan, ujung bibir kiri atas terangkat sedikit. Laura bergeming, dia berpikir untuk sementara waktu. Ya, mungkin tak ada salahnya, ini juga sudah terlanjur dilakukan. Hanya membuka pakaian, mendapat uang lima puluh juta untuk pengobatan ayahnya. "Baiklah, saya akan melakukannya."

Grey tersenyum penuh kemenangan, tak pernah ia gagal untuk mendapatkan apa diinginkan, seumur hidupnya. Laura membuka setiap manik kancing dari seragam cleaning service warna biru membalut tubuh, perlahan dengan keraguan menyelimuti. Grey melipat tangan di depan dada, kepalanya sedikit miring untuk mengamati.

Hingga terlepas semua kancing kemeja, benda kenyal bulat terlihat menyembul dan itu membuat Grey menelan saliva tanpa sadar. "Oh, fuck!" batinnya.

Laura memejamkan kedua mata, dia melepaskan kemeja dan mulai membuka kancing celana juga menurunkan resleting. Semakin tak sabar Grey untuk menyaksikan keindahan yang menggoda, walau itu bukanlah kali pertama. Namun, ada yang berbeda dari biasa ia lihat, wajah lugu nan malu-malu yang menggugah hasrat.

Laura membungkuk, dia melepaskan celana. Kemudian menutupi bagian dada dengan kedua tangan, ketika ia sudah berdiri lagi. Hanya ada pakaian dalam menutupi tubuh mulusnya, tubuh yang seolah mengerti bagian mana harus tumbuh besar, dan menyurutkan bagian-bagian tak berguna. Grey menelisik dari bawah ke atas, lalu ke bawah lagi. "Sexy!" gumamnya.

"Sudah, Tuan? Apa saya boleh memakai pakaian saya lagi?" tanya perempuan dengan mata tertunduk malu itu.

Grey mengulas senyum tipis, dia mengayunkan langkah dari meja, langsung menarik pinggang Laura menempel tubuhnya. Sontak itu mengejutkan, terlebih saat bibir lelaki itu melumat bibirnya langsung rakus. Tak ada ruang bagi Laura meloloskan diri, bahkan sekedar meraup oksigen dalam ruangan. Lelaki beringas itu mendorong tubuhnya, hingga membentur dinding, kemudian memutar tubuhnya.

"Lepaskan, sa-ya." Laura meminta, namun Grey semakin liar mencumbu dirinya, menyingkirkan rambut panjang tergerai di belakang. Pengait bra dilepaskan, membebaskan benda sudah menggoda mata sedari tadi. "Lepas! Bukankah aku harus memeriksa apakah kau perawan atau tidak?" ucap Grey, napasnya sedikit memburu.

"A-apa maksud Anda, Tuan? Tolong … tolong jangan lakukan ini," pinta perempuan tengah kebingungan juga ketakutan itu.

Grey tak menjawab, dia menarik lengan Laura kasar, melemparkan tubuhnya ke sofa panjang warna hitam. Laura terpental, dia duduk ketakutan. Grey menarik bra masih menempel cupnya, melemparkan asal dan memasukkan dada ke dalam mulut. Erangan tanpa sengaja dibuat oleh Laura, ketika lelaki itu mengisap miliknya dengan sedikit menggigit pelan. "Tuan …." Laura bersuara dengan mata terpejam, semakin memancing keinginan besar untuk dilancarkan.

Grey menurunkan paksa celana dalam warna putih Laura, menciumnya sejenak, itu memabukkan. Dia melemparkan lagi, kemudian melebarkan kedua kaki Laura. Kali ini, bagian terhangat itu menjadi sasaran, tapi ternyata sudah mengeluarkan sebuah cairan. "Ah, dia sangat sensitif!" umpat Grey, namun masih saja melahap bagian sensitif lain Laura.

Rakus, liar, tak beraturan atau berirama, hanya nafsu yang berperan dalam kebuasan seorang pengusaha dunia bisnis itu. Laura begitu menikmati pada akhirnya, dia bahkan refleks menjambak rambut hitam pekat Grey. Suara-suara semakin kencang menggema, mengisi setiap sudut ruang kerja pribadi.

"Kau menyukainya, huh?!" sejenak Grey berucap, sebelum melanjutkan lagi permainan lidah dengan tangannya.

"Ja-jangan hentikan!" pinta Laura tersengal, lagi-lagi mampu membuat Grey tersenyum penuh kemenangan. "I-itu …," imbuh Laura, sepertinya dipahami oleh Grey.

"Keluarkan, Sayang. Kau akan merasakan kenikmatan sesungguhnya," kata Grey, berpindah sejenak pada dada Laura. "Dan kau akan segera mengingat siapa aku!" batinnya menambahkan.

Bab 2

Tangannya masih bermain ke bawah, bertukar peran dengan lidahnya. Laura hampir mencapai puncak, tubuhnya sedikit terangkat, hingga ia terpaksa mengapit kepala Grey, yang sudah berpindah lagi pada keintiman di mana cairan menyembur hangat. Tanpa jijik, lelaki itu meminum semua cairan, bahkan mulutnya menerkam milik Laura, membiarkan semua mengalir langsung ke dalam mulut.

Terkulai lemas dengan napas tersengal, Laura melepaskan cengkeraman pada rambut Grey. Lelaki itu tersenyum, ketika paha sudah tak mengapit kepalanya. Dia menatap wajah cantik Laura, tanpa aba-aba langsung memasukkan miliknya yang telah dikeluarkan dari celana. Laura membeliak, dia mengerang kesakitan, Grey langsung menanamkan sangat dalam, walau ia tahu bahwa perempuan itu masih perawan.

Terasa robekan-robekan ketika ia menembus lubang kehangatan, itu menyadarkan Grey bahwa lawannya sekarang masih tetap suci. Tidak, lelaki itu tidak peduli akan kesakitan Laura, karena baginya cukup dengan kenikmatan dirasakan. Egois, gila, tak berperasaan. Ya, itulah Grey yang dikenal oleh kebanyakan wanita pernah bersamanya, merengkuh kenikmatan.

Pergerakan pun tak dibuat pelan, Grey menikmati setiap cengkeraman dengan sangat liar. Suara dari Laura semakin kencang, sampai mulut harus dibekap rapat oleh lelaki yang mendengar suara lain. "Diam!" membulatkan mata sempurna, menatap pada Laura.

"Daddy, buka pintunya! Aku ingin masuk ke dalam!" seruan itu menyeruak dengan sangat kencang, Grey memejamkan kedua mata memasang wajah frustrasi.

"Ah, sial! Kenapa harus sekarang?!" umpatnya.

"Daddy!" teriak kembali seseorang di balik pintu.

"Tuan muda, ayo kita pergi saja. Mungkin, tuan besar ada di kamarnya." Seorang pelayan merayu.

"Shut up! I hate you!" sarkas Noah. "Daddy, aku tahu kamu di dalam! Buka pintunya, atau aku akan meminta pengawal mendobrak!" ancamnya sangat keras.

"Ah, persetan denganmu!" kata Grey, dia melanjutkan kembali karena miliknya masih tertanam dalam lubang kenikmatan. Dia tak melepaskan tangan dari mulut Laura, agar perempuan itu tak mengeluarkan suara.

Di depan masih saja terdengar Noah memanggil namanya, menyertakan ancaman. Noah adalah putra dari Grey, dari seorang perempuan yang telah dianggapnya sebagai kesalahan besar, untuk meniduri dalam keadaan mabuk berat. Dia kembali dengan anak di tangan, yang tak lagi mampu dielak oleh Grey, bahwa itu adalah putranya. Tes DNA dilakukan tiga kali dengan pengawasan ketat, berbeda tempat juga negara. Namun, hasilnya masih sama, dan mau atau tidak harus diterima oleh Grey.

Pelepasan didapatkan oleh Grey, dia menanamkan semua benihnya di dalam rahim Laura. Langsung mencabut kasar ketika sudah mengatur pernapasan sejenak, lelaki itu berdiri dan mengambil pakaian milik Laura di atas lantai. "Pakai pakaianmu! Aku tidak ingin anakku melihatmu seperti itu!" melemparkan di atas tubuh Laura, kemudian berbalik dan menuju meja. Ada segelas air putih di sana, Grey meneguknya.

Laura mengenakan satu-persatu pakaian, ditemani bulir air mata juga rasa sakit tak tertahan. Grey berjalan ke arah pintu, lalu membuka. Seketika ia dihantam oleh tangan kecil Noah, bocah berusia tiga tahun yang sudah terlalu kesal. "Apa yang kau lakukan?! Itu sakit!" kata Grey membentak.

"Kenapa daddy membuatku menunggu sangat lama?! Itu sangat menyebalkan, dan aku tidak menyukainya!" sarkas Noah.

"Kau tahu ini ruangan apa?! Daddy bekerja, dan disana ada orang yang terus mengganggu daddy dengan air mata!" menunjuk ke arah Laura.

Noah menoleh padanya, mata menyipit tapi juga dipertajam. "Dia tidak jelek, siapa? Pembantu baru?" tanya Noah seraya menyilangkan tangan di depan dada.

"Pengasuhmu!" singkat Grey.

"What?! Oh, come on, Daddy! Aku tidak butuh pengasuh, itu sangat merepotkan! Mereka akan mengomel sepanjang waktu, memintaku untuk melakukan banyak hal, dan aku tidak menyukainya! Usir dia!" kata Noah.

"Ini rumah siapa?" tanyanya.

"Daddy!"

"Siapa yang berkuasa di sini?!"

"Daddy!"

"Siapa Daddy?!"

"Big boss!"

"Oke! Kau tahu dengan pasti, dan kau tahu kalau daddy tidak menyukai bantahan! Kau ingin masuk kandang singa di depan?"

"No! I hate you, Dad! Really!" berbalik badan Noah, kemudian berlari pergi. "Aku tidak ingin pengasuh! Kecuali daddy mencarikanku yang seksi dan cantik untuk menemaniku tidur!" Menoleh dan menunjuk.

"Kau sudah gila mengatakan hal itu padaku?!" teriak Grey.

Tidak ada jawaban, Noah melengos dan berlalu pergi dengan raut wajah kesal. Grey mengeratkan gigi, bertolak belakang menatap kepergian putranya. "Lihatlah kelakuannya itu! Apa dia benar-benar anakku?!" gumam Grey. "He, kau! Keluar dari ruang kerjaku dan ganti pakaianmu, sebelum menemui putraku! Bersihkan tubuh menjijikkanmu lebih dulu!" menatap Laura—perempuan yang tak mampu untuk berdiri dan tetap berada di sofa.

"Ah, ada apa dengan hari ini?! Kepalaku sakit!" Grey memijat kepala. "Hubungi Nora, minta dia ke kamarku saat tiba!" berlalu Grey, setelah berpesan pada pelayan.

"Baik, Tuan." Membungkuk pada punggung lelaki sudah berlalu dengan terus memijat kepalanya.

Grey memasuki lift untuk menuju kamarnya di lantai tiga, tanpa henti ia memijat kepala. Selalu seperti itu, ketika Noah sudah berulah, siap meledakkan kepalanya. Entah sudah berapa banyak barang mewah dihancurkan, juga pengasuh dikerjai hingga masuk rumah sakit, rasanya itu sudah tak terhitung lagi. Menyusuri lantai atas, dia menuju kamar. Menekan pintu hendel, memasuki kamar.

Baru sampai ambang pintu, lelaki bertubuh tinggi sekitar 186cm itu langsung membulatkan sempurna kedua mata, melihat kekacauan di kamarnya. "NOAAAAAAAAAAAH!" teriaknya begitu kencang, membelah udara dan mengisi setiap sudut rumah.

Bocah di ruang TV itu mendengar, ia tertawa cekikikan dalam kepuasan. Ya, dia memang sudah membuat berantakan kamar daddy-nya, seprei dan selimut tebal disiram dengan air berwarna merah, campuran dari cat melukis miliknya. Bahkan, di sana juga terdapat banyak pakaian, jam tangan mewah dan banyak lagi barang-barang milik lelaki yang kini kembali lagi ke bawah dengan langkah cepat.

"Dasar anak menyebalkan! Apa yang sudah dilakukannya sekarang?! Kalau saja dia bukan anakku, maka aku sudah menghabisinya dari dulu!" bergumam seraya melangkah.

"NOAH!" teriaknya begitu keluar dari lift. "Di mana dia?!" bertanya pada pelayan.

"A-ada di ruang TV, Tuan." Terbata ketakutan, suara didengar memang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun.

Grey melebarkan langkahnya kembali menuju ruang TV, dia melihat anaknya sedang berbaring santai, mengayunkan kaki telah ditumpuk menyilang. "Apa yang kau lakukan di kamar daddy?!" tegurnya.

"Tidak ada, hanya sedikit kesenangan saja. Apa yang salah? Bukankah daddy selalu mengatakan, untuk aku bisa melakukan apa saja di rumah ini?" santai bocah berkaos putih itu menjawab.

"Tuhan, hukuman apa yang Kau berikan padaku sekarang?" mengurut kening dan bertolak pinggang. "Bangun! Bersihkan kamar daddy, atau kau akan benar-benar tidur di kandang singa malam ini!" bentaknya.

"Tidak mau!" tajam Noah menatap.

Bab 3

Grey menghela napas berat, dia sudah terlalu kesal. Mendekati Noah yang hendak kabur, berdiri di atas sofa siap untuk melompat pergi.

Grey secepat kilat menjangkau putranya, melingkarkan tangan kanan pada tubuh bocah itu, dan mengangkatnya di samping pinggang. Tubuh terbalik dari Noah terus meronta, kaki dan tangan berayun-ayun kencang.

“Lepaskan aku, Daddy! Lepaskan! Daddy tidak bisa melakukan hal ini padaku aku hanya anak-anak yang tidak boleh diperlakukan kasar!” Noah meronta hebat, teriakan-teriakan dibuat olehnya semakin kencang.

“Anak-anak kau bilang?! Kau bahkan tidak disebut sebagai anak dibawah umur, bagaimana bisa kau menyebut dirimu anak-anak?!” sahut Grey, kakinya mengayun lebar keluar.

“Siapa pun tolong aku! Aku akan menjadikanmu ibuku jika kau perempuan, dan akan dijadikan kau ahli waris daddy kalau laki-laki! Tolong akuuuuuuu!” seru Noah, berhasil menghentikan langkah Grey.

“Kau mengatakan apa?! Jangan asal bicara!” sarkas Grey, putranya mendongak.

“Aku akan menjadikan semua itu benar, Dad!” ucapnya.

“Aduh, dasar anak menyebalkan! Lihat saja apa yang bisa daddy lakukan padamu malam ini!” geram Grey melanjutkan kembali langkah.

Noah masih saja memberontak dengan teriakan kencang menyakiti telinga. Tak ada yang berani menolong, atau sekedar mencegah perbuatan dari pemimpin berwajah tegas itu.

Namun, sepertinya tidak dengan Laura, perempuan yang bergegas keluar usai mendengar keributan itu, menghalangi langkah Grey. Ya, meski ia juga menahan ketakutan terlalu besar menyerang.

“Anda tidak bisa memperlakukan anak kecil seperti itu!” tegas Laura.

“Menyingkir!” melotot Grey padanya.

“Saya tidak akan menuruti Anda kali ini! Lepaskan dia!” kata Laura, kedua tangan meremas ujung seragam yang dikenakan kembali.

Grey sepertinya melihat hal itu, diartikan sebagai ketakutan. Dia mendekatkan langkah, mengangkat ujung atas bibir kanan. “Apa yang bisa kau lakukan padaku?!” tutur Grey, mundur langkah Laura. Matanya berkeliaran mencari pelabuhan, jantungnya hampir saja meledak akan tatapan menyeramkan didapat.

“Saya adalah pengasuhnya, jadi saya bertanggung jawab atas dirinya! Saya bisa melakukan apa pun demi keselamatannya!” kata Laura, namun tatapan menunduk ke arah kanan.

Grey tersenyum smirk, Noah menelisik wajah tertahan rasa takut dari perempuan di depannya. “Baumu dan daddy sangat aneh!” ucap Noah. “Ini seperti ….”

“Hentikan ucapanmu!” sarkas Grey, menyingkirkan tubuh Laura dan melewati.

“Tunggu!” Laura berudara tegas, menyusul langkah lelaki berkulit putih yang tetap ingin memberikan efek jera pada putranya.

Laura tidak lagi berkata-kata, dia merebut tubuh Noah begitu saja dan menurunkan. Dia sangat berat, tubuhnya memang gemuk, dan Laura tak mampu menggendong di sisa tenaganya.

“Pergilah.” Laura menunduk, mengusap ujung kepala Noah.

“Jangan menyentuhku!” sinis bocah itu, menyingkirkan tangan Laura. “Aku tidak suka disentuh siapa pun! Menjauhkan dariku!” menatap sangat tajam.

Laura menelan saliva, dia masih membungkuk sampai Noah pergi. Grey mengantongi kedua tangan, memperhatikan. “Satu Minggu! Kalau kau bisa mendapatkan hatinya, kau akan menjadi pengasuh untuknya!” ucap Grey tegas.

Laura menoleh padanya. “Bagaimana dengan uang lima puluh juta itu? Bukankah Anda sudah melihat kalau saya masih perawan?! Apa Anda tidak akan membayar untuk hal itu?!”

“Kau menjual tubuhmu sekarang?” tanya Grey.

“Tidak. Tapi, Anda yang memaksa saya menjualnya. Jadi, bayar hal itu sekarang juga! Tidak masalah kalau saya dianggap pelacur sekarang, tapi saya tidak akan pernah membiarkan Anda mengambil kesucian itu gratis!” tutur Laura.

Grey tersenyum tipis, seraya membasahi bibir. “Lima puluh juta untuk tubuh sepertimu? Bermimpi saja! Puaskan aku setiap waktu, maka kau akan menerima uang itu! Kalau kau bisa membuatku puas, kau akan kubiarkan hidup nyaman di rumah ini! Setidaknya, kau harus mahir berciuman dan memanjakan tubuhku!”

“Anda tidak bisa melakukan hal ini, semua tidak ada di perkataan awal Anda sama sekali! Apa Anda hanya seorang penipu yang suka memanfaatkan orang lain?!” ucap Laura, dicengkeram langsung kedua sisi wajahnya oleh Grey.

“Jaga ucapanmu, atau kau tidak akan pernah merasakan makanan lagi esok hari!” mengeratkan gigi, menahan suara geram. “Layani aku malam ini sampai pagi, aku akan memberikan uang itu! Aku seorang pengusaha, aku tidak akan mengeluarkan sepeser pun saat aku tidak terpuaskan!” tegasnya menambahkan, lalu mendorong wajah Laura hingga perempuan itu terhempas ke lantai.

Grey pergi dengan langkah angkuh, tanpa lagi menoleh untuk sekedar mengetahui apakah perempuan sudah kesakitan itu, kini merasakan sakit lagi atau tidak. Laura mengiringi kepergian Grey dengan tatapan, di mana genangan air mata sudah terbentuk dan siap tumpah.

Sakit hatinya, haruskah orang miskin terus diperlakukan tanpa harga sama sekali. Jika saja ia bisa mengulang ke beberapa waktu lalu, mungkin tak akan pernah tertarik untuk datang, setelah mendengar pembicaraan orang-orang di mall tentang pengusaha kaya raya yang siap membayar mahal untuk mengasuh anak.

Ya, Laura memang sekedar mendengar dari perkataan ketika dirinya mengepel lantai mall, kemudian tertarik melamar. Berpikir jika bisa menambah uang untuk melanjutkan kehidupan, juga membayar pengobatan dari ayahnya, namun justru semua tak berjalan seperti apa diinginkan, dan malah membuatnya terjebak dalam belenggu lelaki angkuh nan kasar.

Ribuan kata maaf mungkin tak akan pernah berguna untuk memohon pada kedua orang tuanya, tentang apa baru saja dialami dan itu hanya untuk uang. Namun, Laura hanya berharap jika semua yang dilakukan tak pernah menjadi sia-sia, dan Grey menepati ucapannya.

Setidaknya, Tuhan mengetahui bagaimana keadaannya sekarang tanpa perlu menjelaskan apa-apa lagi. Dia hanya terjebak, tanpa memiliki daya untuk meloloskan diri. Apa yang terjadi pun bukan atas keinginan, dan diharapkan pula untuk kedua orang tuanya bisa memahami saat waktu membuka segalanya nanti.

“Maaf, Nona. Tuan Grey meminta Anda untuk membersihkan diri di kamar tamu,” seorang wanita tua menghampiri, seketika Laura menyeka air mata sudah membanjiri wajah. “Pakaian dan semua keperluan Anda telah kami persiapkan di kamar, dan Anda harus mengenakannya sebelum menemui Tuan Grey dua jam lagi.” Sambungnya.

Laura menertawakan dirinya sendiri dalam hati, itu juga terlihat dari pahatan pada bibir bergaris tegas miliknya. “Apa aku bonekanya sekarang?” berbicara lirih.

“Mari saya antarkan Anda ke kamar, Nona. Saya akan menjelaskan apa saja yang harus Anda lakukan di rumah ini selama satu minggu, dan apa yang tidak boleh. Silakan ikut dengan saya,” ucap wanita berusia sekitar enam puluhan tersebut.

“Apa saya tidak bisa pergi dari rumah ini sekarang?” terangkat pandangan Laura, menatap padanya yang masih berdiri dan mengulas senyum pada wajah ditumbuhi beberapa keriput samar.

“Anda yang memasuki rumah ini, Nona. Belum ada sejarahnya, orang bisa keluar dari rumah ini setelah masuk. Begitu pun dengan Anda, karena ini bukanlah rumah yang bisa didatangi oleh siapa pun.” Jelasnya, menyipit kedua mata Laura.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED