Desah napas tersendat-sendat saling bersahut-sahutan mengisi keheningan ruang kamar hotel. Di atas ranjang yang berhamburan pakaian lelaki dan perempuan nampak tubuh polos berlekuk layaknya jam pasir menunggangi seorang lelaki berkulit sawo matang.
“Mmmmh … mmmhh….”
Gerak pinggul sang wanita yang mengalun lembut kini semakin cepat saat kedua jemari tangan mencengkeram pinggangnya.
Ranjang berderit, desah bariton dan serak manja semakin menjadi ketika tempo kecepatan gesekkan di bawah sana yang menempelkan kedua tubuh mulai meningkat. Keringat bercucuran membasahi tubuh polos sang wanita.
Sedangkan lelaki yang ada di bawah sana juga mengerang penuh kenikmatan memandang gadis cantik dengan segala keindahan tubuh yang sedang menungganginya. Sorot mata menjadi tajam, dia menjatuhkan sang gadis di atas ke sampingnya.
Kini mereka bertukar posisi, sang lelaki menindih kuat gadis cantik itu lalu memainkan pinggulnya dengan tempo cepat. Otot lengan yang memegang pinggang sang gadis hingga terangkat bergerak mengikuti ayunan pinggul.
“Oooh! … kau sangat luar biasa, Lea!” serak bariton bercampur napas terengah memuji sang gadis yang tergoncang dalam pukulan kasar dari lelaki di bawah sana.
Sang gadis tersenyum manja, sorot matanya begitu sayu dalam kenikmatan, “mmhh! … bagaimana dengan Aria—"
“Jangan bicarakan dia!” sang lelaki menyentak kuat, menyela perkataan itu hingga membuat mulut sang gadis menjerit penuh kenikmatan, “wanita culun itu tidak bisa dibandingkan denganmu.”
Tak jauh dari ruangan, ada sepasang mata memerah dan sembab dengan telapak tangan yang menutup kuat mulut. Seorang gadis berpenampilan sederhana dengan rambut bergelombang yang diikat satu ke belakang, berdiri di depan pintu sambil melihat ke celah.
Melihat pemandangan itu isak tangisnya pecah meski sudah berusaha menahan dengan kedua telapak tangannya. Apalagi ketika mendengar sendiri pernyataan sang lelaki.
PRAAAKH!....
Gadis di balik pintu kamar mandi berbalik cepat, hendak menghentikan melihat pemandangan itu, tapi sayang tubuhnya malah melemah dan tersandar di belakang pintu.
!!!
TERHENTI!
“Apa itu!? … kau mendengarnya?” ucap sang gadis menahan bidang datar dari lelaki yang begitu agresif di atas sana.
“Bagaimana sih!? Katamu tak ada siapa-siapa di sini? Apa kau menyembunyikan temanmu untuk memamerkan kau meniduriku?!” lanjut sang gadis memasang wajah kesal.
“Tidak ada, mungkin itu hanya tikus,” jawab sang lelaki acuh, lalu menggoyang kembali pinggangnya, melanjutkan kenikmatan yang hampir terlepas dari dalam.
Mata sang gadis tampak sayu mendapatkan beberapa hantaman kuat hingga membuat tubuhnya terenyak berulang kali ke atas. Namun kenikmatan itu teralihkan, dia tidak fokus, melirik ke arah pintu kamar mandi, “hentikan dulu! Tikus tak mungkin bisa menutup pintu sekeras itu, cepat perik—”
Perkataan sang gadis terhenti sebab telapak tangan lelaki telah menempel kuat di mulutnya. Hentakan kasar berkali-kali mengeluarkan desahan kenikmatan hingga leher sang lelaki memanjang sebab wajahnya menengadah ke atas.
“Kenikmatan seperti ini tidak bisa dihentikan, Lea.”
Satu persatu keringat menetes dari wajah sang lelaki hingga jatuh ke perut gadis yang berada di bawahnya. Dia menarik pelan pinggangnya, mengeluarkan sesuatu yang panjang dan tegang, menjauh dari tubuh sang gadis.
Sang lelaki turun dari ranjang dengan tubuh polos yang mengkilap karena keringat. Dia berjalan perlahan ke arah pintu kamar mandi sambil mengembus napas lega. Ketika hendak membuka pintu sesuatu yang berat seperti mencegahnya untuk membiarkan pintu terbuka.
Di dalam sana seorang gadis berusaha mempertahankan agar pintu tidak terbuka dengan kedua kakinya yang berpijak. Namun kekuatannya tak bisa menandingi lelaki berotot, dia terlempar kuat ke depan hingga kepala membentur dinding.
!!!
Mata sang lelaki terbuka lebar begitu melihat seorang wanita di dalam kamar mandi. Meski dalam posisi membalikkan badan, tapi ekspresinya jelas menunjukkan kalau dia sangat mengenal wanita itu.
Sang wanita meringis kesakitan sambil memegang dahinya. Dia berbalik perlahan, memandang lelaki tanpa busana di depan yang berdiri kaku menatapnya. Air mata di pipi tak bisa berhenti mengalir meski seharusnya dia malu melihat kepolosan tubuh sang lelaki.
“Se-Sera? Bukankah kau sedang sakit?” tanya sang lelaki kaku.
“Sakitku semakin parah setelah mengetahui perbuatanmu, Cliff!” balas gadis bernama Serafhine memelototi lelaki di hadapannya.
“Kenapa kau melakukan hal ini, kenapa harus dia?!” lanjut Serafhine berteriak kuat.
Teriakkan itu membuat gadis yang ada di atas ranjang cepat-cepat menarik selimut, menyelimuti tubuh polosnya lalu berjalan menghampiri Clifford. Matanya juga membulat begitu melihat gadis bermata sembab dengan benjolan di dahi.
“A-ariana?”
“Siapa lagi kalau bukan aku!? Kau ingin siapa yang berdiri di sini dan melihat perbuatan kalian berdua!” bentak Serafhine mengarahkan telunjuknya ke arah Clifford dan gadis berbalut selimut di sebelahnya.
“Hentikan!” bentak Clifford dengan suara lantang, “jangan meneriakiku! Kau pikir siapa dirimu bisa mengatur kehidupanku!?”
!!!
Bagai tersayat pisau berkali-kali jantung Serafhine mendengar perkataan Clifford. Kedua bola matanya memaku, manik hitam itu bergetar menatap Clifford. Pening di kepala juga semakin menjadi, lututnya hampir tak kuat menahan tubuh untuk tetap berdiri. Namun dia menyadarkan diri sendiri kalau saat ini harus ada penjelasan atas pengkhianatan Clifford.
“Siapa aku? … aku ini pacarmu, Cliff, kau adalah kekasihku!”
Clifford menyeringai. Dia berkacak pinggang dengan tubuh polos sambil menatap Serafhine dari bawah kaki hingga ke atas kepala, “lihatlah dirimu! Kau tidak menarik sama sekali! Bahkan meski kau bertelanjang di depanku, aku sama sekali tidak tertarik untuk menidurimu!”
PLAK!....
Telapak tangan Serafhine menampar kuat pipi Clifford hingga wajahnya terenyak ke samping, “kau berengsek! Lelaki biadab!” kata umpatan pertama yang tak pernah terucap, kini keluar bagai bom yang meledak. Tak menyangka orang yang berhasil membuat dia bisa sekasar itu dalam bertutur kata adalah kekasihnya sendiri.
Clifford menoleh kembali, sorot matanya menjadi tajam menatap Serafhine. “Kau!—”
“Hentikan, Cliff!” sergah Leandra menahan tangan Clifford yang terangkat ke udara, hendak membalas balik dengan satu tamparan, “jangan mengotori tanganmu. Aku tidak suka kau menyentuhnya!”
Pandangan Serafhine masih tetap lurus ke depan, menatap Clifford tanpa takut meski tahu akan ada tamparan balasan. Setidaknya lewat tamparan itu sudah melampiaskan kepedihan yang menyiksa di dada meski tidak sebanding. Dia menoleh ke samping tepat di saat Leandra mengejeknya lalu berucap, “kau juga! Tak kalah berengsek dengannya. Kau sahabatku, Lea, tapi kenapa kau malah melakukan hal ini!?”
Leandra memalingkan wajah sejenak, seolah merasa bosan. Dia merangkul lengan Clifford dengan erat, “terserah kau mau bilang apa, Ariana. Intinya sekarang kami berdua saling mencintai, dan Cliff telah memutuskan perasaannya terhadapmu, hanya tinggal menunggu waktu untuk mengatakannya padamu.”
Serafhine masih tak percaya dengan perkataan Leandra, dia menoleh kembali ke Clifford, menanti jawaban dari kebenaran yang didengarkan.
“Bagaimana denganku, Cliff? Aku mencintaimu, rasa cintaku lebih besar dari Leandra.”
“Mulai sekarang hubungan kita berdua berakhir!”
!!!
Air mata Serafhine kembali mengalir tak henti mendengar perkataan itu, “tidak bisa, Cliff, aku sangat mencintaimu! Bahkan aku bisa menerima kesalahanmu kali ini asalkan kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Leandra.”
Percayalah, apa yang dikatakan Serafhine baru saja sangat terpaksa karena dia tak mau kehilangan Cliff. Rasa cintanya telah mendalam meski telah disakiti sampai separah itu. Asalkan Cliff tidak memutuskannya hanya karena kekhilafan semata atas dasar hasrat, Serafhine bisa menahan semua sakit di dalam hati.
“Dasar bodoh! Kau mau bersaing denganku dalam hal ini?” sosor Leandra memandang penuh keangkuhan, “dari penampilan kita jauh berbeda, terlebih kau tak bisa memberikan kenikmatan seperti yang aku berikan pada Cliff!”
“Dasar murahan! Kau sudah sama seperti pelacur di atas ranjang sana, tentu saja kau tak bisa sebanding denganku! Kesucianmu telah hilang, Lea!”
Leandra tertawa santai, “aku melacur pada kekasihku sendiri, itu wajar! Yang tak wajar adalah kamu, tidak bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Cliff. Kau terlalu kuno! Jelek! Miskin! Tidak menarik sama sekali!”
“Kau!” Serafhine yang tak tahan dengan penghinaan itu mengulurkan tangannya ke arah rambut Leandra. Namun dengan cepat Cliff menghalangi, bahkan menarik kasar tangan Serafhine keluar dari dalam kamar mandi.
“Lepaskan aku!” bentak Serafhine mencoba melepaskan tangannya dan memberatkan tubuh melalui tumpuan kaki di lantai.
Upayanya sia-sia sebab rasa sakit di pergelangan tangan akibat cengkeraman kuat dari Clifford menghentikan perlawanannya. Dia meringis kesakitan, “sakit! Lepaskan tanganku, Cliff!”
“Pergi dari sini dan jangan pernah menemuiku! Hubungan kita telah berakhir!” bentak Clifford mengarahkan telunjuknya ke pintu bersamaan dengan kedua mata yang melotot.
“Cliff? Bagaimana kau bisa memperlakukanku seperti ini?”
“Apa kau tuli!? Aku tidak pernah mencintaimu, kau hanya pelampiasan sesaatku! Pergi!”
Kali ini Serafhine tak dapat membantah atau merendahkan diri lagi untuk mengemis cinta Clifford sebab penghinaan besar terhadap dirinya. Dia keluar membawa kekecewaan, kepedihan, dan kebencian di dalam hati.
Langit bahkan mewakili perasaannya saat ini. Di sepanjang jalan, hujan membasahi tubuhnya, menutupi air mata yang mengalir di pipi. Langkah kaki tak kuat lagi menopang tubuh setelah sekian jauh berjalan tanpa arah. Entah sudah berapa lama dia berada di bawah hujan deras itu.
Langkahnya terhuyung-huyung, pandangan di depan mata mulai kabur, terhalang oleh air hujan yang jatuh tanpa henti. Sepasang tangan dekil dan kusyuk akibat terlalu lama di air memegangi besi jembatan yang melintang.
Di bawah sana arus sungai besar berwarna coklat menyambutnya. Serafhine tersenyum bodoh, pikiran saat ini mendorong dia untuk segera melompat ke bawah sana, mengakhiri semua penderitaan. Namun tak ada lagi kekuatan untuk bergerak, dia hanya mampu mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri.
“AAAAAARRRRGHHH!” Teriakan tak berdaya keluar dari mulut Serafhine. Berulang kali dia meneriaki nama Clifford dan Leandra dengan umpatan kasar, tapi deras hujan dan arus di bawah sana menutupi suaranya.
“Ha ha ha … bahkan melawan hujan saja aku kalah! Aku memang payah,” tawa bodoh Serafhine mengakhiri teriakan. Napasnya melambat, pandangan mata semakin kabur, tubuhnya perlahan jatuh ke jalan.
Dalam setengah sadar, dia melihat sebuah taksi berhenti di samping, seorang wanita yang keluar dari dalam sana membuat sudut bibirnya melengkung lalu berucap pelan, “Tante Ni … ya….”
***
“Kau baru saja sembuh, Serafhine. Pulihkan dulu kesehatanmu baru bekerja,” ucap wanita berusia empat puluh tahun mengambil pakaian yang hendak di masukkan ke dalam koper.
Serafhine menarik panjang napasnya lalu tersenyum, “kalau aku tidak tidak pergi bekerja rasa sakit ini akan lama sembuh.” Dia mengambil paksa pakaian dari tangan wanita itu lalu memasukkan ke dalam koper.
Bunyi retsleting menghentikan gerakkannya. Dia menatap wanita di depan. Kalau bukan karena tante Nia datang tepat waktu, dia pasti sudah membeku di tengah hujan. Selama dua minggu mendapatkan perawatan dari tante Nia, kesehatan Serafhine akhirnya boleh pulih, hanya saja luka batin belum bisa disembuhkan. Apalagi sampai sekarang Clifford benar-benar tidak pernah menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabar.
!!??
Bodoh! Berhentilah memikirkan lelaki brengsek itu! Batin Serafhine menyadarkan kembali diri sendiri untuk tidak memikirkan Clifford.
“Kau masih memikirkannya?” tanya Nia membuyarkan lamunan Serafhine.
“Seandainya Tante Nia tidak datang menolongku di jalanan saat itu, mungkin aku bisa melupakannya.”
“Dasar bodoh! Hanya orang mati yang bisa melupakan pengkhianatan lelaki berengsek itu!” tepis Nia menyentil dahi Serafhine tepat di bekas memar yang mulai menghilang.
“Akh!” Serafhine meringis kesakitan dalam senyumnya.
“Sakit?” Serafhine membalas dengan anggukkan atas pertanyaan Nia. “Kalau begitu ingatlah akan sakit ini dan …” jari telunjuk Nia mengarah ke dada Serafhine, “sakit di sini,” lanjutnya dengan tatapan tegas.
“Jangan terlalu percaya dengan lelaki! Terlebih jangan membiarkan dirimu jatuh ke dalam lelaki berengsek seperti Cliff, tidak-tidak!” Nia menggeleng, “bukan hanya Cliff, tapi semua laki-laki berengsek!”
“Tentu saja aku ingat! Jangan khawatir, Tante Nia, aku yang dulu telah mati. Sekarang yang kupikirkan hanya kebahagiaanku sendiri.”
"Memikirkan kebahagiaanmu memang harus, tapi apa kamu tak mau membalas penyebab rasa sakitmu sekarang?"
Serafhine menarik panjang napasnya, memikirkan segala macam pertimbangan untuk membalas pengkhianatan Cliff dan Lea. "Membalas mereka hanya masalah waktu dan kemampuan. Sekarang mungkin aku masih lemah, tapi akan ada waktu aku membalas semua ini di saat mereka mungkin telah melupakan keberadaanku!"
***
2 tahun Kemudian….
“Aaah! Ohhh! … yah! Lebih keras lagi!” pintah seorang lelaki menikmati jemari kecil berkulit mulus menggesek di pahanya.
“Seperti ini, Tuan?” suara halus yang terdengar membuat sang lelaki tersenyum merinding.
“Yah! Seperti itu … tidak! Lebih ke atas sedikit,” pintahnya dengan suara tertahan, “lebih cepat lagi!” tambahnya.
“Ooh!”
“Kau sangat hebat sayang!” puji sang lelaki dengan suara serak menahan nikmat, “bisa ke atas sedikit, tidak?”
Bibir merah itu melengkung perlahan. Kalimat pujian ini membuat hatinya sangat senang, seperti candu di telinga.
“Batasanku hanya sampai di sini, Tuan! Dan waktunya sudah melebihi perjanjian layananku."
Dengan berat hati lelaki itu bangkit dari pembaringannya sambil memperhatikan sang gadis,"kapan kau ada waktu lagi? Aku ingin menyewamu dengan harga yang lebih tinggi!"
"Maaf Tuan, layananku hanya sekali untuk satu klien. Dan aku tidak pernah menerima repeat order dari klien mana pun meski ditawarkan dengan harga tinggi!"
Dua tahun yang lalu Serafhine Ariana telah membunuh jati dirinya sendiri setelah mendapatkan pengkhianatan dari kekasih yang sangat dia cintai. Gadis cupu, jelek, kuno, sekarang telah mati, Serafhine telah berubah. Setidaknya sekarang fisiknya sudah tidak sama seperti dulu, kulit dekil dan kusam telah berangsur cerah dan segar, berat badannya yang dulu 65 kilo sekarang telah turun menjadi 50 kilo dengan tinggi 155 cm. Di dunia jasa online dia sering memakai nama samaran untuk setiap klien, jadi nama asli serta data diri sangat dirahasiakan. Pengalaman pertama dia hingga bisa berkarir di bidang ini pertama-tama hanya bekerja di klinik pijat tradisional. Namun karena sebuah insiden yang membuat dia difitnah berakhir dengan pemutusan pekerjaan.
Lewat pengetahuan tentang jasa pijat, dia memulai sendiri lewat forum online jasa. Namun di pengalaman pertama justru dilecehkan oleh seorang klien. Dari klien ini Serafhine belajar untuk memberikan peraturan bagi siapa saja yang membutuhkan jasa pijatnya. Tapi sayang peraturan yang dia buat diejek salah satu klien karena dengan penampilan dirinya sangat tidak cocok jika harus menetapkan standar dan peraturan.
Ejekkan yang diterima Serafhine membuat dia down berminggu-minggu. Namun akhirnya dia bangkit lagi dan berusaha mengubah penampilannya. Usaha keras, menyiksa tenggorokkannya setiap kali melihat makanan kesukaan. Ingin menangis setiap kali melihat lemak menggelambir di perut setelah beberapa bulan mengikuti olahraga tapi hanya menurunkan sedikit lemak jahat itu.
Bukan hanya fisik yang dia usahakan untuk berubah, tapi keahliannya dalam memijat. Dari pengalaman dia belajar memuaskan klien lewat pembicaraan memancing hasrat, suara lembut, senyuman menggoda, serta kalimat-kalimat yang memancing imajinasi kaum pria.
Usahanya dalam menurunkan berat badan juga berhasil. Memiliki tubuh mungil, tapi padat dan berisi di bagian terpenting para wanita adalah keinginan Serafhine. Dengan begini aset karirnya semakin bertambah, pelayanan jasa juga semakin terkenal, dia sangat bersemangat. Namun begitu beberapa kali orderan dari klien, dia mulai merasa tak nyaman sebab banyak klien yang menginginkan lebih. Jadi Serafhine menerapkan peraturan baru dan meningkatkan tarif jasanya. Dia hanya bisa bertemu dengan satu klien saja dalam hidup dan tidak akan menerima lagi orderan kembali.
Dengan adanya peraturan baru yang dia terapkan sendiri, banyak klien yang memandang harga tinggi itu telah sesuai dengan jasanya. Akun pelayanan jasa juga semakin terkenal di media sosial. Namun masih saja ada hambatan dalam mencari uang. Saat itu dia masih membuka layanan untuk klien wanita, tapi tak menyangka setelah berkali-kali menerima permintaan dari berbagai wanita, akhirnya salah satu istri dari klien lelaki menyamar untuk menyewa jasanya dan menghajarnya, bahkan hampir melukai wajah.
Sejak saat itu Serafhine menutup layanan jasa pijatnya untuk wanita, dan hanya membuka untuk lelaki saja. Nomor ponselnya juga selalu berganti setiap bulan untuk keamanan pribadi.
Semakin lama berkarir dalam jasa layanan ini, Serafhine mulai terbiasa dan mendapatkan kesenangan ketika seseorang memujinya cantik, seksi atau apa pun itu. Telinganya sangat menyukai pujian dari setiap lelaki. Desahan klien yang menikmati pijatannya menyenangkan untuk didengarkan. Apalagi dia begitu menikmati saat saling membalas kalimat yang membangkitkan hasrat lelaki, rasa bahagia dan puas mengenyangkan dan melupakan semua keletihan itu.
Sekarang jasanya selalu dipakai oleh pejabat-pejabat, pengusaha kaya raya yang ada di berbagai tempat, bahkan daerah yang berbeda provinsi. Mereka bahkan rela mengeluarkan uang untuk membayar transportasi Serafhine. Setiap jasa layanan dikenakan tarif 5 juta untuk satu orang selama dua jam. Dalam sehari dia bisa mendapatkan orderan hingga 5x dengan klien yang berbeda.
Sangat mustahil jika jasa pijatnya ini tidak menjurus ke permainan ranjang, tapi begitulah. Serafhine telah menjelaskan persyaratan serta peraturan yang dia pakai sebelum klien membayarnya. Di awal banyak yang berpikir itu hanya candaan tapi saat berhadapan langsung dengannya, beberapa klien yang hendak melecehkan dia ditakutkan dengan perjanjian yang telah ditandatangani di atas meterai.
Sama seperti kejadian yang baru saja terjadi, seperti itulah Serafhine menanggapi klien berengsek untuk memberi pelajaran. Lagipula dia tak pernah ada niat untuk bertemu lagi, jadi dia sangat menikmati setiap tindakan yang diambil. Sangat menyenangkan ketika melihat wajah-wajah permohonan untuk segera melampiaskan hasrat yang menggebu di dalam diri para lelaki. Bagai candu yang memberikan dia kepuasan.
***
Dentuman bass di bawah keremangan cahaya. Kelap kelip lampu disko menerangi sekilas kerumunan orang di lantai disko. Di antara para perempuan dan lelaki yang bercampuran dengan gaya masing-masing, Serafhine berbaur di dalam sana.
Atasan yang hanya menutupi tubuh bagian depan dengan seutas tali kain yang mengalung di tengkuk leher dan mengikat di pinggang kecilnya. Dipadukan dengan celana hitam lateks panjang, yang membalut ketat menunjukkan bentuk lebar pinggul, serta bagian belakang yang membulat padat.
Beberapa mata lelaki sejak tadi memperhatikan bentuk tubuh wanita seksi di tengah kerumunan dan keremangan. Sementara Serafhine yang sejak tadi menikmati dentuman musik yang menggetarkan jantung akhirnya mendapati beberapa pasang mata memandangnya dengan hasrat imajinasi liar.
Tatapan kekaguman dan hasrat saat melihat ke arahnya adalah kesenangan sendiri karena ada pujian di balik sorot mata mereka. Mengikuti alunan musik yang berdentum, Serafhine semakin menjadi, menggunakan tatapan memikat bersama gerak tubuh yang menonjolkan gundukan padat di bawah leher lalu berputar membiarkan bumbungan bulat di bawah pinggangnya mengalun lembut.
Matanya menyipit sebab pandangan di sekeliling mulai berputar. Entah sudah berapa banyak minuman alkohol yang diteguknya sebelum turun ke lantai disko. Kehangatan dari dalam kini kian memanas setiap kali tubuh bergerak. Namun tak sedikit pun niat untuk berhenti mengikuti dentuman bass yang membakar semangat.
Tiga lelaki mendekat, mengelilingi Serafhine dan menempel sangat dekat. Lengan Serafhine mengalung ke leher lelaki yang berdiri di belakangnya. Malam ini dia begitu bebas untuk berkreasi.
“Wangi sekali! Sangat seksi.” Serak bariton yang menggelitik telinga Serafhine memberikan kesenangan. Ditambah lagi sentuhan dan embusan napas di leher membangkitkan hasratnya, sangat nyaman.
Serafhine berbalik, menetapkan sorot mata menggoda dan senyum manja ke hadapan lelaki yang bisa dibilang lumayan tampan. Tubuh tinggi lelaki itu membuat dia harus menengadah sedikit ke atas.
Belum lama keduanya menjadi pasangan, seorang lelaki di samping telah menarik tangan Serafhine. Tubuhnya berpindah cepat hingga jatuh ke dalam dekapan lelaki yang tak di kenalnya.
Kesenangan ini belum pernah dia rasakan sebelumnya sebab tak suka jika harus menjadi tempat pelampiasan bagi para lelaki. Namun kali ini berbeda, ada kesenangan sendiri saat dirinya diperebutkan oleh ketiga lelaki tampan di lantai disko.
Bukankah ada begitu banyak para gadis di dalam kerumunan ini? Kenapa mereka hanya tertarik denganku? Apa karena aku yang terlebih dulu memancing ketiga lelaki tampan ini?”
Serafhine tersenyum manja. Pandangan di depan mata hanya ada wajah tampan sang lelaki. Keduanya sangat dekat, jika bukan karena ada ujung hidung yang menempel terlebih dulu maka tentu saja bibirnya telah dinikmati lelaki asing ini.
Serafhine membuang wajahnya ke samping bersamaan mendorong lelaki di depan untuk menjauh. Dia masih waras meski telah dipengaruhi oleh minuman alkohol. Bagaimana bisa bibirnya itu dinikmati oleh lelaki asing. Meski terpaksa setidaknya harus ada bayaran besar yang menguntungkan dirinya. Kalau hanya sekedar menjadi pasangan disko di bawah kerlap kerlip lampu tidak masalah, hal itu berbeda sebab dia mendapatkan kesenangan.
Baru terlepas dari satu lelaki buaya, kini masih ada lagi lelaki buaya yang mau mencobai untuk mengecup bibirnya. Namun tangan Serafhine mendorong kuat. Senyuman kesenangan mulai memudar, sekarang suasana menjadi tak nyaman sebab ketiga lelaki itu telah mengurungnya tanpa memberikan celah sedikit pun.
Udara yang dihirupnya juga mulai menipis, menyesakkan dadanya ketika hendak menarik napas. Dia mencoba keluar dari kerumunan tiga orang itu sambil mengangguk dan tersenyum canggung, tapi salah satu lelaki malah menahan tangannya dan menarik pinggang kecil hingga tubuh mereka berdua menempel.
Dalam kesesakkan Serafhine mencoba membuang wajahnya sebab dia tahu apa yang diinginkan sang lelaki ketika dalam posisi seperti itu. Namun dekapan erat semakin mencengkeram pinggang hingga membuat dia kesulitan bernapas.
“Lepas!”
“Oh! Mendengar suaramu saja sudah membuatku menegang.”
“Berengsek!” sorot tajam Serafhine memaku ke bola mata lelaki di hadapannya. Dia mencoba mengupayakan semua kekuatannya untuk melepaskan rangkulan dekapan lelaki itu dari pinggang. Namun semua sia-sia, perlawanannya melemah, dia benar-benar merasa pening di kepala.
“Akh!” jerit sang lelaki membungkuk.
PLAK!....