Amore Acresia (Acre) Pov~
Selama beberapa waktu hampir di seluruh belahan dunia berada dalam kekacauan, kami semua terkena dampak mematikan dari Vyrus yang tercipta di wilayah Wuhan, China. Pemerintah menutup hampir semua jalanan, termasuk di Los Angeles, California. Juga di beberapa Kota di Indonesia.
Kota kelahiranku juga kabarnya sama, Ibuku menelfon memberitahuku bahwa Kota Kudus yang biasanya ramai, tidak peduli siang ataupun malam hari kini berubah drastis. Sebagian pegawai kantor, guru dan PNS harus bekerja di rumah Work From Home (WFH), semua siswa diliburkan dari sekolahnya.
Akibatnya para orangtua harus menanggung beban dalam pengasuhan anaknya di bidang pendidikan, tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena anaknya sulit belajar jika dirumah, kesulitan belajar secara online, bahkan ada yang sampai bertengkar antara istri dan suami dikarenakan anaknya susah belajar.
Sebagian buruh pabrik diliburkan atau bergantian hari kerjanya, misal sebagian bekerja pada hari senin sampai hari rabu, sebagian lagi hanya bekerja hari kamis sampai hari sabtu. Para wirausaha kacau bisnisnya, pedagang kaki lima juga sepi pembeli, jam operasional restoran atau warung warung juga terbatas, pedagang kaki lima dan warung di pinggir jalan tidak boleh buka diatas jam 9 malam dikarenakan adanya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).
Satpol PP berlalulalang memutari jalanan memantau seluruh masyarakat agar tetap mematuhi peraturan mengenai Corona Vyrus yang berbahaya, sementara masyarakat menengah kebawah di kotaku mengandalkan bantuan pemerintah untuk menghidupi isteri dan anaknya.
Ibuku berkata semua orang hanya keluar rumah untuk membeli kebutuhan saja, sembako dan obat obatan. Sebagian orang- orang bahkan harus mengantri di Apotek hanya sekedar mendapatkan suplemen penjaga daya tahan tubuh, lalu meneruskan ke warung- warung untuk mengantri susu steril untuk diminum setiap harinya, demi memperhatikan kesehatan agar tidak terserang Virus yang berbahaya. Tidak jarang juga susu beruang habis setelah mereka mendatangi warung, lalu mereka berlari mencari ke warung yang lain.
Kami harus mengenakan masker saat keluar rumah, menjaga jarak dari kerumunan, dan rajin mencuci tangan. Jalanan yang biasanya ramai lalulalang kendaraan kini terlihat lenggang,hanya tampak satu dua orang saja melewatinya. Corona Vyrus .Ya, begitulah kami dan mereka menyebutnya, dampaknya membahayakan, kata ibuku banyak sebagian dari orang orang dari Kota Kudus yang terbukti positif harus menjalani isolasi mandiri dirumah, isolasi di Balai Desa, atau bahkan harus dibawa Polisi dan Tentara untuk melakukan isolasi di Donohudan, Solo.
Tidak jauh berbeda, di Los Angeles pun sama, pagi-pagi saat ada sinar matahari, kami di Amerika dianjurkan untuk berjemur selama kurang lebih setegah jam demi menjaga daya tahan tubuh agar tidak terkena Vyrus tersebut. Semua orang disini harus keluar memakai masker dan menjaga jarak, tetapi penduduk Amerika ada yang taat dan juga ada yang tidak taat terhadap aturan yang diberlakukan. Aku dan sahabatku Brielle adalah salah satu dari mereka yang tidak taat terhadap salah satu peraturan yaitu “jaga jarak”, kami bahkan masih sering berpelukan dimana saja.
Bedanya dari Negara Indonesia, di Amerika sudah terdampak Vyrus itu lebih dahulu, kami bahkan sudah Vaksin lebih dahulu di Negara ini, disaat masyarakat di Indonesia masih sibuk mencegah tetapi akhirnya juga terkena karena pencegahan yang kurang optimal.
Tetapi, siapa sangka, dampak dari Vyrus yang menyeramkan itu pun aku harus di pulangkan ke Indonesia. Corona Vyrus mengubah semuanya!
Perusahaan di Bidang Industri Tas Sekolah, Xander Bag yang yang memberikan sponsor beasiswa kepadaku juga terdampak Vyrus tersebut sehingga mengalami kerugian dan menghentikan semua program beasiswa. Mungkin perusahaan itu bangkrut karena anak sekolah pada libur dan tidak membutuhkan tas karena belajar secara online, sehingga omset perusahaan itu kian memburuk, dan semua program beasiswa dihentikan.
Awalnya aku sangat merasa beruntung bisa kuliah di luar negeri, semua kerja kerasku belajar bahasa inggris dan TOEFL setiap hari terbayarkan sudah, bayangkan saja setiap hari aku harus menghafalkan kamus bahasa inggris beserta isinya, ya mungkin sebagian orang berkata aku seorang mahasiswi yang beruntung terlahir dari keluarga yang sederhana tetapi bisa menempuh study di Los Angeles California, tapi takdir tak lagi berpihak kepadaku, aku harus pulang ke Indonesia di akhir semester ke-2 ku.
Bagaimanapun juga, aku harus merasa beruntung bisa menempuh study S1 ku prodi Early Childhood Education selama satu semester, meski setelah itu harus teputus. Bagaimanapun juga, aku harus merasa beruntung pernah menaiki pesawat, itu impianku sedari kecil. Aku masih ingat betapa kedua orangtuaku dulu melarangku untuk berkuliah di luar negeri, orangtuaku takut jauh dariku, takut terjadi apa- apa denganku, aku anak perempuan pertama mereka sementara adikku masih duduk di bangku SD.
Tapi dahulu tekadku untuk berkuliah di luar negeri sangat hebat, setiap hari aku mengikuti bimbingan TOEFL dan mengikuti les untuk bisa lolos beasiswa kampus luar negeri. Akan tetapi takdir berkata lain, kini aku mulai sadar, memang izin dari orang tualah yang sangat penting. Dahulu mungkin aku lupa, aku hanya belajar sekuat tenaga, tetapi tidak memperdulikan izin dari orang tua.
Aku Amore Acresia, orang orang biasa memanggilku “Acre” tetapi aku tidak begitu akrab jika dipanggil begitu, aku lebih menyukai panggilan ibuku kepadaku.
“Ame…,” begitulah saat ibu memanggilku.
Amore Acresia, itu nama yang diberikan kedua orang tuaku saat aku mulai bernafas di dunia ini. Disamping membantu kedua orang tuaku dirumah, aku mempunyai kebiasaan suka belajar sampai tengah malam sedari kecil. Karena sorenya aku berlatih menari, jadi aku belajar di malam hari.
Aku pandai menari, aku selalu mengikuti extra menari semenjak aku duduk di bangku Taman Kanak- Kanak hingga sekolah menengah. Saat duduk di sekolah menengah, waktu istirahat kuhabiskan di gedung kecil tempat orang selalu dapat mendengar suara gamelan yang lembut atau penuh gairah dan semangat. Pada waktu- waktu tidak ada latihan untuk tingkatanku, aku duduk memukul gamelan.
“Setiap kali aku melewati gedung ini, kamu selalu disini, Re. Kamu rajin sekali,” ucap seorang teman kepadaku.
“Aku menyukai suara gamelan,” sahutku kepadanya.
“Bukannya kamu bercita cita kuliah di luar negeri?” tanyanya.
“Iya, aku akan kesana, aku pasti bisa, aku sudah dijadwalkan mengikuti test TOEFL dan wawancara lusa nanti,” jawabku waktu itu.
"Jika kamu beneran kuliah di Amerika, akankah kamu memperkenalkan kesenian jawa disana?" tanyanya antusias.
"Iya, aku berencana mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini disana, akan aku perkenalkan suara gamelan dan jenis tarian jawa pada kelas musik dan tari anak nantinya, hehe," jawabku juga antusias waktu itu.
Aku ingat betul tentang percakapanku dengan salah satu teman SMA . ku dulu. Dan benar saja, aku lolos dan berhasil kuliah di Los Angeles, aku memperkenalkan tarian dan nyanyian dolanan jawa disana pada Kelas Mata Kuliah Musik dan Tari bagi Pendidikan Anak Usia Dini.
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir tak ijo royo royo~
Tak sengguh panganten anyar~
Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi~
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira~
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir~
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore~
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane~
Sun suraka surak hiyo~
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir tak ijo royo royo~
Tak sengguh panganten anyar~
angon cah angon penekna blimbing kuwi~
Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira~
Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir~
Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore~
Mumpung padang rembulane mumpung jembar kalangane~
Sun suraka surak hiyo~
Aku menari diiringi alunan musik Lagu Jawa Lir- ilir. pada Kelas Musik dan Tari.
Tidak disangka, waktu itu dosen tariku yang belum pernah menyaksikan Tarian Jawa secara nyata didepannya terpukau melihatku! Aku mendapatkan nilai A pada Kelas Musik dan Tari.
Waktu itu, aku masih semester satu, saat aku sedang pengambilan nilai Tariku di kelas musik dan tari, tampak ada seorang laki- laki yang memperhatikanku dari jendela luar kelas, tertawa melihat tarianku, dia dari pertama waktu aku tampil membuka tarian hingga aku mengakhirinya tampak berdiri disitu. Gabriel Holdon, iya teman teman di kampus memanggilnya Gabriel, ia berasal dari keluarga Holdon. Sementara waktu itu, aku hanya diam melihatnya menertawakanku, apakah itu lucu? aku menari? Tetapi jika itu Gabriel, aku tidak apa- apa dia menertawakanku, sebenarnya dia ganteng juga saat tertawa, lesung pipinya, hidung mancungnya, kulit putihnya, benar benar lelaki Amerika idaman perempuan di Indonesia.
"Apakah Gabriel sudah mempunyai perempuan di hatinya?" tanyaku pada diri sendiri.
"Ah tapi tidak mungkin aku mendekatinya, sementara aku hanyalah gadis timur berkulit coklat, sementara dia lelaki Amerika mancung berkulit putih," pikirku pasrah pada akhirnya.
***
Pukul 07.00 a.m. in Los Angeles,
“Huuufftt!!”
Acre membuka matanya dan duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang di dalam kamar tidur apartemen sederhana di pusat Kota Los Angeles. Semalaman ia tidak bisa tidur. Sebentar lagi ia akan meninggalkan kota kesayangannya Los Angeles, studynya prodi Early Childhood Education, meninggalkan sahabatnya, Brielle. Dan juga laki- laki yang disukainya sejak semester pertamanya, Gabriel Holdon.
"Mungkin aku memang harus pulang ke Indonesia," gumamnya sambil memikirkan apa yang akan terjadi kemudian.
Jika ia dipulangkan ke Indonesia. Bagaimana kuliahnya selanjutnya? Bisakah Acre kembali kuliah di Amerika setelah Covid mereda dan ekonomi kembali membaik? Ataukah study nya harus berakhir sampai disini? Bagaimana bisa sponsornya yang merupakan perusahaan besar di bidang industri tas sekolah itu kini bangkrut akibat virus yang menyerang di seluruh belahan dunia ini. Dan dampaknya sampai pada Acre yang kehilangan beasiswanya karena perusahaan yang menerbitkan sponsor beasiswanya itu bangkrut.
Tetapi, tidak ada gunanya juga Acre terus terusan memikirkan nasibnya. Acre percaya pasti ada hikmah dibalik semua yang terjadi pada dirinya saat ini.
Acre tersadar dari lamunannya, kemudian bergegas mandi dan berdandan, Acre mengenakan celana jeans berwarna putih, kemeja sederhana dengan tali pita di bagian perut, rambut panjang Acre diurai. Acre juga mempunyai poni di dahi, membuatnya tampak anggun, kemudian menggunakan sepatu flat shoes kesukaannya, tidak lupa memakai masker hitam. Memang tampilan gadis Indonesia meski ia sedang berada di Amerika. Tak lupa juga ia mengirim pesan kepada Brielle dan meminta Brielle untuk bertemu dengannya di taman kampus.
(“Selamat pagi, Brielle, bisakah kau menemuiku nanti di kampus?”) tanya Acre lewat pesan singkatnya.
(“Hey, yo Amore! Bisa, kebetulan juga aku akan bertemu dengan Mr. Hilton hari ini di kampus,”) jawab Brielle.
(“Oke, nanti kita bertemu di Taman Kampus Fakultas Pendidikan dan Olahraga, ya! Sampai jumpa!”) balas Acre melalui pesan singkatnya.
Acre kemudian bergegas pergi ke kampus untuk mengurus semua berkasnya. Suasana kampus tampak sepi dikarenakan masih kondisi pandemi COVID-19. Setelah mengurus semua administrasi kepulangannya, Acre kemudian menemui sahabatnya untuk menyampaikan salam perpisahan kepada sahabatnya, Brielle Smith.
Acre dan Brielle telah bersahabat selama hampir dua semester. Acre mengenal Brielle waktu ia masih mahasiswa baru di kampus. Waktu itu diadakan kegiatan pengenalan lingkungan Universitas bagi semua mahasiswa baru. Seluruh mahasiswa baru dibawa oleh Pengurus Universitas berjalan mengelilingi fakultas. Acre dan Brielle sama sama memasuki Fakultas Pendidikan dan Olahraga. Saat berkeliling di Area Kolam Renang Fakultas tersebut, Acre tidak sengaja terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang. Acre yang masih belajar berenang itu tampak kesulitan untuk menepi, mahasiswa baru lain menertawakan Acre. Tetapi waktu itu, Brielle yang masih dengan mengenakan baju dressnya turun ke kolam renang menyelamatkan Acre.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku, siapa namamu? Aku Amore Acresia," ucap Acre sambil menyodorkan tangannya ke arah Brielle.
"Brielle Smith. Senang bertemu denganmu, Amore. Lain kali lebih berhati hati ya," sambut Brielle meraih tangan Acre waktu itu.
Begitulah Acre dan Brielle saling mengenal hingga menjadi sahabat sampai sekarang. Brielle kemudian mengambil jurusan Pendidikan Olahraga dan Acre mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini. Meski berbeda jurusan, Brielle lah yang membantu Acre ketika menghadapi kesulitan selama hampir dua semester, dari mulai mencarikan apartemen yang cocok untuk Acre, berdiskusi bersama menyelesaikan tugas kuliah hingga teman curhat tentang apapun.
"Brielle!" teriak Acre sambil berlari ke arah sahabatnya tersebut.
"Hey yoo, Amoreee!" jawab Brielle meloleh ke arah sumber suara.
Memang Brielle lebih suka memanggil Acre dengan nama Amore, karena kebiasaan orang Amerika memanggil dengan nama depan. Acre memeluk Brielle sangat erat, kemudian berkata,
"Terimakasih untuk semuanya, Brielle. Sudah menjadi teman terbaik selama aku disini," kata Acre dengan mata berkaca- kaca.
"Jangan lupakan aku, Amore! Aku harap kamu baik baik saja dimanapun kamu berada, dan takdir selalu berpihak kepadamu," ujar Brielle membalas pelukan Acre.
"Terimaksih Brielle," ucap Acre melepaskan pelukannya.
"Ini milikku, tapi aku mengasihkannya padamu, Amore. Sebenarnya ini jimat keberuntunganku, aku selalu menang Olimpiade Lompat Tinggi bukan?" jelas Brielle. Kemudian menyodorkan Katsina Doll miliknya.
"Tapi kan, ini kesayanganmu Brielle, bagaimana mungkin kamu mengasihkan ini untukku?" tanyaku padanya.
Brielle kemudian tersenyum dan menjawab, "Tidak apa- apa, kasihkan kepadaku lagi saat aku butuh nanti ya Amore, aku akan mengunjungimu ke Indonesia ketika aku akan mengikuti Olimpiade Lompat Tinggi pada tahun yang akan datang!”
"Ah baiklah, terimaksih, Brielle" ucapku sambil tersenyum kepadanya.
"Jaga dirimu, Amore! Perlukah aku mengantarkanmu ke Bandara nanti?" tanyanya pada Acre.
Aku menggeleng sambil tersenyum kearahnya.
"Tidak usah, Brielle. Katamu, kamu akan menemui Mr.Hilton hari ini," tolak Acre. Kemudian berlalu sambil melambaikan tangannya pada Brielle.
Menurut Acre, dirinya akan semakin sedih jika pulangnya ke Indonesia harus diantar Brielle ke Bandara. Entah kenapa Acre merasa seperti Negara Amerika tidak mau menerimanya.
***
Setelah melambaikan tangannya pada Brielle tanda ‘selamat tinggal’, Acre berjalan keluar gerbang kampus menuju apartemennya hendak mengemasi semua barang- barangnya kemudian pulang ke Indonesia. Namun langkahnya terhenti ketika melihat laki- laki di seberang jalan. Laki laki yang menertawakannya saat pengambilan nilai di Kelas Musik dan Tari semester lalu. Ya itu Gabriel. Acre tersenyum senang, ia berencana menghampiri dan menyapa Gabriel untuk yang pertama dan mungkin terakhir kalinya Acre di Amerika.
"Gab…,"
Acre yang hendak berteriak memanggil nama lelaki itu terdiam saat mengetahui ada perempuan yang memeluk Gabriel dari belakang sambil tertawa.
Kemudian Gabriel membalikkan badan dan mengecup bibir perempuan itu. Nicole. Ternyata Gabriel kekasih Nicole. Mahasiswi prodi Pendidikan Olahraga. Sama seperti Brielle. Tentu saja, Gabriel ganteng mana mungkin belum punya pacar. Dan pacarnya itu ternyata Nicole! Satu Prodi dengan sahabatnya, Brielle. Dan Nicole adalah musuh sekaligus saingan Brielle dalam nilai maupun dalam pemilihan peserta Olimpiade. Mereka tidak pernah akur. Sementara Acre menatap Gabriel dan Nicole di seberang sana. Tanpa terasa air mata Acre menetes membasahi pipinya.
"Bahkan setelah kuliah sampai Amerika aku masih belum pernah merasakan bagimana rasanya mempunyai kekasih," ucapnya lirih. Kemudian menyeka air matanya, dan berlalu menuju apartemennya.
Sementara itu tampaknya Gabriel yang sedang bersama Nicole tampaknya melihat Acre di seberang jalan, tampak dari jauh gadis itu menyeka air matanya.
"Ia sedang menangis? Mengapa gadis penari itu menangis?" batinnya dalam hati.
Gabriel yang penasaran dengan perempuan yang dilihatnya menari kemarin seperti sedang menangis di seberang jalan sebelum berlalu itu pun mencari- cari alasan yang logis kepada Nicole agar bisa mengikuti kemana Acre pergi dan mengapa Acre menangis.
"Baby, aku lupa jika aku harus menemui Mr. Hilton hari ini, aku harus konsultasi mengenai Olimpiade yang dibatalkan karena situasi pandemi, bisakah sekali ini kau pulang sendiri?" tanyanya Gabriel pada Nicole.
"Oh tentu, no problem, silahkan bertemu Mr. Hilton sekarang Mr. Holdon, haha," jawab Nicole sambil tertawa. Kemudian mengecup sekilas bibir kekasihnya itu, dan berlalu meninggalkannya.
***
Setelah Nicole berlalu pergi, Gabriel kemudian berlari mengikuti arah Acre berjalan. Gabriel penasaran dengan gadis yang menarik perhatiannya ketika menari itu. Dan benar saja, dalam beberapa menit Gabriel menemukan Acre yang sedang berjalan menuju apartemen sederhana yang ditempatinya. Acre tidak menyadari jika ada seorang laki laki yang mengikutinya. Setelah hampir 20 menit berjalan. Sampailah Acre di depan apartemen tempat ia tinggal. Acre menaiki tangga menuju lantai dua. Lalu menuju pintu apartemennya. Acre mengeluarkan kunci hendak membuka pintu apartemen itu. Namun, ketika hendak masuk ada seorang laki laki menyapanya dari belakang punggungnya.
"Gadis penari?" Sapa Gabriel.
Acre menoleh kebelakang. Berapa terkejutnya Acre ketika mendapati yang menyapanya ternyata Gabriel.
"Gab-Gabriel, I-iya ada apa, mengapa disini?"
Acre menjawab dengan pertanyaan beruntun karena ia gugup.
"Aku melihatmu menangis di seberang jalan tadi, ketika aku sedang bersama kekasihku," jawab Gabriel datar.
'Bersama kekasihku' entah kenapa kalimat Gabriel terakhir membuat Acre sakit hati mendengarnya. Tubuhnya bergetar.
“Seperti inikah rasanya perasaan yang tak berbalas?” batin Acre.
"Mengapa kau menangis?" tanya Gabriel lagi.
"Ah tidak, tadi ada sesuatu yang masuk di mataku, aku hanya kelilipan," jawab Acre mencari alasan.
"Tidak mungkin, jelas-jelas tadi kau menangis, aku melihatmu menyeka air mata di di seberang sana," jawab Gabriel menyanggah apa yang dikatakan perempuan di depannya itu.
Sementara Acre hanya diam tak bergeming. Enggan menjawab pertanyaan Gabriel. Hatinya sudah terlalu sakit mengetahui fakta tentang Gabriel yang sudah memiliki perempuan dihatinya.
Apartemen Acre berada di lantai dua dari gedung yang terdiri atas 10 lantai itu. Akses jalan antara pintu pintu apartemen yang berhadapan tidak lebar sehingga ketika ada penghuni apartemen lain yang akan lewat mereka harus menepi ke dekat dinding. Gabriel yang menyadari hal itu bergerak cepat mengambil kunci dari genggaman tangan Acre, kemudian membuka pintu Apartemen Acre dengan dua kali putaran kunci, dan Gabriel berhasil masuk ke dalam apartemen Acre.
"Hey, mengapa kau masuk?" protes Acre yang sontak terkejut melihat Gabriel kini masuk ke apartemennya.
"Kita menganggu penghuni apartemen lain yang akan lewat jika terus berdiri disana, jadi kau tinggal disini?" tanya Gabriel santai sambil memandangi apartemen sederhana yang ditinggali gadis itu.
“Benar benar gadis timur yang rapi,” batin Gabriel.
Sebenarnya Acre juga sedikit senang dapat melihat Gabriel dari dekat. Siapa yang menyangka laki laki itu akan mengikutinya. Tetapi, Acre juga harus sadar bahwa laki laki di depannya itu sudah terisi hatinya. Ada Nicole yang sudah menempati hatinya.
"Mengapa masih diam? Jadi mengapa kau tadi menangis?"
Lagi lagi Gabriel menanyakan hal yang sama.
"Memangnya apa pedulimu?" sahut Acre pada akhirnya.
"Hey, aku peduli, melihatmu menangis di seberang jalan tadi aku bergegas mengikutimu, aku bahkan menyuruh Nicole pulang sendiri,” jelas Gabriel.
“Nicole. Gabriel kembali menyebut nama kekasihnya itu. Tidakkah kau tau Gabriel?Bahwa aku menyukaimu?” batin Acre.
"Iya mengapa kau peduli denganku?Sementara kau adalah kekasih Nicole?"
Ucapan Acre membuat Gabriel gugup seketika. Benar juga, mengapa Gabriel harus peduli dengan gadis penari itu? Tidak, Gabriel tidak peduli, dia hanya penasaran dengan gadis penari timur yang bernama Acre dan mengapa Acre menangis saat melihatnya bersama Nicole di seberang jalan tadi.
"Cih! Mengapa bergantian kau yang diam?" ledek Acre pada Gabriel.
"Kau tidak suka aku peduli kepadamu? Aneh sekali, padahal semua gadis biasanya suka jika melihatku peduli dengan mereka," ucap Gabriel dengan percaya diri.
"Tidak, Aku tidak sama seperti mereka," tolak Acre tidak mau disana samakan dengan perempuan lain.
" Hey, gadis penari, apa kau sadar aku ini siapa? Aku Gabriel Holdon! Tim Renang inti Amerika. Pemenang medali emas di Olimpiade Tokyo! Wahai gadis penari," jelas Gabriel panjang lebar memamerkan segudang prestasinya.
"Hihi..." sahut Acre. Ia yang mendengar ocehan laki laki di depannya itu pun tertawa geli dan rasa sakit hatinya kian menurun.
Acre memang perempuan yang sangat mengagumi laki laki berprestasi, terlebih lagi Acre datang ke Amerika dengan beasiswa. Dan juga, setau Acre sejauh ini Gabriel adalah laki-laki pertama yang memperhatkannya dan menyapanya lebih dahulu.
"Briel....," panggil Acre pada akhirnya.
Gabriel menatap Acre. Didengarnya suara gadis di depannya itu menyebut namanya. Sebenarnya Acre tidak buruk juga, Gadis berkulit sawo matang dengan rambut terurai itu lumayan manis. Berbeda dengan kekasihnya Nicole yang berkulit putih sewajarnya perempuan Amerika. Acre benar benar gadis idaman para laki laki barat seperti Gabriel.
"Aku.... menyukaimu," ucap Acre menyatakan perasaannya.
Entah apa yang mempengaruhi Acre sehingga mendapatkan kekuatan untuk menyatakan perasaannya pada Gabriel. Sementara Gabriel yang mendengar apa yang dikatakan Acre barusan hanya mengangkat satu alisnya, meminta penjelasan lebih.
"Dengar Briel…, aku Amore, hari ini aku mengungkapkan perasaanku yang sudah ada sejak kamu melihatku menari pada Kelas Musik dan Tari semester lalu," lanjut Acre.
"Aku merasa harus mengatakannya kepadamu, karena setelah ini aku harus pulang ke Indonesia, tidak apa apa kamu tidak membalas perasaanku karena aku tau memang hatimu untuk Nicole, bukan untukku,” lanjut Acre.
Gabriel yang mendengar perkataan tulus gadis di depannya itu kian merasa bersalah.
"Sorry..., aku belum bisa membalas perasaanmu, Amore. Tetapi kita masih bisa berteman," jawab Gabriel merasa bersalah. Kemudian memeluk gadis di depannya itu.
Acre merasakan pelukan hangat Gabriel, ia merasa begitu menyedihkan. Harus di pulangkan ke Indonesia dan cintanya di tolak oleh Gabriel. Acre tau hal ini pasti terjadi jika ia mengungkapkannya. Tetapi tidak apa apa, setelah ini mungkin ia tidak akan bertemu dengan Gabriel lagi.
"Mungkin benar saja, beberapa orang di dunia ini dipertemukan hanya untuk jatuh cinta, tapi bukan untuk bersama," batin Acre.
***
Setelah Gabriel mengatakan bahwa ia tidak bisa membalas perasaan Acre dan hanya bisa menjalin pertemanan, Gabriel menawarkan diri untuk mengantar Acre ke Bandara.
"Kamu bilang akan pulang ke Indonesia sekarang? Perlukah aku mengantarkanmu ke Bandara?” tanya Gabriel.
Sebenarnya Gabriel sedikit tidak rela jika gadis di depannya yang baru ia sapa pertama kali itu kini akan meninggalkannya. Tapi gabriel juga sadar akan perasaannya yang juga masih menyayangi Nicole, sehingga Gabriel memutuskan untuk berteman saja dengan Acre.
"Tidak perlu, aku akan ke Bandara sendiri, Briel.. ," tolak Acre dengan suara lirih.
Gabriel yang mendengar penolakan dari Acre pun menyadari bahwa ia harus segera pergi dari apartemen Acre, sebelum Acre tambah hancur perasaannya karena Gabriel tidak bisa membalas perasaan Acre.
"Maafkan aku Amore, aku akan pulang sekarang," kata Gabriel merasa bersalah.
"Tidak apa apa, Briel.., aku paham dengan betul, perasaan tidak bisa dipaksakan, terimaksih sudah memperdulikanku, berjalan di belakangku saat melihatku menangis, dan memelukku. Jaga dirimu disini Briel..," ucap Acre tersenyum ke arah Gabriel.
Gabriel merasa bahwa perempuan di depannya ini memang tulus akan perasaannya. Tanpa disangka Gabriel yang melihat Acre tersenyum seketika mendekatkan bibirnya ke kening Acre. Muuach.
"Setelah ini aku tidak bisa melihatmu lagi, hati hati di perjalanan pulang nanti, gadis penari," ucap Gabriel. Lantas berpamitan meninggalkan Apartemen Acre.
***
Setelah mengemasi barang barangnya, Acre mengembalikan kunci apartemen sewannya dan berpamitan kepada pemilik apartemen bahwa ia akan pulang ke Indonesia.
Kemudian Acre pun bergegas ke Bandara, Acre terbang dari Bandar Udara International LAX, yang merupakan Bandar Udara untuk melayani penerbangan di Kota Los Angeles, California, Amerika Serikat.
LAX terletak di baratdaya Los Angeles di Kota Westchester. Letaknya sekitar 27 km dari pusat kota. Bandar Udara LAX memiliki Sembilan terminal penumpang berbentuk huruf “U” juga disebut sebagai “tapal kuda”. Setiap terminal dilayani oleh sebuah Bus Shuttle.
Acre mengantri untuk Rapit test sebelum menaiki pesawat, kemudian ia mengecek barang bawaannya dan melakukan check in juga pemeriksaan. Acre mencari pintu keberangkatan dan masuk ke pesawat. Pramugari Amerika mengarahkan Acre duduk sesuai nomor kursi. Beberapa menit sebelum lepas landas terdengar suara nyaring Pramugari menyerukan petunjuk dan peringatan.
“Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight 132 Corissa Airlines with service from Los Angeles to Jakarta. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately ten minutes time. We ask you please to please fasten your seatbelts at this time, and secure all baggage underneath your seats or in the overhead compartments. We also ask that your seat and folding trays are in the upright position for take-off. Please turn off all electronic devices you bring, including mobile phones and laptops. Smoking is prohibited for the duration of the flight on the entire aircraft, including the lavatories. Thank you for choosing The Airlines. Enjoy your flight,”. (“Ibu dan bapak, selamat datang di penerbangan nomor 132 Corissa Airlines dengan pelayanan dari Los Angeles menuju Jakarta. Kita sedang berada dalam antrian ketiga untuk take off, dan diharapkan untuk mengudara dalam waktu sekitar sepuluh menit. Kami meminta anda untuk memasang sabuk pengaman anda saat ini dan simpan semua koper di bawah kursi atau di kompartemen atas. Kami juga meminta agar kursi dan meja anda berada dalam posisi tegak untuk take-off. Tolong matikan seluruh alat elektronik yang anda bawa, termasuk telepon genggam dan laptop. Merokok dilarang selama penerbangan di seluruh bagian pesawat termasuk di kamar mandi. Terimakasih sudah memilih The Airlines. Nikmati perjalanan anda,”)
Acre mengingat setiap detail kata yang diucapkan Pramugari. Acre merasa ini mungkin penerbangan terakhirnya. Tidak apa- apa, meski ada sedikit rasa kecewa dipulangkan ke Indonesia dan cintanya ditolak, Acre masih percaya jika bersungguh- sungguh ingin menuntut ilmu dan ikhlas akan takdir cinta, pasti nanti ada jalannya. Acre memejamkan mata, menikmati perjalanan terbang di udara.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir 21 jam di udara akhirnya Acre tiba di Jakarta. Acre memesan grab bike menuju arah Stasiun Pasar Senen untuk membeli tiket kereta api menuju Semarang. Setelah menunggu hampir setengah hari di stasiun akhirnya kereta Acre datang, Acre naik kereta api menuju Semarang. Setelah tiba di Stasiun Tawang Semarang, Acre berjalan ke halte bus Trans Semarang terdekat menuju Terminal Terboyo Semarang untuk melanjutkan tujuan terakhirnya pulang ke Kota kelahirannya, Kudus.
***
Setelah menempuh perjalanan mulai dari Los Angeles menggunakan pesawat, grab bike, kereta api, dan bis, Acre akhirnya sampai di Kudus. Bapak dan Ibu menyambutnya dengan senyum ketika Acre pulang. Mereka masih sama. Tidak ada yang berubah sedikitpun, semuanya sama, perhatiannya, kehangatannya, rasa tulusnya, dan kasih sayangnya. Mungkin begitulah orangtua, sejauh apapun kita pergi pasti merekalah tempat kita untuk pulang.
Acre dapat kuliah di luar negeri karena beasiswa, oleh sebab itu tidak banyak oleh-oleh yang bisa Acre bawa, ada perusahaan yang mau menanggung biaya hidup sederhana dan biaya kampus saja Acre sudah bersyukur.
Acre hanya membawa baju, buku- bukunya, dan 1 buah Katsina Doll dari Amerika. Brielle yang memberinya. Semacam boneka khas Amerika Serikat yang berupa figure- figure kecil yang diukir dan dihiasi dengan hiasan oleh penduduk asli Amerika Pueblo di Arizona dan New Mexico, terutama Hopi. Acre mungkin setengah percaya, tetapi katanya Katsina Doll dapat menjadi jimat keberuntungan bagi yang memilikinya.
Acre sampai rumah pukul 21.00 WIB, badannya sudah pegal sekali menempuh perjalanan dari Los Angeles sampai Kota Kudus. Sementara adiknya, Laura Acresia keluar dari pintu kamar dan menyapanya.
"Kakak..!!" teriak Laura
"Iyaaa dek, kakak sudah pulang," ucap Acre kemudian memeluk adiknya yang baru duduk di bangku SD kelas 4 itu.
"Aku sudah merapikan tempat tidur buat kakak, jadi mana oleh olehnya?" tanya Laura meminta buah tangan dari kakaknya.
"Eum..kakak sibuk mengurus perjalanan pulang dek, jadi kakak gak bawa apa apa," ucap Acre menjelaskan.
Laura tampak kecewa mendengar jawaban kakaknya. Acre yang menyadari hal itu kemudian berkata kepada Laura
" Besok pagi pagi setelah mandi kita beli es krim sama buku buat kamu,ya," usul Acre pada adiknya.
"Hore... kak Acre baik, yaudah kakak tidur sekarang ya kak, tadi Laura udah nyiapin tempat tidur buat kakak, udah Laura ganti semua spreinya," ucap Laura.
Kedua orangtua Acre berhasil mendidik anaknya menjadi pribadi yang baik.
Sementara ibunya dari dapur sibuk membuatkan Acre teh manis hangat kesukaan Acre.
"Kak, jangan tidur dulu ya, ini ibuk buatin teh hangat," kata ibunya berseru dari dapur.
"Iya buk, ini Acre mau menata barang barang dulu, lalu mandi baru tidur," sahut Acre.
Setelah menata barang barangnya, kemudian Acre bergegas mandi, setelah selesai mandi Ibunya datang membawakan 2 cangkir teh hangat.
"Ini dua kak Ame, yang satu buat adik," kata ibu menaruh teh hangat di meja kamar Acre dan Laura
" Iya, terimaksih buk..," ucap Acre pada ibunya
"Bagaimana Amerika? Ame lebih senang disana kan?" Ibunya menghampiri Acre dan duduk di tepi ranjang, Ibunya bertanya lagi, padahal Ibunya sudah sering menelfon ketika Acre di Amerika, bertanya pertanyaan yang sama. Mungkin ibunya terlalu khawatir pada Acre.
" Iya senang disana, tapi mau bagaimana lagi buk, beasiswanya dihentikan," ucap Acre dengan nada kecewa.
Bu Ratia tampak sedih mendengar perkataan putri sulungnya barusan. Acre menyadari ibunya tampak sedih kemudian berkata,
"Tidak apa apa buk, bukannya ibu seharusnya senang Acre pulang ke Indonesia? Dulu ibuk begitu khawatir saat Acre memutuskan mengambil beasiswa kuliah disana, maafkan Acre ya buk sudah membuat ibuk khawatir, Acre besok rencananya mau langsung mencari kerja, agar bisa cepat melanjutkan kuliah juga," kata Acre panjang lebar kepada ibunya yang tampak khawatir kepadanya.
"Kamu mau kerja setelah itu kembali kuliah disana?" Ibunya bertanya dengan nada semakin khawatir.
"Tidak bu, sepertinya terlalu mahal, tidak mungkin kalo tanpa beasiswa bisa kuliah kembali disana, mau kerja lima tahun pun sepertinya belum cukup buat biaya kuliah disana buk, bagimana kalo Acre mendaftar kuliah di Semarang saja buk?"
"Tidak apa apa, ibuk membolehkan jika hanya di Semarang, hanya dua jam dari sini,"
"Baiklah buk," Acre menganggukkan kepalanya di depan kepada ibunya.
"Yaudah, itu tehnya diminum, lalu kamu tidur ya, Me." Ibunya selalu memanggil putri sulungnya itu dengan panggilan Ame.
"Baik buk, selamat malam," ucap Acre pada ibunya. Kemudian ibunya berlalu meninggalkan kamar.
***