“Aku yakin kamu kuat,” ucap seorang perempuan yang berada di samping Rinda.
‘Kamu bisa, Rinda.’
“Aku tidak mau lagi menjual diri.”
“Kita akan menikah, Rin. Di mana letak kamu menjual diri kepadaku?”
“Kenapa baru sadar hari ini?” tanya Rinda yang berusaha keras untuk menahan sesak di dadanya.
“Aku tidak pernah membelimu,” sahut Gian dengan menyuguhkan tawa kecil.
“Kamu memang tidak pernah membeliku dengan uang. Karena memang aku yang selalu mengeluarkan uang untuk kita jalan berdua.”
“Na---.”
“Tunggu! Ada satu hal lagi. Dan kamu sudah menghancurkan masa depanku,” ucap Rinda dengan mata yang sudah berair.
“Kita sama-sama suka melakukannya, Rin! Kamu lupa?!”
“Oh tentu tidak! Tapi, seharusnya kamu juga ingat bahwa dirimu sudah melamarku dan tidak seharusnya kamu melakukan hal itu dengan perempuan lain!”
Gian berdecak kesal. Ia juga sedikit terkejut saat Rinda mengucapkan hal itu. Padahal, dirinya merasa sudah menyembunyikan rahasia besar itu dengan rapi.
“Kamu pasti sudah dipengaruhi sama Della,” ucap Gian sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dipengaruhi? Hei ... aku sudah mengumpulkan semua buktinya, Gian,” sahut Rinda sembari menunjukkan kertas yang sudah ia siapkan bersama Della.
“Bukti apa? Aku tidak pernah melakukan hal apa pun.”
“Dalam keadaan seperti ini saja kamu masih sibuk membela diri.” Rinda berkata dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.
“Aku harap, orang tuamu tidak akan merasakan pedihnya jadi di posisi orang tuaku. Semoga mereka tidak pernah merasakan sakitnya melihat putri kesayangannya depresi setiap hari. Dan ... semoga hal ini tidak akan terjadi pada putri kesayanganmu nantinya,” ucap Rinda sembari berusaha menahan air mata yang sudah berdesakkan ingin keluar.
***
"Kamu baik, Nak?" ucap seorang perempuan paruh baya di seberang telepon.
Suaranya terdengar seperti orang yang penuh kekhawatiran. Tak biasanya pula perempuan itu menelepon pada jam-jam malam.
"Rinda? Kamu masih ada di sana, Nak?"
Rinda memang belum menyahuti apa pun kecuali menjawab salam dari ibunya. Ia tak mengerti harus memberikan penjelasan seperti apa. Sebab, apa-apa yang akan dijelaskan tentu membuat sakit hati kedua orang tuanya.
"Iya, Bu ... Rinda baik kok. Ini baru beres merajut baju. Kenapa, Bu?" Rinda berpura-pura tegar demi menjaga kesehatan ibunya. Ia tak mau jikalau penyakit jantung perempuan di seberang telepon itu kambuh.
"Beneran kamu baik-baik saja?" Bu Meilinda--Ibu Rinda--tak percaya dengan ucapan putrinya. Beliau merasa ada yang tidak beres dengan putrinya di perantauan.
"Iya, ibuku yang cantik ... lagian sudah jam segini, Ibu masih main hp saja," sahut Rinda yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sejak sore tadi, Ibu kepikiran kamu terus, Nak. Mau nelpon, takut kamunya masih ada kesibukan lain."
Dari balik telepon, Rinda juga sudah mendengar helaan napas Bu Meilinda yang merasa lega dengan jawabannya. Ia memang berniat untuk menyembunyikan permasalahannya dengan Gian serapi mungkin.
Sebelum semua bukti-bukti terkumpul dengan benar dan tepat sasaran.
Rinda Wahyuningsih. Di umur yang sudah mau menginjak 24 tahun, Rinda tentu ingin menjalin hubungan serius dengan kekasihnya—Gian—. Membercandai sebuah perasaan, menurut dia bukan hal yang wajar. Apalagi jika hubungan itu sudah melibatkan orang tua di setiap langkah yang akan dituju ke depannya.
"Rinda memang sibuk sekali di outlet sama Della tadi, Bu. Alhamdulillah ramai pengunjung hari ini." Rinda berbohong untuk yang ke sekian kalinya.
"Alhamdulillah ... tapi kamu juga jaga kesehatan loh, Nak!"
"Iya, ibuku ...."
Merasa tak ada yang ingin dipertanyakan lagi, Bu Meilinda pun mengakhiri panggilan malam itu. Selain ingin segera merebahkan tubuh, beliau juga tak mau menyita waktu istirahat putrinya.
Rinda memang menjadi putri tunggal dari pasangan suami istri Ganjar dan Meilinda. Oleh sebab itu, tidak heran jika Bu Meilinda begitu protektif terhadap putri semata wayangnya.
"Kenapa, Rin?" Suara khas dari Della sedikit mengejutkan Rinda yang masih menatap layar ponselnya.
"Biasa ... ibuku. Ngerasa kali, ya, kalau anaknya sedang hancur kayak gini," sahut Rinda dengan nada lesu.
Berulang kali ia mengembuskan napasnya yang terasa sesak. Penghianatan dari Gian juga terus memenuhi pikirannya. Sampai-sampai, jam tidur dan waktu makannya ikut berantakan.
Sementara itu, Della masih menatap Rinda dengan tatapan nelangsa. Perempuan kelahiran Ciamis itu tak pernah melihat sahabatnya sesedih itu.
"Ya udah, makan dulu, yuk! Tadi aku mampir beli nasi goreng Pak Arifin," ajak Della yang berusaha mencairkan suasana.
Bukan tak peduli dengan kalimat Rinda sebelumnya, Della hanya tak ingin suasana itu terus menetap dalam ruangan kos mereka. Seolah-olah, tak ada kehidupan yang lebih baik di dalam ruangan yang tak cukup lebar itu. Ia yang notabenenya baru saja pulang dari outlet penjualan mereka juga merasa sesak jika pulang-pulang selalu disuguhi dengan kesedihan dari Rinda.
"Duluan saja, Dell. Mau ngelanjutin rajutan dulu." Rinda beralasan.
Selera makannya memang tidak ada sedikit pun. Bahkan bagianya, semuanya telah mati rasa. Tidak tahu lagi mau diarahkan ke mana lagi pikiran dan tubuhnya itu.
Alih-alih memarahi Rinda, Della justru meneteskan air mata di samping sahabatnya. Seolah dia juga merasakan sesak yang harus ditanggung oleh Rinda.
"Aku gak kenapa-kenapa loh, Dell ...," ucap Rinda yang dengan sekuat tenaga menahan tangisnya saat itu.
Di jam-jam rawan overthingking, Rinda memang kerap kali menangis hingga fajar muncul. Ia tak tahu apa yang ditangisi, tapi perasaan tidak nyaman dan aman selalu menghantui. Ia sudah berusaha menyembunyikan tangisnya dari Della. Sampai-sampai, dirinya selalu menutup wajahnya dengan bantal ketika menangis. Akan tetapi, tetap saja. Della selalu terbangun dan nelangsa melihat perempuan yang tidur bersamanya.
"Hei?! Della ... aku kuat ketika kamu juga kuat," ucap Rinda sekali lagi karena sahabatnya tak kunjung berhenti terisak.
"Benci aku sama Gian!!!"
Kalimat itu sudah keluar dari mulut Della berulang kali. Ia menjadi garda terdepan yang mau membela dan menemani Rinda dalam melawan Gian. Akan tetapi, Rinda selalu menahan Della untuk balas dendam kepada kekasihnya.
"Dendam itu api, Dell. Kita tidak perlu menggenggam api untuk menghancurkan diri kita sendiri," sahut perempuan berlesung pipit itu dengan tenang.
Begitulah Rinda, selalu keras kepala dan terlalu baik kepada orang yang menyakitinya. Dalam keadaan hati yang porak-poranda seperti itu saja dia masih bisa memaafkan dengan ikhlas. Bahkan, ia juga sempat meminta maaf kepada Gian dan kekasih barunya.
"Seharusnya kamu tidak perlu meminta maaf kepada mereka, Rin. Yang salah itu mereka z bukan kamu!" bentak Della yang masih dikelabuhi dengan emosi.
Ia kasihan dengan Rinda tapi juga tidak suka dengan sikap sahabatnya itu. Terlalu baik dan percaya pada orang lain yang membuat dirinya selalu dimanfaatkan.
Saat suasana sedang mengharu biru, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara lantang dan ketukan pintu yang kasar.
"Rindaa!!! Rindaa!!!"
"Siapa, Rin?" tanya Della yang satu menit kemudian saling bertatapan dengan Rinda.
Perempuan yang ada di samping Della hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga bingung, karena tidak biasanya ada orang berteriak dengan suara kencang seperti itu.
Tanpa berpikir lama, mereka berdua memutuskan untuk segera beranjak menuju pintu kos.
"Gian!!!" seru dua pasang sahabat itu secara serentak. Tangan mereka juga spontan menutupi hidup karena tidak tahan mencium bau alkohol dari Gian.
Penampilan Gian malam itu terlihat sangat kacau. Kancing bajunya beberapa sudah terlepas. Wajah dan rambutnya juga berantakan.
Ini adalah momen pertama kali Rinda menyaksikan mantan kekasihnya itu mabuk. Sepanjang masa mereka menjalin hubungan, tampaknya perempuan berdarah Sunda itu tidak pernah berpikiran bahwa Gian bisa berbuat demikian. Terlebih, tempat mereka menimba ilmu yang berdekatan, membuat mereka sering bertatap muka dan tak pernah mendekati tempat seperti diskotik dan semacamnya.
"Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Rinda ...," ucap Gian yang kemungkinan sudah kehilangan kesadaran.
Rinda bergidik ngeri manakala laki-laki itu mulai mendekat ke arahnya. Akan tetapi, dia dan Della tak berani membentak ataupun melawan lebih dulu. Sebab, mereka berdua takut kalau sampai Gian akan berbuat hal-hal yang di luar kendalinya.
"Hei, Gian! Sadar!" ucap Della sembari mencoba menampar pipi laki-laki yang ada di hadapannya.
Della memang lebih pemberani dibandingkan Rinda. Bahkan, setiap kali sahabatnya ada masalah dengan Gian, dirinyalah yang maju untuk melabrak. Entahlah, ia hanya merasa tak terima jika melihat Rinda terpuruk.
"Aku mau Rindaaaa ... Rindaku sayang. Sini ikut denganku." Perkataan Gian semakin ngelantur.
Della yang mencoba mengendalikannya pun merasa kuwalahan. Apalagi, yang dihadapinya adalah laki-laki berpostur tubuh tinggi seperti itu.
"Mending kamu masuk dulu, Rin. Nanti gantian aku dan kita tutup pintunya. Sepertinya kita tidak akan bisa menghadapi, Gian dalam keadaan seperti ini," bisik Della yang mulai agak panik.
Sementara Gian, masih meracau dan sesekali berteriak memanggil Rinda.
"Minggir kamu! Aku mau Rinda!" seru Gian dengan raut wajah yang membuat Della sedikit ngeri.
Tangan perempuan berkulit eksotis itu masih mencoba menghalangi Gian untuk masuk. Walaupun ia sendiri merasa tidak yakin bisa menahan laki-laki itu lebih lama, tetapi dirinya masih terus berusaha.
Buk!
Dengan tingkat kesadaran yang rendah, Gian masih berhasil menyingkirkan dan membuat tubuh Della tersungkur di depan pintu.
"Rindaa!!! Keluar dari pintu belakang!!!" teriak Della dengan sekuat tenaga.
Ia yang masih dalam keadaan tersungkur, memutar ide untuk menarik kaki Gian supaya tidak melangkah ke dalam. Detak jantungnya menjadi tak karuan karena khwatir laki-laki yang sudah mencampakkan Rinda itu berbuat hal-hal buruk.
***
***
"Kenapa, Bu?" Suara Pak Ganjar membuyarkan lamunan istrinya.
Seperti biasa, pukul 22.30 beliau baru pulang dari kantornya. Hampir setiap saat, sosok ayah yang hanya bekerja sebagai pegawai biasa itu memilih untuk mengambil jadwal lembur. Hal itu, semata-mata supaya penghasilannya bisa lebih dari gaji pokok saja. Sebab, banyak sekali daftar pengeluaran yang selalu harus beliau penuhi.
"Tidak apa-apa, Yah. Kepikiran Rinda saja tadi. Tapi, sudah telepon kok tadi," jawab Bu Meilinda dengan wajah lesu.
Bertegur sapa dengan putrinya beberapa saat yang lalu, ternyata tidak membuat hati beliau menjadi tenang. Perempuan paruh baya itu masih merasa bahwa putrinya sedang menyembunyikan masalah besar.
"Terus kenapa masih lesu begitu? Sudah minum obat malam ini?" tanya Pak Ganjar lagi.
Beliau memang sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan perhatian. Segala hal yang menyangkut keluarganya selalu beliau perhatikan dengan teliti. Termasuk kesehatan dua perempuan yang amat beliau sayangi.
Akhir-akhir itu, penyakit jantung Bu Meilinda memang sering kambuh. Entah karena terlalu lelah mengurus pekerjaan rumah atau hanya karena terlalu banyak berpikir yang negatif.
"Belum ... Ibu masih nunggu Ayah untuk makan malam tadi."
Mendengar jawaban dari istrinya, Pak Ganjar pun hanya bisa menghela napas dan tersenyum tipis.
"Aku bersih-bersih dulu, Ibu siapkan makan malam. Nanti kita makan malam berdua," ucap laki-laki yang rambutnya sudah mulai beruban itu dengan lembut.
Bu Meilinda mulai menampakkan senyumnya. Beliau juga merasa tidak enak jika tidak menyambut baik kedatangan suaminya dari kantor. Terlebih, Pak Ganjar hampir tidak pernah berbuat buruk kepadanya meskipun tubuh dan pikiran beliau merasa lelah.
'Terima kasih, Tuhan karena telah menghadirkan sosok baik hati untukku dan Rinda,' batin Bu Meilinda sembari melangkahkan kakinya ke ruang makan.
Semua makanan sudah siap sejak pukul 21.00 tadi. Beliau memang selalu menyiapkan makanan sebelum suaminya pulang. Meskipun hanya makanan sederhana, tetapi Pak Ganjar selalu menghargai apa yang sudah disediakan.
Selang beberapa menit kemudian, laki-laki yang wajahnya sudah tampak segar itu sudah muncul di ruang makan. Senyum yang seolah tak lekang oleh waktu itu membuat Bu Meilinda sedikit bahagia.
"Enak ini, Bu kayaknya," celetuk Pak Ganjar yang langsung mencomot ayam panggang kesukaannya.
Hari itu, istri salihahnya sengaja membuatkan ayam panggang. Bukan karena ingin diberikan imbalan hadiah mewah, melainkan karena ingin sesekali memberikan kebahagiaan kecil untuk Pak Ganjar.
Ayam panggang lengkap dengan krawu memang menjadi masakan favorit Pak Ganjar sejak kecil. Entah mengapa, rasa gurih dari bumbu-bumbu yang diracik oleh almarhumah ibunya membuat beliau sangat lahap makan. Sampai-sampai, resep ayam panggang dan krawu dari mendiang ibunya itu diberikan kepada Bu Meilinda.
"Bagaimana kabar Rinda, Bu? Baik-baik saja kan?" tanya Pak Ganjar di sela-sela makan malam.
Meskipun hari-harinya penuh dengan pikiran pekerjaan kantor, laki-laki itu tetap selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi baik dengan istri dan putri tunggalnya. Beliau memang tipe suami dan ayah idaman bagi setiap orang. Rasa peduli yang begitu kuat membuat Bu Meilinda masih bisa bertahan hidup hingga detik itu.
"Baik katanya. Tapi ... Ibu merasa ada hal yang janggal, Yah. Tidak biasanya loh Ibu berfirasat seperti ini," timpal perempuan yang nafsu makannya jadi tidak enak.
"Sudah coba tanya ke Nak Gian?"
Mendengar nama Gian, perempuan di hadapan Pak Ganjar itu spontan menghentikan aktivitas makannya.
"Hampir sepuluh kali Ibu mencoba menghubungi dia, tetapi nomornya sudah tidak aktif," jawab Bu Meilinda yang sebenaenya menaruh kecurigaan terhadap hubungan putrinya dengan Gian, tunangan yang selalu Bu Meilinda dan Pak Ganjar bangga-banggakan.
"Iya kah? Kenapa bisa begitu? Rinda tidak cerita apa pun?" Pak Ganjar mengerutkan keningnya seketika.
Bagi mereka, nomor Gian yang tidak aktif itu menjadi pertanda telah terjadinya sesuatu. Sebab, Gian adalah laki-laki sopan yang selalu mengangkat telepon dan mengabarkan hal-hal yang terjadi pada Rinda kepada mereka berdua. Tidak menghilang tanpa alasan seperti itu.
"Tidak," jawab Bu Mei dengan singkat.
Pak Ganjar terdiam sejenak. Beliau seperti tampak memikirkan suatu hal yang tidak ingin dibicarakan kepada istrinya.
"Kita husnuzon saja, Bu. Mungkin Gian dan Rinda memang sedang sibuk dan banyak kegiatan saja," ucap Pak Ganjar yang selalu menjadi penenang bagi istrinya.
"Ini semua salah kamu, Gian!" bentak seorang perempuan yang usianya terlihat tidak jauh beda dari Gian.
Wajahnya tampak kesal saat itu. Sorot matanya pun sedikit berkaca-kaca ketika berbicara dengan Gian.
"Hei, Cantika! Sedari awal, kamu yang memberanikan diri mempublish foto kita di sosial media," sahut Gian yang tak kalah emosinya.
Gian dan perempuan bernama Cantika itu memang memiliki hubungan yang tidak diketahui oleh Rinda. Hubungan itu bermula saat Gian masuk pada Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama dengan Cantika. Karena kerap kali bertatap muka untuk rapat, akhirnya tanpa disadari tumbuh benih cinta dalam hati perempuan yang berambut agak pirang itu.
"Aku sudah memblokirnya, Gian. Mana mungkin dia tau dari sosial mediaku."
Dalam keadaan yang sama-sama diliputi oleh emosi, Cantika masih tak mengelak dan tak mau disalahkan.
Sebelum hubungan mereka tercium oleh Rinda, Gian sudah sering mengingatkan supaya tidak mempublish hubungan terlarang itu ke media sosial. Sebab, kisah cintanya dengan Rinda sudah hampir sampai di titik finish. Tak mau munafik, Gian memang lebih sayang kepada Rinda.
"Sahabat-sahabat Rinda itu banyak, Cantika. Termasuk Della, teman sekelas kamu. Pasti dia mendapatkan banyak kabar dari sahabat-sahabatnya," ucap Gian panjang lebar sembari memegangi kepala yang rasanya hampir pecah.
Pada dasarnya, Gian memanglah sosok yang teliti dan waspada. Ia selalu melakukan sesuatu dengan hati-hati dan rapi. Semua rencana yang ingin dilakukan, pasti sudah dipikirkan matang-matang sebelumnya. Termasuk sebuah hubungan yang memang seharusnya tidak dilakukan.
"Arghhh!" seru Cantika sembari menggebrak meja diskotik.
Malam sebelum pergi ke kos Rinda, Gian memang bertemu dengan Cantika di diskotik. Pikirannya kacau. Permasalahan di luar dugaan yang tiba-tiba muncul itu membuat dirinya stres.
Tujuan bertemu dengan Cantika sebenarnya bukan untuk memperdebatkan sesuatu yang sudah terjadi. Melainkan hanya untuk berbagi cerita yang sudah berdesakkan di kepalanya. Akan tetapi, sungguh malang nasibnya. Alih-alih bersimpati dan mencoba menenangkan, Cantika justru marah besar kepada Gian. Ia tidak suka namanya tercoreng sebagai perusak hubungan orang yang sudah sampai jenjang keseriusan. Terlebih, pamor sebagai mahasiswa teladan menjadi buruk karena satu kelasnya mengetahui isu-isunya dengan Gian.
"Aku sudah tidak mau berhubungan dengan kamu lagi, Gian!" seru Cantika lagi sebelum kembali meneguk satu gelas minuman beralkohol.
Perempuan itu juga terlihat bergegas meninggalkan Gian yang ternyata sudah banyak minum sejak tadi. Hal itu tentu saja membuat laki-laki berdarah Jawa itu murka. Ia spontan mengejar kekasih gelapnya itu. Sampai-sampai, terjadi perkelahian kecil yang membuat seluruh pengunjung beralih kepada mereka.
"Tolong! Laki-laki ini mau mencelakai saya!" teriak Cantika yang tangannya ditarik-tarik oleh Gian.
Entah ide dari mana, Cantika rela memfitnah kekasihnya sendiri. Padahal, selama ini Gian selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan, terkadang lebih baik dan perhatian dibandingkan dengan Rinda, kekasih yang sudah jelas bertunangan dengannya.
Beberapa pengunjung laki-laki yang masih memiliki kesadaran penuh pun menghampiri mereka berdua. Tanpa diperintah pun, pukulan-pukulan sudah mulai mendarat di tubuh Gian.
"Sudah ... sudah! Tolong dibawa ke pos security, ya," ucap Cantika yang sedikit panik melihat kondisi Gian.
Ia bergidik ngeri ketika melihat ada darah mengalir di sudut mata dan bibir laki-laki yang pernah ia cintai. Ada rasa bersalah, tetapi dia tetap berpegang pada pendiriannya untuk meninggalkan Gian. Biar bagaimana pun, ada pamor yang lebih berarti dibandingkan hubungan percintaan yang belum tentu akhirnya akan bahagia itu.
***
"Pak tolong, ada orang mabuk masuk ke kos saya," ucap Della dengan napas yang terengah-engah.
Ia belum tahu bagaimana nasib Rinda yang posisinya ada di dalam kos. Perempuan itu sangat berharap agar sahabatnya melakukan rencana yang ia bisikkan sebelumnya.
Disebabkan karena gagal mencegah Gian, dirinya pun memutar otak untuk meminta pertolongan pada warga sekitar. Biasanya, di jam-jam malam banyak warga yang bercengkerama di depan rumah dan pos kampling.
"Kok bisa masuk? Kamu sendiri, ya, yang bawa ke sana?!" sahut bapak-bapak yang usianya belum cukup tua.
Alih-alih, segera menolong dan bergegas ke kos Della, bapak-bapak yang ada di pos kampling justru menjudge yang tidak-tidak. Della terlihat sedikit kesal, tetapi dia masih mencoba menahan amarahnya. Yang terpenting dalam benaknya saat itu adalah bagaimana supaya Gian bisa pergi dari kosnya.
"Astaghfirullah ... tidak mungkin saya meminta tolong kalau saya sendiri yang membawanya ke sana, Pak," jawab Della dengan sabar.
Para bapak yang di sana pun mulai percaya dan bergegas menuju kos-kosan yang ditempati Della dan Rinda. Mereka juga tidak suka jika ada mahasiswa yang berbuat kurang baik di lingkungan desa yang dekat dengan kampus. Bahkan, beberapa kos juga sudah menerapkan peraturan supaya tidak membawa lawan jenis ke dalam kos. Kalaupun ada kos yang membebaskan, itu berarti sudah ada kesepakatan khusus dengan perangkat desa setempat. Akan tetapi, sejauh yang Della ketahui, di lingkungan kosnya, para warga sangat membatasi pergaulan antar jenis di area kos-kos yang disewakan. Tidak jarang pula setiap malam bapak-bapak yang jadwal jaga, berkeliling ke seluruh penjuru desa.
Semua yang dilakukan semata untuk menjaga ketentraman desa. Beruntungnya, para mahasiswa juga mengerti dan menjalani peraturan itu dengan baik.
"Della! Della!"
Baru beberapa langkah dari pos kampling, Della mendengar teriakan yang sangat familiar di telinganya. Ia yang tadinya memimpin jalan menuju kos-kosan pun spontan mengehentikan laju larinya.
"Della!" teriak suara itu sekali lagi.
"Rinda!" Della terkejut ketika melihat sahabatnya yang sedang berlari seperti dikejar hantu.
Kelihatan sekali napas Rinda yang sudah tak beraturan. Ia juga terlihat menghentikan langkah sembari memegangi dada yang terasa sesak. Bulir keringat pun bercucuran di wajahnya.
Della pun langsung menghampiri sahabat yang sedari tadi dikhawatirkan. Dalam hati, ia akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu dengan Rinda.
"Sumpah ide kamu, Del," ucap Rinda dengan napas yang masih sangat sesak.
Della memutar bola matanya ketika mendengar kalimat dari sahabatnya. Ia tampak berpikir.
"Bagus dong kamu bisa keluar dari kos," sahut Della dengan gampangnya. Sebab, ia masih belum mengerti dengan maksut perkataan Rinda.
"Tapi, Dellaaaaa ... belakang kos itu semak-semak dan ada temboknya loh. Untung ada tangga tadi."
"Lah, aku lupa ... maaf ... maaf. Tapi, kamu gak papa kan? Gian belum sempat nemuin kamu kan?"
Alih-alih membawa sahabatnya ke pos kampling untuk duduk sembari mengatur napas, Della justru melontarkan banyak pertanyaan yang membuat Rinda sedikit kesal. Perempuan itu juga hampir lupa dengan bapak-bapak yang ia mintai tolong sebelumnya.
"Bodoamatlah, Del. Capek aku!" seru Rinda yang melangkahkan kakinya ke pos kampling.
Tentu saja ia ingin beristirahat sejenak. Badannya terasa sangat lelah. Tenggorokannya pun berasa ingin segera meminum banyak air putih.
"Jadi ke kosnya atau tidak, Mbak?" teriak salah satu bapak-bapak yang sedari tadi bengong melihat Rinda dan Della.
"Astaghfirullah, Della," gumam Della sembari menepuk dahinya.