Anne berdiri terpaku saat dia membuka pintu apartemen, berjalan masuk ke ruang keluarga apartemen tersebut dan melihat apa yang terjadi di ruang keluarga.
Touda Akira, pemilik apartemen yang meminta Anne satu jam yang lalu agar datang membawa laporan yang biasa Anne kerjakan untuk pria tampan yang baik hati itu, kini sudah bersimbah darah tergeletak di lantai dengan moncong pistol masih terlihat mengeluarkan asapnya mengarah pada jantung Touda.
Pria yang memegang pistol terkejut melihat ke arah gadis muda yang berdiri kaku di ruang tengah namun dia bisa dengat cepat menguasai dirinya dan begitu pula dengan dua orang pria di belakang pria yang memegang pistol langsung waspada menatap gadis dengan penampilan sangat biasa di depan mereka itu yang juga terlihat cuek, tidak ada ketakutan di wajahnya meski yang dia lihat adalah tindakan pembunuhan.
Mata Touda melotot menatap Anne, ingin mengatakan sesuatu namun hanya terdengar nafas kasar dari pangkal tenggorokannya beberapa kali sampai tubuhnya melenting kemudian diam tidak bergerak di lantai.
Anne berjalan santai mendekati pria yang menodongkan pistol yang baru saja menurunkan tangannya, membawa tas kerja yang di bawa Anne ke arah pria tersebut.
Kedua orang pria yang berpakaian hitam di belakang bergerak maju ingin menghalangi tapi pria yang di depan menahan mereka membiarkan Anne mendekatinya.
“Berikan bayaranku!” kata Anne memecah kesunyian.
Sang pria terus menatap Anne dari awal dia datang sampai berdiri dekat dengannya sekaligus berpikir siapa sebenarnya gadis muda tersebut, menilai apa hubungannya dengan Touda Akira yang terkenal hanya berhubungan dengan wanita-wanita cantik yang seksi saja, tapi wanita di depannya ini sangat jauh dari kata seksi, bahkan wajahnya sangat biasa, tidak cantik sama sekali.
Sang pria masih diam memandangi penampilan Anne tidak menjawab apa-apa.
“Dia berjanji akan membayarku hari ini, tapi Anda sudah membunuhnya. Jadi, Anda yang harus membayarku!” ujar Anne tak gentar sama sekali di bawah tiga pasang mata yang sangat tajam menatap dan memperhatikannya.
“Berapa?” terdengar suara bariton dari mulut pria yang di depannya, matanya tetap tidak berkedip menatap ke arah gadis muda yang tidak takut melihatnya meski sedang memegang senjata api di tangannya.
“500ribu Yen!” jawab Anne tegas.
Kedua alis pria di depan Anne terlihat bertaut dengan bibir terkatup rapat, menatap semakin tajam ke dalam mata Anne yang juga menatapnya tanpa takut sama sekali.
“Itu adalah bayaran dari pekerjaanku. Ini! Adalah pekerjaan yang dia pinta untuk aku kerjakan. Silakan!” Anne memberikan tas kerja ke hadapan pria di depannya.
Pria di depan Anne menerimanya, lalu menyerahkan tas kerja kepada kedua pria di belakangnya untuk di periksa.
Kedua pria di belakang segera mengambil tas kerja, membuka dan mengeluarkan kertas-kertas laporan yang sudah di kerjakan Anne. Mereka menghampiri pria yang di depan Anne dan membisikkan sesuatu di telinga sang pria.
“Anne Mary!” ujar sang pria memastikan nama wanita muda yang sangat mungil dan berani di depannya itu.
“Ya, itu namaku. Berikan uangku dan aku tidak punya urusan lagi dengan kalian semua” jawab Anne mengangkat dagunya membalas tatapan pria di hadapannya.
“Marcio Lamparska” sang pria mengulurkan tangannya ke arah Anne setelah menyelipkan pistol ke belakang pinggangnya.
Anne terlihat tidak peduli dan tentu saja dia tidak mau menjabat uluran tangan pria yang tidak dia kenal di depannya itu. Bagi Anne adalah dapatkan bayaran agar dia bisa berbelanja keperluan hidupnya, menyetok makanan di lemari atau membayar buku pedoman untuk tugas-tugas kuliahnya.
“Aku tidak peduli siapa namamu, berikan uangku karena ku tidak punya waktu untuk terus berada di sini!” tegas Anne berkedip sesaat tetap mengangkat dagunya menatap sombong ke arah pria yang berdiri tinggi menjulang di depannya.
Marcio memiringkan kepalanya, menjawab singkat “Oke!”
Marcio meminta salah satu pria di belakangnya untuk memberikan kartu namanya kepada gadis muda di depannya. Anne berdecak sinis melihat ke arah kartu nama tersebut karena alamatnya adalah alamat perusahaan Touda Akira yang Anne sudah sering keluar masuk di sana terkait pekerjaannya membantu pria tampan kharismatik yang sekarang sudah terbujur kaku di bawah kakinya.
“Anda ingin menipuku? CK!” desis Anne kemudian dia berbalik tidak mau membuang-buang waktunya lagi berhadapan dengan pria yang sepertinya tidak akan membayarnya tersebut. Anne harus pergi ke pekerjaan sambilannya di pom bensin yang menjadi pekerjaan sambilan Anne jika tidak ada pekerjaan dari Touda Akira, meski Touda mengatakan Anne tidak perlu melakukan pekerjaan apapun selain membantunya.
“Kami akan memberikan bayaranmu, Nona. Anda pantas mendapatkan bayaran dari pekerjaan Anda” ujar salah satu pria di belakang berkata pada Anne yang sudah berjalan mendekati pintu.
Anne tidak peduli, dia sudah hampir terlambat. Membuka pintu lalu segera pintu di belakangnya tertutup otomatis setelah Anne berada di luar. Anne segera berlari ke lift lalu memilih pintu keluar samping apartemen yang sangat sudah Anne hapal sekali rute dan jalurnya.
Gadis itu terus berlari dan menjauh sampai ke halte bertepatan bus menuju tempat kerjanya datang di halte. Anne duduk terengah-engah di dalam bus. Hatinya sangat kecut, perih dan sangat sakit. Pria yang di cintainya meregang nyawa di hadapannya, Anne tidak berbuat apa-apa untuk membantunya.
Touda Akira yang menjamin hidup Anne agar tetap bisa tinggal di Jepang dan melanjutkan kuliahnya kini sudah tidak ada lagi. Sungguh hati Anne sangat takut luar biasa saat menghadapi tiga pria bertubuh besar di unit apartemen Touda tadi akan tetapi Anne tidak mau terlihat lemah di hadapan mereka, Anne tidak mau terlihat lemah di hadapan siapapun.
Sudah lama sekali Anne tidak menangis mengeluarkan airmata, sekarang beberapa tetes airmatanya membasahi pipinya. Bahu Anne sampai bergetar menahan isak tangisnya.
Seorang anak kecil yang duduk di depan Anne, menyodorkan sapu tangan padanya.
“Arigatou” ucap Anne menerima sapu tangan tersebut dengan sedikit senyum di bibirnya yang di balas anggukan oleh anak kecil tersebut yang juga tersenyum.
Bus yang di tumpangi Anne sampai ke halte pom bensin tempat dia kerja sambilan. Anne sekali lagi mengucapkan terima kasih pada anak kecil yang memberikan sapu tangan padanya, membungkukkan badannya hormat lalu turun dari bus. Dari luar bus pun Anne kembali mengucapkan terima kasih menatap ke jendela yang anak kecil tersebut juga menatap ke arah Anne, Anne menundukkan kepalanya kembali pada anak kecil itu. Ini adalah adat dan tradisi orang Jepang dalam mengucapkan terima kasih, minimal di ucapkan tiga kali.
Anne segera mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria yang tadi memegang pistol di apartemen Touda Akira sudah berada di tempat kerjanya. Pria itu duduk dengan santainya di satu-satunya kursi panjang di ruangan ganti pakaian karyawan tempat Anne bekerja. Pria itu terus memperhatikan Anne yang segera meng-scan sidik jarinya melakukan absen.
“Anda hampir terlambat, Nona!” ujar sang pria yang di abaikan oleh Anne karena Anne segera berlalu pergi untuk bekerja.
Selama dua jam Anne bekerja di pom bensin, akhirnya gadis itu kembali ke bilik loker untuk mengganti pakaiannya. Anne tidak melihat orang asing yang dia temui di apartemen Touda Akira lagi di loker ataupun di tempat kerjanya.
Anne berjalan menuju kombini terdekat dengan pom bensin, ingin membeli makanan dan minuman hangat sebelum pulang ke apartemennya karena cuaca mulai dingin dan malam mulai turun.
Saat Anne akan membayar pesanannya, dari arah belakangnya menjulur tangan yang juga meletakkan sepaket makanan di depan meja kasir.
"Saya yang bayar semuanya" ujar suara bariton itu cepat ke kasir kombini.
Meski terkejut, Anne berusaha secuek mungkin.
"Anda mengikuti ku?" ketus Anne tanpa melirik ke belakangnya tapi Anne tahu dari suara langkah kaki pria itu terus mengikutinya.
"Marcio. Namaku Marcio Lamparska. Kamu bisa memanggilku Marcio" ujar Marcio mensejajarkan langkahnya dengan gadis di depannya itu.
"Tidak perlu mengikutiku, aku tidak akan melaporkan kalian" tutur Anne yang tetap menatap lurus ke depan.
Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka, terlihat mengernyit menatap ke arah Anne dan Marcio. Wajar saja, Anne yang memiliki penampilan sangat biasa dengan wajah kusam, tanpa kosmetik ataupun lipstik yang menghiasi wajah gadis muda pada umumnya berjalan berdampingan dengan pria tampan, wajah menawan, body atletis, kaki panjang dan pakaian yang di pakainya terlihat dari brand mahal.
Anne tidak pernah peduli apapun dan bagaimanapun pendapat orang lain terhadapnya. Dia dengan santai menyesap minuman hangatnya sambil meredakan getaran ketakutan dalam hatinya.
"Besok siang kamu di tunggu di alamat itu" ujar Marcio memberikan kembali kartu namanya yang sebelumnya Anne letakkan kembali di atas meja di apartemen Touda Akira.
"Aku ada kuliah, tidak bisa datang!" jawab Anne tegas.
"Dan jangan mengikutiku lagi!" lanjut Anne sambil memasukkan tangannya ke dalam jaketnya, berjalan cepat menuju halte perhentian bus yang tidak lama kemudian bus tujuan ke arah apartemen Anne datang.
Anne bernafas lega karena di lihatnya pria asing bernama Marcio tersebut tidak mengikutinya naik ke dalam bus.
Anne naik ke lantai apartemennya, apartemen yang lumayan mahal untuk di tempati oleh seorang gadis yang sekarang sepertinya sudah tidak memiliki penghasilan besar tersebut. Beasiswa Anne di salah satu universitas swasta di Tokyo hanya meng-cover biaya kuliahnya saja.
Untuk tempat tinggal dan biaya hidup, Touda Akira yang rutin memberikan Anne uang sebagai bayaran atas upah Anne membantu pekerjaannya.
Anne membantu pekerjaan Touda seperti membuat presentasi, analisis laporan perusahaan, membuat tabel perencanaan juga jadwal Touda di perusahaan.
Kemampuan otak Anne yang sangat jenius ini di ketahui Touda Akira saat dia menjadi guru pembimbing Anne sewaktu gadis itu membutuhkan guru bimbingan dalam tugas sastra Jepang yang menjadi jurusan Anne. Saat itu ekonomi Anne masih sangat stabil, kiriman uang dari Jakarta lebih dari mencukupi tapi sejak Papanya meninggal, semua keuangan Anne terhenti. Touda memberikan bantuan, membayar sewa apartemen dan biaya hidup Anne tetap seperti biasanya. Anne hanya perlu membantu pekerjaannya yang hasilnya selalu memuaskan Touda terutama kehebatan Anne dalam menganalisis laporan, termasuk laporan keuangan.
"Ann, kamu ada di hubungi Akira? Dia sudah di Tokyo dari kemarin tapi Hp nya masih mati" Sayuri orang yang memperkenalkan Anne pada Touda sudah menunggu di depan pintu apartemen Anne 15 menit yang lalu.
"Tidak ada. Ayo masuklah" ujar Anne datar mempersilakan wanita Jepang yang lebih dewasa itu masuk ke dalam apartemennya.
Anne menghidupkan lampu apartemennya, dan betapa terkejutnya kedua wanita itu ketika melihat pria yang sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa apartemen Anne. Marcio Lamparska.
"Och, kamu tidak bilang sedang ada tamu. Saya akan pergi sekarang. Maaf Ann" pekik Sayuri kaget saat melihat pria tampan yang tidur di sofa apartemen Anne tersebut.
"Sejak kapan kamu punya pacar, Ann? Dia sangat tampan!" bisik Sayuri mencekal lengan Anne sambil berjalan keluar kembali.
Anne hanya diam tidak menjawab apa-apa tapi mengerti jika maksud tersembunyi ucapan Sayuri adalah pria itu tidak cocok dengan Anne yang jelek. Setidaknya begitulah orang-orang memanggil Anne, gadis jelek.
"Besok aku libur kerja, aku akan pergi ke kantor Akira. Lembaga bimbingan bertanya padaku karena hari ini dia tidak datang mengajar, Hp-nya tidak aktif. Apakah kamu ada pesan untuknya? Emm, maksudku biaya bulananmu apakah sudah di transfer olehnya?" tutur Sayuri yang telah memakai jaket panjang dan alas kakinya masih berdiri di depan pintu menatap Anne dengan tatapan misterius.
"Uhm, sudah di transfer. Semua pekerjaan sudah ku kirimkan via email. Nanti kalau dia menghubungi ku akan ku beritahu kalau Sayuri san mencarinya. Selamat malam. Hati-hati di jalan." Anne menjawab tenang dan ekspresi wajah datar seperti biasanya.
"Selamat malam. Terima kasih. Selamat bersenang-senang!" balas Sayuri mengedipkan sebelah matanya ke Anne.
Itu adalah terakhir kalinya Anne bertemu dengan Sayuri karena sejak kepergiannya dari apartemen Anne, dia tidak pernah sampai ke apartemennya dan Hp-nya juga mati tidak di hubungi juga lokasi terakhirnya terlacak ada di gedung apartemen yang Anne tempati.
"Bagaimana Anda bisa masuk ke sini?" tanya Anne yang tahu kalau pria yang duduk di sofanya itu hanya pura-pura tidur.
Anne berjalan ke dapur, memindahkan makanan yang tadi dia beli di kombini ke piring dan membawanya kembali ke ruang tengah, duduk di sofa lalu mulai memakan makanannya.
Meski kejadian tadi siang masih sangat membekas ngeri dalam hati, tapi Anne berusaha bersikap wajar seakan tidak pernah melihat kejadian pembunuhan itu.
Marcio membuka matanya perlahan, mengeluarkan kartu akses dari kantong kemejanya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Anne.
"Kamu sudah tidak aman di sini, bekerjalah untukku" ujar Marcio sambil berjalan ke dapur.
Pria dewasa itu mengambil minum dan juga menuangkan makanannya ke piring lalu ikut duduk di sofa di depan Anne. Dia seakan berada di apartemennya sendiri.
"Siapa wanita yang bersamamu tadi dan apa hubungannya dengan Touda?" tanya Marcio sambil mengunyah chicken katsu karinya.
"Jika kamu bisa masuk ke apartemenku dengan mudah, pastinya kamu juga tau apa hubungan wanita tadi dengam Touda Akira! Kenapa masih bertanya?" jawab Anne sinis.
Sepertinya Anne tidak akan pernah bisa berbicara baik-baik dengan pria di depannya itu. Kepentingan pribadinya sudah sangat terganggu.
"Kamu memang jenius sudah bisa menduganya" ujar Marcio menaikkan satu sudut bibirnya tersenyum menyeringai.
"Selesai makan, silakan pergi dari sini atau kamu juga ingin membunuhku?" tutur Anne sambil berjalan ke wastafel, mencuci piring bekas makannya.
"Aku tidak bilang akan membunuhmu tapi bekerjalah untukku" jawab Marcio sambil berdiri dan mencekal lengan Anne kencang.
"Anda menyakitiku!" Anne mengerahkan kekuatan di kakinya dan menginjak kencang kaki Marcio.
"Brengsek, gadis jelek! Aku sudah memperingatimu!" maki Marcio yang merasa kebas di kakinya.
Sudut bibir Marcio tersenyum, "Tenaga gadis jelek ini lumayan juga" bathinnya.
"Cuci piringmu! Kamu datang ke sini, menggunakan piring bersihku. Jadi cuci piring yang kamu kotori!" teriak Anne yang melihat Marcio meletakkan piring bekas makannya di wastafel tanpa dia cuci.
Pertama dalam hidup Marcio ada orang yang berani berteriak padanya dan pertama kali juga baginya dia mencuci piring di umurnya yang sudah 30 tahun.
Selesai Marcio mencuci piringnya, Anne menyeret pria itu agar keluar dari ruangan apartemennya lalu mengunci pintu apartemennya dengan kunci rangkap.
Anne tidak bisa tidur semalaman. Di pikirannya berkelebat bayangan Touda Akira yang melotot menatapnya dengan bibir yang bergetar mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak Anne mengerti. Kedatangan Sayuri ke apartemennya juga kehadiran Marcio yang sangat Anne benci di dalam hatinya yang sudah sangat mengganggu privasinya.
Anne bangkit dan duduk di atas meja yang bisa di jadikan tempat duduk sesuai kebutuhan di depan jendela. Malam sudah semakin larut, jalanan masih ramai akan kendaraan yang lalu lalang. Anne menatap jauh melewati jendela, ke ujung pandangnya di mana terlihat rumah-rumah yang sangat padat di pusat kota Tokyo.
“Aku sudah tidak bisa tinggal di sini lagi dan harus mencari pekerjaan tambahan.” bathin Anne sambil menghela nafas dalam dan membuangnya kasar.
Apartemen Anne termasuk apartemen yang mahal di kawasan Tokyo dengan privasi yang juga sangat tinggi. Tapi tadi sore dengan mudahnya Marcio bisa duduk manis di sofanya padahal apartemennya dalam keadaan terkunci. Anne berpikir bukan hal yang tidak mungkin jika Marcio melakukan sesuatu pada staff receptionist sehingga memberikan kunci akses unitnya kepada pria yang tidak mau Anne mengakuinya jika Marcio sangat tampan.
Anne bangkit dari duduknya, mengambil tas ransel ukuran sedang lalu memasukkan beberapa potong pakaiannya ke dalam tas ransel beserta dokumen pribadinya.
“Besok pagi aku akan mengambil uang cash, aku harus pergi dan butuh uang cash!” gumam Anne yang akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Segera gadis malang tersebut terlelap masuk ke alam mimpi.
Anne terbangun saat pemandangan di luar jendela sudah terang benderang. Segera gadis itu berjalan ke kamar mandi untuk gosok gigi dan bersiap kuliah pagi.
“Apakah tidurmu nyenyak?” sapa Marcio saat Anne baru saja memasuki lift yang di tahan seseorang pintunya agar tidak tertutup.
Marcio berlari masuk dan berdiri di samping Anne. Anne tidak menjawab pertanyaan Marcio, berusaha cuek dan tidak mengenalnya.
“Sebentar lagi tidurmu pasti tidak akan nyenyak.” Lanjut Marcio yang sedikit menunduk mengatakannya tepat di kuping Anne.
Anne melirik ke samping ke arah Marcio dan memutar bola matanya malas.
“Apakah kamu juga akan mengikutiku ke kampus tempat ku kuliah?” sarkas Anne bertanya yang di jawab Marcio dengan gerakan alisnya ke atas.
“Aku bahkan akan mengikuti mu naik bus dan jika di perlukan aku akan ikut belajar dengan mu di kelas.” tutur Marcio santai.
Anne berdecak dan mendengkus kesal pada Marcio.
“Kamu ternyata sangat senggang Mister … Tapi kehadiranmu mengotori udara yang ku hirup!” ketus Anne dengan sudut bibir naik sedikit, senyuman sinis.
“Marcio Lamparska! Itu namaku, ingat baik-baik siapa tau nanti kamu membutuhkannya. Justru kehadiranku bisa menyegarkan udara dan pikiranmu. Aku tampan, tinggi dan juga kaya. Kamu harus bangga padaku, karena aku yang menginginkanmu bekerja untukku. Tidak sembarang orang loh bisa menarik perhatian seorang Marcio Lamparska!” jawab Marcio menahan senyum di bibirnya menatap Anne yang terlihat sangat kesal mendelik tajam padanya.
“Kamu benar, Mister Lemper. Perutku lapar dan sedang ingin makan lemper sekarang. Jika kamu ingin aku bekerja untukmu, belikan aku lemper sepuluh biji, aku akan mengikuti apapun yang kamu perintahkan padaku. Sekarang pergilah karena jika tidak, aku mungkin akan mencoba pertama kali dalam hidupku memakan dan menguliti manusia tampan sepertimu!” ucap Anne tanpa ekspresi. Sedangkan Marcio langsung merekam kata lemper di otaknya. Sangat mudah baginya untuk mendapatkan sesuatu di manapun apalagi di Jepang tapi dia tidak pernah tahu jika lemper bukan sesuatu ataupun ada di Jepang. Hanya ada event mengenai kebudayaan Indonesia, lemper tersedia.
Marcio meninggalkan Anne ketika gadis itu menaiki bus menuju kampusnya. Meskipun wajah Anne tidak menarik matanya akan tetapi kejeniusan dari gadis itu yang sudah menarik minatnya. Dan Marcio akan melakukan apapun agar gadis muda tersebut mau bekerja dan tunduk serta loyal padanya.
**
Anne selesai dari perkuliahannya dan bersiap langsung pergi ke tempat dia kerja sambilan di pom bensin. Marcio sudah duduk menunggunya di tempat ganti baju.
“Kamu sengaja mencurangiku, tidak ada lemper di Jepang!” protes Marcio kesal karena sudah merasa di permainkan oleh gadis muda di depannya itu.
Anne hanya mengangkat bahunya santai, lalu berjalan ke lokernya dan berpura-pura ingin membuka pakaiannya di hadapan Marcio yang di tanggapin pria itu cuek tidak bergeming dari duduknya, terus menatap dan memperhatikan Anne.
“Kenapa tidak jadi ganti pakaianmu? Aku tidak keberatan jika kamu mau memperlihatkan aset tubuhmu padaku.” sarkas Marcio yang di balas dengkusan Anne, lalu gadis itu berlalu ke bilik tempat ganti pakaian untuk menggunakan jumpernya yang longgar, seragam untuk pada pekerja di pom bensin.
Selesai ganti pakaian, Anne memerintahkan Marcio agar tetap di tempat duduknya. Anne pergi ke luar dan beberapa menit kemudia dia kembali dengan membawa jumper di tangannya yang dia lemparkan ke pangkuan Marcio.
“Aku sepertinya akan menerimamu menjadi pengawalku, ketimbang kamu duduk bengong sendiri di sini, mari ikut bekerja denganku!” ujar Anne sinis.
Marcio memperhatikan dan membolak-balik kantong seragam jumper berwarna coklat di tangannya. Keningnya berkerut akan tetapi sudut bibirnya tersenyum lucu.
“Oke, baiklah” jawab Marcio sambil berjalan ke bilik tempat tadi Anne ganti pakaian.
Anne sedang memasukkan pipa ke tangki mobil, lalu mengambil kain lap bersih serta semprotan cairan pembersih yang wangi untuk membersihkan jendela mobil yang sedang di isi bahan bakar tersebut. Ini adalah standar untuk pekerjaan di pom bensin. Mengisi kendaraan dengan bahan bakar kemudian membersihkan kendaraannya meskipun kendaraan tersebut terlihat bersih. Bukan hanya jendela yang di bersihkan akan tetapi seluruh body kendaraannya juga.
Ketika Marcio datang, Anne bersama dua teman pria yang juga sedang part-time terkikik melihat pria yang sangat tidak pantas memakai seragam jumper seperti mereka. Jumper yang di pakai Marcio terlihat mengatung untuk tungkai panjangnya dan begitu juga dengan lengannya tidak sampai di pergelangan tangannya. Jangan di bayangkan bagaimana penampakan selangkangannya yang sedikit mengetat.
Anne bahkan berusaha menggigit bagian dalam bibir bawahnya agar tidak tertawa saat bekerja. Karena pelanggan bisa menganggap lelucon pada saat bekerja adalah bentuk ketidak sopanan. Orang Jepang sangat menghargai orang lain, menertawakan keadaan orang lain adalah hal yang kurang sopan. Apalagi pelanggan bisa menjadi salah paham.
Anne menyuruh Marcio untuk melakukan pekerjaan bersih-bersih saat dirinya mengisi bahan bakar ke dalam mobil. Tanpa di duga Marcio mendapat uang tip yang cukup besar setelah dia mengelap jendela mobil yang sedang di isi bahan bakarnya oleh Anne.
“Aku pikir kamu kaya, uang tip 10.000 Yen kamu ambil juga dengan cepat. Ck!” celetuk Anne saat Marcio memamerkan lembaran uang 10.000 Yean pada Anne setelah kendaraan pelanggan yang memberinya uang tip itu berlalu pergi.
“Tentu saja aku sangat kaya, tapi ini adalah pekerjaan pertama yang ku lakukan tidak dengan sukarela. Ikutlah bekerja untukku, aku berjanji akan membayarmu jauh lebih mahal dari Akira berikan padamu”
“Dalam mimpimu!” jawab Anne ketus.
Sebuah mobil datang memasuki pom bensin, Marcio langsung menarik lengan Anne untuk bersembunyi.
“Apa yang kamu lakukan!” teriak Anne yang tertahan karena tangan besar Marcio sudah membekap mulutnya.