"Kamu yakin mau Ke kota?" tanya seorang wanita paruh baya, yang membuat wanita yang berumur 24 tahun itu tersenyum sambil merapihkan pakaiannya ke dalam tas.
"Yakin lah Bu, masa enggak? Ini aku lagi ngapain keliatannya!?" balas anaknya, yang baru saja menutup tas hitam itu.
"Tapi ibu masih takut gitu loh, kamu kan baru aja sembuh."
"Bu! Itu udah bertahun-tahun lalu, emang ibu mau aku sakit terus?" tanya wanita yang bernama Safira itu, ia tau ibunya sangat menyayangi karena dia anak satu-satunya, namun ekonomi membuat dia harus melakukan ini.
Karena ayahnya yang sudah meninggal mengharuskan wanita paruh baya itu bekerja lebih keras untuk menghidupi dia juga, dan ia sama sekali tak ingin merepotkannya.
Mendengar kabar bahwa temannya memiliki lowongan pekerjaan di kota, membuat Safira memutuskan untuk ikut menyusul temannya tersebut untuk menyambung hidup.
Kecelakaan yang membuat hilang ingatan sebagian, membuat dia sering sakit kepala jika berpikir terlalu keras membuat ibunya itu masih saja khawatir.
"Enggak sih, Fira! Tapi ibu takut."
Tangan yang mulai mengkriput itu Safira pegang, guna meyakinkan orang yang sudah berjuang seorang diri demi menghidupinya. "Bu! Percaya sama aku! Aku janji kalau aku punya uang banyak, aku bakalan bawa ibu jalan-jalan!"
Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca sambil menggenggam erat tangan anak gadisnya. "Ibu gak minta apa-apa, ibu mau kamu pulang dengan keadaan sehat!"
Safira yang melihat itu hanya mengangguk. "Ibu sering aja bawa hpnya! Nanti aku telepon kok kalau ada waktu."
"Kamu janji ya sama ibu!"
Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum, dia pun memeluk tubuh kecil ibunya, sambil sesekali mengecup kepalanya seperti yang ibunya lakukan waktu kecil dulu.
.
.
Safira menoleh ke sana kemari mencari wanita seumuran dengannya guna menjemput. Dengan membawa sisa uang 100 rb lagi Safira yakin hal itu tak cukup makan sampai 3 hari kedepan, apalagi mahalnya harga di Jakarta membuat gadis itu memutar otak agar tidak boros.
Sekarang dia masih ada di terminal bus, banyaknya orang yang ke sana kemari membuat Safira agak pusing. Bahkan di hp kecilnya itu telepon yang ia hubungkan untuk temannya tersebut tak kunjung diangkat.
"Kemana sih tuh orang?"
Cukup lama ia menunggu, batang hidung temannya itu tak kunjung terlihat membuat Safira menggaruk kepalanya tak gatal, ia berharap ini bukan tipuan, tapi mengingat mereka sekampung ia masih yakin kalau sebentar lagi temannya tersebut datang.
Saat sedang terdiam, tiba-tiba tasnya juga hp jadulnya dibawa membuat Safira kaget dan sontak berteriak. "Copet! Copet!"
Safira berusaha mengejar bersama beberapa orang yang ikut membantu, namun sialnya di tengah perjalanan, pria copet itu menaiki sepeda motor milik temannya yang membuat nasib sial benar-benar berpihak pada Safira.
"Tasku!" ucapnya yang seperti menangis, niat hati ingin mencari uang, malah ia kehilangan uang juga ponselnya bahkan baju dan yang lain.
"Sabar ya mbak! Di sini emang rawan copet, ada beberapa yang kekejar, tapi ya kayak gitu ada juga yang enggak, maaf ya mbak gak bisa bantu!"
"Iya maaf ya!" ucap yang lainnya, membuat Safira mengangguk pasrah.
"Iya gak apa-apa, bapak-bapak, makasih juga udah bantu tadi," ucap Safira yang tak tau lagi harus apa, setelah mereka pergi wanita itu hanya menyenderkan diri di tembok, mengingat nasib apes yang ia rasakan saat ini.
Sekarang ia tak dapat lagi menelpon ibunya dan uangnya makanannya sudah tidak ada, sekarang ia harus bagaimana?
Ya Allah! Kenapa cobaan engkau berat sekali? tanya Safira di dalam hati.
Karena tak tau harus apa, wanita itu berjalan lesu sambil menyusuri jalan yang ada, berharap ada lowongan kerja yang menerima gadis malang yang sedang apes ini.
Sambil berjalan pelan, matanya menatap penuh lapar pada jejeran masakan pada yang terlihat di dinding etalase dagangan, yang membuat dirinya menjadi sangat lapar, tapi ia tak punya uang.
Saat sedang meratapi nasib, Safira di buat kaget dengan sesosok pria berjas hitam rapih berdiri tepat di sampingnya, sambil memandang etalase makanan. "Lapar?"
Safira terdiam sebentar memandang mahluk ciptaan tuhan yang amat indah, jika di gambarkan mirip seperti taburan bintang di kegelapan malam, indah namun dingin.
Wanita itu menggeleng. "Enggak kok, saya gak punya uang mas!"
Wajahnya yang mulus nyaris tanpa noda itu memancarkan kebingungan. "Mas?"
Safira kembali terdiam, apa dia terlalu tua memanggilnya? Atau lebih muda lagi? "Maaf saya gak tau umur mas berapa, jadi saya panggil gitu?"
"Kamu gak ingat aku?" tanya pria itu yang membuat Safira terdiam, jika ia mengingat-ingat sekarang maka sakit kepalanya yang sudah lama tak kambuh akan muncul kembali, apalagi obatnya raib juga bersama barang-barang lainnya.
"Maaf mas siapa ya?" tanya Safira yang berkata jujur, ia sangat memohon pada pria datar ini untuk tidak memaksanya mengingat.
Tiba-tiba suara gemuruh perut terdengar, Safira memegang perutnya sambil menyerinyit kearah samping, dia amat malu di saat seperti ini, apalagi orang di depannya sangat tampan.
"Masuk kedalam, kita bicarakan setelah kamu makan!" ujar pria itu yang masuk terlebih dahulu, sebelum Safira menjawab.
Jika di suruh bayar masing-masing dia harus apa?
"Safira!" panggil pria itu dengan suara bassnya, membuat Safira bingung sekaligus bergegas masuk.
.
Di dalam Safira memesan banyak makanan, yang sekiranya muat, apalagi mendengar pria itu akan membayar semuanya.
Saat sedang makan dengan tangan yang kotor, dia menatap pria di depannya dengan bingung, namun sebaliknya pria itu hanya menatapnya datar. Tentu saja Safira yang diperhatikan, menghentikan aktifitas sebentar, karena tak enak hati.
"Masnya gak makan?" tanya wanita itu dengan gugup.
"Kamu makan saja, aku baru saja makan tadi."
Wanita yang memiliki tampang tidak terlalu cantik, namun memiliki kulit mulus kuning Langsat yang cerah terkadang menjadi daya tarik para pria. Walau seperti ini, tak jarang para pejabat desa meminangnya guna dijadikan istri kedua atau lain semacamnya.
Mengingat itu semua, nyeri kepalanya kembali terasa. "Maaf sebelumnya, saya gak tau masnya siapa tapi saya bener-bener gak bisa inget saat ini."
"Kenapa?"
"Saya pernah kecelakaan beberapa tahun silam, benturan keras itu membuat saya kehilangan hampir semua ingatan saya, dan ketika berusaha mengingat, kepala saya akan terasa sakit, jadi maaf sekali ya mas, tapi nanti saya kan mau kerja, saya akan ganti semuanya, saya janji kok!"
Terlihat tangan pria itu mengepal kuat, namun tatapan masih sama, membuat Safira merasa ada yang salah dalam kalimatnya. Tak lama pria itu mengangguk paham, walau tangannya saat ini di turunkan agar tidak membuat perhatian.
"Dexter! Dexter Jackson!" balas pria itu, yang membuat, Safira terdiam.
Suara nyaring yang biasanya terdengar bila dia mengingat sesuatu, kembali terdengar, membuat dia menutup kupingnya dengan wajah meringis. Beberapa Bayangan kabur terlihat membuat kepalanya serasa ingin pecah.
Mata Safira perlahan membuka, terlihat ruangan yang di dominasi putih membuat wanita itu semakin membuka lebar matanya, tubuhnya bangkit dari tidur dan melihat tangannya yang sedang di berikan cairan infus.
"Kenapa aku ada di sini?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tak lama terdengar suara langkah kaki, yang membuat Safira bingung sekaligus penasaran, hingga pria yang membawanya makan itu terlihat berjalan sambil menatapnya datar.
"Sudah mendingan?" tanya Dexter yang menaruh plastik yang berisikan macam-macam buah-buahan di meja samping ranjang.
Setelah itu dia duduk di kursi samping ranjang, yang membuat Safira bingung.
"Jika memang sakit! Jangan mengingatnya lagi!" ujar pria itu, yang mengambil salah satu buah dan mengupasnya dengan pisau.
"Maaf ya jadi repot-repot, mas Dexter! Biasanya saya kalau sakit kepala minum obat, tapi saat di halte tadi saya kecopetan, uang, hp bahkan pakai saya raib. Padahal saya ke sini buat mau kerja."
Satu potong apel, Dexter berikan Padanya, Sontak membuat wanita itu buru-buru menerimanya dan memakan pemberian itu , walau ia tak tau pria di depannya ini siapa, seperti dia begitu dekat dengannya hingga pria itu amat baik padanya.
"Kerja?"
Safira mengangguk dengan mulut penuh dengan apel yang diberikan Pria itu tadi.
Dexter memberikan beberapa potong apel lagi ke pada Safira dengan menggunakan piring.
"Kamu tau di mana tempat kerjanya?"
"Gak tau mas, pas saya di halte bus saya udah telepon temen saya tapi gak diangkat."
Satu potong apel itu Safira makan lagi, rasanya renyah dan manis membuat dia merasa puas, tapi mengingat semua kebaikan pria itu, ia jadi merasa tidak enak. "Mas, sebelumnya makasih ya atas semuanya, saya gak tau hubungan saya sama mas apa, apa mungkin teman lama ya? Tapi nanti saya janji kalau saya punya uang, saya bakal traktir masnya deh."
Dexter sekarang meletakan jeruk yang sudah dia kupas dengan mimik datar. "Gimana kalau kamu ganti sekarang?"
Wanita itu terdiam, ia tak paham apa yang pria di depannya bicarakan. Ia kira kebaikan ikhlas, namun kenapa ia merasa di tatapan datarnya pria itu seperti sedang menyembunyikan kesedihan. "Ma-maksud masnya apa?"
"Kamu kerja di tempatku."
"Jadi apa?" tanya Safira, ia masih mencoba menyakinkan dirinya, agar percaya pada pria yang terlihat tanpa ekspresi itu.
"Pembantu, tapi jika aku berangkat kerja kamu ikut ke kantor untuk jadi OB mau?"
Safira berpikir sebentar, lalu takut-takut menatap Dexter. "Jadi kerjaannya dobel begitu?"
"Yah, kamu mau gaji berapa?" tanya pria itu, yang membuat Safira heran.
"Kan mas Dexter yang mau ngegaji saya, kok nanya sih?"
Tak lama pria itu mengambil sejumlah uang di dompetnya, terlihat ada foto seseorang di sana tapi tak nampak jelas. Setelah mengambil beberapa lembar itu, dia meraih tangan Safira dan meletakan uang itu di sana. "Ada dua juta, kalau kamu merasa kurang, aku akan narik saldo di ATM."
Saat Dexter hendak pergi, tangan Safira mencegahnya, membuat pria itu sekarang menoleh dan kembali duduk. "Kenapa?"
"Kayaknya udah cukup deh mas! Ini udah aja kebanyakan!"
"Yakin?"
Safira mengangguk, dia merasa tak enak bila mana menambah bayaran untuk kerja yang mungkin tidak seberapa. "Iya mas, Udah cukup kok, hhhmm tapi mas kalau masalah tempat tinggal dan makan di tanggung mas Dexter kan?"
"Kamu tidur di rumahku!"
"Rumah mas Dexter, banyak keluarga ya? Udah punya keluarga ya mas? Udah punya anak belum?"
"Aku masih sendiri," balasnya Singkat yang membuat Safira terdiam, tunggu! Kalau sendiri itu artinya ia dan Dexter hanya berdua? "Kenapa? Takut?"
Karena tak ada pilihan lain, Safira menggeleng. Dia harus membuang pikiran jeleknya, dari mimik wajah datar itu tak terlihat seperti orang jahat, tapi tak ada salahnya kan waspada. "Mau kok mas, mau. Karena saya juga bingung mau kemana, saya ikut masnya aja deh."
"Kalau gitu, setelah pulang dari rumah sakit kamu ikut aku!" Mendengar ucapan itu, Safira hanya mengangguk sambil tersenyum.
.
.
Pintu mobil terbuka memperlihatkan pemandangan halaman ruang yang minimalis, namun tinggi menjulang. Sekitar ada 2 lantai yang terlihat, warna coklat klasik menambah kesan cantik di bangunan tersebut.
"Mas Dexter tinggal sendiri?" tanya Safira sambil menatap sekitar, rumah ini berada di pertengahan kompleks, yang besar bangunan hampir sama dengan yang dimiliki pria itu.
"Hhhmm."
"Rumah mas besar loh padahal."
"Seramai-ramainya sebuh rumah, kalau kita gak menemukan kebahagiaan buat apa tetap tinggal bersama?" tanya Dexter, yang membuat beberapa barang dari mobilnya, membuat Safira sontak menoleh kearah dengan mimik mencerna semua perkataan pria itu. "Ayo masuk!"
Mendengar suruhan tersebut, Safira segera masuk. Walau ia takut ada tetangga yang bicara macam-macam tentang mereka, mengingat wanita dan pria tidak boleh seatap kecuali sda ikatan pernikahan.
"Tenang aja! Tetangga di sini mayoritas pengusaha dan pebisnis, jadi mereka jarang ada di rumah."
Safira mengangguk paham, tapi kenapa pria itu bisa tau apa yang dia pikirkan?
Saat masuk Safira menatap sekitar, ruangannya cukup mewah namun ada beberapa hal kuno yang membuat terlihat unik. Saat hampir sampai di dapur, pria itu berhenti di sebuah pintu yang membuat Safira penasaran.
Terlihat sebuah kasur kecil, lemari pakaian yang lumayan besar dan kipas angin berdiri, seperti ini kamar untuknya. "Ini kamar buat saya ya mas?"
"Iya, kamar di sini cuma ada 3 termasuk kamarku yang di atas, dan kamu kehilangan baju juga kan?"
Safira mengangguk, dia bingung harus bagaimana dengan baju sekarang ia pakai, walau pria di depannya ini sudah mencucinya di tempat londri, tapi masa ia harus memakai sampai beberapa kedepan?
"Di Lemari itu ada beberapa setelan yang bisa kamu pakai! Kamu paham?"
"Iya mas, paham."
"Kalau gitu aku mau ke atas, kamu kalau mau bebersih silahkan, tapi nanti besok sekitar jam 8 pagi kita ke kantor, kamu paham kan, Safira?"
Wanita berumur 24 tahun itu mengangguk paham. "Iya mas."
"Jangan begadang!" ujar pria itu lagi, sebelum benar-benar naik ke atas tangga.
Setelah tak melihat lagi wujud Dexter, Safira yang merasa tak enak hati jika harus beristirahat memilih melangkah kaki ke dapur, terlihat dapur cantik yang tak kalah mewah dari rumahnya.
Terlihat beberapa piring kotor, sampai juga lantai yang kusam, membuat Safira tersenyum. Ia akan bekerja keras mulai sekarang dan membuat ibu juga pria yang sudah banyak membantunya merasa bahagia atas hasil kerjanya.
Walau ia agak merasa sedih karena tak dapat mengingat apapun tentang pria itu, tapi ia akan memeriksa kondisi lagi, agar cepat sembuh dan mengingat semuanya, ia berjanji untuk itu.
Tok tok tok!
Suara ketukan di pukul 9 malam, membuat yang berada di dalam menatap pintu lalu melihat lagi pekerjaan yang ada di layar laptopnya.
"Mas! Ini saya!" panggil Safira, yang membuat Dexter bangkit dari tempat tidurnya.
Pintu terbuka menampakkan pria tampan itu, yang memakai setelan biasa, berupa kaos juga celana pendek berwarna biru tua. "Ada apa?"
Tak lama satu piring nasi goreng, Safira berikan pada pria tampan itu, yang tentu saja membuat Dexter menatap piring itu dengan tak minat.
"Ini udah malem, kan kita pulang sore nih mas, jadi saya buat makanan pengganjal perut, karena di kulkas mas gak ada apa-apa jadi saya buat itu aja!"
"Sebenarnya aku gak terlalu lapar, tapi makasih," balas. Dexter yang hendak kembali masuk, namun di tahan oleh Safira. "Kenapa lagi?"
"Mas mau sarapan apa nanti pagi? Saya juga mau nanya pasar, mau belanja makanan, kasian kulkas mas Dexter, udah bagus gede tapi gak ada isinya."
"Ada roti di lemari atas dekat kompor juga selai coklat, kamu gak perlu masak apapun nanti lagi! Oh iya urusan belanja nanti habis pulang dari kantor kita ke supermarket dulu! Kamu paham!"
Safira mengangguk pelan, walau ia agak ngelag dengan apa yang pria itu terangkan tapi nanti juga ia akan langsung paham.
"Ada lagi yang mau di tanyain?"
Kepala wanita itu menggeleng. "Enggak kok mas, saya mau ke bawah lagi, mau tidur."
"Hhhmm, jangan sampai kecapean!" ujar Dexter, yang setelahnya benar-benar masuk kedalam kamar, Safira yang melihat itu hanya tersenyum, pria itu tidak senyum saja sudah tampan, apa lagi jika tersenyum? Kenapa dia tidak pernah memperlihatkannya?
.
.
Suara langkah kaki dari arah tangga membuat Safira yang sedang mengelap meja menoleh, terlihat Dexter yang memakai setelan jas biru turun dari atas dengan perlahan, wanita itu tak dapat menghindari pesonanya, apalagi mengingat pria itu begitu tampan.
Tangan besar Dexter mengutak-atik layarnya ponselnya dengan mimik serius, lalu dia duduk di kursi makan.
"Mas Dexter!"
Pria itu menoleh.
"Masnya mau kopi atau teh?"
"Kopi cappucino!" ujar Dexter yang setelahnya kembali menatap layar ponsel. Membuat Safira mengangguk, ada beberapa bungkus kopi di laci bawah yang ia temukan secara tak sengaja, dan isinya memang lebih dengan kopi instan yang siap seduh.
Setelah membuatnya, wanita itu meletakkannya tepat di samping tangan Dexter, yang membuat pria itu menatapnya. "Kamu udah mandi?"
"Udah, saya bangun dari jam 5 pagi tadi mas, bebersih dulu takut gak keburu, kan sekarang kalau pun mau berangkat saya siap."
"Kamu punya pacar?" Pertanyaan yang terlontar dari bibir Dexter, membuat Safira terdiam berpikir, alisnya sedikit menyatu bersamaan dengan gelombang 3 di kening membuat Dexter sekarang menatapnya khawatir. "Jangan berpikir terlalu keras! Nanti kepalamu sakit lagi!"
"Ada kayaknya mas!" balas Safira spontan, saat Dexter mencegahnya berpikir.
"Oh ya?"
"Tapi dulu, kata ibu saya, saya punya pacar, tapi setelahnya ibu gak bilang apa-apa, mungkin kami putus."
Pria itu terdiam sebentar, setelahnya dia memakan roti yang sedari tadi ada di piring depannya dengan cukup rakus, tentu saja hal itu membuat Safira heran. Apa dia membuat kesalahan?
"Da-dan mas! Pasti punya pacar dong?! Masa mas udah ganteng kayak gitu belum punya pacar?" tanya Safira yang sedikit gugup, takut salah bicara.
Kacamata yang tadinya bertengger di wajahnya, pria itu lepaskan. "Punya."
Mendengar hal itu, entah kenapa Safira merasa sakit di hatinya, seakan ada percikan kecil yang mulai tumbuh di hatinya kala, tau Dexter memiliki kekasih. "Apa dia cantik?"
Mata Dexter menatap Safira yang membuat gadis itu menunduk sambil mengelap meja, entah kenapa dia grogi melihat tatapan lekat pria itu. Apa mungkin dia memiliki rasa suka.
Namun mereka baru bertemu belum lama, rasanya terlalu serakah bila dia menyimpan rasa pada pria tampan itu.
"Bagiku dia wanita tercantik di dunia ini, tidak ada yang bisa menggantikan wanita itu di hatiku," balas Dexter yang setelahnya berdiri, lalu berjalan menuju kamar guna bersiap-siap ke kantor.
Membuat Safira menatap pria itu dengan tatapan sedih, hatinya sesak mendengar semua ucapan, seperti dia sangat mencintai kekasihnya, entah kenapa Safira merasa iri.
Tak lama Dexter kembali kebawa membawa tas hitam yang berisikan laptop juga berkas yang ada di dalam, sontak saja membuat Safira mengambil tas itu untuk membawanya.
"Kita langsung ke kantor aja, nanti baju karyawan kamu dapet di sana!"
Safira mengangguk tanpa sepatah katapun, mulai sekarang ia harus sadar diri dan menerima kebaikan pria itu yang semata-mata hanya merasa kasihan padanya sebagai teman.
Singkat cerita mereka akhirnya sampai di perusahaan itu, gedung bertingkat 20 membuat Safira menatap hingga keatas dengan takjub.
Bahkan wanita itu masih tak percaya, kalau gedung tinggi bagus itu, yang ia lihat kala di jalan, sekarang ada di depan matanya dan ini milik pria itu.
Karena masih merasa takjub Safira tak sadar kalau pria itu sudah berjalan masuk kedalam, hingga beberapa saat Safira mulai sadar dan tak melihat pria itu dimanapun.
Dengan cepat Safira masuk kedalam guna mencari pria itu, karena tas hitam ini masih ada padanya jadi dia harus seger menyerahkannya.
Baru masuk kedalam, ruangan yang amat luas seperti lapangan stadion membuat Safira terdiam, dia tak pernah melihat hal seluas ini. Di tempat paling bawah itu hanya ada meja resepsionis dan beberapa sofa di tengah-tengah dekat tangga seperti ini ruang tunggu.
Saat Safira hendak bertanya pada Resepsionis yang sedang sibuk menelpon dan satunya tengah mencatat, tiba-tiba tangannya di raih, sehingga membuat wanita itu menoleh.
Terlihat wanita paruh baya yang memakai seragam biru, mantapnya dengan wajah tak minat. “Kamu Safira?”
Wanita itu hanya mengangguk. “Iya, saya!”
“Kamu ikut saya!” ujar wanita itu, namun sekarang gantian Safira yang mencegahnya pergi. “Maaf bu! Saya perlu ngasih ini ke mas Dexter, dia ada di mana ya?”
Wanita itu menaikan alisnya heran. “Mas?”
“I-iya mas Dexter,” balas Safira yang merasa takut karena pertanyaan itu terdengar di tekan, dan tak percaya.
“Tuan muda! Tuan muda Dexter! Harusnya kamu memanggilnya seperti itu di sini! Anak baru tidak tau sopan santun,” ucap wanita itu yang segera berbalik pergi dengan mimik, marah sehingga membuat Safira mengikuti sambil menggaruk kepalanya bingung.
Sesampainya di tempat seperti dapur di area paling belakang lantai itu, ia di berikan sepasang baju biru yang sama dengan wanita paruh baya itu. “Pakai itu! Saya adalah kepala OB di sini, nama saya Karima, kamu bisa panggil saya Bu Rima!”
Safira memeluk baju itu sambil mengangguk patuh, wanita di depannya ini begitu serius sekali. “Iya Bu.”
“Ada beberapa dapur di beberapa lantai, tapi tidak semua. Tugas kamu sama sekali yang lain, memberikan apa yang karyawan butuhkan, pesankan makanan! Buatkan minum! Kadang mereka juga meminta bantuan yang lain, dan juga kebersihan di kantor ini harus bagus! Saya peringatkan kamu jangan malas-malasan!”
Safira mengangguk paham, dia agak takut dengan mata tajam itu, bahkan Dexter yang notabenenya juga tak pernah tersenyum tak semengerikan orang di depannya. “Tapi Bu Rima, saya perlu memberikan ini pada Tuan muda!”
Karima menatap apa yang di bawa Safira. “Dia berada di lantai paling atas! Kalau kamu mau ke sana tanyakan juga dia mau minum atau makan apa?”
Safira kembali mengangguk patuh, dan setelah Wanita bernama Karima itu pergi meninggalkan sambil membawa perlengkapan mengepelnya.