Foto Suamiku Diruang Tamunya (Aku Istri Kedua Suamiku)
"Hari ini aku pulang telat ya sayang, ada kerjaan penting yang harus aku kerjakan," ujar Mas farel.
kami sudah menikah selama hampir dua tahun dan walaupun belum memiliki anak tapi kehidupan kami bahagia.
Aku bersyukur mengenal lelaki seperti Mas Farel.
"Ya mas gak papa kok," jawabku.
"Ini ATM Mas, kamu pegang aja kalau kamu ada apa-apa."
Mas Farel kemudian memberikan benda pipih berlogo sebuah bank itu padaku.
"Makasih ya Mas."
Kulayangkan sebuah sentuhan lembut dipipinya dan Diapun membalas dengan tatapan mata elangnya padaku.
Tatapan inilah yang membuatku langsung jatuh cinta saat Arin memperkenalkan Mas Farel dua tahun yang lalu.
Kami hanya kenal beberapa bulan, lalu menikah.
"Mas berangkat dulu ya," ujar Mas Farel setelah beberapa saat menatapku.
Akupun bergelayut manja sambil mengiringinya berjalan ke ruang depan.
Sesampainya di depan segera kuraih tangan suamiku lalu kucium tanganya sebagai tazim.
"Hati-hati dirumah ya sayang."
"Aku ngajar hari ini Mas."
Untuk mengisi waktu luang aku mengajar disebuah bimba pada sore hari.
Aku mengajar untuk anak-anak SD yang rentang usianya antara tujuh sampai
sembilan tahun.
"kamu saja mobilnya Mas naik motor."
Begitulah Mas Farel jika mobil kami salah satu ada masalah, dia rela naik motor dan kepanasan dari pada aku yang kepananasan.
Sungguh Mas farel adalah lelaki terbaik yang aku miliki.
Mas Farell melambaikan tanganya setelah motor matiknya selesai distarter.
"Hati-hati di jalan, ingat di sini istrimu menunggu di rumah," pesanku yang dibalas cubitan pipi oleh Mas Farel.
Setelah Mas Farel hilang dari pandangan aku kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap mengajar di sebuah Bimba.
Aku sengaja memilih mengajar anak-anak karena aku suka dan merasa terhibur oleh mereka.
Lagipula kata orang-orang tua jika ingin cepat punya anak maka kita harus dekat sama anak kecil.
Siapa tahu dengan seringnya aku bergaul dengan anak-anak itu dapat memancing benih di rahimku hingga aku bisa punya anak.
Selesai mandi aku segera berdandan, aku sengaja memakai make up yang gak terlalu tebal namun cukup menunjang penampilanku.
Dari rumahku ke Bimba tempatku mengajar memakan waktu sekitar 30 menit naik mobil.
-
-
-
Begitu sampai bimba, aku langsung disambut beberapa orang muridku.
"Bu Ane," ujar mereka begitu bahagia saat aku datang. .
Kukeluarkan beberapa minuman dan makanan.
"Ni ambil satu-satu ya, makanya nanti kalau habis belajar!"
Anak-anak itu kemudian mengambil jajan yang aku berikan hingga aku menyadari sesuatu, salah satu muridku bahkan yang paling dekat dengaku gak hadir.
"Anak-anak, Tasya kemana?"
"Tasya gak masuk Bu, dari kemarin," jawab
salah seorang siswa.
"Ada yang tahu gak Tasya kemana?"
"Gak Bu." Jawab mereka serentak.
Segera ku ambil ponselku untu menghubungi orang tua Tasya karena memang jika ada salah satu muridku yang gak masuk aku akan menghubungi orang tuanya namun sudah beberapa kali calling dan chat tak ada respon.
Dalam hati aku berpikir keras ada apa dengan Tasya, apa Dia sakit?
Sepanjang mengajar aku tak bisa konsentrasi penuh, pikiranku terus teringat akan Tasya.
"maap Bu, apa Ibu tahu alamat rumah Tasya,"
tanyaku pada salah satu wali murid saat mereka menjemput anaknya.
"memang kenapa Bu?"
"Sudah tiga hari ini Tasya gak masuk Bu, saya sudah hubungi nomor orang tuanya juga gak direspon," ujarku memaparkan.
"Setahu saya kemarin Ibu Tasya masuk Rumah Sakit Bu, mungkin Tasya ikut ke Rumah Sakit," jawab Ibu itu.
"Boleh saya tahu di Rumah Sakit mana?"
"Saya gak tahu Bu, tapi kalau alamat rumahnya saya tahu."
Berbekal alamat yang orang tua wali muridku kasih aku mulai mencari rumah Tasya.
Anak itu sangat dekat denganku, bahkan aku sudah menganggap anak itu seperti anakku.
Aku juga sudah beberapa kali bertemu ibunya yang aku ketahui mengidap penyakit Hepatitis A dan gini sudah komplikasi kanker hati stadium dua.
Bodohnya aku, aku tak pernah tanya di mana alamat rumahnya.
-
-
-
Aku sampai disebuah rumah bertingkat dua, bercat ungu dan memiliki banyak tanaman bunga diterasnya.
Mbak Riana, Ibu Tasya sering cerita kalau dia
memang menyukai bunga.
Suaminya sering dinas ke luar kota jadi Dia punya banyak waktu luang untuk merawat bunga-bunga itu.
"Asalamu alaikum."
Aku mengucap salam setelah menemukan swis bel didekat pintu.
"Walaikum salam."
Terdengar suara lemah seseorang dari dalam rumah.
"Tasya buka pintunya Nak! Ada tamu."
Butuh waktu beberapa detik hingga pintu Dibuka dan seorang anak kecil muncul dibalik pintu.
"Bu Guru," ujar Tasya sambil memelukku.
"Tasya kenapa gak masuk?" tanyaku.
"Mama sakit Bu Guru, gak ada yang jaga. Papa jarang pulang terus nenek juga gak ada."
"Memang nenek kemana sayang?"
"Kerumah Tante lihat dedek bayi."
"Tasya, siapa yang datang sayang?"
Terdengar suara Mbak Riana dari dalam rumah.
"Bu Guru Ma."
"Suruh masuk sayang," ujar Mbak Riana.
Tasya pun menggandeng tanganku masuk kedalam rumah.
Kutatap ruangan bercat putih itu, tampak tubuh lemah seorang wanita berbaring disofa.
"Maaf Bu, tadi Bu Ane telpon saya gak bisa angkat, mendadak tubuh saya lemas," ujar Mbak Riana lemah.
"Bu Guru mau minum apa?" tanya Tasya.
"Apa aja deh sayang," jawabku.
Aku duduk dihadapan Mbak Riana.
"Gak usah bangun Mbak," ujarku saat Mbak Riana berusaha bangun.
"Maaf ya Bu Guru, kemarin habis terapi, muntah hampir seharian sekarang jadinya lemah banget," ujarnya.
Terbit rasa kasihan dihatiku melihatnya, apalagi jika ingat suaminya tak ada disini.
Dalam hati aku mengutuk suaminya.
Prak
Suara benda jatuh yang ternyata adalah bingkai foto yang tadi aku lihat didekap Mbak Riana.
"Biar saya ambilkan Mbak," ujarku.
"Maap, merepotkan."
"Gak papa, Mbak tiduran saja," ujarku.
Aku segera membungkuk mengambil foto itu namun betapa terkejutnya saat aku melihat Mas Farel ada dalam foto itu.
Tasya ditengah diantara Mbak Riana dan Mas Farel, mereka tampak seperti sebuah keluarga.
Ya Tuhan apa hubungan Mas Farel dengan mereka.
"Itu Papa Tante, ganteng kan Papa Tasya."
Papa, Tasya memanggil Mas Farel dengan sebutan Papa apa itu artinya?
Ya Tuhan ...
Apakah itu artinya Mas Farel memiliki dua istri?
Tunggu kau mas, jika benar kau memiliki dua istri, takkan kubiarkan kau mempermainkan kami.
Next?
Foto Suamiku Di ruang Tamunya Bab 2
Bab2 Aku Istri Kedua
"Itu Papa Bu Guru, ganteng kan Papa Tasya." Ujar bocah itu dengan mata berbinar bahagia.
Papa, Tasya memanggil Mas Farel dengan sebutan Papa, apa itu artinya Tasya?
Ya Tuhan ..., Kenyataan apa ini?
Aku merasakan dunia seperti terpaus, rasanya tubuhku lemas mendengar jawaban polos bocah ini.
Kucoba mengatur perasaan dan gejolak dihati ini, aku harus tenang, bisa saja ini hanya kebetulan dan lelaki yang disebut Papa oleh Tasya itu bukan Mas Farel suamiku.
"Ganteng, nama Papa Tasya siapa?"
"Papa Farel."
Rasanya seperti dadaku dihantam dengan ribuan ton batu hingga aku tak bisa bernapas.
Ya Tuhan kalau Tasya anak Mas Farel lalu artinya Mbak Riana adalah istrinya Mas Farel, kenyataan apa ini Ya Allah?
Ku kuatkan diri ini dan berusaha mengulum senyum.
"Mbak Riana sudah lama menikah?"
"Sudah 7 tahun tapi sudah tiga tahun ini kita LDR, suami kerja diluar kota dan dengan keadaan saya yang seperti ini saya tak mungkin ikut suami saya."
Kalau Mbak Riana sudah menikah selama tujuh tahun, itu artinya aku adalah istri kedua aku selingkuhan Mas Farel.
Ya Tuhan, lalu apa alasan Mas Farel menikah lagi.
Apa karena Mbak Riana sakit jadi Mas Farel memutuskan menikah lagi agar kebutuhan batinya terpenuhi.
Kalau itu benar artinya Mas Farel adalah manusia kejam, Dia hanya memikirkan sela**ngnya saja.
Dan aku kejamnya aku, disaat istri pertama suamiku sedang berjuang untuk hidup aku justru berbahagia dengan suaminya, melalui malam-malam yang panjang dengan lelaki yang harusnya mendukung dan merawatnya.
Hatiku sungguh hancur saat ini, aku merasa menjadi wanita yang hina telah menjadi perebut lelaki orang. Apa bedanya aku sama pelakor sekarang ini?
Tunggu kamu Mas, kalau benar apa yang dikatakan Mbak Riana maka kau akan tahu akibatnya.
Aku takkan biarkan kamu berlama-lama mempermainkan kami, manusia macam apa kamu yang tega menelantarkan istri yang tak berdaya demi wanita lain.
Huek, huek
"Mama."
Tasya segera menarik sebuah ember untuk didekatkan ke Mamanya saat wanita itu ingin muntah.
Walaupun aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak pada Mbak Riana tentang Farel untuk memastikan benarkah Farel yang ada difoto itu adalah suamiku atau mungkin hanya kebetulan mirip, tapi melihat keadaan Mbak Riana tak memungkinkan bagiku untuk bertanya pada Mbak Riana.
Untunglah Orang tua Mbak Riana segera pulang, kalau tidak, mungkin aku akan menginap malam ini, gak tega rasanya aku membiarkan anak sekecil Tasya mengurus ibunya sendirian.
-
-
Aku lihat motor mas Farel sudah terparkir di halaman, menandakan lelaki itu sudah ada dirumah.
Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya saat aku lihat sosok lelaki berpakaian maskulin sedang duduk disofa.
Mas Farel tersenyum menatapku, senyum yang biasanya kurindu itu gini terasa hambar.
Rasa bahagia tiap kali melihat senyumnya dulu kini berubah menjadi rasa nyeri dan sesak.
Ingin rasanya aku bertanya tentang Mbak Riana dan juga Tasya agar semua menjadi jelas tapi mulutku seperti terkunci.
"Kamu sakit ?" Ujar Mas Farel meletakkan telapak tanganya kedahiku.
"Gak papa kalau kamu sakit aku pergi sendiri saja," ujarnya.
Aku seketika teringat kalau malam ini aku ada janji menemani Mas Farel ketemu klien yang kebetulan teman lamanya.
"Gak papa aku gak sakit, cuma lelah saja," jawabku dingin.
"Beneran?"
Aku hanya menjawab ucapan Mas Farel itu dengaan anggukan, rasanya lidahku kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Mas Farel padaku.
Bayangan Mbak Riana dan Tasya lebih mendominasi pikiranku saat ini.
Disini aku bersenang-senang sedangkan disana istri yang lain Mas Farel menderita, aku merasa diri ini sungguh kejam.
Ya Tuhan kuatkanlan aku, setelah hatiku bisa tertata kembali aku harus meminta penjelasan pada Mas Farel dan jika memang benar Mbak Riana itu istri pertamanya, apapun alasanya aku akan minta cerai dan mengembalikan Mas Farel pada Mbak Riana.
Aku gak boleh egois, hanya karena memikirkan kesenangan diri sendiri lalu mengorbankan orang lain.
Aku memakai gaun warna merah yang Mas Farel sudah siapkan dan memoles make up diwajah.
"Bidadari Mas sudah siap belum?" Ucap Mas Farel, ada senyum yang mengembang dibibirnya.
Ada rasa perih dihatiku tiap melihat senyum Mas Farel, sungguh aku merasa diri ini dibodohi oleh Mas Farel.
"Sudah," jawabku dingin.
Sekilas aku melihat raut wajah Mas Farel tampak bingung melihat perubahan sikapku tapi aku tak peduli.
Dalam perjalanan aku juga tak banyak bicara, aku hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan Mas Farel.
Berulang kali lelaki itu menanyakan apa aku baik-baik saja dan aku hanya menjawab mengangguk atau menggeleng.
-
-
-
Akirnya kami sampai disebuah hotel yang cukup megah.
"Habis pertemuan kita gak usah pulang, kita bulan madu saja disini," goda Mas Farel namun aku hanya menanggapinya dengan senyum mengambang.
Seseorang melambaikan tangan pada kami saat kami sampai di lobi hotel dan kami pun menghampirinya.
"Ini siapa Rel?" Tanya lelaki itu saat kami sampai.
"Ini istri Gue, Bro," ujar Mas Farel tersenyum bangga.
"Lho bini Lo ganti atau Lo punya dua istri?"
Deg
Ya Tuhan kenyataan apalagi ini?
Sampai detik ini aku masih berharap apa yang aku lihat dirumah Tasya itu hanya mimpi dan suamiku tetaplah lekaki setia yang aku kenal tapi sekarang, hatiku sungguh sakit Ya Allah.
Setelah ini aku akan bertanya dan meminta pengakuan Mas Farel tentang apa dan kenapa dia membohongku tentang statusnya, jika dia mengelak aku akan merencana sesuatu yang aku yakin Dia pasti tak akan bisa mengelak lagi.
Foto Suamiku Di ruang Tamunya Bab 2
Bab2 Aku Istri Kedua
"Itu Papa Bu Guru, ganteng kan Papa Tasya." Ujar bocah itu dengan mata berbinar bahagia.
Papa, Tasya memanggil Mas Farel dengan sebutan Papa, apa itu artinya Tasya?
Ya Tuhan ..., Kenyataan apa ini?
Aku merasakan dunia seperti terpaus, rasanya tubuhku lemas mendengar jawaban polos bocah ini.
Kucoba mengatur perasaan dan gejolak dihati ini, aku harus tenang, bisa saja ini hanya kebetulan dan lelaki yang disebut Papa oleh Tasya itu bukan Mas Farel suamiku.
"Ganteng, nama Papa Tasya siapa?"
"Papa Farel."
Rasanya seperti dadaku dihantam dengan ribuan ton batu hingga aku tak bisa bernapas.
Ya Tuhan kalau Tasya anak Mas Farel lalu artinya Mbak Riana adalah istrinya Mas Farel, kenyataan apa ini Ya Allah?
Ku kuatkan diri ini dan berusaha mengulum senyum.
"Mbak Riana sudah lama menikah?"
"Sudah 7 tahun tapi sudah tiga tahun ini kita LDR, suami kerja diluar kota dan dengan keadaan saya yang seperti ini saya tak mungkin ikut suami saya."
Kalau Mbak Riana sudah menikah selama tujuh tahun, itu artinya aku adalah istri kedua aku selingkuhan Mas Farel.
Ya Tuhan, lalu apa alasan Mas Farel menikah lagi.
Apa karena Mbak Riana sakit jadi Mas Farel memutuskan menikah lagi agar kebutuhan batinya terpenuhi.
Kalau itu benar artinya Mas Farel adalah manusia kejam, Dia hanya memikirkan sela**ngnya saja.
Dan aku kejamnya aku, disaat istri pertama suamiku sedang berjuang untuk hidup aku justru berbahagia dengan suaminya, melalui malam-malam yang panjang dengan lelaki yang harusnya mendukung dan merawatnya.
Hatiku sungguh hancur saat ini, aku merasa menjadi wanita yang hina telah menjadi perebut lelaki orang. Apa bedanya aku sama pelakor sekarang ini?
Tunggu kamu Mas, kalau benar apa yang dikatakan Mbak Riana maka kau akan tahu akibatnya.
Aku takkan biarkan kamu berlama-lama mempermainkan kami, manusia macam apa kamu yang tega menelantarkan istri yang tak berdaya demi wanita lain.
Huek, huek
"Mama."
Tasya segera menarik sebuah ember untuk didekatkan ke Mamanya saat wanita itu ingin muntah.
Walaupun aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak pada Mbak Riana tentang Farel untuk memastikan benarkah Farel yang ada difoto itu adalah suamiku atau mungkin hanya kebetulan mirip, tapi melihat keadaan Mbak Riana tak memungkinkan bagiku untuk bertanya pada Mbak Riana.
Untunglah Orang tua Mbak Riana segera pulang, kalau tidak, mungkin aku akan menginap malam ini, gak tega rasanya aku membiarkan anak sekecil Tasya mengurus ibunya sendirian.
-
-
Aku lihat motor mas Farel sudah terparkir di halaman, menandakan lelaki itu sudah ada dirumah.
Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya saat aku lihat sosok lelaki berpakaian maskulin sedang duduk disofa.
Mas Farel tersenyum menatapku, senyum yang biasanya kurindu itu gini terasa hambar.
Rasa bahagia tiap kali melihat senyumnya dulu kini berubah menjadi rasa nyeri dan sesak.
Ingin rasanya aku bertanya tentang Mbak Riana dan juga Tasya agar semua menjadi jelas tapi mulutku seperti terkunci.
"Kamu sakit ?" Ujar Mas Farel meletakkan telapak tanganya kedahiku.
"Gak papa kalau kamu sakit aku pergi sendiri saja," ujarnya.
Aku seketika teringat kalau malam ini aku ada janji menemani Mas Farel ketemu klien yang kebetulan teman lamanya.
"Gak papa aku gak sakit, cuma lelah saja," jawabku dingin.
"Beneran?"
Aku hanya menjawab ucapan Mas Farel itu dengaan anggukan, rasanya lidahku kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Mas Farel padaku.
Bayangan Mbak Riana dan Tasya lebih mendominasi pikiranku saat ini.
Disini aku bersenang-senang sedangkan disana istri yang lain Mas Farel menderita, aku merasa diri ini sungguh kejam.
Ya Tuhan kuatkanlan aku, setelah hatiku bisa tertata kembali aku harus meminta penjelasan pada Mas Farel dan jika memang benar Mbak Riana itu istri pertamanya, apapun alasanya aku akan minta cerai dan mengembalikan Mas Farel pada Mbak Riana.
Aku gak boleh egois, hanya karena memikirkan kesenangan diri sendiri lalu mengorbankan orang lain.
Aku memakai gaun warna merah yang Mas Farel sudah siapkan dan memoles make up diwajah.
"Bidadari Mas sudah siap belum?" Ucap Mas Farel, ada senyum yang mengembang dibibirnya.
Ada rasa perih dihatiku tiap melihat senyum Mas Farel, sungguh aku merasa diri ini dibodohi oleh Mas Farel.
"Sudah," jawabku dingin.
Sekilas aku melihat raut wajah Mas Farel tampak bingung melihat perubahan sikapku tapi aku tak peduli.
Dalam perjalanan aku juga tak banyak bicara, aku hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan Mas Farel.
Berulang kali lelaki itu menanyakan apa aku baik-baik saja dan aku hanya menjawab mengangguk atau menggeleng.
-
-
-
Akirnya kami sampai disebuah hotel yang cukup megah.
"Habis pertemuan kita gak usah pulang, kita bulan madu saja disini," goda Mas Farel namun aku hanya menanggapinya dengan senyum mengambang.
Seseorang melambaikan tangan pada kami saat kami sampai di lobi hotel dan kami pun menghampirinya.
"Ini siapa Rel?" Tanya lelaki itu saat kami sampai.
"Ini istri Gue, Bro," ujar Mas Farel tersenyum bangga.
"Lho bini Lo ganti atau Lo punya dua istri?"
Deg
Ya Tuhan kenyataan apalagi ini?
Sampai detik ini aku masih berharap apa yang aku lihat dirumah Tasya itu hanya mimpi dan suamiku tetaplah lekaki setia yang aku kenal tapi sekarang, hatiku sungguh sakit Ya Allah.
Setelah ini aku akan bertanya dan meminta pengakuan Mas Farel tentang apa dan kenapa dia membohongku tentang statusnya, jika dia mengelak aku akan merencana sesuatu yang aku yakin Dia pasti tak akan bisa mengelak lagi.
Bab3 Rencana Untuk Mas Farel
Ini istri gue Bro," ujar Mas Farel tersenyum bangga.
"Lho bini Lo ganti atau Lo punya dua istri?"
Deg
Ya Tuhan kenyataan apalagi ini?
Sampai detik ini aku masih berharap apa yang aku lihat di rumah Tasya itu hanya mimpi dan suamiku tetaplah lekaki setia yang aku kenal tapi sekarang, hatiku sungguh sakit Ya Allah.
"Haha, bercanda Lo Bro, bini satu aja gak habis-habis," ucap Mas Farel memandang mesra kearahku.
"Eh tapi serius itu Ri..?"
"Eh btw anak Lo berapa? Eh kita kan mau ngomongin bisnis kan, kok malah ngomongin pribadi ya," ujar Mas Farel.
"Ouh iya Bro, sorry. Oya nama istri kamu ini siapa?"
"Oh iya, kenalin! Ini istri Gue namanya Ane."
Lelaki itu ternyata bernama Ali dan Ali ini adalah teman dekat Mas Farel namun kemudian jauh karena Ali ada kuliah di luar negeri.
Sepanjang percakapan kami Ali tampak sering salah sebut nama dan menucap nama "Ri" padaku namun kemudian Mas Farel buru-buru memotong ucapan Ali.
Hal ini membuat aku semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka berdua.
Lalu apakah 'Ri' itu nama panggilan Riana dan memang benar Mas Farel memang sedang berbohong saat ini.
Setelah ini aku akan bertanya dan meminta pengakuan Mas Farel tentang apa dan kenapa dia membohongku tentang statusnya, jika dia mengelak aku akan merencana sesuatu yang aku yakin Dia pasti tak akan bisa mengelak lagi.
"Mas maksud Ali tadi apa, kok dia selalu panggil aku Ri?"
Mas Farel melirikku sekilas lalu kembali fokus kejalan, ekspresi mukanya juga datar tak ada reaksi apapun.
"Mantanya namanya Rina, Dia susah melupakan mantanya itu, makanya sering salah sebut."
"Rina atau Riana Mas?"
Sungguh hatiku perih saat menyebut nama itu.
"Rina, Riana kan pesulap."
Biasanya aku suka jika Mas Farel membahas tentang Riana si pesulap seram itu, entah kenapa aku begitu ngefans padanya, tapi hari ini aku tak berminat sama sekali untuk membahasnya.
Aku tak membahas apa-apa lagi walau dikepala ada berjuta pertanyaan yang ingin kutanyakan pada Mas Farel.
Tentang foto itu, tentang pengakuan Mbak Riana, tentang Tasya tapi entah bibirku kelu, aku masih belum siap menghadapi kenyataan.
"Sayang, Mas kangen ni," ujar Mas Farel mengelus lenganku saat kami mau tidur.
Aku cukup paham dengan keinginan Mas Farel namun entah kenapa aku tak begitu bergairah malam ini.
Jika malam-malam sebelumya aku cukup lincah di ranjang, malamn ini aku biarkan saja Mas Farel yang dominan.
Kalau saja aku tak ingat dosa seperti apa jika seorang istri menolak suami yang kepingin, dan bagkan katanya sampai pintu surga juga akan tertutup baginya, aku sudah tentu menolak bercinta malam ini.
Sebuah kecupan lembut mendarat dipipiku setelah percintaan kami namun entahlah bagiku rasanya tetap hambar.
Aku tidur dalam gelisan membayangkan Tasya dan Riana, saat ini mereka pasti merindukan Mas Farel tapi aku malah begitu egoisnya memeluk Mas Farel disini.
"Sayang, kok kamu belum tidur?"
Jantungku hampir lompat mendengar suara itu, ternyata Mas Farel belum tidur dan memperhatikan aku.
Mas Farel melingkarkan lenganya dipinggangku dan menghirup wangi rambutku. Dulu aku merasa nyaman diperlakukan seperti ini tapi sekarang aku merasa risih. Ingin rasanya kudorong tubuh Mas Farel namun aku tak mampu.
"Ada apa sayang, Mas minta maaf ya kalau perhatian Mas kurang akir- akir ini tapi hati Mas tak berubah kok sayang."
Aku mendesah perlahan, ingin kembali bertanya tapi lagi-lagi lidahku kelu untuk membuka suara.
***
"Pertemukan saja mereka, lihat reaksi Farel kek mana," ucap Arin sahabatku lewat telpon.
Tak tahan memendam sendirian aku memutuskan untuk bercerita pada Arin tentang masalahku.
"Maksudnya?"
"Coba saja undang kerumah, ajak makan atau apa gitu, kamu kan dekat dengan mereka," ujar Arin.
Aku akirnya menyetujui saran Arin, jika Mbak Riana masih tak sehat aku akan membujuk Mas Farel untuk menemaniku ke rumah Mbak Riana, dengan begitu akan kelihatan siapa yang bohong dan siapa yang enggak.
***
Sore harinya aku mengajar di bimba seperti biasa.
Aku tersenyum saat melihat Tasya dan Mbak Riana, walaupun masih sedikit pucat tapi dia tampak jauh lebih sehat.Mbak Riana tersenyum melihatku sementara aku, ada rasa perih didada ini.
"Apa kabar Mbak, sudah sehat?" tanyaku pada Mbak Riana.
"Alhamdulilah Mbak, sudah jauh lebih baik," jawabnya.
"Syukurlah, Tasya pasti senang," jawabku.
"Oya Mbak, nanti malam ada syukuran kecil-kecilan dirumah, Mbak Ane datang ya. Ajak suami Mbak Ane juga!"
Aku terhenyak, apa ini yang dikatakan takdir, aku yang ingin mengundang tapi malah dia yang mengundang duluan untuk datang.
***
"Ada wali murid ngundang kita untuk acara syukuran dirumahnya," ujarku saat sampai dirumah.
Mas Farel tersenyum ," ok sayang. Kalau gitu aku mandi dulu ya."
Aku sengaja tak mengatakan siapa yang mengundang untu mengantisipasi Mas Farel tak mau ikut.
Semua harus selesai malam ini, aku bahkan sudah memantapkan hati dan perasaannku untuk apapun yang terjadi nanti.
Aku hanya berharap agar kesehatan Mbak Riana tetap baik-baik saja. Maap Mbak tapi aku tak ada jalan lain.
-
-
-
Wajah Mas Farel sedikit menegang begitu sampai di rumah Mbak Riana, walaupun dia berusaha tenang tapi aku dapat menangkap ekspresi gelisahnya.
"Ayo Mas turun, kok malah bengong," ujarku saat Mas Farel lama tak turun dari mobil.
"Papa..,"
Tasya berlari memeluk Mas Farel saat kami baru saja turun dari mobil. Hal ini membuat wajah Mas Farel kembali menegang.
Rasakan kamu Mas, kamu gak akan bisa menghindar kali ini.