Bab 2

Bagian 2

Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna maksud dari semua ini.

Apa ini ada hubungannya dengan foto bayi itu? Apa mungkin itu anaknya Mas Bayu dengan wanita lain?

Pikiranku mulai tak menentu. Rasa hangat mulai menguar dari dada dan menyebar hingga ke seluruh tubuhku. Aku berharap bahwa apa yang kupikirkan saat ini tidak nyata adanya.

Tidak mungkin. Mas Bayu tidak mungkin mengkhianatiku. Apalagi sampai memiliki anak dengan wanita itu. Aku tahu, Mas Bayu tidak mungkin tega melakukan itu padaku. Suamiku sangat mencintaiku.

Aku berusaha menenangkan diri sendiri dengan mencoba berfikir positif. Namun, hatiku berkata lain. Seolah membenarkan.

Akhirnya pertahananku runtuh juga. Kaca-kaca bening mengalir begitu saja dari sudut netra. Aku tidak yakin jika orang yang sangat kucintai ternyata tega mengkhianatiku. Tidak, tidak mungkin.

Kupandangi wajah lelaki yang sudah empat tahun ini mendampingiku, ia sudah terlelap dalam damai dan terbuai dalam mimpi indah. Hanya dengkuran halus yang terdengar.

Apa benar kamu telah mengkhianatiku, Mas?

Apa benar kamu telah mengkhianati janji suci pernikahan kita, yang berjanji sehidup semati sampai maut memisahkan?

Apa benar kalau kamu telah memiliki anak dengan wanita lain, Mas?

Sayangnya semua pertanyaan itu hanya tercekat di tenggorokan, tidak mampu untuk kuucapkan.

Hatiku tidak percaya, tapi bukti berkata lain.

Mungkin lebih baik aku mencari tahu sendiri. Jika ditanyakan langsung, pasti Mas Bayu akan menyangkal. Apalagi sampai didengar oleh ibu mertua. Bisa-bisa aku lagi yang disalahkan.

***

"Mbak, minta uang dong! Hari ini aku ulang tahun. Aku ingin mentraktir teman-temanku. Yah, dirayain kecil-kecilan gitu!"

Hana menadahkan tangannya padaku. Seperti biasa, ia selalu saja meminta uang kepadaku. Membuat selera makanku mendadak hilang. Padahal, Mas Bayu sudah memberikan uang jajan untuknya. Tetapi, tetap saja ia merasa kurang dan minta lagi padaku.

"Mbak lagi enggak punya uang," jawabku sekenanya.

Aku masih ingat, tempo hari Mas Bayu sudah memberikan uang jajan untuk jatah satu bulan buat Hana. Masa iya, sudah habis?

"Pelit bangat sih, Mbak! Enggak banyak kok, satu juta cukuplah buat mentraktir teman-teman makan di cafe," ucapnya dengan santai, seolah aku ini pabrik uang yang bisa memberi uang berapapun yang ia minta.

"Enggak ada," kataku lagi.

"Dasar pelit!" umpatnya.

"Hey, Mona. Pelit bangat sih, sama adik ipar sendiri! Hana ini bukan orang lain loh! Apa susahnya sih, mengabulkan permintaannya? Uang satu juta itu 'kan enggak banyak. Pasti kamu punya simpanan. Bukankah kamu baru gajian? Kasih saja, Mona! Kepada siapa lagi Hana meminta uang kalau bulan pada kamu?"sahut ibu mertua.

Wajah Ibu terlihat memerah, ia marah padaku karena tidak menuruti permintaan anak kesayangannya itu.

Aku memang baru gajian, tapi aku tidak lagi sepolos yang dulu. Kini uang gajiku sengaja kusimpan di Bank. Diam-diam, aku menabung tanpa sepengetahuan suami dan ibu mertuaku. Jika tidak, semua uang milikku akan diambil dan aku tidak akan dapat apa-apa.

"Iya, Mona memang sudah gajian, Bu. Tapi uangnya 'kan udah habis buat bayar air, listrik, buat beli kebutuhan sehari-hari dan lain-lain, Bu!"

"Memang dasar pelit! Terus gaji Mas Bayu mana, Mbak? Masa sudah habis, sih? Mbak simpan di mana?" Gadis berambut panjang sebahu itu menatapku dengan tatapan tajam, sungguh ia tidak mempunyai rasa hormat terhadapku. Padahal, aku ini adalah kakak iparnya, istri dari abangnya sendiri.

"Hana, kamu 'kan tahu sendiri kalau belakangan ini tokonya Mas Bayu sedang sepi. Jadi otomatis jatah bulanan yang diberikan pada Mbak juga berkurang. Jadi, Mbak harus bisa mengelolanya dengan baik. Belum lagi harus bayar cicilan mobil Mas Bayu dan juga motor kamu setiap bulannya." Aku masih berusaha sabar menghadapi sikap adik iparku yang tidak punya sopan santun dan etika ini.

Ya, mobil yang dipakai Mas Bayu dan juga motor yang dipakai Hana masih nyicil alias belum lunas. Untungnya rumah ini dibeli cash. Jadi hanya perlu memikirkan uang untuk membayar cicilan mobil dan motor saja.

"Ya udah, gini aja. Kamu ambil dulu duit yang buat bayar cicilan motor Hana, nanti kamu ganti," ucap Ibu dengan entengnya, seolah tanpa beban. Enak saja, darimana aku mendapatkan uang untuk menggantinya?

Ibu sama anak sama saja, tidak memikirkan hari esok!

"Yasudah, Mona bisa kasih uang buat Hana. Tapi siap-siap saja motornya bakalan ditarik oleh pihak leasing, karena Mona sendiri enggak tahu harus cari uang kemana lagi!" Terpaksa aku mengancam mereka. Jujur saja, aku hampir kehabisan cara untuk menghadapi mereka.

"Dasar kakak ipar pelit!" Hana menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian berlalu meninggalkan aku dan Ibu yang masih berada di ruang makan.

"Lihat tuh, gara-gara kamu, Hana jadi ngambek begitu!"

Tuh kan, ibu mertua malah menyalahkanku.

Secepatnya kusudahi sarapanku, setelah itu aku masuk ke kamar, bersiap-siap hendak berangkat kerja.

"Dek, semalam kamu buka-buka ponsel Mas ya? Setelah Mas tidur?" tanya Mas Bayu begitu aku masuk ke kamar kami. Wajahnya terlihat gusar, mungkin ia takut jika aku mengetahui rahasianya.

"Enggak!"

Aku terpaksa berbohong, semoga Allah tidak mencatat satu dosa dalam kebohonganku kali ini.

Astaghfirullah … semoga Allah mengampuni dosaku.

"Memangnya ada apa di ponselmu, Mas? Apa di dalamnya ada rahasia?" Aku sengaja menanyakan hal itu, ingin melihat bagaimana reaksinya.

"Enggak, kok," sangkalnya, padahal aku tahu kalau suamiku telah berbohong.

"Mas buru-buru. Pagi ini ada pelanggan yang pesan bahan bangunan dan harus secepatnya diantar. Mas duluan, ya!" Mas Bayu kemudian mendekapku ke dalam pelukannya, lalu mengecup keningku.

"Dadah, Sayang!" Mas Bayu pun melambaikan tangannya.

Jika saja pagi ini aku tidak sedang terburu-buru, maka akan kuikuti kemana Mas Bayu pergi. Aku curiga, jangan-jangan Mas Bayu akan menemui orang yang mengirimkan pesan ke ponselnya semalam. Tapi karena tuntutan pekerjaan, aku harus bersabar untuk sementara waktu.

Saat sedang memoles bedak ke wajahku, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Ternyata ponsel Mas Bayu ketinggalan.

Aku pun langsung mengambil ponsel yang terletak di atas kasur tersebut.

Sebuah pesan masuk dari BRI-NOTIF

Trx Rek.17070xxxxxxxxxxx : PENARIKAN TUNAI ATM Rp. 2.000.000 19/06/21 07:35:26

Apa? Mas Bayu baru saja menarik uang di ATM? Bukannya ia bilang sedang buru-buru karena mau mengantar barang pesanan pelanggan?

Ya Allah … apa lagi ini?

Untuk apa ia menarik uang sebanyak itu? Apa Mas Bayu akan memberikan uang itu untuk Hana? Tidak mungkin, pasti Hana tidak akan berani memintanya kepada Mas Bayu karena seminggu yang lalu Mas Bayu telah memberikan uang jajan untuk jatah sebulan buat Hana. Lantas, untuk siapa? Apa jangan-jangan, Mas Bayu akan memberikan uang itu untuk kontak bernama Andi yang mengirimkan pesan semalam?

Aku penasaran, siapa sebenarnya orang yang bernama Andi itu.

Jika kecurigaanku terbukti benar, maka aku tidak akan tinggal diam.

Bersambung

Bab 3

Bagian 3

Baru saja aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bayu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.

"Dek, ponsel Mas ketinggalan," ucap Mas Bayu begitu tiba di kamar.

"Iya, baru saja ada pesan masuk dari BRI NOTIF. Mas baru narik uang ya?"

Raut wajah Mas Bayu mendadak berubah, terlihat sekali kalau suamiku ini sedang menyembunyikan sesuatu.

"Untuk apa, Mas?" tanyaku lagi.

"Ini, Dek. Mas perlu uang untuk membayar barang pesanan toko. Kamu kan tahu sendiri kalau Mas beli barang pakai modal sendiri, Dek. Makanya Mas narik uang di ATM barusan."

"Bukannya kalau mau beli barang atau bahan bangunan, Mas selalu putar modal yang didapat dari hasil penjualan?"

Biasanya memang begitu. Mas Bayu tidak pernah menggunakan uang tabungan untuk membeli barang-barang toko. Setiap barang yang terjual akan di catat. Dan uangnya akan digunakan untuk membeli stok barang yang baru. Begitulah seterusnya.

"Akhir-akhir ini toko lagi sepi, Dek. Makanya Mas bingung mau nyari uang di mana lagi untuk membeli stoknya. Kok kamu jadu curiga gitu, Dek? Jangan bilang kamu telah berpikiran buruk pada Mas?"

Aku hanya diam, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Percuma diteruskan. Mas Bayu tidak akan mau mengakuinya.

"Masih pamit ya, Dek!"

Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.

Jika saja pagi ini aku tidak buru-buru, pasti aku akan mengikutinya.

Jarum jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB. Aku pun langsung mengambil tas dan juga kunci motor yang digantung di salah satu paku dinding kamar.

"Bu, Mona pamit ya," ucapku pada ibu mertua yang sedang bersantai di ruang tamu. Aku meraih tangannya hendak menciumnya, tapi Ibu malah menepisnya.

"Itu piring kotor nggak dicuci dulu sebelum pergi? Ibu paling malas kalau liat piring kotor numpuk di wastafel."

"Maaf, Mona buru-buru, Bu, takut telat!"

"Alasan saja! Apa susahnya sih menuruti perintah ibu?" Kini Ibu berdiri, melipat kedua tangan di depan dada sambil menatapku dengan tatapan tajam.

Selalu saja begitu. Padahal semuanya sudah aku kerjakan. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyapu halaman, semuanya sudah beres. Tunggal piring bekas sarapan tadi yang belum aku cuci. Itu juga masih dipermasalahkan. Harusnya jika Ibu keberatan, ia bisa mengerjakannya sendiri. Nggak harus menungguku.

"Mona pamit, Bu, assalamualaikum."

Aku segera berlalu dari hadapannya, tidak akan ada habisnya jika aku masih berdiri di situ.

Buru-buru kukeluarkan motor matic milikku dari garasi, menghidupkan mesinnya, lalu tancap gas menuju tempat kerjaku.

***

Hari ini aku sama sekali tidak bersemangat dalam menjalankan pekerjaanku. Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Anganku menerawang jauh, memikirkan nasib rumah tanggaku. Entah bagaimana nasib rumah tanggaku nantinya jika terbukti bahwa Mas Bayu telah mengkhianatiku. Tidak mungkin aku bisa bertahan menerima kebohongannya.

Lebih baik berpisah daripada harus diduakan. Itu prinsipku. Pekerjaan ada, gaji ada. Jadi, aku tidak perlu takut jika memang harus berpisah dengannya.

Hanya satu yang aku takutkan, takut jika penyakit Bapak akan kambuh jika mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Pasti Bapak akan kepikiran nantinya.

Astaghfirullah … aku mengucap istighfar berulang kali agar hati ini bisa tenang.

"Mona, kok wajahmu murung begitu? Apa kamu sedang tidak enak badan?"

Pertanyaan Umi Hikmah, sang pemilik toko laundry membuyarkan lamunanku.

"Jika sedang tidak enak badan, kamu boleh pulang, kok," ucapnya lagi.

"Mona Nggak apa-apa, Umi. Mona baik-baik saja!"

Jujur, aku merasa tidak enak hati padanya. Beliau tadi sempat melihat wajahku saat murung. Aku takut Umi Hafsah akan berpikir buruk tentangku. Takut dikira malas.

"Syukurlah kalau begitu. Oh ya Mona, hari ini kita tutup cepat ya. Silakan tulis pengumumannya dulu lalu tempelkan setelah menutup rolling door."

"Tutup cepat? Memangnya ada apa, Umi? Apa Mona membuat kesalahan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya soal itu.

"Nggak kok. Kebetulan hari ini anak Umi yang sedang kuliah di luar kota mau pulang. Umi mau menyambut kedatangannya. Semua karyawan bagian cuci, setrika serta packing sudah Umi suruh pulang dari tadi."

Iya, ya. Ternyata semua teman-teman kerjaku sudah pulang. Buktinya tinggal motorku saja yang masih berada di tempat parkiran. Sungguh aku benar-benar tidak fokus hari ini.

"Ya sudah, kamu pulang sekarang ya! Istirahatlah di rumah! Untuk beberapa hari ke depan, laundry akan tutup. Tapi tenang saja, untuk masalah gaji, Umi tidak akan memotongnya."

Ah, Umi Hikmah baik sekali. Coba saja ibu mertuaku seperti dia. Pasti aku akan sangat bahagia.

"Baik, Umi. Mona mau beres-beres dulu ya!"

"Jangan lupa pengumumannya di tempel ya. Cantumkan juga no HP-nya Widya. Siapa tahu ada konsumen yang ingin mengambil pakaian, mereka bisa menghubungi nomor Widya," titah wanita berjilbab syar'i tersebut.

Aku segera melaksanakan perintahnya, setelah semuanya beres, aku pun menuju parkiran.

"Mona, tunggu!" Umi Hafsah menghampiriku, lalu memberikan sesuatu padaku.

"Apa ini, Umi?" tanyaku penasaran.

"Umi tadi bikin kue, ini untukmu. Ambillah!"

Aku pun mengambilnya, lalu mengucapkan terima kasih.

Sebelum menghidupkan mesin motor, aku berpikir sejenak. Jika aku pulang ke rumah, pasti Ibu akan mengomel dan mengatakan aku ini pemalas. Sebenarnya aku malas pulang karena kerjaan di rumah tidak ada habisnya. Ibu mertua selalu saja menyuruhku untuk mengerjakan ini dan itu. Untuk beristirahat sejenak saja pun tidak bisa.

Sebaiknya aku mendatangi tokonya Mas Bayu saja. Siapa tahu aku bisa menemukan bukti di sana.

***

"Siang, Neng," sapa Kang Jono saat aku tiba di toko material milik suamiku.

"Siang juga, Kang," balasku sambil menyunggingkan senyum ke arahnya.

Kang Jono sedang sibuk dengan aktifitasnya, yaitu mencetak batako.

"Mas Bayunya ada, Kang?"

"Sedang keluar, Neng. Mungkin sedang mengantar barang pesanan pelanggan," jawabnya sambil fokus pada alat yang sedang dipegangnya. Alat yang terbuat dari besi, yang digunakan beliau untuk mencetak batako.

"Sudah lama, Kang?"

"Kurang tahu juga sih, Neng. Sebaiknya Neng tunggu di dalam saja. Di sini panas!"

"Tunggu dulu, Kang. Biasanya kan mobil itu yang digunakan untuk mengantar barang pesanan pelanggan." Aku menunjuk mobil carry pick up berwarna hitam yang terparkir di samping toko.

Apa lagi ini? Siang-siang begini malah Mas Bayu tidak ada di toko. Ke mana perginya Mas Bayu?

"Kang, boleh tanya sesuatu nggak?"

Kang Jono menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu beralih menatapku.

"Mau nanya apa, Neng?"

Aku tahu Kang Jono orangnya jujur, pasti ia akan jujur menjawab pertanyaanku.

"Apa akhir-akhir ini toko sedang sepi?"

"Nggak kok, Neng. Malah sekarang toko makin rame. Penjualan semakin meningkat. Pesanan batako juga makin banyak. Memangnya ada apa, Neng?"

"Nggak ada apa-apa kok, Kang. Mona nunggu Mas Bayu di dalam saja."

"Baik, Neng!" Kang Jono pun melanjutkan pekerjaannya kembali.

Aku bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa laporan penjualan. Setelah membuka lembar demi lembar buku laporan penjualan tersebut, ternyata benar, omset penjualan di toko ini semakin meningkat. Lantas, kenapa Mas Bayu berbohong padaku?

"Neng Mona? Ngapain di sini? Nunggu Pak Bayu ya?" tanya Mas Amar. Ia menghampiriku yang sedang duduk di meja kasir. Mas Amar adalah asisten Mas Bayu, sekaligus merangkap sebagai knet yang bertugas memuat dan mengantar barang pesanan pelanggan.

"Iya, ni. Mas Bayu kemana ya?"

"Keluar, Neng. Nggak tahu kemana," jawabnya singkat.

"Ya sudah, nggak apa-apa. Mona pulang saja. Nggak usah kasih tahu Mas Bayu kalau Mona datang ke sini, ya. Rencananya tadi mona mau kasih kejutan pada Mas Bayu. Karena Mas Bayu nya lama, kejutannya di rumah aja." Aku sengaja berkata seperti itu pada Mas Amar. Semoga saja beliau bisa diajak kompromi.

"Iya, Neng, beres!"

Aku pun keluar dari dalam toko tersebut, menemui Kang Jono dan mengatakan hal yang sama. Memintanya agar tidak memberitahu kedatanganku ke toko ini.

Satu kebohongan Mas Bayu telah terungkap. Entah apa tujuannya membohongiku. Mengatakan bahwa toko materialnya sedang sepi. Padahal tokonya sedang ramai-ramainya. Jatah bulananku juga dikurangi karena alasan itu.

Apa maksud dari semua ini?

Apa ini ada kaitannya dengan foto bayi yang kulihat di ponselnya Mas Bayu tempo hari?

Baiklah, aku akan menyelidiki dan mencari tahunya sendiri.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED