Bagian 1
"Mas, foto bayi siapa yang ada di ponselmu?" Dahiku mengernyit sesaat menatap foto bayi bersarung tangan yang tubuhnya terbedong kain pada layar ponsel Mas Bayu, suamiku.
Aku memang sengaja meminjam ponsel Mas Bayu untuk menelpon Bapak di kampung. Setelah selesai, iseng-iseng aku melihat-lihat galeri ponselnya, ternyata ada foto bayi di sana.
"Mas, kok' enggak dijawab, sih?"
Karena tidak di jawab, aku kembali bertanya.
"Itu, nemu di google," jawabnya santai sambil menyesap kopi yang kuhidangkan untuknya.
"Nemu di google? Kok fotonya banyak begini, Mas? Bajunya juga beda-beda?"
Masa iya, nemu di google? Sepertinya foto bayi ini langsung di foto dari ponsel, deh! Aku tahu perbedaan foto yang asli dengan gambar yang diambil dari google.
"Mas cuma iseng-iseng kok. Memangnya kenapa, sih?" Mas Bayu malah balik bertanya.
"Iya nih, jadi istri kok' ya curigaan sama suami! Enggak baik loh, Mona!" sahut ibu mertua yang kini ikut bergabung bersama kami di ruang tamu.
"Mona 'kan cuma bertanya, Bu! Apa itu salah?"
Aku tidak terima jika ibu mertua terus-menerus menyudutkanku. Padahal, aku cuma bertanya.
"Bertanya boleh-boleh saja! Cukup sekali. Tidak perlu bertanya untuk yang kedua atau ketiga kalinya, paham?" Ibu mertua meninggikan nada bicaranya. Jika sudah begini, aku hanya bisa diam karena tidak mau memperpanjang masalah.
Begitulah ibu mertuaku, selalu saja ikut campur dalam urusan rumah tanggaku. Ibu mertua selalu membenarkan Mas Bayu, biarpun anaknya tersebut melakukan kesalahan.
"Seharusnya kamu introspeksi diri, Mona! Kenapa suamimu sampai menyimpan foto bayi segala di galeri ponselnya? Itu karena Bayu ingin sekali memiliki anak. Sedangkan sampai detik ini, kamu belum juga bisa memberinya anak!"
Degh!
Kata-kata Ibu tersebut bagaikan pedang yang menusuk jantungku. Menciptakan perih tak terkira di hati ini.
Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang tidak ingin memiliki anak. Tapi apalah daya, aku hanya bisa berusaha dan berdoa. Selanjutnya Allah semata lah yang menentukan di rahim wanita mana akan menitipkan ciptaannya.
"Ibu, Mona mohon jangan berkata seperti itu lagi. Bukan kita yang menentukan, Bu, tapi Allah!"
Aku berusaha mengubah pola pikir Ibu, berharap Ibu mertuaku tidak lagi menyalahkan diriku atas semua ini.
"Mona, kamu enggak usah mengajari Ibu soal itu." Ibu berucap dengan ketus sambil memandangku dengan tatapan sinis.
"Seharusnya kalau Ibu sudah tahu, Ibu tidak boleh terus-menerus menyalahkan Mona seperti itu, Bu!"
"Terus, siapa yang mau disalahkan? Bayu? Kamu tau sendiri, kan, Mona! Kakak-kakaknya Bayu semua memiliki anak. Hanya Bayu yang belum memiliki anak. Ibu sangat yakin bahwa kamulah yang bermasalah, bukan Bayu!"
Siapa yang tidak sakit hati mendengar dirinya dihina seperti itu. Apalagi suami sendiri seolah tidak peduli dan tidak ada pembelaan darinya. Padahal, Mas Bayu lah yang menyuruhku untuk menunda kehamilan karena saat itu ekonomi kami belum mapan. Sekarang malah aku yang disalahkan!
"Mona tidak mandul, Bu! Ini hanya masalah waktu saja! Mungkin saja karena efek dari suntik KB, Bu! Dulu, beberapa hari setelah menikah, Mona pernah suntik KB. Itu pun Mas Bayu yang nyuruh karena belum siap memiliki anak. Insyaallah suatu saat nanti, Allah pasti akan menitipkan janin di rahim Mona. Mona yakin pada kebesaran Allah, Bu!"
Aku berusaha menahan bulir bening yang dari tadi hendak keluar sambil mengelus perut yang masih rata, belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa aku hamil. Aku hanya berharap ada keajaiban dari Allah.
"Ngakunya tidak mandul, tapi sampai detik ini belum hamil juga! Mandul dan tidak bisa hamil 'kan sama saja!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, ibu mertua pun beranjak dari tempat duduknya. Membuka pintu kamarnya lalu membanting pintu dengan keras sehingga menimbulkan bunyi yang memekikkan telinga.
"Mas bosan lihat kamu sama Ibu berdebat terus tiap hari, Dek. Bisa nggak sih, kalian itu akur seperti menantu dengan mertua pada umumnya? Mas sudah capek bekerja seharian, pulang ke rumah masih harus mendengar keributan. Mas capek, Dek!" protes Mas Bayu.
Tadi Ibu, sekarang suamiku sendiri juga ikut menyalahkanku.
"Mas minta kamu ngalah aja sama Ibu, Dek. Ucapan Ibu tadi enggak usah dimasukin ke hati. Mungkin Ibu berucap seperti itu saking pengennya punya cucu."
"Aku sudah mengalah pada Ibu, Mas. Tapi tadi Ibu sendiri yang memulai. Jelas aku tersinggung dengan ucapan Ibu. Aku sakit hati dikatain mandul, Mas!"
"Sudah ya, enggak usah dibahas lagi! Mending kita ke kamar aja, yuk! Mas capek mau istirahat!"
Mas Bayu beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju kamar kami. Ia seolah tidak peduli pada perasaan istrinya. Padahal dulu Mas Bayu sendiri yang menyuruhku untuk menunda kehamilan karena belum siap untuk memilih anak. Sekarang, malah aku yang disalahkan.
Jika saja saat itu aku tidak menurutinya, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
***
Sudah larut malam begini, mataku belum juga terpejam. Sudah kucoba untuk merubah posisi tidur, tapi tetap tidak bisa. Mata ini seolah tidak bisa diajak kompromi.
Pikiranku berkelana jauh, memikirkan tentang rumah tanggaku.
Sejak kehadiran Ibu mertua dan juga Adik iparku Hana di rumah ini, hidupku seolah tidak bisa tenang. Jangankan untuk berduaan dengan Mas Bayu, untuk bersantai saja tidak bisa. Selalu saja Ibu menyuruh ini dan itu. Kerjaan di rumah ini seolah tidak ada habisnya.
Bukan cuma itu saja, beliau kerap kali meminta uang padaku dengan jumlah yang tidak sedikit. Padahal seluruh kebutuhannya di rumah ini sudah aku tanggung. Ditambah kebutuhan Hana adik iparku yang masih kuliah juga sangat banyak. Sehingga membuat kepalaku pusing dalam mengolah gaji Mas Bayu. Semua harus cukup, Mas Bayu tidak mau tahu hal itu.
Untuk mencukupi kebutuhan di rumah ini, aku bekerja sebagai kasir laundry dari pagi sampai sore. Hasilnya lumayan, bisa menutupi kebutuhan dapur.
Sebenarnya bisa dikatakan gaji Mas Bayu sudah lebih dari cukup. Ya, Mas Bayu memiliki toko bangunan, tapi itu semua tidak ada artinya karena sikap boros ibu mertua dan juga Hana yang suka berfoya-foya. Masih pertengahan bulan saja uang yang diberikan Mas Bayu sudah habis. Makanya aku bela-belain untuk bekerja, agar bisa menutupi semua pengeluaran.
Jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.30, tapi mata ini belum juga terpejam.
Aku kembali teringat pada foto bayi yang tersimpan di galeri ponsel Mas Bayu. Aku masih belum yakin dengan jawaban Mas Bayu tadi. Masa ia sih, foto itu diambil dari google?
Karena rasa keingintahuanku, aku pun mengambil ponsel Mas Bayu yang berada di atas meja. Untung saja ponselnya tidak menggunakan kata sandi layar sehingga aku begitu mudah untuk mengeceknya.
Galeri adalah menu pertama yang kubuka. Kutelusuri semua foto dan album. Ternyata di galeri tersebut ada sebuah album yang diberi nama 'my family'. Seketika mataku membulat saat melihat foto Mas Bayu sedang menggendong bayi. Ya, bayi yang digendongnya itu mirip sekali dengan bayi yang kulihat di foto itu.
Ya Allah … apa arti dari semua ini?
Tadi Mas Bayu ngakunya foto bayi itu ia comot dari google. Terus ini apa?
Berbagai pertanyaan menari-nari di dalam pikiranku. Ada apa ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Belum juga rasa penasaranku terjawab, tiba-tiba ponsel Mas Bayu yang sedang berada dalam genggamanku bergetar.
Sebuah pesan WA masuk dari kontak yang bernama Andi.
"Mas, besok beliin susu buat Haikal ya. Susunya Haikal sudah habis nih."
[Salah Mas sendiri, sih, enggak bolehin aku mengASIhi Haikal.]
"Sekalian beli pampers dan juga pil KB ya Mas! Takut kebobolan, Haikal 'kan masih kecil, Mas."
"Mas sudah bobo ya? Yaudah deh, mimpi yang indah ya, Sayang, bye."
Tunggu dulu, apa aku tidak salah lihat? Kontak yang bernama Andi mengirim pesan seperti ini kepada suamiku?
Bersambung
Bagian 2
Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna maksud dari semua ini.
Apa ini ada hubungannya dengan foto bayi itu? Apa mungkin itu anaknya Mas Bayu dengan wanita lain?
Pikiranku mulai tak menentu. Rasa hangat mulai menguar dari dada dan menyebar hingga ke seluruh tubuhku. Aku berharap bahwa apa yang kupikirkan saat ini tidak nyata adanya.
Tidak mungkin. Mas Bayu tidak mungkin mengkhianatiku. Apalagi sampai memiliki anak dengan wanita itu. Aku tahu, Mas Bayu tidak mungkin tega melakukan itu padaku. Suamiku sangat mencintaiku.
Aku berusaha menenangkan diri sendiri dengan mencoba berfikir positif. Namun, hatiku berkata lain. Seolah membenarkan.
Akhirnya pertahananku runtuh juga. Kaca-kaca bening mengalir begitu saja dari sudut netra. Aku tidak yakin jika orang yang sangat kucintai ternyata tega mengkhianatiku. Tidak, tidak mungkin.
Kupandangi wajah lelaki yang sudah empat tahun ini mendampingiku, ia sudah terlelap dalam damai dan terbuai dalam mimpi indah. Hanya dengkuran halus yang terdengar.
Apa benar kamu telah mengkhianatiku, Mas?
Apa benar kamu telah mengkhianati janji suci pernikahan kita, yang berjanji sehidup semati sampai maut memisahkan?
Apa benar kalau kamu telah memiliki anak dengan wanita lain, Mas?
Sayangnya semua pertanyaan itu hanya tercekat di tenggorokan, tidak mampu untuk kuucapkan.
Hatiku tidak percaya, tapi bukti berkata lain.
Mungkin lebih baik aku mencari tahu sendiri. Jika ditanyakan langsung, pasti Mas Bayu akan menyangkal. Apalagi sampai didengar oleh ibu mertua. Bisa-bisa aku lagi yang disalahkan.
***
"Mbak, minta uang dong! Hari ini aku ulang tahun. Aku ingin mentraktir teman-temanku. Yah, dirayain kecil-kecilan gitu!"
Hana menadahkan tangannya padaku. Seperti biasa, ia selalu saja meminta uang kepadaku. Membuat selera makanku mendadak hilang. Padahal, Mas Bayu sudah memberikan uang jajan untuknya. Tetapi, tetap saja ia merasa kurang dan minta lagi padaku.
"Mbak lagi enggak punya uang," jawabku sekenanya.
Aku masih ingat, tempo hari Mas Bayu sudah memberikan uang jajan untuk jatah satu bulan buat Hana. Masa iya, sudah habis?
"Pelit bangat sih, Mbak! Enggak banyak kok, satu juta cukuplah buat mentraktir teman-teman makan di cafe," ucapnya dengan santai, seolah aku ini pabrik uang yang bisa memberi uang berapapun yang ia minta.
"Enggak ada," kataku lagi.
"Dasar pelit!" umpatnya.
"Hey, Mona. Pelit bangat sih, sama adik ipar sendiri! Hana ini bukan orang lain loh! Apa susahnya sih, mengabulkan permintaannya? Uang satu juta itu 'kan enggak banyak. Pasti kamu punya simpanan. Bukankah kamu baru gajian? Kasih saja, Mona! Kepada siapa lagi Hana meminta uang kalau bulan pada kamu?"sahut ibu mertua.
Wajah Ibu terlihat memerah, ia marah padaku karena tidak menuruti permintaan anak kesayangannya itu.
Aku memang baru gajian, tapi aku tidak lagi sepolos yang dulu. Kini uang gajiku sengaja kusimpan di Bank. Diam-diam, aku menabung tanpa sepengetahuan suami dan ibu mertuaku. Jika tidak, semua uang milikku akan diambil dan aku tidak akan dapat apa-apa.
"Iya, Mona memang sudah gajian, Bu. Tapi uangnya 'kan udah habis buat bayar air, listrik, buat beli kebutuhan sehari-hari dan lain-lain, Bu!"
"Memang dasar pelit! Terus gaji Mas Bayu mana, Mbak? Masa sudah habis, sih? Mbak simpan di mana?" Gadis berambut panjang sebahu itu menatapku dengan tatapan tajam, sungguh ia tidak mempunyai rasa hormat terhadapku. Padahal, aku ini adalah kakak iparnya, istri dari abangnya sendiri.
"Hana, kamu 'kan tahu sendiri kalau belakangan ini tokonya Mas Bayu sedang sepi. Jadi otomatis jatah bulanan yang diberikan pada Mbak juga berkurang. Jadi, Mbak harus bisa mengelolanya dengan baik. Belum lagi harus bayar cicilan mobil Mas Bayu dan juga motor kamu setiap bulannya." Aku masih berusaha sabar menghadapi sikap adik iparku yang tidak punya sopan santun dan etika ini.
Ya, mobil yang dipakai Mas Bayu dan juga motor yang dipakai Hana masih nyicil alias belum lunas. Untungnya rumah ini dibeli cash. Jadi hanya perlu memikirkan uang untuk membayar cicilan mobil dan motor saja.
"Ya udah, gini aja. Kamu ambil dulu duit yang buat bayar cicilan motor Hana, nanti kamu ganti," ucap Ibu dengan entengnya, seolah tanpa beban. Enak saja, darimana aku mendapatkan uang untuk menggantinya?
Ibu sama anak sama saja, tidak memikirkan hari esok!
"Yasudah, Mona bisa kasih uang buat Hana. Tapi siap-siap saja motornya bakalan ditarik oleh pihak leasing, karena Mona sendiri enggak tahu harus cari uang kemana lagi!" Terpaksa aku mengancam mereka. Jujur saja, aku hampir kehabisan cara untuk menghadapi mereka.
"Dasar kakak ipar pelit!" Hana menghentakkan kakinya ke lantai, kemudian berlalu meninggalkan aku dan Ibu yang masih berada di ruang makan.
"Lihat tuh, gara-gara kamu, Hana jadi ngambek begitu!"
Tuh kan, ibu mertua malah menyalahkanku.
Secepatnya kusudahi sarapanku, setelah itu aku masuk ke kamar, bersiap-siap hendak berangkat kerja.
"Dek, semalam kamu buka-buka ponsel Mas ya? Setelah Mas tidur?" tanya Mas Bayu begitu aku masuk ke kamar kami. Wajahnya terlihat gusar, mungkin ia takut jika aku mengetahui rahasianya.
"Enggak!"
Aku terpaksa berbohong, semoga Allah tidak mencatat satu dosa dalam kebohonganku kali ini.
Astaghfirullah … semoga Allah mengampuni dosaku.
"Memangnya ada apa di ponselmu, Mas? Apa di dalamnya ada rahasia?" Aku sengaja menanyakan hal itu, ingin melihat bagaimana reaksinya.
"Enggak, kok," sangkalnya, padahal aku tahu kalau suamiku telah berbohong.
"Mas buru-buru. Pagi ini ada pelanggan yang pesan bahan bangunan dan harus secepatnya diantar. Mas duluan, ya!" Mas Bayu kemudian mendekapku ke dalam pelukannya, lalu mengecup keningku.
"Dadah, Sayang!" Mas Bayu pun melambaikan tangannya.
Jika saja pagi ini aku tidak sedang terburu-buru, maka akan kuikuti kemana Mas Bayu pergi. Aku curiga, jangan-jangan Mas Bayu akan menemui orang yang mengirimkan pesan ke ponselnya semalam. Tapi karena tuntutan pekerjaan, aku harus bersabar untuk sementara waktu.
Saat sedang memoles bedak ke wajahku, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel. Ternyata ponsel Mas Bayu ketinggalan.
Aku pun langsung mengambil ponsel yang terletak di atas kasur tersebut.
Sebuah pesan masuk dari BRI-NOTIF
Trx Rek.17070xxxxxxxxxxx : PENARIKAN TUNAI ATM Rp. 2.000.000 19/06/21 07:35:26
Apa? Mas Bayu baru saja menarik uang di ATM? Bukannya ia bilang sedang buru-buru karena mau mengantar barang pesanan pelanggan?
Ya Allah … apa lagi ini?
Untuk apa ia menarik uang sebanyak itu? Apa Mas Bayu akan memberikan uang itu untuk Hana? Tidak mungkin, pasti Hana tidak akan berani memintanya kepada Mas Bayu karena seminggu yang lalu Mas Bayu telah memberikan uang jajan untuk jatah sebulan buat Hana. Lantas, untuk siapa? Apa jangan-jangan, Mas Bayu akan memberikan uang itu untuk kontak bernama Andi yang mengirimkan pesan semalam?
Aku penasaran, siapa sebenarnya orang yang bernama Andi itu.
Jika kecurigaanku terbukti benar, maka aku tidak akan tinggal diam.
Bersambung
Bagian 3
Baru saja aku hendak meletakkan kembali ponsel Mas Bayu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
"Dek, ponsel Mas ketinggalan," ucap Mas Bayu begitu tiba di kamar.
"Iya, baru saja ada pesan masuk dari BRI NOTIF. Mas baru narik uang ya?"
Raut wajah Mas Bayu mendadak berubah, terlihat sekali kalau suamiku ini sedang menyembunyikan sesuatu.
"Untuk apa, Mas?" tanyaku lagi.
"Ini, Dek. Mas perlu uang untuk membayar barang pesanan toko. Kamu kan tahu sendiri kalau Mas beli barang pakai modal sendiri, Dek. Makanya Mas narik uang di ATM barusan."
"Bukannya kalau mau beli barang atau bahan bangunan, Mas selalu putar modal yang didapat dari hasil penjualan?"
Biasanya memang begitu. Mas Bayu tidak pernah menggunakan uang tabungan untuk membeli barang-barang toko. Setiap barang yang terjual akan di catat. Dan uangnya akan digunakan untuk membeli stok barang yang baru. Begitulah seterusnya.
"Akhir-akhir ini toko lagi sepi, Dek. Makanya Mas bingung mau nyari uang di mana lagi untuk membeli stoknya. Kok kamu jadu curiga gitu, Dek? Jangan bilang kamu telah berpikiran buruk pada Mas?"
Aku hanya diam, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Percuma diteruskan. Mas Bayu tidak akan mau mengakuinya.
"Masih pamit ya, Dek!"
Aku hanya menjawabnya dengan anggukkan kepala.
Jika saja pagi ini aku tidak buru-buru, pasti aku akan mengikutinya.
Jarum jam di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 07.40 WIB. Aku pun langsung mengambil tas dan juga kunci motor yang digantung di salah satu paku dinding kamar.
"Bu, Mona pamit ya," ucapku pada ibu mertua yang sedang bersantai di ruang tamu. Aku meraih tangannya hendak menciumnya, tapi Ibu malah menepisnya.
"Itu piring kotor nggak dicuci dulu sebelum pergi? Ibu paling malas kalau liat piring kotor numpuk di wastafel."
"Maaf, Mona buru-buru, Bu, takut telat!"
"Alasan saja! Apa susahnya sih menuruti perintah ibu?" Kini Ibu berdiri, melipat kedua tangan di depan dada sambil menatapku dengan tatapan tajam.
Selalu saja begitu. Padahal semuanya sudah aku kerjakan. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, menyapu halaman, semuanya sudah beres. Tunggal piring bekas sarapan tadi yang belum aku cuci. Itu juga masih dipermasalahkan. Harusnya jika Ibu keberatan, ia bisa mengerjakannya sendiri. Nggak harus menungguku.
"Mona pamit, Bu, assalamualaikum."
Aku segera berlalu dari hadapannya, tidak akan ada habisnya jika aku masih berdiri di situ.
Buru-buru kukeluarkan motor matic milikku dari garasi, menghidupkan mesinnya, lalu tancap gas menuju tempat kerjaku.
***
Hari ini aku sama sekali tidak bersemangat dalam menjalankan pekerjaanku. Pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Anganku menerawang jauh, memikirkan nasib rumah tanggaku. Entah bagaimana nasib rumah tanggaku nantinya jika terbukti bahwa Mas Bayu telah mengkhianatiku. Tidak mungkin aku bisa bertahan menerima kebohongannya.
Lebih baik berpisah daripada harus diduakan. Itu prinsipku. Pekerjaan ada, gaji ada. Jadi, aku tidak perlu takut jika memang harus berpisah dengannya.
Hanya satu yang aku takutkan, takut jika penyakit Bapak akan kambuh jika mendengar kabar yang tidak menyenangkan. Pasti Bapak akan kepikiran nantinya.
Astaghfirullah … aku mengucap istighfar berulang kali agar hati ini bisa tenang.
"Mona, kok wajahmu murung begitu? Apa kamu sedang tidak enak badan?"
Pertanyaan Umi Hikmah, sang pemilik toko laundry membuyarkan lamunanku.
"Jika sedang tidak enak badan, kamu boleh pulang, kok," ucapnya lagi.
"Mona Nggak apa-apa, Umi. Mona baik-baik saja!"
Jujur, aku merasa tidak enak hati padanya. Beliau tadi sempat melihat wajahku saat murung. Aku takut Umi Hafsah akan berpikir buruk tentangku. Takut dikira malas.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya Mona, hari ini kita tutup cepat ya. Silakan tulis pengumumannya dulu lalu tempelkan setelah menutup rolling door."
"Tutup cepat? Memangnya ada apa, Umi? Apa Mona membuat kesalahan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya soal itu.
"Nggak kok. Kebetulan hari ini anak Umi yang sedang kuliah di luar kota mau pulang. Umi mau menyambut kedatangannya. Semua karyawan bagian cuci, setrika serta packing sudah Umi suruh pulang dari tadi."
Iya, ya. Ternyata semua teman-teman kerjaku sudah pulang. Buktinya tinggal motorku saja yang masih berada di tempat parkiran. Sungguh aku benar-benar tidak fokus hari ini.
"Ya sudah, kamu pulang sekarang ya! Istirahatlah di rumah! Untuk beberapa hari ke depan, laundry akan tutup. Tapi tenang saja, untuk masalah gaji, Umi tidak akan memotongnya."
Ah, Umi Hikmah baik sekali. Coba saja ibu mertuaku seperti dia. Pasti aku akan sangat bahagia.
"Baik, Umi. Mona mau beres-beres dulu ya!"
"Jangan lupa pengumumannya di tempel ya. Cantumkan juga no HP-nya Widya. Siapa tahu ada konsumen yang ingin mengambil pakaian, mereka bisa menghubungi nomor Widya," titah wanita berjilbab syar'i tersebut.
Aku segera melaksanakan perintahnya, setelah semuanya beres, aku pun menuju parkiran.
"Mona, tunggu!" Umi Hafsah menghampiriku, lalu memberikan sesuatu padaku.
"Apa ini, Umi?" tanyaku penasaran.
"Umi tadi bikin kue, ini untukmu. Ambillah!"
Aku pun mengambilnya, lalu mengucapkan terima kasih.
Sebelum menghidupkan mesin motor, aku berpikir sejenak. Jika aku pulang ke rumah, pasti Ibu akan mengomel dan mengatakan aku ini pemalas. Sebenarnya aku malas pulang karena kerjaan di rumah tidak ada habisnya. Ibu mertua selalu saja menyuruhku untuk mengerjakan ini dan itu. Untuk beristirahat sejenak saja pun tidak bisa.
Sebaiknya aku mendatangi tokonya Mas Bayu saja. Siapa tahu aku bisa menemukan bukti di sana.
***
"Siang, Neng," sapa Kang Jono saat aku tiba di toko material milik suamiku.
"Siang juga, Kang," balasku sambil menyunggingkan senyum ke arahnya.
Kang Jono sedang sibuk dengan aktifitasnya, yaitu mencetak batako.
"Mas Bayunya ada, Kang?"
"Sedang keluar, Neng. Mungkin sedang mengantar barang pesanan pelanggan," jawabnya sambil fokus pada alat yang sedang dipegangnya. Alat yang terbuat dari besi, yang digunakan beliau untuk mencetak batako.
"Sudah lama, Kang?"
"Kurang tahu juga sih, Neng. Sebaiknya Neng tunggu di dalam saja. Di sini panas!"
"Tunggu dulu, Kang. Biasanya kan mobil itu yang digunakan untuk mengantar barang pesanan pelanggan." Aku menunjuk mobil carry pick up berwarna hitam yang terparkir di samping toko.
Apa lagi ini? Siang-siang begini malah Mas Bayu tidak ada di toko. Ke mana perginya Mas Bayu?
"Kang, boleh tanya sesuatu nggak?"
Kang Jono menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu beralih menatapku.
"Mau nanya apa, Neng?"
Aku tahu Kang Jono orangnya jujur, pasti ia akan jujur menjawab pertanyaanku.
"Apa akhir-akhir ini toko sedang sepi?"
"Nggak kok, Neng. Malah sekarang toko makin rame. Penjualan semakin meningkat. Pesanan batako juga makin banyak. Memangnya ada apa, Neng?"
"Nggak ada apa-apa kok, Kang. Mona nunggu Mas Bayu di dalam saja."
"Baik, Neng!" Kang Jono pun melanjutkan pekerjaannya kembali.
Aku bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa laporan penjualan. Setelah membuka lembar demi lembar buku laporan penjualan tersebut, ternyata benar, omset penjualan di toko ini semakin meningkat. Lantas, kenapa Mas Bayu berbohong padaku?
"Neng Mona? Ngapain di sini? Nunggu Pak Bayu ya?" tanya Mas Amar. Ia menghampiriku yang sedang duduk di meja kasir. Mas Amar adalah asisten Mas Bayu, sekaligus merangkap sebagai knet yang bertugas memuat dan mengantar barang pesanan pelanggan.
"Iya, ni. Mas Bayu kemana ya?"
"Keluar, Neng. Nggak tahu kemana," jawabnya singkat.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Mona pulang saja. Nggak usah kasih tahu Mas Bayu kalau Mona datang ke sini, ya. Rencananya tadi mona mau kasih kejutan pada Mas Bayu. Karena Mas Bayu nya lama, kejutannya di rumah aja." Aku sengaja berkata seperti itu pada Mas Amar. Semoga saja beliau bisa diajak kompromi.
"Iya, Neng, beres!"
Aku pun keluar dari dalam toko tersebut, menemui Kang Jono dan mengatakan hal yang sama. Memintanya agar tidak memberitahu kedatanganku ke toko ini.
Satu kebohongan Mas Bayu telah terungkap. Entah apa tujuannya membohongiku. Mengatakan bahwa toko materialnya sedang sepi. Padahal tokonya sedang ramai-ramainya. Jatah bulananku juga dikurangi karena alasan itu.
Apa maksud dari semua ini?
Apa ini ada kaitannya dengan foto bayi yang kulihat di ponselnya Mas Bayu tempo hari?
Baiklah, aku akan menyelidiki dan mencari tahunya sendiri.
Bersambung