Bab 2

Sudah hampir sampai dengan kosanku, tapi dia tidak berkata apapun kepadaku, membuat diriku sedikit kecewa. Apakah dia berkarakter yang diam-diam PDKT? Ataukah hasil dari perkataan mantan untuk menyakiti hatiku kedua kalinya?

Aku tidak tahu apa jawabannya, tapi aku berterima kasih kepadanya karena telah mengantarkan diriku ke kosan. Sampai akhirnya aku menatap Foremanku dengan kebingungan sekaligus beribu pertanyaan muncul dalam benakku. Namun, aku tidak berceloteh saat itu juga. Dia memberikan aku sebuah surat yang isinya pun aku tidak tahu, lalu aku menerima surat itu. Sedangkan dia pamit pulang kepadaku dengan penuh senyuman manis di wajahnya. Hatiku benar-benar cenat-cenut. Jadi saat dia pergi, aku membuka isi suratnya.

Sepucuk surat itu berisi...

"Kita berdua memiliki pasang mata yang selalu mengawasi setiap saat. Begitu pula, saat aku menatap tajam wajahmu yang membuat diriku tak sadarkan diri kalau aku memimpikan bersamamu dengan ciuman penuh gairah. Seandainya saja bukanlah mimpi, maukah kau mencoba ciuman gairah itu kepadaku?"

Aku terlonjak kaget akibat Foremanku berkata demikian. Selama ini, dia menatapku hanya ingin berciuman denganku, bukankah ini hal yang tak wajar apabila dilakukan oleh atasan dengan bawahan. Namun, diriku yang penasaran soal ciuman itu kadang memikirkannya setiap saat.

Malam itu, aku segera menyimpan surat dari Foremanku itu. Aku benar-benar kepikiran kalau diriku berciuman dengan Foreman, apa jadinya ya?

Aku pun merebahkan badanku yang terasa remuk redam. Kantuknya seketika sirna akibat kata-kata Foreman yang terngiang-ngiang dalam kepalaku.  Meluluhkan rasa nyeri hati akibat disakiti mantan ditemui Foreman yang aku cintai selama ini. Sosok Arie menjadi penawar duka lara. Mengobati rindu seorang lelaki dengan perempuan yang saling jatuh hati. Akankah rasa penasaran Foremanku hanya sekedar napsu ataukah cinta yang aku dambakan selama ini?

Suara handphone Ghina berbunyi dan membangunkan Ghina dari lamunan. Banyak chat dari pesan tak dikenalnya yang membuat Ghina pun membuka seluruh pesannya. Demikian saat Ghina membukanya, dia merasa tak mempercayai dengan apa yang ia lihat. Terdapat sebuah pesan dari Aarie berupa untaian kata-kata yang begitu menghanyutkan jiwanya Ghina.

"Kau begitu manis saat tersenyum, mengundang jiwa-jiwa puitisku hadir untukmu. Dari Arie yang menyukai senyuman termanismu."

"Perjuangan mendapatkan hati acuh sepertimu ialah hal yang paling tepat untukku."

Ghina berdecak kagum dengan isi pesan yang dikirimkan Arie. Dalam hati Ghina berpikir "Andai puisi ini hadir bukan sebatas penasaran, tapi kasih sayang yang sesungguhnya dari dia."

Buru-buru Ghina menepis perasaannya dan menjawab seadaanya agar dia tidak baper.

"Coba tebak bapak sedang bermain dengan kata penasaran, bukan cinta yang sesungguhnya, kan?" tanya Ghina.

"Tidak, saya ingin menebak 

erasaan anda kepada saya." Arie menjawab perkataan yang terduga membuat Ghina kepikiran.

Tak lama Ghina pun membiarkan pesan itu tidak dibalas dan duduk sambil membuka laptopnya untuk menepis perasaanya pada Foremannya. Ada rasa gembira yang terlintas di hatinya Ghina saat Arie memutuskan untuk menjemput maupun mengirim pesan yang tak terduga kepadanya. Arie yang tak mendaoatkan balasan pun mencoba menelpon Ghina. Kontan Ghina lagi-lagi dibuat terkejut dengan panggilan antusias dari Foreman Arie kepadanya. Mau tak mau Ghina pun mengangkat panggilan dari Foreman Arie itu.

"Ghina, kenapa kamu tidak membalas pesanku?" tanya Arie kepada Ghina, yang memperlihatkan raut wajah kecewa saat Ghina baru menyadari sorot manatanya Foreman itu. Dia menatap tak percaya dengan sosok wajah itu. Lagi-lagi dia mencoba memasang tembok kepada Arie agar hatinya tidak mudah luluh saat bersama lelaki yang ia sukai, takutnya ia seperti mantannya bernama Kris itu.

Siapa yang tak kenal dengan Ghina, gadis tinggi semampai, berkulit hitam manis, mantannya Kris, dan terkenal kalau dia satu-satunya yang kuliah sambil bekerja di pabrik itu. Sebagai wanita yang selalu menampilkan sisi acuh terhadap pria yang ditemuinya sekalipun, Ghina selalu menjadi pusat perhatian dengan dirinya yang kuliah dan pekerjaannya yang selalu dipanggil Foreman Arie sekalipun. Hal itu, membuat iri para teman-temannya kepada dirinya. Maka dari itu, mereka selalu saja berbuat ulah kepadanya dengan perkataan yang tak mendasar, rumor yang dilebih-lebihkan oleh mantan sekaligus mantan teman yang menghianatinya. Mereka pintar sekali memutarbalikkan fakta yang membuat Ghina ingin memblacklist semua pria yang ada di pabrik itu, agar dririnya tidak direndahkan lagi maupun menerima lamaran dari lelaki yang bekerja di pabrik itu.

Tak dipungkiri, Ghina terlalu takut traumanya muncul kembali dengan kesakitan dengan orang-orang yang mencintainya itu pergi dari hadapannya. Itulah yang dia pikirkan setiap harinya. Cemoohan dari pabrik itu yang acap kali membuat Ghina tidak enak hati dan ingin menghentikan bulian dan kesembongan mereka. Tetapi untuk apa, dia sadar bahwa posisinya hanya sebagai helper packaging di salah satu pabrik bagian produksi, tak mungkin akan dihargai, apalagi didengarkan. Untuk itulah, dia mencoba menghindari Foreman Arie dalam kehidupannya, walau dia mencintainya.

"Maafkan saya pak, soalnya bapak tuh atasan saya, jadi saya tidak enak hati bila bapak terus-terusan mengirimkan pesan yang membuat orang salah paham," jawab Ghina sembari memposisikan dirinya duduk di kasur dan handpohonenya dibiarkan berdiri di samping laptopnya yang hidup.

Betapa terkejutnya Arie. Niat ingin menyambungkan perasaannya menjadi satu disambut dengan lontaran kata-kata penolakan yang senantiasa membuat Ghina terlihat sekali insecurenya.

Hati Arie pun sedikit menggelitik nuraninya, menenangkan di alam bawah sadarnya kalau Ghina mungkin saja harus didekati secara perlahan agar dia membuka hatinya. Itulah pikiran Arie saat ini. Ada wanita yang bisa menerima cinta dari pria itu dengan mudah, dan ada yang menembok hatinya agar tidak mudah didekati.

Setelah Arie memikirkan hal itu, Arie pun bertanya lagi kepada Ghina.

"Apakah kau tahu kalau dirimu ialah satu-satunya wanita yang menolakku dibandingkan mengagumiku, sekalipun diriku ialah atasanmu sebagai Foreman."

"Atasan kalau masalah pribadi itu berbeda dengan keprofesionalismenya bekerja, jadi sekalipun bapak adalah atasan saya, bukan berarti saya harus menerimanya, bukan?" jawab Ghina, disambut dengan senyuman dari Arie kalau wanita yang dihadapannya ialah wanita yang tepat bila bersanding dengannya.

"Perjuangan untuk mendapatkanmu tidaklah mudah, wanita sepertimu akan selalu memasang tembok yang utuh, tapi tak dipungkiri kalau tembok utuh itu bisa saja bocor karena hati wanita akan luluh. Seberapa lamanya itu, aku akan mencoba memastikan kata-kataku bukanlah hanya bualan semata."

"Mungkin saja akan luluh apabila bapak menggunakan pengorbanan yang bapak berikan kepada wanita yang bapak cintai, tapi bukan wanita sepertiku yang harus menerima cintanya bapak."

"Menemui orang tuamu akan aku lakukan agar kau dapat memastikan perkataanku ialah benar adanya, Begitu pula, dengan memastikan perasaanmu sebelum kita berdua menuju ke pelaminan yang sesungguhnya."

Ghina mengangguk pertanda mengerti. Dan sesaat kemudian Ghina mencoba mengakhiri percakapannya dengan Foreman Arie, dia menggunakan alasan sibuk menyelesaikan skripsinya.

"Maaf percakapan saya dengan bapak, harus saya akhiri hari ini, menimbang saya memiliki keperluan untuk mengerjakan skripsi, jadi bapak bisa menutup telponnya kalau bapak tidak memiliki urusan pekerjaan dengan saya lagi dibandingkan membahas masalah pribadi saya, sekian dan terima kasih."

Perkataan tegas Ghina pun mampu membuat kobaran jiwa mudanya Arie kembali hadir. Seorang wanita yang merupakan bawahan itu benar-benar mengakhiri percakapannya dengan tegas.

Malam telah datang, serangkaian kata-kata Arie terngiang-ngiang di benaknya Ghina. Ada rasa ingin menerimanya, tapi dia takut terluka. Bagi Ghina, seorang wanita yang telah terluka, takkan mampu melupakan rasa sakitnya di masa lalu berbeda dengan pria yang hanya mengandalkan logika dibandingkan perasaan pribadinya sendiri. Wanita bukan hanya bisa pandai bicara, tapi di lubuk hatinya membutuhkan rasa kasih dan sayang dari seorang pria. Namun kenyataannya, kasih sayang seorang pria dapat didapati bila sudah berhubungan intim. Sayangnya, Ghina tak melakukan hal itu setelah sekian lama dia berhubungan dengan banyak pria, sehingga putus cintanya hanya sementara, tidak sampai dirinya berujung dalam pernikahan yang Ghina inginkan.

Banyak yang mencibir atau menganggap rendah prinsipnya Ghina. Namun dia tetap dengan prinsipnya, menjalin cinta tanpa harus menggunakan berhubungan intim sebelum menikah. Ghina berusaha memutuskan menjadi pribadi yang terbaik, meski dirinya tidak memiliki apa-apa saat ini, bukan berarti Allah tidak menolongnya, tapi di balik ujian selalu ada kemudahan, bukan?

Memberikan nasihat kepada orang lain pastilah tidak didengar, tapi menjalinya dengan kehidupan kita bukanlah tidak mungkin untuk dilaksanakan, walaupun tak seorang pun yang memandang Ghina sempurna, tapi dia berusaha mencoba mengatasinya tahap demi tahap.

"Tidak perlu, saya bisa jalan sendiri."

Bab 3

"Tidak ada kata penolakan, ini perintah saya," ucap Arie, dia mengenggam tangannya Ghina dengan paksa, lalu menuntunnya ke motornya yang terparkir di depan kosannya Ghina hingga dia pun menurut akibat sorot matanya Arie benar-benar memaksa. Ghina yang tak ingin mengundang perhatian lebih dalam dari kosannya pun akhirnya menurut saja.

"Kau akan senang bila bersamaku, Ghina. Hidupmu akan didampingi oleh orang yang tulus menyayangimu, tidak sepertimu saat ini yang selalu menyendiri setiap saat." Suara Arie tak Ghina abaikan begitu saja, tapi dia terus membantahnya.

"Semua pria akan berkata seperti itu saat mereka berdua menjalin hubungan, tapi setelah tahu kebenarannya maupun rasa penasarannya telah terjawab habis, pria itu akan segera meninggalkan seorang wanita yang lagi sayang-sayangnya itu." Sementara Ghina memandang ke arah samping, dia tak berharap kalau Foreman Arie memperhatikannya seperti ini, matanya pun berkaca-kaca. Namun, dengan sengaja Ghina terus saja menyembunyikan perasaan sedihnya karena sudah dilukai oleh banyak pria yang menjanjikan perkataan manis. Sayangnya, menimbulkan luka terdalam.

"Arie sudah tidak tahu lagi, Ghina. Kalau perasaanmu itu ternyata lebih parah dari yang aku duga. Kalau kau menerima perasaanku saat ini, aku pastikan langsung menikahimu karena aku sudah siap secara lahir dan batin."

Ghina terdiam mendengarkan perkataan Arie yang terfokus kalau dirinya ingin mengakhiri percakapan pribadinya dengan Arie itu. Dia ingin segera sampai ke tempat tujuan saat ini.

"Ayo bicaralah, Ghina." Arie mendesak.

"Saya hanya ingin tahu seberapa besar kesungguhan bapak dalam menyukai saya, bila bapak tidak sabar, maka bapak bisa cari kandidat wanita lain yang banyak memperhatikan bapak saat ini."

Ghina tak ingin berdebat di awal masuk kerja lagi. Lagipula, Foreman Arie pun takkan bersungguh-sungguh mengejarnya sebagaimana mantannya bernama Kris dulu.

***

Keesokan harinya, setelah sektor 11 dihentikan akibat tidak adanya RPH di pabrik itu hingga Arie dengan Ghina harus berpisah sementara. Hanya saja, Arie secara khusus menjadwalkan Ghina agar bisa bersamanya di Sektor 8. 

"Saya akan menjadwalkan Ghina di Sektor 8," ucap Arie kepada admin yang menyusunkan sebuah jadwal para pegawai produksinya.

Sesuatu yang tak terduga pun menghampiri mereka.

"Saya tidak setuju, alangkah baiknya bila Ghina berada di Sektor 9 dengan jadwal yang telah saya buat," timpal Asep, selaku foreman Sektor 11. Dia adalah foreman paling tua hingga mereka berdua pun berdebat.

"Alasan bapak kenapa memindahkan Ghina ke Sektor 9?" tanya Arie. Dia sebenarnya tak ingin berdebat dengan foreman paling seniornya itu.

"Ghina harus banyak belajar, dia juga gesit saat bekerja, jadi lebih baik di Sektor 9 agar dia bisa mengembangkan kemampuannya saat ini. Kalau di Sektor 8, dia tidak mungkin hanya bisa menjalankan satu kerjaan dalam packing mesinnya saja, bukan?" jawab Asep yang benar-benar masuk akal, membuat Arie pun mengalah kepada Asep.

"Niatnya biar bisa bertemu dan bersama dengan Ghina lebih dekat, ternyata selalu ada penghalang memisahkan kita berdua," batin Arie.

Dia hanya menatap Ghina secara kejauhan saat ini, akibat kemarin Ghina mencoba menjauh darinya. Sehabis Ghina diantar olehnya, dia masih teringat dengan perkataan Ghina saat itu.

"Maafkan saya pak, tapi kalau bapak dekat dengan saya, pastinya akan ada rumor yang buruk tentang saya maupun bapak, apalagi bapak tahu sendiri kalau mantan saya bekerja di tempat yang sama."

"Bukannya, mantanmu itu hanyalah bawahan saya, dia takkan berani dengan saya karena saya yang membawa mantanmu agar bisa bekerja di bagian Mixer," jawab Arie, dia tak mau kalah dengan Ghina karena dia benar-benar sayang dengan Ghina pada pandangan pertama.

"Saya pamit." Ghina beranjak pergi, tapi tangannya Arie tak terlepas dari Ghina.

"Saya kan belum selesai bicara denganmu," jawab Arie.

"Bapak bisa bicara di lain hari saja, karena tak enak bila berbicara di tempat kerja." Ghina menunduk, kemudian dia segera pergi dari hadapan Arie yang mematung kepadanya itu.

Tak peduli lagi Arie pada bulan, pada angin, dan mereka yang riuh di atas pohon. Arie hanyut dalam pikiran Ghina. Rasa cinta Arie kepada Ghina selalu ditolak beberapa kali. Begitu banyak wanita yang mencintainya. Baru kali ini, dia selalu ditolak terus-menerus. Berjalan dalam gelap kehampaan cinta ataukah rasa kekosongan akibat ambisi diterimanya cinta dengan seorang wanita lebih besar. Apa saja yang Ghina mau, Arie dapat melakukannya. Namun, Ghina selalu menolaknya dengan halus. Dalihnya selalu sama.

"Kita berdua hanya sebatas atasan maupun bawahan."

Perkataan itulah yang selalu terngian-ngiang dalam pikirannya saat ini. Semua wanita menginginkan cintanya Arie, bahkan para wanita yang ingin bersamanya selalu rela merendahkan harga dirinya, tapi Ghina berbeda.

Arie masih terus bekerja dengan pikirannya yang terus-menerus melayang. Tubuhnya bekerja, tapi hatinya memikirkan ke yang lain. Suara mesin menggerayangi Arie kalaupun mesin itu terus berjalan, dia menatap mantannya Ghina yang bernama Kris itu.

Arie terus menatap Kris dengan pikiran mengejek.

"Apa bagusnya dia? Kenapa orang sepertinya bisa membuat Ghina jatuh cinta kepadanya?"

"Aku tampan, aku juga foreman, dan aku lebih baik dari dia."

Perkataan yang ia ucapkan dalam hati terus memuji dirinya sendiri tanpa memperhatikan kalau hati tidak bisa mudah terlepaskan dari kata Move On. Sementara banyaknya orang yang bekerja di pabrik itu terdengar riuh di hadapan Arie. Dia pun berjalan menghampiri Ghina yang beda sektor itu dengan dalih meminta pergantiannya sementara waktu kepada Foremannya Asep. Arie mendapati Ghina yang sedang bekerja secara serius, ternyata Arie sudah sejauh ini menyukai Ghina dari jauh sampai dirinya meminta untuk bergantian sebentar.

Waktu berjalan seiring napas mengalir di tubuh ini. Arie pun memutuskan kembali dirinya bekerja di sektor yang seharusnya untuk beberapa hari ini saja. Itulah kira-kira yang Arie pikirkan saat ini. 

Sudah pagi hari lagi. Lebih tepatnya, mereka bekerja saat shift malam dan pulang keesokan paginya.  Arie kembali mengantar Ghina dengan sepeda motornya menuju kosannya Ghina. Hari itu, Aarie benar-benar menjemput Ghina. Tentu saja, awalnya Ghina menolak jemputan itu, tapi Arie begitu gigih ingin menjemputnya. Ghina pun menurut. Jadi, Ghina tak ingin berdebat dengan hal yang tak pasti bersama Foreman Arie itu. Sudah jam 7 pagi. Itu waktunya mereka akan tidur di rumahnya masing-masing setelah bergadang sepanjang malam di shift pabrik itu. Aarie terus memperhatikan wajahnya Ghina. Sampai akhirnya mata Ghina pun menataonya bingung.

Dia membawakan minum untuk Arie karena dia telah menjemputnya sampai ke Kosan, lalu Arie menghampiri Ghina dengan menyudutkannya di tembok.

Ghina gelisah. Arie di hadapannya benar-benar akan menerkamnya bila diperhatikan secara dekat. Dipeluknya Ghina mendadak yang masih mematung itu.

"Ghina...Aaku benar-benar ingin menerkammu saat ini di atas ranjang, lalu aku ingin mendengarkan desahanmu yang membuat aku meremang. Namun, kau selalu menjauh dariku. Dari sekian banyak wanita yang mencintaiku, hanya kaulah yang menolakku. Aku tidak tahu, apakah ini akibat dari reaksi penolakanmu? Ataukah aku benar-benar menyayangimu? Bisakah dirimu membuat aku memastikannya?" Suara Arie saat itu benar-benar terdengar khawatir akan cinta yang bisa saja hilang dalam sekejap.

"Tidak pak, perasaanmu itu pastinya salah. Bapak lebih baik cari wanita lain untuk memastikannya."

"Ghina," panggil Arie yang menyadarkan aku dari kemerindingan Arie yang semakin dekat hingga aku tidak bisa kabur dari penyudutan dengan tubuhnya Arie yang berbadan besar itu.

Degg...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED