Bab 1

Rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta selalu menyenangkan dimana Gio dan Lia selalu berbagi dalam banyak hal, bersama Gio dimana Lia yang polos menjadi berubah menjadi liar saat berada di ranjang. Gio memberikan banyak pelajaran bagaimana memuaskan pasangan dan hidup bersama secara perlahan Lia berubah, usia mereka tidak lagi muda tapi meski begitu mereka masih sanggup melakukan hubungan intim semalaman tanpa kenal lelah.

“Timor Leste lagi?” Gio mengangguk “kamu habis dari sana gimana bisa kesana lagi, Gi.”

“Papa membutuhkan aku disana.”

Lia hanya menghembuskan nafas panjang dimana Gio akan melakukan apa pun untuk orang tua satu – satunya itu, Gio akan berangkat ke Timor Leste setiap bulan di hari libur kerjanya dan sekarang baru saja minggu kemarin kesana.

“Toko roti kamu gimana perkembangannya?”

“Baik, Kia dan Dio belajar sangat baik dalam mengelolanya.”

Gio mengangguk “aku nggak akan lama jadi tenang saja.”

“Papa atau Mona yang meminta kamu datang?”

Gio berdiri kaku lalu tersenyum “papa yang memintanya.”

Lia sangat tahu apa yang membuat Gio menjadi seperti ini dimana tidak lain adalah Mona, wanita yang pernah menjadi masa lalunya dan bertemu saat menjelang pernikahan dengan papanya. Kejadian yang disebabkan oleh Helena saat itu membuat Mona mengalami masa krisis dan membuat anaknya harus ikut orang tuanya kembali ke Indonesia, setelah keadaan aman dan Gio sudah bisa kembali ke tanah kelahirannya terdapat banyak perubahan pada sosok Gio.

“Papa berangkat lagi, ma?” menatap Dio yang baru turun dengan mata khas orang bangun tidur “bukannya sebulan sekali kenapa berangkat lagi?”

“Kakek yang minta datang.”

Dio mencibir jawaban Lia “Dio bukan anak kecil, ma.”

Lia hanya terdiam mendengar kata – kata Dio yang terkadang benar adanya, menatap putranya yang sudah beranjak dewasa membuat teringat akan hadirnya putra semata wayang ini.

“Mama kalau mau pisah sama papa kita nggak ada masalah,” ucap Dio membuat Lia mengerutkan dahinya “terlalu sering mereka menyakiti mama dan papa nggak bisa melakukan apa pun.”

Diam adalah salah satu kunci yang selalu Lia lakukan setiap anak – anaknya mengutarakan hal itu, belum ada satu pun pikiran Lia berpaling dari Gio. Masih teringat jelas bagaimana Gio mendatangi dirinya dan berjuang mendapatkannya, pria yang masih memegang perasaan pada dirinya meski harus terpisah jarak karena keadaan ternyata harus kalah dengan keadaan kembali.

Kedua adik Gio sendiri sudah memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran karena setelah konflik selesai dimana papanya melakukan hal gila dimana menginginkan keturunan yang berasal dari mereka para pria dengan wanita yang sudah ditentukan.

Gio sendiri awalnya tidak menginginkan hal itu hanya saja akhirnya kalah hanya dengan satu nama yaitu Mona, Lia bahkan tidak bertanya sejauh mana hubungan mereka sebelumnya karena entah mengapa semuanya terkesan tidak berguna.

Toko roti yang dibangunnya sudah berjalan sebagaimana mestinya dimana anak – anaknya juga membantu hingga berkembang besar seperti ini, berbicara mengenai Mona dimana anak – anaknya tidak bisa diandalkan dalam banyak hal sangat berbeda dengan anak – anak Lia. Mona sering iri dengan cara Lia mendidik anak – anaknya hingga bisa sukses seperti sekarang ini tanpa meminta bantuan dari kakeknya yang berada di Timor Leste.

“Pulang sekarang, ma?”

Lia menatap Kia yang sudah rapi dan siap untuk pulang “semua sudah beres?”

Kia mengangguk “mama tidur sendiri malam ini?” Lia menatap bingung “papa pulang kampung dan Dio lagi sama teman – temannya.”

“Sudah biasa tidur sendiri, memang kamu mau tidur dirumah?”

Kia menggelengkan kepala “masih banyak yang harus dikerjakan.”

Menepuk bahu Kia pelan “jangan khawatirkan mama karena mama bisa menjaga diri.”

Bab 2

Suara desahan terdengar dari dalam kamar membuat Dio harus bertahan diri sebagai anak terakhir dikeluarga ini, kedua insan yang berada dikamar seakan tidak peduli dengan keadaan sekitar sama sekali bahkan keberadaan anaknya.

“Kamu selalu luar biasa, Li” erang Gio sambil menggerakkan junior didalam semakin cepat “aku menyukai semua yang ada dalam dirimu.”

Gerakan Gio semakin lama semakin cepat yang dibantu Lia untuk mencapai klimaks secara bersamaan, dua puluh tahun lebih hidup bersama hanya junior Gio yang pernah memasuki dirinya dan tidak ada keinginan lain. Gio sangat mampu memuaskan Lia dalam segala hal termasuk ranjang, gerakan mereka semakin cepat hingga tidak lama kemudian mencapai klimaks, Gio membiarkan juniornya berada didalam hingga tidak ada lagi yang keluar. Dilumatnya bibir Lia sebelum penyatuan mereka terlepas, Lia selalu merasa kehilangan jika junior Gio lepas dari dalam miliknya.

“Jadi pengen punya anak lagi” Lia menatap tajam pada Gio yang tersenyum menggoda “karena kamu seksi kalau hamil.”

“Anak – anak bisa ngomel aku hamil lagi, Gi” Gio mengangguk setuju “aku bahagia bisa melahirkan anak hasil dari cinta kita berdua meski diawal banyak mengalami cobaan.”

“Aku yang lebih bahagia karena kamu menerima cintaku.”

Gio melumat bibir Lia dengan sangat lembut seakan tidak ingin menyakiti satu sama lain, melepaskan ciuman dengan saling menatap penuh cinta. Gio memilih bangkit terlebih dahulu untuk membersihkan diri didalam kamar mandi sedangkan Lia membersihkan dengan menggunakan tissue yang ada didalam kamar. Setelah memastikan semuanya bersih Lia memilih keluar dengan menggunakan kimono tanpa apa pun didalamnya, tinggal hanya bertiga dirumah membuat Lia tahu dimana keberadaan Dio saat ini yang pastinya dalam kamar menutup telinganya dengan headset agar tidak mendengar suara desahan dari orang tuanya.

Perut yang terasa lapar membuat Lia memutuskan masak terlebih dahulu sebelum akhirnya sepasang tangan memeluknya dari belakang sambil mencium lehernya secara naik turun membuat Lia harus memukul tangan tersebut. Gio mencuri ciuman singkat di sudut bibirnya sebelum duduk di meja makan menunggu masakan matang, sambil menunggu Gio memainkan ponselnya yang sepertinya sedang membaca sesuatu.

“Tia mengirim video anaknya yang baru belajar jalan” menunjukkan video pada Lia ketika menata makanan di meja “jadi ingat dulu Tia seperti itu.”

“Mama masak apa?” Lia mengalihkan pandangan ke Dio “aku lapar.”

“Mama ambilkan piring buat kamu.”

Suasana makan dalam keadaan berisik dimana Gio banyak bertanya mengenai perkembangan Dio, usia anak – anak mereka saat ini dimana Tia menikah muda saat usia dua puluh tahun karena sang kekasih yang juga sahabatnya ingin status jelas dengan cara menikah dan saat ini mereka sudah memiliki satu orang anak yang berusia dua tahun dan sedang mengandung lima bulan, Kia anak kedua mereka memilih untuk bekerja sambil kuliah ditempat yang sebenarnya tidak jauh dari sini dan anak terakhir mereka Dio baru akan lulus dan bersiap untuk kuliah yang lagi – lagi memutuskan keluar dari rumah. Usia mereka saat ini adalah kepala empat meski begitu banyak yang mengatakan mereka awet muda karena memang mereka sering melakukan perawatan bersama baik wajah maupun dengan pola hidup sehat.

“Mama kenapa bisa mau sih sama papa yang hitam begini?.”

“Seksi dan jantan.”

Dio memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari Lia dan sukses melihat Gio sang ayah yang tersenyum bangga, Dio memang mengakui jika kedua orang tuanya selalu penuh cinta tapi apakah memang mereka saling mencintai sebenarnya atau hanya karena sex. Suara desahan mereka sering didengar anak – anaknya dan itu juga membuat mereka keluar dari rumah, meski begitu Dio mengakui jika sang mama merupakan mama yang terbaik di dunia tidak ada yang mengalahkan siapa pun itu.

“Bagaimana pun fisik papa kamu bagi mama cinta papa kamu itu sangat luar biasa” Dio menatap kedua orang tuanya “mama bisa merasakan bagaimana tulusnya kasih sayang dari papa sangat berbeda dengan pria – pria lain.”

“Yakin tidak akan tergoda dengan orang lain?” Dio menatap kedua orang tuanya bergantian yang kompak menggelengkan kepala “baguslah kalau begitu karena Dio bisa tenang.”

“Maksud kamu?” Lia menatap Dio curiga “jangan bilang kamu memilih kuliah di Yogya?” Dio mengangguk pelan membuat Lia menghembuskan nafas pelan “kamu akan mengganggu Mbak Tia.”

Dio menggelengkan kepala “Dio ingin mandiri sama seperti papa dahulu, karena harus ada yang menjadi tujuan Dio.”

“Kamu jangan khawatir dimana kita bisa saling menjaga satu sama lain dan saling mencintai, jika papa ke Timor Leste berarti mama akan ikut serta” Lia mengangguk pelan “papa mencintai mama kamu dari awal karena dia adalah cinta pertama dan terakhir papa dimana tidak akan ada wanita lain yang bisa dengan mudah menggantikan tugas mama.”

Cinta dimana Lia dari awal bertemu Gio tidak menyangka jika memiliki cinta sedalam ini untuknya, bagaimana bisa Lia tertarik pada orang lain jika menadapatkan banyak hal dari sang suami Gio. Suasana makan memang selalu akrab dan anak – anak sering membantu ketika selesai makan dengan membersihkan sendiri sehingga Lia bisa istirahat dengan tenang, dahulu sempat melarang tapi Gio selalu bilang agar mereka terbiasa nantinya.

“Jangan berisik.”

Lia tersenyum dengan didorong Gio masuk kedalam kamar mereka, dibukanya kimono hingga tubuh telanjang Lia terlihat membuat Gio menelan saliva kasar. Didekatnya Lia dengan meremas kedua payudara pelan membuat Lia menutup mata untuk menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh Gio, ciuman lembut pada bibir dibalasnya dengan tidak kalah lembut membuat tubuh Lia diangkat Gio menuju ranjang dan langsung mengeksplore tubuh Lia tanpa terlewatkan satu pun membuat Lia memejamkan mata menikmati semua sentuhan yang diberikan oleh Gio.

“Aku tidak pernah bosan dengan tubuhmu, sayang.”

Gio memasukkan lidahnya pada bibir bagian bawah Lia dengan perlahan termasuk biji kecil yang ada didalamnya, Lia hanya bisa mendesah dan meremas rambut Gio mencoba menikmati semuanya dan sesuatu yang ada didalamnya seakan ingin meledak dan benar saja Lia keluar tidak lama kemudian yang langsung ditelan Gio tanpa merasa jijik sama sekali. Menatap Lia yang baru saja mengalami orgasme dengan mencium bibirnya lembut, perlahan diarahkan juniornya pada bibir bagian bawah agar bisa masuk kedalamnya yang secara perlahan dilakukannya agar bisa masuk kedalam dengan satu kali dorong yang membuat Lia menutup mata atas apa yang Gio lakukan.

“Aku mencintaimu sekarang dan selamanya.”

Kata – kata yang selalu Gio ucapkan setiap mereka selesai melakukan hubungan panas mereka di ranjang dan Lia selalu masuk kedalam kata – kata yang keluar dari bibir Gio selama bertahun – tahun lamanya.

Bab 3

Lia menatap sekitarnya yang tampak sepi, keputusannya yang berada dirumah setelah menikah memang keputusan besar. Usaha yang dirintis sudah dipegang alih sama Dio dan Kia sesuai dengan keputusan Gio yang menginginkan anak – anaknya tanggung jawab dari kecil, menatap sekitar dimana memang tampak sepi yang hanya tersisa ibu – ibu dalam rumah sedang memasak dan jam tertentu mereka akan keluar hanya untuk bergosip.

“Sore” Lia menatap sumber suara disampingnya dimana pria bernama Manoj orang ekspatriat dari India menyapanya.

Manoj sendiri berusia kepala lima dan tinggal seorang diri meski terkadang ibu – ibu sering mengatakan jika pria ini sering membawa wanita kedalam, Lia tidak pernah melihat wanita keluar masuk dari rumah baik itu pagi atau malam hari. Manoj menatap Lia dari atas sampai bawah dimana kulit putih dan berisi di dada dan pahanya yang menggoda iman bisa tertarik dengan pria berkulit beda dengan dirinya, Lia tidak menyadari pakaiannya saat ini dimana sedikit transparan sehingga bisa terlihat dalamannya yang berwarna orange dan mampu membuat adik kecil Manoj berdiri sempurna.

“Pak Giovanni belum pulang?.”

“Belum, katanya ada lembur” Manoj mengangguk “sudah makan?” Manoj menggelengkan kepala “saya masak sedikit banyak dan mereka berdua pulang malam, nanti saya antarkan tapi makan daging tidak?” Manoj hanya mengangguk karena dalam otaknya sudah tersusun banyak rencana “aku siapkan dulu.”

“Pintunya aku buka jadi tinggal langsung masuk saja” Lia mengangguk pelan.

Menyiapkan makanan untuk tetangganya yang berasal dari negara yang berbeda, rantang makanan sudah siap tinggal berangkat. Tidak lupa mengunci pintu terlebih dahulu sebelum kerumah Manoj, suasana rumah disaat sore biasanya sangat ramai tapi sepertinya saat ini entah mengapa jadi sangat sepi. Lia masuk dengan sangat mudah karena tidak dikunci oleh Manoj, masuk kedalam rumah dimana tercium aroma khas dari negaranya sempat membuat Lia mual, masuk semakin dalam karena tidak menemukan keberadaan tuan rumah yang secara tiba – tiba Manoj keluar dengan bertelanjang dada dengan handuk menutupi bagian bawahnya.

“Sampai masuk jadi gak enak.”

Lia menatap tubuh Manoj dimana tumbuh bulu – bulu di dadanya yang membuat dirinya menelan saliva kasar, meski Gio memiliki bulu tapi tidak sebanyak Manoj. Lia semakin masuk kedalam dimana Manoj memindahkan makanannya ke dalam wadah, memilih berdiri di belakang Manoj seakan menilai tubuh pria tersebut.

“Kekasihnya mana?”

Manoj menatap Lia lalu tersenyum “gosip tetangga masih didengarkan” meletakkan wadah di mesin cuci piring “kalau kekasihnya seperti kamu nggak akan nolak” wajah Lia memerah mendengar kata – kata Manoj “aku sering mendengar desahan kamu.”

Lia membeku saat Manoj mendekati dirinya yang bersandar di tembok, membelai pipi Lia lembut membuat mereka saling menatap satu sama lain. Menelan saliva kasar saat tubuh mereka semakin mendekat, wajah Manoj semakin dekat seakan hendak menciumnya membuat Lia menutup mata menunggu bibir pria beda negara ini. Melihat sang wanita menutup mata Manoj memberanikan diri menempelkan bibir mereka tanpa adanya gerakan sama sekali, Lia tidak tahu harus melakukan apa dengan bibir Manoj yang menempel ini, perlahan digerakkannya bibir Lia membuat Manoj tersenyum karena mendapatkan respon dari ibu tiga anak ini. Tangan Lia sudah melingkar di leher Manoj membuat tubuh mereka semakin mendekat, Manoj meremas pantat Lia perlahan dengan mengangkat bagian bawahnya sehingga bisa merasakan lembutnya kulit wanita dihadapannya ini. Diangkatnya Lia tanpa melepaskan ciuman yang membuatnya segera melingkarkan kakinya pada paha Manoj, ciuman mereka berdua semakin dalam seakan tidak ingin terlepaskan satu sama lain. Tangan Manoj sudah meremas payudara Lia dengan pelan yang akhirnya membuat Lia melepaskan ciuman dengan mengeluarkan desahan.

“Jangan membuat bekas” ketika merasakan lidah Manoj bermain dilehernya “aku tidak ingin suamiku tahu.”

Manoj menuruti permintaan Lia dengan tetap menjilati seluruh tubuhnya dimana membuat sang wanita meremas rambut panjang Manoj, tangan Lia dibawahnya pada penis dengan memberikan belaian perlahan. Manoj membuka pakaian Lia dan dilemparkannya secara sembarangan dan langsung membuka semuanya sehingga Lia telanjang bulat membuat Manoj menatap tubuh Lia dengan pandangan bersinar, Lia menutup payudara serta vaginanya saat menatap Manoj yang tidak berkedip menatap dirinya dan ini pertama kalinya telanjang depan pria yang bukan Gio.

“Suami kamu sangat beruntung sekali” melepaskan tangan Lia yang menutupi bagian tubuhnya “sangat indah dan aku ingin merasakannya, apa bisa?.”

Lia terdiam karena jika Manoj menyentuhnya berarti telah mengkhianati Gio, pria yang mencintainya dengan penuh perasaan. Manoj yang melihat Lia akan berubah pikiran dengan cepat membuka pakaiannya sehingga Lia bisa melihat penis Manoj yang sangat berbeda dengan Gio, dipegangnya tangan Lia menyentuh penisnya dimana hanya pasrah dengan tatapan tidak akan lepas dari penis milik Manoj. Penis Gio memang besar dan panjang hanya saja milik Manoj ini seakan menggoda Lia untuk mencobanya masuk kedalam, belaian perlahan pada pipi dengan ciuman yang diberikan Manoj serta tangannya yang meremas pelan payudara membuat Lia terjebak pada apa yang dilakukan pria ini, bahkan jemarinya sudah keluar masuk di vagina Lia yab membuatnya mendesah keras atas apa yang dilakukan.

“Kamu sangat sempurna dan semua ini tidak akan diketahui oleh suami kamu.”

Diangkatnya Lia masuk kedalam kamar dimana tercium aroma khas dari negara Manoj yang semakin membuat dirinya menginginkan sentuhan lebih dari pria tersebut, Manoj yang sangat tahu jika Lia masuk kedalam jebakannya dengan segera memasukkan penisnya kedalam vagina. Penis tak bersunat pertama yang memasuki Lia dan juga penis pertama selain milik Gio, menahan nafas saat penis Manoj masuk kedalam bahkan memejamkan matanya. Lia bernafas lega saat penis tersebut masuk kedalam dimana Manoj memberikan nafas sebentar agar bisa menetralkan diri, gerakan perlahan yang Manoj lakukan membuat keduanya memejamkan matanya menikmati setiap inch dari sentuhan mereka. Manoj merasakan bahwa milik Lia adalah terbaik selama ini dan bagaimana bisa tidak menyadarinya, gerakan Manoj semakin cepat seakan mereka ingin mencapai klimaks bersamaan. Manoj harus lebih cepat karena suami dan anaknya akan segera datang sedangkan Lia sendiri bergerak kiri kanan mencoba menikmati semua sentuhan yang ada dari penis Manoj, satu jam sebelum Gio pulang Manoj sudah mencapai klimaksnya dengan mengeluarkan didalam Lia. Melepaskan penyatuan mereka berdua dengan saling memandang dimana Lia harus kembali kerumah, Manoj membantunya dengan memberikan tangga agar lewat belakang yang diikuti Lia. Ketika naik Manoj dapat melihat cairan mereka yang mengering disela – sela paha Lia dan membuatnya ingin mengulangi kembali, sedikit beruntung karena rumah mereka tidak memiliki tembok pemisah tinggi dibandingkan sebelahnya. Manoj ikut naik menuju rumah Lia yang membuatnya terkejut atas apa yang dilakukan pria tersebut, ditariknya Lia dengan mencium bibirnya lembut.

“Besok kita ulangi kembali karena aku masih belum puas merasakannya.”

Lia membelai pipi Manoj pelan “dengan syarat tidak ada wanita lain yang kamu masuki, maka aku akan siap memuaskan kamu jika tidak ada suamiku.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED