Mendung menguasai langit sejak pagi ini. Suasana di luar tidak begitu bagus, begitu gelap, suram, dan terasa dingin. Tidak ada bedanya dengan raut wajah seorang gadis yang sedang duduk sendirian di tepi kolam air mancur yang berada di tengah taman labirin.
Gadis itu ingat dulu sekali, ibunya pernah bercerita bahwa dirinya dinamai Kanaya Amelitta, dengan harapan agar dia bisa tumbuh cantik dan bahagia.
Kanaya memang tumbuh dengan cantik. Kulitnya putih dan bersih, wajahnya cantik dengan mata bulat jernih, hidung yang sempurna, dan bibir yang merah alami. Namun sepertinya Kanaya tidak tumbuh dengan bahagia.
Kurang dari setahun, Kanaya sudah empat kali menghadiri upacara pemakaman. Yang pertama adalah upacara pemakaman ayahnya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil saat melakukan perjalan bisnis ke Jakarta. Menurut kesaksian yang diberikan oleh saksi mata, kecelakaan mobil itu adalah kecelakaan tunggal. Mobil hitam yang dikendarai ayahnya mendadak menabrak bahu jalan dan akhirnya teguling beberapa meter. Ayahnya meninggal ditempat. Kanaya masih ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah ibunya yang terlihat begitu hancur saat menerima kabar kematian ayahnya.
Lalu seminggu kemudian, kakak keduanya berteriak histeris saat menemukan mayat ibunya yang tergantung di dalam kamar yang hanya diterangi oleh cahaya dari lampu tidur. Ibunya tidak sanggup menghadapi kepergian ayahnya yang begitu tiba-tiba, akhirnya memutuskan untuk gantung diri dan pergi menyusul suami tercintanya, meninggalkan anak-anaknya.
Belum selesai duka yang dirasakan Kanaya karena kepergian orang tuanya, dia harus kembali berhadapan dengan luka lain. Kakak pertamanya meninggal dianiaya oleh suami yang sangat dia cintai. Mayat kakak petamanya penuh dengan luka lebam yang membiru dan wajahnya tampak membengkak, hampir tidak bisa dikenali. Benar-benar pemandangan yang menyayat hati.
Kanaya membiarkan kesedihan menggerogoti dirinya selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, dia mulai tidak peduli dengan sekelilingnya. Lalu pada suatu hari Kanaya mendengar teriakan histeris yang berasal dari kamar kakak keduanya. Saat sampai di dalam kamar kakaknya, Kanaya melihat kakaknya itu sedang menangis dan tertawa secara bersamaan. Benar-benar pemandangan mengerikan yang tidak akan pernah dilupakan Kanaya sampai kapanpun. Kakaknya itu sedang menangisi tunangan tercintannya yang lebih memilih wanita lain. Setelah hari itu keadaan kakaknya semakin parah dia bahkan sudah melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri.
Kanaya yang merasa frustasi memutuskan untuk membawa kakaknya ke rumah sakit untuk konseling dengan harapan agar keadaan kakaknya bisa lebih baik, dokter menyarankan kakaknya lebih baik dirawat di rumah sakit. Namun setelah sebulan perawatan, yang Kanaya temukan bukan wajah kakaknya yang tersenyum cantik melainkan wajah pucat dengan mata membelalak mengerikan serta tubuh yang terbujur kaku di ruang mayat.
Pada saat itu Kanaya tidak tahu harus berekspresi seperti apa, menangis pun rasanya tidak bisa. Hatinya begitu sakit, dia bahkan tidak bisa bernapas dengan benar. Dia benar-benar sudah tidak punya lagi tempat untuk berbagi keluh kesah, tidak ada lagi orang-orang yang akan melindungi dan mendampinginya. Upacara pemakaman kakak keduanya adalah upacara pemakaman terakhir yang dihadiri Kanaya.
Kalau diingat-ingat, ini sudah memasuki bulan keenam sejak Kanaya memutuskan untuk meninggalkan rumah keluargannya di Bandung dan pindah ke Jakarta, tinggal bersama paman Evan—adik ibunya.
Suara petir yang menggelegar membuyarkan lamunan Kanaya. Langit terlihat begitu kelabu, sebentar lagi rintik hujan pasti akan turun membasahi bumi. Kanaya harus bergegas kembali ke rumah. Saat akan berdiri, dengan ceroboh Kanaya malah menjatuhkan ponselnya ke dalam kolam.
Kanaya menatap nanar poselnya yang perlahan tenggelam ke dasar kolam. Apa yang harus dia lakukan? Itu adalah ponsel pemberian pamannya. Dengan panik Kanaya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya mencoba menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menggambil ponselnya yang sudah tenggelam. Tidak mungkin dia menceburkan dirinya ke dalam kolam, karena kolam tersebut cukup dalam yang ada dia malah ikut tenggelam bersama ponselnya.
Setelah beberapa saat, Kanaya berhasil menemukan sebuah ranting yang cukup panjang. Dia menggunakan ranting itu untuk menggambil ponselnya. Tangan kirinya berpenganggan di tepian kolam, agar dia tidak ikut tercebur. Dengan susah payah Kanaya terus berusaha tanpa ada niat menyerah.
“Hei! apa yang kamu lakukan?” suara yang terdengar lantang itu berhasil mengagetkan Kanaya membuat peganggan tangannya terlepas dan berakhir tercebur ke dalam kolam. Apa dia juga akan mati seperti keluarganya? Sepertinya iya, hanya saja keluarganya mati dengan tragis karena cinta, sedangkan dia mati konyol karena tenggelam.
Kanaya memejamkan matanya, dengan tenang dia menunggu sampai paru-parunya kehabisan oksigen. Tidak ada usaha untuk menyelamatkan diri, lagi pula bagaimana caranya dia menyelamatkan diri? berenang saja dia tidak bisa.
Disisa-sisa kesadarannya, Kanaya merasa seperti ada yang meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke permukaan. Kanaya langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya sekaligus memuntahkan air yang masuk ke dalam saluran pernapasan dan membuatnya terbatuk-batuk tanpa ampun.
Setelah selesai, Kanaya mendongak dan menatap orang yang sudah menyelamatkannya. Di depannya terdapat seorang laki-laki yang terlihat terlalu...tampan? dia memiliki sepasang mata berwarna biru yang sangat menarik, terbingkai sempuna oleh alis tebal yang berjejer rapi. Rambutnya kecokelatan dan rahangnya kokoh. Fitur wajahnya begitu sempurna, dia seperti bukan manusia.
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya laki-laki tersebut seraya memandang Kanaya cemas.
Kanaya berusaha untuk menjawab, namun tenggorokannya sakit sehingga tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Kanaya!” Kanaya melihat Ethan, sedang berlari ke arahnya.
“Astaga! Gavin apa yang terjadi? kenapa Kanaya bisa seperti ini?” tanya Ethan panik.
Ah, ternyata namanya Gavin. Kanaya menatap laki-laki di depannya.
Gavin menatap Kanaya sekilas. “Dia terjatuh di kolam, lebih baik kita kembali dulu ke rumah sebentar lagi akan turun hujan,” usul Gavin. Tanpa menunggu persetujuan Kanaya, Gavin langsung mengangkat Kanaya, lalu menggendong gadis itu di punggungnya. Dia melakukannya dengan lembut dan perlahan.
Kanaya terkejut dan jantungnya berdebar kencang. “Kanaya, lingkarkan lenganmu di bahuku.” Suara Gavin terdengar begitu lembut di telingga Kanaya. Membuatnya tidak bisa membantah, dengan pelan Kanaya melingkarkan lengannya di bahu Gavin dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Gavin. Samar-samar Kanaya bisa mencium wangi tubuh Gavin, hatinya terasa hangat.
**********
Setelah hari itu, Kanaya tidak pernah bertemu lagi dengan Gavin. Dari apa yang di ceritakan Ethan, Kanaya tahu bahwa Gavin adalah sahabat Ethan. Kanaya tidak berani bertanya lebih jauh lagi.
Hari ini Kanaya benar-benar merasa bosan, paman Evan dan istrinya—bibi Tasya sedang melakukan perjalanan bisnis ke Bali selama dua minggu. Ethan sejak kemarin belum pulang ke rumah. Sebenarnya Kanaya masih punya sepupu lain—Kesya, dia adalah adik kandung Ethan. Sayangnya Kesya tidak begitu menyukainya. Kesya selalu mengganggunya di setiap kesempatan dan bersikap memusuhi, nada bicaranya pun tidak ada lembut-lembutnya. Jelas mendekati Kesya dengan alasan untuk menghilangkan rasa bosan bukanlah ide yang bagus.
Kanaya menghembuskan napas kasar, kalau hanya diam seperti ini tanpa melakukan apa-apa, dia akan teringat lagi dengan keluarganya. Kanaya kemuadian bangun dari ranjang, mengambil ikat rambut dan mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Diliriknya jam dinding di atas televisi. Baru pukul lima sore. Lebih baik dia keluar dan menghirup udara segar.
Kanaya keluar dari kamarnya lalu berjalan menuruni tangga menuju ke halaman belakang rumah. Dia ingin berjalan-jalan di sekitar taman labirin. Pamannya memiliki taman labirin yang sangat luas dihiasi dengan berbagai jenis tanaman dan bungga.
Setelah berjalan beberapa menit, Kanaya akhirnya sampai. Angin berdesau pelan, membawa aroma manis dari bungga-bungga yang sedang bermekaran. Kanaya tersenyum senang, hatinya seketika dipenuhi rasa hangat.
“Kanaya?” Kanaya tertegun melihat orang yang barusan memanggilnya.
“Kita belum pernah berkenalan secara resmi, kan? aku Gavin Januartha. Kamu bisa memanggilku Gavin,” sapanya ramah sembari mengajak Kanaya bersalaman.
“Ah... aku Kanaya.” Kanaya terdiam, “Kanaya Amelitta,” lanjutnya salah tingkah.
Gavin tersenyum memandang Kanaya. “Sepertinya kamu baik-baik saja. Aku sedikit khawatir, waktu itu kamu terlihat kedinginan dan tubuhmu menggigil.”
“Aku baik-baik saja, itu bukan apa-apa,” jawab Kanaya.
“Syukurlah kalau begitu,” ujar Gavin, “Tapi apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanyanya kemudian.
“Tidak ada. Aku hanya sedang jalan-jalan,” jawab Kanaya seadanya.
“Apa aku boleh di sini sebentar? Aku sedang menunggu Ethan, tapi sepertinya dia akan datang terlambat,” jelas Gavin.
“Terserah kamu,” jawab Kanaya. Ugh! Jantungnya mulai berdebar dengan kencang.
Kanaya kemudian berjalan menjauh dari Gavin. Dia takut Gavin mendengar debaran jantungnya, walaupun itu tidak mungkin. Kanaya duduk di bangku taman dan membuka buku yang dari tadi dia bawa lalu mulai fokus membaca, berusaha mengabaikan keberadaan Gavin.
“Hei Kanaya, apa kamu mau makan gula kapas?” tanya Gavin, mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung.
Kanaya tercenung, lalu akhirnya mengangguk.
“Tunggu sebentar.” Gavin kemudian membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah gula kapas besar berwarna merah muda dan memberikannya pada Kanaya.
Wajah gadis itu terpana melihat gula kapas di tangannya. “Ini... sangat lembut dan manis,” gumamnya.
Gavin tersenyum.”Memangnya kamu belum pernah memakan gula kapas sebelumnya?”
Mata Kanaya menerawang. “Orang tuaku sangat protektif. Termasuk untuk jajanan seperti ini.”
Gavin mengangguk mengerti. Ethan pernah bercerita sekilas tentang keluarga Kanaya. Sanggat disayangkan Kanaya harus menggalami hal seperti itu di usianya yang sangat muda.
“Kanaya, coba lihat! cuaca hari ini begitu cerah, langitnya cantik,” ujar Gavin.
Kanaya lalu mengarahkan pandangannya ke langit. Tidak ada awan kelabu yang menghiasi langit. Langit dipenuhi dengan semburat kejinggaan yang indah.
“Kanaya, apa kamu suka gula kapasnya? Kalau kamu suka aku akan sering membawakannya untukmu.”
Kanaya melirik Gavin yang duduk di sampingnya. “Aku suka, rasanya manis.”
Gavin tesenyum lembut. “Baiklah, aku akan sering membawakannya untukmu.”
“Terima kasih,” ujar Kanaya pelan.
“Iya sama-sama. Sepertinya Ethan sudah kembali, apa kamu mau kembali ke rumah? Sebentar lagi akan gelap,” ajaknya diikuti anggukan Kanaya. Mereka pun berjalan beriringan kembali ke rumah. Sepanjang jalan, Gavin terus mengajak Kanaya berbicara, sesekali dia bercerita tentang hal-hal lucu yang membuat Kanaya tidak bisa membendung tawanya.
**********
Hari demi hari berlalu, hubungan Kanaya dan Gavin semakin dekat. Gavin selalu datang menemui Kanaya hanya untuk berbagi cerita. Tidak lupa setiap datang, dia selalu membawa gula kapas yang begitu digemari Kanaya. Gavin yang baik dan ramah selalu memperlakukan Kanaya dengan hangat. Tidak pernah sekali pun Kanaya mendapati Gavin menatapnya dengan tatapan iba. Hal itu membuat Kanaya nyaman. Saat ini pun Kanaya sedang menunggu kedatangan Gavin.
“Kanaya.” Kanaya menoleh ke sumber suara. Terlihat Gavin yang sedang berjalan ke arahnya. tampak kepayahan, napasnya tidak beraturan.
“Tersesat lagi?” tanya Kanaya dengan nada mengejek.
“Aku tidak pernah terbiasa dengan taman labirin yang rumit ini,” keluh Gavin. Dia kemuadian duduk di samping Kanaya dan merebahkan kepalanya di bahu Kanaya.
“Apa kamu sudah lama menunggu?” tangan Gavin terulur mengambil helaian rambut Kanaya dan membaui aroma yang menempel di rambut hitam Kanaya.
“Tidak juga.” Kanaya menjawab singkat.
Gavin melirik Kanaya. “Tadi aku bertemu Kesya,” ujarnya pelan.
“Oh ya? apa yang dia katakan?” tanya Kanaya, tampak tertarik.
“Tidak ada yang penting.”
“Ck!...” Kanaya berdecak kesal. Kalau tidak ada yang penting kenapa tiba-tiba membahas Kesya? “Apa kamu membawa gula kapasku?” tanya Kanaya pada akhirnya.
Gavin tertawa. “Tentu saja aku membawanya, itu adalah tiket agar bisa bertemu denganmu.” Gavin kemudian mengelurkan sebuah gula kapas besar dari dalam tasnya dan memberikannya pada Kanaya.
Kanaya menerimanya dengan senang hati dan mulai memakan gula kapas tersebut. Gavin tersenyum geli mempehatikan tingkah Kanaya.
“Apakah gula kapas itu begitu enak sampai kamu tidak mengacuhkanku?”
Kanaya tidak memedulikan sindiran Gavin, dia hanya fokus memakan gula kapas yang terasa begitu lembut dan manis.
“Aku juga ingin tahu bagaimana rasa gula kapas itu,” gumam Gavin.
“Kamu mau?” tanya Kanaya.
Gavin mencondongkan tubuhnya ke arah Kanaya. “Aku ingin mencoba rasanya dengan caraku sendiri,” bisiknya.
Sebelum Kanaya sempat bertanya apa maksud dari kata-kata Gavin berusan, Gavin sudah lebih dulu menempelkan bibirnya di bibir Kanaya. Memberikan ciuman lembut yang memabukan. Lidahnya menuntut Kanaya untuk membuka bibir,mencicipi manisnya mulut gadis itu.
Kanaya terengah, perutnya terasa campur aduk, seakan jutaan kupu-kupu beterbangan serentak di sana. Ia memejamkan mata, menikmati ciuman Gavin. Setelah beberapa saat, Gavin menghentikan ciumannya, memberikannya kesempatan untuk bernapas.
Gavin membelai pelan pipi mulus Kanaya. Kanaya membuka mata, melihat mata biru Gavin yang sedang memandangnya penuh arti. “Gav...,” bisik Kanaya, tetapi sebelum dia menyelesaikan kalimat itu, mulutnya kembali terkunci dengan ciuman Gavin yang lembut namun begitu mendominasi.
Gavin menghentikan ciumannya dan memberi jarak yang cukup diantara mereka. “Kanaya.” Gavin memanggil Kanaya dengan suara seraknya. Tangannya terulur mengelus lembut bibir Kanaya yang membengkak.
Bibir Kanaya terasa kelu, dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya diam menunggu penjelasan Gavin.
Gavin menatap Kanaya. “Kanaya... ku rasa aku mencintaimu,” ucapnya serak.
Cinta? omong kosong macam apa ini? “Gavin...,” ujar Kanaya dengan suara bergetar matanya mulai berkaca-kaca. Dengan cepat Kanaya menepis tangan Gavin. Ia kemudian berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat itu, mengabaikan Gavin yang memanggil namanya.
Kanaya sangat ketakutan. Dia merasa benci dan takut terhadap cinta yang dia yakini sebagai sumber dari semua masalah yang dia alami. Tidak ada akhir yang baik dari cinta, sekali berurusan dengan cinta hanya ada akhir tragis yang menunggu. Kanaya tidak mau berakhir tragis seperti ibu dan kakak-kakaknya.
********
Suara ketukan stiletto Kanaya memenuhi lorong. Langkahnya luwes dengan postur tubuh yang proporsional, ditambah dengan wajah cantik yang mempesona, layak membuat semua orang menoleh. Sesekali Kanaya membalas sapaan yang dia dapat dengan senyum tipis. Kanaya melangkah masuk ke dalam lift, dia kemudian menekan tombol delapan di panel. Kanaya menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan memejamkan matanya, menikmati kesunyian yang ada di sekelilingnya.
Kanaya bekerja sebagai seorang fashion designer, dia bahkan memiliki brand pakaian sendiri. Tidak heran jika Kanaya sangatlah sibuk, sejak pagi tadi Kanaya sudah menghadiri rapat untuk persiapan fashion show yang akan diadakan dua bulan lagi di Jakarta fashion week. Rapatnya berlangsung cukup lama karena ada banyak hal yang harus dipersiapkan.
Suara ponsel yang berbunyi nyaring membuyarkan lamunan Kanaya. Kanaya segera mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Ethan.
“Halo Kanaya…” terdengar suara Ethan yang menyapanya dengan nada riang.
“Iya, kenapa?” tanya Kanaya.
“Apa kamu sibuk? aku lagi di Bandung. Kalau kamu tidak terlalu sibuk, bisa kita bertemu sebentar? ada yang mau aku bicarakan,” ucap Ethan.
Kanaya menghembuskan napas berat. “Aku tidak bisa lama-lama, aku masih harus bertemu dengan beberapa klien.”
“Tidak akan lama, aku janji,” ucap Ethan.
“Baiklah,” balas Kanaya. Dia kemudian langsung memutuskan panggilan telepon dengan Ethan.
Setelah menunggu sekitar lima menit, lift akhirnya sampai di lantai delapan. Kanaya segera keluar dan berjalan menuju ruang kerjanya.
“Kanaya…” terdengar suara Clara — asisten Kanaya, yang memanggilnya.
“Kenapa Clara?” tanya Kanaya.
Clara menatap Kanaya sekilas. “Ini daftar nama-nama model yang akan ikut dalam fashion show.” Clara memberikan beberapa kertas berukuran sedang pada Kanaya. “Oh iya jangan lupa jam dua nanti kita ada meeting dengan pihak Meyta Collection.” tambahnya cepat.
Kanaya mengangguk. “Aku mau keluar sebentar.”
“Baiklah. Kembali sebelum jam dua, jangan sampai terlambat!” kata Clara memperingati.
Kanaya bergumam paham. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil beberapa barang yang dia perlukan.
**********
Taksi yang ditumpangi Kanaya berhenti di sebuah kafe sederhana dengan tema monokrom yang membuat kafe tersebut tampak unik. Setelah membayar, Kanaya segera melangkah masuk ke dalam kafe tersebut. Kanaya mengedarkan pandangan ke sekeliling berusaha menemukan keberadaan Ethan.
Suasana kafe tampak ramai sehingga Kanaya sedikit kesulitan untuk menemukan Ethan. Setelah beberapa saat mencari, pandangan Kanaya terhenti pada sosok pria tampan yang menggunakan kemeja light blue dengan potongan rambut pendek yang tertata rapi. Pria itu duduk di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan luar kafe.
“Ethan,” sapa Kanaya begitu jaraknya dengan pria tersebut tidak terlalu jauh.
Ethan yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di tanganya langsung mengangkat pandangannya saat mendengar suara Kanaya. “Hai…” ujar Ethan seraya tersenyum ramah.
Kanaya membalas senyuman Ethan. Dia kemudian duduk berhadapan dengan Ethan. “Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Kanaya tanpa basa-basi.
Ethan sontak tergelak. “Sepertinya kamu benar-benar tidak ingin bertemu dengan ku, padahal aku sangat merindukanmu, aku jadi sedih…” ujar Ethan dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Kanaya tertawa pelan. “Bukan begitu, aku hanya penasaran apa yang mau kamu bicarakan.”
“Benarkah? kalau begitu pesanlah sesuatu, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”
Kanaya tersenyum tipis kemudian memanggil salah satu pelayan. “Aku ingin pesan colossal carrot cake dan vanilla sweet cream.” Pelayan tersebut mencatat pesanan Kanaya dan segera pergi.
“Bagaimana kabar paman, bibi, dan juga Kesya? apa mereka baik-baik saja?” tanya Kanaya.
“Mereka baik-baik saja. Bagaimana dengan mu? Apa kamu tidak merasa kesepian tinggal sendirian di sini? Apa kamu tidak ingin kembali ke rumah?”
“Aku baik-baik saja, dan aku sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk merasa kesepian,” jawab Kanaya.
Ethan terdiam sejenak memandang saudara sepupunya. Kanaya semakin tertutup dan sangat sulit untuk dipahami, dia seperti membangun tembok kokoh yang tidak murah ditembus oleh siapapun tidak peduli seberapa keras orang tersebut mencoba, pada akhirnya pasti akan gagal.
“Kanaya, kamu boleh sesekali pulang ke rumah. Ayah dan ibu pasti akan senang, kalau soal Kesya kamu tidak perlu menanggapinya,” ujar Ethan.
Kanaya mengangguk. “Aku akan pulang saat liburan,” jawab Kanaya seadanya.
Percakapan mereka terhenti sejenak saat seorang pelayan datang membawa pesanan Kanaya. “Selamat menikmati,” kata pelayan tersebut dengan ramah.
Kanaya tersenyum senang merasakan colossal carrot cake di dalam mulutnya. Ada sedikit rasa asin, tapi sangat pas disandingkan dengan vanilla sweet cream yang dia pesan.
Ethan tertawa pelan melihat Kanaya begitu menikmati makanannya. “Aku akan menikah,” ujar Ethan dengan lugas.
Kanaya tertegun. Menikah? barusan Ethan bilang dia akan menikah? menikah dengan siapa? apa saudara sepupunya ini punya pacar yang bisa diajak menikah?
“Kamu mau menikah? dengan siapa? memangnya kamu punya pacar yang bisa diajak menikah?” Kanaya akhirnya melontarkan pertanyaan yang ada di pikirannya.
Ethan terperangah, tak lama dia tertawa.
“Kenapa malah tertawa?” Kanaya mengernyit binggung.
“Menurutmu aku tidak punya pacar yang bisa diajak menikah?” Ethan balik bertanya seraya berusaha meredahkan tawanya.
Kanaya mengedikan bahu. “Aku hanya berpikir kamu bukan tipe yang bisa serius untuk berkomitmen semua pacarmu yang aku tahu juga sama,” ucap Kanaya.
Ethan tersenyum, matanya menerawang. “Yang satu ini istimewa, kamu pasti akan mengerti apa maksudku saat bertemu langsung dengannya.”
“Aku jadi penasaran,” gumam Kanaya pelan, “Jadi kapan tepatnya kamu akan menikah?” tanyanya kemudian.
“Dua minggu lagi, dan kamu harus datang tidak ada alasan. Aku sampai datang jauh-jauh ke sini untuk mengundangmu secara langsung, undangan resminya akan menyusul,” jelas Ethan.
Kanaya menghela napas. Datang ke pernikahan Ethan? apa tidak apa-apa?
“Kanaya, kamu bisa datang kan?”
Kanaya terdiam sejenak, sebelum menjawab, “Ethan… apa tidak apa-apa? aku rasanya belum siap.”
Ethan mengulurkan tanganya, mengelus pelan rambut hitam Kanaya yang terurai indah dan terasa begitu halus. “Kanaya, ini sudah hampir delapan tahun… mau sampai kapan kamu menghindarinya? saat ini dia sudah bertunangan dengan Kesya, kamu tidak bisa menghindar terus seperti ini,” ujar Ethan. Kanaya hanya terdiam. “Kanaya …?” panggil Ethan, dia menatap Kanaya yang terus diam di depannya.
“Aku hanya takut. Terlebih sekarang dia adalah tunangannya Kesya, hubunganku dengan Kesya sudah cukup buruk. Aku tidak mau membuatnya semakin buruk lagi,” jelas Kanaya.
Ethan menatap Kanaya dengan lekat. “Apa yang membuatmu takut? Apa kamu masih memiliki perasaan pada Gavin?”
Kanaya tercenung, tak siap dengan pertanyaan itu. “Aku… tidak tahu, tapi sepertinya tidak.”
Ethan memandang Kanaya dengan tatapan tak percaya. “Jawaban macam apa itu? kamu harus memastikannya sendiri. Berhenti menghindari Gavin!” tegas Ethan.
Kanaya mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan Ethan memang benar. Sudah cukup selama ini dia terus menghindar dari Gavin. Kanaya harus memastikan sendiri apakah dia masih memiliki perasaan pada Gavin atau tidak… lagi pula saat ini Gavin sudah menjadi tunangan Kesya, jadi pastinya Gavin sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap dirinya. Semuanya pasti akan baik-baik saja.
Ethan melihat Kanaya yang tampak begitu gusar. “Kanaya, jangan terlalu dipikirkan. Kamu tidak perlu khawatir, kalaupun ternyata kamu masih memiliki perasaan pada Gavin… tidak apa-ap—”
“Apanya yang tidak apa-apa?” potong Kanaya cepat. “Gavin itu tunangannya Kesya,” sambungnya ketus.
Ethan tersenyum menatap Kanaya dengan lekat. “You know nothing,” gumamnya kemudian.
Kanaya memilih mengabaikan Ethan yang sedang tersenyum tidak jelas. Entah apa maksud Ethan berkata seperti itu, Kanaya sama sekali tidak berminat menanggapinya. Dia kemudian memutuskan untuk menghabiskan vanilla sweet cream yang masih tersisa setengah.
“Jadi, kamu akan datang ke pernikahanku, kan? tanya Ethan memastikan.
“Iya,” jawab Kanaya singkat. “Apa aku boleh membawa temanku?” tanyanya kemudian.
Ethan tampak tertarik, “teman? teman yang mana?”
“Clara, dia asistenku,” jawab Kanaya.
Ethan mengangguk mengerti. “Baiklah, kamu boleh membawanya. Aku akan menyiapkan satu kamar lagi untuk dia.”
Kanaya memandang Ethan sambil mengernyitkan dahi. “Kamar?” tanya Kanaya perlahan.
Ethan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Apa aku belum bilang?” tanya Ethan, “aku akan menikah di Bali, jadi kita harus menginap sekitar tiga hari,” jelasnya kemudian.
Kanaya tampak senang. “Bali? aku jadi tidak sabar. Sepertinya akan menyenangkan,” ujarnya bersemangat.
Ethan tersenyum menatap Kanaya. “Ya, sekalian liburan. Tidak baik bekerja terus.”
Kanaya mengangguk setuju. Kalau pernikahan Ethan diadakan di Bali, Clara pasti tidak akan menolak permintaan Kanaya untuk menemaninya. Kanaya kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganya, sudah hampir pukul dua. Dia harus bergegas kembali ke kantor jika tidak ingin terlambat menghadiri rapat dengan pihak Meyta Collection.
“Ethan sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku sudah punya janji jam dua ini,” ujar Kanaya. “Dan aku bisa pergi sendiri, aku akan naik taksi. Kamu tidak perlu mengantarku,” tambah Kanaya cepat. Dia kemudian mengeser kursinya dan beranjak pergi meninggalkan Ethan.
“Kanaya... tunggu sebentar!” ujar Ethan menahan Kanaya untuk tidak pergi dulu.
Kanaya menoleh, melihat Ethan. “Kenapa?” tanyanya.
“Jangan menghindari Gavin, temui dia dan pastikan perasaanmu. Kalau ternyata kamu masih menyukainya… aku akan membantumu. Kamu tidak perlu takut, kamu berbeda dengan ibu dan kakak-kakakmu. Kamu tidak akan berakhir seperti mereka,” ujar Ethan.
Kanaya memandang Ethan seraya berusaha menahan perasaan sesak yang tiba-tiba muncul. Kenapa Ethan berkata seperti itu? Gavin dan Kesya sudah bertunangan tidak mungkin hanya karena Kanaya menyukai Gavin, lalu Ethan akan membantunya merusak pertunangan mereka —pertunangan sahabat dan adik kandungnya sendiri! Apa yang sebenarnya dipikirkan Ethan?
“Anggap saja aku tidak pernah dengar apa yang barusan kamu katakana,” ujar Kanaya dingin. Dia lalu berbalik, berjalan keluar dari kafe tersebut.
Ethan menatap punggung Kanaya yang menjauh. Kanaya, you really know nothing…
Kanaya yang sudah keluar dari kafe langsung menghentikan salah satu taksi yang lewat di depannya dan masuk ke dalam taksi tersebut. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Ethan barusan.
Sebenarnya kalau diingat-ingat ini bukan pertama kalinya Ethan mengatakan hal seperti ini padanya, hanya saja kali ini Ethan mengatakannya dengan sangat jelas.
Ethan memang mengetahui hubungan seperti apa yang dia miliki dengan Gavin. Hal itu terjadi saat Kanaya meninggalkan Gavin sendirian di taman labirin setelah mendengar pengakuan cinta Gavin. Kanaya berlari sekuat tenaga menjauh dari Gavin dengan perasaan sesak yang merasuk dadanya. Lalu tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Ethan. Saat melihat Ethan, tangis yang dari tadi Kanaya bendung langsung pecah seketika. Ethan yang kebingguangan berusaha menenangkan Kanaya, setelah Kanaya cukup tenang barulah Ethan menanyakan apa yang terjadi.
Utungnya pada saat itu Ethan cukup memahami apa yang Kanaya rasakan. Memahami semua ketakutan Kanaya. Ethan sendiri pernah melihat bagaimana hancurnya Kanaya saat pertama kali ayahnya membawa Kanaya ke rumah mereka. Kehilangan semua anggota keluarganya dengan cara seperti itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Wajar saja kalau Kanaya merasa takut.
Ethan juga yang membantu Kanaya untuk menjauh dari Gavin. Sesaat setelah paman Robert dan bibi Nasya kembali dari perjalanan bisnis di Bali, Kanaya langsung meminta ijin untuk kembali pulang ke Bandung. Awalnya paman dan bibinya itu tidak setuju. Namun Kanaya berusaha meyakinkan mereka bahwa ini adalah pilihannya dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi, Ethan juga membantunya untuk meyakinkan paman dan bibinya itu. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya paman Robert dan bibi Nasya mengijinkannya kembali ke Bandung asalkan Kanaya tetap meneruskan terapi psikologis yang sedang dia jalani.
Kanaya pun kembali ke Bandung. Dibantu pamannya, Kanaya menjual rumah peninggalan orang tuannya dan memutuskan untuk tinggal di apartemen. Dia juga melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda, menata kembali hidupnya yang berantakan, dan juga… menghapus semua kenangan tentang Gavin.
Sesekali paman dan bibinya, juga Ethan bahkan Kesya akan datang mengunjunginya. Yang lebih sering berkunjung adalah Ethan, karena Ethan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Bandung. Sedangkan Kesya melanjutkan kuliahnya di Paris. Mungkin itulah alasan kenapa Gavin dan Kesya bisa bertunangan.
Ethan pernah bercerita bahwa tidak lama setelah Kanaya pindah ke Bandung, Gavin juga pindah ke Paris tinggal bersama keluarga ayahnya. Mungkin saja Kesya bertemu dengan Gavin di sana dan menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih dan memutuskan untuk bertunangan. Pertunangan mereka sangat tiba-tiba. Mereka melangsungkan pertunangan di Paris. Hanya ada keluarga Gavin di Paris yang menghadiri pertunangan mereka tidak ada keluarga Kesya.
Tetap saja, saat ini Gavin adalah tunangan Kesya dan nantinya akan menjadi suami Kesya. Kanaya harus mengingat hal itu, walaupun terkadang dia sering merasa aneh karena Ethan seperti mengajaknya untuk merusak pertunangan Gavin dan Kesya.
Kanaya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Ini sudah hampir delapan tahun, ada banyak hal yang sudah berubah diantara dia dan Gavin. Kanaya yakin dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Gavin, begitu juga dengan Gavin. Semuanya akan baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya perlu bertemu dengan Gavin selama tiga hari dan kehidupannya akan kembali normal seperti biasanya.
Itulah yang dipikirkan Kanaya… tanpa tahu bahwa tiga hari itu mungkin saja bukan sekedar tiga hari.
**********
Tidak terasa sudah hampir dua minggu berlalu sejak pertemuan Kanaya dan Ethan. Hari-hari berjalan seperti biasa. Kanaya banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Mulai dari mendesain busana untuk persiapan Jakarta fashion week, bolak-balik mengunjungi rumah produksi dan masih banyak lagi, salah satunya seperti yang sedang dilakukan Kanaya saat ini, mengawasi pemotretan untuk pakaian summer edition yang akan segera dikeluarkan.
Clara memandang Kanaya seraya menghela napas, Kanaya sedang fokus menatap para model yang sedang berpose di depan kamera sehingga tidak mendengarkan perkataannya. “Kanaya.” Clara mencoba memanggil Kanaya lagi.
Kanaya menatap Clara. “Kenapa?” tanyanya.
“Kamu pulang duluan saja, pemotretannya juga hampir selesai. Sisanya biar aku yang urus,” ujar Clara.
“Aku akan tetap di sini sampai selesai,” kata Kanaya. Matanya kembali memandang ke arah para model tadi.
Clara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia jadi bingung mau berkata apa lagi, Kanaya benar-benar keras kepala. Setelah terdiam beberapa saat, Clara berjalan meninggalkan ruang pemotretan. Tak lama dia kembali dengan membawa sebuah kotak makan berukuran sedang. “Setidaknya makanlah ini! Aku tahu kamu belum makan apapun dari pagi, kan?” ujar Clara sambil menyodorkan kotak makan tersebut ke arah Kanaya.
“Thanks Clara.” Kanaya tersenyum senang melihat isi dari kotak makan yang diberikan Kanaya. Ada lima potong sandwich keju yang berwarna kecokelatan juga beberapa potongan apel merah. Tanpa menunggu lama, Kanaya langsung mengambil sandwich tersebut dan menggigitnya dalam gigitan besar. Rasanya sangatlah enak. Kanaya terus memakan sandwich tersebut tanpa menghiraukan rasa nyeri yang mulai muncul di perutnya. Setelah semua isi di dalam kotak makan tersebut habis, Kanaya kembali menatap ke arah Clara yang dari tadi hanya diam memandanginya.
“Terima kasih Clara, makanannya enak.” Kanaya tersenyum puas, dia kenyang, walaupun rasa nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi.
Clara menggelengkan kepala seraya tersenyum geli melihat tingkah Kanaya. “Kalau begitu sekarang kamu pulang dan istirahat, tidak ada alasan. Jangan lupa besok kita sudah harus pergi ke Bali kalau tidak ingin terlambat menghadiri pernikahan sepupumu.”
Kanaya tersenyum masam mendengar perkataan Clara. Dia hampir saja lupa bahwa besok adalah jadwal keberangkatannya ke Bali. “Baiklah aku akan pulang sekarang,” kata Kanaya pelan. Dia kemudian mulai membereskan barangnya yang berserakan di atas meja dan memasukannya ke dalam tas.
Clara menghembuskan napas lega melihat Kanaya yang tidak membantah lagi. “Aku akan memesan taksi untukmu,” ucap Clara yang ditanggapi dengan anggukkan setuju oleh Kanaya.
**********
Suasana bandara international Ngurah Rai sore itu tampak sibuk oleh hilir mudik orang. Kanaya dan Clara adalah salah satunya. Begitu melewati pintu kedatangan, Kanaya melihat ada seorang pria yang sedang memegang papan nama berupa sepotong kertas besar bertuliskan namanya. Kanaya pun segera menghampiri pria tersebut.
Melihat Kanaya yang berjalan ke arahnya, pria tersebut langsung tersenyum ramah. “Selamat sore nona Kanaya. Nama saya Reno, saya ditugaskan tuan Ethan untuk menjemput nona Kanaya.”
Kanaya mengangguk mengerti.
“Mari nona. lewat sini,” kata Reno. Setelah itu dia berjalan di depan Kanaya untuk menujukan jalan. Sementara Kanaya dan Clara langsung mengikutinya dalam diam.
Setelah kurang lebih dua puluh menit, mobil yang dikendarai Reno berhenti di depan gedung hotel berbintang lima yang terlihat sangat mewah.
Clara berdecak kagum. “Sepertinya saudara sepupumu sangat kaya,” bisiknya pada Kanaya.
“Sepertinya begitu,” balas Kanaya.
Mereka keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel. “Ini kamar nona Kanaya dan di depannya kamar nona Clara. Kalau ada yang diperlukan nona bisa menghubungi staff hotel lewat telepon yang ada di kamar nona,” jelas Reno.
“Baiklah, aku mengerti,” jawab Kanaya.
“Kalau begitu saya permisi. Selamat beristirahat nona,” kata Reno sebelum berbalik pergi meninggalkan Kanaya dan Clara.
“Wah … caranya berbicara seperti robot.” Clara bergumam pelan menatap punggung Reno yang semakin menjauh.
Kanaya tertawa. “Jangan berpikir macam-macam. Aku mau istirahat dulu, sampai jumpa besok.” Kanaya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Kanaya membuka koper miliknya dan mengeluarkan semua barang yang dia bawa lalu menatanya di dalam lemari. Setelah memastikan semua barangnya sudah tertata dengan rapi, Kanaya kemudian mengambil peralatan mandi dan bersiap-siap untuk mandi. Dia akan mandi dengan air dingin yang sangat dingin untuk menenangkan dirinya.
Selesai mandi dan berpakaian, Kanaya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia benar-benar kelelahan dan sangat mengantuk. Masih ada beberapa jam lagi sebelum jam makan malam tiba lebih baik dia pergunakan untuk tidur. Tidak butuh waktu lama, Kanaya langsung tenggelam dalam tidur lelapnya.
**********
Semburat jingga matahari bersinar indah di ufuk barat ditambah dengan suara deburan ombak laut yang mengalun damai menciptakan suasana magis yang tampak romantis. Gaun biru yang dikenakan Kanaya beterbangan dengan anggun tertiup anggin pantai.
Kanaya menghela napas bosan, ternyata pernikahan Ethan berlangsung lebih lama dari perkiraannya. Setelah melakukan akad nikah pagi tadi, sorenya dilanjutkan dengan acara resepsi dan ini bahkan sudah hampir malam, tapi masih belum selesai juga.
Kanaya mengedarkan pandangan ke sekeliling berusaha menemukan keberadaan Clara tapi hasilnya nihil, Clara benar-benar tidak bisa diharapkan. Kanaya mengajak Clara agar dia tidak tampak kesepian tapi Clara malah menghilang entah kemana.
Di kejauhan Kanaya melihat paman dan bibinya yang sedang asik berbincang dengan keluarga Keyla — istrinya Ethan. Keyla adalah gadis yang ceria dan lembut. Kepribadiannya sangat baik, pantas saja jika saudara sepupunya yang terkenal playboy itu langsung terpesona. Kanaya juga sempat berbicara sedikit dengan Keyla saat Ethan mengenalkan mereka. Dan dari apa yang diceritakan Keyla, Kanaya tahu bahwa Ethan dan Keyla ternyata dijodohkan. Itulah alasan kenapa mereka bisa menikah secepat ini.
“Kanaya.” Kanaya menoleh ke sumber suara dan melihat Clara yang sedang berjalan ke arahnya.
“Dari mana saja kamu?” tanya Kanaya kesal.
Clara tertawa pelan menanggapi Kanaya yang tampak kesal padanya. “Aku habis menikmati pemandangan indah” jawabnya sambil menyodorkan segelas wine kepada Kanaya.
Kanaya menerima gelas tersebut dan langsung menghabiskan isinya dalam sekali teguk, membuat Clara terperangah melihatnya.
“ Woah take it easy girl, kamu bisa mabuk,” kata Clara memperingati.
Kanaya tidak menanggapi Clara. Dia mengambil botol wine di depannya dan mengisi ulang gelasnya yang sudah kosong.
“Kanaya…” tegur Clara pelan.
Kanaya menatap Clara sekilas. “Ini hanya wine Bulan dan aku punya toleransi alkohol yang cukup tinggi jadi aku tidak akan mabuk semudah itu.”
Clara menghebuskan napas gusar. “Baiklah terserah kamu saja.” Pada akhirnya Clara memilih untuk menyerah.
Kanaya tersenyum puas, dia kemudian meminum wine-nya, kali ini dilakukan secara perlahan. Ada setitik perasaan resah yang menyusup ke dadanya. Sebelum datang ke Bali untuk menghadiri pernikahan Ethan, Kanaya sudah berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah berhasil menghapus semua kenangan tentang Gavin dan Gavin tidak akan bisa mempengaruhi dirinya lagi. Namun entah kenapa Kanaya mulai merasa ragu, dia ingin memastikannya sendiri tapi sayangnya Gavin dan Kesya belum sampai di Bali. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami sedikit masalah, sehingga mereka akan datang terlambat.
Sekali lagi Kanaya kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong dan mulai menyesap wine-nya secara perlahan. Ethan bilang Kanaya berbeda dengan ibu dan kakak-kakaknya, namun Kanaya sendiri tidak yakin akan hal itu. Dia tahu dengan sangat jelas bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dia cintai, rasanya mengerikan dan butuh waktu yang lama untuk bisa kembali melanjutkan hidup. Kanaya tidak yakin apakah dia akan baik-baik saja jika dia harus kembali kehilangan orang yang dia cintai.
Cinta… semua karena cinta sialan itu. Pilihan terbaik saat ini adalah jangan mencintai dan jangan menerima cinta. Pada akhirnya semua orang yang kita cintai akan pergi, entah itu pergi karena dia sudah menemukan orang lain atau pergi karena waktunya di dunia ini sudah habis. Lebih baik mencintai diri sendiri agar tidak perlu dibayang-bayangi dengan perasaan takut ditinggalkan.
Suara Clara yang memanggil namanya membuyarkan lamunan Kanaya. “Ada apa?” tanya Kanaya.
“Vano semalam menelponku, dan dia menanyakan kabarmu. Apa kalian bertengkar lagi?”
Kanaya menatap Clara dengan tatapan pura-pura polos. “Sepertinya begitu,” ada nada jahil terselip di kalimat Kanaya ketika melanjutkan, “Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia jadi marah-marah tidak jelas.”
Clara melemparkan tatapan curiga ke arah Kanaya. “Tidak mungkin Vano marah tanpa ada alasan yang jelas. Kamu pasti sudah melakukan sesuatu.”
Kanaya menghembuskan napas. Vano adalah salah satu teman yang cukup dekat dengan Kanaya. Kanaya mengenal Vano lewat Clara. Vano adalah tipikal orang yang sangat menghargai kehidupan, itulah yang membuat Kanaya dan Vano sering bertengkar. Menurut Vano, cara Kanaya menjalani hidup menujukan bahwa Kanaya sangat tidak menghargai kehidupannya.
“Aku juga tidak tahu. Kamu tahu sendiri, kan? Vano itu seperti apa… hal kecil saja dia persoalkan,” jelas Kanaya seadanya.
“Jangan menolak panggilan teleponnya, kalau kalian terus seperti ini aku yang pusing,” ujar Clara.
Kanaya tertawa kecil dan mengangguk. Diambilnya lagi botol wine yang isinya sisa setengah kemudian mengisi ulang gelasnya dan juga gelas Clara yang sudah hampir kosong. “Jangan pikirkan manusia menyebalkan itu, kita datang ke sini untuk bersenang-senang,” kata Kanaya dengan nada riang.
Clara memandang Kanaya sebentar. “Kamu mabuk?” tanyanya.
“Tentu saja tidak.” Kanaya menjawab singkat.
Clara menatap Kanaya dengan tatapan tak percaya. “Kanaya berhenti minum,” katanya kemudian.
“Oh, ayolah Clara. Aku masih sadar dan aku baik-baik saja, aku sama sekali tidak mabuk.” Kanaya mencoba menyakinkan Clara. Walaupun masih tampak ragu, pada akhirnya Clara memilih untuk diam saja.
Clara mengalihkan pandangannya ke sekeliling, melihat apakah ada hal menarik yang bisa dia temukan. Lalu tatapannya berhenti pada seorang wanita yang tampak familiar. Wanita itu mengenakan gaun biru selutut dengan potongan rendah di bagian dada. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja yang juga berwarna biru, jangan heran kenapa semuanya berwarna biru karena warna biru adalah dress code untuk acara resepsi pernikahan sepupu Kanaya. Lelaki itu sangat tampan, ketampanan yang tidak manusiawi seperti karakter utama yang keluar dari komik. Mata birunya sangat memikat. Membuat siapapun tidak akan sanggup mengalihkan pandangannya.
Mata Clara kembali menatap ke arah pasangan tadi, mengamati dengan kagum. Mereka adalah pasangan yang serasi. Clara melirik Kanaya yang diam di sampingnya, Kanaya sedang merebahkan kepalanya di atas meja dan sibuk dengan ponselnya. Tidak begitu peduli dengan keadaan di sekelilingnya.
Clara tidak habis pikir dengan Kanaya. Kanaya sangat cantik, bahkan lebih cantik jika dibandingkan dengan wanita yang tadi dilihat Clara. Kulit Kanaya sangat putih bahkan cenderung pucat, tubuh Kanaya sangat ramping dan juga berisi di tempat-tempat yang seharusnya, belum lagi wajah cantiknya yang dihiasi dengan mata cokelat yang mempesona. Seandainya Kanaya mau sedikit saja membuka hatinya pasti tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan lelaki manapun yang dia inginkan. Sayangnya, setiap kali menerima pengakuan cinta Kanaya malah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti dia bisa mencintai dirinya sendiri dan tidak butuh orang lain untuk mencintainya.
Clara terkikik geli mengingat ekspresi polos yang Kanaya tampilkan saat menolak setiap pernyataan cinta yang dia terima, ekspresinya itu berbanding terbalik dengan kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya. Clara jadi penasaran, kira-kira lelaki seperti apa yang bisa meluluhkan hati Kanaya… tanpa sadar tatapan Clara mengarah ke tempat pasangan serasi yang tadi dilihatnya. Rupanya mereka sedang berbincang-bicang dengan keluarga dari mempelai wanita dan juga paman serta bibi Kanaya. Beberapa saat kemudian, terlihat kedua mempelai yang juga ikut bergabung dengan mereka.
Clara kembali menyesap wine-nya sambil terus mengamati mereka. Mungkin ini hanya perasaanya saja, tapi Clara merasa bahwa sepupu Kanaya —Ethan dan juga lelaki tampan bermata biru itu dari tadi terus melirik ke arahnya dan Kanaya.
Clara memperbaiki posisi duduknya, lalu menyentuh pelan pundak Kanaya. “Kanaya,” panggil Clara pelan.
Kanaya mendongakkan kepala, menatap Clara penuh tanya.
Clara mengamati Kanaya. “Kamu belum mabuk, Kan?” tanya Clara memastikan.
“Tidak ada pertanyaan lain?” Kanaya balas bertanya sambil melemparkan tatapan kesal ke arah Clara.
Clara mengangguk mengerti. “Baguslah… jangan mabuk dulu kebiasaan mabukmu sangat buruk.” Clara mengarahkan padangannya ke depan dan tersenyum, dugaannya benar. Pasangan serasi yang tadi dan juga kedua mempelai sedang berjalan ke arahnya dan Kanaya. “Nah, Kanaya… sekarang duduk yang benar dan bersikap ramah. Aku ingin menikmati pemandangan indah ini sedikit lebih lama.” Clara berkata dengan penuh semangat
Kanaya mengerutkan dahi, bingung dengan apa yang Clara katakan. Kanaya kemudian mengikuti arah pandangan Clara dan begitu matanya bertemu pandang dengan iris biru yang sedang menatapnya balik dengan pandangan yang… sulit diartikan, tubuhnya langsung membeku dan bibirnya kelu. Mata biru itu masih sama, setiap Kanaya melihat ke dalamnya dia merasa seperti tersedot ke dalam lautan biru yang dalam. Tidak mampu mengalihkan pandangan walaupun hanya sedetik.
Tunggu, masih sama?! tangan Kanaya yang sedang mengenggam gelas wine mulai gemetar. Kanaya dengan cepat berusaha mengendalikan dirinya. Takut dia akan menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya, Kanaya lalu meletakan gelas tersebut di atas meja. Dia kemudian tersenyum menatap Ethan dan Keyla, juga Ethan serta… Gavin yang sedang menatapnya balik dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Ethan bilang Kanaya harus mencari tahu perasaan seperti apa yang dia miliki terhadap Gavin, Kan? Sekarang Kanaya akan melakukannya. Satu hal yang pasti, apapun jawaban yang Kanaya temukan dia akan tetap menjauhkan Gavin sejauh mungkin darinya.
**********