Hal yang tak pernah ku bayangkan dalam hidupku adalah saat pria yang menyandang status sebagai tunanganku itu memukulku dengan keras hingga aku terlempar dan terjatuh tepat di atas sofa panjang yang ada di apartemennya. Aku tak pernah melihatnya memancarkan tatapan tajam dan mengerikan seperti yang ia tunjukan sekarang, selama kami menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, ia selalu memberiku tatapan teduh yang berhasil membuatku nyaman. Namun hari ini, entah hanya firasatku saja, aku merasakan ia berbeda. Aura yang ia keluarkan, tatapan yang ia berikan, serta perasaan asing yang kurasakan seketika berhasil membuatku merasa ketakutan.
Aku memegang pipiku yang terasa sakit akibat satu pukulan yang ia berikan dan berhasil merobek sudut bibirku. Ku tatap pria yang selama beberapa bulan setelah statusnya berganti menjadi tunanganku dengan tatapan berkaca - kaca, jujur melihatnya saat ini membuatku merasa amat ketakutan dengan sosok lain yang ada pada dirinya dan baru ia tunjukan saat ini.
"Na Na ..." panggilnya dengan suara terkejut seakan - akan ia baru saja sadar dari perbuatan yang ia lakukan padaku.
Aku menatapnya takut - takut, tubuhku bahkan telah bergetar ketakutan karna perbuatannya padaku. Aku tak tahu hal apa yang membuatnya memukulku hari ini, padahal yang ku tahu, aku tak melakukan kesalahan apapun yang membuatnya lantas merah dan memukulku.
"Na Na.. mengapa kau menjauh?" tanyanya saat aku beranjak bangun dari sofa dan terus melangkah mundur dan menjauh darinya "Na Na.. aku minta maaf, aku tak bermaksud menyakitimu, percayalah padaku" pintanya yang entah mengapa membuat hatiku hampir saja luluh.
Aku lantas menggeleng kuat bagaimanapun kewarasanku menolakku percaya dengan perkataannya bahkan bujukan dan rayuan yang ia lontarkan, saat ini yang terbesit dalam benakku hanyalah ingin segera pergi dari sini. Sebab jujur saja aku mulai takut dengan sosok tunanganku.
"Na Na, aku minta maaf" katanya
Tatapan memohonnya perlahan berubah, ia dengan kasar menghampiriku dan menarikku dalam dekapannya, ia memelukku dengan sangat erat hingga aku kesulitan bernafas. Aku lantas memukul dadanya kuat, lalu mendorongnya dengan sekuat tenaga. Aku menatapnya dengan tatapan nyalang, bahkan aku tak tahu dari mana keberanian itu muncul untuk menatapnya demikian.
"Jun Jie, apakah kau sudah gila dengan ingin membunuhku?" teriakku
He Jun Jie lantas tertawa, ia lalu memberiku senyum miring yang entah mengapa berhasil membuatku kehilangan nyaliku. Ia lalu berkata "Aku memang berniat membunuhmu" balasnya yang entah mengapa membuatku merinding ketakutan karnanya.
He Jun Jie, laki-laki yang bekerja sebagai seorang manejer di perusahan keluargaku itu lantas melangkah mendekat. Aku yang menyadari kedatangannya lantas mendapat peringatan tanda bahaya, aku dengan cepat lantas meraih tas selempangku dan bergegas berlari keluar dari apartemen tunanganku.
Namun belum jauh aku berlari, He Jun Jie berhasil menangkapku. Ia lalu dengan kasar menarik rambutku hingga aku meringis. Rasa sakit yang kudapatkan dari tarikannya berhasil membuatku menangis saat merasakan rambut yang begitu ku jaga dan kurawat pada akhirnya harus tercabut dari ubung - ubungku.
"Jun Jie, lepaskan!"
"Tolong!"
"Tolong...!"
Aku terus saja berteriak, namun lorong apartemen Jun Jie saat ini sangat sepi. Mungkin dikarenakan para penghuni unit apartemen yang lain sedang bekerja, atau mereka tak mendengar teriakanku.
Jun Jie menyeretku kembali menuju unit apartemennya, ia berusaha membuka pintu dengan cepat sebelum para penghuni apartemen lain keluar dari apartemennya karna teriakanku. Merasa frustrasi karna apartemennya tak kunjung terbuka, sedangkan aku terus meronta dan meminta tolong, Jun Jie lantas dengan kasar dan keras membenturkan kepalaku pada pintu unit apartemennya yang terbuat dari besi.
Kejadian itu terlalu cepat sehingga aku tak mampu menghindar, suara 'Buk!' terdengar begitu nyaring di telingaku seiring dengan rasa sakit, nyeri dan pusing mulai melandaku. Jun Jie membenturkan kepalaku berulang - ulang, hingga aku merasakan kepalaku mulai terluka dan mengeluarkan darah. Meskipun aku memohon, pria itu bahkan tak mendengar permohonan dan pintaku meminta maaf. Ia malah hanya membalas ucapanku dengan tawa dan racauan bak orang gila yang begitu senang menyaksikanku terluka dan tersiksa karnanya.
"Teruslah memohon Na Na, aku begitu menyukaimu ketika kau meminta dan memohon seperti itu!" katanya lalu kembali membenturkan kepalaku pada pintu apartemennya
Buk!
Buk!
"Mengapa kau tak memohon dan meminta lagi? Kau ingin aku segera membunuhmu?" geramnya kembali membenturkan kepalaku cukup keras hingga aku merasakan penglihatanku terasa berputar, gelap sayup - sayup mulai menyapaku, serta nafasku yang terasa putus - putus.
"Na Na tak masalah jika kau tak ingin memohon aku segera melepasmu, bagaimanapun aku tak akan pernah melepaskanmu, hahahaha..." katanya di susul tawanya yang begitu nyaring.
Jun Jie terus membenturkan kepala pada pintu apartemennya, mendapati perlakuan Jun Jie yang begitu kasar dan kejam, aku tak lagi merasakan sakit, tapi aku kini mulai lelah dan berharap aku mati dan semua ini berakhir. Namun tampaknya takdir masih saja ingin mempermainkanku dan membuatku menderita, karna sampai saat ini ia belum juga mencabut nyawaku bahkan setelah banyaknya darah yang keluar dari kepalaku.
Saat Jun Jien kembali membenturkan kepalaku, denting lift berbunyi dan sekumpulan orang yang baru saja pulang dari bekerja atau berbelanja. Salah satu dari mereka lantas berteriak dan hal itu menarik perhatian para penghuni apartemen lainnya.
"Ahkkk..., wanita itu di bunuh!" teriak seorang wanita yang begitu terkejut sehingga jatuh terduduk di atas lantai.
Semua orang lantas menoleh menatap arah telunjuk wanita itu, dan dengan cepat bergegas lari menghampiriku yang kini mulai merasa sangat lelah. Saat semua orang ingin menyelamatkanku, Jun Jie menghantam kepalaku kembali dengan keras pada pintu apartemennya sebelum ia berlari dan kabur dari kejaran para penghuni apartemen lain.
Aku terjatuh dan punggungku menghantam permukaan lantai dengan keras, beberapa penghuni lain tampak menghampiriku walaupun saat ini pandanganku mulai tampak mengabur. Nafasku terasa sangat berat, begitu pun dengan mataku yang sangat ingin terpejam, saat aku menghembuskan nafasku yang terasa membuat dadaku sesak, saat itu pula mataku terpejam dan kegelapan menyapaku sepenuhnya.
................
Aku berpikir, setelah nyawaku habis di tangan tunanganku yang memiliki penyakit gila seorang psikopat, jiwaku akan tenang dan aku akan segera berada di nirwana. Sayangnya pemikiranku tentang hal itu lantas lenyap ketika aku merasakan guncangan yang membuat bahu dan lenganku menabrak benda keras di kedua sisiku yang jelas menghantarkan rasa sakit.
Aku lantas membuka kedua mataku yang sempat terpejam, beberapa saat aku mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya yang masuk melalui cela - cela kecil sebuah benda bergerak yang membawaku. Aku lantas menatap pakaianku yang di dominasi warna putih, saat mengamati pakaian yang membalut tubuhku, aku seakan teringat pakaian tradisional China yang kami sebut sebagai hanfu.
Menyadari ke tidak beresan yang sedang ku alami, aku lantas bangun dan mendudukkan diriku. Saat baru saja bangun dari tempat yang kutempati kini, seketika aku sadar bahwa aku baru saja bangun dari sebuah peti mati.
"Bagaimana bisa aku bangun dari sebuah peti mati?" tanyaku pada diriku sendiri
Aku menatap sekitarku, lalu terbesit sebuah pikiran bahwa mungkin aku hanya sedang bermimpi, namun pemikiranku tentang hal itu langsung ku tepis jauh bagaimanapun orang mati tidak bisa lagi bermimpi, dan aku merupakan orang yang telah mati.
Menyadari kejanggalan yang ku alami, aku mulai berpikir dengan apa yang baru saja ku alami. Bagaimana aku bisa merasakan guncangan dan rasa sakit, bagaimana aku tiba - tiba bisa bangun dan bergerak, juga bagaimana aku bisa bangun dari peti mati mengenakan sebuah hanfu berwarna putih. Setahuku, seseorang yang telah mati tidak dapat merasakan apapun sebab semua fungsi otak yang memerintah tubuhnya telah berhenti, kecuali...
"Apakah aku kembali hidup?"
Benda yang membawaku perlahan berhenti, hal itu tentu saja membuatku mulai mengambil sikap waspada terlebih saat aku mendengar beberapa suara langkah kaki seseorang dari luar yang berjalan kearah pintu yang masih tertutup rapat di hadapanku sekarang.
"Saat mereka membuka pintu itu, aku akan langsung melompat keluar" tekadku.
Langkah kaki yang berjalan ke pintu benda yang membawaku saat ini kini mulai tak terdengar. Aku pikir jika mungkin mereka sudah berada di depan, terlebih pradugaku semakin kuat saat aku melihat bayangan mereka yang hendak membuka pintu. Perlahan pintu mulai terbuka dan saat pintu semakin terbuka lebar, aku dengan cepat mulai mengambil ancang - ancang dan melompat keluar.
Wussshhh!
Aku berhasil melompat dan mendarat dengan mulus. Suara teriakan keterkejutan adalah hal pertama yang menyambutku. Perhatianku kini teralih pada sekumpulan orang - orang yang mengenakan pakaian putih, wajah mereka tampak sembab, kedua mata dan hidung mereka tampak memerah. Tatanan rambut mereka mengingatkanku dengan pemeran pembantu dalam drama atau film kerajaan yang kerap kali kutonton. Aku lantas mengerjap, lalu mengenyahkan pikiran anehku yang beranggapan jika aku saat ini tengah berada di tengah - tengah pembuatan film atau drama kerajaan, namun tentu saja aku sadar itu tidak mungkin bukan?
Aku sadar jika sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku, aku telah menjadi korban kekerasan dan pembunuhan oleh pria yang menyandang status sebagai tunanganku. Aku sadar jika aku mati di depan apartemennya karna pendarahan akibat membenturkan kepalaku depan pintu apartemennya dengan begitu kejam. Lalu apa yang terjadi kini?
Disaat aku dilanda kebingungan akan pertanyaan - pertanyaan yang terus bermunculan dalam kepalaku, seorang dayang yang baru saja sadar dari keterkejutannya akan kemunculanku lantas berteriak "Ha-ha..hantu!" teriaknya lantas jatuh tak sadarkan diri.
Teriakannya yang meski samar mampu menyentak semua orang dari keterkejutan, begitu pun dengan aku yang ikut terbangun dari lamunanku. Tak berselang berapa lama saat kesadarannya baruku baru saja terkumpul sepenuhnya, semua wanita yang mengenakan pakaian serba putih itu lantas berlari tak tentu arah sambil berteriak 'hantu'. Refleks aku pun ikut lari tanpa sadar, bagaimana pun saat ini aku hanya berpikir bagaimana caraku untuk menyelamatkan diri. Selain itu aku juga takut dengan makhluk menyeramkan seperti hantu dan sahabat - sahabatnya. Namun saat semua orang semakin berlari kencang menjauhiku, aku baru sadar saat menemukan titik terang. Hantu yang mereka maksud adalah diriku sendiri. Aku lantas berhenti berlari, termenung dan memikirkan mengapa mereka mengataiku hantu dan begitu ketakutan.
"Mengapa mereka takut padaku? Padahal jelas - jelas aku bukan hantu" Kataku "Aku masih bernafas, masih merasakan sakit dan juga kakiku masih menapak di tanah, lantas mengapa mereka mengataiku sebagai hantu?" tanyaku seraya berusaha berpikir.
"Tapi, bukankah aku memang sudah mati di tangan brengsek itu? Tentu saja aku adalah hantu, tapi mengapa aku masih layaknya seperti orang yang masih hidup?" tanyaku bingung.
Aku lantas menatap benda yang baru saja membawaku sebelum aku melompat keluar, ternyata benda yang membawaku adalah sebuah kereta yang begitu mewah dengan ukiran - ukiran yang begitu rumit. Aku lantas teringat jika di dalam kereta terdapat peti mati tempat sebelumnya aku terbangun, seketika aku pun sadar mengapa semua orang begitu ketakutan saat aku melompat keluar dari kereta.
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat mengalihkan pandanganku. Seorang pemuda yang mungkin berumur 20an itu dengan tubuh tampak bergetar menghampiriku dan berkata "Ya--yang mulia, katakan pada hamba jika anda masih hidup dan bukan hantu" tanya seorang pria berusaha memberanikan diri bertanya padanya meski sangat jelas jika pria itu juga tampak ketakutan.
"Yang mulia?" panggilan itu jelas membuat Na Na bingung dengan kalimat yang pria itu ucapkan. Panggilannya itu seakan - akan terdengar sebagai sebuah gelar dan penghormatan seorang bawahan terhadap junjungannya, hanya saja hal yang membuatku semakin bingung adalah mengapa pria itu memanggilku dengan sebutan 'yang mulia'? Aku yakin jika pria itu hanya memanggilku dengan panggilan seperti itu. Sebab tidak ada seorang pun disisiku saat ini. Semua orang seakan mengambil jarak denganku dan hanya pemuda di hadapanku kinilah yang menjadi satu - satunya orang yang berdiri paling dekat denganku meski iya tampak sangat ketakutan.
"Kau berbicara padaku?" tanyaku memastikan
"Te-tentu saja ha-hamba berbicara dengan anda, yang mulia" jawabnya terbata
"Berhenti memanggilku dengan panggilan 'yang mulia', namaku Feng Na Na, bukan yang mulia. Jika kau terus memanggilku seperti itu, aku merasa jika saat ini tengah Suting drama kolosal dan memerankan pemeran putri kerajaan" tegasku
"Hamba tidak berani yang mulia, hamba tidak berani" kata pemuda itu lantas membungkuk hormat berulang kali.
Aku yang mengalami situasi yang kerap kali kulihat dalam drama kolosal bergenre fantasi ataupun kingdom saat ini mengalami kebingungan, aku menatap sekelilingku seraya memastikan jika mungkin saat ini memang benar aku hanya sedang Suting drama. Namun tentu saja pradugaku adalah hal yang mustahil, aku jelas - jelas telah mati, terlebih setelah mengamati tempat yang kutempati kini dengan saksama, tidak ada kamera di sini, tidak ada kru produksi, tidak ada sutradara ataupun penulis naskah.
Mungkin sangat konyol saat jika aku tiba - tiba berpikir kini aku berada di masa lalu seperti novel - novel fantasi dan timetravel yang sering di kubaca. Namun hanya itu saja yang masuk akal dalam pikirkanku saat ini. Tanpa menunda waktu, aku pun bertanya "Apakah ini dinasti Ming? ataukah dinasti Tang?" tanyaku yang membuat pemuda berusia 20an di hadapanku tampak mengernyit bingung.
"Mengapa anda bertanya seperti itu yang mulia?" tanyanya balik.
"Tak usah balik bertanya, jawab saja pertanyaanku" desakku yang membuat pemuda itu kembali ketakutan.
"Se-sekarang adalah dinasti Ming!" jawabnya yang berhasil membuatku seakan - akan baru saja disambar petir saat ini juga.
"Tidak mungkin"
"Tolong katakan jika saat ini kita hanya tengah memerankan sebuah drama kolosal, atau setidaknya saat ini aku hanya sedang bermimpi"
"Kita hanya sedang Suting drama kerajaan bukan?" desakku pada pemuda 20an di hadapanku
"Yang mulia, a-apa yang anda katakan? Siting eh- maksud hamba, Suting itu apa?" tanyanya polos dan tampak ketakutan
Mendengar jawabannya, seketika harapanku mengenai kejadian yang ku alami kini hanyalah bagian dari skenario dalam drama atau film kerajaan yang ku bintangi pupus, pemuda di hadapanku bahkan tampak sangat bingung dan tidak tahu saat aku mengatakan kata Suting.
"Aku memang menyukai novel - novel timetravel dengan genre fantasi dan romance, tapi aku tak pernah berpikir akan mengalami hal yang sama seperti dalam tokoh - tokoh utama dalam cerita yang sering kubaca"
"Huwaa.. kuharap ini hanyalah mimpi buruk!" teriakku histeris
Aku jelas tidak mengerti maksud dari perkataan pria paruh baya yang menjaga pintu gerbang istana megah di hadapanku. Bingung dengan pertanyaannya, aku pun menatap rombongan yang datang bersamaku hingga tepat berada di depan gerbang istana.
"Mengapa ia berkata seperti itu?" tanyaku pada pengawal yang membelikanku makan dan mengambilkanku minum.
"Yang mulia, hamba sangat sulit menjelaskannya pada anda. Situasi yang kami hadapi saat ini sangat membigunngkan" jawabnya.
"Lalu sampai kapan kau akan membiarkan kita akan menunggu di sini?" tanyaku
Pengawal itu awalnya tampak berpikir sebelum menjawab "Hamba akan membicarakan hal ini pada penjaga gerbang, anda harus tetap menunggu di sini saja" putusnya berjalan menghampiri penjaga dan menceritakan semua kejadian yang mereka alami hingga memutuskan untuk kembali di istana.
"Kau pikir aku percaya? Bagaimana jika gadis yang kalian bawah bukanlah yang mulia putri mahkota? Kau tahu kami tidak pernah melihat yang mulia putri mahkota beranjak dewasa, hanya keluarga kerajaan dan kalian yang mengabdi dan bekerja dengannya yang tahu. Lantas bagaimana kami bisa percaya?" cercanya
Pengawal yang sejak awal setia menolong dan membantuku tampak kebingungan, hal itu dikarenakan semua atribut kebesaran dan tanda pengenal junjungannya sudah di tanggalkan sejak ia dinyatakan meninggal dunia pagi tadi karna sebuah rencana pembunuhan dari seseorang. Hanya saja kematiannya itu dirahasiakan dengan mengatakan pada seluruh penduduk kerajaan Feng, jika ia meninggal karna sebuah penyakit. Saat ini yang mulia kaisar masih menyelidiki kasusnya secara diam - diam.
"Jika begitu beri laporan pada yang mulia kaisar mengenai masalah ini" kata pengawal yang bersamaku dengan suara yang tampak putus asa.
"Ada apa ini? bukankah kalian telah pergi pagi tadi untuk mengubur Mei Meiku?" tanya sorang pemuda tampan yang baru saja turun dari kudanya yang perkasa dengan pakaian zirah lengkap. Pemuda tampan itu lantas membelah sekumpulan orang-orang yang dengan cepat membungkuk hormat saat menyadari keberadaannya.
"Yang mulia pangeran Feng Lang.., anda sudah kembali" sambut penjaga gerbang istana.
"Tak usah berbasah basi, katakan padaku apa yang terjadi? Mengapa kalian melewatkan waktu baik untuk menguburkan mei-meiku?" cerca pangeran Feng Lang dengan pertanyaan yang bertubi - tubi.
"Ya-yang mulia begini, pengawal yang mulia putri mahkota mengatakan jika yang mulia putri mahkota terbangun dari kematiannya. Karna hal itulah mereka kembali ke istana dan membawa gadis itu -- tunjuk penjaga gerbang padaku. Melihat arah tunjuk penjaga gerbang tersebut, pangeran Feng Lang tampak sangat terkejut melihat sosokku yang kini menatap mereka dengan malas - malasan.
"Kami tak mengizinkan mereka masuk, sebab kami takut mereka hanya membawa gadis lain untuk mengaku sebagai yang mulia putri mahkota agar mereka semua tidak mati bersama yang mulia putri mahkota" tambah penjaga gerbang istana itu.
Beberapa orang yang mendengar penjelasan penjaga gerbang istana tampak sangat kesal. Bagaimana penjaga gerbang itu menuduh mereka dengan terang - terangan demi mendapat pujian dan sanjungan atas kinerjanya saat ini menahan mereka. Ingin rasanya mereka membeberkan keburukan - keburukan dan kelalaian yang biasa dilakukan penjaga gerbang istana seperti kadang tidur di waktu mereka jaga atau menerima suap demi meloloskan orang - orang atau pedagang ilegal masuk ke dalam istana. Namun semua niat mereka urungkan, sebab mereka sadar situasi mereka sudah cukup rumit, mereka tak ingin memperkeruh masalah yang tengah mereka hadapi.
Disaat semua orang menatap penjaga gerbang dengan usia paruh baya itu dengan tatapan kesal. Pangeran Feng Lang malah melangkah mendekati jendela kereta di mana Aku masih menatapnya dengan tatapan malas.
"Aku menyelesaikan peperangan yang terjadi di perbatasan antara 3 kerajaan dalam memperebutkan satu wilayah dengan cepat saat mendengar kabar kematianmu. Aku memaju kudaku bagaikan orang kesetanan demi bisa mengantarmu ke tempat terakhirmu, sayangnya aku terlambat meski aku sudah berusaha sekuat tenaga tanpa beristirahat di perjalanan dengan kondisiku yang kini teramat lelah-- jeda pangeran Feng Lang mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan saat kesedihan hampir menguasainya --tapi apa ini Feng Na Na? Apakah kau mempermainkanku?" tanyanya yang tentu saja membuat keningku mengerut karna tidak paham dengan arah pembicaraan pemuda tampan di hadapanku.
Tahu jika aku dalam kebingungan, pengawal yang sejak awal setia bersamaku lantas menghampiri pangeran Feng Lang dan berbisik "Yang mulia pangeran, semenjak yang mulia putri mahkota terbangun dari kematiannya, ia sama sekali tidak mengenal siapapun" bisik pengawal itu.
"A-Apa?"
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya pangeran Feng Lang.
"Hamba pun tidak tahu yang mulia. Sejak awal hingga kami sampai pada pemakaman, kami menjaga mayat yang mulia putri mahkota dengan sangat ketat, bahkan kami semua telah pasrah mati bersama yang mulia putri dan di kuburkan bersamanya. Namun saat kami akan melakukan ritual penguburan dan hendak mengambil mayat yang mulia putri mahkota, tiba - tiba saja yang mulia putri mahkota keluar dengan cara melompat sehingga mengagetkan kami semua. Awalnya kami ketakutan, lambat laun kami pun tak punya pilihan selain kembali pulang ke istana. Namun penjaga gerbang melarang kami masuk" jelas pengawal itu panjang lebar
"Apakah perkataanmu dapat di percaya?" tanya pangeran Feng Lang.
"Hamba tidak memiliki keberanian untuk berbohong, dan jikalau hamba terbukti berbohong, hamba akan siap di hukum mati detik ini juga" jawabnya "Selain itu bukankah anda sendiri tahu jika gadis yang bersama kami adalah yang mulia putri mahkota yang asli? Kami yang sudah mengabdi dengannya bahkan sangat tahu jika gadis yang bersama kami memang yang mulia putri mahkota yang asli meskipun semenjak ia bangun dari kematian, ia melakukan banyak hal - hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya" tambahnya.
"Jika diperhatikan lebih jelas, ia memang sangat mirip dengan mei - meiku. Tapi untuk memastikan jika ia adalah mei - meiku, tampaknya kita perlu bantuan yang mulia kaisar untuk membuktikan jika ia memang putri mahkota Feng Na Na yang asli" putus pangeran Feng Lang
"Buka gerbangnya, aku ingin melakukan pembuktian jika ia memang mei - meiku!" perintah pangeran Feng Lang.
*****
Aku berpikir jika yang mulia kaisar yang pemuda tampan itu maksudkan adalah seorang pria berusia pertengahan 20an. Dalam bayanganku aku berpikir yang mulia kaisar akan selalu identik dengan pria tua usia lanjutan dengan rambut telah memutih, dan dagunya yang di tumbuhi janggut panjang yang juga turut ikut memutih sama seperti dengan rambutnya.
Sayangnya semua bayanganku mengenai yang mulia kaisar yang berusia setengah abad lebih harus sirna dengan sosok pemuda tampan yang mengenakan pakaian kebesaran seorang kaisar sama seperti yang kerap kali ia lihat di dalam film ataupun drama kerajaan.
Pemuda yang tidak kalah tampan dan dipanggil pangeran oleh semua orang lantas menceritakan kronologi kejadian sesuai dengan apa pengawal jelaskan padanya di depan pintu gerbang utama. Aku dan semua orang yang kini berada di aula utama istana kerajaan Feng hanya mampu dia dan menyimak setiap penjelasan pemuda di hadapanku. Jujur saja hanya ada beberapa poin yang ku mengerti, dan poin itu adalah bagaimana aku melakukan aksi keluar dari kereta dengan melompat dan menakuti semua orang hingga pada akhirnya aku di sini.
"-- Jadi begitu kejadiannya yang mulia." jelas pangeran Feng Lang panjang lebar.
Pemuda tampan yang mengenakan pakaian kebesaran itu hanya mengangguk dan berkata "Zhen* tebak, kau membawanya kemari untuk meminta pembuktian jika dia memang putri Feng Na Na dari kerajaan Feng, bukan?" katanya yang jelas tepat sasaran.
"Hanya anda yang tahu, jika ia adalah mei-mei kita" balas pangeran Lang.
"Kalau begitu, pinta ia membuka bajunya" katanya dengan nada datar dan dingin.
Aku yang baru saja mencerna perkataannya lantas membelalak terkejut hingga tak sadar saat ini aku tengah berteriak.
"A-apa?!"