Bab 1

Fatimah

(Perjuangan TKW Indonesia)

Based on a true story.

(nama tokoh disamarkan untuk menjaga privasi)

Juni 2009

Cita-citaku saat kecil ingin menjadi dokter, tetapi keterbatasan ekonomi keluargaku, menjadikan cita-citaku hanya mimpi.

Aku bisa sekolah sampai SMA saja sudah luar biasa, untuk anak seoarang petani. Sawah punya kedua orang tuaku tak luas. Cukup ketar ketir untuk membiayaiku sekolah. Aku adalah anak tunggal di keluargaku, namaku Fatimah.

Saat lulus SMP, aku memohon kepada orang tuaku untuk tetap melanjutkan sekolah ke SMA, karena kebanyakan teman-temanku tak melanjutkan sampai ke jenjang SMA. Bahkan angkatanku hanya ada 2 orang yang melanjutkan ke SMA.

Karena keinginanku yang ingin tetap belajar, akhirnya bapak dan ibuku memberiku izin untuk melanjutkan sekolah. Rencanaku jika aku lulus SMA aku akan mencari kerja sambil kuliah atau aku bisa menunda beberapa tahun agar aku bisa membiayai kuliahku sendiri tanpa membebani kedua orang tuaku. Saat menjelang lulus, aku sudah mulai mencari-cari pekerjaan apa yang akan aku jalani.

Ada bibi iparku setelah lulus SMA, dia lalu menjadi TKW di negeri Taiwan. Selama bibiku bekerja di sana, uangnya ditabung dan saat pulang uang tabunganya dipakai untuk biaya kuliah di STIKES daerah Indamayu. Setelah lulus bibiku bekerja menjadi perawat di Arab Saudi. Di sana gajinya lebih menjanjikan. Melihat perjuangan bibiku aku jadi ingin mengikuti jejaknya.

Setelah surat kelulusan SMA keluar, aku langsung mendaftarkan diri menjadi TKW. Aku yang tinggal didaerah wilayah III Cirebon, tidaklah sulit untuk menjadi TKW, apalagi dikampungku kebanyakan para wanitanya bekerja sebagai TKW untuk memperbaiki ekonomi keluarga.

Aku ingin seperti bibiku, bisa kuliah dari hasil keringat sendiri dan setelah bekerja aku akan menopang ekonomi orang tuaku agar bapak dan ibu tak perlu lagi ke sawah.

Tetapi aku tidak bisa menjadi TKW ke negeri yang sudah merdeka dari China tersebut. Katanya wajahku masih terlihat seperti anak-anak. Syarat untuk menjadi TKW adalah minimal usia 23 tahun, sedangkan saat itu usiaku masih 18 tahun. Untuk data mereka bisa memanipulasi, menjadikan identitasku menjadi 23 tahun, tapi wajahku saat itu terlihat masih seperti anak-anak, jadi sulit untuk dibohongi.

Akhirnya negara yang syaratnya tidak ketat hanya Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi.

Aku memilih Singapura, karena gajinya lebih besar dari Malaysia dan Arab Saudi, tetapi tetap masih besar gaji TKW di Taiwan. Aku tetap berharap mudah-mudahan gajiku selama 2 tahun bekerja di Singapura cukup untuk biaya kuliahku.

Banyak sekali cibiran dari tetangga dan sudara-saudarku, karena aku anak tunggal yang selalu dekat dengan orang tua. Bahkan aku mendapatkan gelar ‘anak mami’ dan 'anak pingit’.

Ya, karena saat kecil hingga lulus SMA, aku tidak seperti anak gadis lainnya. Aku lebih suka menghabiskan waktuku di rumah. Aku tidak suka jalan-jalan atau main dengan teman-temanku. Setiap malam aku lebih suka menghabiskan waktu bersama bapak dan ibuku dengan nonton tv.

“Nempel terus sama Bapak dan Ibu, yakin kuat jauh?”

“Palingan juga tahan 3 bulan, paling lama 6 bulan.”

“Baru sebulan juga pasti nangis terus minta pulang, nanti majikan bosen.”

“Mana ada? Majikan yang mau mempekerjakan anak mami, anak manja.”

Celetukan seperti itu hampir tiap hari terdengar, setelah para tetangga dan saudara-saudaraku tahu kalau aku sudah mendaftarkan diri jadi TKW.

Tetapi celotehan seperti itu justru membuatku terbangun untuk membuktikan bahwa ucapan mereka tidak benar. Perjalananku menjadi TKW tidaklah mulus, banyak tes yang harus kulalui hingga aku berhasil masuk ke agensi Indonesia.

Tetapi setelah masuk agensi, aku terbilang paling mulus. 3 minggu setelah tinggal di agensi dan tanpa interview dengan calon majikan, visa kerjaku langsung turun. Biasanya visa kerja akan turun minimal 3 minggu sampai 3 bulan saat sudah di agensi Indonesia. Karena Visa kerja yang turun dadakan, jadi semua persiapanku juga dadakan. Selama aku di agensi, bapak dan ibuku belum pernah menengoku karena agensinya ada di Jakarta, sedangkan kampungku ada di salah satu Desa yang terletak di wilayah III Cirebon.

Hanya 1 orang yang menengoku waktu di agensi, yaitu Mamangku yang kebetulan bekerja di Jakarta. Tetapi karena waktu keberangkatanku tinggal 2 hari lagi, aku meminta bapak dan ibuku menengokku. Aku rindu mereka.

Aku tidak ingin pergi sebelum bertemu mereka. Apalagi kontrakku nanti 2 tahun dan tak boleh pulang. Rasanya tak sanggup menahan rindu pada kedua orang tuaku.

Ternyata celetukan tetanggaku ada benarnya, “apa aku sanggup, menahan rindu selama 2 tahun, tak bertemu Bapak dan Ibu? Hiks..hikss.”

Air mataku memaksa keluar, saat mebayangkan lamanya waktu kami akan berpisah, tetapi aku langsung ingat semangat dan cita-citaku. Bapak dan ibu sudah ridho denga usahaku dan juga aku sudah di agensi, jadi aku tidak bisa mundur.

Orang tuaku benar-benar memperjuangkanku agar bisa bertemu denganku sebelum aku pergi. Walaupun waktu bersama mereka sebentar saat mereka menjengukku, tetapi aku bahagia. Rasa rinduku terobati.

Akhirnya, aku berangkat dengan perasaan tenang. Satu yang aku ingat pesan bapak sebelum berangkat.

“Neng, Neng kan udah gede, harus kuat, jangan cengeng! Neng buktikan kalau neng bisa sukses!” ucap bapak sambil membelai lembut rambutku.

Ternyata itu adalah pesan terkahir bapak.

Selama aku bekerja menjadi pembantu di Singapura, aku diberikan waktu menghubungi keluarga hanya 1 kali setiap bulannya karena saat tahun 2009 masih menggunakan penggilan telepon internasional.

Dulu media internet belum seramai sekarang, bahkan facebook pun belum ramai dan aku pun belum tahu apa itu facebook.

Selama 3 bulan aku masih menghubungi keluargaku dan mengobrol dengan bapak dan ibu dengan panggilan internasional. Tentu saja tidak bisa lama, karena biayanya sangat mahal. Yang penting bisa melepas rindu mendengar suara bapak dan ibu.

Bulan berikutnya aku bermimpi, ada banyak orang sedang menggali kubur. Kuburan itu sangat rapi dan bersih sekali.

“Pak, ini kuburan buat siapa?” tanyaku pada salah satu penggali kubur di sana.

“Ini kuburan buat Bapakmu.” Jawabnya singkat.

Deg, jantungku serasa terlepas. Aku langsung terbangun dan beristighfar. Aku menoleh ke samping, ada nenek yang aku rawat ternyata belum tidur. Di sana tugasku merawat nenek jompo yang sudah tidak bisa berjalan, tetapi ingatannya masih kuat. Kebetulan majikanku Melayu Muslim.

“Nenek, belum tidur?” tanyaku pada nenek.

Nenek masih memandangiku sejak aku terbangun tadi, mungkin terkejut melihatku langsung bangun.

“Nenek tak boleh tidur, Fat.” Jawab nenek dengan logat Melayunya.

“Apa hal, kamu terbangun? Tidurlah!” Pinta nenek lembut.

Aku bersyukur majikan dan nenek yang aku rawat adalah orang baik, apalagi nenek yang aku rawat ini pengertian sekali.

“Fat, mimpi buruk.” Jawabku sedih.

Mimpi itu terus mengganggu pikiranku. Aku yakin itu cuma mimpi buruk. Aku cerita pada nenek yang aku jaga, tentang mimpiku, “itu tanda, Bapakmu sudah meninggal, Fat.”

Ucapan nenek yang aku rawat makin mengganggu pikiranku. Akhirnya saat gajian tiba aku langsung meminta izin menelepon keluargaku menggunakan telepon umum, karena saat itu aku tidak diperolehkan menggunakan telepon seluler.

Saat aku telepon ke kampung. Kata ibuku, bapak lagi ada acara di rumah saudara, ibu mau nyusul rumahnya jauh dan sudah malam juga, akhirnya aku larang. Dan setiap bulan saat aku menelpon ada aja alasan bapak yang tidak ada di rumah, membuatku semakin was-was dan teringat akan mimpi itu.

Hingga akhirnya, saat aku diperbolehkan membeli telepon seluler. Aku bisa berkomunikasi dengan teman yang satu kampung dan dia juga sama-sama bekerja di Singapura, namanya Lisa.

“Lisa, aku mau nanya tentang Bapakku?” tanyaku lewat telepon dan tentu saja panggilan seluler bukan panggilan video.

Lisa hanya berguman tak jelas, seperti berat untuk bersuara.

“Lisa, aku penasaran. Tolong katakan yang sebenarnya!” Pintaku terus.

Aku sudah menceritakan tentang mimpiku pada Lisa dan cerita setiap aku menelepon ke kampung selalu tak bisa berbicara dengan bapak, padahal aku rindu.

Lisa akhirnya jujur, kalau bapakku memang sudah tidak ada. Bapak sudah meninggal. Keluargaku memang melarang Lisa untuk jujur padaku, karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padaku. Air mataku sudah mengalir deras mendengar penuturan Lisa. Rasanya hidupku hancur, tubuhku tak bertenaga.

“Fat, fat. Fatimah.” Terdengar Lisa berteriak memanggilku dari balik telepon

Tapi rasanya lidah dan bibirku lemas, tak bisa menjawab pangilan Lisa.

“Fat, kamu janji akan baik-baik aja, kalau aku jujur.”

Bab 2

Menjadi TKW di usia belia tidaklah sulit, walaupun persyaratan usia untuk jadi TKW minimal usia 23 tahun. Dahulu saat belum ada KTP elektronik, sangatlah mudah memanupulasi identitas KTP. Di daerah kampung anak gadis yang baru lulus SMP, bahkan ada yang masih usia SMP sudah bisa bekerja ke luar negeri.

Gaji sebagai pembantu di sana lebih menjanjikan ketimbang gaji pembantu di negeri sendiri. Walaupun dengan banyak resiko harus terpisah jauh dan kontrak rata-rata 2-3 tahun, tergantung negara yang di tuju. Negeri primadona di kampung daerah wilayah III Cirebon adalah Taiwan. Negeri yang sudah melepaskan diri dari Republik Rakyat China, di sana gajinya lebih besar dibandingkan negara lainnya.

Impian Fatimah yang tak bisa masuk ke negara Taiwan itu memilih negeri singa. Walaupun gaji di negeri dengan lambang kepala singa tersebut tidak sebesar gaji di Taiwan, tapi setidaknya bisa membantu untuk biaya kuliahnya nanti. Fatimah ingin masuk ke STIKES. Cita-cita Fatimah tidak harus menjadi dokter, dia ingin bekerja di dunia medis, setidaknya dia bisa menjadi Perawat atau Bidan.

Tetapi alasannya menjadi TKW bukan hanya untuk mencari biaya kuliah, tetapi menghindari pacarnya yang super posesif. Ya, Fatimah semasa sekolah punya pacar yang sangat posesif. Pacarnya adalah kakak kelasnya dan 1 sekolah, jadi semua kegiatan Fatimah bisa terpantau. Fatimah tidak diperbolehkan untuk mengobrol dengan teman lelaki di kelasnya.

Fatimah pernah mencoba untuk mengakhiri hubungannya dengan pacarnya karena tidak sanggup dengan perlakuan posesifnya, tetapi pacarnya itu bahkan melukai dirinya sendiri karena tidak mau putus dengan Fatimah. Pacarnya bahkan pernah melukai tangannya dengan pecahan beling. Fatimah tak tega melihat pacarnya menyakiti dirinya sendiri, hingga dengan berat hati tetap menjalani hubungan yang tak menyenangkan hatinya.

Walaupun mereka tinggal di Desa yang jauh, tetapi pacarnya ini terlalu nekad, bisa langsung datang jika Fatimah tak memberi kabar keadaannya melalui SMS karena jaman dulu masih menggunakan SMS.

“Mas, aku sudah mendaftar untuk menjadi TKW di Singapura dan minggu depan aku akan berangkat ke tempat agensi di Jakarta.” Ucap Fatimah mengabari Rusdi pacarnya.

Fatimah bisa melihat dari raut wajah Rusdi yang tak suka kalau Fatimah bertindak tanpa izin kepadannya, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa terbebas.

“Kenapa kamu gak ngomong dulu, Fat?” tanya Rusdi kecewa.

Rusdi sudah lulus SMA, tetapi dia tidak mau bekerja jauh. Bahkan masih menganggur, karena terlalu memperhatikan keadaan Fatimah yang membuatnya posesif.

Rusdi pernah merantau ke Jakarta, tetapi belum ada 1 bulan sudah kembali lagi ke kampung. Alasannya takut Fatimah berselingkuh darinya karena dia tidak bisa memantau langsung.

Fatimah sampai gunta ganti nomor, karena jika Rusdi tahu ada nomor laki-laki yang mengirim SMS pada Fatimah langsung di suruh ganti, agar Fatimah tidak tergoda laki-laki lain. Dan tetap Fatimah tidak bisa menolak. Jika menolak Rusdi bisa menyakiti dirinya sendiri.

Hingga Fatimah memutuskan harus menjauh, sejauh-jauhnya dari Rusdi untuk masa depan dirinya dan masa depan Rusdi juga, agar dia mau bekerja untuk dirinya sendiri.

“Aku ingin mengejar cita-citaku untuk kuliah di STIKES, Mas.” Jawab Fatimah pelan.

“Tapi kan, aku udah janji sama kamu kalau kamu lulus kita akan kerja sama-sama dan membiayai kuliahmu di STIKES.” Ujar Rusdi kecewa.

‘Bagaimana kamu akan bekerja, Mas? Kalau kerajaanmu setiap hari memantau kegiatanku terus dan akupun tidak yakin bisa bekerja kalau kamu selalu mencurigaiku terus.’ Guman Fatimah dalam hati

Tidak akan mungkin Fatimah bahagia. Fatimah bisa membayangkan kehidupannya nanti jika menurut padanya. Atas nama cinta di hatinya sudah berubah menjadi rasa terpaksa, kali ini Fatimah harus tega.

“Aku udah terlanjur daftar, Mas. Kalau aku mundur, aku harus ganti rugi biaya pendaftarannya dan itu besar. Aku juga gak mau mengecewakan orang tuaku dan keluargaku.” Jawab Fatimah.

“Lalu aku bagaimana? Kamu tidak memikirkan perasaanku? Kamu tidak memikirkan bagaimana aku kecewa sama kamu? Kamu tahu, aku tidak bisa jauh dari kamu.” Cerca Rusdi, air matanya menetes.

Walaupun Rusdi laki-laki, tapi air matanya mudah keluar. Apalagi saat membujuk Fatimah jika Fatimah merajuk.

“Maafkan aku, Mas. Tapi keputusanku sudah bulat. Jika kamu tidak mau kita bisa putus saja!” gertak Fatimah tegas.

Akhirnya Fatimah berani mengatakan kalimat itu lagi, setelah 3 tahun bersama pacaran saat sekolah SMA. Sulit untuk mengungkapkan kata itu.

“Jangan Fat! Aku gak mau putus dari kamu. Aku akan menunggumu. Aku janji akan setia sama kamu.” Bujuk Rusdi sambil duduk berlutut di hadapan Fatimah.

“Tapi kamu juga harus janji, kamu harus setia sama aku!” pinta Rusdi ragu.

“Kamu gak percaya sama aku? Aku ke sana untuk bekerja, Mas.” Jawab Fatimah kesal.

“Aku hanya takut, jika nanti kamu sudah bekerja dan punya uang sendiri, pasti akan meninggalkan yang tak punya apa-apa.” Ucap Rusdi lirih.

Fatimah selalu kesal jika Rusdi merendah diri dengan membahas kehidupannya.

“Ya, kamu kerja juga dong, Mas. Biar bisa punya uang sendiri.” Jawab Fatimah kesal.

“Kerja apa, Fat? Susah cari kerja itu, apalagi ijazah aku paket C karena aku tidak lulus UN. Siapa yang mau menerima aku kerja.” Ucap Rusdi kesal juga.

Rasanya sia-sia buat Fatimah untuk menasehati Rusdi. Sebenarnya Rusdi pernah bercerita dulu saat di Jakarta diajak temannya untuk berjuang dan hasilnya memuaskan, tetapi karena Fatimah lupa memberi kabar saja, Rusdi langsung pulang dan mengira Fatimah melupakan dirinya.

“Fat, bagaimana kalau kamu bersumpah di atas Al-Qur’an?” tiba-tiba Rusdi mengagetkan Fatimah.

“Aku gak mau! Al-Qur’an itu kitab suci, bukan untuk jadi saksi sumpah.” Ucap Fatimah dengan nada tinggi.

Fatimah benar-benar kecewa, karena ini bukan pertama kalinya Rusdi menanyakan kesetiaannya dengan bersumpah di atas Al-Qur’an. Rusdi sudah tahu kalau Fatimah akan marah jika di pintai akal hal tersebut.

“Baiklah, Fat. Aku akan percaya padamu.” Akhirnya Rusdi luluh.

Sebenarnya ada rasa kecewa saat Rusdi menolak putus dengannya, tapi itu lebih baik, Rusdi tidak membujuk dengan menghentikannya untuk tidak menjadi TKW. Nanti saat pulang dari sana, dia akan benar-benar meninggalkannya. Setidaknya nanti saat dia jadi TKW dia tidak akan menghubungi Rusdi, jadi dia bisa terbebas saat bekerja di sana.

**

Semua persiapan Fatimah untuk berangkat ke agensi penyalur TKW di Jakarta sudah selesai. Bapak dan ibunya sudah menunggu Fatimah keluar dari kamarnya. Saat Fatimah keluar langsung dipeluk bapak dan ibunya.

“Semangat ya, Neng!.” Ucap Jamal bapaknya Fatimah, sambil tersenyum bangga pada putri tunggalnya.

“Gak boleh cengeng lagi dong.” Ucap Nani ibunya Fatimah dan mengusap air mata Fatimah yang mengalir di pipinya.

Fatimah hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.

Fatimah tidak sendirian. Fatimah pergi dengn Dewi sepupunya yang akan sama-sama menjadi TKW di negeri singa, yaitu Singapura. Dewi sudah ada di luar rumahnya dan sudah ada mobil yang akan membawanya berangkat ke Jakarta. Mobil tersebut adalah milik Sponsor, panggilan untuk orang yang mencari para TKW.

Di luar pun sudah banyak tetangga yang berderet untuk melepas kepergian Fatimah dan Dewi. Fatimah menyalami satu persatu para tetangga yang berdiri di luar.

“Yang sukses ya, Fat. Nanti kalau udah sukses bisa kuliah dan jadi bidan, biar di kampung kita punya bidan sendiri.”

Berita tentang cita-cita Fatimah sudah menyebar di kampung. Dahulu para tetangganya mencibir Fatimah karena cita-citanya yang terlalu tinggi, katanya tidak mengukur kemampuan ekonomi keluarga, tapi kali ini yang terucap dari mulut tetangga yang dulu mencibirnya menjadi ucapan penuh do’a.

**

Fatimah dan Dewi sudah meninggalkan kampung menggunakan mobil sponsor dan yang menyetirnya pun sponsor itu sendiri. Dewi dan Fatimah berbeda usia 3 tahun. Dewi lebih muda. Bahkan Dewi saat itu baru saja lulus SMP, tapi mereka berdua sudah yakin untuk mengubah nasib keluarga.

Sepanjang perjalanan Fatimah dan Dewi tak banyak mengobrol. Biasanya mereka akan bercerita apa saja dengan keseruannya, karena mereka adalah saudara yang dekat dan akrab. Mereka tenggelam dengan kesedihannya karena meninggalkan keluarga mereka.

Saat mereka baru sampai Indramayu, Fatimah dan Dewi diminta untuk pindah ke mobil lain. Mobil itu milik sponsor pusatnya. Di mobil tersebut ada 6 orang wanita, mereka juga sama calon TKW.

“Nanti Sponsor Edi yang akan mengantarkan kalian ke tempat agensi di Jakarta yah, kalau ada apa-apa bilang saja sama Sponsor Edi!” Jelas Sponsor Mustofa yang mengantar menjemput mereka dari rumah.

Fatimah dan Dewi hanya mengangguk tak bersuara, lalu pindah ke mobil itu. Mereka duduk saling berdempet. Walaupun mobil yang mereka naiki lebih besar dari mobil yang tadi, tetapi tetap saja terasa sempit karena di dalam sudah ada 8 penumpang dan di tumpuk dengan tas-tas yang mereka bawa. Sedangkan ransel baju mereka disimpan di atas mobil tersebut. Di depan ada supir dan Sponsor Edi duduk di kursi samping supir.

“Nanti saya, antar Fatimah dan Dewi duluan yah! Yang ke penampungan agensi Singapura, sisanya beda agensi dan beda negara.” Ucap Sponsor Edi pada Fatimah dan Dewi.

Sepanjang perjalan hanya terisi sunyi, tak ada yang menobrol. Mungkin karena mereka tidak saling kenal. Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Agensi untuk Fatimah dan Dewi, tempat agensi itu mereka menyebutnya penampungan.

Rasa was-was dan takut, bercampur aduk di hati Fatimah dan Dewi, tetapi mereka harus yakin dengan tujuan mereka.

“Udah siap?” tanya Sponsor Edi.

Tetap Fatimah dan Dewi tak bersuara, hanya menganguk. Sponsor Edi terlihat memasuki mobil memberi intruksi pada para wanita yang berada di sana untuk menunggu sebentar karena Sponsor Edi akan mengantar mereka ke dalam rumah penampungan agensi.

Mereka di persilahkan masuk. Di ruangan itu ada berjejer beberapa meja karyawan. Mereka diperkenalkan dengan para karyawan yang akan mendampingi mereka di sana.

“Masih muda-muda banget Bang Edi. Kuat gak mereka?” tanya Bu Ros yang merupakan pemilik agensi tersebut pada Sponsor Edi.

Fatimah dan Dewi masih berdiri mematung sepertinya masih diintrogasi.

“Yakinlah Bu Ros, masa gak percaya sama saya?” jawab Sponsor Edi lantang, lalu tersenyum.

“Kalian yakin mau jadi TKW? Kalian baru lulus sekolah, kan? Kalian itu nanti ke luar negeri buat bekerja yah bukan buat main! Usia seperti kalian kan masih seneng main.” Tanya Bu Ros tegas.

Fatimah dan Dewi sedikit gentar dengan pertanyaan dari Bu Ros.

“Yakin, Bu.” Jawab mereka kopak.

Tetapi tatapan Bu Ros sangat tajam, seperti meragukan tekad mereka berdua.

Bab 3

“Panggil saya Miss Ros! Nanti para pengajar dan pengurus kalian juga manggilnya Miss untuk yang perempuan, kalau untuk yang laki-laki, panggil Sir.” Jelas Bu Ros yang meminta di panggil Miss.

Fatimah dan Dewi dijelaskan alur proses seleksi untuk menjadi TKW. Mereka akan melakukan Medical Cek Up ulang, walaupun sebelumnya mereka sudah melakukan medical cek up di salah satu laboratorium kesehatan di daerah Indramayu. Sesuai instruksi dari Sponsor Mustofa.

Jika hasil medical cek up dinyatakan Fit, maka mereka akan melanjutkan ke proses berikutnya, tetapi jika hasilnya Unfit, secara otomatis mereka langsung gugur dan tak bisa menjadi calon TKW. Mereka akan dipulangkan langsung ke kampung.

“Nanti kalian, akan difokuskan untuk belajar bahasa Inggris! Karena Singapura mayoritasnya berbahasa Inggris. Itu Miss Ria anggap saja kepala asrama kalian nanti. Nanti Miss Ria yang akan bertanggung jawab saat kalian di penampungan ini," Miss Ros menunjuk seorang wanita yang berambut bondol usianya sekitar 40 tahunan. "Silahkan, Miss Ria!”

“Ayok ikut saya ke atas.” Ajak Miss Ria.

Fatimah dan Dewi mengambil tas dan ranselnya mengikuti langkah Miss Ria. Saat di lantai 2 terlihat banyak sekali para wanita yang merupakan calon TKW juga. Usia mereka beragam, terlihat dari wajah mereka. Fatimah dan Dewi langsung terkejut karena ada seorang calon TKW sedang dimarahi oleh seseorang yang sepertinya pengajar juga.

“Ada apa, Miss Yanti?” tanya Miss Ria pada wanita yang sedang memarahi seorang wanita di hadapannya.

“Ini, Miss Ria, si Leli. Masa makan siangnya dibuang, alesan rasanya gak enak. Mau jadi apa nantinya si Leli, kalau pilih-pilih makanan. Tidak menghargai makanan lagi. Mubazir kah.” Jawab Miss Yanti

Wanita yang di hadapan Miss Yanti menunduk, matanya terlihat berkaca-kaca.

“Oh, ada anak baru yah? Sini masuk Mbak! Maaf yah, kalian harus menyaksikan kejadian itu. Ini juga pelajaran buat kalian anak baru, yah!" Terang Miss Yanti.

"Jangan sesekali pilih-pilih makanan, apalagi sampai membuang makanan. Nanti kalian di sana gak bisa milih makanan. Kalian akan makan apa saja yang diberikan majikan kalian, bahkan ada juga yang diberi makanan sisa, jadi kalian harus terbiasa.” Jelas Miss Yanti dengan nada tegas.

“Kamu sana, Leli! Awas saja kalau kejadian ini terulang lagi! Saya akan adukan sama Miss Ros, biar kamu dipulangkasn saja!" ancam Miss Yanti pada wanita yang bernama Leli itu.

Kejadian tadi cukup membuat nyali Fatimah dan Dewi menciut. Bagaimana mereka nanti jika mendapatkan majikan yang galak seperti Miss yanti?

“Mbak, siapa namanya.” Tanya Miss Ria menyadarkan mereka.

“Saya Fatimah.” Jawab Fatimah dengan nada takut.

“Saya Dewi Saputri.” Jawab Dewi dengan nada yang sama-sama takut.

“Kalian masih muda yah? Belum punya pengalaman?” imbuh Miss Ria lagi.

Fatimah dan Dewi hanya mengangguk.

“Pantesan polos banget dan liat kejadian tadi aja kalian takut. Jangan takut dong! Nanti majikan kalian lebih kejam dari saya.” Jawab Miss Yanti.

Ekspresi Fatimah dan Dewi terlihat jadi tegang karena takut.

“Sekarang keluarkan isi tas dan ransel kalian! Ini pemeriksaan awal. Agar tidak ada benda-benda yang berbahaya.” Perintah Miss Yanti.

Fatimah dan Dewi hanya mengangguk dan menuruti perintah Miss Yanti. Mereka mengeluarkan isi tas dan ransel bawaan mereka. Saat Fatimah mengeluarkan telepon seluler dan pengisi dayanya, langsung diambil oleh Miss Yanti.

“Kalian tidak diizinkan membawa telepon seluler karena bisa mengganggu kegiatan belajar kalian. Nanti saya titipkan ke sponsor kalian agar diberikan kepada keluarga kalian.” Jelas Miss Yanti tegas.

Saat Dewi sedang mengeluarkan isi tasnya, keluar sebuah foto lelaki. Dewi langsung terlihat tegang.

“Wah ini foto pacarmu, yah?” goda Miss Ria tertawa.

“Bukan Miss, itu suadara saya.” Kilah Dewi malu.

“Enggak apa-apa, jangan malu-malu!” jawab Miss Ria santai.

Fatimah dan Dewi serasa di introgasi, tetapi mereka tidak boleh menyerah untuk menggapai cita-cita mereka.

**

Tempat penampunganya berupa rumah 4 lantai, lantai bawah digunakan untuk Kantor utama. Lantai 2 untuk tempat istirahat calon TKW dan tempat latihan mengerjakan tugas rumah tangga, lantai 3 tempat istirahat TKW juga dan ruangan untuk belajar bahasa Inggris, lalu lantai ke 4 dapur dan loteng untuk menjemur pakaian para calon TKW. Agensi tempat menyalurkan TKW hanya untuk majikan muslim, sehingga mereka nanti di sana masih bisa sholat dan ibadah lainnya.

Fatimah dan Dewi dikenalkan dengan para calon TKW yang sudah berada di sana. Mereka semua terlihat ramah, walaupun ada saja yang terlihat sinis menatap mereka. Fatimah dan Dewi saling berpandangan, mereka mengerti harus saling menguatkan.

Setelah itu Dewi menarik tangan Fatimah menuju sudut ruangan di sana.

“Fat, dari rumah kan kita dibawakan bekal nasi bungkus. Tadi aku lihat udah basi, gimana nih? Kalau sampai kita ketahuan membuang nasi tersebut, kan gak mungkin dimakan.” Tanya Dewi takut.

Mereka teringat kejadian tadi, saat Leli dimarahi hanya karena membuang makanannya.

“Nanti kita buangnya malam aja, Dew! Saat semuanya sudah pada tidur. Nanti aku yang buang di tempat sampah paling bawah, biar tidak ketahuan.” Fatimah mencoba menenangkan Dewi. Wajah Dewi pun terlihat lega.

Esok harinya Fatimah dan Dewi diajak untuk melakukan medical cek up ulang. Ternyata sudah ada 4 wanita lain yang akan sama-sama berangkat medical cek up.

“Ini Sir Yusril, panggil saja Sir Yus! Nanti Sir Yus, yang akan membawa kalian ke tempat medical cek up.” Tunjuk Miss Ria pada seorang lelaki yang sudah tua.

Lelaki itu mengajak mereka menuju mobil yang sudah terparkir di luar. Sepanjang perjalanan Fatimah dan Dewi terlihat tegang. Lalu wanita lain yang di sana mengajak ngobrol mereka dan saling berkenalan, sehingga rasa tegang di wajah mereka berkurang.

Sesampainya di rumah sakit, tempat mereka untuk melakukan cek up, ternyata sudah banyak sekali para wanita di sana. Mereka juga sama akan melakukan medical cek up untuk menjadi TKW. Mungkin para petugas di rumah sakit sana sudah kelelahan karena terlihat sangat ramai dan ucapannya kasar. Fatimah dan Dewi mulai terbiasa dengan suara bentakan dan teriakan dari orang.

Setelah selesai mereka langsung dibawa pulang ke tempat penampungan, terlihat wajah Fatimah dan Dewi senang melihat jalanan di ibukota. Mereka menatap bahagia dari jendela mobil. Fatimah dan Dewi belum pernah menginjakkan kaki mereka ke Jakarta. Akhirnya mereka bisa melihat langsung jalanan kota Jakarta.

Sesampainya di sana Fatimah dan Dewi diantar ke lantai 3. Di sana sedang berlangsung seksi belajar bahasa inggris.

Tok, tok, tok, Miss Ria mengetuk pintu di ruangan di lantai 3, dan terlihat seorang wanita yang sepertinya seorang guru karena ruangan itu sudah seperti ruang kelas. Kursi berderet di rapi dan hanya wanita itu yang duduk di hadapan meja.

“Fatimah dan Dewi perkenalkan ini Miss Alexa, yang akan mengajarkan bahasa Inggris.” Ucap Miss Ria pada Miss Alexa.

“Hallo Fatimah, Dewi, My name is Miss Alexa, nice to meet you.” ucap Miss Alexa pada mereka.

“Hallo Miss, nice to meet you too.” Jawab Fatimah yang mengerti dialog tersebut.

Miss Ria lalu meninggalkan mereka dan Miss Alexa mempersilahkan mereka untuk duduk di bangku yang kosong.

“Untuk anak baru, nanti kalian akan diberi buku tentang pertanyaan dan jawaban dengan bahasa Inggris! Tugas kalian menjawab semua pertanyaan itu dan menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia! Itu untuk menguji kemampuan bahasa Inggris kalian.” Ucap Miss Alexa seraya menunjukan sebuah buku dan memberikan pada Fatimah dan Dewi.

Mereka lalu berdiri dan menerima buku tersebut. Buku tersebut berisi pertanyaan sebanyak 500 soal, terlihat sangat tebal.

“Ada yang lulusan SMA juga yah? Yang lulusan SMA siapa?” Tantya Miss Alexa.

Fatimah mengangkat tangannyya, “Saya Miss, Fatimah.”

“Okeh Fatimah karena kamu lulusan SMA, saya beri waktu kamu 3 hari untuk menjawab dan menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kalau yang lulusan SD dan SMP, saya kasih waktu seminggu.” Ucap Miss Alexa.

Fatimah merasa terkejut, apakah dia bisa menjawab dan menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dalam waktu 3 hari?

**

Esok paginya, Fatimah dan Dewi dipanggil ke lantai bawah yang merupakan kantor agensi. Mereka diInformasikan tentang hasil medical cek up kemarin. Fatimah dan Dewi sudah berdiri di hadapan Sir Yus.

“Hasil cek up ini sudah keluar dan kalian tahu kalau hasilnya fit kalian akan melanjutkan tinggal di sini dan diurus adminitrasi untuk menjadi TKW ke Singapura, jika hasilnya unfit harus pulang.” Jelas Sir Yus tegas.

Wajah Fatimah dan Dewi terlihat menjadi tegang.

“Dan hasilnya ada 1 yang fit dan satu lagi unfit.” Tambah Sir Yus.

Wajah Fatimah dan Dewi berubah menjadi ketakuatan dan sedih. Artinya salah satu dari mereka harus pulang.

“Yang Unfit adalah Dewi. Dewi, nanti besok kamu pulang dijemput Sponsor kamu! Fatimah kamu lanjutkan usahamu di sini! Fatimah lanjutkan kegiatan belajarnya. Dewi boleh santai di lantai 2.” Jawab Sir Yus berat.

Air mata Fatimah dan Dewi menetes. Mereka melangkah menuju lantai atas. Saat di tengah-tengah tangga, langkah mereka terhenti dan berpelukan. Mereka menangis karena harus berpisah, padahal mereka sudah berjanji akan terus bersama-sama dan berjuang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED