Bab 1

Raline memindai jam di pergelangan tangannya. Pukul 19. 30 WIB. Berarti ia telah menghabiskan waktu kurang lebih sepuluh jam untuk mencari pekerjaan. Ia keluar rumah pada pukul 09.00 WIB tadi pagi. Sialnya dalam kurun waktu sepuluh jam itu, ia belum juga mendapat pekerjaan.

Raline melirik pos Satpam di depan pintu gerbang yang kosong melompong. Tidak tampak Pak Udin atau Bang Jaja lagi di sana. Tentu saja keduanya tidak ada lagi di pos Satpam. Mengingat ayahnyanya telah memberhentikan baik itu Satpam, supir ataupun Aristen Rumah Tangga. Semua itu terpaksa ayahnya lakukan demi menghemat pengeluaran.

Dengan lesu, Raline membuka pintu pagar dan menutupnya perlahan.  Setelah seharian berjibaku dari satu kantor ke kantor lainnya untuk mencari pekerjaan, Raline ingin mengisi perut dan beristirahat. Ia merasa sangat lelah. Mungkin dengan beristirahat ia bisa memulihkan kondisinya. Dengan begitu diharapkan keesokan harinya ia bisa kembali mencari pekerjaan.

Baru saja tiba di depan pintu, Raline telah disambut oleh pertengkaran kedua orang tuanya. Akhir-akhir ini kedua orang tuanya kerap berselisih paham. Tepatnya sejak Heru batal menjadi suaminya, karena menikahi Lily. Dengan lepasnya Heru sebagai kandidat menantu potensial, ayahnya sekarang pusing tujuh keliling. Hutang-hutang ayahnya melilit pinggang. Istimewa hutang ayahnya pada Pak Riswan. Dua rentenir langganan ayahnya yang menetapkan suku bunga di atas rata-rata.

Dulu ayahnya tenang-tenang saja terus dan terus meminjam uang panas pada Pak Riswan. Ayahnya mengira Heru akan melunasi semua hutang-hutangnya setelah Heru menjadi menantunya. Untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak. Rencana pernikahan mereka gagal  karena Heru jatuh cinta pada Lily.

Semua rencana yang disusun ayahnya, berbalik seratus delapan puluh derajat. Hutang ayahnya semakin menggunung, sementara ayahnya tidak mempunyai uang untuk melunasinya. Ayahnya bangkrut. Perusahaan mereka telah ditutup sebulan yang lalu.

Sisa uang yang ada, telah habis untuk membayar pesangon para karyawan. Itu pun tidak cukup. Setiap hari ada saja mantan-mantan karyawan ayahnya yang berteriak-teriak di luar rumah. Mereka menuntut pesangon yang lebih besar.

Karena ayahnya memang sudah tidak lagi memiliki uang, ayahnya mendiamkannya saja. Mau bagaimana lagi. Mereka memang sudah tidak memiliki apapun lagi. Bahkan rumah yang mereka tempati ini kabarnya akan segera disita oleh bank. Mereka hanya tinggal menunggu waktu.

Kedua orang tuanya sudah satu satu bulan ini tidak berani keluar rumah. Mereka malu pada tetangga  kanan kiri. Biasanya kedua orang tuanya ini sombong dan tinggi hati. Sehingga pada saat susah seperti ini, para tetangga dengan bahagia menyoraki alih-alih ikut bersusah hati. 

"Semua masalah ini terjadi, itu karena kamu tidak bisa mendidik anak!"

Mendengar suara bentakan ayahnya, Raline urung memutar panel pintu. Ia takut terkena imbas amarah kedua orang tuanya. Jika sedang bertengkar seperti ini, keduanya acapkali menjadikannya pelampiasan atas rasa frustasi. Semua kesalahannya di masa lalu akan terus diungkit-ungkit. Sebaiknya ia menyingkir saja.

Padahal saat ini ia sangat lelah dan lapar. Seharian berkeliling dari satu kantor ke kantor yang lain untuk mencari pekerjaan, benar-benar menguras tenaganya.

Sialnya lagi, meskipun telah berjibaku seharian, tidak ada satu perusahaan pun yang bersedia menerimanya. Selain ijazahnya yang nilainya memang pas-pasan, mungkin karena isu-isu ayahnya yang bangkrut juga. Makanya mereka semua kompak menolaknya.

Untuk meminta tolong Aksa atau Heru, Raline tidak berani. Pada Aksa, dulu Raline pernah berbuat jahat pada Camelia, istri Aksa. Atas desakan ibunya, Raline terpaksa memfitnah Camelia agar Aksa tidak jadi menikahi Camelia. Selain itu Raline juga takut dihajar oleh Camelia. Istri Aksa itu sangat mumpuni dalam ilmu bela diri. Ia bisa dijadikan perkedel oleh Camelia, kalau ia tahu bahwa dirinya berani menemui Aksa lagi.

Meminta bantuan pada Heru, Raline juga tidak enak hati. Selain masih di rumah sakit, Heru sekarang juga telah menikah dengan Lily. Tidak pantas rasanya jika ia merecoki suami orang. Lagi pula, dulu ia dan sang mama kerap menyakiti Lily, demi mempertahankan Heru. Tidak tahu diri sekali kalau ia sekarang mengemis pada Lily bukan? Makanya Raline berinisiatif untuk mencari pekerjaan demi menyambung hidup. Ia tidak mau menjadi tukang minta-minta lagi.

Namun pada kenyataannya, bekerja itu sangat tidak mudah. Terbiasa dimanja sedari kecil, membuat Raline  gamang saat menghadapi kenyataan hidup. Di luar tembok rumahnya, kehidupan begitu keras. Tanpa koneksi, mencari pekerjaan itu bagai mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Sulitnya pangkat tiga. Alias sulit, sulit dan sulit.

Sementara keadaan keuangan keluarganya sudah sampai pada taraf kritis. Ayahnya tidak mampu lagi membayar gaji SATPAM, supir dan juga Asisten Rumah Tangga. Semuanya sudah diberhentikan. Saat ini untuk mengisi perut saja mereka harus benar-benar berhemat.

"Kok aku yang disalahkan? Dari kecil aku sudah mengajarinya berdandan. Mendidiknya agar pandai membawa diri dan bersikap layaknya seorang wanita kelas atas. Salahku di mana, Mas?"

Bantahan keras sang ibu yang tidak mau disalahkan, memutus lamunan Raline. Raline meringis. Seperti inilah perangai ibunya apabila diintimidasi. Ibunya akan balik menyerang apabila diserang.

Nyali Raline menciut. Ia jadi takut masuk ke dalam rumah. Karena kalau ia memaksa, sudah bisa dipastikan ia akan menjadi bulan-bulanan kedua orang tuanya. Tapi kalau tidak masuk, ia sangat lelah dan lapar. Lagi pula, nanti ia akan tidur di mana? Di depan pintu rumah, Raline berhadapan dengan dilema.

"Kamu masih berani bertanya? Salahmu itu tidak mendidik otaknya! Kamu hanya fokus pada penampilan fisiknya, tapi tidak dengan cara berpikirnya!"

Raline menutup telinga dengan kedua tangan, kala mendengar ayahnya membahas kekurangcerdasannya. Terkadang Raline bingung. Mengapa kedua orang tuanya acapkali menganggapnya bodoh. Padahal di sekolah dulu ia tidak bodoh-bodoh amat. Buktinya ia tidak pernah tidak naik kelas.

Guru-gurunya dulu juga mengatakan bahwa dirinya cukup cerdas terkait calistung. Menghapal, ia jagonya. Ia mampu menghapal titik dan koma dalam buku pelajarannya. Berhitung pun, ya bisalah. Dirinya hanya lemah pada bidang studi yang memerlukan inisiatif sendiri. Misalnya menggambar atau mengarang. Ia selalu tidak punya ide jika diminta berpikir sendiri. Dalam hal apapun ia memang memerlukan pengarahan.

"Kalau cara berpikirnya itu bukan salahku. Tapi salah genetika Mas dong. Toh benih Mas lah yang menghasilkan Raline!"

Cukup sudah! Raline memutuskan tidak akan masuk ke dalam rumah. Lebih baik ia membeli mie instan dan makan malam di Indomare* saja. Kalau hanya membeli mie instan, sepertinya sisa uangnya masih cukup. Paling ia akan menghemat untuk tidak membeli air minum. Perkara tidur, nanti saja ia pikirkan. Kalau hanya sekedar memejamkan mata di pos Satpam juga bisa. Pokoknya ia harus menunggu emosi kedua orang tuanya reda barulah ia pulang ke rumah.

Dengan langkah tersaruk-saruk, Raline kembali membuka pintu pagar. Niatnya untuk makan dan berisrirahat buyar sudah.

***

Raline duduk terkantuk-kantuk setelah satu cup popmie berpindah ke perutnya. Saat ini ia duduk di depan minimarket komplek. Ia menumpang mengisi perut setelah membeli satu cup popmie di sana.

Raline menggigil kedinginan ketika angin basah bertiup. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Raline berdehem. Tenggorokan sakit dan matanya terasa panas. Raline sangat ingin berbaring. Kepalanya seperti diganduli batu berat, sementara suhu tubuhnya terus merangkak naik. Sembari memeluk diri sendiri, Raline menelungkupkan kepalanya di meja. Ia akan mencoba tidur sebentar untuk meredakan sakit kepalanya.

Raline tidak tahu berapa lama ia tertidur, kala suara ponsel yang terus berdering membangunkannya. Raline yang kaget, terbangun sembari mengucek-ucek mata. Ternyata ibunya yang menelepon. Dengan segera Raline mengangkat teleponnya.

"Ha--"

"Ini sudah jam sembilan malam, Raline. Kamu ada di mana?!"

Raline meringis. Belum sempat mengucapkan kata halo, ibunya sudah membentaknya.

"Raline ada di minimarket komplek, Bu. Ada a--"

"Cepat pulang ke rumah. Pak Riswan ingin bertemu denganmu. Pak Riswan akan membicarakan masalah pernikahan."

"Tidak! Raline tidak mau menikah dengan Pak Riswan! Pak Riswan bahkan lebih tua dari ayah. Istrinya juga banyak sekali. Raline--"

"Jadi kamu memilih kalau ayahmu di penjara oleh Pak Riswan karena hutang dua milyar? Dasar anak durhaka kamu. Ibu tidak mau tahu. Pokoknya kamu pulang sekarang!"

"Bu, jangan memaksa Raline menikah dengan--Bu... Ibu!" Raline panik karena ibunya menutup ponsel begitu saja.

Raline ketakutan. Tidak! Ia tidak mau menikahi bandot tua mesum seperti Pak Riswan. Ia tidak sudi menjadi tumbal atas ambisi kedua orang tuanya. Dulu, ia selalu mengikuti keinginan kedua orang tuanya yang begitu berambisi ingin menjadi orang kaya.

Sedari remaja ia sudah didoktrin harus menuruti keinginan kedua orang tuanya. Karena dirinya adalah anak satu-satunya. Oleh karena itu ia berpikir, pada dirinyalah kedua orang tuanya memupuk harapan. Dirinya terus didikte harus melakukan ini dan itu yang sebenarnya bertentangan dengan hati nuraninya. Tapi tetap ia lakukan, demi baktinya kepada kedua orang tua.

Ia juga pernah terjerumus menjalin hubungan dengan dosennya sendiri sewaktu kuliah di luar negeri. Dirinya kala itu masih sangat muda. Ia begitu haus akan cinta dan kasih sayang. Aksa tidak pernah memperlakukannya sebagai kekasih. Ia sangat kesepian.

Makanya kala sang dosen mendekatinya dan menawarkan telinga untuk menampung segala keluh kesahnya, ia mengira kalau itulah cinta.

Bahu kekar sang dosen yang selalu siap sedia dijadikan tempatnya menyandarkan luka, ia kira tulus karena wujud dari cintanya. Ternyata ia salah! Sang dosen hanya memanfaatkan keluguannya. Mencari keuntungan atas dirinya yang terlunta-lunta kala mencari cinta sejati. Hingga akhirnya ia hamil dan keguguran ketika ia tahu bahwa sebenarnya sang dosen menipunya. Lebih jauh lagi, sang dosen ternyata telah berkeluarga.

Raline trauma. Ia kini ngeri jika berhadapan dengan kaum pria. Mereka rata-rata hanya ingin mengambil kesempatan di kala ia lengah. Dan sekarang kedua orang tuanya ingin menikahkannya dengan laki-laki yang jelas-jelas adalah seorang bajingan. Tidak, ia tidak mau!

Trauma dan ketakutan membuat Raline berlari tak tentu arah di tengah hujan yang mulai turun. Raline takut kalau kedua orang tuanya akan menemukannya di minimarket ini. Ia harus pergi. Ya, pokoknya ia harus pergi sejauh mungkin!

Ckitttt!

"Huaaaa!"

Raline kaget kala sebuah mobil menghentikan kendaraannya secara mendadak. Nyaris saja! Raline mengelus dada. Ia nyaris tertabrak oleh mobil yang melaju, karena tidak memperhatikan jalan. Dirinya yang salah.

"Kalo lo mau bunuh diri jangan di jalanan, brengsek! Nanti lo-nya nggak mati, malah gue yang masuk penjara. Ngerti lo?!"

Suara pintu mobil yang dibuka dan dibanting kembali, membuat Raline sadar. Bahwa ia bisa saja mencelakakan orang.

"Mmm--ma--maaf!" Dengan bibir bergetar karena takut dan kedinginan, Raline meminta maaf.

"Elo!"

Raline kaget saat menyadari siapa yang nyaris menabraknya ini. Axel Delacroix Adams. Pria seram tattoan pemarah kakak Lily rupanya. Sial sekali ia berjumpa denga mafia galak ini. Mana dirinya sedang tidak fit untuk bertengkar lagi.

"Lo ngapain lelarian kagak ada juntrungannya di jalan hah? Mau mati? Sana, terjun dari atas jembatan! Itu lebih cepet matinya. Sekalian mayatnya juga akan susah diidentifikasi saat diautopsi!" Hardikan Axel menghadirkan ide segar di kepala Raline.

"Oh iya, ya. Kenapa gue kagak kepikiran?" Raline berbicara pada dirinya sendiri. Axel benar. Daripada ia hidup namun serasa mati. Lebih baik ia benar-benar mati saja. Dengan begitu semua masalahnya selesai dalam satu langkah. Briliant.

Tanpa banyak bicara Raline berjalan ke arah jembatan. Raline berpikir kalau ia meloncat dari jembatan, matinya juga akan lebih cepat. Flyover itu cukup tinggi. Jadi ia juga tidak perlu lama-lama menahan sakit. Sakaratul mautnya pasti instan.

Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Raline merasa seseorang menyeret tangannya kasar. Axellah yang melakukannya. Axel menyeretnya menuju mobil. membuka pintu mobil dan memaksanya masuk.

"Lo sebenarnya mau ke mana malem-malem? Hujan-hujan lagi?!" Axel membentaknya lagi.

"Mau nyari uang dua milyar," ungkap Raline terus terang. Ia memang membutuhkan uang dua miliar untuk membebaskan ayahnya dari Pak Riswan.

"What the fuc*?! Eh Raline, zaman sekarang mau nyari uang gopekan logam di jalan aja susah. Ini lo malah mau nyari dua milyar? Gue rasa otak lo itu emang ketuker sama otak ayam kali ya? Makanya bloonnya all out. Buat apa itu uang dua milyar?"

"Ayah gue berhutang dua milyar pada rentenir. Sekarang rentenirnya lagi nagih ke rumah. Karena ayah gue nggak punya uang, Pak Riswan mau jadiin gue istri yang entah keberapa, buat nebus utang. Kalau gue nggak mau, gue harus nyari uang dua milyar buat bayar itu utang. Kalo nggak, ayah gue akan dimasukkan ke penjara." Sekalian saja Raline menceritakan semuanya. Entah mengapa, perasaannya sedikit lebih lega setelah membagi masalahnya pada Axel.

"Ayo kita ke rumah lo. Gue yang akan nebus utang lo biar lo nggak jadi pelakor musiman lagi. Tapi ada syaratnya, lo harus jadi bini gue. Bagaimana, deal?"

Raline mendengkus kesal. Axel selalu mengejeknya sebagai seorang Pelakor, karena ia selalu mengusik rumah tangga adiknya. Dan herannya, Axel sekarang malah melamarnya. Orang terlalu pintar rupanya bisa gila.

"Tapi gue kan nggak cinta sama lo?" Raline memberi jawaban yang sebenarnya. Akan jadi apa dirinya bersuamikan seorang mafia.

"Gue juga nggak. Mungkin belum. Gini, bagaimana kalau mulai sekarang kita belajar mengubah mindset? Lo tunangan delapan tahun dengan Aksa, eh lo ditinggal kawin. Cinta setengah sarap sama Heru, juga ditinggal kawin. Gue juga begitu. Cinta setengah gila sama orang, juga ditinggal kawin. Kita berdua adalah orang-orang yang tidak beruntung dalam dunia percintaan."

Raline merenung. Benar juga. Ia tidak pernah beruntung dalam masalah asmara.

"Jadi mungkin kita berdua harus mencoba opsi lain. Jika kita berdua tidak bisa menikahi orang yang kita cintai, bagaimana kalau kita belajar mencintai orang yang kita nikahi?

Berani mencoba?"

Alasan Axel membuat Raline berpikir keras. Ia memutar-mutar rambut ikalnya. Keningnya berkerut karena mencoba memikirkan untung ruginya menikah dengan Axel.

"Belajar mencintai orang yang kita nikahi? Itu artinya gue harus belajar mencintai mahkluk penuh tatoo seperti lo ya?" guman Raline pelan. Ia kemudian meneliti Axel yang duduk di depannya.

"Ok. Not bad lah. Walaupun tatooan, tapi lo ganteng maksimal. Mana banyak duit lagi. Kalo lo mati, 'kan gue bisa jadi janda kaya. Oke, deal. Gue setuju nikah sama lo." Raline mengangguk-anggukkan kepalanya. Puas oleh pemikirannya sendiri.

"Mengenai lo bakal jadi janda kaya kalo gue mati, harap lo hapus pikiran itu. Karena gue belum ada rencana mati akhir-akhir ini." Axel menjawab santai, seraya menghidupkan mesin mobil.

"Oke, gampang mah itu." Hapus!" Dan Raline pun membuat gerakan seperti menghapus papan whiteboard dari keningnya.

"Selesai. Sudah dihapus." Raline nyengir sehingga matanya yang cuma segaris bulan sabit, menghilang. Ia sekarang bisa tertawa. Soalnya ia tidak jadi menikah dengan aki-aki. Melainkan menikah dengan mafia tatooan, yang walaupun galak tetapi sangat tampan. Nikmat mana lagi yang ia dustakan bukan?

"Apa yang perlu gue bilang pada orang tua lo, untuk meyakinkan mereka agar melepas lo buat gue?"

"Gampang. Bilang aja kalo lo  kaya. Habis perkara!"

"Oke. Sekarang kita ke rumah lo."

Dalam rintik hujan, Raline merenung separuh senang, separuh sedih. Senangnya ia tidak jadi menikahi aki-aki. Sedihnya, ia kembali harus menjadi milik laki-laki yang tidak mencintainya lagi.

Bab 2

Memasuki komplek perumahan mewah yang ditunjukkan oleh gadis di sampingnya ini, Axel melambatkan laju kendaraan. Ia harus memastikan bahwa gadis aneh ini benar-benar bersedia menjadi istrinya. Waktunya akan terbuang cuma-cuma kalau hanya untuk mengantarkan mantan pacar adik iparnya ini pulang. Maklum saja, gadis ini walau kelihatannya pintar, sesungguhnya sama somplaknya dengan adiknya, Lily. Kalau diam, terlihat cantik dan anggun. Namun kalau sudah membuka mulut, hancur semua citra cantik dan anggun tersebut.

"Coba lo ulangi sekali apa tujuan kita menemui orang tuamu?"

"Hah, apa?" Raline yang tengah membayangkan reaksi kedua orang tuanya atas kejutan yang ia bawa, tergagap. Axel tiba-tiba mengajukan pertanyaan padanya setelah sepanjang perjalanan ia diam seperti patung. Bagaimana ia tidak kaget coba?

"Hah... heh... hah... heh... lo kebanyakan bengong mantan pacar Heru," ketus Axel kesal.

"Gue tanya, apa yang akan lo katakan pada nyokap bokap lo mengenai kedatangan gue." Axel mencoba memperpanjang kesabarannya. Menghadapi orang rada-rada oneng seperti Raline memang memerlukan kesabaran ekstra.

"Oh, bilang dong dari tadi!" Raline berdecak. Karakter Axel ini membingungkan. Kalau diam seperti orang bisu. Tapi sekalinya membuka mulut, marah-marah melulu.

Breath in, breath out, sabar Axel. Ini orang memang mengesalkan. Tapi dia juga calon istri lo. Lo harus mulai belajar sabar sampai mengalahkan Bang Sabaruddin, tujang ojek pengkolan.

"Gue akan bilang pada mereka kalo lo akan menukar gue dengan uang dua milyar rupiah. Bener 'kan?" Raline tersenyum lebar. Memamerkan barisan giginya yang putih dan rapi. Ia bahagia karena akan terbebas dari keharusan dinikahi oleh seorang aki-aki. Tawa lebarnya membuat matanya yang sipit, making melengkung serupa bulat sabit.

"Ya Tuhan. Tolong jangan buat hamba kepingin menembak kepala calon istri hamba sendiri," desah Axel putus asa.

Axel meremas kemudi geram. Ia memang sudah merasa kalau Raline ini rada-rada oneng. Namun ia sama sekali tidak menyangka kalau tingkat keonengan Raline ini sudah sampai pada stadium akhir, alias akut. Bisa bubar jalan kalau Raline dibiarkan bicara sendiri di depan kedua orang tuanya nanti.

"Bukan begitu konsepnya, mantan pacar He--"

"Stop! Jangan menyanding-nyandingkan nama Heru dengan gue lagi. Heru udah bersanding di pelaminan dengan perempuan lain. Dengan adik lo malahan. Sebut nama gue langsung apa susahnya sih?" Raline melotot. Raline memperhatikan sedari tadi Axel ini jarang sekali menyebut namanya. Cuma sekali sepertinya. Sisanya Axel hanya memanggilnya dengan sebutan pelakor atau mantannya Heru. Seperti inilah Heru selalu menjulukinya, apabila mereka tidak sengaja bertemu.

Axel menghitung satu sampai sepuluh dalam hati. Mempertimbangkan apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya, atau mencari alasan lain.

"Memang susah. Karena gue sekarang sudah lupa lagi dengan nama lo. Gue memang payah mengingat nama orang-orang baru."

Axel memutuskan mengatakan yang sejujurnya. Ia memang acapkali lupa dengan nama orang-orang baru. Istimewa nama yang susah-susah panggilannya.

"Heh? Lupa nama gue?" Raline menunjuk hidungnya sendiri. Ia heran Axel yang masih muda sudah pelupa akut. Bagaimana nanti kalau mereka berdua sudah menjadi kakek dan nenek? Masa iya Axel masih memanggilnya dengan sebutan mantan si Heru? Mengenaskan!

"Nama gue Raline. Tadi lo inget. Sekarang kenapa bisa lupa sih? Lo belum kakek-kakek udah pelupa." Raline mengejek Axel.

"Eh nama Heru, itu lo inget. Kagak baik lo, lupa nama orang pake milih-milih dulu." Raline memberengut. Axel memang selalu sentimen padanya.

"Eh Alkaline. Heru udah gue kenal dari kapan tahun. Makanya gue inget namanya. Nah elo? Gue kenal lo cuma dalam hitungan hari. Lo kagak nyimak gue ngomong apa tadi?"

Axel mencengkram kemudi kian erat. Kekuatannya bersabar telah sampai di titik nadir. Mantan pacar Heru ini, selain oneng juga bawel. Protes melulu lagi.

"Nama gue Raline. Bukan Alkaline. Alkaline itu merek batere." Raline sampai mau menangis saking kesalnya. Masa namanya disetarakan dengan merek batere? Itu cuma nama depan tok. Pun Axel bisa lupa. Apalagi jika ia menyebut nama lengkapnya Raline Raharjo Soeryo Soemarno. Bisa dipanggil Sumo ia oleh si Axel pelupa ini.

"Udah, sama aja itu. Ada Line... Line-nya. Mirip." Axel mengibaskan tangannya ke udara.

"Mirip dari mana? Lo sembarangan aja mengganti nama orang. Tidak pakai bubur putih Bubur merah lagi." Raline masih belum terima kalau namanya diganti sembarangan.

"Eh tadi lo bilang kalo gue kagak nyimak? Nyimak apaan? Emang lo ngomong apaan tadi?" Raline mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat-ingat apa saja yang dikatakan oleh Axel tadi. Namun ia tidak menemukan benang merahnya.

Axel mengelus dada. Sudahlah. Lebih baik ia fokus pada tujuan. Ia tidak mau meladeni omongan yang tidak ada ujung pangkal Alkaline eh Raline lagi. Syukurlah, akhirnya ia ingat kembali nama gadis ini.

"Udah diem. Lo jangan ngomong lagi. Gini aja. Ntar sesampainya kita di rumah lo, gue aja yang ngomong sama bokap nyokap lo. Lo cukup mingkem dan jangan mengeluarkan sepatah kata pun sebelum gue izinin." Axel mencari jalan aman. Daripada ia naik darah dan semua rencana berantakan, lebih naik dirinya yang memegang kendali.

"Ogah!" Raline menggeleng cepat. "Ntar lo bilang yang jelek-jelek soal gue, gue kagak bisa membantah." Raline protes. Ia takut kalau Axel nanti menjelek-jelekkannya di depan kedua orang tuanya, sementara ia tidak bisa membela diri. Soalnya ia sudah janji tidak akan bersuara.

"Gue nggak akan ngejelek-jelekin lo," sahut Axel enteng seraya kembali menjalankan mobil.

"Soalnya lo udah jelek dari sononya," imbuh Axel lagi.

Axel bersiap-siap menerima amukan Raline. Perempuan di mana-mana pasti histerus kalau dikata-katai jelek. Ia memang sengaja mengatai Raline. Ia memerlukan pemanasan sebelum berkonfrotasi dengan kedua orang tua Raline, dan mungkin juga orang yang dipanggil Pak Riswan. Dirinya adalah type orang yang terlambat panas. Kalau memakai istilah Erick, ia seperti mesin diesel. Panasnya naik pelan-pelan dan baru meledak belakangan. Untuk itu ia harus mencuri start duluan.

"Iya, gue emang jelek kayaknya ya? Cuma selama ini orang-orang pada kagak enak hati aja mengatakannya di depan mata gue. Kalo lo kan bukan orang. Tapi mafia. Makanya bacot lo kagak ada saringannya," tukas Raline lesu. Kedua bahunya melorot. Ia baru menyadari satu hal. Pasti dirinya jelek, makanya ia bolak-balik ditinggal pacar.

Axel melirik ke samping dengan sudut mata. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapat reaksi sedih bin pasrah seperti ini dari Alkaline eh Raline. Perasaannya menjadi tidak enak. Seperti rasa bersalah yang tidak ingin ia akui.

"Lo jelek di mata orang yang tidak tepat. Kalo di mata orang yang tepat, lo cantik juga kok." Apa boleh buat. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Ia sudah membuat Raline kecil hati. Untuk itu ia harus membesarkan hati Raline kembali. Inilah yang disebut dengan konsekuensi.

"Begitu ya? Karena lo sudah berani melamar gue, itu artinya lo sudah menganggap gue tepat. Jadi di mata lo. Jadi gue ini cantik dong?" Raline meminta pengakuan Axel. Yang dimintai pengakuan berdecak tidak nyaman.

Breath in, breath out. Berbesar hatilah Axel. Jadi laki-laki itu harus konsisten. Kalau sudah mengatakan satu, maka sampai mati pun harus tetap bilang satu.

"Iya, lo cantik di mata gue. Dan hanya gue seorang yang boleh lo percaya, kalau gue bilang lo itu cantik. Apabila ada orang lain yang mengatakannya, mereka bohong. Karena mereka bukan orang yang tepat untuk lo. Ngerti lo?" dikte Axel lagi.

"Mengerti." Raline mengangguk takzim. "Hanya lo yang boleh gue percaya kalo lo bilang gue ini cantik."

Raline tersenyum lebar di antara kedua matanya yang terasa makin panas. Suhu tubuhnya naik lagi sepertinya. Semoga saja Axel segera membayar hutang pada Pak Riswan. Dengan begitu ia bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya.

Sejenak Axel termangu. Gadis ini kalau tersenyum girang begini, manis juga. Wajah antagonisnya berubah lucu. Matanya yang sipit berubah seperti bulan sabit. Hilang sudah aura jahatnya. Cara berbicaranya mirip Marilyn lagi. Oneng- oneng menggemaskan.

Lo mikir apa sih, Axel? Marilyn itu udah jadi istri orang!

Axel mendecakkan lidah. Ia kembali menjalankan kendaraan. Sepertinya Rencananya akan lancar jaya. Karena gadis di sampingnya ini tidak akan menginterupsi apapun yang dikatakannya. Ia yakin gadis ini akan diam saja, terkait apa yang sudah ia perintahkan tadi. Mengapa ia yakin kalau gadis ini tidak akan melanggar janjinya? Jawabannya insting.

Menjadi seorang mafia yang berkecimpung di dunia kelam dan berhadapan dengan 1001 sifat orang, membuatnya piawai membaca situasi. Ada dua hal yang membuat Axel yakin gadis ini akan patuh. Pertama, gadis ini tadi langsung protes kala ia perintahkan tidak boleh berbicara. Gadis ini takut kalau dirinya tidak bisa membela diri apabila diceritakan tidak dengan semestinya. Dari hal ini saja Axel telah mendapat satu gambaran. Gadis ini patuh pada peraturan. Kalau ia ingin membangkang, pasti ia tidak akan protes. Ia baru akan beraksi di saat ada kesempatan.

Yang kedua, dari masalah puji memuji kecantikan tadi. Air muka Raline memperlihatkan kepercayaan mutlak atas kata-katanya. Oleh karenanya Axel sangat yakin kalau semuanya akan aman terkendali. Intuisinya jarang salah dalam membaca karakter orang.

***

"Stop. Ini rumah gue." Raline meminta Axel menghentikan laju mobil. Seperti yang sudah ia perkirakan, Pak Riswan sudah berada di rumahnya. Hal itu ia tandai dengan mobil hitam mewah yang terlihat parkir di halaman. Raline mengenalinya sebagai mobil Pak Riswan. Pak Riswan biasa berkunjung dengan mobil ini beserta supir dan dua orang bodyguardnya. Pak Riswan tidak pernah datang sendirian. Mungkin Pak Riswan takut apabila ia terserah stroke, tidak ada orang yang akan menggotong-gotongnya ke rumah sakit.

"Seperti yang gue bilang tadi, Pak Riswan sudah ada di dalam. Jadi kita harus bagaimana?" Sebelum turun Raline lebih dulu bertanya. Karena kalau sudah ada di dalam rumah, ia harus mingkem sesuai dengan janjinya pada Axel tadi.

"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Kita harus masuk tentu saja. Satu hal yang harus lo ingat. Kalo gue tidak meminta lo bicara, jangan bersuara. Paham?"

"Oke. Sebelum gue bisu, gue kasih tahu lo satu hal. Nama aki-aki rentenir itu Pak Riswan. Lo jangan lupa lagi." Raline memperingatkan Axel.

"Katanya aja mafia? Masa mafia bisa lupa nama orang? Kagak pantes amat lo menyandang julukan seorang mafia," gerutu Raline.

"Eh mafia itu kerjanya membunuh orang. Bukan menghapal nama orang. Paham lo?" Axel panas karena terus diceng-cengi oleh Raline.

"Iya... iya... gue cuma mengeluarkan pendapat sebelum jadi orang bisu ntar di dalem. Gue turun dulu. Mau buka pager." Raline membuka pintu mobil. Ia bermaksud melebarkan pintu gerbang.

"Kagak usah!" bantah Axel.

"Lah, kagak usah jadi kita masuknya lewat mana? Terbang? Berubah jadi semut?" Raline lama-lama emosi juga karena semua kalimatnya dibantah oleh Axel.

"Kagak perlu lo yang turun maksud gue. Sejak lo setuju jadi istri gue, maka gue akan memperlakukan lo selayaknya seorang istri. Istri gue akan gue perlakukan kayak ratu, bukan babu."

Axel turun dari mobil dan melebarkan pintu gerbang. Kalau menuruti kebiasaan, ia akan menerjang saja pintu gerbang ini dengan mobil hingga terbuka. Namun Axel sadar. Saat ini ia harus berperilaku baik. Bagaimanapun jeleknya prilaku kedua orang tua Raline, namun keduanya tetap akan menjadi calon mertuanya. Untuk itu ia akam menghormati keduanya sebagai orang yang telah menyebabkan calon istrinya ada di dunia ini. Baginya adab pada orang yang lebih tua, adalah wajib.

Sementara Raline yang masih berada di dalam mobil menyusuti air mata yang tiba-tiba saja mengalir bagai air bah. Seumur hidupnya, ia tidak pernah diperlakukan sehormat ini sebagai seorang perempuan. Dipuji cantik, sering. Namun tujuan orang yang memujinya rata-rata busuk. Mereka merayunya karena ingin mendapatkan akses memiliki tubuhnya. Diperlakukan manis, sering juga. Tapi lagi-lagi ada pamrihnya. Ujung-ujungnya mereka ingin menidurinya.

Sementara Axel berbeda. Axel memujinya tanpa bermaksud mencari keuntungan darinya. Axel dingin namun menghargainya. Hal ini yang tidak ia dapatkan dari laki-laki yang ada di sekelilingnya.

Kalau Aksa dan Heru, mereka berdua menyayanginya. Bukan mencintainya. Mereka menganggapnya adik dan bagian dari keluarga besar. Raline tidak bisa menyalahkan keduanya.

Tapi Axel ini, lihatlah. Betapa gentlenya seorang mafia gahar ini membuka pintu pagar rumahnya. Menegaskan padanya bahwa istrinya akan ia hormati dan perlakukan selayaknya seorang ratu. Bukan babu. Bagaimana Raline tidak terharu? Inilah yang ia inginkan dari laki-laki yang akan menjadi imamnya. Menghormatinya dan syukur-syukur mencintainya.

Bab 3

"Ke mana saja kamu seharian ini hah?" Raline nyaris terjungkal kala ayahnya membentak kasar. Ia kaget. Untungnya ia masih sempat meraih pegangan pintu. Akan sangat memalukan kalau ia terjerembab seperti katak lompat di depan semua orang.

Saat ini yang tampak dalam penglihatan Raline adalah ayah dan ibunya, Pak Riswan serta dua orang bodyguard si aki-aki yang biasa. Ayah dan ibunya duduk bersisian di sofa. Sementara Pak Riswan duduk di hadapan kedua orang tuanya. Kedua bodyguard Pak Riswan masing-masing berdiri di belakang sofa dalam posisi siaga. Sepertinya Pak Riswan tengah mengintimidasi kedua orang tuanya. 

Raline tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Melainkan ia menatap Pak Riswan dengan pandangan penuh kebencian.

Ketika tatapan Raline bersirobok dengan Pak Riswan di udara, si tua bangka itu mengedipkan sebelah matanya mesum.  Raline memelototi Pak Riswan. Dulu ia memang takut pada Pak Riswan. Makanya Raline tidak pernah menatap mata Pak Riswan secara langsung.  Tapi kali ini beda. Sudah ada Axel yang berdiri di sampingnya. Bersama Axel, Raline tidak takut terhadap apapun lagi.

"Raline mencari uang, Yah. Ayah jangan marah-marah terus. Duduk dulu, Yah. Nanti darah tinggi Ayah naik lagi. Kita sedang tidak punya uang ke rumah sakit bukan?"

Setelah memberi tatapan peringatan kepada Pak Riswan, Raline bergegas menghampiri ayahnya. Ayahnya berdiri sembari memegangi dada. Raline takut kalau ayahnya kolaps lagi. Dalam sebulan ini sudah dua kali ayahnya kolaps karena tensinya melonjak. Ia sampai harus menjual tas branded terakhirnya demi membawa ayahnya ke dokter.

"Mencari uang katamu? Lantas mana uangnya?" Pak Adjie menepis tangan Raline. Selain marah, sesungguhnya ia juga cemas. Seharian putrinya ini tidak pulang-pulang. Ponselnya juga tidak aktif. Bagaimanapun Raline itu putrinya. Ia takut kalau putrinya yang naif ini mendapat masalah di luar sana. Belum lagi Pak Riswan yang mengamuk karena mengira dirinya bersekongkol dengan Raline untuk mengelakkan perjodohan.

Dan kini pulang-pulang putrinya malah membawa seorang laki-laki bule. Ia sangat antipati pada bule. Karena di masa lalu, putrinya ini sudah pernah ditipu oleh seorang bule. Bagaimana ia tidak makin jengkel karenanya?

"Bule ini siapa?" Pak Adjie menunjuk Axel.

"Ini Mas Axel, Yah. Sebagai informasi Mas Axel bukan bule original. Tapi bule KW. Kata Lily, almarhum papanya saja yang orang Prancis. Kalau mamanya mah asli Ciamis." Raline mengedit tuduhan ayahnya.

"Mau original, mau KW, tetap saja judulnya bule. Apa kamu tidak kapok pernah ditipu bule?" sembur Pak Adjie gusar. Putrinya ini memang susah diajak berbicara serius. Kekurangancerdasannya lah yang kerap membuat putrinya ini mudah dipengaruhi dan ditipu.

"Tapi sepertinya Ayah pernah melihat wajah orang ini. Tapi entah di mana?" Pak  Adjie mengerutkan kening. Ia mencoba mengingat-ingat di mana ia melihat wajah bule dingin ini. Tatapan mata sang bule begitu mengintimidasi. Ada aura sangar yang menguar dari raut wajahnya. Pak Adjie mengalihkan tatapan. Ia ngeri memandang sang bule. Perbawa bule ini jelas menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. Siapa dia?

Akan halnya Pak Riswan, nyalinya langsung ciut ketika mendengar Raline menyebut nama Axel. Ternyata dugaannya benar. Bule gahar ini adalah anak almarhun Pierre Delacroix Adams. Kakak angkat almarhum Texas Delacroix Bimantara, sahabat lamanya.

Walau semua orang mengenal Axel sebagai anak kandung Pierre, sesungguhnya Axel adalah anak kandung Texas. Aimee, ibu Axel, sebelumnya adalah pacar Texas sebelum menikah dengan Pierre. Rahasia ini hanya segelintir orang yang tahu. Sebelum Texas tewas tertembak karena mencoba menyerang Lily, sahabatnya itu sempat memberitahu rahasianya.

Sebenarnya ia telah mempunyai prasangka, kala menatap wajah dingin si bule. Garis wajahnya bagai pinang dibelah dua dengan Texas. Namun ia masih berharap semoga dugaannya salah.

Tapi ketika Raline menyebut nama Axel dan Lily, Pak Riswan seketika loyo. Nama anak-anak Pierre memang Axel dan Lily. Dulu, ia pernah beberapa kali bertemu dengan anak-anak Pierre, kala ia menemani Texas mengunjungi kakak angkatnya. Saat itu Pierre belum tewas. Texas menembak kakak angkatnya sendiri karena cemburu. Waktu berlalu begitu cepat. Axel sekarang sudah sedewasa ini.

Nama Delacroix Adams sendiri adalah nama yang paling menakutkan dalam dunia hitam. Tiga generasi Delacroix Adams, terkenal bengis kalau diusik. Dimulai dari Javier, Pierre dan kini Axel. Sepertinya niatnya memperdaya Pak Adjie agar bisa memperistri Raline, tidak akan terwujud. Putra Texas ini sudah menandai daerah teritorinya. Bersahabat dengan Texas, membuat Pak Riswan khatam dengan karakter sahabatnya itu. Texas itu kalau sudah punya mau, semua rintangan akan ia terjang. Darah Texas dan Axel sama. Keduanya pasti memiliki karakter yang kurang lebih sama juga.

"Nanyanya satu-satu dong, Yah. Raline bingung kalau pertanyaan Ayah keroyokan begini. Yang mana dulu yang harus Raline jawab? Oh, sepertinya masalah uang saja dulu yang Raline jelaskan. Ayah 'kan suka sekali dengan uang."

Raline menjentikkan jari dengan gembira. Ia bangga atas ide cemerlang yang tiba-tiba saja singgah di benaknya. Ayahnya pasti tidak jadi marah kalau dirinya membahas masalah uang.

"Ayah tadi tanya mana uang yang Raline cari bukan? Nah, ini uangnya." Raline menepuk-nepuk saku celana Axel dengan senyum lebar.

"Lo biasa naroh uang di saku yang mana? Saku celana atau saku jas?" bisik Raline lirih.

"Di saku jas." Axel balas berbisik lirih. Ia memang selalu membawa cek di saku jasnya untuk pembayaran dalam jumlah besar. Di saku celana, ia mengisi dompet dengan uang cash beberapa lembar  dan beberapa kartu sekedarnya saja.

"Oke, gue ngerti." Raline mengangguk takzim. Kalimatnya salah. Untuk itu ia akan mengulanginya lagi.

"Di sini uangnya, Yah. Raline salah tunjuk." Raline menepuk-nepuk saku jas Axel dengan bangga.

"Apa maksudmu, Line?" Pak Adjie meremas rambut frustasi. Putrinya ini sedang kambuh onengnya. Lain yang ia tanya, lain juga yang ia jawab.

"Maksud Raline, Mas Axel ini membawa uang dua--"

"Biar saya saja yang akan menjelaskan semuanya." Axel mendekat dan dengan cepat memotong kata-kata Raline. Ia juga mengganti kata gue dengan saya. Bagaimanapun tidak respeknya dirinya pada orang tua Raline, tetap saja mereka berdua akan menjadi mertuanya. Adab harus ia utamakan.

"Saya Axel Delacroix Adams. Saya akan membayar hutang Anda pada orang ini sebesar dua milyar, beserta bonus bunga dari saya ; calon menantu Anda." Axel menunjuk Pak Riswan saat mengucapkan kata orang ini.

"Hah, bayar hutang? Calon menantu?" Diberi kejutan bertubi-tubi, membuat Pak Adjie kebingungan.

"Ah saya ingat sekarang. Kamu ini adalah Axel Delacroix Adams. Kakak Lily, istri Heru. Kamu ini seorang mafia!" Bu Lidya bangkit dari sofa. Sekarang ia ingat di mana ia pernah melihat bule gahar ini. Di pernikahan Heru dan Lily!

"Betul. Bawa kedua orang tuamu ke dalam Alka--" Axel mendecakkan lidah. Ia lupa lagi nama perempuan ini.

"Raline. Nama gue Raline. Inget baik-baik. Jangan lupa lagi. Bagaimana ortu gue percaya kalo lo serius pengen nikahin gue, kalo nama gue aja lo lupa?" bisik Raline di sisi telinga Axel.

"Oke. Ra--line." Axel balas berbisik.

"Pinter. Oh ya, jangan lupa. Nanti pas lo ngelamar, bilang kalo lo itu kaya. Ortu gue suka khilaf kalau membahas soal harta. Oke kakaknya Lily?" Raline mambalas Axel iseng. Ia mendadak ceria karena telah lepas dari cengkraman Pak Riswan.

"Axel. Nama gue Axel. Tapi nanti setelah kita nikah, lo bisa manggil gue Mas Axel." Axel mengultimatum tegas.

"Sekarang juga nggak apa-apa, Mas Axel." Raline nyengir. Kedua mata sipitnya membentuk bulan sabit kala ia tertawa. Sejurus kemudian Raline memandu kedua orang tuanya masuk ke ruang keluarga. Raline mamahami maksud Axel. Axel akan membahas masalah hutang piutang dengan Pak Riswan.

"Raline, ingat janji lo," teriak Axel. Ia mengingatkan Raline akan janjinya yang tidak boleh membuka mulut.

"Siap, Mas Axel," Raline balas berteriak seraya membuat gerakan mengunci mulut. Setelahnya ia kaget sendiri.

"Set dah, mulut gue kok lancar amat ya manggil itu mafia reseh, Mas?" Raline bingung sendiri.

"Udah ah, biarin aja. Gue lagi males mikir." Raline menyusul kedua orang tuanya masuk ke dalam ruang keluarga. Akhirnya ia bebas juga dari keharusan menjadi istri aki-aki tua bau tanah. Alhamdullilah.

***

"Raline, coba ceritakan bagaimana ceritanya mafia itu ujug-ujug bisa menjadi calon suamimu? Ayah bingung."

Di ruang keluarga, Pak Adjie berjalan hilir mudik. Sungguh, ia tidak mengerti bagaimana putrinya bisa berhubungan dengan seorang mafia berbahaya seperti Axel.

"Ehem..  ehem... ehem..." Raline menjawab dengan bahasa isyarat seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sesuai janjinya dengan Axel, Raline tetap menutup mulut.

Saat ini ia duduk manis di sofa keluarga bersama sang bunda. Ia menjawab pertanyaan ayahnya hanya dengan deheman. Ia tetap memegang teguh janjinya pada Axel, walau ia pusing melihat tingkah ayahnya. Ya, ayahnya terus mondar-mandiri di depannya seperti setrikaan yang tidak licin-licin.

"Ham... hem... ham... hem... melulu. Kamu kenapa Line? Tenggorokanmu gatal?" Pak Adjie kesal karena tingkah aneh putrinya.

Raline menggeleng cepat. Ia kemudian menunjuk mulutnya. Memberi kode kalau ia tidak bisa berbicara dengan gerakan tangan seperti mengunci.

"Oh, kamu tiba-tiba sakit gigi?" Kali ini Bu Lidya yang menebak. Raline kembali menggeleng.

"Bukan sakit gigi? Kamu sariawan?" tebak Bu Lidya lagi. Raline tetap menggeleng. Melihat gelengan kepala putrinya Bu Lidya menepuk kening putus asa.

"Astaga, kenapa kamu mendadak gagu begini?" Pak Adjie yang ikut putus asa menghempaskan pinggul di sofa.

"Lihat, anak perempuanmu, Lid. Bagaimana caramu mendidiknya sampai berperangai seperti ini?" Pak Adjie memijat-mijat keningnya.

"Raline bukan cuma anakku seorang, Mas. Aku tidak bisa hamil sendirian. Itu artinya mendidiknya juga bukan tugasku seorang. Mengenai perangainya, itu juga di luar kuasaku. Aku bukan Tuhan," desis Bu Lidya geram.

Raline diam seribu bahasa. Perdebatan kedua orang tuanya selalu tidak jauh-jauh dari kekurangannya. Raline sedih. Jujur kadang ia ingin sekali protes. Dirinya selama ini selalu menuruti keinginan kedua orang tuanya, walau terkadang keinginan mereka berdua bertentangan dengan hati nuraninya. Tetapi ia tetap menurut, agar kedua orang tuanya bahagia. Jikalau dalam menjalankan aksinya, ia gagal dan kedua orang tuanya kembali kecewa, itu bukan salahnya bukan? Manusia hanya bisa merencanakan, namun Tuhan yang punya kuasa. Begitulah kalau menurut tanggapan Lesty Kejora.

"Kalian berdua ini orang tua macam apa? Menghina dan mematahkan hati anak kalian sendiri, yang sesungguhnya kalian juga tahu semua itu bukan salahnya? Anak kalian toh tidak pernah minta dilahirkan?" Axel yang sebenarnya sudah berdiri cukup lama di koridor ruang keluarga, tidak tahan untuk tidak memaki kedua orang tua egois ini.

"Dengan baik-baik. Kalian berdua tidak fair jika kalian menyalahkan anak, atas segala ketidakpuasan kalian. Kalian itu punya pilihan untuk mau, atau tidak mau punya anak. Tetapi anak, mereka tidak punya pilihan. Mereka ada, karena kalian keenakan berhubungan."

Raline menatap Axel dengan mata berair. Untuk pertama kalinya ada orang yang mampu menyuarakan isi hatinya. Apa yang dikatakan oleh Axel sebenarnya sudah lama sekali ingin ia ungkapkan. Namun ia tidak sampai hati mengucapkannya.

Ia menyayangi kedua orang tuanya, bagaimanapun keadaan mereka. Ia tidak pernah membanding-bandingkan kedua orang tuanya yang selalu bertengkar dalam segala hal, dengan orang tua-orang tua teman-temannya yang harmonis. Ia memahami bahwa tiap-tiap keluarga mempunyai nilai plus dan minusnya sendiri.

Ia juga tidak pernah iri melihat orang tua-orang tua teman-temannya, selalu mendukung dan memuji anak-anak mereka, baik dikala anak-anak mereka menang ataupun kalah. Sementara kedua orangnya tidak pernah sekalipun memuji dirinya pada saat ia menang, apalagi kalah. Namun begitu, ia tidak benci apalagi menyesal mempunyai orang tua seperti orang tuanya. Ia mencintai keduanya tanpa syarat.

Pak Adjie dan Bu Lidya terdiam. Mereka berdua tidak bisa membantah kata-kata Axel, karena memang benar adanya. Mereka sadar, mereka memang salah. Tapi sebagai orang tua, wajar kalau mereka sesekali kesal karena anak mereka tidak seperti anak orang lain yang cerdas dan pintar.

"Saya telah menyelesaikan masalah hutang piutang kalian berdua dengan Pak Riswan. Saya pastikan, mulai hari ini dan seterusnya Pak Riswan tidak akan berani mengusik Anda lagi."

Entah mengapa Raline jadi kepingin bergoyang bebek mabuk, seperti yang diajarkan Lily di rumah sakit kemarin. Lily adalah rivalnya dalam meraih cinta Heru dulu sekaligus adik perempuan Axel. Entah mengapa Raline jadi akrab dengan Lily akhir-akhir ini. Lily itu sama somplaknya seperti dirinya. Bedanya Lily sedikit lebih cerdas darinya. Ingat ya, sedikit saja.

Lily mengajarkannya banyak hal. Salah satunya adalah ; Apabila kita sedang kesal, sedih, senang, kecewa ataupun bahagia, jogetin saja. Dengan begitu semua perasaan hati kita akan tersalurkan tanpa kita harus bunuh diri ataupun memamerkan masalah kita.

Perlahan, Raline meper-meper ke dapur. Setelah sedikit menjauh dari ruang keluarga, Raline menundukkan tubuh seksinya sambil menggoyangkan bokongnya ke kiri satu kali dan ke kanan dua kali. Ia terus berjoget berulang-ulang sampai dirinya puas.

Axel yang telah selesai bernegosiasi dengan kedua orang tua Raline dan berniat ke toilet, meringis melihat calon istrinya bergoyang heboh sendirian. Tidak adik, tidak istri, ternyata keduanya doyan berjoget dangdut campur sari. Hidupnya tidak jauh-jauh dari perempuan-perempuan istimewa sepertinya. Sebentar lagi ia akan bergabung dengan Christian dan Heru, dalam club para istri istimewa.

"Dikhawatirkan lantai dapur akan runtuh kalau kamu terus bergoyang heboh seperti itu."

Raline yang baru menggoyangkan bokong sekali ke kiri, seketika berdiri tegak. Mampus, ia ketahuan sedang joget bebek mabuk oleh Axel.

"Ah lo ngagetin aja kayak jaelangkung. Urusan lo dengan ortu gue udah kelar  belum?" Demi menutupi rasa malu, Raline pura-pura acuh. Axel mengangguk singkat.

"Cakep. Lo ngomong apa sih sama mereka?" Raline penasaran. Cepat sekali Axel meluluhkan hati kedua orang tuanya. Jangan-jangan Axel menodongkan senjata pada keduanya?

"Seperti yang lo pesan. Gue bilang kalo gue kaya."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED