Gemi pulang bekerja pada pukul dua siang, ia berjalan dengan lesu menuju rumahnya. Namun, entah mengapa ia merasa begitu sedih. Di tinggal oleh kakak dan keponakannya itu membuat Gemi benar-benar merasa sebatang kara. Tatapannya tak sengaja menemukan sebuah kursi di dekat pekarangan rumah Byan. Kursi putih hasil buatan Byan itu lumayan bagus. Ia tak menyangka jika tetangganya itu juga mahir menciptakan karya mabel.
Gemi melhat ke arah rumah Byan yang nampak sepi. Ia yang begitu ingin mencoba kursi itu pun berjalan ke pekarangan rumah Byan. Nuansa putih sepertinya tema dari rumah itu. Byan mendekor rumahnya dengan indah dan nyaman. Ada lonceng angin juga di gantung di pintu utama, membuat Gemi merasa damai mendengarnya.
Dengan hati-hati Gemi mendudukan tubuhnya di kursi kayu itu, ia merebahkan punggungnya seraya memandangi pantai. Gemi tak menyangka, jika di lihat dari tempatnya duduk, pantai itu akan terlihat sangat indah. Ia tak sabar menunggu untuk memandangi senja.
Tiba saatnya langit berubah senja, Gemi menengok ke kanan dan kiri memastikan kalau Byan belum pulang bekerja. Ia sangat ingin duduk di kursi kayu itu dan memandangi matahari terbenam. Gemi bergegas menuruni tangga dan berjalan ke pekarangan Byan.
Dengan senyum lebar, Gemi berhasil duduk di kursi Byan, dan memandangi langit yang berubah jingga. Suara ombak, juga pohon-pohon kelapa yang tenang, rasa rindu Gemi seketika terobati. Ia yang tengah bosan itu merasa menemukan ketenangannya.
"Uhuk!"
Gemi menoleh kaget, ia melihat Byan keluar dari rumahnya. Gemi pun beranjak dari duduknya dan mundur beberapa langkah.
"Maaf, aku melewati pagar rumahmu. Aku merasa di sini sangat indah untuk melihat matahari terbenam. Jadi...."
Byan tersenyum, dan mempersilahkan Gemi untuk bersantai di kursinya.
"Aku tidak pernah melarang siapapun untuk duduk di kursi ini, juga masuk ke halaman rumahku. Santai saja!" seru Byan.
Gemi pun merasa malu, dan memilih untuk kembali ke rumahnya.
"Kamu mau kemana? Di sini saja, sebentar lagi mataharinya akan tenggelam. Kita lihat sama-sama."
Gemi yang memang sangat ingin menyaksikan matahari terbenam pun, akhirnya duduk sesuai perintah Byan. Dengan canggung ia duduk di kursi sebelah Byan, dan memandangi pantai dengan ekspresi kaku.
"Namamu Gemintang? Cocok denganmu, seperti bintang," ucap Byan.
Gemi tersenyum kaku, ia merasa begitu canggung berduaan dengan pria tampan itu. Terlebih, Byan tiba-tiba memuji namanya.
Sedangkan Byan, sesekali memandangi wajah Gemi yang polos. "Mau teh hangat?" tanyanya memecah keheningan.
"Tidak, terima kasih."
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Byan lagi. Ia merasa sangat tertarik menggoda Gemi yang mendadak pendiam itu. Padahal sebelumnya, dengan jelas ia selalu melihat ekspresi judes ketika dirinya memutar musik rock. Dan ia tahu kalau Gemi merasa terganggu dengan kebisingannya itu.
"Hmm, sejak aku lulus SMA, aku datang bersama Kakakku," jawab Gemi.
Byan mengangguk mengerti, ia menatap ekspresi lembut di wajah perempuan itu. Ia cantik, pemalu cenderung tegas, bibirnya mungil dan merah seperti stroberi. Gadis cantik dan menarik yang ia temui di pesisir pantai. Seketika jantungnya berdebar-debar, entah mengapa ia merasa kalau Gemi telah mencuri hatinya.
***
Beberapa hari telah berlalu, kini Gemi sudah cukup akrab dengan Byan. Ia terlihat tengah menikmati teh bersama dengan lelaki arsitek itu.
"Dari mana kamu belajar membuat kue cokelat ini?" tanya Byan.
"Saat kami kecil, Ibuku selalu mengajari kami memasak. Dia bilang, kalau anak perempuan wajib bisa memasak."
Byan menatap Gemi dalam, rasanya perempuan itu memiliki banyak luka di hidupnya. Dan hal itu membuatnya ingin melindunginya.
"Besok lusa keluargaku akan datang, bagaimana kalau kamu membuat beberapa camilan? Tenang saja, aku bayar," tawar Byan.
Gemi tertawa remeh, lalu menyetujuinya.
"Aku menghargai mahal kue-kue buatanku," sahut Gemi bercanda.
"Tentu saja! Kue buatanmu sangat lezat. Tiada tandingannya!" seru Byan ikut tertawa.
Malam harinya, Gemi mengajak Byan berbelanja bahan-bahan membuat kue. Ia mengajak Byan ke sebuah toko di perkampungan. Malam yang dingin itu, tak begitu terasa untuk keduanya. Lantaran Byan maupun Gemi lebih banyak tertawa, dan tak memperdulikan angin laut yang akan membuat mereka sakit.
"Mau alkohol?" tawar Byan seraya menunjuk bir yang berjajar.
Gemi terdiam sesaat. Kemudian mengangguk. "Boleh juga," katanya.
Setelah berbelanja banyak, keduanya pulang dengan berboncengan sepeda. Byan mengencangkan jaketnya, menerobos dinginnya angin malam. Sedang, Gemi tengah menikmati sebatang es krim. Tangannya memeluk erat pinggang Byan, seraya menggoda lelaki itu.
"Kamu sungguh tidak mau mencobanya? Kamu bisa berolahraga lagi nanti, sekarang nikmati saja es krim cokelat ini," kata Gemi.
"Susah payah aku membesarkan ototku. Aku tidak mau kehilangan karismaku, hanya karena sepotong es ekrim."
Gemi mendengus kesal, ia pun memukul punggung Byan yang membelakanginya.
Sesampainya di rumah, Byan membantu Gemi membawa kantong belanjaan. Untuk pertama kalinya ia masuk ke rumah gadis itu. Byan melihat seekor kucing kecil di pojokan ruang tamu, dan sebuah foto keluarga yang terpajang dengan bingkai usang. Warna cokelat kayu mendominasi tema rumah itu, dan beberapa tanaman bunga di simpan di sudut ruangan.
"Aku hanya mengkoleksi bunga yang bisa tumbuh di dalam ruangan," sahut Gemi.
"Kenapa?" tanya Byan heran.
"Wanginya menenangkan, aku suka." Gemi tersenyum seraya menghirup bunga lily yang ia simpan di dapur.
Byan menatap, senyum Gemi langsung menular padanya. Ia praktis melangkah menghampiri gadis itu.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.
"Sebaiknya kamu duduk saja. Kamu akan mengacau jika membantu."
Byan kembali tertawa, rasanya ucapan Gemi benar. Ahlinya adalah membuat bangunan, bukan mengadon kue.
Selama Gemi mengadon bahan-bahan kue, Byan memperhatikannya dengan seksama. Ia duduk manis di meja makan, dan menatap lembut pada wajah gadis itu. Byan merasa tak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya. Sejak pertama melihat ekspresi judes Gemi, dan pandangan curiga saat ia berhasil menangkap ular, ia merasa Gemi adalah perempuan yang dapat memahami hatinya. Apalagi setelah berteman akrab dengannya, ia merasakan nyaman dan tenang. Seolah tak ada sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
"Gem, bagaimana kesan pertamamu saat melihatku?" tanyanya.
"Kamu?" Gemi mencoba mengingat saat Byan pertama kali memarkirkan mobilnya di samping rumahnya. Dan di setiap malam Byan selalu duduk di kursi putihnya. Ia nampak mempesona.
"Kamu tampan... Aku menyukainya, ups!" seru Gemi, seketika meralat ucapannya.
Byan senang mendengarnya, matanya berbinar. Namun, jantungnya bergedup kencang.
"Apa?" tanyanya meminta konfirmasi.
"Maksudku... Penampilanmu cukup asyik. Tidak seperti ...." Lidah Gemi tertahan, matanya membulat saat wajah Byan mendekati bibirnya.
Tangan pria itu meraih lengan Gemi, dan menahannya. "Aku menyukaimu," kata Byan mengakui.
Gemi mengedipkan matanya, mendengar pengakuan Byan yang tiba-tiba. "Apa?"
"Kesan pertamaku melihatmu adalah... Aku menyukaimu, sangat menyukaimu," kata Byan tegas.
Gemi dan Byan saling menatap, lelaki itu membawa tubuh Gemi bersandar pada meja. Ia meraih wajah mungil gadisnya itu, lalu mendekatkan hidungnya. Keduanya terpejam, merasakan hangatnya hembusan nafas di antara keduanya.
"Aku menyukaimu," lirih Byan sekali lagi, tenggorokannya bergerak naik turun saat bibirnya hendak menyentuh bibir Gemi.
Kejadiannya sangat cepat, dan tanpa terasa Byan sudah melumat bibir perempuan itu. Sedang Gemi, terlihat meremas pinggang baju Byan. Ia tersentak, namun menikmatinya.
Byan merenggut kuat bibir Gemi, seraya kedua tangannya memeluk tubuh perempuan itu. Lalu mengangkatnya ke atas meja.
Bersambung.
Byan menggendong tubuh Gemi ke kamar, ia menatap lekat mata indah perempuannya itu. Malam yang dingin itu seharusnya menjadi malam yang indah bagi mereka. Byan menjatuhkan tubuh Gemi dengan hati-hati, dan membelai lembut rambut gadis itu.
Byan menatap Gemi sekali lagi, memastikan kalau gadis itu menginginkannya juga. Maksudnya, untuk tidur bersamanya.
Gemi yang mengerti akan hal itu pun mengangguk mempersilahkan, ia beringsut meraih bantal. Lalu terpejam saat Byan melepaskan satu persatu pakaiannya. Untuk pertama kalinya Gemi melihat tubuh telanjang seorang pria. Meski malu, nampaknya ia harus melewati malam itu.
Malam itu, terjadi begitu saja. Gemi tak pernah menyangka, jika kesuciannya akan direnggut oleh pria yang baru ia kenal beberapa minggu. Bibir Byan yang terasa tebal, basah dan hangat, sejenak Gemi terbuai oleh gairahnya sendiri.
Gemi terbangun dengan tubuhnya yang tertutupi selimut. Ia duduk di kepala ranjang, dan menoleh ke sampingnya. Tidak ada Byan, hanya aroma tubuh laki-laki itu yang menempel di bantalnya. Gemi tersenyum malu, dan kembali melanjutkan tidurnya. Padahal jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi.
"Kue-ku?" Gemi seketika tersadar akan adonan kuenya yang ia tinggalkan semalam. Ia takut adonannya itu akan berubah bau dan terbuang.
Sambil melilitkan selimut ke tubuhnya, Gemi berjalan ke arah dapur. Dan betapa senangnya ia saat melihat keadaan dapurnya yang sudah bersih. Ia membuka kulkas, dan melihat adonan kuenya sudah diamankan di sana.
"Kamu sudah bangun?" sapa Byan, tiba-tiba memeluk Gemi dari belakang. Lelaki itu membenamkan hidungnya di rambut Gemi, lalu menghirupnya dalam-dalam.
"Kamu cantik," katanya. Dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu yang membereskan ini semua?" tanya Gemi.
"Tentu saja, siapa lagi?" Byan memutar tubuh kekasihnya itu, lalu berdiri menghadapnya.
"Aku senang mengenalmu, Gem," katanya.
Gemi tersipu malu, ia hanya menunduk, tidak berani menatap Byan.
Byan yang gemas lantaran sikap Gemi itu pun, bergegas menciumi kedua pundak Gemi yang terbuka.
"Ayo, buat kuenya lagi, tapi, sebelum itu kita mandi dulu," ujar Byan.
Gemi menatap terkejut, dan tanpa terasa Byan sudah mengangkat tubuhnya. "Ayo, bersihkan tubuhmu!" serunya.
Gemi berteriak geli saat Byan menggelitiki tubuhnya. Entah kenapa, hari itu Gemi maupun Byan merasa kalau mereka sudah sangat jatuh cinta.
"Taraaa...! Sudah jadi!" seru Gemi sambil mengangkat toples berisikan kue buatannya.
Byan berlari menghampiri Gemi di teras, ia lekas mencicipi kue buatan perempuan itu.
"Bagaimana?" tanya Gemi penasaran.
"Enak!"
Lalu Byan menarik Gemi untuk duduk di atas pangkuannya, sedang ia menyuapi Gemi dengan kue cokelat itu.
"Keluargamu jadi datang menemuimu?" tanya Gemi.
"Ya, aku akan mengenalkanmu pada mereka."
"Apa mereka akan senang melihatku? Ceritakan padaku seperti apa mereka," pinta Gemi.
"Mereka sangat ramah, tenang saja," ucap Byan menenangkan.
Bibir Gemi mengkerut, entah kenapa rasanya sangat mendebarkan hanya karena akan bertemu keluarga Byan.
Setelah semakin dekat, Byan memutuskan untuk tidur di rumah Gemi. Bahkan Byan membawa beberapa perlengkapannya ke rumah Gemi.
Keduanya pun tidak malu-malu lagi melakukan hubungan suami istri itu. Gemi bahkan membalas ciuman Byan dengan mesra, tak seperti sebelumnya yang masih malu-malu. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Di tengah redupnya lampu kamar, Byan dan Gemi saling membelai mesra, memeluk dan mencium penuh gairah.
Keesokan harinya, Byan mengantar Gemi pergi bekerja. Ia mengingatkan kekasihnya itu untuk pulang lebih awal, untuk menyambut kedatangan keluarganya.
"Baik, sayang," ucap Gemi seraya mencium Byan. Namun, Byan justru menarik tubuh Gemi, dan melumat bibir itu dengan kasar.
Gemi mengerutkan keningnya, dan menatap lelakinya itu. Ia merasa gairah Byan benar-benar menarik.
Setelah mengantar kekasihnya, Byan kembali menuju rumahnya. Ia membawa kue-kue buatan Gemi itu dan menyusunnya rapih ke atas meja. Lalu menyiapkan kamar yang akan di gunakan keluarganya nanti.
Tiba-tiba dering handphone membuat Byan menghentikan gerakannya. Ia meraih ponsel di atas nakas, dan membaca nama panggilan yang masuk. Seketika wajahnya berubah, Byan menegaskan rahangnya.
"Hallo?" ucap Byan pelan.
"Byan? Aku tidak mendengar kabarmu semenjak hari itu. Apa kamu begitu sibuk?" tanya wanita di ujung telepon.
Byan menghela napas panjang, lalu ia menurunkan pandangannya. "Ya, maafkan aku. Aku sangat sibuk sekarang. Ada apa?"
Perempuan itu lama diam, hingga akhirnya menjawab, "Aku merindukanmu, Byan."
Byan menelan salivanya, ia menyentuh dagunya yang berbulu. Namun, lidahnya terasa kelu, tak mampu menjawab pengakuan perempuan itu.
Tut.... Sambungan terputus. Wanita itu mengakhiri panggilannya.
Byan menatap lama nama April di layar ponselnya itu. Sudah lama sekali sejak ia tidak mengabari kekasihnya itu. April pasti sangat merindukannya, tapi entah kenapa perasaannya kepada kekasihnya itu kian memudar. Ia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada April, dan perasaannya kini beralih pada Gemintang.
Byan terduduk lemas. Sejak bertemu Gemi, ia bahkan dengan mudah melupakan April, yang tak lain adalah kekasihnya. Byan merasakan perang batin dalam dirinya, ia berpikir tak seharusnya ia melakukan sampai sejauh itu. Ia tidak ingin menyakiti siapapun, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin mencintai Gemi.
Lalu bagaimana dengan April? Mereka berpacaran sudah lebih dari lima tahun. Orang tua mereka pun sudah sangat dekat, mustahil untuk mengakhiri hubungan dengan tiba-tiba seperti itu.
Siang harinya Byan tengah membuat sebuah ayunan di pekarangan rumahnya. Ayunan dengan rantai tali besi itu, nampaknya ia buat juga untuk bisa dinaiki Gemi. Perempuannya itu pasti sangat senang, dengan karya barunya itu.
Tiba-tiba sebuah kapal bersandar di dermaga. Byan menyipitkan matanya, dan memperhatikan para penumpang yang baru saja turun dari kapal itu. Senyum mengembang di wajahnya saat mendapati kalau keluarganya telah tiba.
"Hai!" teriaknya.
"Byan!" sahut keluarga Byan bersamaan.
Byan menatap jam di tangannya, keluarganya itu datang lebih awal dari perkiraan.
"Om Byan!" teriak bocah kecil yang berlari memeluk Byan. Orang-orang di belakang bocah itu tersenyum gembira melihatnya.
"Hei! Apa kabar!" seru seorang pria yang wajahnya cukup mirip dengan Byan.
"Seperti inilah, sangat damai!" Byan membentangkan kedua tangannya, memamerkan pekarangan rumahnya yang terlihat asri.
"Wow! Di sini tenang sekali! Mama suka!" sahut wanita paruh baya yang memakai topi bundar dan kacamata hitam.
"Apa sebaiknya kita pindah saja ke sini? Byan pasti kesepian tinggal di sini. Lihatlah, dia hanya memiliki satu tetangga!" ucap Papa memperhatikan lingkungan tempat tinggal Byan.
"Aku baik-baik saja, Pah." Byan memeluk tubuh gempal Papanya itu.
Setelah itu, ia bergegas mengajak keluarganya untuk istirahat. Tak lama kemudian, Byan berjalan keluar menunggu Gemi pulang bekerja. Namun, setelah itu, nampak Gemi melambaikan tangannya. Kekasihnya itu baru saja pulang bekerja. Byan memandangi kekasihnya yang terlihat sangat cantik, dengan hembusan angin meniup rambut panjangnya.
Byan berlari menghampirinya. Kemudian lekas memeluk Gemi. "Keluargaku sudah datang," katanya, seraya mengusap rambut Gemi.
"Benarkah? Mengapa jantungku berdetak sangat cepat? Aku gugup!"
Byan lekas menghilangkan kegugupan Gemi dengan menciumnya lembut. Ia menekan belakang kepala Gemi untuk lebih dekat dengannya. Tanpa di sadari, kakak laki-laki Byan memperhatikan mereka. Kakak laki-laki Byan itu menggelengkan kepalanya, "Dasar playboyl!" keluhnya.
Setelah mengganti pakaian, Byan membawa Gemi untuk berkenalan dengan keluarganya. Sedang Kakak laki-laki Byan itu menatap adiknya dengan pandangan meledek. Mengira kalau adiknya itu sangat playboy. Karena ia tahu, Byan sudah memiliki seorang kekasih.
"Hei! Apa kamu sudah putus dengan April?" bisik Dirga.
Byan nampak pucat, dan tak mampu menjawab pertanyaan kakaknya. Tak hanya Dirga yang menatapnya aneh, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mama dan Papa Byan nampak bingung melihat putranya itu memiliki wanita baru. Namun, ia mengira hubungan Byan dan April yang barang kali sudah kandas.
"Hallo, Gemintang. Kamu tinggal di sini juga?" tanya Mama.
"Ya, bersebelahan dengan rumah Byan." Gemi menjawab dengan ramah.
Setelah cukup berkenalan dengan keluarganya. Byan meminta kedua orang tuanya, dan juga Dirga untuk bersikap baik pada Gemi. Ia juga tidak ingin jika mereka sampai membahas tentang April kepada Gemi.
"Hubunganku dengan April sebenarnya sudah selesai sejak lama, tapi sebelum aku berangkat ke desa ini ... April menemuiku, dan mengatakan kalau ingin memperbaiki hubungannya denganku," ucap Byan pada kakaknya. Ia tidak mau jika keluarganya itu salah paham, dan memandang Gemi sebagai orang ketiga.
"Aku mengerti, Byan. Namun, saranku adalah, jangan sampai keputusanmu menyakiti keduanya nanti."
Byan mengangguk paham.
Hari berganti malam, nampaknya Gemi sudah akrab dengan keluarga Byan, termasuk bocah kecil anak laki-laki Dirga. Ia juga dengan ramah mengajak orang tua Byan bermain kartu, dan memanggang daging untuk mereka.
"Kue cokelat ini enak sekali, kamu ternyata pintar membuat kue," puji Mama Byan.
Gemi tersipu malu. Dengan salah tingkah Gemi menyenggol lengan Byan yang ada di sisinya.
"Awalnya dia memang terlihat seperti ini, tapi lama-lama dia akan bersikap memalukan," kata Byan meledek.
"Ish!" keluh Gemi yang lagi-lagi menyenggol lengan Byan.
"Besok kami akan pulang lagi, Dirga dan Papamu sudah mulai bekerja. Lain kali kami akan mengunjungimu lebih lama," ujar Mama.
Byan menatap Gemi, lalu memeluknya. "Aku baik-baik saja di sini. Dia akan merawatku dengan baik. Kalian tidak perlu khawatir," ucapnya.
Papa tertawa kencang melihat kebahagiaan putranya itu. Apapun yang terjadi dengan hubungan asmara Byan, mereka berharap Byan bisa memilih pilihannya dengan bijak.
Malam harinya, Gemi kesepian karena Byan tidak bisa menginap di rumahnya. Ia juga tidak enak, jika orang tua Byan memergoki kalau mereka tinggal bersama.
[Byantara : kamu baik-baik saja tidur sendiri? Aku ingin sekali memelukmu.]
Gemi membaca pesan singkat dari Byan, ia tersenyum seraya membalas pesan itu.
"Aku tidak baik-baik saja, rasanya aneh," balas Gemi.
Byan memperhatikan kakak dan keponakannya yang sudah tidur, dengan mengendap-endap Byan keluar dari kamar itu.
Sedangkan Gemi, terlihat tengah menunggu balasan pesan dari Byan.
"Kemana dia? Apa sudah tidur?" keluhnya kesal.
Tok... Tok... Tok...
Gemi menoleh mendengar suara ketukan pintu. Ia menerka-nerka siapa tamu yang mengunjunginya saat pukul satu malam.
[Byantara : Ini aku, buka pintunya!]
Gemi langsung tersenyum lebar. Lalu berlari membukakan pintu.
Lelaki tinggi itu muncul sesaat Gemi menarik pintu, dan dengan cepat ia meraih tubuh Gemi ke dalam pelukannya. Dan mendorongnya ikut masuk ke dalam.
Pintu pun terbanting, dan ponsel yang tengah di pegang keduanya pun terjatuh.
Bersambung.