PROLOG.
Gemi tak pernah menyakitiku, hanya saja aku yang terlalu berperasaan pada perempuanku. Aku mencintainya setulus jiwa, bahkan saat terakhir kali kita bertemu di tanah yang memisahkan kami. Aku sungguh mencintainya, meskipun Gemi berusaha menyingkirkannya. Hari-hariku bersama Gemi, akan selalu menjadi kenangan dan cerita untuk aku simpan seumur hidupku.
Untuk Gemi yang aku rindukan, dan untuk kenangan yang selalu teringat.
Kalimat mengharukan itu baru saja di bacakan oleh seorang pria yang tengah berpidato di sebuah makam. Makam yang di kelilingi pohon cemara. Juga makam yang di hadiri banyaknya pelayat.
Kemudian adegan beralih saat empat puluh tahun lalu. Saat Byan untuk pertama kalinya bertemu dengan Gemi. Saat cinta pada pandangan pertama mengubah jalan hidup keduanya.
***
Suatu hari di desa nelayan, seorang pria muda baru saja turun dari mobilnya. Ia menggotong koper besarnya menuju rumah kayu yang tak jauh dari pantai. Pria itu memandangi suasana senja di desa nelayan itu, dan mendengarkan nyanyian ombak yang menyambut kedatangannya. Pria itu tersenyum lebar seraya menarik nafas dalam-dalam, nampaknya pria itu akan tinggal di desa tersebut.
Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang gadis yang sedang membuat kue cokelat. Gadis berambut lurus itu nampak fokus membentuk karakter kartun di atas cokelat yang sudah masak itu. Gadis dengan mata indah itu sepertinya begitu asyik melakukan hobinya. Ia mendengarkan musik karya Mozart di temani kucing kesayangannya.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil, dan gadis itu langsung mengintip dari jendela dapur. Ia melihat seorang pria berpakaian kasual baru saja pindah ke rumah di sampingnya.
Tetangga baru.
Kurang lebih seperti itulah arti tatapan Gemintang. Ia menyandarkan sikunya, sembari memperhatikan tetangga barunya itu.
Penampilan lelaki itu terlihat nakal, dengan rambut gondrong dan pakaian yang nampak memberontak. Juga lelaki itu membawa sebuah gitar, dan peralatan berkemah. Gemintang menilai kalau pria ini akan selalu membuat kebisingan di lingkungannya.
Malam harinya, Gemi keluar rumah seraya membawa beberapa bungkusan. Ia menuruni rumah kayunya itu, dan melihat tetangga barunya itu tengah merokok di dekat speed boat. Gemi menoleh ke sekelilingnya, memperhatikan bahwa tak ada siapapun selain pria itu di lingkungan itu.
Gemintang mencoba mengabaikannya, tapi pria itu berbalik menatapnya. Ia menurunkan batang rokoknya, dan menunduk menyapa Gemi. Pria itu tersenyum ramah, dan dengan praktis Gemi ikut tersenyum.
Gemi melenggang pergi setelah membalas sapaan tetangga barunya yang bergaya kekotaan itu. Dan berjalan mengunjungi sebuah rumah.
“Selamat malam!” serunya.
Dua orang anak kecil langsung berlari menghampiri Gemi. Di tengah redupnya desa pesisir pantai, dan suara ombak yang bernyanyi setiap saat, Gemi dan kedua bocah itu duduk di atas pasir beralaskan tikar.
“Tante! Minggu depan kami akan pindah,” ucap salah satu bocah.
“Pindah? Ke mana?” tanya Gemi terkejut.
“Ke kota, ayah bilang kita akan pindah.”
Gemi menoleh ke arah kedua orang tua anak itu, dan Ibu muda itu hanya tersenyum tipis. Gemi beranjak dari duduknya, lalu berjalan menghampiri.
“Apa benar, Kakak akan pindah? Kenapa aku tidak diberi tahu?” protes Gemi.
Rupanya Ibu muda itu adalah kakak Gemi, dan sudah lama Gemi mengikuti kakaknya yang tinggal di desa nelayan. Karena kedua orang tua Gemi telah tiada, jadi gadis itu selalu ingin mengikuti kakaknya kemana pun.
“Gem ... Ayahnya anak-anak tidak mendapat pekerjaan yang begitu bagus. Namun, dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Jadi, dia akan berusaha menafkahi kami. Sayangnya, kami tidak bisa membawamu.”
Gemi mendengarkan dengan sakit hati. Kakaknya itu enggan membawanya pindah, apa Kakaknya itu menganggap Gemi adalah beban hidup?
“Bukan seperti yang kamu pikirkan, Gem. Kamu sudah mendapat pekerjaan bagus di sini. Toh, kamu juga bisa sering mengunjungi si kembar kalau kamu mau. Jika ikut dengan kami, kakak takut tidak bisa membiayai kebutuhan keluarga,” lanjutnya.
“Baiklah, aku mengerti. Umurku sudah dua puluh lima tahun, Kak. Aku bisa hidup mandiri, tapi aku mohon pada kakak. Kabari aku apapun yang terjadi,” kata Gemi.
Kakak Gemi pun mengangguk, dan lekas memeluk adiknya itu.
Tiga hari sudah berlalu, Gemi yang sedih akan di tinggal keponakan dan kakaknya itu hanya bisa melamun di teras rumahnya. Sepanjang hari yang ia lakukan hanya bekerja, memasak, bermain dengan kucingnya, lalu melamun. Tak ada sesuatu yang spesial yang benar-benar membuatnya sibuk. Ia merasa bosan, dan rasa menyebalkan itu kian bertambah saat mendengar kebisingan dari rumah di sampingnya. Tetangga barunya itu tengah membuat sesuatu dengan kayu-kayu dan perkakas, dan bisingnya musik rock, menambah parah keributan di kepalanya. Gemi menyipitkan tatapan matanya, dan menggigit kuku-kuku jarinya. Rasanya ia ingin menegur pria urakan itu.
“Hallo!” sapa pria itu saat melihat Gemi tengah memperhatikannya.
Gemi tersadar mendengar suara serak lelaki itu, ia menegakkan punggungnya, dan tersenyum ramah. “Hallo,” balasnya
Dengan senyum bodoh, Gemi beranjak dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Ia tidak tahu kalau rasanya begitu memalukan jika tidak berani mengungkapkan kemarahannya.
Hari berikutnya, masih seperti sebelumnya. Saat sore hari Gemi duduk di teras, dan memperhatikan keributan yang tengah di perbuat tetangga barunya. Pria itu nampaknya sedang membuat kursi, dan dengan penampilannya yang maskulin. Gemi merasa kalau pria ini ‘cukup tampan’.
Rambutnya yang gondrong, rahangnya yang terukir tegas, kulit sawo matang, otot yang terlatih, dan tinggi badan yang ideal. Gemi seketika merasa kalau pria itu benar-benar tipe laki-laki Ibu Kota. Keren, cenderung nakal.
Gemi masih memperhatikan laki-laki itu, musik rock yang kencang membuat laki-laki itu menari dan menggoyangkan kepalanya. Laki-laki itu nampak bebas, dengan segala tarian yang melambangkan kebebasan hidup.
Malam harinya, Gemi membuat camilan untuk ponakan kembarnya. Dengan rok panjang, dan sweater rajut, Gemi berjalan menuju rumah kakaknya.
“Selamat malam!”
Tetangga Gemi itu entah datang dari mana, dia tiba-tiba muncul dari bawah rumah Gemi..
“Selamat malam, sedang apa kamu di kolong rumahku?” tanya Gemi curiga.
“Ini,” ucap pria itu sembari mengangkat seekor ular.
Gemi praktis mundur dan berteriak. Ia begitu terkejut melihat ukuran ular yang berada di tangan pria asing itu.
“Ularnya sudah aku bunuh, tadi dia nyaris masuk ke lubang pipa,” jelas pria itu.
“Astaga. Bagaimana bisa kamu tahu kalau ada ular di bawah rumahku?”
Gemi masih menaruh curiga pada tetangga barunya itu. Bisa saja ular itu memang sudah mati, tapi pria itu membuat alasan untuk melakukan tindak kriminal nantinya.
“Tadi aku sedang mencari angin segar, lalu aku melihat ular itu masuk ke kolong rumahmu. Jadi, aku berusaha menangkapnya, tanpa ingin membuatmu khawatir,” tuturnya. Melihat gadis di depannya itu malah curiga kepadanya, pria itu pun merasa menyesal sudah berbuat baik.
Gemi bergidik ngeri melihat ular besar berada di tangan pria itu, ia praktis mundur sembari menatap aneh padanya. Gemi menunduk pelan, dan berlalu meninggalkan pria itu tanpa mengucapkan terima kasih.
Pria itu pun tertawa remeh, ia tidak menyangka kalau gadis itu sangat dingin dan curigaan. Ia sudah bersusah payah menghadapi maut melawan ular itu, tapi gadis jutek itu malah mencurigainya. “Menarik sekali,” ucapnya tersenyum nakal.
Gemi yang sudah berada di rumah kakaknya itu lekas bercerita tentang tetangga barunya yang menyebalkan. Ia mengatakan kalau pria itu sedikit misterius, dengan banyaknya perkakas di rumahnya.
“Golok, gergaji, martil, dan apapun itu nama perkakasnya, dia memilikinya! Lalu dia membunuh ular itu dengan golok tajam! Belum lagi dia selalu memutar musik rock yang sangat berisik, aku tidak bisa tidur!” keluh Gemi.
Kakaknya ikut merasakan ketakutan Gemi. Namun, ia menasihati adiknya itu untuk mencoba dekat dengan pria itu. Kakaknya memasukan sebuah pepatah, “Tak kenal, maka tak sayang.”
Ia meminta Gemi untuk berteman dengan pria itu, alih-alih mencurigainya terus.
“Kamu bisa menyelidikinya, Gem. Barang kali pekerjaan dia memang menyangkut dengan perkakas-perkakas itu. Contohnya, pengrajin? Atau tukang kayu?”
Gemi mendengus mendengarnya. Ia yang tengah panik karena mengira lelaki itu adalah psikopat, justru di suruh berteman dengannya. Gemi takut jika nantinya pria itu akan menyusup malam-malam ke dalam rumahnya.
Gemi hanya menggelengkan kepala, pertanda menolak saran dari kakaknya.
Satu minggu kemudian, kakak Gemi yang bernama Binar itu mengunjungi rumah adiknya untuk yang terakhir kalinya. Binar tahu jika Gemi sedih karena akan di tinggal oleh keluarga kecilnya. Di belakang Binar terdapat dua bocah yang sengaja Binar ajak untuk menghibur Gemi. Di saat dua bocah kembar itu masuk ke rumah Gemi, Binar melirik ke arah rumah tetangga baru yang di ceritakan Gemi. Lelaki itu duduk di sana, tanpa mengenakan atasan, alias bertelanjang dada. Lelaki yang sedang mengrajin kayu itu menoleh ke arah Binar, ia tersenyum menyapa.
Di lihat dari penampilannya, lelaki itu memang nampak seperti seorang pembunuh bayaran. Namun, Binar tak ingin berburuk sangka dulu. Ia memilih menghampiri lelaki itu, memastikan kalau adiknya tidak sedang dalam bahaya.
“Hallo, selamat pagi!” sapa Binar.
Lelaki itu beranjak, dan membalas sapaan Binar.
“Aku Binar, kakaknya Gemi. Sepertinya kamu baru pindah ke desa ini.”
Gemi? Siapa Gemi?
Lelaki itu menoleh ke arah rumah tetangganya. Di sana terdapat Gemi dan dua bocah kecil yang sedang memperhatikan dari teras rumah.
“Sepertinya kalian belum berkenalan. Dia adikku, namanya Gemintang,” ujar Binar, saat menyadari kalau pria itu tak mengenal nama Gemi.
“Oh, ya. Akhirnya aku tahu nama gadis itu. Terima kasih. Namaku Byantara, panggil saja Byan,” balas pria itu seraya mengulurkan tangannya. Kemudian pandangannya menyipit menatap Gemi di kejauhan.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Binar langsung ke intinya. Ia tidak ingin berlama-lama, dan harus memastikan pekerjaan pria di hadapannya itu.
“Aku arsitek, aku pindah ke daerah sini karena ada proyek yang akan aku kerjakan di desa ini,” jelas Byan. Membuat Binar menunduk malu, senyumnya membeku karena mengira lelaki itu memiliki pekerjaan menyeramkan seperti yang dibayangkan Gemi.
“Oh, begitu ... Baiklah, salam kenal. Semoga kamu betah di desa ini, jika perlu bantuan, katakan saja pada adikku. Mungkin dia bisa membantu.”
Byan tersenyum ramah, ia berterima kasih pada wanita itu. Ia merasa kalau sikap Binar sangat jauh berbeda dengan Gemi. Kemudian tatapannya kembali ke arah Gemi, membuat mata mereka saling bertemu.
Untuk pertama kali, Byan merasa jantungnya berdetak kencang.
Bersambung.
Gemi pulang bekerja pada pukul dua siang, ia berjalan dengan lesu menuju rumahnya. Namun, entah mengapa ia merasa begitu sedih. Di tinggal oleh kakak dan keponakannya itu membuat Gemi benar-benar merasa sebatang kara. Tatapannya tak sengaja menemukan sebuah kursi di dekat pekarangan rumah Byan. Kursi putih hasil buatan Byan itu lumayan bagus. Ia tak menyangka jika tetangganya itu juga mahir menciptakan karya mabel.
Gemi melhat ke arah rumah Byan yang nampak sepi. Ia yang begitu ingin mencoba kursi itu pun berjalan ke pekarangan rumah Byan. Nuansa putih sepertinya tema dari rumah itu. Byan mendekor rumahnya dengan indah dan nyaman. Ada lonceng angin juga di gantung di pintu utama, membuat Gemi merasa damai mendengarnya.
Dengan hati-hati Gemi mendudukan tubuhnya di kursi kayu itu, ia merebahkan punggungnya seraya memandangi pantai. Gemi tak menyangka, jika di lihat dari tempatnya duduk, pantai itu akan terlihat sangat indah. Ia tak sabar menunggu untuk memandangi senja.
Tiba saatnya langit berubah senja, Gemi menengok ke kanan dan kiri memastikan kalau Byan belum pulang bekerja. Ia sangat ingin duduk di kursi kayu itu dan memandangi matahari terbenam. Gemi bergegas menuruni tangga dan berjalan ke pekarangan Byan.
Dengan senyum lebar, Gemi berhasil duduk di kursi Byan, dan memandangi langit yang berubah jingga. Suara ombak, juga pohon-pohon kelapa yang tenang, rasa rindu Gemi seketika terobati. Ia yang tengah bosan itu merasa menemukan ketenangannya.
"Uhuk!"
Gemi menoleh kaget, ia melihat Byan keluar dari rumahnya. Gemi pun beranjak dari duduknya dan mundur beberapa langkah.
"Maaf, aku melewati pagar rumahmu. Aku merasa di sini sangat indah untuk melihat matahari terbenam. Jadi...."
Byan tersenyum, dan mempersilahkan Gemi untuk bersantai di kursinya.
"Aku tidak pernah melarang siapapun untuk duduk di kursi ini, juga masuk ke halaman rumahku. Santai saja!" seru Byan.
Gemi pun merasa malu, dan memilih untuk kembali ke rumahnya.
"Kamu mau kemana? Di sini saja, sebentar lagi mataharinya akan tenggelam. Kita lihat sama-sama."
Gemi yang memang sangat ingin menyaksikan matahari terbenam pun, akhirnya duduk sesuai perintah Byan. Dengan canggung ia duduk di kursi sebelah Byan, dan memandangi pantai dengan ekspresi kaku.
"Namamu Gemintang? Cocok denganmu, seperti bintang," ucap Byan.
Gemi tersenyum kaku, ia merasa begitu canggung berduaan dengan pria tampan itu. Terlebih, Byan tiba-tiba memuji namanya.
Sedangkan Byan, sesekali memandangi wajah Gemi yang polos. "Mau teh hangat?" tanyanya memecah keheningan.
"Tidak, terima kasih."
"Kamu sudah lama tinggal di sini?" tanya Byan lagi. Ia merasa sangat tertarik menggoda Gemi yang mendadak pendiam itu. Padahal sebelumnya, dengan jelas ia selalu melihat ekspresi judes ketika dirinya memutar musik rock. Dan ia tahu kalau Gemi merasa terganggu dengan kebisingannya itu.
"Hmm, sejak aku lulus SMA, aku datang bersama Kakakku," jawab Gemi.
Byan mengangguk mengerti, ia menatap ekspresi lembut di wajah perempuan itu. Ia cantik, pemalu cenderung tegas, bibirnya mungil dan merah seperti stroberi. Gadis cantik dan menarik yang ia temui di pesisir pantai. Seketika jantungnya berdebar-debar, entah mengapa ia merasa kalau Gemi telah mencuri hatinya.
***
Beberapa hari telah berlalu, kini Gemi sudah cukup akrab dengan Byan. Ia terlihat tengah menikmati teh bersama dengan lelaki arsitek itu.
"Dari mana kamu belajar membuat kue cokelat ini?" tanya Byan.
"Saat kami kecil, Ibuku selalu mengajari kami memasak. Dia bilang, kalau anak perempuan wajib bisa memasak."
Byan menatap Gemi dalam, rasanya perempuan itu memiliki banyak luka di hidupnya. Dan hal itu membuatnya ingin melindunginya.
"Besok lusa keluargaku akan datang, bagaimana kalau kamu membuat beberapa camilan? Tenang saja, aku bayar," tawar Byan.
Gemi tertawa remeh, lalu menyetujuinya.
"Aku menghargai mahal kue-kue buatanku," sahut Gemi bercanda.
"Tentu saja! Kue buatanmu sangat lezat. Tiada tandingannya!" seru Byan ikut tertawa.
Malam harinya, Gemi mengajak Byan berbelanja bahan-bahan membuat kue. Ia mengajak Byan ke sebuah toko di perkampungan. Malam yang dingin itu, tak begitu terasa untuk keduanya. Lantaran Byan maupun Gemi lebih banyak tertawa, dan tak memperdulikan angin laut yang akan membuat mereka sakit.
"Mau alkohol?" tawar Byan seraya menunjuk bir yang berjajar.
Gemi terdiam sesaat. Kemudian mengangguk. "Boleh juga," katanya.
Setelah berbelanja banyak, keduanya pulang dengan berboncengan sepeda. Byan mengencangkan jaketnya, menerobos dinginnya angin malam. Sedang, Gemi tengah menikmati sebatang es krim. Tangannya memeluk erat pinggang Byan, seraya menggoda lelaki itu.
"Kamu sungguh tidak mau mencobanya? Kamu bisa berolahraga lagi nanti, sekarang nikmati saja es krim cokelat ini," kata Gemi.
"Susah payah aku membesarkan ototku. Aku tidak mau kehilangan karismaku, hanya karena sepotong es ekrim."
Gemi mendengus kesal, ia pun memukul punggung Byan yang membelakanginya.
Sesampainya di rumah, Byan membantu Gemi membawa kantong belanjaan. Untuk pertama kalinya ia masuk ke rumah gadis itu. Byan melihat seekor kucing kecil di pojokan ruang tamu, dan sebuah foto keluarga yang terpajang dengan bingkai usang. Warna cokelat kayu mendominasi tema rumah itu, dan beberapa tanaman bunga di simpan di sudut ruangan.
"Aku hanya mengkoleksi bunga yang bisa tumbuh di dalam ruangan," sahut Gemi.
"Kenapa?" tanya Byan heran.
"Wanginya menenangkan, aku suka." Gemi tersenyum seraya menghirup bunga lily yang ia simpan di dapur.
Byan menatap, senyum Gemi langsung menular padanya. Ia praktis melangkah menghampiri gadis itu.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.
"Sebaiknya kamu duduk saja. Kamu akan mengacau jika membantu."
Byan kembali tertawa, rasanya ucapan Gemi benar. Ahlinya adalah membuat bangunan, bukan mengadon kue.
Selama Gemi mengadon bahan-bahan kue, Byan memperhatikannya dengan seksama. Ia duduk manis di meja makan, dan menatap lembut pada wajah gadis itu. Byan merasa tak pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya. Sejak pertama melihat ekspresi judes Gemi, dan pandangan curiga saat ia berhasil menangkap ular, ia merasa Gemi adalah perempuan yang dapat memahami hatinya. Apalagi setelah berteman akrab dengannya, ia merasakan nyaman dan tenang. Seolah tak ada sesuatu yang perlu ia khawatirkan.
"Gem, bagaimana kesan pertamamu saat melihatku?" tanyanya.
"Kamu?" Gemi mencoba mengingat saat Byan pertama kali memarkirkan mobilnya di samping rumahnya. Dan di setiap malam Byan selalu duduk di kursi putihnya. Ia nampak mempesona.
"Kamu tampan... Aku menyukainya, ups!" seru Gemi, seketika meralat ucapannya.
Byan senang mendengarnya, matanya berbinar. Namun, jantungnya bergedup kencang.
"Apa?" tanyanya meminta konfirmasi.
"Maksudku... Penampilanmu cukup asyik. Tidak seperti ...." Lidah Gemi tertahan, matanya membulat saat wajah Byan mendekati bibirnya.
Tangan pria itu meraih lengan Gemi, dan menahannya. "Aku menyukaimu," kata Byan mengakui.
Gemi mengedipkan matanya, mendengar pengakuan Byan yang tiba-tiba. "Apa?"
"Kesan pertamaku melihatmu adalah... Aku menyukaimu, sangat menyukaimu," kata Byan tegas.
Gemi dan Byan saling menatap, lelaki itu membawa tubuh Gemi bersandar pada meja. Ia meraih wajah mungil gadisnya itu, lalu mendekatkan hidungnya. Keduanya terpejam, merasakan hangatnya hembusan nafas di antara keduanya.
"Aku menyukaimu," lirih Byan sekali lagi, tenggorokannya bergerak naik turun saat bibirnya hendak menyentuh bibir Gemi.
Kejadiannya sangat cepat, dan tanpa terasa Byan sudah melumat bibir perempuan itu. Sedang Gemi, terlihat meremas pinggang baju Byan. Ia tersentak, namun menikmatinya.
Byan merenggut kuat bibir Gemi, seraya kedua tangannya memeluk tubuh perempuan itu. Lalu mengangkatnya ke atas meja.
Bersambung.
Byan menggendong tubuh Gemi ke kamar, ia menatap lekat mata indah perempuannya itu. Malam yang dingin itu seharusnya menjadi malam yang indah bagi mereka. Byan menjatuhkan tubuh Gemi dengan hati-hati, dan membelai lembut rambut gadis itu.
Byan menatap Gemi sekali lagi, memastikan kalau gadis itu menginginkannya juga. Maksudnya, untuk tidur bersamanya.
Gemi yang mengerti akan hal itu pun mengangguk mempersilahkan, ia beringsut meraih bantal. Lalu terpejam saat Byan melepaskan satu persatu pakaiannya. Untuk pertama kalinya Gemi melihat tubuh telanjang seorang pria. Meski malu, nampaknya ia harus melewati malam itu.
Malam itu, terjadi begitu saja. Gemi tak pernah menyangka, jika kesuciannya akan direnggut oleh pria yang baru ia kenal beberapa minggu. Bibir Byan yang terasa tebal, basah dan hangat, sejenak Gemi terbuai oleh gairahnya sendiri.
Gemi terbangun dengan tubuhnya yang tertutupi selimut. Ia duduk di kepala ranjang, dan menoleh ke sampingnya. Tidak ada Byan, hanya aroma tubuh laki-laki itu yang menempel di bantalnya. Gemi tersenyum malu, dan kembali melanjutkan tidurnya. Padahal jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi.
"Kue-ku?" Gemi seketika tersadar akan adonan kuenya yang ia tinggalkan semalam. Ia takut adonannya itu akan berubah bau dan terbuang.
Sambil melilitkan selimut ke tubuhnya, Gemi berjalan ke arah dapur. Dan betapa senangnya ia saat melihat keadaan dapurnya yang sudah bersih. Ia membuka kulkas, dan melihat adonan kuenya sudah diamankan di sana.
"Kamu sudah bangun?" sapa Byan, tiba-tiba memeluk Gemi dari belakang. Lelaki itu membenamkan hidungnya di rambut Gemi, lalu menghirupnya dalam-dalam.
"Kamu cantik," katanya. Dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu yang membereskan ini semua?" tanya Gemi.
"Tentu saja, siapa lagi?" Byan memutar tubuh kekasihnya itu, lalu berdiri menghadapnya.
"Aku senang mengenalmu, Gem," katanya.
Gemi tersipu malu, ia hanya menunduk, tidak berani menatap Byan.
Byan yang gemas lantaran sikap Gemi itu pun, bergegas menciumi kedua pundak Gemi yang terbuka.
"Ayo, buat kuenya lagi, tapi, sebelum itu kita mandi dulu," ujar Byan.
Gemi menatap terkejut, dan tanpa terasa Byan sudah mengangkat tubuhnya. "Ayo, bersihkan tubuhmu!" serunya.
Gemi berteriak geli saat Byan menggelitiki tubuhnya. Entah kenapa, hari itu Gemi maupun Byan merasa kalau mereka sudah sangat jatuh cinta.
"Taraaa...! Sudah jadi!" seru Gemi sambil mengangkat toples berisikan kue buatannya.
Byan berlari menghampiri Gemi di teras, ia lekas mencicipi kue buatan perempuan itu.
"Bagaimana?" tanya Gemi penasaran.
"Enak!"
Lalu Byan menarik Gemi untuk duduk di atas pangkuannya, sedang ia menyuapi Gemi dengan kue cokelat itu.
"Keluargamu jadi datang menemuimu?" tanya Gemi.
"Ya, aku akan mengenalkanmu pada mereka."
"Apa mereka akan senang melihatku? Ceritakan padaku seperti apa mereka," pinta Gemi.
"Mereka sangat ramah, tenang saja," ucap Byan menenangkan.
Bibir Gemi mengkerut, entah kenapa rasanya sangat mendebarkan hanya karena akan bertemu keluarga Byan.
Setelah semakin dekat, Byan memutuskan untuk tidur di rumah Gemi. Bahkan Byan membawa beberapa perlengkapannya ke rumah Gemi.
Keduanya pun tidak malu-malu lagi melakukan hubungan suami istri itu. Gemi bahkan membalas ciuman Byan dengan mesra, tak seperti sebelumnya yang masih malu-malu. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Di tengah redupnya lampu kamar, Byan dan Gemi saling membelai mesra, memeluk dan mencium penuh gairah.
Keesokan harinya, Byan mengantar Gemi pergi bekerja. Ia mengingatkan kekasihnya itu untuk pulang lebih awal, untuk menyambut kedatangan keluarganya.
"Baik, sayang," ucap Gemi seraya mencium Byan. Namun, Byan justru menarik tubuh Gemi, dan melumat bibir itu dengan kasar.
Gemi mengerutkan keningnya, dan menatap lelakinya itu. Ia merasa gairah Byan benar-benar menarik.
Setelah mengantar kekasihnya, Byan kembali menuju rumahnya. Ia membawa kue-kue buatan Gemi itu dan menyusunnya rapih ke atas meja. Lalu menyiapkan kamar yang akan di gunakan keluarganya nanti.
Tiba-tiba dering handphone membuat Byan menghentikan gerakannya. Ia meraih ponsel di atas nakas, dan membaca nama panggilan yang masuk. Seketika wajahnya berubah, Byan menegaskan rahangnya.
"Hallo?" ucap Byan pelan.
"Byan? Aku tidak mendengar kabarmu semenjak hari itu. Apa kamu begitu sibuk?" tanya wanita di ujung telepon.
Byan menghela napas panjang, lalu ia menurunkan pandangannya. "Ya, maafkan aku. Aku sangat sibuk sekarang. Ada apa?"
Perempuan itu lama diam, hingga akhirnya menjawab, "Aku merindukanmu, Byan."
Byan menelan salivanya, ia menyentuh dagunya yang berbulu. Namun, lidahnya terasa kelu, tak mampu menjawab pengakuan perempuan itu.
Tut.... Sambungan terputus. Wanita itu mengakhiri panggilannya.
Byan menatap lama nama April di layar ponselnya itu. Sudah lama sekali sejak ia tidak mengabari kekasihnya itu. April pasti sangat merindukannya, tapi entah kenapa perasaannya kepada kekasihnya itu kian memudar. Ia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada April, dan perasaannya kini beralih pada Gemintang.
Byan terduduk lemas. Sejak bertemu Gemi, ia bahkan dengan mudah melupakan April, yang tak lain adalah kekasihnya. Byan merasakan perang batin dalam dirinya, ia berpikir tak seharusnya ia melakukan sampai sejauh itu. Ia tidak ingin menyakiti siapapun, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin mencintai Gemi.
Lalu bagaimana dengan April? Mereka berpacaran sudah lebih dari lima tahun. Orang tua mereka pun sudah sangat dekat, mustahil untuk mengakhiri hubungan dengan tiba-tiba seperti itu.
Siang harinya Byan tengah membuat sebuah ayunan di pekarangan rumahnya. Ayunan dengan rantai tali besi itu, nampaknya ia buat juga untuk bisa dinaiki Gemi. Perempuannya itu pasti sangat senang, dengan karya barunya itu.
Tiba-tiba sebuah kapal bersandar di dermaga. Byan menyipitkan matanya, dan memperhatikan para penumpang yang baru saja turun dari kapal itu. Senyum mengembang di wajahnya saat mendapati kalau keluarganya telah tiba.
"Hai!" teriaknya.
"Byan!" sahut keluarga Byan bersamaan.
Byan menatap jam di tangannya, keluarganya itu datang lebih awal dari perkiraan.
"Om Byan!" teriak bocah kecil yang berlari memeluk Byan. Orang-orang di belakang bocah itu tersenyum gembira melihatnya.
"Hei! Apa kabar!" seru seorang pria yang wajahnya cukup mirip dengan Byan.
"Seperti inilah, sangat damai!" Byan membentangkan kedua tangannya, memamerkan pekarangan rumahnya yang terlihat asri.
"Wow! Di sini tenang sekali! Mama suka!" sahut wanita paruh baya yang memakai topi bundar dan kacamata hitam.
"Apa sebaiknya kita pindah saja ke sini? Byan pasti kesepian tinggal di sini. Lihatlah, dia hanya memiliki satu tetangga!" ucap Papa memperhatikan lingkungan tempat tinggal Byan.
"Aku baik-baik saja, Pah." Byan memeluk tubuh gempal Papanya itu.
Setelah itu, ia bergegas mengajak keluarganya untuk istirahat. Tak lama kemudian, Byan berjalan keluar menunggu Gemi pulang bekerja. Namun, setelah itu, nampak Gemi melambaikan tangannya. Kekasihnya itu baru saja pulang bekerja. Byan memandangi kekasihnya yang terlihat sangat cantik, dengan hembusan angin meniup rambut panjangnya.
Byan berlari menghampirinya. Kemudian lekas memeluk Gemi. "Keluargaku sudah datang," katanya, seraya mengusap rambut Gemi.
"Benarkah? Mengapa jantungku berdetak sangat cepat? Aku gugup!"
Byan lekas menghilangkan kegugupan Gemi dengan menciumnya lembut. Ia menekan belakang kepala Gemi untuk lebih dekat dengannya. Tanpa di sadari, kakak laki-laki Byan memperhatikan mereka. Kakak laki-laki Byan itu menggelengkan kepalanya, "Dasar playboyl!" keluhnya.
Setelah mengganti pakaian, Byan membawa Gemi untuk berkenalan dengan keluarganya. Sedang Kakak laki-laki Byan itu menatap adiknya dengan pandangan meledek. Mengira kalau adiknya itu sangat playboy. Karena ia tahu, Byan sudah memiliki seorang kekasih.
"Hei! Apa kamu sudah putus dengan April?" bisik Dirga.
Byan nampak pucat, dan tak mampu menjawab pertanyaan kakaknya. Tak hanya Dirga yang menatapnya aneh, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mama dan Papa Byan nampak bingung melihat putranya itu memiliki wanita baru. Namun, ia mengira hubungan Byan dan April yang barang kali sudah kandas.
"Hallo, Gemintang. Kamu tinggal di sini juga?" tanya Mama.
"Ya, bersebelahan dengan rumah Byan." Gemi menjawab dengan ramah.
Setelah cukup berkenalan dengan keluarganya. Byan meminta kedua orang tuanya, dan juga Dirga untuk bersikap baik pada Gemi. Ia juga tidak ingin jika mereka sampai membahas tentang April kepada Gemi.
"Hubunganku dengan April sebenarnya sudah selesai sejak lama, tapi sebelum aku berangkat ke desa ini ... April menemuiku, dan mengatakan kalau ingin memperbaiki hubungannya denganku," ucap Byan pada kakaknya. Ia tidak mau jika keluarganya itu salah paham, dan memandang Gemi sebagai orang ketiga.
"Aku mengerti, Byan. Namun, saranku adalah, jangan sampai keputusanmu menyakiti keduanya nanti."
Byan mengangguk paham.
Hari berganti malam, nampaknya Gemi sudah akrab dengan keluarga Byan, termasuk bocah kecil anak laki-laki Dirga. Ia juga dengan ramah mengajak orang tua Byan bermain kartu, dan memanggang daging untuk mereka.
"Kue cokelat ini enak sekali, kamu ternyata pintar membuat kue," puji Mama Byan.
Gemi tersipu malu. Dengan salah tingkah Gemi menyenggol lengan Byan yang ada di sisinya.
"Awalnya dia memang terlihat seperti ini, tapi lama-lama dia akan bersikap memalukan," kata Byan meledek.
"Ish!" keluh Gemi yang lagi-lagi menyenggol lengan Byan.
"Besok kami akan pulang lagi, Dirga dan Papamu sudah mulai bekerja. Lain kali kami akan mengunjungimu lebih lama," ujar Mama.
Byan menatap Gemi, lalu memeluknya. "Aku baik-baik saja di sini. Dia akan merawatku dengan baik. Kalian tidak perlu khawatir," ucapnya.
Papa tertawa kencang melihat kebahagiaan putranya itu. Apapun yang terjadi dengan hubungan asmara Byan, mereka berharap Byan bisa memilih pilihannya dengan bijak.
Malam harinya, Gemi kesepian karena Byan tidak bisa menginap di rumahnya. Ia juga tidak enak, jika orang tua Byan memergoki kalau mereka tinggal bersama.
[Byantara : kamu baik-baik saja tidur sendiri? Aku ingin sekali memelukmu.]
Gemi membaca pesan singkat dari Byan, ia tersenyum seraya membalas pesan itu.
"Aku tidak baik-baik saja, rasanya aneh," balas Gemi.
Byan memperhatikan kakak dan keponakannya yang sudah tidur, dengan mengendap-endap Byan keluar dari kamar itu.
Sedangkan Gemi, terlihat tengah menunggu balasan pesan dari Byan.
"Kemana dia? Apa sudah tidur?" keluhnya kesal.
Tok... Tok... Tok...
Gemi menoleh mendengar suara ketukan pintu. Ia menerka-nerka siapa tamu yang mengunjunginya saat pukul satu malam.
[Byantara : Ini aku, buka pintunya!]
Gemi langsung tersenyum lebar. Lalu berlari membukakan pintu.
Lelaki tinggi itu muncul sesaat Gemi menarik pintu, dan dengan cepat ia meraih tubuh Gemi ke dalam pelukannya. Dan mendorongnya ikut masuk ke dalam.
Pintu pun terbanting, dan ponsel yang tengah di pegang keduanya pun terjatuh.
Bersambung.