Bab 1

Pemuda tinggi yang kini memasang ekspresi masam itu masih menggunakan seragam dari sekolah lamanya, masih dengan tas hitam dipunggung yang tidak berisi apa-apa. Laki-laki itu tengah duduk di meja makan, mendengarkan ceramah di pagi hari agar hatinya kembali putih suci.

"Kau sudah besar, tau lah mana yang benar dan mana yang tidak. Mana yang harus dilakukan dan mana yang jangan. Ibu sudah tua, Te, jangan buat Ibu terus-terusan pusing memikirkanmu. Sudah tiga tahun di SMA kau berpindah sekolah lebih dari lima kali, kenakalanmu itu sudah diluar nalar. Apalagi dengan usiamu- ya Tuhan! Katakan berapa usiamu tahun ini?"

"Dua puluh," jawab Theo pelan, telinganya sudah sangat panas. Ia tak mampu melakukan apapun, hanya berharap agar ini semua segera berakhir.

"Dua puluh, Te. Dan kau bertingkah seperti anak baru puber saja! Kau sudah dewasa, pikirkanlah apa yang baik untukmu sendiri mulai sekarang." Baru saja Theo hendak menjawab, sang Ibu melanjutkan.

"Jika seperti ini terus, universitas mana yang mau menerimamu? Dan jika kau tidak kuliah siapa yang akan meneruskan perusahaan Ayah? Usia dua puluh tahun masih di kelas sebelas. Jadi di usia berapa kau akan lulus kuliah, Te. Dan di usia berapa kau akan menikah. Ibu pusing, Te! Ibu pusing!" pungkas wanita berdress rumahan itu sambil memegangi kepala.

Theo mendekati Ibu-nya lalu memijat kepalanya. "Ibu pusing karna terlalu banyak berfikir, makanya jangan difikirkan," cicit Theo lagi.

Sang Ibu menabok lengan Theo keras-keras, seakan tak habis pikir dengan pola pikir putra bungsunya tersebut. "Jika bukan aku yang memikirkan, terus siapa lagi? Kau saja tidak mau berfikir tentang dirimu sendiri."

"Mulai sekarang aku akan memikirkan diriku sendiri, jadi Ibu tidak usah terlalu memikirkanku lagi."

"Mana bisa begitu," balas Ibu tak terima, tidak ada satu orangpun didunia yang bisa menyuruh seorang ibu untuk berhenti memikirkan putranya.

"Bisa lah, Bu. Dia sudah punya keinginan," sahut suara bariton yang baru saja turun dari lantai atas.

Seorang pria bersetelan kemeja biru tua dan celana bahan formal itu tersenyum, memamerkan pipi berlubang. Theo mencibir secara otomatis. Kehadiran kakak sulungnya tidak pernah menjernihkan keadaan. Ibu selalu pro kakaknya, dan Theo hanya akan berakhir jadi bahan untuk dibanding-bandingkan.

"Kau harus membimbingnya, bilang Ibu jika dia membuat masalah lagi," ujar Ibu Theo pada Namu- kakak Theo.

"Baik, jadi sekarang bebaskan dia, Bu. Kalau tidak, dia akan terlambat," balas Namu menenangkan, berhasil membuat Theo bebas dari kungkungan nasihat pagi sang Ibu, menyuruh Theo untuk segera berangkat sekolah.

"Cepatlah! Kita sudah terlambat."

Dahi Theo menyirit, "Apa maksudnya?" Otaknya kembali berfikir "Jadi sekolah baruku, adalah sekolah tempatmu mengajar, kak?!"

Benar. Theo bahkan tidak tau kalau ia resmi bersekolah di tempat kakaknya mengajar.

"Iya, Ayo cepat. Kau yang menyetir." jawabnya melemparkan kunci mobilnya pada Theo.

Oke, Theo mau mengaku bahwa ia memang anak lelaki bandel yang sulit melakukan perintah, namun ia juga kurang suka berbuat onar, tidak suka sama sekali malah. Jadi bukankah berlebihan jika ibu mengirimnya ke sekolah dan membuatnya diawasi setiap saat. Jelas sekali ibu membuangnya ke sekolah yang sama dengan Namu agar ia tak lepas dari pengawasan.

Theo memandang kunci ditelapak tangannya yang mengadah, "Aku memakai mobilku sendiri saja."

Setelah mengatakan itu Theo melemparkan kembali kunci mobil itu pada pemiliknya.

"Tidak bisa. Nanti kau bolos lagi," sahut Namu, tak setuju.

"Tidak, aku tidak akan bolos."

Namu hanya menatap adiknya itu dengan alis terangkat. Sebuah tanda mutlak kalau anak sulung keluarga Kim itu sama sekali tidak ingin dibantah. Setelahnya Theo memasuki mobil di bagian kemudi. Kakak-nya itu memang keterlaluan tegas.

Theo harus siap dengan penjara baru yang keluarganya buat.

--

Gadis delapan belas tahun yang menggunakan seragam ungu itu mendecak keras, gadis itu mengusap wajahnya lalu menghembuskan nafas kasar. Niatnya melampiaskan emosi malah berujung menambah emosi. Jaane tau mobil yang dibelikan Ayahnya setelah liburan semester kemarin itu merupakan mobil mahal dan dari produsen terkenal, tetapi Jaane tidak tau kalau ban mobil dari 'produsen terkenal' ini sangat tipis.

Gadis bersurai coklat itu membuka pintu mobil lalu mengambil ponselnya. Dengan cepat, Jaane mendial nomor Lica- salah satu sahabatnya. Hanya nada sambung yang terdengar, entah kemana gadis jangkung itu pergi hingga panggilan Jaane pun tidak dijawabnya.

Jaane mendial nomor Lica lagi, satu tangannya memegang ponsel dan satunya lagi memperlihatkan jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir masuk, tapi Lica tidak juga menjawab. Jaane mengedarkan pandangan, jalanan beroperasi lancar tapi tidak ada satupun yang dikenalnya untuk meminta bantuan. Taksi pun tak terlihat di daerah ini. Setelah ketiga kalinya nada dering itu berhenti, Jaane meletakan ponselnya di saku. Menyerah. Masa bodoh, akhirnya dia bolos juga. Gadis itu mengambil tasnya, mencopot kunci, lalu mulai melangkah di bahu jalan. Mengambil arah berlawanan dari arah menuju sekolah.

Jaane mengambil ponselnya di saku, mengetikan pesan berisi perintah kepada Jung- adiknya untuk mengambil menghubungi orang dan mengambil mobilnya, lalu ponsel itu disetting dalam mode hening. Jaane terlalu malas untuk berbicara. Tak ingin membuat harinya lebih buruk lagi.

Langkah yang Jaane ambil belum genap sepuluh namun ia harus menghentikan langkah saat sebuah mobil berhenti disampingnya, Jaane mengamati mobil itu sejenak, hingga kemudian kaca gelap mobil sedan itu turun Jaane masih belum tau siapa pengemudi ini.

Jaane tidak mengenalnya, maksudnya, laki-laki berseragam sekolah yang duduk memegang setir itu. Lelaki bertampang acuh dengan rambut hitam legam dan kulitnya berwarna tan.

"Jane, kau mau kemana?" Pria dikursi penumpang sebelah menundukan kepala agar dapat terlihat, menampilkan stuktur wajah yang amat dikenal. Jaane tersenyum sedetik kemudian.

"Saya hendak ke sekolah, sir,” jawab Jaane pada guru Bahasa inggris di sekolahnya.

Jaane berbohong? Iya, tidak mungkin juga dia menjawab 'saya mau pulang, sir. Ban mobil meletus' kejujuran semacam itu tidak terlalu diperlukan.

"Kau salah arah. Sekolah ada disana," balas Namu seraya menujuk depan. Yah, bahkan anak SD pun tau Jaane berjalan kearah yang salah.

"Tadi ban mobil saya meletus. Jadi saya mau mencari taksi disana," alibi Jaane.

"Ikut kami saja, disana juga tidak ada taksi."

"Tidak usah, sir. Saya berangkat sendiri saja," tolak Jaane cepat, bolos adalah satu-satunya agenda hingga sore nanti.

Tapi kemudian, laki-laki berseragam itu berdehem ketara seraya melihat jam di pergelangan tangannya.

"Sebentar lagi bel berbunyi, masuklah."

Menolak tidaklah mungkin lagi, mesin mobil sudah dinyalakan. Terpaksa. Tangan gadis itu membuka pintu belakang, lalu duduk di belakang kursi supir.

Bolos yang tertunda.

——

Bab 2

Sebagai gadis yang jarang bicara dan juga enggan bersosialisasi. Jaane mengerti betapa menumpang duduk di kursi mobil milik orang sangat tidak nyaman baginya. Bukan karena Namu yang mengajaknya bicara terus-menerus sedangkan Jaane merupakan gadis yang irit bicara, namun karena pandangan lelaki yang duduk di kursi supir itu beberapa kali ketahuan curi-curi pandang padanya.

Sejak saat kereta beroda empat ini mulai memasuki gerbang sekolah, Jaane sudah memegang gagang pintu. Dan saat rem di injak, saat bahkan sang supir belum mematikan mesin kendaraan Jaane sudah turun dari sana. Yang dipikirkannya saat ini hanya melepas diri dari kecanggungan.

Belum pernah selama delapan belas tahun hidupnya Jaane merasa canggung sedemikian parah, Jaane bahkan hampir tak bisa bicara dan hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan atau gelengan saja.

"Terima kasih, sir." Jaane hendak berlalu membawa dirinya pergi menenangkan diri, tapi instruksi dari pria tinggi yang menggunakan kemerja itu menghentikannya.

"Jane, kau kelas 11-3 kan?"

Jaane memejam mata sekilas, merutuki diri. Sebelum kemudian berbalik. "Benar, sir." Jaane mengerjap dua kali lalu tersenyum.

"Bisa tolong bawa dia juga?" pinta Namu. Menunjuk si supir berseragam itu dengan dagunya.

Jaane mendesah dalam hati, mata gadis itu melirik ke arah laki-laki berambut hitam yang tengah bersandar di bagian depan mobil. Entah kenapa terlihat sangat menyebalkan, maksudnya laki-laki itu. Entahlah, melihat laki-laki itu melipat tangan di dada dengan sok seperti itu membuat Jaane sebal.

"Maaf, sir. Tapi saya akan mampir ke tempat lain dan mungkin akan masuk kelas terlambat," tolak Jaane halus, alasannya kali ini bukan sekedar alibi. Jaane benar hendak ke ruang tari sebelum mengikuti pelajaran pertama. Jaane melihatnya dengan jelas, laki-laki itu berdecih lalu berdiri tegak seraya menyimpan satu tangannya di saku celana.

"Aku bisa sendiri." Suara beratnya untuk pertama kali terdengar. Kaki panjang itu hendak melangkah namun tertahan saat Namu menarik kerah seragamnya dari belakang.

"Jangan macam-macam!"

Namu melepas tangan dari kerah laki-laki itu saat dirasa kalau ia benar-benar berhasil mengusirnya pergi.

"Apanya yang macam-macam? Aku mau masuk kelas," decakan dari mulut lelaki berkulit tan itu terdengar keras. "Lagipula aku tidak bawa mobil, kabur juga tidak akan bisa."

"Kau pikir aku bodoh. Masih ada Jimmy disini, dia juga sama sepertimu."

Jaane hanya berdiri di sana dengan wajah super datar, tidak ingin ikut campur sama sekali.

"Tolong ya, Jaane. Sebentar saja, pastikan dia benar-benar masuk kelas." Jaane yang sejak tadi diam masih diam juga. Jaane masih ingin menolak, tapi juga khawatir Namu akan menganggapnya buruk kalau ia menolak. Dan tentu saja ia tak ingin itu terjadi.

Tepat sebelum Jaane membuka mulut ingin menyangkal, bel sekolah berbunyi. Membuat gadis itu menelan kembali kata-katanya. Mau bagaimana lagi.

"Baik, sir." Kalian tau seberapa enggan Jaane mengucapkannya.

Pria tinggi itu tersenyum manis memperlihatkan pahatan indah dipipi. "Terima kasih," katanya sebelum menoleh ke samping, menatap adiknya. "Dan kau, ikuti Jaane."

"Aku bisa membaca dan mengerti tulisan 'kelas 11-3'," gerutu lelaki berkulit tan itu.

"Kau tidak dengar bel sudah berbunyi? Sudah sana cepat."

Jaane sudah berlari jika dari tadi laki-laki berambut hitam itu tidak menyahut. Membuang-buang waktu dan membuatnya hampir mati karna terlalu lama salah tingkah.

Namu menjauh setelah sebelumnya menganggukan kepala pada Jaane dan mengucapkan sepenggal kalimat terima kasih sekali lagi.

Mengabaikan hati yang sejak lima belas menit yang lalu tak nyaman, Jaane berbalik. "Ikuti aku." Lalu gadis itu berjalan tanpa repot-repot menoleh ke belakang.

--

Menjadi pusat perhatian sudah biasa, disorot laser kekaguman setiap langkahnya juga hal biasa.

Yang tidak biasa dari pandangan orang terhadap primadona sekolah mereka adalah suara langkah kaki di belakangnya, yang menjadi hal baru dari opini berpasang-pasang mata yang melihat. Sudah pasti rumor dan gosip akan menyebar luas, jelas saja. Ini kali pertama seorang Jaane berjalan dengan laki-laki didekatnya.

"Kau menyukainya?" Theo mengambil langkah sejajar dengan Jaane. Membuat si gadis menjauh sepontan.

Dengan enggan menjawab, "apa?"

"Kau menyukai kakak ku?" tanyanya lagi, langkah kaki Jaane berhenti di belokan koridor. Sedikit tidak percaya.

"Kakakmu?" ulangnya tak percaya. "Orang tadi?" lanjutnya lagi, Namu? Ini adiknya? Kening Jaane mengerut dalam. Kenapa sangat berbeda. Jaane tidak tau harus memikirkan mana lebih dulu, otak pintarnya bahkan tidak mendukung disaat seperti ini.

Maksudnya adik kandung? Tapi mereka terlihat sangat berbeda. Fisik dan juga auranya.

Dan apa yang ditanyakan lelaki ini tadi? Jaane suka pada Namu?

"Tidak," jawab Jaane singkat, gadis cantik itu kemudian mengambil langkah lebih cepat dari sebelumnya. Dan tentu tidak akan sulit bagi kaki panjang laki-laki berambut hitam itu menyusul.

"Berbohong malah membuatmu lebih ketara."

Jaane memejamkan matanya sejenak. Dasar sok tau!

"Aku tidak berbohong," sahut Jaane, menambah lagi satu tingkat kecepatan langkahnya.

"Lalu kenapa gugup?" Dan seperti sebelumnya, Theo menyamai langkah kecil gadis itu yang nyatanya merupakan hal mudah. Sekarang Jaane berhenti. Lagi.

Jaane menoleh, menaikan satu alis, wajahnya datar sekali.

"Bukan urusanmu," tandas Jaane. Yang mana diartikan sebagai pengakuan oleh Theo.

Biarlah. Lagipula Jaane tidak tau bagaimana harus menyikapi situasi seperti ini.

Kelas sudah terlihat, hanya tinggal melewati tiga ruangan dan mereka akan sampai. Tapi Jaane sudah enggan, lupakan apa yang diamanatkan Namu kepadanya, bahwa ia harus memastikan laki-laki ini masuk kedalam kelas.

"Disana, itu kelasmu." Jaane menunjuk pintu kelasnya, lalu menatap laki-laki itu. "Kau lihat?"

Setelah Theo mengangguk, Jaane berbalik arah hendak menuju ruang tari, tetapi tarikan dari tali ranselnya membuat langkah Jaane tertahan.

"Itu juga kelasmu. Kenapa tidak masuk?"

Jaane menebas tangan Theo dari tali tasnya. "Berhenti bertanya dan urusi saja urusanmu sendiri."

Dan nyatanya semua cuma basa basi semata. Theo hanya mengangkat bahu acuh, "Kau mau mengingkari perintah guru tersayangmu?" Laki-laki itu kembali memasukan tangannya ke saku celana.

Jaane malas berdebat, mood yang hancur sejak pagi tadi dibuat lebur oleh laki-laki ini. Gadis itu hanya melengos dan kembali berjalan kearah tujuan. Niatnya hendak pergi ke ruang tari memang untuk memperbaiki suasana hatinya yang berantakan. Ingin sekali berteriak, berdecak sebal dan menendang laki-laki itu.

Mengabaikan semuanya, Jaane terus berjalan dengan langkah cepat.

Theo yang melihat punggung kecil itu menjauh hanya memiringkan kepala sedikit. Mendapat mainan baru di sekolah baru.

Menarik.

——

Bab 3

Theo berjalan santai, setelah beberapa menit yang lalu menerima pesan, laki-laki itu melangkah ketempat tujuan.

Banyak orang atau lebih tepatnya siswi di sekolah ini yang menatapnya terang-terangan. Bukan hanya di sini sebenarnya. Di manapun Theo berada, pesona laki-laki itu terlalu sulit untuk diabaikan. Minimal, setiap orang yang melihatnya akan menatap dengan kekaguman memuncak.

Seragam sekolahnya belum berganti, mungkin itu juga yang menjadikan dirinya lebih mencolok dari semua siswa disekolah ini.

Tapi dia Kim Theo, lelaki yang tengah berjalan santai dengan satu tangan berada di saku itu seolah tak perduli. Theo tau benar visual berbahaya yang melekat pada dirinya, dan sudah merupakan hak orang-orang di luar sana untuk menilai, walaupun nyatanya dipandangi seperti itu akan membuat yang dipandang risih.

Theo mengeluarkan ponselnya yang bergetar dari saku celana, lalu ibu jari laki-laki itu menyentuh ikon warna hijau di layar.

"Iya,"

"Dimana kau? cepat kemari."

"Aku sedang ke sana, tunggu saja."

"Hati-hati, nanti nyasar."

"Kau pikir aku anak TK."

"Ya sudah, cepat ya. Nanti kukenalkan pada teman-temanku."

Tanpa menjawab Theo mematikan sambungan telfon dengan Jimmy temannya sejak SMP, dia memang anak baru tapi mustahil lah jika nyasar. Lagi pula di setiap dinding sekolah juga terpasang denah.

Kalian tidak usah tegang, Theo tidak akan bolos. Jimmy memintanya untuk bertemu jadi harus dituruti kan? Lagipula niatan serta godaan setan untuk bolos sudah tidak mempan untuknya. Untung saja, ayah masih mau mengeluarkan uang untuk sekolah. Dan untung saja, sekolah yang katanya favorit ini mau menerima siswa pindahan atau lebih tepatnya siswa buangan sepertinya.

Theo menghentikan langkah, di depannya ada tembok bercat putih tulang menjulang tinggi tanpa rikuh. Setelah menoleh ke kanan kiri, Theo sadar. Dia nyasar. Yah, kalian seharusnya tau, apa yang membuat pria dua puluh tahun itu masih menggunakan seragam SMA.

Theo menoleh saat telinganya menangkap bunyi pintu yang terbuka. Terlihat disana seorang laki-laki berseragam yang tengah memperhatikan ponselnya.

"Permisi, kau..."

Laki-laki itu menoleh, sejenak menengok kearah lain memastikan bahwa memang ia yang dipanggil, kemudian menunjuk dirinya sendiri saat tidak ada orang lain disana. Theo mengangguk mengiyakan.

"Ada apa?" tanyanya.

"Bisa tolong tunjukan di mana ruang olah raga?" tanya Theo lagi.

Laki-laki dengan seragam sekolah berwarna ungu itu meneliti Theo dari rambut hingga sepatu. "Anak baru?" tanyanya.

Theo mengangguk lalu kembali menatap laki-laki itu dengan tatapan menunggu.

Sedangkan yang ditatap cuma mengerjap pelan. Lalu berseru tak lama kemudian, "Oh! Ruang olahraga?" ulangnya "Itu," lanjutnya seraya menunjuk ruangan yang telah Theo lewati sebelumnya.

Theo merutuk dalam hati, kenapa tulisan sebesar itu tak terlihat di matanya.

"Tapi, ada perlu apa ke ruang olahraga?" Laki-laki itu bersuara lagi.

Theo menoleh. "Hanya bertemu teman."

Laki-laki itu tampak mengangguk. "Biasanya yang berkumpul disana itu Park Jimmy CS."

"Kau mengenalnya?" tanya Theo.

"Tidak. Dia senior, cukup terkenal di sekolah ini."

Theo mengangkat alis. Jimmy memang selalu terkenal, mungkin di SMP pun ia dan Jimmy adalah alumnus paling legendaris.

"Terima kasih," sahut Theo, mengangguk ramah. Hendak menuju ke ruangan yang jaraknya hanya sepuluh langkah dari tempatnya berdiri sekarang.

"Eeh, aku juga mau minta tolong. Boleh?" laki-laki berseragam ungu tadi menghentikan langkah Theo.

Theo mengangguk. "Apa?"

"Kau punya kenalan orang bengkel yang dekat? Boleh minta kontaknya?" Theo mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.

"Ini kontak bengkel tempatku bekerja, tidak terlalu jauh dari sini."

"Kau bekerja?" Laki-laki itu berdecak kagum. "Keren sekali."

"Bukan apa-apa. Telfon saja, nanti akan kubilang temanku yang menelfon."

"Terima kasih, ya." Laki-laki itu berujar lagi.

"Sama-sama," Theo melirik namtag laki-laki itu, "Jung, aku pergi dulu.”

——

Jam pelajaran terakhir terasa sangat lambat, Theo merasa kakinya pegal karna terlalu lama duduk. Jika bukan karna sang kakak, sang ibu dan sang ayah. Theo tidak akan duduk di kursi kecil ini, tidak akan mau mendengarkan ocehan guru di depan yang menurutnya tak penting sama sekali.

Theo menguap, entah sudah yang keberapa kalinya. Lalu menopang dagu saat melihat punggung kecil gadis yang tengah tertidur di mejanya. Gadis tadi pagi, yang memakai ransel hitam, yang rambutnya berwarna coklat.

Gadis itu terlihat tentram hanyut dalam mimpi, jauh lebih baik dari pada saat dia terjaga. Pandangan Theo naik ke sebelah meja Jaane, tepatnya pada gadis berjepit rambut pink yang menatapnya berbinar. Lalu, melambaikan tangan? Iya, sepertinya begitu. Theo hanya membalas dengan anggukan kikuk.

Lalu di belakang meja Jaane, seorang gadis berkaca mata meliriknya intens sebelum kembali mendengarkan guru. Aneh, tak ingin berfikir lebih lanjut, Theo kembali menatap papan tulis.

Tidak lama kemudian, bel sekolah berbunyi. Theo langsung menggantung tasnya di bahu sambil berjalan keluar kelas. Tak perlu berbenah karna memang tidak ada yang perlu dibenahi.

Setelah mengetik sesuatu di ponselnya berupa pesan, memberitahu kakaknya jika ia akan pulang bersama Jimmy, Theo melangkahkan kaki menuju tempat parkir.

Tentu saja ramai, semua siswa berhambur keluar membebaskan diri dari belenggu rumus-rumus tiada akhir.

"Te," Theo menoleh. "Di sini," lanjut Jimmy seraya melambaikan tangan kearahnya.

"Lama sekali," protes Jimmy.

Theo mengangkat bahu. "Bukan aku yang membunyikan bel."

Jimmy terkekeh ringan. "Tentu saja, kalau sampai kau yang membunyikan sekolah akan berakhir pukul sembilan pagi."

Theo hanya melengos dan mengangkat bahu tak peduli.

"Kau menyetir ya." Laki-laki putih itu sudah membuka pintu penumpang dan dengan cepat masuk. Lalu melemparkan kunci mobilnya pada Theo yang masih menatap laki-laki pendek itu dari luar.

"Ayo pak supir, hurry up!" seru Jimmy.

"Dasar, bocah," decak Theo sebal. Laki-laki itu berjalan memutar, menuju kemudi. Baru saja pintu itu ditarik, sesuatu yang dilihatnya membuat Theo terdiam.

Sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang berdiri disana membuatnya membeku. Orang itu juga terlihat sama terkejutnya, dan dia masih sama. Cantik.

Sejenak Theo tidak tau harus berbuat apa, terlalu menyentak. Memikirkan yang mana dahulu, rasa rindu yang beberapa tahun lalu dipeliharanya atau rasa sakit yang ditorehkan gadis itu. Sayangnya yang kedua lebih dominan, hingga Theo dengan sadar mengabaikan pandangan sendu orang itu padanya. Memasang raut wajah datar dan dengan santai memasuki mobil.

Seperti tidak ada yang pernah terjadi.

Masa lalu memang harus dilupakan, bukan?

"Dia memang disini," Theo menoleh, mendapati Jimmy yang ternyata juga memandang ke objek yang sama dengannya. "Kim Suya memang siswi disini, maaf tidak memberitahumu."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED