Bab 1

Barcelona, Spanyol


Terlihat seorang gadis kecil berusia 5 tahun tampak berlarian dikeramaian pesta. Gaun pesta berwarna pink dengan aksen renda serta pita pada bagian depannya tampak bergoyang mengikuti gerakan lincahnya. Tidak ketinggalan sebuah crown menghiasi kepala gadis kecil itu dengan rambut coklat yang dibiarkan tergerai indah semakin membuatnya terlihat bagai seorang Princess. Gadis kecil itu tengah menghadiri sebuah pesta di kediaman keluarga Weston yang berada di Barcelona. Ia tampak mencolok dari undangan lain, bukan hanya karena penampilannya tapi juga karena kecantikannya bak boneka hidup, dengan sepasang mata bulat indah, rambut coklat keemasan serta kulit putih bagai pualam.

Hari ini bertepatan dengan berlangsungnya acara pernikahan William Brantley Weston, Putra ketiga dari pasangan Robert Emmanuel Weston dan Liliana Weston. Pada bulan Juli berlangsung musim panas di Barcelona. Meskipun disebut musim panas, namun suhu udara dan cuacanya tidak begitu menyengat karena suhu rata-ratanya adalah 16-21 derajat Celcius. Dan itu membuat suasana pesta makin meriah dan penuh suka cita.

Gadis kecil itu berlari kearah mempelai pengantin yang sedang sibuk menyapa para kerabat serta kolega bisnisnya.

"Uncle Williii...." panggil gadis kecil dengan suara lantang yang terdengar imut

Ia tersenyum gembira sambil berusaha melompat kedalam gendongan seorang pria tampan dengan balutan jas formal.

"Oh Tuhan kau sudah sangat berat Sweety, kenapa kau berlarian seperti ini? Bagaimana jika nanti kau terjatuh hm?" pria tampan itu pun mencubit hidung si gadis kecil

Gadis kecil itu adalah Thania Callasandra Moran. Putri dari pasangan Thomas Andara Moran dan Clara Madelyn Moran yang merupakan kakak kandung dari William.

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk Uncle dan juga Aunty baruku, hai Aunty Eve kau tampak sangat cantik malam ini"

Thania tersenyum sangat manis kearah bibinya, Evelyn Gabriella Hudson yang hari ini telah sah menjadi istri dari William, pamannya.

"Terima kasih banyak tuan putri, kau juga sangat cantik dan manis Thania" Evelyn berkata sambil mengecup kedua pipi Thania

"Ya ampun, Mama sangat lelah mengejarmu dari tadi Thatha" keluh Clara yang sudah berdiri di dekat mereka dengan nafas terengah-engah

Wanita cantik itu berkacak pinggang sambil mendelik gemas kearah putrinya sebelum kemudian menurunkan Thania dari gendongan William.

"Maaf ma, aku senang di mansion Uncle Willi. Disini sangat indah, tapi sekarang aku lapar. Tolong temani aku mengambil makanan ya?" rengek Thania manja

Dengan tergesa Thania menggenggam tangan Clara dan menarik sang Mama agar mengikuti langkah kaki mungilnya. William dan Evelyn hanya tertawa melihat tingkah manja keponakan cantiknya itu.

Thania yang memiliki hobi makan tentu saja sangat senang jika diajak ke acara pesta seperti ini. Dimana akan ada berbagai jenis makanan, terutama makanan manis yang menjadi kesukaannya. Jadi jika Thania mengatakan lapar maka disinilah ia berada, di depan dessert table yang menyajikan berbagai jenis kue serta makanan penutup lainnya. Kedua tangan mungil Thania memegang piring yang sudah terisi penuh berbagai macam kue dan coklat.

"Thatha, Mama ingin ke toilet sebentar dan kau jangan kemana-mana ya sayang. Jika Thatha ingin pergi berkeliling mansion ini tunggu Mama datang oke?!" ujar Clara sambil membelai rambut sang Putri tercinta

"Oke ma, Thatha mengerti" sahut Thania tanpa mengalihkan pandangan dari cake di depannya

Clara pun tersenyum geli melihat tingkah Thania yang terlihat sibuk dengan kue-kuenya, setelah itu ia berlalu dari sana untuk menuju ke toilet. Thania tidak juga berhenti mengisi piringnya walau kedua piring di tangannya itu sudah tampak penuh. Saat Thania terlalu fokus dengan piring dan juga makanannya, ia tidak sengaja menyenggol seorang bocah laki-laki yang juga sedang mengambil kue namun kalah cepat dengan Thania.

"Gadis kecil apa kau sanggup memakan kue sebanyak itu?" tanya bocah laki-laki itu

Thania mengalihkan pandangannya kepada bocah laki-laki yang berdiri disebelahnya dengan setelan tuxedo hitam. Walau wajah bocah lekaki itu meliriknya dengan sinis namun tetap saja terlihat sangat tampan di mata Thania. Untuk pertama kalinya Thania yang biasanya cerewet hanya bisa terdiam dengan mulut menganga lebar. Ia benar-benar terpesona pada bocah laki-laki tampan di depannya itu.

"Dasar gadis kecil rakus" dengus bocah lelaki tampan itu

Ia pun melangkah pergi dari sana sambil menggerutu panjang pendek karena gadis kecil di depannya tak kunjung menjawab ucapannya. Thania yang baru tersadar dari lamunannya mengejar anak laki-laki tampan itu.

"Hei apa katamu tadi? Aku rakus? Aku tidak rakus hanya lapar, apa kau juga mau? Aku akan membagi kueku padamu jika kau mau" tawar Thania pada anak laki-laki itu

Namun anak laki-laki tersebut tidak menanggapi ocehan Thania, ia bahkan mengabaikan keberadaan gadis kecil itu. Anak laki-laki itu tampak berbincang dengan keluarganya sebentar sebelum berjalan hingga ke taman belakang mansion itu. Thania yang tidak mudah menyerah terus mengekori dan mengikuti anak laki-laki tampan itu kemana pun ia pergi. Thania telah menganggap bocah laki-laki itu sebagai pangerannya. Seorang pangeran seperti cerita dogeng yang sering dibacakan mamanya setiap malam sebelum ia tidur.

Anak laki-laki itu pun akhirnya membalikkan badannya kearah Thania, kemudian menatap sepasang mata bulat berwarna hazel dengan wajah cantik bagai malaikat.

"Apa kau tidak lelah membuntutiku terus sedari tadi?" tanya bocah laki-laki itu pada Thania

Thania menggelengkan kepalanya dengan semangat sambil mengerjap dengan wajah lucu menggemaskan.

"Hey siapa namamu? Kau sangat tampan, apa kau mau menikah denganku jika kita sudah besar nanti?" Thania bertanya dengan polosnya

"Aku Jojo, kau siapa? Jangan bermimpi bodoh, kita ini masih kecil. Lagi pula kalau nanti aku ingin menikah yang pasti bukan dengan gadis cerewet dan rakus seperti dirimu" jawab Jojo dengan wajah angkuh serta melipat kedua tangannya didepan dada

Namun Thania tidak terpengaruh dengan sindiran Jojo, ia malah tertawa menunjukan deretan gigi rapi serta senyum yang menawan. Tanpa sadar senyum itu menular dan membuat bocah tampan di depannya ikut tersenyum.

"Tidak, kau pasti akan menjadi suamiku nanti. Karena aku adalah seorang princess dan kau seorang prince. Satu lagi, aku bukanlah gadis cerewet tau!" hardik Thania cemberut

Bertepatan dengan itu ayah Thania datang dan mengajaknya untuk kembali masuk ke dalam mansion.

"Thatha kau membuat Papa bingung mencarimu kemana-mana. Ayo kita masuk kedalam dan berpamitan pada Uncle William" Thomas pun menggandeng putri kecilnya pergi dari sana dan meninggalkan Jojo sendirian

"Sampe bertemu lagi prince Jojoku yang tampan, kita pasti berjumpa lagi kan?" pamit Thania

Thania menoleh ke belakang dan menatap Jojo dengan pandangan berbinar kemudian mengedipkan sebelah matanya genit.

Jojo berdecak pelan melihat tingkah Thania sambil melambaikan tangannya tanpa menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Setelah Thania menghilang dari pandangannya barulah ia tersenyum sambil bergumam pelan.

"Kuharap juga begitu Princess"

Bab 2

15 Years Later

Menteng, Jakarta


Hari ini kediaman keluarga Moran tampak sibuk karena ulah Thania Callasandra Moran, putri bungsu dari pasangan Thomas Andara Moran dan Clara Madelyn Moran. Siapa yang tidak mengenal keluarga konglongmerat asal Indonesia ini, Moran Group sangat terkenal di Indonesia. Perusahaan ini merajai berbagai sektor usaha di Indonesia. Mulai dari properti, perhotelan, telekomunikasi, retail, bank, sampai otomotif. Keluarga Moran bahkan masuk dalam jajaran tiga besar keluarga terkaya di Indonesia.

Tidak hanya di Indonesia saja, Moran Group juga mengembangkan sayapnya hingga mancanegara. Moran Group membangun perusahaan raksasa diberbagai belahan dunia antara lain di Amerika, Australia, Prancis, Spanyol, Jepang, Korea, Hongkong dan juga Singapura. Moran Group awalnya didirikan oleh ayah dari Thomas Moran, yaitu Daniel Moran namun berkembang pesat dibawah kepemimpinan Putra pertamanya yaitu Thomas Andara Moran.

Thomas Andara Moran sendiri merupakan keturunan Indonesia Amerika sedangkan sang istri Clara Madelyn Moran berasal dari Manhattan. Mereka dikaruniai dua orang putra putri yang tampan dan juga cantik. Putra pertama mereka bernama Moreno Christian Moran berusia 25 tahun dan sekarang tengah dipercaya memegang bisnis Perhotelan, Casino dan Otomotif di Amerika tepatnya di New York, Los Angeles, dan Las Vegas. Putri kedua mereka Thania Callasandra Moran yang berusia 20 tahun. Thania begitu cantik dengan sepasang mata hazel, hidung mancung yang dibingkai paras menawan bagai bidadari, postur tubuh ideal serta kulit putih halus bagai pualam. Siapa pun yang melihat Thania pasti akan berdecak kagum, tidak hanya oleh kecantikannya namun juga kepintarannya.

Diusia yang terbilang masih sangat muda ia merupakan jebolan Universitas terbaik di dunia yaitu Oxford University dan berhasil meraih gelar Philosophy Politics and Economics (PPE) dalam waktu tiga tahun pendidikan dengan predikat Cumlaude. Tidak hanya sampai disitu, berkat kecintaannya terhadap kuliner terutama jenis makanan-makanan manis ia pun memutuskan untuk membuka bisnis restoran dan pastry dari uang tabungannya sendiri.

Sedari kecil Thania memang sudah diajarkan untuk menjadi anak yang mandiri dan rendah hati oleh kedua orangtuanya. Walau terlahir dari keluarga kaya raya namun ia tidak pernah menghamburkan uang keluarganya secara berlebihan. Selain itu ia juga selalu bersikap ramah kepada setiap orang, tidak pernah sombong ataupun angkuh. Tapi jangan dipikir ia tidak manja, ia akan bersikap sangat manja kepada keluarganya terutama pada sang ayah dan juga kakak laki-lakinya.

Lusa bertepatan dengan hari keberangkatan Thania ke Amerika, gadis cantik itu berencana membuka cabang baru untuk restorannya di New York. Selama ini Thania memang telah merintis usaha restorannya sedikit demi sedikit semenjak ia lulus senior high school (SHS). Walaupun ada sedikit campur tangan ayahnya namun tetap modal usaha itu memakai uang tabungannya sendiri. Bukannya sombong, Thania hanya ingin membuktikan pada orang-orang jika ia bisa sukses dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Ia ingin membuat keluarganya bangga dengan prestasi dan hasil jerih payahnya selama ini.

Tidak hanya mempunyai cabang restoran di dalam negeri, Thania pun sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di benua Asia seperti di Singapura, Korea, Jepang dan Hongkong. Ini pun kali pertama ia mencoba peruntungan untuk membangun usahanya itu di negara besar seperti Amerika. Namun jangan dipikir ia mudah mendapatkan ijin untuk pergi dan tinggal di Negara Adidaya itu. Kedua orangtuanya sudah pasti melarang keras niatnya tersebut, terlebih sang ayah Thomas Andara Moran.

Bagi Thomas, Thania akan selalu menjadi putri kecilnya yang manja dan tidak boleh berjauhan darinya. Tapi lagi-lagi karena sifat keras kepala dan juga rayuan mautnya, Thania berhasil meyakinkan kedua orangtuanya. Apalagi Amerika merupakan negara asal sang ibu yang tentu disana Thania tidak akan sendirian. Ada keluarga ibunya dan juga ada sang kakak yang akan selalu menjaganya. Jadilah Thania berhasil mengantongi ijin dari sang Ayah untuk pergi dan menetap untuk sementara waktu di Amerika. Tetapi dengan syarat Thania harus selalu mengabari mereka baik itu menelpon ataupun melakukan panggilan video (videocall). Ia juga diharuskan pulang ke Indonesia setidaknya sebulan sekali atau jika tidak kedua orangtuanya lah yang akan menjenguk Thania ke Amerika.

Di sebuah kamar mewah bernuansa putih dan emas, Thania tengah berkutat dengan koper-koper besarnya. Ia membereskan barang-barang pribadinya yang akan diboyong serta ke Amerika, dibantu oleh sang ibu dan juga beberapa maid.

"Ma, aku senang sekali akhirnya kalian memberiku ijin. Terimakasih Mamaku tersayang karena sudah berhasil membujuk papa yang keras kepala itu untuk tidak memingit anak gadisnya yang cantik ini lagi" Thania terkekeh pelan

"Sangat sulit untuk meyakinkan papamu itu. Mama bahkan harus ekstra merayunya agar memperbolehkan anak gadisnya yang manja ini untuk tinggal di Amerika. Walaupun dengan sangat terpaksa dan berat hati akhirnya dia luluh juga" timpal Clara sambil menggerutu

"Memang cuma Mama yang bisa menjinakkan Papa" gelak tawa Thania memenuhi kamar itu

"Tapi Mama tenang saja, aku akan selalu mengingat nasehat kalian. Aku akan menjaga diriku dengan baik disana, lagipula ada kak Reno juga yang menjagaku disana. Yah walaupun aku tidak akan tinggal di Mansion bersamanya, tapi aku yakin dia akan mengerahkan semua mata-matanya untuk mengawasi setiap gerak-gerikku" lanjutnya lagi

Thania memandang wajah ibunya yang masih tetap cantik menawan dan terlihat awet muda diusia yang sudah menginjak kepala empat. Tidak heran jika ayahnya sangat tergila-gila dan menjadi bucin dengan selalu menuruti semua keinginan sang Ratu di rumah ini.

"Apa tidak sebaiknya kau tinggal bersama dengan kakakmu? Kenapa kau memilih tinggal di penthouse seorang diri? Itu sangat berbahaya Tha, mama sangat cemas apalagi dengan sifat cerobohmu itu" keluh Clara

Walaupun anak gadisnya juga pernah tinggal berjauhan dengan mereka saat menempuh pendidikan di Inggris namun saat itu mereka tidaklah terlalu cemas karena Thania tinggal di asrama dengan pengawasan yang ketat.

Thania tertawa kecil sebelum menjawab ucapan sang ibu "Ma, tujuanku kesana bukan untuk berlibur. Selain berbisnis aku juga ingin belajar hidup mandiri. Apa bedanya jika aku tetap tinggal bersama kak Reno dengan aku disini bersama kalian? Lagi pula aku tinggal di penthouse tidak sendirian ada Valerie yang akan menemaniku"

Di Amerika Thania memang akan tinggal di penthouse yang sudah ia persiapkan. Segala keperluannya seperti mobil, tempat usaha serta ijin untuk membuka restoran pun sudah diurusnya. Beberapa kali sang ayah dan juga Reno memaksa untuk membantunya namun Thania selalu menolak karena tidak ingin merepotkan keluarganya. Ia merasa masih bisa dan sanggup mengurus semuanya sendiri, walaupun Thania harus rela bolak-balik Jakarta-Amerika tapi sejauh ini ia begitu menikmatinya.

Impian terbesar Thania adalah dapat membangun sebuah restoran bintang tiga (michelin star) di Negara Adidaya seperti Amerika Serikat. Namun kali ini terasa berbeda karena disana Thania tidak tinggal sendirian, ada sahabatnya Valerie Catherine Brynn yang akan menemaninya. Valerie sendiri adalah seorang model di negara asalnya Australia, dia berasal dari keluarga berada. Dulu mereka berdua sama-sama menuntut ilmu dan berkuliah di Oxford University. Walaupun setelah lulus kuliah mereka terpisah jarak, Thania pulang ke Indonesia dan Valerie kembali ke Australia namun mereka tetap berhubungan baik hingga sekarang.

"Apapun yang membuatmu bahagia sayang, tetapi ingat Thatha tidak boleh mengecewakan mama dan papa oke?" timpal Clara sambil tersenyum lalu mengecup kedua pipi putrinya lembut

Thania mengangguk bersemangat "Mama dan Papa tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengkhianati kepercayaan kalian" jawabnya sembari memeluk Clara

"Baiklah kalau begitu mama akan menyiapkan makan malam dulu. Kau lanjutkan sendiri dan jangan sampai ada yang tertinggal" ucap Clara sambil mengelus kepala putrinya dengan penuh sayang dan dijawab dengan anggukan patuh dari Thania

Pada saat acara makan malam pun skenario yang sama terulang kembali dan kali ini ayahnya yang memberikan nasehat kepada Thania. Thania pun kembali memberi pengertian dan penjelasan pada sang ayah. Seperti biasa ia pun selalu menang jika beradu argumen dengan ayahnya. Bagaimana tidak menang jika Thania terus saja mengeluarkan jurus rengekan manja kepada sang ayah tercinta dan Thomas pun luluh akan bujuk rayu sang tuan putri.

Bab 3

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Akhirnya hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Thania pun tiba, ia sudah tidak sabar untuk menetap dan memulai hari-harinya di New York. Sedari pagi ia telah siap dan berdandan dengan cantik. Ia tampak casual mengenakan jaket denim dipadukan dengan skinny jeans navy yang membalut tubuh tinggi langsingnya dengan sempurna. Rambut panjangnya diikat menjadi satu ke belakang, walau sederhana namun tidak mengurangi kadar kecantikan yang dimiliki gadis itu. Ia memang tidak perlu tampil mencolok hanya untuk mendapatkan perhatian orang-orang disekitarnya, karena aura seorang Thania Callasandra Moran telah menguar dan membuatnya selalu menjadi pusat perhatian.

Kedua orangtuanya dengan setia menemani Thania di ruang tunggu VVIP yang khusus disiapkan untuk mereka. Sesampainya di New York Thania akan dijemput oleh sang kakak nanti, sedangkan disini Thomas dan Clara yang melepas kepergiannya menggunakan private jet milik keluarga Moran.

"Apa Thatha tidak mau berubah pikiran dan membatalkan pernerbanganmu nak?" bujuk Thomas kepada sang putri tercinta

Thomas mencoba peruntungannya kembali, siapa tau sang putri akan mengurungkan niatnya untuk pergi dan menetap di New York.

Thania terkekeh sambil memeluk lengan sang ayah dengan erat "Ayolah Pa, aku hanya pergi untuk mencoba pengalaman baru dan hidup mandiri bukannya berperang"

"Kau tidak kasihan pada Papa? Siapa yang akan menjaga pria tua ini?" tanya Thomas menunjuk dirinya sendiri

Thomas pun memasang mimik wajah sesedih mungkin yang sangat terlihat dibuat-buat sambil menatap putri cantiknya.

"Siapa yang berani mengatakan jika Papaku ini sudah tua? Papa masih sangat tampan dan gagah. Aku yakin Papa bahkan bisa menggaet gadis-gadis muda diluar sana" bisik Thania sambil tergelak

Clara berdecak dan ikut menimpali percakapan ayah dan anak itu "Jangan mengajari Papamu yang tidak-tidak"

Thania dan Thomas kompak memasang cengiran lebar kearah sang ibu. Clara yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya jengah. Thania tertawa lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan jari telunjuk dan tengah membentuk simpul peace.

"Ma ayolah aku hanya bercanda. Lagipula Papa itu bucinnya Mama jadi tidak mungkin macam-macam. Dan Papa tolong jaga baik-baik Mamaku yang paling cantik sejagat raya ini ya" kini giliran Clara yang mendapat pelukan hangat dari sang putri tersayang

Clara mengelus puncak kepala putrinya dengan penuh kasih dan mengecup kedua pipi Thania diikuti oleh Thomas juga melakukan hal yang sama.

"Ingat jaga kesehatan kalian. Papa juga jangan terlalu sibuk di kantor dan harus sering-sering menemani Mama di rumah"

Thania berkata sambil melirik jam tangan Rolex yang menghiasi pergelangan tangan kirinya—hadiah ulang tahun yang diberikan oleh sang ayah tahun lalu.

"Ah, sepertinya sudah waktunya berangkat" lanjut Thania lagi pada kedua orangtuanya

Gadis itu lalu bersiap-siap memasuki jet dan tak lupa melambai sambil memberikan ciuman jauh kepada Thomas dan Clara.

"Thatha selalu ingat pesan Papa. Jika nanti ada pria yang mendekatimu beritahu Papa, mengerti?" Teriak Thomas sambil melambaikan tangannya kearah Thania

Clara yang mendengar itu, hanya bisa geleng kepala melihat tingkah protektif Thomas pada anak gadisnya.

"Sayang, apa yang kau khawatirkan hm? Reno pasti akan menjaga adiknya dengan baik disana"

Clara menggandeng tangan suaminya setelah melihat private jet keluarga Moran telah lepas landas.

"Aku hanya takut putri kecilku jatuh cinta dan pergi meninggalkanku bersama laki-laki asing. Aku tidak rela jika dia diambil orang kelak" balas Thomas dengan suara lirih

"Semuanya memang harus dilalui oleh Putri kita sayang, kau tidak bisa selamanya menjaga dan melindunginya. Suatu saat nanti tugas itu akan digantikan oleh orang lain, dia pasti akan bertemu pasangannya dan membina rumah tangga. Kita tidak bisa mengekang ataupun melarangnya lagi, karena itu kehidupan Thania dan demi kebahagiaannya juga" jelas Clara menenangkan hati sang suami tercinta

Thomas pun hanya bisa menghela nafas dan membenarkan perkataan istrinya. Bagaimana pun putri kecilnya sekarang telah beranjak dewasa dan mungkin sebentar lagi akan menemukan pendamping hidupnya. Sampai saat itu tiba ia hanya perlu menerima dan berlapang dada untuk melepas putri kesayangannya itu.

                                       ***

Bandara Internasional John F. Kennedy

Akhirnya jet pribadi keluarga Moran mendarat di Bandara Internasional John F Kennedy (JFK) setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 20 jam. Bandara JFK merupakan gerbang penumpang udara internasional tersibuk di Amerika Utara dan merupakan bandara tersibuk keenam di Amerika Serikat. JFK sendiri terletak di kawasan Queens di New York, Amerika Serikat. Setelah melalui imigrasi guna pengecekan paspor serta visa, Thania segera melangkahkan kaki jenjangnya ke sebuah gerai eskrim yang terdapat di dalam bandara tersebut. Sejak turun dari jet tadi ia sangat ingin menikmati eskrim vanilla yang merupakan rasa favoritnya. Dengan langkah anggun Thania menyusuri terminal kedatangan di bandara itu sambil menikmati eskrim ditangannya.

Thania mengedarkan pandangan guna mencari-cari keberadaan sang kakak yang telah berjanji akan menjemputnya disini. Karena tak kunjung melihat batang hidung Reno, ia pun memutuskan untuk segera menghubungi kakaknya itu. Thania yang sibuk memainkan ponselnya tidak memperhatikan jalan hingga tanpa sengaja menabrak seorang pria. Sialnya lagi eskrim vanilla yang ia pegang tumpah dan mengenai jas pria tersebut.

"Ups, my bad. I'm so sorry Sir" ucap Thania sambil merogoh tissue dari dalam tas Gucci kesayangannya

Saat ia hendak membersihkan noda eskrim pada jas pria itu tangannya ditepis kasar. Karena pria yang ditabraknya itu memiliki tinggi sekitar 187cm sedangkan Thania hanya 170cm jadilah ia harus mendongakkan wajah agar dapat menatap langsung orang tersebut.

Seketika itu juga Thania seakan terhipnotis, bagaimana tidak pria yang ditabraknya ternyata pria yang sangat tampan. Sepasang mata tajam bernetra hijau yang terkesan dingin, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah alami dengan rahang tegas yang ditumbuhi bulu-bulu halus membingkai sempurna wajah rupawannya. Ditambah setelan kerja mahal berwarna hitam mengkilap yang dipadukan dengan kemeja putih membalut tubuh atletisnya. Begitu tampan dan mempesona.

Melihat tak ada respon dari pria di depannya Thania bergumam pelan "Apa mungkin bisu?"

Pria itu pun ikut memperhatikan Thania secara seksama dari ujung kaki hingga kepala gadis itu, dengan masih menampilkan raut wajah datarnya.

"Percuma cantik tapi sayang bodoh" dengus si pria sebelum melangkah lebar pergi meninggalkan Thania diikuti beberapa pengawalnya

Selang beberapa detik akhirnya Thania tersadar akan kata-kata yang dilontarkan pria tadi padanya hingga membuat wajahnya cemberut menahan jengkel.

"Percuma tampan tapi sayang menyebalkan" teriak Thania lantang pada sang pria yang sudah berjalan menjauh

Entah didengar atau tidak ia tidak peduli. Ia terlanjur kesal dengan pria arogan yang sayangnya amat tampan itu. Disaat Thania sedang tersungut-sungut, tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluk tubuhnya dari arah belakang.

"Long time no see sweetheart" bisik Reno—sang kakak sambil memeluk adik kesayangannya

"Kak Reno, i miss youuuu..." pekik Thania melengking bahkan sampai membuat perhatian beberapa orang teralih kepada sepasang kakak beradik itu

"Kau sudah besar sekarang little girl. Aku tidak menyangka adikku yang cerewet bisa menjadi secantik ini" Reno mencubit hidung Thania dengan gemas

Thania hanya mencebik diperlakukan seperti anak kecil, apalagi saat Reno mengacak-ngacak rambutnya. Kebiasaan yang selalu kakaknya itu lakukan sejak mereka kecil.

"Kau baru sadar? Dari dulu aku memang sudah cantik. Kak Reno juga makin tampan, sudah berapa gadis yang kau permainkan?" goda Thania sambil merapikan kembali rambutnya

Selain cerewet Thania memang bermulut tajam, ia tidak akan segan mengucapkan apa yang diinginkan atau dipikirkannya secara terang-terangan.

"Jangan sok tau princess, kakakmu ini pria baik-baik dan berbudi luhur jadi tidak mungkin mempermainkan wanita" Reno terkekeh pelan menanggapi ucapan Thania

"Kalau Mama yang mendengarnya mungkin dia akan percaya, tapi aku sudah sangat tau dan hafal sepak terjangmu diluar sana"

Reno tersenyum geli memandang wajah cantik di depannya yang terlihat menggemaskan. Ia hanya tergelak sambil menggandeng tangan sang adik untuk menuju mobilnya yang telah berada di parkiran khusus VVIP.

"Kau ingin mampir ke mansion atau langsung ke penthouse Tha?" tanya Reno setelah mereka berdua berada di dalam mobil mewah itu

"Langsung ke penthouse saja, Valerie sudah menungguku disana" sahut Thania

Gadis itu tampak sibuk melakukan selfie lewat ponsel pintarnya dan langsung dikirim kepada kedua orangtuanya.

"Siapa Valerie?" Reno mengernyit melirik Thania penasaran

"Kak Reno tidak ingat Valerie? Dia sahabatku saat kuliah, kau juga sempat berkenalan dengannya waktu mengunjungiku di Inggris"

Reno tampak berpikir sambil mengetuk-ngetuk jemarinya pada setir kemudi "Apa dia gadis yang cantik? Biasanya aku selalu mengingat gadis cantik dan juga seksi"

Thania mendengus "Terlalu banyak wanita dalam hidupmu, jelas saja kau tidak bisa mengingat semuanya"

Reno pun terkekeh sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, benar-benar berbahaya pikir Reno. Adiknya tau segala hal tentang dirinya, jika sampai gadis itu mengadukan kepada ibu mereka bisa tamat riwayatnya. Reno bergidik ngeri, membayangkannya saja sudah horor. Bisa-bisa ia diseret paksa untuk pulang ke Indonesia jika ibunya tau reputasi Reno di kalangan para wanita teman kencannya selama ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED