“Toilet?” ulang seorang pelayan ketika Rindu bertanya tempat yang dia maksud.
“Anda bisa berjalan ke koridor kiri di sebelah sana.” Pria itu menunjuk sebuah lorong dekat tangga dengan ramah.
Rindu berterima kasih padanya, langkahnya mengayun pada lantai dan bergegas pergi ke arah yang disebutkan oleh pelayan tadi. Semua orang terlihat tak acuh, saling sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperhatikan Rindu yang hampir menangis karena sikap kasar Derren. Bahkan pria itu bisa dengan leluasa berbicara sambil tertawa dengan teman-temannya.
“Brengsek!!” umpat Rindu.
Gadis itu melukai telunjuknya sendiri dengan kuku ibu jarinya, ia biasa melakukan hal itu ketika marah dan kesal dalam waktu bersamaan, tidak jarang telunjuknya akan berdarah dan Rindu membiarkannya kering dengan sendirinya. Ia menatap dirinya di depan cermin wastafel, bekas cengkeraman tangan Derren masih membekas kontras dengan warna kulitnya yang putih. Namun bukan luka fisik yang sebenarnya Rindu takutkan, setiap kali Derren memberinya bekas luka di tubuhnya, Rindu akan ketakutan sendiri karena hal itu akan berbarengan dengan memori menyakitkan di mana ia mendapatkan luka tersebut.
Rindu tidak mengerti kenapa Derren tidak melepaskannya jika memang ia tidak menyukai Rindu, atau ia tidak mencoba membunuh Rindu agar semua ini selesai dengan cepat. Rindu muak dan lelah bahkan ia sudah putus asa. Setiap kali Rindu membahasnya Derren akan menjawab dengan pertanyaan lainnya yang ia lontarkan.
Suara tawa dan hentakkan hak sepatu mendekat dan masuk ke dalam toilet, jumlahnya lebih dari satu orang, Rindu kebingungan karena wajahnya yang berantakan tidak ingin ia perlihatkan pada orang lain, gadis itu membuka bilik toilet dan bergegas menguncinya dari dalam kemudian duduk di atas kloset.
“Bukannya gaun yang Sheila pake sama kaya waktu dia pake ke acara minggu lalu?”
“Serius? Aku enggak perhatiin loh. Emang dasar kamu julid yaa.” Kedua gadis itu tertawa bersamaan karena ocehan mereka sendiri.
“Kamu lihat cewek yang Derren bawa?”
“Iya, kenapa?”
“Enggak, aku cuma kasihan aja. Kita semua tahu Derren kaya gimana, kan?”
“Who cares, ceweknya aja bego. Hahahaha.”
Rindu terkejut ketika sepertinya orang yang tengah mereka bicarakan adalah dirinya sendiri, jantungnya berdetak cepat namun bahu Rindu merosot. Kepalanya bersandar pada dinding di belakangnya. Banyak pertanyaan berputar di kepala gadis itu tentang apa yang mereka maksud juga ada apa dengan Derren namun ketika kesadaran Rindu muncul dan ia membuka pintu kamar mandi kedua gadis itu sudah tidak ada di sana, kembali kepada kerumunan orang-orang dan membuat Rindu putus asa, ia tidak tahu suara siapa yang tadi membicarakan Derren. Tubuhnya menolak untuk kembali pada keramaian, ia bersandar pada dinding di samping kamar mandi dengan pikiran yang menerawang, tampaknya ia harus mencari tahu sendiri ada apa dengan Derren.
Rindu ingin berlama-lama di kamar mandi namun batas waktu yang Derren berikan sudah lebih dari seharusnya, pria itu akan memarahi Rindu lagi jika ia tidak menurut. Meski sebenarnya saat Rindu kembali ke tengah acara, Derren masih sibuk dengan teman-temannya yang lain. Rindu bahkan tidak digubris ketika ia menepuk bahu pria yang menggunakan jas hitam itu. Tapi dengan begini Rindu bisa bernapas di pengapnya atmosfer tempat tersebut.
Rindu mengambil minuman dari pelayan yang hilir mudik, gelasnya cantik dan menarik perhatian meski ia tidak tahu isinya. Terdapat buah di dalamnya dengan warna warni yang menggoda, Rindu mencium aromanya yang manis sebelum meminumnya dalam sekali teguk. Alkohol, gadis itu baru tahu ketika kepalanya sedikit pusing dan ia mual. Sebagai seorang gadis yang hanya tahu pergi kuliah dan mall, Rindu tidak tahu bahwa alkohol bisa berwarna warni dan tampak cantik. Rindu hanya mengira itu minuman biasa atau mocktail. Bentuknya memang mirip.
Rindu berpegangan pada tepi meja, secangkir kecil itu saja ternyata mempengaruhi Rindu yang tidak pernah menenggak alkohol sebelumnya. Rindu tiba-tiba tersenyum sendiri entah karena apa ia merasa sekelilingnya lucu hingga seorang pelayan kembali mendekat, tetapi meski membuat kepalanya pusing Rindu tetap mengambil minuman yang sama.
“Cocktail, Nona," jelasnya ketika Rindu bertanya tentang minuman tersebut.
Gadis itu menatap gelas yang ia pegang, mencicipi minuman tersebut sedikit lagi dan Rindu terkesan bahwa alkohol rasanya tidak terlalu buruk, ia merasakan campuran dari manis, asam dan sedikit pahit.
Mata Rindu mulai sayu, setelah ia menenggak gelas cocktail yang ketiga atau mungkin yang terakhir bukan cocktail, karena gelasnya berbeda dan aromanya lebih kuat tetapi Rindu tetap meminumnya, dengan sisa tenaga yang Rindu miliki tubuhnya mencoba berdiri dengan menopangkan tangan di atas meja. Matanya yang mulai berat masih bisa melihat Derren yang berdiri bersama teman-teman bisnisnya dalam jarak 10 meter.
“Hah! Tetap di sana, jangan ke sini!!” Gadis itu tersenyum miring ia menatap punggung Derren nanar.
Seorang MC yang tengah berdiri di atas stage mulai berbicara sambutan yang malas Rindu dengar, Rindu harus segera pulang karena besok ia harus bekerja juga karena tempat ini rasanya tidak cocok untuk dirinya. Ia tidak ingin pergi menemui Derren untuk meminta ijin sebab pria itu pasti mengabaikannya lagi. Jadi Rindu memutuskan untuk mengirim pesan saja.
Raut wajah Derren langsung berubah ketika ia menerima pesan dari Rindu, pria itu langsung berbalik dan menghampiri Rindu dengan langkah yang tegas membuat nyali gadis itu ciut seketika, ia merasa semua orang menatap ke arahnya yang akan segera dimarahi oleh Derren.
“Kamu mau pulang?” Derren tersenyum sinis, Rindu bisa melihat itu dari sudut matanya. “Kerjaan aku masih banyak, kamu duluan yaa!” Derren mengusap bahu Rindu dan membuat gadis itu tercengang. Ia tidak tahu bahwa Derren akan melunak seperti ini.
“Ahh, pasti karena banyak orang.” Rindu tertawa mengejek dirinya sendiri karena sempat terkesima.
Gadis itu kemudian pergi di tengah kerumunan orang-orang yang fokus pada dirinya masing-masing, ia memang bukan pusat dari acara ini dan tidak membuat orang terkesan hingga harus memperhatikannya bahkan tidak ada yang peduli jika seorang gadis yang tidak memiliki peran dalam dunia mereka menghilang begitu saja.
Pelayan yang berjaga membukakan pintu besar yang terbuat dari kayu tebal dengan model yang tinggi, dan ketika Rindu melangkah keluar entah kenapa udaranya terasa berbeda, Rindu dapat menarik napas dengan lega sekarang. Rasanya seperti kebebasan dan Rindu bisa menghabiskan malam ini dengan tenang.
Tanpa Rindu sadari sepasang mata tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang tampak berbeda malam itu, seorang pria yang mengenal Rindu sekilas saja hanya karena gadis itu bekerja di kantornya. Danielo Chris, pemilik salah satu perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia seorang pria kaya, mapan, dingin dan tidak tertarik dengan hubungan yang tidak menguntungkan seperti jatuh cinta. Ia memiliki garis wajah Latin karena papanya yang berasal dari Italia namun Chris yang sejak kecil tinggal di Jakarta sangat fasih berbahasa Indonesia dan mulai merintis bisnisnya sendiri.
Hidup yang keras dan fokus yang tinggi membuat Chris menjadi pria monoton dan kaku, ia tidak bisa bersikap basa basi atau lembut hanya untuk menyenangkan orang lain kecuali pada mamanya, juga neneknya yang sudah tidak ada.
Pria itu memperhatikan Rindu sejak gadis itu masuk ruangan bersama seorang pria yang belakangan ia tahu bernama Derren, pria yang memperlakukan Rindu dengan cara yang tidak biasa. Meski Chris adalah orang yang dingin namun ia tidak suka melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu, apa pun alasannya. Pengalaman membuat Chris memiliki prinsip yang kuat.
Mata Chris terus bergerak ke mana pun Rindu pergi bahkan ia tanpa sadar menarik sudut bibirnya naik ketika Rindu mendadak pusing karena segelas cocktail hingga Chris menyadari bahwa responsnya sudah berlebihan. Ia mulai berbicara dengan beberapa kolega bisnis yang ia temui di sana sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari gadis bernama Rindu yang Chris lihat setiap pagi di lobby kantornya namun tidak ada yang menarik selama ini hingga saat Rindu memutuskan untuk keluar dari ruangan itu lebih dulu, Chris menoleh menyadari gerakan Rindu seakan bunyi pintu besar itu memanggilnya untuk menengok ke arah suara.
Gadis itu pergi dan membuat Chris sedikit kecewa karena tidak bisa melihatnya di tempat itu lebih lama lagi, pria itu mendadak aneh hanya karena seorang gadis yang menyapa dirinya setiap pagi dengan seragam birunya tiba-tiba berubah menjadi Cinderella dan membuat Chris terpukau karena tingkah lugunya. Aneh.
Rindu menunggu taksi di depan Hotel namun ia sadar semua orang menggunakan mobil mewah dan tidak ada taksi yang masuk, atau mungkin Rindu hanya sedang tidak beruntung. Gadis itu memutuskan berjalan sedikit ke depan dan memesan taksi online melalui ponsel miliknya, tidak butuh waktu lama hingga Rindu menaiki mobil berwarna hitam dengan plat nomor yang sama dengan yang tertera pada aplikasi.
“Sesuai maps ya mbak," ujar pria yang mengemudikan mobilnya dengan kepala yang miring menoleh ke arah Rindu.
Rindu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis hanya untuk beramah tamah, ia membuka jendela mobilnya dan menghirup udara kebebasan yang ia miliki malam ini. Meskipun hanya malam ini yang ia miliki namun Rindu merasa lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan menyimpan benda berkilauan tersebut di samping kursi kemudian fokus lagi pada ramainya jalanan ibukota. Hari mungkin belum larut, lalu lintas masih ramai dan lancar meski langit tidak menampakkan apa pun selain warnanya yang pekat, angin kota Jakarta yang panas dan lembab terasa lebih sejuk malam ini dan membuat Rindu mulai mengantuk.
Alarm pada ponsel Rindu berbunyi nyaring, ini kedua kalinya benda tipis itu berteriak dan membuat Rindu dengan sangat terpaksa harus bangun. Ia harus pergi bekerja. Kesadaran Rindu yang muncul memaksanya juga untuk menikmati hantaman sakit kepala karena alkohol semalam, ia memegang kepalanya sebentar dan mencoba untuk pulih. Gadis itu bersiap dan berlari menuruni tangga dengan sebuah roti isi di mulutnya, pemilik kos memang menyediakan sarapan di ruang makan setiap pagi namun Rindu yang terburu-buru membawa bekalnya di mulut seperti seekor kucing yang baru mencuri tulang.
“Kamu telat lagi?” bisik teman kerja Rindu yang sudah siap berdiri di balik meja resepsionis.
Ini bukan kali pertama Rindu terlambat, ia sering kali harus menemani Derren pergi keluar hingga larut hanya agar pria itu tidak menyiksanya, hingga Rindu sering kekurangan jam tidurnya sendiri
“Cuma 5 menit kok," sangkal Rindu.
“TIME IS MONEY!” Rindu dan temannya serempak mengatakan kalimat yang sama sambil tertawa karena terlalu sering mendengar Supervisor mereka mengomelinya dengan bahasa Inggris semampu yang ia bisa.
“Oke dia datang," ucap teman Rindu dengan bibir terkatup memberi peringatan.
Gadis itu menarik napas dan siap diomeli untuk ke sekian kalinya, ia masih bisa menerima hal itu asal tidak mendapat SP dari HRD, Rindu menyukai pekerjaannya.
“Selain telat, kesalahan apalagi yang kamu buat?” ujar pria bernama Bowo yang merupakan Supervisor Rindu. Pria itu baru saja selesai mengoceh di depan semua orang dengan tangannya yang bertolak di pinggang. Dan sekarang tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang jawabannya tidak Rindu ketahui.
Gadis itu kebingungan, ia merasa kesalahannya hanya telat lima menit saja selain dari itu pekerjaan Rindu selalu memenuhi standar, penampilannya juga rapi dan ia tidak melakukan kesalahan apa pun yang ada dalam kontrak kerjanya.
“Tidak, tidak ada, Pak!" jawab Rindu percaya diri.
“Yakin?” pria berbadan gemuk itu melipat tangannya di dada meskipun tidak sampai karena terhalangi perutnya yang menonjol.
“Kamu dipanggil Pak Chris!" jawabnya dengan nada yang sedikit emosional, bagaimana bisa kesalahan Rindu yang berulang itu membuat Pak Chris sampai harus ikut campur dengan urusan karyawan rendahannya.
"Ya?" Rindu tidak tuli, namun ia perlu memastikannya lagi.
"Pak Chris kamu tahu dia kan!!" jawab Pak Bowo sambil membuang napas dengan kasar. "Saya enggak tahu karena apa yang jelas dia minta kamu menghadap ke ruangannya sekarang!”
“Pak Chris?”
Rindu menaiki lift yang akan membawanya ke lantai paling tinggi dari gedung tersebut di mana ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki di sana. Rindu tidak pernah berhubungan langsung dengan atasannya, ia juga tidak memiliki alasan untuk datang ke area yang hanya ditempati oleh para eksekutif itu.
Seorang pria yang Rindu tahu bernama Dikta mempersilahkan dirinya untuk masuk ke ruangan dengan pintu besar di sudut lorong sementara pria itu hanya mengantarnya hingga luar pintu kemudian membungkuk sopan kepadanya. Rindu tidak bertanya lagi mengapa Dikta tidak mengantarnya hingga ke dalam, pikirannya sudah mulai tidak karuan ketika mengetuk pintu besar yang menjadi penghubung antara dirinya dengan bos besar tempat di mana ia bekerja. Rindu berkali-kali membuang napas dengan gugup, ia yang hanya bisa melihat wajah atasannya sekilas setiap harinya seolah sudah tahu bagaimana ekspresi pria itu jika marah.
Rindu masuk setelah mengetuk sebanyak tiga kali, suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai marmer itu terdengar jelas menggema dalam ruangan besar tersebut ketika ia melangkahkan kakinya meski dengan sedikit keraguan. Chris yang tengah duduk di kursinya sibuk menatap dokumen di hadapannya langsung mengalihkan perhatian pada Rindu tanpa mengangkat kepalanya, matanya yang tajam seperti tengah membaca isi hati Rindu yang gemetar dan membuat Rindu benar-benar tidak nyaman sebab Chris tampaknya memiliki kemampuan untuk menelanjangi dirinya dengan tatapan tajam tersebut saat itu juga.
“Pak Chris, apa bapak panggil saya?” tanya Rindu seraya menggigit bibir bawahnya karena gugup. Ia mencoba untuk tidak terbata-bata di bawah intimidasi dari Chris.
“Bapak?” Chris mengulang panggilan yang Rindu berikan, ia keberatan namun sejurus kemudian matanya menatap bibir gadis itu yang dipoles dengan lipstik berwarna nude.
Rindu tampak bingung, satu ucapan yang pria itu lontarkan benar-benar mengintimidasi dirinya, hingga Chris bisa mengalihkan perhatiannya dari bibir Rindu kemudian mempersilahkan gadis itu duduk di sofa berwarna dark brown yang berjejer rapi di tengah ruangan besar itu.
Chris menyilangkan kedua kakinya sambil bersandar dengan nyaman pada sofa yang bagi Rindu pun sangat nyaman namun ia tidak punya keberanian untuk melakukan hal yang bosnya lakukan. Keduanya saling diam untuk beberapa saat, Rindu ciut. Tatapan mata Chris benar-benar membuatnya seperti tikus di pojokan yang siap di mangsa oleh pemburunya padahal ia tidak tahu kesalahan apa yang membawanya ke tempat itu.
“Berapa lama kamu bekerja di sini?” Suara berat Chris membuat tubuh Rindu bergidik.
“Lima ... lima bulan, Pak.”
"Menurut kamu saya orang yang seperti apa?"
Rindu menatap Chris dengan bingung, hingga tatapan keduanya beradu untuk beberapa saat namun kali ini Rindu yang kalah ia tidak berani lagi melakukannya sebab Chris selalu menatapnya hingga masuk ke manik mata Rindu lebih dalam.
"Tegas, berwibawa ...." Rindu kehilangan kata-kata hanya bagian itu saja yang menggambarkan seorang pemimpin dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar sedang ia sendiri tidak mengenal Chris secara personal. Jadi jika Chris mengharapkan jawaban yang lebih dari itu Rindu tidak memilikinya.
"Ini pertama kali saya dan Bapak bertemu langsung karena biasanya saya hanya melihat Bapak lewat di lobi jadi saya tidak mengetahui banyak mengenai sifat Bapak." Rindu menundukkan wajahnya lagi menatap lantai yang tengah ia pijak seolah sepatunya yang biasa saja sangat tidak pantas berada di atas lantai mahal tersebut. "Maaf," tambahnya setelah ia merasa mungkin Chris tidak puas dengan jawabannya.
"Kamu tidak pernah mendengar tentang saya dari karyawan yang lain?" Chris tahu betul kalau dirinya menjadi bahan perbincangan terutama di kalangan kaum perempuan jadi tidak mungkin kalau Rindu tidak pernah mendengar namanya disebut di antara obrolan santai mereka.
"Ya? ahh ... itu, mungkin pernah. Yang saya dengar hanya mereka berbicara tentang Pak Chris yang belum menikah."
Ekspresi wajah Chris langsung berubah ketika Rindu mengatakannya dan gadis itu menyadari bahwa mungkin ia salah dengan caranya menyampaikan informasi tersebut atau malah Chris tidak suka ketika hubungan personalnya dibahas.
"Maaf, maafkan saya Pak, karena sudah lancang berbicara seperti itu." Rindu benar-benar takut dengan ekspresi yang Chris tunjukan padahal pria itu sepertinya biasa saja.
"Selain itu?"
Entah apa yang Chris inginkan tapi Rindu benar-benar tidak tahu harus menjawab apa lagi, ia bahkan jarang sekali berkumpul dengan teman sekantornya untuk membicarakan atasan mereka itu, Rindu memang menjadi sedikit tertutup sejak Derren selalu menyiksanya dan bersikap posesif terhadapnya. Melarang Rindu bersosialisasi dengan teman-temannya karena takut gadis itu akan berkumpul bahkan diluar urusan kerja.
"Kamu sudah bertemu dengan saya jadi harusnya kamu memiliki pandangan sendiri tentang bagaimana saya di mata kamu."
Chris menyadari bahwa rindu tidak bereaksi selain hanya kebingungan dan terus menatap ke bawah menghindari tatapan keduanya kembali bertemu. Lagi.
"Kamu tahu dalam dunia bisnis eye contact itu penting?" Suaranya yang bulat dan tajam membuat tubuh Rindu berdesir aneh setiap kali mendengarnya.
Rindu mengerti maksud dari sindiran tersebut meski tetap saja ia sedikit ragu namun Rindu ingin segera turun dari lantai itu dan tidak lagi berurusan dengan atasannya ini yang tidak tahu apa tujuan memanggil dirinya ke sana. Tidak mungkin hanya untuk mendengar gosip di kalangan para karyawan tentang namanya, bukan?
Chris membenarkan posisi duduknya, kali ini ia menopangkan kedua sikutnya di atas lutut dengan kedua tangan yang saling bertaut menatap Rindu dan menunggu respons dari gadis itu.
Rindu tidak lagi memiliki pilihan, ia memberanikan diri menatap Chris dari atas hingga bawah dan mencoba memberikan penilaian hanya dari kasat mata saja.
"Anda seseorang yang tampan, karismatik, tinggi dengan iris mata yang cantik. Ya, mata Anda sangat indah seperti berasal dari lautan terdalam." Rindu terhanyut dalam penilaiannya sendiri ketika menatap Chris. Gadis itu menyukai bagian matanya yang menawan dan berwarna biru gelap seolah itu adalah palung samudera yang tidak dapat ia masuki namun juga memberikan kedamaian ketika ia melihatnya. Salah satu warna mata yang mampu menghipnotis dan Rindu sepertinya terkena sihir itu.
Chris sering mendengar pujian tentang hal itu kecuali matanya, karena meski memiliki iris yang indah namun orang akan berkata bahwa Chris memiliki tatapan yang tajam saja tidak ada yang berbicara mengenai warna biru laut yang ia miliki pada bola matanya dan Rindu bisa melihat hal itu.
Berada di dekat Chris ternyata membuat Rindu merasa semakin tersudut, hal itu adalah sesuatu yang wajar mengingat Chris adalah atasan Rindu dan seseorang yang luar biasa bahkan dalam lingkungan Rindu yang mana pun tidak ada manusia sejenis Chris, ia merasa dirinya sangat kecil dan lemah di mata pria itu.
"Baiklah, kau bisa kembali bekerja." Chris bangkit dari posisinya semula, memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunggu Rindu untuk berdiri dari tempatnya juga. Rindu menghela napa lega, Chris sepertinya sudah puas dengan jawaban Rindu dan meski ia penasaran kenapa pria itu memanggilnya untuk naik ke ruangannya namun Rindu tidak bertanya lagi karena takut hal itu malah akan membuatnya semakin lama berada di dalam sana.
Rindu menuruni lift yang ia gunakan tadi, dirinya masih tidak mengerti kenapa dipanggil ke ruangan Chris tanpa sesuatu yang jelas selain semua pertanyaan yang menurut Rindu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang ia jalani.
Ketika Rindu sampai di meja resepsionis tempat ia biasa menghabiskan harinya, Pak Bowo tengah berdiri di sana dan berbicara dengan teman Rindu, keduanya menoleh ketika gadis itu datang dan mendekat kepada dirinya dan sepertinya memang mereka sedang menunggu untuk mendengar sesuatu dari gadis yang masih tampak kebingungan itu.
"Pak Chris bilang apa?"
"Kamu baik-baik aja?" tanya teman Rindu khawatir. Namun gadis itu hanya diam dan kembali ke balik meja resepsionis tanpa menjawab, ia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada mereka.
"Pasti kena marah, sampai seperti ini." Pak Bowo menggelengkan kepala sambil bertolak pinggang kemudian menatap Rindu dengan wajahnya yang menyesal. Ia sudah berpikir kalau Rindu akan di pecat segera dan ia akan mendapat perintah untuk melakukannya.
"Kamu pasti dapat pekerjaan yang lebih baik." Pria yang merupakan atasan Rindu itu berbicara sendiri sambil menganggukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan Rindu dan temannya dengan wajahnya yang merasa bersalah.
"Ya ampun, gimana ini? serius Ndu?"
Dipecat? kata-kata itu terus terngiang dalam otak Rindu hingga ia pulang ke kamar kosnya, ia tidak mau dipecat dan ia menyukai pekerjaannya. Rindu mengingat kembali pertemuannya dengan Chris dan tidak membicarakan hal mengerikan tersebut namun Chris juga tidak tampak senang dengan jawaban Rindu. Jadi apakah salah ketika Rindu hanya memuji atasannya itu, sedikit?
"Harusnya aku bilang kalau dia sempurna." Rindu lemas dan lunglai, ia membuka pintu kamarnya dengan kunci yang ia genggam sejak tadi namun ketika memasukan anak kunci tersebut ternyata kamarnya sudah dibuka sejak awal, pelakunya tidak mungkin orang lain dan Rindu menemukan jawaban yang sudah bisa ia tebak ketika Derren duduk di atas kursi di samping tempat tidur Rindu.
Tubuh Rindu langsung menegang ketika pria itu menatapnya dengan tajam, Rindu tahu ketika Derren menunjukan ekspresi semacam ini artinya suasana hati Derren sedang buruk.
"Sama siapa kamu pulang semalam?" tanya Derren tanpa menatap Rindu, pria itu memainkan jari tangannya mengetuk meja yang biasa Rindu gunakan untuk membaca.
"Ya? sendiri, naik taksi online."
Derren kemudian bangkit dari kursinya sambil berjalan ke arah Rindu, ia membuka dasi yang tadi masih tergantung rapi di lehernya kemudian melilitkannya pada leher Rindu, meski gadis itu sudah bisa menebak apa yang akan Derren lakukan sehingga ia mengganjalnya dengan salah satu tangannya namun tetap saja benda tipis itu membuat Rindu tercekik hingga batuk dan sesak.
"De-derren ... Derren ...."
"Ukhuukkkk ... ukhhuuuukkkk ...." Rindu merasakan sesak ketika Derren melepaskan dasinya dari leher gadis itu, ia terbatuk kemudian oleng ke belakang ketika berusaha bernapas dengan normal kembali.
Derren sepertinya belum selesai dengan Rindu, ia menarik gadis itu dan melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tangannya menahan kedua tangan Rindu di atas kepala dan tidak membiarkan gadis itu melakukan perlawanan sebab kakinya pun di tahan oleh kaki Derren. Pria itu menyeringai ketika Rindu sudah ketakutan sekali, ia takut kalau Derren melakukan sesuatu yang membuat Rindu akan sangat membencinya lebih dari ini.
"Derren, please!!" Rindu menangis memohon pria itu untuk melepaskannya.
"Kenapa? kamu takut? bukannya nanti setelah kita menikah semuanya akan menjadi hal wajar?" Derren masih tersenyum menyeringai dan membuat Rindu gemetar, tangannya lemas karena Derren menekannya dengan kuat, ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya termasuk kakinya yang ditindih oleh Derren namun ada hal yang lebih membuatnya takut daripada itu semua.
"Derren ... hikksss ... hikkssss ...."
Pria itu mencoba membungkam Rindu dengan bibirnya namun berkali-kali meleset hingga ia hanya bisa mencium pipi gadis itu, kepala Rindu terus bergerak karena ia menghindari apa yang Derren lakukan dan membuat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya sampai membuat telinganya berdengung.
Derren terlanjur marah pada penolakan yang Rindu lakukan, pria itu kembali mendaratkan tamparan keduanya di pipi Rindu dan meninggalkan bekas merah yang juga terasa panas pada kulit gadis itu.
Derren membuka paksa semua kancing kemeja bagian atas yang Rindu kenakan hingga menimbulkan suara renyah dari kancingnya yang terputus dari benangnya dan membuat Rindu harus berbalik untuk melindungi tubuhnya. Ia merasa Derren sudah keterlaluan dan menghinanya lebih parah dari yang pernah pria itu lakukan.
"Rin-rindu ...." Derren tiba-tiba saja berubah, sorot matanya tidak lagi sama seperti sebelumnya ketika menatap Rindu yang memeluk dirinya sendiri untuk menutupi pakaiannya yang terbuka.
"Kamu ... aku ... apa yang aku lakuin ke kamu?" Derren mencoba mendekat dan tangannya berusaha memegang pipi Rindu yang merah dan bengkak namun gadis itu berlari membuka pintu kamar dan menghindari Derren dengan sisa tenaga yang ia miliki, sepatu heels yang ia gunakan membuatnya kesulitan berlari sehingga Rindu memutuskan untuk melepaskan dan melemparnya ke sembarang arah.
Gadis itu terus berlari tanpa menoleh, ia memegang kedua tepi kemejanya dan menjaga tubuhnya agar tetap tertutupi meski sulit, Derren terus memanggil namanya dari jarak sepuluh meter dan membuat Rindu semakin panik tapi kekuatan kakinya berkurang dengan cepat, Rindu lelah, ia tidak berhenti menangis dan pandangannya kabur namun ia tidak mau menyerah. Ia tidak mau terus diperlakukan seperti itu oleh Derren tapi ia benar-benar kesulitan untuk melepaskan diri.
Sebuah mobil sedang hitam melaju dengan cepat dan melewati Rindu, kemudian berhenti tidak jauh di depannya dengan mendadak hingga menimbulkan bunyi berdecit akibat gesekan aspal dan ban yang di rem dengan kuat. Bunyi klakson mobil terdengar seolah memberi Rindu isyarat agar naik ke dalam mobil tersebut. Rindu tidak tahu itu siapa yang jelas ia perlu menyelamatkan dirinya sekarang juga dari Derren yang sudah semakin dekat.
Rindu membuka pintu di samping pengemudi dan segera menutupnya, tepat ketika Derren berhasil meraih bagian belakang mobil tersebut namun pengemudinya langsung menginjak gas hingga membuat Derren tersungkur ke jalan.
Rindu ketakutan setengah mati, ia gemetar di sekujur tubuhnya bahkan bibirnya pun begitu, Rindu bisa merasakan ada darah yang keluar dari sudut bibirnya padahal tadi rasanya tidak ada. Rasa asin dari cairan berwarna merah itu membuatnya semakin panik.
Tiba-tiba sebuah jas di lempar ke atas pangkuan Rindu, sebuah jas milik seorang pria yang aroma tubuhnya terasa tidak asing. Rindu mengangkat kepalanya dan mendapati pria yang memang ia kenal tengah mengemudikan setir dari balik kemudi.
"P-pak Chris?"
"Tutupi tubuh kamu!"