Lunar melihat penampilannya sendiri di depan cermin. Gaun yang dia kenakan tampak begitu indah dengan hiasan manik berwarna putih, potongan gaun pendek pada bagian depan, tetapi dibuat panjang pada bagian belakang, bagaikan burung merak yang menguncupkan ekornya. Gaun itu tidak sampai menyapu lantai sehingga dia masih bisa berjalan tanpa harus mengkhawatirkan gaun pernikahan yang kotor.
Hari ini adalah tanggal pernikahannya dengan Nico, pria yang dikenalkan sang kakak padanya. Oleh sebab itu, penampilannya harus dibuat sangat menawan. Dia adalah pemeran utama dari acara pernikahan dan semua mata akan tertuju ke arahnya, begitu pula dengan Nico. Mereka harus sama-sama terlihat menawan di depan semua orang yang akan menjadi saksi pernikahan.
"Akhirnya anak-anakku sudah menikah semua."
Suara seorang wanita yang dikenali membuat tatapan Lunar beralih pada titik pantulan cermin yang lain. Dari sana tampak ibu, ayah, dan juga kakaknya yaitu Sora sedang berjalan sambil tersenyum lebar, jauh berbeda dari Lunar yang sebenarnya tidak pernah menginginkan pernikahan tanpa dasar cinta itu terjadi. Semua dilakukan terpaksa karena tuntutan keluarga.
"Ibu, Lunar belum resmi menjadi istri Nico. Kita masih harus menunggu acaranya dimulai." Sora berkata, menggelengkan kepala.
"Sama saja. Sekarang atau nanti, Lunar akan tetap menikah dengan Nico," ucap sang ibu yang tidak ingin dibantah perkataannya.
"Bagaimana bisa sama? Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
Hanya sang ayah saja yang tampak khawatir, anak bungsunya sebentar lagi diserahkan pada pria yang akan menjadi suaminya kelak. Walaupun demikian, tidak menghilangkan kenyataan bahwa kedua orangtua Lunar memaksakan pernikahan. Bagi keluarga Lunar, pernikahan adalah jalan keluar terbaik untuk meringankan beban tanggungan hidup.
Sebelum memutuskan untuk menikah, Lunar sudah memberikan penolakan, tetapi segalanya berakhir pada kata makian yang diterima dari keluarganya sendiri. Dia yang tidak punya kekuasaan apa-apa dan dalam keadaan belum memiliki pekerjaan harus mengalah.
Sora pun memiliki pengalaman yang sama dengan Lunar. Entahlah. Mungkin keberuntungan tidak memihak pada keluarga itu. Hanya saja, dibandingkan Lunar yang menikah dengan pria muda seperti Nico, kakaknya lebih tragis lagi lantaran dinikahkan dengan teman sang ayah.
Tidak seperti dugaan bahwa Sora selalu terlihat bahagia, kebutuhan hidup selalu tercukupi dengan baik, pasti ada saja setiap hari yang dibeli untuk menuntaskan hasrat duniawi. Mungkin itu pula yang menjadi alasan kenapa Sora mendukung keputusan kedua orangtua mereka.
Memang pria yang menikah dengan Sora tergolong kaya, tetapi sudah tidak muda. Lunar sendiri tidak tahu kenapa sang kakak bisa bertahan dengan pria yang sudah seperti bapak-bapak itu. Tidak tahu akan bagaimana kehidupan Lunar jika harus berada di posisi sang kakak.
Beruntung Lunar dikenalkan pada Nico, teman Sora. Setidaknya sang kakak masih memikirkan perasaannya yang tidak ingin hidup bersama pria berumur tua. Kini dia hanya bisa bergantung pada harapan kalau suatu saat perasaannya pada Nico akan tumbuh.
"Ngomong-ngomong, ada di mana Nico? Aku tidak melihatnya sejak tadi," ucap Sora dengan raut wajah kebingungan.
Lunar ingat saat dia masih sibuk dirias oleh penatanya, Nico yang sudah lebih dulu selesai mengatakan kalau ingin ke toilet. Tetapi ini sudah sangat lama hanya untuk sekadar pergi ke toilet. Terlebih sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai. Ke mana sebenarnya Nico? Dia juga tidak bisa menghubungi karena ponsel Nico ada bersamanya.
"Tadi Nico berkata akan pergi ke toilet, tapi ini sudah terlalu lama." Lunar ikut gelisah.
Apa mungkin terjadi sesuatu yang buruk pada Nico?
"Aku akan pergi untuk mencarinya," ucap Lunar kembali.
"Oh, baiklah. Lebih baik begitu karena sebentar lagi acara akan dimulai."
Di lorong hotel, Lunar celingak-celinguk mencari keberadaan Nico. Sudah lebih lima menit sejak dia tidak lagi berada di ruang rias dan sampai detik itu masih tidak menemukan apa-apa meski sudah bertanya pada orang yang dia lewati. Tidak ada yang melihat keberadaan Nico yang hilang bagai ditelan bumi.
Dia tidak akan ditinggal menikah, bukan?
Hati Lunar akan sangat senang jika begitu, tetapi pikiran itu ada sebelum mereka mempersiapkan pernikahan dengan matang. Sekarang semua orang sudah berkumpul untuk menanti acara pernikahan mereka, tidak mungkin dibatalkan, karena hal itu hanya akan membuat nama mereka menjadi buruk di mata orang-orang.
Suara berisik terdengar di satu kamar yang terbuka celah pintunya. Sangat jelas karena dia tepat berada di depan pintu itu sekarang. Dia berusaha menenangkan diri untuk tidak memikirkan apa yang didengar, terlebih dia ada di hotel dan hal-hal mengenai hubungan di antara pria dan wanita adalah sesuatu yang tidak mengejutkan lagi terjadi di hotel.
"Nico ...."
Lunar yang ingin melangkahkan kaki, ketika mendengar nama itu langsung melebarkan mata. Dia tidak salah dengar kalau suara wanita yang ada di dalam kamar melirihkan nama Nico, bukan?
Pasti itu bukan Nico yang akan menjadi suaminya. Tidak mungkin Nico yang dia kenal akan melakukan hal gila seperti tidur bersama wanita lain di saat acara pernikahan mereka akan segera berlangsung.
Dia harus menuntaskan kegelisahan yang dirasakannya, memastikan kalau pria yang ada di dalam sana bukan Nico.
Perlahan dia membuka celah pintu lebih lebar dan berusaha mengintip ke dalam kamar. Benar saja kalau sepasang kekasih sedang bergulat di atas ranjang. Dia menelan ludah sambil menanti kebenaran yang ingin dicari, masih saja sampai detik ini dia berharap kalau pria itu bukanlah Nico.
Tepat di saat pria itu membalikkan badan sembari berusaha menciumi wanita di dalam sana, dia membelalakkan mata. Harapannya sia-sia karena pria itu adalah Nico yang akan menikahinya. Tanpa sengaja dia langsung memekik dan memundurkan langkah, lalu pergi dari sana secepat mungkin karena sudah tidak sanggup lagi melihat pemandangan yang menyakiti hati.
Dia sudah berusaha untuk menerima kenyataan yang tidak diinginkan, memilih Nico sebagai pendamping hidupnya kelak. Hari itu pula dia menerima sebuah pengkhianatan atas keputusannya sendiri. Kenapa semua bisa jadi seperti ini? Sungguh sangat menyakitkan untuknya.
"Lunar!"
Tangan Lunar ditarik, mau tidak mau dia harus membalikkan badan. Sangat memuakkan harus berhadapan dengan pria yang sudah berkhianat di belakangnya, apalagi Nico tidak memperlihatkan ekspresi menyesal sedikit pun. Bagaimana dia bisa terkecoh oleh kebaikan Nico selama ini padanya?
"Aku membencimu, Nico! Lepaskan aku!" Lunar berusaha melepaskan cengkeraman Nico pada pergelangan tangannya.
"Berhenti membuat kekacauan."
Lunar ditarik untuk memasuki kamar yang menjadi sumber kesakitan. Setelah berhasil masuk, pintu itu pun ditutup rapat. Sekarang mereka bertiga saling berhadapan.
Begitu miris bagi Lunar yang harus memandangi Nico hanya mengenakan bokser dan kemeja tanpa dikancingkan, ditambah saat memandangi wanita yang masih duduk di atas ranjang dan hanya berusaha menutupi tubuh dengan selimut.
Bukan dia yang membuat kekacauan, melainkan Nico.
Lunar menelusuri pakaian yang tergeletak di lantai dan seketika marahnya semakin membesar. "Kau meniduri pegawai hotel?"
"Ini hanya sebuah kesalahan," ucap Nico dengan entengnya.
"Kesalahan?" Lunar tergelak tidak percaya akan alasan yang dia dengar.
"Kalau semua ini adalah kesalahan, berarti aku harus melaporkan kejadian ini pada pihak hotel agar pegawai yang merayumu segera dipecat." Lunar menunjuk wanita di hadapannya tanpa melirik pada orang yang ditunjuk.
"Aku tidak akan membiarkanmu untuk melakukannya." Nico berucap seraya mengancingi kemeja satu persatu.
"Sebentar lagi acara pernikahan kita akan segera dimulai. Kita harus pergi secepatnya agar tamu undangan tidak menunggu lama," sambung Nico.
Sekali lagi Lunar tergelak akan sikap pria yang dengan entengnya membahas soal pernikahan setelah berkhianat di depan mata.
"Kau pikir setelah aku melihat perselingkuhanmu, aku akan tetap menikah denganmu? Jangan bermimpi, Nico! Aku tidak akan sudi menikah dengan pria sepertimu!"
Lunar langsung berlalu pergi begitu saja dari kamar hotel, tidak memedulikan kalimat Nico yang mencoba untuk menghentikannya.
Sekarang bukan tamu undangan yang harus dipikirkannya, melainkan bagaimana agar pernikahan tidak terjadi. Lunar bergegas menghampiri kamar rias untuk menemui keluarganya dan menceritakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Nico. Jelas saja hal itu membuat orangtua Lunar menjadi sangat marah.
"Tidak akan ada pernikahan untuk hari ini," ucap sang ayah sambil mengepalkan tangan.
"Semuanya tidak benar, Ayah."
Di tengah suasana itu, Nico muncul dengan pakaian rapi, setelan formal pria yang akan menikah.
"Lunar hanya ingin membuatku terlihat buruk agar acara pernikahan batal." Nico menjelaskan.
Lunar membelalakkan mata. Apa yang dikatakan Nico barusan jelas fakta sebaliknya. "A-aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau Nico meniduri wanita lain. Aku sama sekali tidak berbohong!"
"Sebelumnya Lunar menolak untuk menikah dengan Nico. Mungkin saja ini juga siasatnya untuk membatalkan pernikahan." Sora ikut bersuara.
Lunar yang mengerti ke mana arah pembicaraan Sora langsung menyanggah, "Apa maksudmu? Bukankah keberadaanku di sini sudah bisa membuktikan kalau aku menerima pernikahan?"
Sora mengangkat kedua bahu. "Siapa yang tahu."
Kedua kaki Lunar seakan lemas mengetahui kalau Sora tidak berpihak padanya, lebih memilih Nico yang mana sudah melakukan pengkhianatan. Mereka adalah saudara kandung dan seharusnya saling mendukung satu sama lain. Sora sangat berbeda hari ini dan membuat dia tidak habis pikir kalau kakaknya tidak mempercayainya seperti dia yang mempercayai.
"Pernikahan sudah ada di depan mata. Jangan sampai nama baik tercemar karena alasan yang kau berikan untuk menggagalkan pernikahan. Cepatlah bersiap-siap untuk menyambut hari bahagiamu," ucap sang ibu.
Mereka semua pergi meninggalkan Lunar, kecuali Nico. Pria itu tampak senang karena telah berhasil mengelabui satu keluarga, senyuman kemenangan dipamerkannya sebelum Nico benar-benar pergi dari pandangan.
Kini bagaimana Lunar harus menghadapi pernikahan yang semakin tidak ingin dijalaninya? Kalau dia menikah, entah pengkhianatan apa lagi yang akan diterima. Dia tidak bisa terus-menerus hidup dalam kesakitan jika hidup bersama pria berselingkuh seperti Nico.
Lunar memperhatikan sekeliling, hanya tersisa dirinya dan penata rias di sana. Semua orang tampaknya sudah berada di tempat acara.
"Hei," panggil Lunar setengah berbisik, membuat mereka langsung bertemu tatap. "Bisakah kau membantuku?"
Penata rias terlihat kebingungan ketika dipanggil. Dia melihat-lihat ke sekitarnya dan menemukan jawaban kalau hanya ada mereka berdua saja di sana.
"Saya, Nyonya?" Penata rias bertanya lagi untuk memastikan sembari menunjuk diri sendiri.
Lunar berlari keluar dari hotel secepat mungkin. Sepatu tinggi yang dikenakan untuk mempercantik penampilan dibiarkan tinggal begitu saja ketika membuatnya kesulitan melangkah.
Dia tidak bisa membuang-buang waktu karena penata rias yang dimintai bantuan pasti kini sedang sibuk mengulur waktu agar keputusannya untuk kabur tidak ketahuan dengan cepat. Biar bagaimanapun, semua orang pasti akan menyadari kenapa dia tidak kunjung muncul di tempat acara.
Belum lama dia berlari tiba-tiba suara teriakan yang memanggil namanya terdengar. Dia menoleh ke belakang, Nico dan Sora sedang berlari mengejar, tampaknya penata rias itu tidak bisa mengulur waktu lebih lama. Sungguh membuatnya sangat frustrasi bagaimana harus pergi dari hadapan mereka secepatnya. Kalau terus seperti ini dia akan tersusul. Dia tidak ingin menikah dengan pria pengkhianat seperti Nico.
Di basemen parkir dia celingak-celinguk mencari tempat persembunyian, berjalan perlahan sambil membungkukkan badan agar dirinya bisa tertutup semua. Suara entakkan kaki yang riuh rendah di lantai basemen terdengar berhenti kemudian, menandakan kalau orang yang mengejar tidak lagi berlari dan suara terakhir yang dia dengar berada tidak jauh darinya saat ini.
Dia menekuk lutut di lantai, lalu menundukkan kepala di salah satu mobil agar bisa melihat ke mana arah Nico dan Sora melangkah, seperti itu dia bisa memperhitungkan ke mana harus menghindar.
"Lunar, lebih baik kau keluar sekarang. Jangan membuat acara pernikahan menjadi kacau. Nama baik keluarga kita akan tercoreng nanti. Ayah dan ibu juga akan kecewa dengan tindakanmu."
Dua pasang kaki tampak melewati mobil yang dijadikannya sebagai tempat persembunyian. Lunar menegakkan kepalanya kembali sambil menahan tubuh yang berjongkok dengan memegangi bagian belakang mobil.
Mendengar Sora mengatakan tentang kedua orangtua mereka membuat dia terpikir akan hal itu. Meskipun menikah bukanlah keputusan yang dia inginkan, tetap saja dia tidak ingin mengecewakan siapa-siapa, terlebih orangtua mereka.
Namun, dia harus bagaimana lagi? Nico bukanlah pria yang baik seperti yang diperkirakan. Kalau saja ada yang mempercayai perkataannya dan membatalkan pernikahan, mungkin dia tidak akan berpikir untuk kabur.
Dia pun tidak tahu harus ke mana setelah ini. Tujuan yang dia punya setiap hari hanya rumah di mana tempat keluarganya berkumpul. Setelah ini, dia akan hidup luntang-lantung di jalan dengan gaun pernikahan. Orang-orang pasti mengira kalau dia menjadi gila karena gagal menikah.
Dia yang sudah beranjak pindah bersembunyi ke mobil yang lain, terkejut karena tiba-tiba saja tempat sandarannya bergerak dan membuatnya harus menjauhkan tubuh dari sana segera.
Bagasi mobil terbuka dengan sendirinya tanpa bisa dihindari. Dia kewalahan bagaimana harus menutupnya kembali, apalagi suara yang diciptakan bagasi mobil bisa menjadi pusat perhatian di lantai basemen yang hening.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Dia yang tidak tahu harus bersembunyi di mana pun menjadikan bagasi mobil sebagai tempat persembunyian, menggunakan kain berwarna gelap yang ada di dalam bagasi mobil untuk menutupi seluruh tubuh.
Dalam penantian, suara langkah kian mendekat. Dia berharap kalau keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain. Tidak ada yang tahu betapa kencang detak jantungnya saat ini.
Suara pintu kabin terdengar membuka dan menutup seolah seseorang baru saja masuk ke dalamnya. Dia berpikir kalau yang datang adalah Nico dan Sora, tetapi sepertinya salah perkiraan.
Saat mendengar suara benda di samping kepalanya, dia melebarkan mata. Ada seseorang yang berada dekat dengannya saat ini. Sepertinya orang itu baru saja meletakkan sesuatu yang tidak diketahuinya dengan jelas.
"Apa selimut ini tadi terbuka seperti ini?"
Lunar membuka mata lebar-lebar saat suara asing tengah membicarakan perihal selimut yang dia pakai untuk menutupi diri. Apakah dia akan ketahuan secepat itu? Dia berharap siapa pun itu tidak mengetahui keberadaannya. Sungguh dia hanya ingin pergi jauh dari hotel saat ini juga.
Di saat yang bersamaan suara pintu kabin terdengar kembali. "Hanya meletakkan koper saja, kenapa lama sekali?"
Lunar berpikir kalau ada dua orang yang dia hadapi saat ini. Mereka adalah pria bersuara lembut dan juga pria bersuara berat yang terdengar maskulin. Tentu saja, untuk saat sekarang bukan saat yang tepat membayangkan seperti apa pria bersuara maskulin itu.
Dia kembali fokus pada harapan di mana dia tidak ingin keberadaannya diketahui, napasnya sampai diembuskan dan dihela lambat-lambat agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Saya akan segera menutup bagasi mobilnya, Tuan."
Suara yang cukup keras terdengar memekakkan telinga setelahnya. Itu adalah suara bagasi mobil yang ditutup. Dia segera membuka selimut untuk melihat situasi. Kini dia terjebak di dalam bagasi mobil dan tidak bisa keluar.
Tidak lama kemudian suara deruan mobil terdengar, membawanya pergi entah ke mana.
Dia bisa bebas dari kejaran Nico dan Sora, tetapi harus menghadapi situasi yang lebih mengerikan lagi. Tidak mungkin hidupnya berhenti di sana setelah kabur dari pernikahan yang tidak diinginkan. Dia harus keluar secepatnya agar tidak mati konyol. Tetapi, bagaimana cara dia keluar dari bagasi mobil?
Dia meraba-raba bagian bagasi mobil perlahan, berharap ada hal yang bisa dia lakukan agar bisa keluar dari sana. Dia tidak bisa berlama-lama meringkuk dan juga bertahan di ruangan yang pengap. Sekarang saja terasa sesak untuk dia bernapas di ruangan sempit dan gelap, terlebih tubuh yang tidak bisa digerakkan dengan bebas mulai keram karenanya.
Bersusah payah dia mencari-cari apa pun yang bisa menolongnya. Bahkan, koper berukuran kecil yang ada di sampingnya juga dibuka. Tidak bisa dilihat jelas apa yang ada di dalam koper, tetapi dia bisa membayangkan apa yang dipegangnya saat ini. Pemilik koper itu sungguh licik karena menyimpan pakaian dalam wanita.
Dia berusaha memikirkan sesuatu yang positif mengenai hal itu. Mungkin pria pemilik koper memiliki seorang kekasih, apalagi mobil yang terparkir berada di hotel, maka bukan hal mengejutkan lagi. Tampaknya dia sudah salah bersembunyi di dalam bagasi mobil, meskipun begitu tidak menyesal karena berhasil kabur dari acara pernikahan.
Selain pakaian dalam dan alat kosmetik, tidak ada lagi yang bisa dia temukan di sana. Pencariannya berujung pada kata sia-sia. Dia pun menggerak-gerakkan tubuhnya di dalam bagasi dengan brutal, memukul-mukul penutup bagasi yang ada di atasnya dengan kuat, berharap seseorang bisa menolongnya. Dia juga berteriak agar bagasi mobil segera dibuka.
***
Arkan adalah seorang pebisnis ternama di kota tempat dia tinggal. Hari ini dia baru saja selesai menemui klien bisnis di sebuah hotel. Dia yang duduk santai di belakang bangku penumpang, menutup dokumen yang dibaca, lalu melepaskan kacamata yang dikenakan. Kedua benda itu ditempatkan di samping tempat duduknya. Dia bersandar dengan menopang siku di pintu kabin sambil memejamkan mata.
Sebentar saja dia ingin beristirahat sebelum alisnya mengernyit dalam. Dia diam sejenak sambil menelaah suara gaduh yang didengarnya barusan. Kepalanya menoleh untuk melihat bagian belakang mobil yang mana baik-baik saja. Tidak ada mobil lainnya di belakang mereka. Lantas kenapa ada suara gaduh dari arah belakang?
"Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Sekretaris Ham yang sedang mengemudikan mobil.
"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?"
Arkan tampak ingin sekali mendengar sebuah jawaban memuaskan dari sekretarisnya, karena dia merasa aneh dengan dirinya saat ini.
“Tuan tampak sedikit pucat, maka dari itu saya bertanya apakah Tuan baik-baik saja?"
Arkan berdeham, melonggarkan dasinya. "Sepertinya aku perlu beristirahat sejenak," ucapnya, menyandarkan diri.
Saat suara berisik terdengar kembali, Arkan mengamati ekspresi sang sekretaris untuk memastikan kalau apa yang didengar hanya halusinasi saja. Sekretaris pribadinya itu tampak fokus mengemudi.
Pada akhirnya, dia bisa mengabaikan suara yang menurutnya sangat asing. Telinganya juga diurut perlahan dengan harapan suara berisik itu cepat pergi dari pendengaran.
Beberapa saat setelah itu dia sampai di depan gedung kantor. Di depan sana sudah banyak wartawan yang berkumpul. Memang berita pernikahannya sangat tiba-tiba sehingga banyak pihak yang ingin menggali informasi mengenai hal itu.
Tidak masalah baginya karena memang dia sudah memutuskan untuk menikahi Raya dalam waktu dekat. Hubungan mereka sudah berjalan lama, tetapi baru sekarang dia berani untuk mengumumkannya pada semua orang.
Sekretaris Ham turun lebih dulu dan membukakan pintu keluar untuknya. Dia turun dari mobil, lalu melangkah ke gedung kantor. Hanya beberapa langkah saja karena setelah itu tanpa diduga para wartawan datang mengerumuni.
Alhasil, dia harus mundur agar keamanannya terjaga. Membiarkan Sekretaris Ham menghadapi mereka di luar, sementara dia kembali masuk ke dalam mobil sampai situasi bisa ditenangkan.
Lagi-lagi dia mendengar suara gaduh dari belakang sana, padahal setelah dilihat tidak ada orang. Apakah suara itu berasal dari para wartawan? Sepertinya dia harus memeriksa kondisi kesehatannya setelah ini. Mungkin saja beban pekerjaan telah membuat halusinasinya meningkat.
Dia menoleh ke luar jendela, kerumunan orang yang tadinya riuh mendadak senyap. Mereka semua menghadap ke satu arah yaitu belakang mobil. Tidak hanya itu saja, karena mereka juga berjalan ke arah bagasi.
Arkan yang dilanda rasa penasaran menarik diri untuk turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi.
Seketika semua orang beranjak ketika Arkan ikut di dalam kerumunan. Sekretaris Ham langsung membuka bagasi mobil, perlahan sumber suara semakin jelas terdengar. Mereka melebarkan mata ketika melihat seseorang berada di dalam sana, tidak terkecuali Arkan yang sangat terkejut karena mendapati orang asing berada di dalam bagasi mobilnya.
"Aku hampir saja ... mati ...."
Wanita asing itu terengah-engah dengan keringat yang bercucuran, tampak sedang berusaha mengambil napas, lalu turun dari dalam bagasi dengan gerakan tidak beraturan.
Arkan terpaksa memegangi tubuh yang seolah lemas itu ketika hampir saja terjatuh. Mengalihkan tatapan dari mata wanita itu, dia melirik ke arah bagasi mobil yang isi koper bawaannya sudah berserakan.
Sekretaris Ham yang ikut melihat pemandangan tidak terduga langsung menutup bagasi mobil, tidak membiarkan ada wartawan yang mengambil foto. Setelah itu, dia menarik wanita yang masih bersandar pada Arkan dan membuat wanita itu berdiri tegak kembali.
"A-apakah wanita ini calon istri yang di maksud?" tanya salah seorang wartawan usai selesai menilai penampilan yang dilihat. Tanpa ada yang mengira, pertanyaan itu telah menjadi bumerang dalam kehidupan dua orang yang terlibat dalam kesalahpahaman publik.
Siapa yang tidak terkejut dengan kemunculan seseorang dari bagasi mobil? Terlebih mengenakan gaun pengantin membuat berita pernikahan Arkan benar-benar terjadi, yang pasti tidak seperti rencana sebenarnya.
“Anda berpikir untuk menyembunyikan pernikahan dari semua orang?"
Pertanyaan lainnya dilontarkan kepada Arkan, sebuah tape recorder mini itu disodorkan padanya. Sekretaris Ham langsung mengambil peran untuk menghalangi para wartawan mengambil gambar ataupun mencari informasi, merentangkan tangan di depan Arkan agar orang-orang sulit menerobos.
"Apa kalian hari ini akan pergi ke tempat acara pernikahan?"
Para wartawan tidak mudah berputus asa, beralih mempertanyakan perihal pernikahan pada wanita bergaun pengantin yang masih terlihat kebingungan lantaran tidak mendapatkan jawaban dari Arkan. Mereka melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali, berharap ada informasi penting yang bisa didapatkannya mengenai Arkan, seorang pria yang selalu menjadi sorotan perhatian setelah mengambil alih untuk mengelola perusahaan besar di kota itu.
"Bolehkah kami tahu siapa nama Anda?"
Suasana menjadi hening usai pertanyaan itu dilontarkan seolah mereka semua di sana sangat penasaran akan jawabannya. Lunar memperhatikan sekeliling dengan mata terbuka lebar. Semua orang mengelilinginya dan juga memelototi tanpa ingin memalingkan perhatian darinya.
"Lunar." Dia berpikir dengan mengatakan namanya, mungkin dia akan berhenti dipelototi.
Sayangnya, Lunar semakin diserbu dengan pertanyaan beruntun yang tidak ada habisnya. Wartawan menanyakan tentang hubungannya dengan pria yang bernama Arkan. Nama itu terdengar sangat asing di telinga Lunar, apalagi mereka baru pertama kali bertemu.
"S-saya tidak kenal dengan pria yang bernama Arkan."
Lunar melirik orang yang berdiri di belakang pria yang merentangkan tangan. Apakah Arkan yang di maksud adalah pria yang mengerutkan dahi tersebut? Dia baru sadar akan siapa orang yang dibahas.
Para wartawan tampak saling berbisik satu sama lain. Mereka yang mendengar pengakuan itu berpikir kalau sang wanita bergaun pengantin hanya membual saja atau bisa jadi siasat agar pernikahan tidak diketahui.
Arkan sudah berusaha keras untuk menyembunyikan siapa calon yang akan dinikahi. Sekarang semuanya telah terbongkar karena mereka akhirnya menemukan siapa calon tersebut. Itu adalah menurut pemikiran mereka.
"Lunar adalah calon pengantin yang disembunyikan oleh Arkan. Kita harus menyebarkan beritanya sekarang juga."
Arkan yang kian marah di belakang sana karena situasi semakin memburuk pun segera menarik Lunar masuk ke dalam mobil bersamanya. Hari itu benar-benar bencana, semua rencana yang disusunnya secara rapi harus berantakan karena kehadiran wanita yang tidak diketahuinya siapa.
Bagaikan hama yang mengganggu, dia sama sekali tidak menginginkan pengacau dalam hidupnya, terlebih di dalam hubungannya dengan Raya.
Arkan ingin melampiaskan segala kemarahannya pada Lunar saat itu juga, tetapi para wartawan masih berada di sana, menggedor-gedor jendela seperti kawanan gagak. Sekretaris Ham sendiri bergegas menyusul dan melajukan mobil, meninggalkan kekacauan yang masih meradang di kerumunan.
"Ke-ke mana kalian akan membawaku? T-turunkan aku!" Lunar berteriak, mencondongkan tubuh ke depan agar bisa menghentikan pria yang mengendarai mobil, menarik lengan pria itu agar berhenti secepatnya. "Berhenti sekarang juga!" teriaknya lagi.
Arkan yang tidak ingin terjadi bencana lainnya menarik Lunar agar menjauh dari Sekretaris Ham. Perlawanan terjadi sehingga dia terpaksa menggunakan kekuatan agar kekacauan tidak bertambah.
Arkan merengkuh wanita yang tidak ingin diam itu menggunakan kedua tangan, menahan berontak sampai Lunar lelah dengan sendirinya. Meskipun begitu, dia tidak melepaskannya, bisa saja Sekretaris Ham diganggu lagi. Itu hanya akan membuat mereka berada dalam bahaya.
"Kalian bisa terkena hukuman penjara karena telah memaksa seseorang untuk pergi bersama kalian. Ini sama saja dengan penculikan!"
Arkan semakin terpancing kemarahannya karena orang yang membuat kekacauan sama sekali tidak memikirkan kesalahan yang dibuat. Dia mengangkat kedua bahu wanita itu agar bisa tampak bagaimana kemarahannya dengan jelas.
"Kau sudah membuatku berada dalam masalah besar! Apa kau sedang bermain petak umpet dan menjadikan bagasi mobilku sebagai tempat persembunyian?"
"A-aku hanya ...."
"Kau pasti seorang wanita gila yang bermain petak umpet dengan gaun pengantin. Dan kenapa kau melibatkan aku dalam permainanmu?"
Lunar meringis kesakitan karena bahunya diremas dengan kuat. Dia dilepaskan setelah itu dan membuatnya mundur ke belakang. Sepertinya memang benar kalau dia telah salah memilih tempat persembunyian. Ternyata dia yang berniat menghindari Nico dan Sora sampai pada melibatkan kehidupan orang lain.
Setelah perdebatan tadi tidak ada kata-kata yang terucap. Suasana di dalam mobil begitu tegang dengan kemarahan Arkan yang semakin terasa. Sekretaris Ham saja tidak berani untuk melirik ke bangku penumpang, sedangkan Lunar hanya bisa diam saja sambil mengurut bahunya yang masih sakit.
Hingga mereka sampai di depan sebuah rumah, Arkan menarik Lunar untuk ikut bersamanya. Tidak menggubris penolakan yang diterima. Dia tetap berjalan sampai mereka bisa berada di dalam sebuah ruangan. Tempat itu adalah ruang duduk yang sering dipakai Arkan ketika ada tamu penting yang datang ke rumahnya. Hari ini dia memakai ruangan itu untuk wanita asing yang telah mengacaukan hidupnya.
Kini mereka hanya berdua saja di dalam sana. Di sana baru Arkan melepaskan cengkeraman tangannya. Dia beralih duduk di sofa tunggal tanpa memedulikan Lunar lagi.
Arkan mengambil ponselnya yang bergetar, seperti dugaan kalau berita mengenai mereka sudah sampai ke telinga ayahnya.
"Sekarang aku berada di rumah bersama wanita yang telah membuat kekacauan,” ucapnya dengan geram tanpa melepaskan tatapan dari Lunar.
Lunar hanya memandang apa yang tampil di hadapannya. Pria itu tidak melepaskan tatapan darinya sejak tadi dan membuatnya diliputi rasa takut seolah dia sedang terdampar di pulau asing seorang diri, tanpa ada orang yang bisa dimintai bantuan. Ke mana dia harus mencari tempat aman untuk berlindung?
"Apa? Aku tidak akan melakukannya, Ayah."
Arkan tidak lagi melihat ke arahnya. Dari sudut pandang Lunar, pria itu kini terlihat gelisah. Tidak tahu hal apa yang membuat kegelisahan tercipta karena dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menelepon.
Arkan mematikan ponselnya secara total tidak lama kemudian, lalu meletakkannya di atas meja sebelum menatap wanita pembuat kekacauan yang dia sebutkan tadi pada ayahnya. Sekali lagi dia memperhatikan penampilan Lunar dari atas sampai bawah, sangat kotor sebagai seorang pengantin yang akan menikah.
"Apa kau orang gila?"
Lunar menggelengkan kepala sebelum menegakkan tubuhnya yang setengah beringsut. Apa yang dikatakan Arkan padanya jelas sangat menghina. Bagaimana bisa dia yang berdandan cantik dengan gaun pernikahan sebagai penampilan luar biasa, di mana hari ini seharusnya membuat semua orang berdecak kagum dikatakan sebagai orang gila? Dia masih waras!
"Kau yang sudah gila!"
"Baguslah."
Arkan sangat bersyukur akan hal itu, meskipun keputusan sang ayah masih tidak bisa diterima dengan baik. Dia tidak bisa membayangkan akan hidup bersama orang gila untuk ke depannya jika Lunar menganggukkan kepala tadi.
Pintu ruangan yang tadinya tertutup rapat tiba-tiba terbuka sepenuhnya memunculkan sosok pria yang sudah keriput kulitnya, tetapi tetap bugar untuk berjalan dengan tegap. Pria itu adalah Damien, ayahnya Arkan.
Jalannya cepat hingga bisa duduk di kursi yang ditempati anaknya dalam waktu singkat. Damien memperhatikan wanita yang termenung duduk dengan posisi sama sejak dia memasuki ruangan.
"Apa alasanmu tiba-tiba muncul dalam kehidupan anakku? Kau membutuhkan uang?" Damien langsung berucap tanpa ada basa-basi. Dia melirik perut yang tidak terlihat datar. "Arkan menghamilimu?"
Mendengar hal itu membuat Arkan langsung menyanggah, "Aku tidak melakukan hal itu, Ayah."
Bagaimana dia menghamili kalau bertemu saja baru beberapa jam yang lewat. Lagi pula dia tidak mungkin melakukan perbuatan itu pada Lunar yang sama sekali bukan tipenya.
"Kau tidak bisa menjawab?" Damien tampaknya tidak ingin mendengar sanggahan apa pun.
Lunar bingung harus menjawab pertanyaan tersebut bagaimana. Dia sudah tidak lagi mempunyai rumah dan tentu saja dia membutuhkan uang. Tetapi, terlalu licik jika dia memanfaatkan situasi hanya untuk mendapatkan tempat tinggal. Dia harus ingat kalau posisinya saat ini telah membuat kekacauan di kehidupan seseorang yang seharusnya tidak terlibat dalam pelariannya.
"Saya kabur dari pernikahan dan tidak sengaja menjadikan bagasi mobil Ar-kan,"—dia melirik pada orang yang memiliki nama sejenak, memastikan kalau dia tidak salah dalam menyebutkan nama—"sebagai tempat persembunyian. Sungguh, saya tidak tahu kalau situasinya akan menjadi rumit seperti ini. Maafkan atas apa yang telah saya lakukan, T—tuan."
Tanpa dikira keputusan Lunar adalah duduk di lantai sambil memohon. "Tolong jangan usir saya, Tuan. Tidak ada lagi tempat yang bisa saya datangi. Apa saja akan saya lakukan sekalipun harus menjadi pelayan di rumah ini."
Lunar tidak bisa memungkiri kalau dia memang membutuhkan tempat tinggal. Jika luntang-lantung di jalan bisa saja dia tertangkap oleh Nico dan Sora kembali. Melalui pria yang terlihat seperti memiliki kekuasaan untuk melindungi, sepertinya dia bisa menghindari pernikahannya dengan Nico. Tidak apa-apa dia menjadi pelayan, asalkan setelah ini dia bisa bebas. Harga dirinya disingkirkan sementara waktu agar dia mendapatkan tempat tinggal.
Damien melirik anaknya yang tampak sangat marah. Dia juga begitu kalau tidak karena harus mencari jalan keluar permasalahan yang terjadi. Jika dia meloloskan wanita asing itu, bisa saja media datang menemui untuk menggali informasi dan bisa saja hal yang tidak-tidak dikatakan wanita asing itu. Sebaliknya jika dia tidak meloloskan, semua berita akan segera mereda.
"Untuk sekarang pilihan terbaik adalah pernikahan. Kalian akan menikah secepatnya."
"Apa?! Me-menikah?" Lunar membelalakkan mata.
Arkan yang sudah mengetahui keputusan itu lebih dulu tidak terlalu terkejut lagi. Dia masih tetap tidak menerima kalau dia akan menikah dengan wanita yang tidak dikenali, apalagi dia sudah memiliki pilihan sendiri untuk pendamping hidup. Semua hancur dalam sekali hantaman saja. Apa dia benar-benar harus menikahi Lunar? Tidak adakah jalan yang lebih baik dari itu?
Damien yang memahami kalau mereka yang direncanakan untuk menikah tidak setuju langsung mengatakan maksudnya lebih jelas, "Hanya satu tahun saja sampai perpisahan kalian diumumkan.”
Itu adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka berdua harus menikah.