"Cinta kadang memang gila. Percayalah, bahwa cinta bisa membuat orang gila dalam waktu satu detik saja."
Relva melangkah menjauh dari kerumunan orang-orang yang haus akan info. Tentu saja, bayangkan jika dia berada di tengah-tengah mereka, bisa dipastikan mereka semua akan mengeluarkan tinta beracunnya. Dan di sinilah Relva berada. Di belakang sekolah, sambil membayangkan kejadian seminggu yang lalu.
"Rel!" Teriakan super toa Olivia membubarkan pikiran Relva.
Gadis itu selalu membuat dirinya dekat dengan malaikat maut. Salah sedikit saja, dia akan berada di alam lain. Relva, kadang heran. Mengapa dia haruss mempunyai kakak modelan seperti itu.
"Nggak usah teriak-teriak nyet,"ucap Relva sinis.
"Hehe ... maaf. Gue mau tanya," ucap Olivia dan duduk di samping Relva.
"Lo pasti kepo kan? Kenapa tiba-tiba ada gosip gue sama Alvin."
"Kok tahu, Mbak?" tanya Olivia nyengir kayak kuda. Sepupunya itu selain kepo, dia juga haus akan info. Seperti cewek pada umumnya, bergosip adalah keahliannya. Jadi, tidak heran para cowok selalu menghosting-nya. Kadang membuat dirinya pusing dengan tingkah sepupunya. Tapi, mau heran. Kelakukan dirinya pun sama seperti kakaknya.
Banyak yang mengira mereka bukan anak dari keluarga kaya karena kelakukan mereka lebih mencerminkan remaja pada umumnya. Lebih suka main, jajan sembarangan. Bagi mereka makanan kaki lima atau di pinggir jalan, jauh lebih enak.
Dari pada di restoran ternama. Bukan hanya ramah dikantung. Namun, ramah untuk perut juga. Siapa yang tidak suka dengan makanan. Apa lagi yang mengandung lemak, sudah tahu tidak sehat. Masih saja dimakan, karena yang tidak baik itu kadang sering membuat nikmat.
"Gue udah tebak," ucap Relva mendengus.
"Yang masih gue pikirin. Kapan lo jadian sama Alvin? Kok tiba-tiba ada gosip, lo putus sama dia?" tanya Olivia kepo.
Keingintahuan kakaknya sudah mendarah daging. Sangat tidak ramah untuk dilanjutkan. Maka, jalan satu-satunya adalah. Menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, yang akan membuat dirinya terjerumus dalam lubang kebingungan.
"Gue males bahas itu. Gue cabut," ujar Relva pergi dari hadapan Olivia yang sedang menahan amarah.
"Heran gue sama sepupu bangsat," ucap Olivia dan pergi dari tempat itu.
Kesal dengan sudaranya, Olivia lebih memilih ke kantin. Biarkan cacing di perutnya diberi asupan makanan terlebih dahulu, masalah sepupunya. Biar nanti antek-anteknya yang akan mencari info terbaru dan akurat, terpercaya.
***
Hari ini Relva dan Olivia berniat mengunjungi toko buku. Mereka sudah sangat lama tidak pernah mampir untuk membeli novel atau komik. Biasanya sekali satu minggu mereka selalu melakukan hal tersebut. Tapi, semenjak mereka ketahuan membeli novel dengan jumlah yang banyak. Membuat mereka dibatasi.
"Ingat, Rel. Lo harus beli dua, jangan kebablasan lagi." Peringat Oliv.
Sudah cukup kemarin mereka diceramahi habis-habisan. Kalau hanya satu tidak apa-apa. Tapi, ini malah seluruh rumah ikutan andil. Pekerja di rumah mereka pun ikut andil. Jadi, cari aman saja. Besok bisa beli lagi, kalau buku yang sudah mereka beli habis terbaca.
"Ya. Takut banget sih, Kak."
"Ya sih. Orang kayak lo kalau beli duka lupa waktu, yang disalahin bokap malah gue. Kan, kamvret lo. Pengen hujat, gak bisa." Kesal Oliv.
Pasalnya, gadis itu selalu membuat dirinya terkena masalah. Dan, itu selalu berdampak padanya. Ingin rasanya membuang adiknya itu. Tapi, sayang. Hatinya terlalu lembut.
Melihat foto-foto masa kecil, memperlihatkan betapa bahagia keluarganya dulu. Entah apa yang terjadi, sampai keluarga mereka seperti sekarang. Ingatan masa dulu, tidak pernah bisa diingatnya.
Entah kejadian apa yang membuat dia lupa akan hal masa kecilnya. Bahkan, dia tidak pernah tahu rupa ibu-nya. Kadang, dia merasa iri dengan keluarga temannya, yang selalu diantar oleh kedua orang tuanya. Tapi, dia hanya bisa melihat kebahagiaan keluarga bahagia itu.
"Kenapa? Ada masalah? Kalau kamu ada masalah cerita. Kenapa malah ke ruangan papa?" tanya Oliv, memperhatikan foto yang terpajang di sana. Hanya ada empat orang. Dirinya dengan Relva, dan dua laki-laki tangguh.
Rasa rindu dan sedih beradu satu dengan kamar yang sunyi. Mereka merindukan sosok bidadari di rumah ini. Oliv memperhatikan adik sepupunya, pasti gadis itu sangat merindukan pelukan seorang ibu. Namun, gadis itu lebih memilih memendamnya.
Delapan belas tahun tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu, bukanlah hal yang mudah. 18 tahun tanpa pelukan ibu, bukanlah perkara biasa, 18 tahun tanpa sosok ibu, bukan tidak mungkin ada rasa kesepian dalam hati dan gadis di sampingnya ini, sungguh luar biasa kuatnya. Dari bayi, gadis itu tidak pernah merasakan kasih sayang ibu.
"Ayok keluar, Kak. Gue udah selesai lihat, Papa. Laper, enaknya makan ramen gak sih?"
"Ramen endasmu. Ayok beli telur gulung aja, ramen habis. Harus ke korea dulu buat beli," asal Oliv.
"Bilang aja males bikin, lagi pengen makan telur gulung, 'kan?" Cengiran Oliv, menjawab semuanya. Gadis itu tidak pernah jauh-jauh dari telur gulung. Bahkan, dia tidak pernah kapok, walau dia sampai bisulan.
Gadis itu selalu saja beli jajanan itu, kalau satu bungkus sih. Mungkin masih wajar, lah ini. 5 bungkus, dimakan sendiri, bagaimana tidak bisulan coba. "Ayo, gue udah kepengen makan telur gulung, Rel."
Relva memutar bola matanya malas, melihat kelakukan kakaknya itu tidak pernah ingin mengalah. Dan, selalu dia yang harus mengalah. Jika dipilih, ingin menukar sodara. Maka, dia orang paling terdepan ingin menukar sodaranya, tentunya yang penurut.
Setelah adegan cekcok yang cukup panjang, pada akhirnya mereka di sini. Menunggu pesanan mereka, yang beberapa menit lalu mereka pesan. Jangan tanya siapa yang paling bersemangat.
"Tadi katanya males makan telur gulung. Tapi, udah lima tusuk aja lo. Dusta banget," sindir Oliv. Pasalnya, gadis itu ngotot tidak ingin membeli telur gulung tapi sekarang malah dia yang bersemangat.
"Diem aja, Kak. Gue lagi menikmati ini."
"Serah deh."
Harus banyak-banyak bersabar memiliki sodara seperti Relva. Gadis nihil kepekaan, yang bisanya bikin emosi orang. Pantas saja laki-laki banyak yang tidak tahan dengannya, harus laki-laki berhati baja. Dan, tidak pekaan. Mungkin, itu baru cocok.
***
Relva menunduk, tak berani menatap sepasang mata yang terus saja melihatnya. Sedangkan Oliv, menahan tawa melihat ekspresi Relva. Gadis itu baru saja membuat ulah. Tidak ada kapok-kapoknya. Sambil meremas ujung bajunya, Relva terus saja merapalkan doa. Berharap papanya luluh.
Laki-laki yang masih mengenakan jas kantor itu, malah semakin memancarkan api amarahnya. Berjalan mendekat, sambil menatap putrinya yang sedari tadi terus menunduk.
"Siapa yang suruh kamu, main futsal lagi?"
Relva diam, dia masih tetap dengan posisinya. Dia tidak bisa membantah perkataan sang papa. Tapi, dia juga ingin kembali seperti dulu, ingin bermain seperti teman-temannya. Apa salahnya jika dia ingin bermain futsal, bukankah itu hal yang lumrah atau biasa.
"Papa udah bilang ke kamu. Gak boleh lagi main futsal, kamu ini cewek. Berapa kali papa harus ngasih tahu kamu." Perkataan Mahendra benar-benar membuat dirinya tertampar. Selama ini dia selalu melanggar perkataan papanya.
"Pa, sebaiknya istirahat dulu. Papa kan baru pulang. Biar Oliv yang urus masalah ini. Oliv janji. Relva gak akan main futsal lagi," ucap Olivia, berusaha meredakan emosi Mahendra.
Mahendra menghela nafas panjang, lalu berjalan meninggalkan mereka. Relva, menatap nanar punggung papanya. Dia tanpa sadar menangis, seharusnya dia tidak seperti ini. Pasti laki-laki itu sangat letih, dan dia selalu membuat ulah. Yang selalu membuat laki-laki itu lelah dengan tingkahnya.
"Lo mandi, terus temui papa. Minta maaf," ucap Oliv, menepuk pundak Relva. Walaupun gadis itu sering melanggar peraturan papanya. Tapi, gadis itu pasti akan menangis atas perbuatannya.
Memang dari dulu, dia tidak pernah diizinkan ikut futsal. Tapi, pada dasarnya Relva bar-bar. Jadi, mau bagaimana lagi. Susah untuk membuat gadis itu menmgerti.
Di ruangan yang kedap akan suara-suara bising, hanya ada satu bingkai foto dan lampu mini yang menerangi pengelihatan. Laki-laki itu berdiri, sambil mengelus foto itu. Mengembus kan nafas berkali-kali.
"Putri kita udah besar, bahkan dia sama keras kepalanya denganmu. Tapi, jika dimarahi, dia selalu menunduk," ucap Mahendra. Menatap wanita itu, yang selalu membuat dirinya kuat. Akan tetapi, sekarang wanita itu sudah tidak bersamanya lagi, meninggalkan dirinya dan putri kecilnya.
"Jika kamu melihatnya, pasti kamu akan heran. Kenapa dia sangat mirip denganmu. Baik dalam tingkah laku, ataupun kesukaan. Dia seperti membawa dirimu kembali, bahkan untuk memarahinya aku tidak sanggup. Seharusnya kamu bersamaku, membesarkan dia. Tapi, kita ditakdirkan untuk tidak bersama," kata Mahendra, menghapus air mata yang lolos ke pipi.
Sekali lagi dia mengusap foto itu, seakan hanya hal itu yang bisa membuat hatinya lega. Setiap waktu, hanya itu yang mampu membuat dirinya tenang. Mau selama apa pun orang itu pergi, kenangannya masih membekas dalam hati. Sampai kapan pun, akan tetap sama.
Terkadang hati itu tidak pernah bisa bohong, kita boleh mengucap hal sebaliknya. Tapi, di hati kecil kita. Tersirat kata sebaliknya. Karena itu, hati tidak pernah salah. Ikutilah kata hati, maka kamu akan damai menjalani kehidupan ini.
"Lebih baik pergi dengan rasa sakit. Tapi, bisa sembuh nantinya, daripada masih bertahan. Tapi, semakin sakit."
Relva terus berjalan tanpa mendengarkan celotehan dari para siswa yang berbisik-bisik. Baru saja Relva ingin masuk ke kelas, tapi tiba-tiba saja ada tangan yang menyeretnya dengan sangat kasar. Hal itu pun tak luput dari pengelihatan siswa-siswi.
"Lepasin gue, Bangsat!" teriak Relva ke orang yang telah membuat tangannya sakit dan hatinya.
"Gue, mau ngomong sama lo."
"Mau lo apa sih, Vin."
Setelah sampai di taman belakang sekolah, Relva mendorong laki-laki itu hingga terhuyung ke belakang. Dia sudah sangat jengkel dengan sikap laki-laki itu. Rasanya ingin sekali menonjok muka sok gantenya, walau memang ganteng sih.
"Jangan pernah, sentuh gue," ucap Relva sinis.
"Oke, gue ngggak akan sentuh lo, tapi jawab. Kenapa lo benci sama gue sekarang."
"Alvin Pratama. Asal lo tahu, kesalahan lo yang buat gue benci!" Relva memandang dengan sinis, dengan mata yang memancarkan kebencian.
"Gue tau, gue salah, tapi kasih gue buat jelasin ini, Rel," bujuk Alvin memohon.
"Gue cabut." Dengan terburu-buru Relva pergi dari hadapan Alvin.
Alvin Pratama, cowok yang notabane-nya mantan Relva, dia kapten futsal sekaligus most wanted sekolah SMA MELATI. Kulitnya yang putih dan memiliki badan yang tinggi, agak sedikit kurus. Membuat dia semakin digila-gilai oleh kaum wanita.
Tapi tidak dengan Relva, gadis itu sangat sulit dijinakkan, butuh waktu dua tahun bagi Alvin untuk mendapatkan gadis itu. Ya, dua tahun. Relva bukanlah gadis yang gampang untuk didapatkan, walaupun gadis itu sangat cerewet dan gampang berbaur dengan siapa pun.
Alvin menatap punggung perempuan yang dicintainya itu, ada rasa menyesal di hatinya, karena memilih jalan yang membuat orang, yang amat dicintainya itu, merasakan sakit hati yang siapa pun tidak ingin merasakannya. Termasuk orang yang lagi baca.
***
Olivia terus menggoyangkan lengan Relva. Tapi, Relva tidak terusik sama sekali. "Rel. Lo ngomong dong, masa kacangin sepupu lo yang cantik ini," ucap Olivia.
"Cantik dari hongkong," ucap Relva dan tersenyum.
"Nah gitu dong. Masa lo galau mulu sih," kata Olivia yang mendapat hadiah jitakan dari adik sepupunya itu.
"Dasar, sepupu kurang asem."
"Bodo amat," ucap Relva dan pergi meninggalkan Olivia sendiri di sana.
"Kebiasaan, bodmat juga deh," ucap Olivia dan mengejar sepupunya.
Sekarang Relva dan Olivia berada di gerbang sekolah, menunggu jemputan yang tak kunjung datang. Bukan sekali ini saja mereka di posisi seperti sekarang ini, rasa bosan akan menunggu selalu bersarang di hati mereka. Letih, rasa ingin mencaci maki. Namun, tidak baik mencaci orang.
"Ck! Ini nih, gue benci nunggu," keluh Olivia.
"Nunggu doi peka aja lo sabar," sindir Relva.
"Eh, Rel Kereta api! Denger baik-baik, yah. Gue nunggu doi peka juga atas saran lo," celetuk Olivia kesal. Adiknya itu memang kacang lupa kulitnya, dia sendiri yang menyarankan hal itu. Tapi, sekarang malah begini.
"Bodmat. Tuh, jemputan udah dateng," ucap Relva, dan masuk ke dalam mobil yang baru saja terparkir di gerbang sekolah.
"Sabar Oliv, adik sepupu lo itu emang gitu, sabar aja." Olivia mengelus dada, lalu menyusul Relva masuk. Mobil mereka menghilang di antara mobil yang lainnya.
***
Angin berhembus dengan kian kencang, menerpa kulit wajah. Merasakan dinginya malam saat ini. Mencoba untuk tetap tegar dalam kehidupan, berharap semua cobaan sirna.
Menatap langit-langit, untuk melihat betapa indahnya bintang di atas. Membayangkan semua masalah yang terjadi, entah apa yang akan dilakukan. Rasanya sangat sulit dengan kehidupan ini.
Olivia menatap nanar gadis yang sedari tadi terus meraung di bawahnya hujan. Hatinya merasakan sakit yang amat luar biasa, melihat gadis itu seperti kehilangan arah. Ingin memeluk tubuh mungil itu. Akan tetapi, jika dia melakukan itu akan semakin menjadi.
"Non, apa gak kasihan lihat Non Relva seperti itu?"
"Gak papa, dia butuh waktu sendiri. Kalau dilarang akan semakin menjadi," kata Oliv.
Sekitar 30 menitan sudah Relva duduk sambil menangis di bawah guyuran hujan. Jika terus dibiarkan seperti itu, gadis itu akan sakit. Dan, jika Mahendra tahu putrinya seperti itu entah apa yang akan terjadi. Membayangkan nya saja, sudah tidak sanggup.
"Masih ingin nangis, sampai papa pulang?"
"Kak, gue capek."
"Oke, mandi air hangat, terus istirahat."
"Hm."
Relva berjalan sempoyongan, rasanya hati dan tubuhnya ikutan remuk. Kenangan itu masih membekas dengan jelas, bukan karena laki-laki kemarin. Namun, laki-laki yang mengubah hidupnya, laki-laki yang selalu ada saat dia rapuh mau pun bahagia, laki-laki yang selalu menomor satukan dirinya dari apa pun, laki-laki yang tidak pernah mengeluh akan sifatnya, laki-laki yang amat luar biasa dalam hidupnya.
Entah kesalahan apa yang dibuat dulu, sehingga Tuhan menghukumnya dengan mengambil laki-laki itu dari sisinya.
"Kenapa ... kenapa dia malah ngambil kamu?"
"Relva di sini butuh kamu, sangat butuh," lirih Relva, sambil terus memeluk bingkai foto yang tidak pernah bisa dihilanglkan itu. Hanya itu kenangan satu-satunya tentang laki-laki itu, hanya sebingkai foto itu yang mengobati rasa rindunya.
Mau sekeras apa pun dia ingin laki-laki itu kembali. Tetap saja tidak akan pernah terwujud. Sebab, laki-laki itu sudah berada di tempat yang jauh dan indah. Yang tidak bisa dirinya gapai, kecuali memang waktunya. Tuhan kadang terlalu menguji dirinya, buktinya selalu mengambil orang-orang yang amat disayangnya.
Memilih tidur adalah hal yang baik, dari pada menangis seperti ini. Hari esok cukup sulit untuk dilalui, harus cukup banyak tenaga untuk melawan hari esok, bukan. Tidak ada yang tahu hari esok seperti apa, setidaknya dirinya menyiapkan diri, sewaktu-waktu bisa saja semesta tidak adil lagi.
***
Pagi yang cukup cerah, tidak terlalu buruk untuk sekedar tersenyum. Agar terlihat baik-baik saja, memang harus berpura-pura dulu bukan.
" Non, mau sarapan apa?"
"Apa aja, Bi. Kak Oliv masih tidur?"
"Non Oliv dia pagi-pagi buta udah pergi, Non."
Relva mengernyit bingung, tidak biasanya sodaranya pergi sepagi itu tanpa dirinya. Ada apa lagi ini. Tidak ingin pusing dengan semua yang terjadi, Relva lebih memilih mengabiskan sarapannya. Karena hari ini, dia harus buru-buru untuk mencari album suaminya. Siapa lagi jika bukan suami halunya.
"Pagi!" Relva menatap malas orang itu, dia yakin gadis itu baru saja mendapat kupon yang sangat luar biasa pastinya. Sampai balik-balik membawa senyum paling menjengkelkan.
"Kenapa baliknya senyum gitu?"
"Biasalah baru ketemuan," kata Oliv tersenyum menampilkan deretan gigi-giginya.
"Oh."
"Oh doang? Emang gak ada enaknya ngasih tahu." Jengkel Oliv, pergi meninggalkan Relva sendiri.
Relva hanya acuh tak acuh, baginya tidak ada pentingnya mendengar cerita kakaknya yang hanya cinta sebelah pihak itu. Walau begitu entah kenapa gadis itu selalu bahagia. Padahal laki-laki itu hanya main-main.
Lebih tepatnya tidak punya rasa. Ingin memberi tahu kan hal itu kepada kakaknya, namun takut gadis itu akan bersedih. Walau dia tahu gadis itu sangat pandai menyembunyikan kesedihan, tidak seperti dirinya.
"Mau ikut ke toko buku?"
"Gak, mau nonton konser gue mah." Oliv memutar mata malas, lagi-lagi konser para suami halunya.
"Yaudah, gue berangkat dulu. Lo pulang sebelum zuhur, entar papa tiba-tiba pulang."
"It's okay, hati-hati lo. Jangan sampai ketemu dia sama cewek lain," ledek Relva.
"Bjir lo." Puas rasanya melihat muka kesal kakaknya, itu adalah sebagian hobinya.
Hari yang cerah, senyum yang cerah juga. Hari ini dia akan menonton dengan tenang. Semoga saja tidak ada gangguan. Semoga.
"Mbak, konsernya belum di mulai, 'kan?"
"Belum. Tapi, konsernya dibatalkan, karena ada beberapa kendala, Mbak."
Why? Jadi, dia gagal menonton konser 23 bujang. Kenapa, bukankah semuanya sudah fiks kemarin. "Kok bisa gitu, Mbak? Gimana sama tiket konsernya?"
"Oh itu, sebagai gantinya Mbak bisa makan sepuasnya di sini dan nonton konser idol lain," kata wanita itu tersenyum manis.
Bagaimana bisa begitu konsepnya? Jika begini, dia tidak akan mau jauh-jauh pergi hanya untuk menonton hal yang tidak diinginkan. Tapi, jika tidak diambil, mubazir tiket konsernya.
"Haish, terpaksa."
Relva dengan kesal melangkah menuju tempat konser, bukan tidak suka. Tapi, niatnya ingin menonton konser NCT sudah dari lama. Dan, baru bisa kesampaian. Eh, ternyata semesta tidak mengizinkan untuk dia melihat suami-suami bujangnya. Sungguh menyesakkan.
Selama acara dimulai, Relva hanya diam. Sesekali tersenyum, sambil melihat sekeliling. Mereka berteriak dengan kencang, seakan itu adalah hal yang luar biasa. Bagi dirinya, itu hanyalah biasa. Ya, karena itu bukan 23 bujangnya. Lupakan tentang mereka, memilih menikmati alunan musik dan suara-suara para penggemar. Setidaknya tiket itu tidak sia-sia.
Di tempat lain Oliv segera melangkah menjauh dari buku-buku itu. Entah mengapa perkataan Relva selalu benar terjadi. Laki-laki itu bersama cewek lain. Ingin bertanya, namun status mereka tidak jelas. Jadi, di sini dia yang terlalu berharap atau orang itu sangat pintar membuat hatinya seperti sekarang ini.
Memilih untuk pergi dari tempat itu. Dan, tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki itu. Memilih untuk membuang rasa ini, berharap ke manusia memang tidak baik. Jadi, sekarang dia harus benar-benar bisa melupakan laki-laki itu.
"Lupakan dia, lupakan," ucap Oliv sambil menyeka air matanya yang lolos jatuh.
Hari ini, hari yang tidak akan pernah dia ingat. Sebab, itu terlalu menyakitkan. Laki-laki itu memang tidak pernah menaruh rasa untuknya, hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Dia saja yang terlalu berharap.
Olivia berjalan sambil sesekali mengumpat, mengeluarkan sumpah serapah. Mengapa hatinya begitu bodoh. Benar-benar sangat bodoh.
"Woy! Kak Oliv!" Suara cempreng itu seperti tidak asing. Oliv mencari suara tadi, sambil celingak-celinguk. Dan, terlihat seorang gadis dengan permen gulali yang begitu banyak dipeluknya.
Mengembuskan nafas letih, sambil mengusap sisa air matanya. Konyol sekali, dia menangis karena laki-laki seperti itu. Jika Relva tahu, bisa dibuly pastinya. Jadi, sebisa mungkin adik durhakanya itu tidak boleh mengetahui hal ini.
"Lo ngapain bawa gulali sebanyak itu? Mau jualan?"
"Enak aja, ini nih. Karena gue gagal nonton konser NCT. Makanya gue dikasih permen gulali, sayang kalau gak diambil," ujar Relva, dengan muka kesalnya.
"Gue juga lagi kesel, cowok itu ternyata punya cewek lain," ucap Oliv, detik berikutnya dia merutuki ucapannya. Baru saja dia was-was agar tidak diketahui oleh gadis itu. Sekarang, malah dirinya yang membocorkannya.
"Apa gue bilang, udahlah. Cowok gitu gak usah dipikirkan. Nih, gue bagi permen satu. Biar galaunya hilang." Di luar dugaan, ternyata adik durhakanya tidak membully nya, atau mentertawakannya. Ada apa dengan otak gadis itu, apa konslet.
"Kenapa? Makan, cinta tak selamanya indah, Kak," ucap Relva, berhasil membuat Oliv kesal.
"Ingin berkata kasar."
Mereka berdua tertawa bersama. Untuk hari ini, mereka sama-sama tidak beruntung. Terutama tentang cinta, mereka sama-sama dikecewakan oleh laki-laki. Memang benar, cinta tidak selamanya indah. Hanya omong kosong.
Dua bersodara itu lebih memilih menikmati permen gulali, dari pada berlarut-larut dengan perasaan. Toh jika sudah waktunya, Tuhan akan mengirimkan orang yang tepat untuknya. Tidak harus pusing dengan urusan seperti itu lagi, biarkan semuanya mengalir dengan semestinya. Biarkan semesta mengambil peran, dan nikmati hidup ini dengan sekenarionya.
Yakin hari esok akan indah, semua hanya butuh kesabaran. Tidak harus terburu-buru, karena yang instan itu tidak selamanya awet. Jadi, jalani hidup dengan semestinya. Passion to live.
"Cinta itu datang dengan sendirinya tanpa kita duga."
Relva sedang asik membaca novel kesukaanya, jangan di tanya dia akan makan atau tidak, jika sudah bersangkutan dengan novel. Maka, tidak ada yang boleh mengusiknya.
Baginya novel itu adalah candu. Tidak bisa dipisahkan lagi. Bahkan, dia mampu menghabiskan satu novel dalam sehari. Relva sedang fokus-fokusnya membaca, malah diganggu dengan suara deringan ponsel.
Drrt ... drrttt ....
"Halo Rel," ucap orang di sebrang.
"Ya, kenapa?" balas Relva malas.
"Boleh minta bantuan, gak?"
"To the point aja," ucap Relva sambil menahan kekesalannya.
"Gue boleh, minta nomer sepupu lo gak?"
"Ya, ntar gue kirimin," ucap Relva dan mematikan secara sepihak.
Mood-nya sudah hancur, gara-gara diganggu oleh orang tadi. Dibukannya aplikasi Whatsapp dan banyak pesan yang tidak dibalasnya. Setelah nomer kakak sepupunya dikirim ke orang yang tadi, Relva berniat mematikan datanya. Tapi, tiba-tiba saja ada satu pesan yang membuatnya penasaran.
Anda telah ditambahkan ke grup ini.
Kira-kira kata itu yang ada di ponsel, Relva. Siapa yang memasukkannya. Pasalnya tidak ada yang dikenal di grup tersebut.
"Siapa yang masukin gue," gumam Relva.
Grup Ramadhan
081539****: Halo, nama saya Maulida, panggil aja kak Maulida.
082341****: Nama saya Steven.
082356****: Kenalin nama saya Mars, save ya.
082356****: Yang belum kenalan, mana nih?
Relva sebenarnya malas dengan grup ini, tapi dia sudah telanjur masuk. Tidak ada salahnya juga kan untuk ikut nimbrung. Agar tidak disangka sombong, atau cuek.
Kenalin nama Saya Relva Arillia, panggil aja Relva.
081539****: Salken Relva, save ya.
082356****: Salken kak Steven, save ya.
Relva tidak tahu mau bicara apa di grup itu, jadi dia lebih memilih mematikan data. Tapi, tidak lupa menyimpan nomer mereka. Siapa tahu dibutuhkan suatu saat nanti. Siapa yang tahu hari esok, bukan. Jadi, untuk jaga-jaga saja.
"Relva!" Suara super toa sepupunya itu benar-benar mengganggu telinganya. Selalu seperti itu, ingin menukar sodaranya itu. Tapi, belum ada yang cocok jadi penggantinya.
Braak!
Suara pintu dibuka paksa, tentu saja Relva murka dengan orang itu. Sudah dikatakan, kalau berhadapan dengan pintu itu. Mohon dengan lembut buka atau tutupnya. Bahkan, Relva sengaja menempel kata-kata peringatan di pintu kamarnya.
Dengan kata-kata, 'Mohon lembut cara membuka pintu atau penutup pintu kamar Relva.' Begitulah tulisan terpampang jelas di pintu kamarnya. Tapi, memang dasar kakaknya itu selalu membuat dirinya kesal. Seperti sekarang ini.
"Olivia!" ketus Relva, saat sudah di depan sepupunya itu. Tolong, untuk hari ini saja. Dia ingin tenang tanpa diganggu.
"Santai dong my sepupu," cengir Olivia.
"Ngapain lo masuk," ucap Relva memberikan tatapan tajam.
"Gue, cuma mau ngajak lo jalan-jalan."
"Males."
"Rel, ayok dong," ucap Olivia memelas.
Ini yang tidak dia suka dari kakaknya, selalu mendesaknya. Sampai dia luluh, lagi pula, jika tidak dituruti gadis itu akan terus merengek sampai benar-benar terpenuhi. Jadi, sesabar-sabarnya saja.
"Oke." Relva hanya tidak ingin berlama-lama meladeni sepupunya itu. Jadi, terpaksa dia menyetujui ajakan Olivia. Ingat! Hanya terpaksa.
"Allhamdulillah," ucap Olivia sambil menyeret Relva keluar. Ya, memang tidak sulit membuat Relva ikut dengannya, karena memang Relva tidak mau adu mulut dengan sepupunya yang tidak waras itu.
***
Di sinilah mereka sekarang. Berdiri sambil melihat orang yang berlalu lalang, Relva sendiri masih bingung tujuan kakaknya itu membawanya ke sini. Yang pasti sekarang ini dia sedang was-was. Ide gila apa lagi yang akan dilakukan oleh gadis disamping nya ini. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Selebihnya dia hanya pasrah dengan hal yang akan terjadi selanjutnya.
"Lo udah siap, Re?" Ini yang tidak disuka dari kakaknya ini, siap apa? Dia bahkan tidak tahu apa isi pikiran kakak kelewat pintarnya itu. Saking pintarnya, ingin sekali dimutilasi.
"Kita mau ngapain?"
"Ck! Lo lihat di depan kita ada apa?" Relva sekali lagi melihat ke depan dan sekeliling. Memutar isi kepala terutamanya, menebak-nebak apa sebenarnya isi kepala sang kakak. Berharap tidak membahayakan dirinya terutama.
"Aku lihat ada masjid," kata Relva sambil sekali lagi melihat ke depan. Berharap tebakannya benar.
"Yap, itu emang benar. Terus apa lagi?" Oke ini sudah membuat Relva jengkel, kenapa berbelit-belit. Langsung pada intinya bisa, kan. Menyebalkan memang.
"Intinya langsung." Relva ingin sekali membuang kakaknya ini.
Oliv terkekeh geli melihat raut wajah kesal Relva. Sebenarnya bisa saja dia langsung pada intinya. Tapi, tidak ada salahnya bukan mengerjai sang adik. Kapan lagi bisa membuat gadis itu kesal.
"Itu ada sandal Andry," bisik Oliv, agar tidak didengar oleh orang.
"Terus?"
"Mau gue sembunyiin, biar dia pulang nyeker. Biar mampus," kata Oliv, melihat sekeliling yang sudah mulai sepi.
"Kak, ini termasuk perbuatan dosa, gak?" Bukan apa-apa. Tapi, ini tempatnya di masjid. Takut ladang dosa-nya semakin bertambah nantinya. Memang sakit hati bisa membuat orang jadi tidak waras.
"Gak. Kan kita ngambil, bukan maling. Lagi pula kita ngambil sandal orang yang kita kenal, jadi gak dosa. Insyaallah." Ada gitu logika macam begitu. Tidak paham dengan jalan pikiran kakaknya ini memang.
"Lo lihat orang-orang. Gue yang ambil sandalnya," perintah Oliv. Relva ikut-ikut saja, dari pada dia jadi adik durhaka. Lagi pula seperti kata kakaknya tadi. Itu milik orang yang dikenal, jadi tidak dosa. Insyaallah.
Saat sandal itu sudah berada di tangan Oliv, tiba-tiba saja pemilik sandalnya berada di hadapan sang kakak. Ingin lari duluan, namun kakaknya masih cengo di sana. Hal hasil, Relva terpaksa menarik tangan Oliv dengan kencang dan berlari. Tanpa mendengar teriakan Andry, laki-laki yang amat disayang kakaknya itu.
"Dasar gadis gila! Bisa-bisanya dia mencuri sandal gue, emang titisan demon," cerca Andry, sekarang dia harus pulang dengan kaki tanpa alas. Sangat menyebalkan. Gadis itu benar-benar sudah gila, bisa-bisanya dia sempat suka dengan gadis seperti itu. Ingatkan dia untuk menagih sandalnya nanti. Kalau sempat.
Sedangkan Relva dan Oliv sedang mengatur nafas mereka. Pasokan oksigen yang mereka miliki sudah hampir habis terkuras, karena mereka terus berlari. Sandal milik Andry pun masih dipegang Oliv. Sungguh hal paling memalukan di dalam hidup.
"Gila lo, sampe segitunya dendam," ucap Relva ngos-ngosan.
"Habis ... gue kesel, sakit tahu," lirih Oliv sambil menatap sandal milik laki-laki yang amat dia sukai.
"Udahlah, besok-besok gue gak mau nemenin lo. Capek, bikin dosa aja, malunya itu loh. Haish!" Keal Relva, berjalan menuju minimarket. Oliv diam memperhatikan sandal itu, baru dia sadar bahwa dia sudah melakukan hal konyol dan memalukan. Mengapa dia punya pikiran seperti itu.
"Argghh! Malu!"
"Udah tahu malu, malah nyuri sandal orang," ledek seorang cowok yang tiba-tiba saja lewat.
"Apa lo! Mau-mau gue dong." Kesal Oliv ke orang itu. Cowok itu hanya acuh tak acuh, tidak ingin berlama-lama meladeni gadis super gila.
"Kenapa lo?" Relva bertanya sambil menyerahkan sebotol minuman yang dibelinya tadi.
"Tuh anak IPA 1, ngeselin banget. Ngatain nyuri."
"Berarti dia lihat dong tadi? Haish, malu banget kak," rengek Relva.
"Yaudahlah, udah terjadi. Ayok pulang," ujar Oliv menyeret Relva menjauh dari tempat itu.
Sudah cukup untuk hari ini, dia sudah sangat malu. Ditambah lagi ada teman sekolahnya yang tahu akan ke jadian itu. Malunya itu loh, berasa ingin lenyap dari bumi ini. Numpang di Mars. Andai waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan ingin menuruti keinginan lagi sang kakak. Sungguh hari ini, hari yang memalukan.
Tidak akan terlupakan sampai kapan pun. Tolong buang saja kakaknya itu ke pelanet lain, dia sudah tidak mampu menopang beban seberat ini, hanya untuk menjadi adik dari gadis gila yang sekarang bersamanya ini.
***
Memulai rutinitas setiap hari, terutama rutinitas sekolah. Sangat malas rasanya dia pergi sekolah, apa lagi ini hari sabtu. Hari mendekati hari minggu, bau-bau libur sudah bersarang dipikira nya. Rasanya ingin cepat-cepat lulus.
"Udah?"
"Hm."
"Non, yang semangat atuh, Neng. Masa mau sekolah lemes begitu," kata supir yang memang selalu mengantar mereka ke sekolah.
"Ya, ini udah semangat kok."
Laki-laki paruh baya itu hanya mengeleng melihat tingkah anak majikannya itu. Lebih baik diam, dan memilih fokus dengan kerjaanya. Dari dulu dia memang sudah dipercaya untuk mengantar jemput keluarga Mahendra, baginya keluarga ini sangat berjasa untuknya. Jadi, walau pun anak-anaknya sudah mempunyai pekerjaan yang cukup di bilang besar. Dia dan istrinya tetap ingin bekerja. Toh, mereka tidak pernah dibedakan oleh keluarga ini. Malah mereka sudah menganggap dia dan istrinya keluarga.
"Non, udah sampai. Jangan lupa belajar yang rajin."
"Siap, Pak!"
Relva memang berangkat sendiri. Oliv sudah terlebih dahulu berangkat. Alasannya, hanya untuk menghindari anak IPA kemarin. Masih ingat adegan sindir-menyindir kemarin? Walau pun itu hanya sepatah kata. Tapi, malunya sampai ke ubun.
"Re! Tumben ke siangan?" tanya Fara heran.
"Ya, lagi mager banget. Btw, bentar lagi ujian kelulusan kan?"
"Yes."
"Kelas yok, oh tadi Alvin ke sini."
"Ngapain?"
"Nyari lo lah, tuh orang kan sekarang lagi berusaha dapet maaf lo," kata Fara, yang hanya diangguki Relva.
"Biarin aja, masuk yok."
Sampainya di kelas, hal yang paling mencolok adalah. Banyak buket bunga dan coklat di sana. Siapa pula yang menaruh hal seperti itu, dia rasa dirinya tidak terlalu terkenal itu. Sampai mendapatkan bunga dan coklat.
"Ini apa, Ol?"
"Dari mantan lo," kata Oliv malas. Relva hanya ber O ria. Baginya itu sama saja membuang waktu.
"Yang mau makan coklat siapa? Nih buat kalian." Relva tidak sejahat itu dia memang membagikan semua coklat itu ke mereka. Tapi, disisakan satu untuk dirinya, sayang kalau tidak dimakan.
"Habis ini kita belajar bareng, ya."
"Oke."
Tidak ada yang memulai pembicaraan atau sekedar mengobrol dengan teman. Mereka diam memperhatikan guru yang sudah mulai mengajar di kelas mereka. Tidak ada adegan mengeluh atau yang lainya. Karena memang kelas mereka jika sudah guru masuk, mereka enteng belajar. Karena itu kelas mereka sangat disukai para guru.
Tidak terasa mereka sudah 1 jam belajar, sekitaran 30 menit mereka membahas materi dilanjutkan dengan mengerjakan soal. Guna untuk memperdalami materi sebelumnya. Mereka sudah kelihatan letih dan bosan.
"Usstt ... ini kapan be---"
Tringg! Tringg!
Tepat sebelum Riki menyelesaikan ucapannya. Bel keluar main sudah berbunyi, menandakan seluruh pelajaran terhenti untuk istirahat. Semua siswa-siswi SMA MELATI, bernafas lega. Waktu yang mereka tunggu-tunggu. Belajar memang penting, tapi lebih penting lagi mengisi perut mereka yang sudah berdemo minta diisi.
"Baiklah, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini. Semoga ujian kalian lancar besoknya. Tetap semangat," ujar guru yang baru saja selesai jam pelajarannya. Beliau meninggalkan kelas mereka.
"Akhirnya keluar juga, gila penat. Kayak mau perang aja," keluh Riki.
"Aelah, lo mah ngeluh mulu. Bentar lagi juga selesai, gak kangen apa masa-masa kita ini?" tanya Ilma membalas perkataan Riki.
"Buat apa? Gue malah seneng pisah sama kalian," ujar Riki, yang langsuing mendapat sorakan dari teman yang lain.
Pasti akan sangat rindu dengan mereka nantinya. Kebobrokan mereka sudah mendarah daging, apa lagi keseruan saat di dalam kelas. Rasanya tidak sanggup jika berpisah. Tapi, mereka tidak mungkin terus di posisi ini. Mereka juga harus berjalan sesui yang sudah diatur oleh semesta.
Sekarang mereka hanya bisa menjalani peroses, mengeluh pun tidak ada artinya. Toh, semua sudah punya bagian masing-masing. Hidup jangan dibuat susah, jika tidak. Maka, kamu yang akan susah menjalani hidup. Gitu aja dibuat susah.
"Gimana kalau gue teraktir hari ini, anggep aja kita merayakan kebersamaan," ucap Relva, yang disetujui mereka.
"Asikk, makan-makan. Yok ke kantin!"
"Yok!"
Mereka dengan senyum merekah, sambil sesekali bercanda gurau. Tidak sekarang saja mereka seperti ini. Kadang ketua kelas yang meneraktir mereka. Terus begitu setiap dua kali seminggu. Mereka sepakat untuk selalu membuat kenangan indah semasa SMA. Karena jika sudah selesai masa abu-abu. Maka, semuanya sudah tidak akan sama.
Tidak sedikit kelas-kelas lain iri akan kedekatan mereka. Kelas mereka nyaris tidak pernah jelek di mata mereka. Karena jika ingin berbuat salah, maka mereka kompak untuk dihukum bersama. Bukankah itu adalah persahabatan rasa keluarga. Satu makan nangka, semua kena getah. Tidak ada yang saking menyalahkan, karena mereka selalu bahagia jika bersama. Itu yang membuat orang iri dengan kekompakkan kelas mereka.
Bercanda bersama, menghabiskan waktu bersama adalah hal yang tidak bisa sebagian orang lakukan. Meluangkan waktu bersama tidak banyak orang yang bisa. Jadi, nikmatilah masa sekolahmu, selagi kalian bisa. Kita tidak tahu hari esok seperti apa, hanya bisa mengikuti arus kehidupan.
***
Jika hari esok tak dapat dilalui, maka katakan padanya untuk hari ini selalu tersenyum untuk menikmati hidup ini. Terkadang, butuh kesabaran untuk menjalani hidup yang rumit. Terkadang, butuh kekuatan lebih dalam diri untuk melalui semua rintangan. Terkadang, butuh benteng kokoh untuk terus berdiri tegak. Hanya untuk melawan ke hidupan yang fana ini.
Sosok itu masih terus menghantui setiap pengelihatan. Seakan dia selalu berada di sisi ini, sisi yang tak pernah kuinginkan. Perasaan ini pun begitu runyam, tak bisa utuh seperti semula. Banyak hal yang terjadi dalam hidup, sampai untuk memulai lembaran baru sangatlah sulit.
Hidup itu memang tidaklah mudah. Tapi, jika kamu permudah. Maka, dia akan menjadi muda. Begitu pun sebaliknya, jika kamu persulit. Maka, dia akan menjadi sulit. Itulah hidup.
Relva menatap nanar gundukan tanah itu, pandangannya kosong entah ke mana. Pikirannya sudah tidak bersamanya lagi, jangan ditanya soal air matanya. Jelas air mata itu sudah lolos jatuh beberapa menit yang lalu. Hanya ada kebisuan di sana.
Dua tahun sosok itu pergi, selama itu juga sangat sulit untuk gadis itu memulai hidupnya. Entah karena dorongan dari mana, sampai dia bisa menerima orang lain. Namun, tetap saja itu semua tidak mampu merubah perasaannya untuk orang itu. Entah hatinya sudah mati rasa, atau memang sebagian dirinya dibawa oleh sosok yang amat dia sayangi itu.
Setiap kali dia membuka hati untuk orang lain, selalu terbesit rasa bersalah dalam dirinya. Entah itu sebuah petaka atau tidak. Yang pasti dia tidak pernah menyalahkan laki-laki itu.
"Kamu bahagia udah di sana?"
"Kamu gak kangen sama aku?"
"Aku kangen," kata itu selalu membuat hatinya rapuh.
Meremas rerumputan yang tumbuh di sana, menumpahkan rasa rindu. Membiarkan tangisnya didengar oleh penghuni kubur, dia sudah tidak peduli. Setiap kali dia ke sini, dia tidak pernah bisa mengontrol dirinya untuk tidak menangis. Serapuh itu dirinya.
"Kamu gak usah khawatir sama Relva, sekarang kamu baik-baik di sana."
"Jangan lupa, gadis ceroboh ini masih merindukanmu." Sesekali Relva mengapus air matanya yang menghalangi pengelihatannya.
"Relva belum bisa menemukan sosok lain, maaf."
Hanya kata itu yang mampu diucapkan, selebihnya hanya tangisan. Bahkan, dia tidak pernah bisa berusaha tegar jika sudah berada di tempat ini. Seakan kenangan itu berputar kembali, sampai kapan pun, pemegang tertinggi tetaplah laki-laki dengan senyum lembutnya itu. Entah hari esok apakah dia bisa menemukan orang lain, yang pasti untuk sekarang biarkan rasa ini tetap seperti ini. Setidaknya untuk saat ini, dia sudah lelah mencari seperti sosok itu.
Sedangkan Oliv hanya menatap gadis itu dengan diam, memilih hanya melihat. Membiarkan gadis itu melepas rindunya. Memang sulit untuk mengembalikan pesikis orang yang hampir rusak, butuh waktu untuk memulihkan semuanya. Siapa yang tidak akan rusak pesikisnya, jika kalian berada di posisi Relva. Maka, kalian mungkin akan sama dengan gadis itu.
Melihat dengan mata kepala sendiri, orang yang sangat dikasihi terbaring lemas. Dengan sekujur tubuh berlumuran darah di mana-mana. Siapa yang tidak rusak pesikisnya, sosok yang selalu membuat dirinya berjuang melawan kerasnya hidup, mengembuskan nafas terakhir di depannya. Menyaksikan detik-detik dia akan diambil oleh semesta. Itu hal paling mengerikan yang tidak pernah diinginkan.
"Ayo, Kak, kita pulang."
"Mau mampir beli telur gulung, gak?"
"Boleh," ucap Relva tersenyum, seakan dia tidak pernah bersedih. Sepandai itu dia merubah ekspresi wajahnya. Sedih menjadi bahagia.
"Yoklah!" Semangat Oliv.
Sesampainya mereka di rumah, mereka disambut dengan tatapan elang milik laki-laki paruh baya. Berjalan mendekat ke arah mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Membuat dua gadis itu menelan ludah.
"Habis dari mana?"
"Anu, Pa. Anu ...."
"Ngomong itu yang jelas, anu apa? Ambigu banget kosakatanya," tambah tidak bisa berkutik lagi.
"Habis beli telur gulung," ucap Oliv, sambil mengangkat keresek berisikan telur gulung yang mereka beli tadi.
Mahendra diam, meneliti raut wajah anak gadisnya. Mencari kebohongan di mata mereka. Tapi, tidak menemukan sebuah kebohongan, memang mereka tidaklah sepenuhnya bohong.
"Ya sudah, kalian bersihin badan kalian. Habis itu turun ke bawah, papa mau bicara sama kalian."
Relva mengembus kan nafas lega, papa-nya tidak terlalu menyudutkan. Kalau sampai tadi mereka ditanya lagi, bisa dipastikan ke jujuranlah yang akan keluar dari mulut mereka berdua. Semesta masih memihak mereka. Mahendra memang sangat keras, jika menyangkut tentang hal itu. Beliau tidak pernah suka jika putrinya masih mengingat hal itu. Masa lalu, biarlah berlalu. Itu katanya, saat Relva mengalami hal terburuk itu.
Memang tidak sepenuhnya salah. Itu ada benarnya, tapi kembali lagi. Hati seorang perempuan sangatlah lembut dan rapuh. Butuh kekuatan dan dukungan dari sekitarnya, dan beruntungnya dia masih memiliki kakak dan teman yang bisa mengerti dirinya. Bukan papa-nya tidak mengerti, hanya saja beliau tidak ingin dirinya berlarut-larut dalam ke sedihan.
Hiduplah dengan damai dan ikuti alur sekenario alam semesta. Jalani apa yang semestinya, dibalik ke sedihan, pasti ada kebahagiaan. Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.