Bab 2

Setelahnya, ia mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya dan kemudian mendekat ke tubuh pria itu untuk memeriksa keadaannya. Luka panah di perut pria itu sangat dalam dan terus mengeluarkan darah segar.

Beruntungnya, ia memiliki sedikit pengetahuan tentang obat-obatan yang diajarkan oleh ibunya sebelum tiada. Carolina mengambil peralatan untuk mengobati luka pada pria itu.

Sebelum itu, ia harus melepaskan anak panah yang masih menancap di perut pria itu dengan menggunakan pisau kecil yang sering ia gunakan untuk memotong sayuran.

"Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya, tangannya gemetar meraih pisau itu. Dengan hati-hati, ia mencoba mengeluarkan panah dari perut pria itu. Pria itu merintih kesakitan dalam keadaan tidak sadar, namun Carolina berusaha mengabaikannya.

Selesai mengeluarkan anak panah itu, Carolina mulai membuat ramuan obat untuk luka. Ia membuatnya dari tanaman-tanaman herbal yang ia ambil dari hutan untuk persediaan kemudian menumbuknya agar menjadi halus dan mengoleskannya pada luka di tubuh pria itu.

Carolina melanjutkan mengoleskan ramuan herbal itu pada luka-luka pria itu dengan hati-hati. Setiap sentuhan kulitnya pada tubuh pria itu membuatnya merasa ada sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya. Jantungnya berdebar kencang, dan pipinya terasa hangat.

"Apa yang terjadi padaku?" gumamnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Sejak kecil, ia hidup menyendiri di hutan, dan tidak pernah tertarik pada lawan jenis. Namun, sekarang, saat merawat pria asing ini, ia merasakan getaran aneh di dalam hatinya.

Ia berusaha mengabaikan perasaan aneh itu dan fokus pada lukanya. Setelah selesai mengoleskan ramuan herbal, Carolina mengambil kain bersih dan membalut luka-luka pria itu. Ia berharap ramuan buatannya dapat membantu menyembuhkan luka-luka pria itu.

"Semoga kau cepat sembuh," gumamnya sambil menatap wajah pria itu.

Setelah itu, Carolina buru-buru bangkit dari duduknya. Ia merasa jantungnya akan copot dari tempatnya. Dengan langkah tergesa-gesa, ia meninggalkan kamar itu.

Karena pria asing itu belum sadar dari pingsannya, akhirnya Carolina memutuskan untuk pergi ke kamarnya untuk beristirahat.

Dan esok paginya, Carolina kembali ke kamar mendiang orangtuanya untuk memeriksa keadaan pria itu dan m engobaginya kembali.

Setelah selesai mengobatinya, Carolina buru-buru bangkit dari duduknya untuk pergi dari kamar itu.

Ia tidak ingin pria itu mengetahui bahwa dialah yang telah merawatnya. Namun, baru saja ia akan keluar dari kamar, terdengar suara lemah dari arah belakangnya, "Terima kasih..."

Carolina terpaku di tempatnya. Pria itu sudah sadar! Namun, ia tidak berani membalikkan badannya untuk melihat pria tersebut. Tetapi Carolina tetap membalas ucapan pria itu.

"Kau... kau sudah sadar?" tanya Carolina, gugup dan tanpa berniat membalikan badannya.

Elgar tersenyum tipis melihat gadis di depannya yang tidak mau membalikkan badannya. "Terima kasih, telah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana caraku membalas budimu."

"Aku... aku hanya ingin membantu," jawabnya masih dengan kegugupannya.

Carolina menggigit bibir bawahnya. Ia merasa jantungnya akan lepas dari tempatnya. Dengan cepat, ia melangkahkan kakinya lagi agar segera keluar dari kamar. Setiap langkahnya terasa berat. Ia tidak ingin berlama-lama di sana.

"Tunggu!" suara Elgar memanggilnya.

Carolina berhenti sejenak, namun tetap tidak berbalik. Ia takut jika ia berbalik, ia akan semakin sulit untuk pergi.

"Terima kasih sekali lagi," ucap Elgar lagi.

Carolina hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Ia terus berjalan menuju pintu keluar. Mata Elgar mengikuti kepergian Carolina.

Hatinya terasa hangat setelah menerima pertolongan dari gadis itu. Walaupun, ia belum sempat melihat wajahnya namun ia sangat yakin gadis itu pasti memiliki paras yang sangat rupawan.

Sesampainya di luar, Carolina menghela napas panjang. Ia bersandar pada dinding pondok, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak teratur.

"Kenapa aku harus merasa seperti ini?" gumamnya pada diri sendiri.

Carolina memang dikenal sebagai gadis yang pendiam dan penyendiri. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di hutan daripada berinteraksi dengan orang lain.

Namun, pertemuannya dengan pria asing itu membuatnya merasa berbeda. Perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya membuatnya bingung dan gelisah.

Ia tahu, ia harus segera melupakan perasaan itu. Pria itu adalah seorang asing, dan mereka tidak akan pernah bertemu lagi setelah ini. Namun, sekuat apa pun ia berusaha, perasaan itu tetap saja membayangi pikirannya.

Carolina memutuskan untuk menghabiskan sisa harinya di luar pondok. Ia berjalan-jalan di sekitar hutan, menghirup udara segar. Ia berharap dengan melakukan aktivitas fisik, pikirannya bisa menjadi lebih tenang.

Namun, setiap kali ia menutup matanya, wajah pria itu selalu muncul di pikirannya. Ia merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus merasa seperti ini?

Sementara itu, keadaan Elgar dikamar saat ini sudah lebih baik. Ia bahkan sekarang tengah terduduk di atas tempat tidur sambil mengingat-ingat kejadian yang menimpanya kemarin.

Tapi, pikirannya yang lebih mendominasi adalah tentang gadis yang menolongnya. Ia sangat penasaran dengan gadis itu.

Elgar menggosok pelipisnya, berusaha meredakan sakit kepala yang masih sedikit mengganggu. Pandangannya tertuju pada jendela kayu yang sedikit terbuka, membiarkan hembusan angin sejuk menerpa wajahnya.

Pikirannya kembali melayang pada gadis misterius yang telah menyelamatkannya. "Siapa dia sebenarnya?" gumamnya lirih. Sejak tadi, sosok gadis itu tak pernah lepas dari benaknya.

Matahari mulai tenggelam, menyelimuti hutan dengan bayangan panjang. Di dalam pondok, Elgar merasa sedikit lebih baik. Luka-lukanya masih terasa nyeri, namun tidak separah sebelumnya. Ia bersyukur atas bantuan gadis misterius itu.

Pintu kamar Elgar terbuka, dan siluet seorang gadis muncul di ambang pintu. Cahaya rembulan yang masuk melalui jendela menerpa wajahnya yang lembut. Itu dia, gadis yang telah menolongnya.

"Kau sudah kembali," sapa Elgar dengan suara serak.

Gadis itu mengangguk kecil, lalu mulai menyiapkan ramuan obat seperti kemarin. Kali ini, ia tidak membelakangi Elgar, melainkan duduk di samping ranjang.

Setiap kali Elgar mengajukan pertanyaan, ia menjawabnya dengan singkat dan padat.

"Aku Elgar, Siapa namamu?" tanya Elgar penasaran.

"Carolina," jawabnya singkat.

"Dari mana kau berasal?" tanya Elgar lagi.

"Dari hutan ini," jawab Carolina.

Elgar mengerutkan kening. "Maksudmu, kau tinggal sendirian di hutan ini?"

Carolina mengangguk lagi.

"Kenapa kau tinggal sendirian?" tanya Elgar.

Carolina terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku lebih suka hidup sendirian."

Elgar merasa ada yang janggal dengan jawaban Carolina. Ia ingin bertanya lebih banyak, namun ia takut membuat Carolina merasa tidak nyaman. Ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Terima kasih sudah menolongku," ucap Elgar tulus.

Carolina hanya tersenyum tipis.

"Aku berhutang nyawa padamu," lanjut Elgar. "Bagaimana aku bisa membalas budimu?"

Carolina menggeleng pelan. "Tidak perlu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

Elgar tahu bahwa Carolina tidak akan menerima imbalan apapun. Namun, ia tetap merasa bersalah. Ia ingin sekali membantunya, namun ia tidak tahu harus bagaimana.

Bab 3

Sementara itu, di luar pondok, bayangan gelap mulai menyelimuti hutan. Angin bertiup sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah menandakan bahwa tadi telah turun hujan. Elgar merasa semakin nyaman berada di dekat Carolina. Ia merasa tenang dan damai.

Cahaya lilin menerangi wajah tenang Carolina saat ia mengoleskan ramuan herbal pada luka Elgar. Keheningan menyelimuti pondok kayu kecil itu, hanya diiringi oleh suara kayu yang berderak di perapian dan detak jantung mereka yang beradu.

Elgar terus mengamati gadis di hadapannya. Ada aura misterius yang menyelimuti Carolina. Ia tinggal sendirian di tengah hutan, memiliki pengetahuan mendalam tentang tanaman obat, dan selalu tampak tenang dalam situasi apapun.

"Carolina," panggil Elgar, memecah keheningan. "Sejak kapan kau tinggal dihutan ini?"

Carolina berhenti sejenak, matanya menatap api unggun. "Sejak aku kecil," jawabnya singkat.

"Tidak pernah merasa kesepian?" tanya Elgar lagi.

Carolina tersenyum tipis. "Hutan adalah rumahku. Aku tidak pernah merasa kesepian di sini."

Elgar terdiam. Ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya hidup sendirian di tengah hutan. Pasti sangat sunyi dan sepi. Namun, melihat Carolina, ia yakin bahwa gadis itu telah menemukan kedamaian di tengah kesunyian hutan.

"Kau sangat pandai meracik obat," puji Elgar.

Carolina hanya mengangguk kecil. "Ibuku mengajariku sejak kecil."

"Ibumu?" tanya Elgar penasaran.

"Ia sudah meninggal," jawab Carolina, suaranya terdengar sedikit sedih.

Elgar ingin sekali bertanya lebih banyak tentang ibu Carolina, namun ia takut membuat gadis itu semakin sedih. Ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Terima kasih sudah merawatku," ucap Elgar sekali lagi. "Aku tidak tahu bagaimana caraku membalas budimu."

Carolina tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan."

Elgar merasa ada dinding yang memisahkan dirinya dengan Carolina. Gadis itu selalu tampak tertutup dan tidak ingin berbagi banyak tentang dirinya. Namun, Elgar tidak akan menyerah. Ia akan terus berusaha untuk mengenal Carolina lebih jauh.

Cahaya lilin menari-nari di dinding pondok kayu, menciptakan bayangan aneh yang menari-nari. Elgar terus memandang Carolina yang sibuk merapikan peralatan obatnya.

Ia merasa ada ketertarikan yang tumbuh di hatinya. Gadis misterius ini dengan pengetahuan luasnya tentang alam dan sikapnya yang tenang membuat Elgar semakin penasaran.

"Carolina," panggil Elgar lagi, suaranya sedikit lebih lembut kali ini. "Apakah kau pernah keluar dari hutan ini?"

Carolina berhenti sejenak, matanya menatap api unggun. "Pernah, sekali waktu," jawabnya singkat.

"Kemana?" tanya Elgar penasaran.

"Ke desa terdekat," jawab Carolina. "Aku membeli beberapa kebutuhan pokok."

"Kenapa tidak tinggal di desa saja?" tanya Elgar.

Carolina tersenyum pahit. "Aku lebih suka hidup di sini."

Elgar mengerti. Kehidupan di hutan mungkin lebih tenang dan damai dibandingkan dengan kehidupan di desa yang ramai dan penuh hiruk pikuk. Namun, ia tetap merasa kasihan pada Carolina yang harus hidup sendirian.

Carolina hanya mengangguk kecil. Ia melanjutkan pekerjaannya tanpa berkata sepatah kata pun. Elgar merasa sedikit kecewa, namun ia tidak menyerah. Ia akan terus berusaha untuk mendekati Carolina dan mencari tahu lebih banyak tentang dirinya.

Sementara itu, di istana kerajaan xylosia, suasana mencekam menyelimuti seluruh penghuni sejak kepulangan jenderal kerajaan dan para prajuritnya. Itu disebabkan karena sang pangeran mahkota, telah menghilang tanpa jejak.

Para prajurit telah mencari ke seluruh penjuru kerajaan, namun tak ada tanda-tanda keberadaan sang pangeran. Raja memerintahkan agar pencarian diperluas hingga ke hutan belantara.

Dan saat itu juga , sang jendral kerajaan dan para prajuritnya segera pergi untuk mencari Elgar di seluruh hutan yang ada di dalam wilayah kerajaan xylosia.

Sang jenderal yang merangkap menjadi tangan kanan Elgar, adalah seorang pria dengan pengalaman tempur yang luas, memimpin dari garis depan. Wajahnya tegang, mencerminkan beban tanggung jawab yang dipikulnya.

Ia tahu, jika ia gagal menemukan sang pangeran, nyawanya pun akan menjadi taruhannya.

"Kita harus menemukan Pangeran Elgar sebelum hari semakin gelap," tegasnya pada para prajuritnya. "Ingat, setiap sudut hutan harus kita sisir. Jangan lewatkan satu pun petunjuk!"

Hari ini berlalu begitu saja, namun tak ada tanda-tanda keberadaan Elgar. Pasukan mulai kelelahan, namun semangat mereka tetap menyala.

Mereka menemukan jejak-jejak binatang buas, sungai yang deras, dan gua-gua misterius, namun tak ada satu pun petunjuk yang mengarah pada sang pangeran.

"Kita sudah mencari pangeran seharian di dalam hutan ini," ucap sang jenderal, suaranya berat. "Namun, belum ada tanda-tanda Pangeran Elgar." Ia menatap sekelilingnya, matanya menyapu wajah-wajah para prajurit yang tampak lesu.

"Besok, kita akan melanjutkan pencarian. Tapi untuk saat ini, istirahatlah. Kita membutuhkan tenaga yang cukup untuk menghadapi hari-hari berikutnya."

Para prajurit mengangguk patuh. Mereka merebahkan tubuh di atas tanah yang keras, berusaha mengusir rasa lelah dan dingin malam. Di bawah langit penuh bintang, mereka berbagi cerita dan saling menghibur.

Di sisi lain, dalam pondok yang sederhana, Elgar masih terjaga. Padahal tadi, setelah Carolina selesai mengobatinya ia memerintahkan agar Elgar langsung beristirahat saja agar keadaanya cepat pulih.

Namun nyatanya, sampai tengah malam kedua mata Elgar masih membuka lebar pertanda ia tidak bisa tidur.

Cahaya rembulan menembus celah-celah atap, membentuk pola-pola menarik di dinding kayu. Pikirannya melayang jauh, membayangkan istana megah tempat ia dilahirkan.

Ia merindukan ayahnya, sang raja. Dan alasan lainnya yang membuat susah tidur adalah karena Elgar memikirkan, tentang gadis yang menolongnya, Carolina.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sedikit. Carolina mengintip masuk, membawa semangkuk teh hangat. "Belum tidur?" tanyanya lembut.

Elgar menggeleng pelan. "Aku tidak bisa tidur."

Carolina mendekat, meletakkan cangkir teh di meja kecil di samping tempat tidur. "Minumlah, ini akan membuatmu hangat."

Elgar tersenyum tipis. Ia mengambil cangkir teh itu dan meminumnya perlahan. "Terima kasih, Carolina."

"Tidak masalah," balas Carolina. "Aku tahu kau sedang memikirkan banyak hal," setelah sedikit berbincang dengan Elgar, ia segera pergi dari kamar itu untuk kembali ke kamarnya sendiri.

"Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku," Elgar hanya menggunakan kepalanya dan menatap punggung Carolina yang mulai menghilang dari balik pintu kamar.

Elgar menghirup sisa teh hangatnya, rasa pahitnya sedikit menenangkan pikirannya tentang peperangan yang terjadi kemarin.

Dengan hati yang berat, Elgar menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Nasib kerajaan Xylosia kini berada di tangannya.

Dengan perlahan, Elgar memejamkan mata. Perlahan tapi pasti, rasa kantuk mulai menyelimuti dirinya. Ia tertidur dalam kedamaian, siap menyambut hari esok dengan semangat baru.

Meskipun begitu, Elgar tak dapat memastikan apakah ia mampu mengatasi semua rintangan yang menanti. Masa depan tampak begitu tidak pasti, namun Elgar bertekad untuk menghadapi segala tantangan yang ada.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED