Bab 1

Candu cinta itu seperti alkohol yang memabukan bagi siapa saja yang meminumnya dalam jumlah banyak, sehingga mampu membuat seseorang tak sadar akan kebodohan yang sedang ia jalankan. Menunggu pagi untuk menyambut hari yang baru, seakan hal yang wajib menjadi harapan bagi setiap manusia. Indahnya sebuah romansa juga diharapkan dapat terasa disetiap harinya.

Wanita cantik itu menatap suaminya yang masih terlelap saat jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Aira, ia selalu senang menatap wajah Awan yang sedang tidur. Membuat debaran jantungnya menguat berpacu layaknya seseorang yang terus jatuh cinta berulang kali, namun, ini dengan pria yang sama, selama tujuh tahun—empat tahun masa pacaran dan tiga tahun masa pernikahan. Awan selalu bisa membuat seorang Aira merasakan jatuh cinta berkali-kali lipat setiap hari kepada dirinya.

Sebelah mata Awan terbuka sedikit, ia melirik lalu tersenyum dan menarik tubuh istrinya hingga terjatuh di atas dada bidangnya yang tertutup kaos berwarna putih polos. Dengan gemas ia memeluk Aira dan terus menciumi pipi istrinya itu tanpa henti. Membuat Aira bergidik geli dengan perlakuan suaminya yang suka gemas dengan dirinya.

"Udah Mas, buruan bangun, mandi, kerja. Aku juga mau ke kantor," ucap Aira berusaha melepaskan diri dari pelukan Awan.

"Ntar dulu dong, sini, dan gini dulu.” Awan terus memeluk Aira dan menghirup aroma istrinya itu yang sudah mandi dan wangi. Hanya tinggal berganti baju kerja, karena setelah membersihkan diri, ia hanya mengenakan daster.

"Kesiangan nanti, Mas Awan," ucap Aira yang tak bisa bergerak di dalam dekapan Awan.

"Mmghhh, enggak, sebentar doang." Awan lalu mengusap punggung Aira. Membuat Aira relax hingga sedikit mengantuk.

"Bolos aja yok, Ra," bisik Awan. Aira menggeleng.

"Aku ada kerjaan Mas, belum bikin laporan bulanan."

Awan menghela napas panjang dan melepas pelukannya. Aira bangun, lalu duduk menatap suaminya itu. "Mau apa ci emangnya, udah pagi tuh, lihat mataharinya udah naik?" Aira menangkup wajah suaminya.

"Ok. Yaudah aku mandi dulu, sarapan di mobil aja, takut macet." Awan beranjak dan mengecup sekilas bibir Aira, membuatnya tersipu malu. Selalu seperti itu. Aira selalu bisa tersipu malu dengan perlakuan manis Awan.

"Mas Awan!" panggil Aira. Awan menoleh dari pintu kamar mandi menatap Aira.

"Aku telat datang bulan, nih." Aira senyum-senyum. Awan terbelalak dan berlari menghampiri Aira.

"Serius kamu, Ra!" Awan semangat. Aira mengangguk.

"Tapi aku belum cek, Mas, nanti pulang kerja aku beli alat testnya ya, kita lihat sama-sama." Aira menyisir rambut Awan dengan lima jarinya. Mencium kening suaminya dan tersenyum.

"Mudah-mudahan jadi ya kali ini, kalau enggak, aku minta kamu sabar lagi ya, Mas." Aira menatap Awan. Awan mengangguk.

Anak, menjadi kunci lain dalam kebahagian sebuah mahligai pernikahan. Kehadiran anak mampu membuat sebuah rumah tangga menjadi lengkap. Hal itu juga yang menjadi harapan Awan. Menikahi kekasih yang ia kenal begitu cepat, merasakan jatuh cinta dan nyaman satu sama lain, hingga memutuskan untuk menikah, menjadi harapan terbesarnya untuk memiliki seorang anak. Tiga tahun menikah, belum terdengar suara tangis di dalam rumah yang mereka tempati. Berkali-kali Aira berharap jika saat datang bulannya terlambat, maka calon bayi sudah menempati rahimnya, namun itu belum terwujud. Awan selalu meyakinkan Aira jika suatu saat mereka akan punya anak. Pria itu selalu bisa membuat Aira tersenyum dan yakin akan hal itu.

Keromantisan mereka juga dinilai baik di mata keluarga, juga para sahabat yang tau mereka berdua. Tak pernah ribut apalagi cekcok di hadapan banyak orang. Aira begitu mencintai suaminya, ia rela seluruh hidupnya dihabiskan untuk mencintai seorang Awan.

Sikap Awan yang suka memberikan kejutan kecil, atau tiba-tiba memberikan hadiah kecil saat pulang bekerja, membuat Aira merasa sangat dicintai suaminya itu.

***

"Nanti pulang kerja tunggu aku ya, aku nggak lembur kok, cuma rapat penjualan doang sampe jam tiga terus pulang." Awan menoleh, menatap istrinya lekat.

"Kamu nggak kelamaan nunggu aku di parkiran, Mas, kalau jam segitu nanti sore udah jemput?" Aira melepaskan seatbelt nya saat mobil yang dikendarai Awan sudah sampai di parkiran gedung kantor Aira.

"Nggak, kayak nggak biasanya aja. Ra, sini dulu." Awan menarik jemari Aira dan mengecupnya berkali-kali lalu menarik Aira dan mereka sedikit menghabiskan waktu beberapa menit untuk saling meluapkan rasa cinta dengan cumbuan panas. Mereka saling melemparkan senyum saat hal tersebut usai.

"Kabarin aku kalau udah sampe kantor ya Mas"

"Iya, Ra," Awan mengusap kepala Aira. Mereka melemparkan senyuman.

Pintu Mobil tertutup. Aira berjalan menjauh masuk ke lobby kantor lewat pintu dekat parkiran. Awan mengambil ponsel dan mengirim sebuah pesan kepada seseorang. Lalu senyum merekah dari wajahnya. Ia menginjak pedal gas dan menuju ke arah kantornya.

Keesokan paginya, di rumah, Keduanya menatap pada garis yang muncul di alat tes kehamilan. Lalu mereka saling menatap dan tersenyum. "Belum saatnya," ucap Awan sambil merangkul dan mengusap bahu Aira. Testpack dibuang ke tempat sampah oleh Aira. Ia memeluk suaminya yang kemudian mengecup kepala Aira berkali-kali.

"Kita harus sabar lagi." Ucap Awan. Aira mengangguk, masih di dalam pelukan suaminya yang hangat dan nyaman.

"Jangan dipikirin. Kita nonton tv yuk sambil tiduran, episode terbarunya malam ini 'kan?" Awan mengalihkan pembicaraan. Aira mengendurkan pelukannya dan menatap lekat Awan.

"Mas nggak kecewa?" Aira mencoba mencari jawaban jujur dari kedua tatapan mata Awan.

"Enggak. Ini urusan rejeki aja, sabar," Awan lalu membawa Aira keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka dan menuju ke arah tempat tidur. Keduanya tenggelam dalam kehangatan didalam satu selimut. Saling memeluk dan menguatkan.

"Aku mau tanya boleh Mas?" Suara Aira memecahkan keheningan. Awan belum menyalakan televisi.

"Apa," ia menatap kearah jendela kamar yang tirainya sudah tertutup dengan dagu ia letakan di atas kepala Aira.

"Dulu, kenapa kamu dingin banget ya? Inget nggak waktu kita pertama ketemu di rooftop gedung kantor kita."

"Ehem," jawab Awan.

"Kita beda perusahaan, cuma ada di gedung yang sama. Tapi kita sering ada di tempat yang sama, dan lebih selalu pas momen hujan,"

Lalu terdengar suara Awan terkekeh pelan.

"Aku nggak suka sama kamu 'kan awalnya. Kita sering ketemu di rooftop karena aku lagi nikmatin momen sendiri aku disela sibuknya aku kerja sama target yang bikin aku pusing, dan kamu, karena kamu asik baca buku sambil nikmatin angin, nunggu jam kantor selesai 'kan,"

Aira mengangguk. "Bukannya kamu yang suka aku duluan ya?" Awan mendorong tubuh Aira pelan supaya merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatapnya. Aira menunduk malu. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Awan yang tertawa.

"Coba ceritain. Itu gimana si, aku lupa lho, Ra," ledek Awan.

"Bohong banget lupa," Aira masih malu.

Flash back.

Suara Lift terbuka. Aira masuk kedalam Lift bersama para karyawan lain menuju ke lantai perusahaan masing-masing. Saat lift berhenti di lantai dua. Aira melihat sosok pria dengan raut wajah kalem, cenderung serius masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut.

Aira mencuri pandang sesekali. Saat itu jantungnya sudah berdebar. Ia tak tahu siapa pria itu. Yang ia tahu, hanya seragam perusahaan otomotif ternama yang memiliki kantor pusat di salah satu lantai gedung tersebut. Pria itu melirik ke arah Aira. Tanpa senyuman. Aira menunduk dan tak berani menatap kembali.

Hingga, pertemuan tak sengaja di atas gedung menjadi waktu yang tak mereka rencanakan untuk bertemu. Aira jatuh cinta kepada sosok lelaki itu. Hingga disatu acara, mereka bertemu dan dikenalkan secara resmi oleh teman Aira yang ternyata sepupu lelaki tersebut. Mereka saling tau nama masing-masing. Hingga obrolan pun terjadi dan mereka menjadi lebih dekat dan nyaman satu sama lain.

Flash back end.

Suara hujan terdengar di luar rumah. Awan beranjak dan membuka tirai. Ia berdiri sambil menatap keluar jendela dengan kedua tangan ia masukan kedalam saku celana pendek yang ia kenakan.

"Aku suka hujan, kondisi alam yang bisa bikin aku berfikir banyak hal," ucap Awan.

Aira beranjak. Ia duduk di tepi ranjang. "Aneh. Orang banyak yang benci hujan karena aktifitas mereka berhenti, kamu malah suka," Aira bersedekap.

"Ya. Aku memang aneh, seaneh itu sampai kamu nggak bisa beranjak dari aku 'kan?" lirik Awan sambil terkekeh. Aira berdecak. Ia beranjak dan mengalungkan tangannya di pinggang Awan. Memeluk suaminya dari belakang sambil menghirup aroma yang khas dari tubuh Awan.

"Aku nggak akan bisa beranjak Mas, dalam kondisi apapun," timpal Aira.

Ia menempelkan wajahnya di punggung Awan. Sedangkan Awan menatap pantulan dirinya dari kaca jendela dan menatap tajam. Aira tak melihat tatapan itu, seolah Awan sengaja menyembunyikan sosok lain dirinya.

***

"Airaaa!!! Gue hamilll!" Teriak Kinan. Rekan sejawat Aira yang berada satu divisi dengannya. Aira tersenyum mengangguk senang lalu memeluk Kinan. Ia juga melihat hasil test pack yang menunjukan dua strip.

"Sehat-sehat keponakan aunti Aira yaaa," Aira mengusap perut Kinan yang masih rata.

Kinan tersenyum. Lalu menatap Aira. "Lo udah cek, Ra?" tanya Kinan. Ia tau, karena kemarin Aira sempat bercerita sedikit.

"Udah. Tapi belum rejeki, Nan, lo duluan." Aira tertawa. Walau hatinya terasa nyeri. Disaat usia pernikahannya sudah tiga tahun, ia belum hamil. Kinan, baru dua bulan menikah, langsung hamil.

"Nggak apa-apa, mudah-mudahan secepatnya ya, gue izin balik cepet ya, Ra, habis maksi mau ke dokter buat mastiin, tadi baru test pack doang." Kinan menatap Aira penuh harap. Aira mengangguk.

"Iya. Santai, kerjaan lo gue yang kontrol nanti. Yang penting notulen rapat kemarin udah lo rapihin 'kan? Bu bos nanti ngamuk," ucap Aira sedikit berbisik.

"Beres itu. Makasih ya, Ra," Kinan menggenggam jemari Aira.

"Sama-sama Kinan, i'm happy for you." Aira mengusap perut rata Kinan. Mereka lalu tertawa bersama.

‘Ya Tuhan, semoga aku cepat mengandung anakku dan Mas Awan. Izinkan aku menjadi seorang ibu.’ Aira berdoa dalam hati. Ia lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.

Bab 2

Lama Awan berdiri di stand pameran otomotif yang perusahaannya ikuti. Sebagai Supervisor Branch area, ia harus benar-benar mengawasi dan turun tangan disetiap kegiatan yang diikuti perusahaannya yang berlogo 'Z' itu. Seragam pun ia kenakan, walau berbeda warna dengan para anak buahnya. Gayanya menunjukan bahwa ia seorang yang mapan, baik dari karir maupun rezeki materi. Bisa dilihat dari jam tangan, sepatu, bahkan ponsel yang ia miliki. Siapa pun pasti terkagum menatap sosok Awan.

Ia melirik ke setiap sudut acara pameran otomotif terbesar itu. Sudut matanya menatap ke salah satu stand mobil lain kemudian ia berjalan perlahan menghampiri. Senyumnya mengembang mana kala ia menemukan sosok seseorang di sana. Ia berjalan sambil melihat sekeliling. Lalu, jemari tangannya sengaja menyenggol jemari sang wanita yang berdiri anggun di samping mobil yang sedang dipamerkan.

Awan tak menoleh, ia terus berjalan angkuh. Sedangkan sang wanita tersenyum menunduk mendapati sentuhan di jemarinya. Wanita itu pamit kepada beberapa orang di sana dan berjalan mengikut langkah kaki Awan yang berjalan ketengah-tengah lautan manusia yang ramai.

"Bisa banget kamu mepet-mepetnya." Mereka berbicara sambil terus berjalan. Tak mau menarik perhatian siapa pun di sana. Awan tersenyum.

"Apa kabar," tanya Awan seakan ia ingin buru-buru mengetahui keadaan wanita yang berjalan di sampingnya.

"Baik. Kamu gimana?" Wanita itu sedikit melirik dari ekor matanya. Lalu tersenyum malu.

"Gini aja." Jawab Awan tenang.

"Kemarin-kemarin kenapa nggak balas pesan aku?" Wanita itu memberanikan menoleh ke Awan. Helaan napas Awan terdengar dan sorot matanya menunjukan kesenduan.

"Ada sedikit masalah sama Aira," jawab Awan sembari menoleh ke wanita lawan bicaranya.

Mereka saling melihat ke sekitar, lalu saat dirasa aman dari jangkauan orang yang mereka kenal. Jemari Awan langsung menggenggam jemari wanita itu dan membawanya ke sudut area pameran yang sepi. Tepatnya, ke arah pintu belakang yang terdapat banyak barang. Keduanya lalu tak menunda apa yang sebenarnya sudah mengganjal di hati. Awan mencium buas bibir wanita itu, mengangkat satu kaki jenjang sang wanita sehingga menempel ke miliknya yang mulai bereaksi. Tangan lentik wanita itu mulai mengarah ke pusat Awan, pria itu mengeram, keduanya semakin panas berbuat tindakan tak bermoral itu. Napas memburu, membuat keduanya tak bisa menahan lagi, Awan menarik tangan wanita itu ke arah gudang yang sebelumnya, ia sudah survey dan pastikan tak akan ada yang ke sana. Suasana gelap, tak masalah bagi keduanya untuk menuntaskan permainan panas dan cepat keduanya.

Awan dan wanita itu begitu mendamba, hingga pelepasan keduanya terjadi, napas terengah, dengan tubuh saling memeluk erat walau posisi mereka berdiri. Awan menberikan kecupan dalam dan begitu menuntut pada akhirnya, wanita itu berbisik kalimat sensual yang membuat Awan tersenyum dengan wajah ia sembunyikan diceruk leher sang wanita.

Kemudian, setelah keduanya merapikan pakain, dan berpisah sementara ke toilet, mereka berdiri bersebelahan. Dengan tubuh bersandar pada dinding, wanita itu terus menggenggam jemari Awan, begitu pun sebaliknya.

"Aira belum hamil juga?" tanya wanita itu sambil menoleh dan menatap Awan.

"Hm. Iya, aku nggak tau salah di mana? Kita berdua udah periksa dan sehat, kenapa dia belum hamil juga," jawab Awan sambil menoleh juga dan menatap lekat wanita yang berdiri di sampingnya. Wanita itu tersenyum.

"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" Wanita itu terkekeh. Awan menarik genggamannya sehingga tubuh mereka berdempetan. Lalu kepala Awan bersandar di kepala wanita tersebut.

"Kangen kamu Manda," lirih Awan. Manda tersenyum.

"Aku pingin peluk kamu yang lama, tapi nggak mungkin di sini, pasti banyak yang curiga aku nggak keliatan di stand," ucap Awan lagi. Manda berdiri tegap dan menatap Awan.

"Tadi kan, udah, lagian, mau sampai kapan kita berdua gini, ngumpet dari pasangan masing-masing?" Amanda tersenyum sambil mengusap wajah Awan.

"Sampai bosen." Awan tak peduli, lalu menarik pinggang Manda dan memeluknya. Manda juga balas pelukan Awan. Hanya sebentar. Tapi begitu berarti bagi mereka.

Keduanya melepaskan pelukan, memutuskan berjalan terpisah. Manda sempat memberi kecupan singkat di pipi Awan sebelum mereka kembali ketempat masing-masing.

Setibanya di stand, Awan dikejutkan dengan ucapan salah satu anak buahnya. "Pak, tadi Ibu ke sini, cari Bapak.” Ia terkejut. Lalu mencari sosok Aira diantara ramainya manusia yang ada di sana.

"Sekarang kemana dia?" tanya Awan.

"Ibu ke toilet, katanya nanti ke sini lagi Pak, tas Ibu juga sama saya nih," tunjuk Mika, salah satu anak buah perempuannya. Awan mengangguk.

Tak lama sosok Aira muncul dan tersenyum ke arah Awan. Dengan seenaknya Awan langsung memeluk Aira dan mengecup pelipis di depan para anak buahnya. Mendapat ledekan dari mereka juga. Membuat Aira tersipu malu.

"Malu Mas Awan," lirik Aira. Awan terkikik.

"Kok nggak bilang mau ke sini?" tanya Awan sambil menangkup wajah Aira.

"Tadi pas aku bilang kalau ada pameran mobil ke temen-temen kantor, mereka semangat minta ke sini, bos aku juga mau lihat-lihat, yaudah, jadi pada kabur maksi ke sini," Aira mengusap rahang Awan lembut.

Awan mengangguk. Lalu kembali memeluk Aira dengan hangat. Ia letakan dagunya di atas kepala Aira. Namun sorot matanya justru menatap Manda yang berdiri di sudut lain sambil tersenyum ke arah Awan.

Aira diam di dalam pelukan suaminya. Kedua alis mata serta keningnya mengkerut.

‘Wangi siapa ini? Bukan parfumeku,’ ucap Aira dalam hati. Ia lalu menggeleng pelan. ‘Jangan mikir aneh-aneh, di sini banyak orang, Mas Awan pasti nggak sengaja beberapa kali berpapasan sama orang, atau perempuan dikerumunan pameran.’ Ia membesarkan hatinya sendiri. Kemudian tangannya memeluk erat suaminya itu.

Aira kembali ke kantor bersama teman-temannya saat jam makan siang akan berakhir. Ia pamit dengan suaminya dan pulang lebih cepat. Awan tak perlu menjemputnya, karena jika pameran pasti Awan akan stand by di lokasi.

Awan mengecup kening Aira saat istrinya itu pamit dan mencium punggung tangannya. "Hati-hati, Sayang," ucap Awan yang mendapat senyuman bahagia dari Aira dan anggukan.

"Aku tunggu di rumah ya, Mas," ucap Aira sambil melambaikan tangan.

Ia berjalan bersama teman-teman kantornya. Kinan merangkul bahu Aira sambil meledek karena melihat sikap Awan dan Aira yang begitu terlihat saling mencintai. Raut wajah Awan berubah saat sosok Aira sudah tak tampak di area pameran. Kedua matanya kembali mencari sosok Manda. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk.

Manda : "Enakan peluk dia atau peluk aku?"

Awan terkekeh sambil mencari sosok tersebut. Saat ia mendapati Manda sedang berdiri di samping mobil yang dipamerkan. Ia membalas pesan.

"Perlu aku jawab lagi." Lalu Awan tersenyum dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.

Bab 3

Denting suara sendok di dalam cangkir berisi kopi itu terdengar di dapur rumah sederhana yang ditempati Aira dan Awan. Aira melirik Awan yang seperti merasa terganggu dengan acara televisi yang menayangkan berita Gossip selebriti yang banyak di isi dengan perselingkuhan dan saling merebut pasangan.

"Jangan ditonton , Mas, kalau bikin kening kamu mengkerut kayak gitu," ucap Aira sambil duduk di sebelah suaminya yang diam tak merespon teguran istrinya.

"Gimana di kantor? Pamerannya udah selesai 'kan?" Aira mengusap lengan padat berisi suaminya yang merangkul bahu Aira. Malam minggu, mereka isi dengan di rumah saja. Malas untuk keluar rumah. Terlebih di luar sedang hujan. Tak ada respon dari Awan. Aira menoleh. "Mas Awan," panggilnya manja.

"Hm, eh, apa sayang," tanya Awan sambil menatap kedua mata Aira yang justru heran menatapnya.

"Gimana kerjaan kamu? Pameran udah selesai, 'kan?" Aira bersandar manja di dada bidang suaminya itu.

"Baik, lancar," jawab Awan lalu mengusap dan mencium puncak kepala Aira.

"Kangen, Ra," peluk erat Awan. Ia mengendus wangi Aira sambil terpejam. Aira terkekeh kegelian dengan perlakuan suaminya itu.

"Kenapa sih, Mas, kamu? Ada yang ditutupin, Ya," jeplak Aira sambil terus terkekeh.

Deg

Awan terdiam. Tapi ia justru semakin menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan sehingga suara lain yang justru keluar dari istrinya itu. Tak hanya sampai disitu, saat Aira mencoba lepas dari pelukan dan ciuman bertubi-tubi suaminya, ia justru yang kalah. Awan selalu bisa membuatnya terlena.

***

Keesokan harinya, Kinan menatap Aira yang tak henti tersenyum. Sudah tiga hari itu temannya terus sumringah setiap berangkat ke kantor.

"Ada apa si, tiga hari ini lo happy banget kayaknya." Kinan bertanya seraya menenggak susu ibu hamil yang baru ia seduh.

"Mas Awan, dia bikin gue jatuh cinta berulang kali sama dia, Nan, bisa banget suami gue tuh bikin gue, ahhhh.. lo tau 'kan," colek Aira sambil merapihkan kunciran rambutnya supaya lebih rapih.

"Lagi ada yang ditutupin kali dari suami lo," jeplak Kinan santai.

"Ngaco. Suami gue nggak pernah nutupin apapun sama gue."

"Yakin? Handphone masih dipassword nggak sama dia?"

"Enggak," jawab Kinan.

"Bagus kalo gitu. Eh Ra, lagian ya, gue suka curiga sama suami atau istri yang suka password password HP, kayak sama siapa, gitu 'kan, Ya."

"Privasi katanya 'kan, walaupun udah suami istri, harus tetap saling jaga privasi masing-masing." Aira memasukan sisir kedalam tasnya lagi dan sudah bersiap dengan pekerjaannya.

"Rahasia? Ya kali rahasia sama pasangan, nanti yang ada tau-tau udah punya selingkuhan,hiiii ... merinding gue bayanginnya." Kinan menyalakan monitor komputernya.

Aira diam. Berpikir sejenak. Memang sempat beberapa waktu lalu Awan selalu memPassword HP nya, namun saat ia meminta supaya tidak di password lagi,Awan menurutinya tanpa protes.

"Mas Awan nggak bakal punya selingkukan, kelihatan dia cinta banget sama gue." Aira terkekeh hingga malu sendiri bisa berkata seperti itu.

"Iya. Gue yakin Mas Awan lo nggak aneh-aneh. Orang kakunya udah kaya triplek gitu, siapa juga perempuan keganjenan yang mau sama dia, elo doang yang kepincut se-cutcutcutnya," ledek Kinan.

"Gue juga nggak tau, Nan, dari awal gue tertarik banget sama Mas Awan, karena kalem dan diem kali ya, nggak petakilan, dan semakin gue jalanin pacaran empat tahun sama dia, malah semakin besar dan dalam rasa cinta gue ke suami gue itu." Aira senyum-senyum sendiri. Kinan tertawa. Ia ikut bahagia jika rekan satu kantornya sebegitu bahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Kinan menatap ponsel yang menampilkan panggilan masuk dari suaminya.

"Ya halo calon Ayah," ledek Kinan ke suaminya itu. "Hem? Apaan? Belum, nanti aku lihat deh, ya," lanjutnya.

"Iya. Nggak mual-mual kok aku, nih, habis minum susu bumil ditemenin Aira." Kinan tersenyum ke arah Aira yang terkekeh sambil menatap layar komputernya.

"Oke, bye darling." Kinan menekan tanda merah dilayar lalu membuka pesan yang dikirim suaminya. Sebuah foto. Suaminya menulis caption.

'Ini Awan suaminya Aira kan, Nan?'

Kinan diam. Jantungnya berdebar kencang. Suaminya mengirim foto Awan sedang mencium seorang wanita di dalam mobil di parkiran showroom mobil merk P. Tatapan Kinan berganti ke arah layar lalu menatap Aira yang senyum-senyum sendiri. Kinan mengirim pesan singkat ke suaminya. ‘Fotoin lagi, Bi, jangan sampai ketahuan tapi ya, kamu ngapain di showroom itu?’ Begitu isi pesan singkat Kinan. Tak lama suaminya membalas pesan istrinya itu.

‘Aku temenin bos cek unit mobil buat urusan kantor, yaudah nanti aku kabarin kamu ya, jangan cerita ke Aira ya sayang, aku coba cari tau.’ Begitu balasnya.

Kinan mengunci layar ponselnya. Menatap Aira yang begitu polos dan tulus kepada Awan. "Aira," panggil Kinan. Aira menatap Kinan.

"Udah pernah cek isi HP Mas Awan belum?" tanya Kinan santai sambil pura-pura merapikan berkas-berkas.

"Belum, sih, males juga, kenapa?" Aira menatap Kinan curiga.

"Nggak apa-apa, wajar 'kan kalo suami istri ngecek-ngecek, kali-kali pasangan kita diem-diem fotoin kita pas tidur, lagi nganga atau ngeces," tawa Kinan pecah. Aira juga ikut tertawa.

Mereka saling melempar candaan sebelum bu bos mereka datang. Kinan mencoba merahasiakan dan menutupi keterkejutannya di depan Aira.

'Ra, suami lo selingkuh, Ra.' ucap Kinan dalam hati. Kinan beranjak dan pamit ke toilet. Ia berjalan dengan sedikit terburu-buru dan menatap layar ponsel di tangannya. Setelah ia masuk kedalam bilik toilet. Kinan membuka pesan singkat yang dikirim suaminya.

‘Dia pacarnya suami Aira, Kinan.’ Begitu isi pesan suaminya. Lalu pesan lain masuk. ‘Si cewek itu, manager pemasaran di showroom mobil di sini, dan sudah bersuami juga.’ Kinan menunduk. Ia mengatur napasnya dan rasa sedih yang tiba-tiba muncul. Aira, sebegitu besarnya mencintai seorang Awan. Justru dicurangi oleh pria yang ia cintai.

Kinan menempelkan ponsel ke telinganya. "Kamu tau dari mana, Bi?" Bisik Kinan masih di dalam bilik.

"Marketing di sini yang bilang, Gossip itu udah nyebar di kantor ini, tapi si cewek yang ada di mobil sama Awan, cuma ketawa dan minta buktinya, karena para penggossip di sini nggak punya bukti, jadinya dimentahin aja sama cewek itu. Kecuali kalau foto yang tadi aku ambil diem-diem, kita kasih tau ke mereka, baru heboh. Kaca mobil Awan bagian depan emang terang, kok nggak takut kelihatan banyak orang. Ini cewek siapa sih!’ sewot suami Kinan.

Kinan menghela napas panjang, "Ok. Kita biarin dulu dan cari bukti sampe jelas, aku juga bakal berusaha tutupin dari Aira, brengsek Awan," umpat Kinan

"Hei sayang, hati-hati bicaranya, lagi hamil kamu 'kan?" tegur suaminya.

Kinan terkekeh. Ia lalu keluar dari bilik di dalam toilet. Tubuhnya menegang saat Aira sudah berdiri di dekat pintu bilik.

"Bisik-bisik telponan sama siapa, sih, lo?" tanya Aira tak curiga. Kinan lega.

"Sama suami lah, kangen gue," ngeles Kinan.

"Idih, najong." Aira mencuci tangan dan mencolek pipi Kinan. Kini ponselnya bergetar. Aira tersenyum saat menerima foto selfie suaminya di dalam mobil dengan caption.

'I miss you so bad, Aira.' Aira senyum-senyum sambil menatap Kinan. Lalu memperlihatkan layar ponsel ke Kinan.

"Bucin gue banget Mas Awan 'kan, Nan." Aira senyum-senyum.

'Jadi tadi mereka ciuman di dalam mobil Awan, jok mobilnya sama kayak di foto tadi. Fix, Awan brengsek.' Kinan mengumpat dalam hati.

"Yuk, Bu bos udah dateng, minta kita meeting buat acara family gathering." Aira merangkul bahu Kinan. Sedangkan Kinan justru memeluk Aira.

"Bahagia selalu ya Aira," bisik Kinan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED