Layar ponsel menjadi pusat perhatiannya saat ini, setelah lelah pandangannya beralih keluar jendela kereta menampilkan pemukiman warga yang terlewati. Tak fokus dan tak pasti karena jalannya yang cepat membuat apa yang dilihat tak begitu jelas. Mata Elena beralih pada seseorang yang ada di depannya. Pasangan suami istri dengan seorang anak laki-laki yang berada di gendongan sang ayah. Menenangkan si anak yang menangis akibat rewel ingin tidur tapi merasa tak nyaman karena berada di perjalanan.
Perjalanan menuju sebuah kota besar memang memakan waktu beberapa jam, tak sampai setengah hari hanya 4 sampai 5 jam. Tujuan Elena datang adalah untuk memenuhi tawaran yang datang kepadanya. Tawaran pekerjaan dari sebuah butik ternama. Awalnya Elena tak percaya. Apakah ini hanya sebuah bunga tidur? tapi ketika ia cubit lengannya sakit sangat terasa. Jadi aku tidak bermimpi bukan? Saat itu sebuah pesan di akun instagram keduanya muncul.
Meisieboutique_
Selamat pagi, saya sangat tertarik dengan desain-desain yang anda tampilkan mempunyai keunikan tersendiri. Maukah menjadi desainer di butik Meisie. Saya sangat
membutuhkan orang seperti anda.
Setelah membaca pesan itu, rasa senang langsung menerpa. Bahkan Elena meloncat kegirangan dan membuat Naura yaitu Mama Elena mengerutkan kening heran. Setelah mempertimbangkan dan mengecek semuanya. Ia menerima penawaran tersebut. Pihak butik, memberikannya alamat dan nomor telepon.
Menjadi seorang desainer adalah salah satu impian Elena. Menciptakan sebuah karya dan dikenal banyak orang. Ah sangat menyenangkan. Elena berharap ini bukanlah hanya sebuah ekspektasi.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Nyonya Mei. Apakah Nyonya Mei ada?" sapa Elena pada seorang pelayan butik.
"Maaf dengan siapa?"
"Elena Honora."
"Baik Nona. Silahkan duduk. Permisi saya akan panggilkan beliau," ucap gadis yang terlihat lebih muda darinya itu berlalu setelah Elena mengangguk dan memberikan senyum manisnya.
Elena mengedarkan pandangannya, butik ini sangat mewah, modern, dan juga memiliki sofa yang sangat nyaman, benarkah dirinya akan bergabung di sini. Menjadi salah satu karyawan? Ah senang sekali. Rasa syukur terus dipanjatkan Elena pada sang maha kuasa.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya dengan paras yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.
"Selamat datang Nona Elena," sapa seseorang yang berjalan menghampirinya.
Elena bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Apa kabar Nyonya Mei, panggil saya Elena saja."
Mei menerima uluran tangan Elena dengan hangat. "Hai Elena, jangan bicara formal dengan saya, santai saja," ucap Mei seraya terkekeh. Elena mengangguk karena ia pun tak begitu nyaman ketika berbicara formal.
"Saya suka sekali desain-desain yang kamu posting di instagram, ada yang sudah pakai semua desain kamu itu?"
"Ada, sebagian nyonya."
"Baguslah, apa semua desain kamu posting di instagram?"
"Tidak semua, ada beberapa yang saya hanya simpan di buku saya. Ini nyonya," Elena menyodorkan sebuah buku berisi gambar-gambar desainnya. Mei melihat-lihat semua gambar desain Elena yang belum pernah dilihat orang lain sebelumnya.
Elenapun menandatangani kontrak kerjasama antara dirinya dan butik Meisie. Masa percobaan selama satu tahun. Jika cocok, kerjasama bisa berlanjut sesuai kesepakatan. Mei memberitahu Elena ruangan kerjanya dan ruangan kerja Elena, dan memperkenalkan staf lain padanya.
"Oh ya, kamu sudah punya tempat tinggal?"
"Belum Nyonya, kemarin malam saya menginap di hotel belum sempat mencari tempat tinggal. Rencana hari ini saya akan mencarinya," tutur Elena yang sedang melihat-lihat koleksi butik Meisie bersama Mei.
"Kalau mau, ada satu apartemen milik keponakan saya. Dia tak memakainya dan pernah menawarkannya pada anak saya secara cuma-cuma. Tapi dikarenakan anak saya sudah memiliki tempat tinggal dan keluarga dan juga memiliki apartemen pribadi. Untuk itu dia tidak menggunakannya. Kalau mau kamu boleh tinggal di sana. Nanti saya bilang sama dia."
"Aduh nyonya tidak perlu, saya bisa mencari kosan sekitar sini." Mei menggeleng dan tersenyum.
"Tidak perlu sungkan Elena, adanya kamu sangat berpengaruh besar bagi butik saya. Apartemennya pun tak terlalu jauh ko, dia pasti tidak keberatan. Lagian dia tidak tinggal disana."
"Saya tidak tahu harus bagaimana, Nyonya Mei sangat baik. Terima kasih banyak nyonya."
"Iya sayang, kamu boleh bekerja mulai besok." Elena mengangguk, ia belum meninggalkan butik karena masih membicarakan soal apartemen yang Mei tawarkan.
Setelah mengobrol lewat ponsel bersama seseorang, Mei memberikan Elena alamat dan kata sandi apartemen tersebut. Elena terus mengucapkan terima kasih. Ia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik di kota besar yang membingungkan ini.
***
Elena tiba di kawasan apartemen mewah, ia terperangah. Salahkah ini? Elena akan tinggal di kawasan mewah seperti ini. Apa dirinya cocok? Sudah beberapa kali ia tanyakan pada sopir taksi tentang kebenaran tempat sesuai alamat yang Mei berikan padanya dan kalimat 'iya benar' menjadi jawaban dari pertanyaan Elena.
Kekaguman terus bertambah ketika Elena memasuki apartemen, matanya menyapu bersih setiap sudut apartemen. Elena menarik kopernya dengan mata yang masih memancarkan kekaguman dengan mulut menganga. Apakah dirinya berlebihan dalam menanggapi hal ini. Biarlah, karena memang ia sangat menyukai tempat tinggal milik sepupu Nyonya Mei. Siapa nama pemilik yang sebenarnya, ia harus mengucapkan terima kasih atau bahkan ia harus memberikan hadiah?
Sore ini Elena habiskan dengan membereskan semua barang yang ia bawa, dan beristirahat. Besok adalah hari pertama ia bekerja, Elena tak boleh sampai telat.
***
Makan malam ini sungguh sangat membosankan. Dua keluarga yang melakukan acara makan bersama, dengan tujuan yang sudah Alva ketahui. Alva Melviano anak pertama dari pasangan Roy seorang pengusaha, dan Rosie seorang desainer ternama Indonesia.
Suasana hati Alva semakin buruk karena seorang gadis yang berada di depannya saat ini. Audy Queena seorang model internasional yang dijodohkan oleh sang mama padanya. Alva bangkit dari duduknya, membuat alasan hanya karena ingin segera pergi dari tempat itu.
"Maaf saya izin ke toilet," ucapnya lalu berjalan meninggalkan mereka yang asik dengan pembicaraan masing-masing.
Setelah keluar dari area ruang makan, Alva segera melangkah pergi keluar rumah, mengendarai mobilnya. Ia ingin mencari tempat yang lebih menyenangkan ketimbang harus terus ikut paksaan dari Rossi untuk mengikuti makan malam dengan adanya tujuan terselubung.
***
Elena telah menyerahkan beberapa rancangannya pada Mei, setelah disetujui, pembuatan pakaian akan segera diproses. Kini Elena duduk santai seraya memainkan jarinya di atas layar ponsel miliknya. Selain merancang, ia pun mengerjakan hal lainnya. Seperti mencocokan setiap bagian ketika adanya pemotretan, melayani para pengunjung menjelaskan setiap koleksi yang ada disana. Jadi pekerjaannya bukan hanya sekedar merancang semata dan itu membuat Ellena tidak bosan.
Seperti hari ketiga Elena bekerja, ada pemotretan di butik Rosie yang ada di samping butik Meisie. Mei juga ikut melihat kesana dan mengajak Elena. Butik Meisie lebih fokus pada busana casual, sedangkan Butik Rosie yang pemiliknya merupakan kakak kandung dari Nyonya Mei merupakan butik gaun pengantin dan busana pesta.
Seorang fotografer sedang bekerja sama dengan pihak butik untuk mengikuti sebuah ajang fashion photography dimana hal itu bisa menguntungkan keduanya. Ajang tersebut tak hanya melihat hasil karya bidang fotografinya saja tetapi juga busana yang dikenakan dan yang akan dipamerkan.
Andres seorang fashion photographer sedang sibuk menelpon seseorang. Ia terlihat panik. Rupanya model perempuan yang sudah membuat janji dengannya belum juga datang.
"Andres, apa kamu sudah menghubunginya lagi?" Mei menghampiri Andres yang sibuk berbicara dengan asistennya.
"Sudah, baru saja ada kabar bahwa dia mengalami kecelakaan pagi ini. Beberapa model yang sering aku ajak untuk proyek lagi pada sibuk. Sedangkan aku hanya punya waktu hari ini saja, besok aku harus pergi ke china. Ini memang ajang besar tapi aku sangat sibuk dan hanya mempunyai waktu hari ini saja untuk pemotretan," ucap sang Fotografer bernama Andres itu seraya memijat kepalanya mungkin sudah pusing harus bagaimana.
"Terus Alva, apakah dia sudah datang?"
"Tuan muda baru saja tiba, dia sedang mengganti pakaiannya. Ah dia terlihat senang di tengah kepusingan," tutur Andres seraya terkekeh begitu juga dengan Mei. Elena yang sedari tadi mendengarkan mengernyit heran. Kenapa Andres dan Mei malah tertawa ketika membicarakan tuan muda. Siapa itu tuan muda?
"Dia belum juga berubah, setiap diminta untuk menjadi model pasangan ia memang sangat malas apalagi setelah pemotretan model wanita pasti selalu agresif terhadapnya," ucap Mei. Oh karena itu, kini Elena paham.
"Hai Nona, rasanya aku baru melihatmu?" Kini Andres mengalihkan perhatiannya pada Elena yang sedari tadi berada di samping Mei.
"Oh ini, desainer baru butikku. Perkenalkan namanya Elena Honora." Elena mengulurkan tangannya seraya tersenyum.
"Elena."
"Andres," kata Andres yang juga memperkenalkan diri.
Setelah bersalaman Andres memperhatikan Elena dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu senyumnya terbit. Elena yang melihat itu beringsut tak nyaman.
"Nona, apa kamu ingin membantuku?" tanya Andres.
"Jika saya bisa, saya akan membantu anda tuan," ucap Elena seraya tersenyum.
"Jadilah modelku.” Mata Elena membulat, lalu berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Haha anda bercanda tuan." Memang bagaimana bisa dirinya menjadi model. Elena sangat menyadari tubuhnya tak pantas untuk menjadi model, ia memiliki tinggi yang tidak memenuhi syarat seorang model. Tubuhnya memang tidak gemuk dan juga tidak kurus, tapi sepertinya juga tidak cocok.
"Bentuk tubuhnya bagus dan menurutku sangat cocok jika menjadi model. Apa dia punya akun instagram?" bisik Andres pada Mei. Mei ikut memperhatikan tubuh Elena, benar juga kenapa dia baru menyadarinya.
Mei membuka akun instagram dan melihat akun milik Elena dan memberikannya pada Andres. Andres puas setelah melihat foto-foto milik Elena.
"Ya dia sangat cocok. Bantu aku membujuknya," bisik Andres pada Mei.
"Tenanglah serahkan saja padaku."
Mei menghampiri Elena yang sedari tadi memandangi dirinya dan Andres dengan keheranan. Ia Pun membujuk Elena agar menyetujui permintaan Andres. Semua alasan yang Elena lontarkan untuk menolak ditimpali oleh Mei, sampai Elena tak bisa membalikan ucapan Mei lagi. Rupanya Mei sangat ahli dalam bujuk membujuk.
"Tapi kalo hasilnya tidak memuaskan bagaimana?"
"Tidak. Tidak akan," ucap Mei yang meyakinkan Elena lalu menarik tangan Elena menuju ruang ganti pakaian, menyiapkan Elena untuk mengikuti pemotretan.
***
Tangan Alva terus bermain di atas tab, dengan lincah ia menggerakan jarinya tak membiarkan setiap piringan dalam sebuah game itu lolos dari jangkauannya. Earphone yang sedari tadi bertengger di indra pendengarnya membuat Alva semakin intens dan lebih tangkap mengikuti alunan musik yang terdengar. Musik yang sudah sangat ia hafal ritme bahkan lirik yang sudah ada diluar kepala memudahkan Alva untuk berakhir menjadi pemenang.
"Alva ayo kita mulai." suara Andres menggema di ruangan tersebut. Alva tak mengindahkan panggilan itu karena yang ia dengar hanyalah irama lagu yang berasal dari benda kecil yang menguasai pendengarnya.
Andre yang sudah hafal betul apa yang sedang dikerjakan seorang Alva setiap waktu istirahat atau waktu kosong ketika sedang bekerja langsung menghampiri dan menarik melepaskan salah satu benda kecil itu dari telinga Alva.
“Aish,” gerutu Alva yang merasa terganggu. Tindakan Andres berhasil membuat Alva menoleh.
“Maaf tuan muda, saatnya kita mulai bekerja,” ucap Andres dengan nada suara penuh hormat. Sikap yang cukup Alva tak suka karena menurutnya itu cukup berlebihan.
"Loh bukannya dia gak datang?" Alva mulai mematikan tab masih dengan posisi duduk santainya.
"Sudah ada yang menggantikannya," ucap Andres.
Alva menghembuskan nafasnya kasar, menjadi seorang model adalah profesinya saat ini. Berawal dari pertemuan tak sengaja ketika dirinya masih duduk di bangku kuliah. Seorang fotografer profesional ini begitu saja menemuinya ketika Alva menghadiri acara yang sedang diadakan oleh butik sang ibu. Penawaran itu Andres lakukan tepat di depan Rosie dan tak dapat dipungkiri raut wajah senang itu terpancar dari wajah ibunya ketika mendengar anaknya ditawari sebagai model salah satu majalah bergengsi membuat Alva enggan untuk menolak. Sejak saat itu, profesinyalah yang menyelamatkan ia dari perspektif sang ibu terhadapnya.
Sebuah perspektif yang cukup mengganggunya. Adanya perbandingan antara Alva dengan adiknya yang bernama Felicia. Ketidaksetaraan rasa dan sikap yang dilakukan Rosie terhadap kedua anaknya dan adanya kekangan yang mengharuskan seorang Alva menjadi seseorang yang Rosie inginkan.
Alva mulai bangkit dari duduknya memasuki ruang pemotretan. Kedatangannya mengundang perhatian semua orang yang ada di sana. Alva mengenakan tuksedo berwarna hitam, salah satu koleksi Rosie boutique.
Alva berjalan menghampiri Andres, matanya menoleh ke arah seseorang yang sedang duduk menggunakan Ball Gown. Mei juga berada disana.
"Hai Al, kamu sudah siap?" Andres yang mengetahui kedatangannya langsung menepuk pelan bahu Ava. Alva mengangguk mengiyakan.
"Perkenalkan ini Elena Honora, untung saja Mei punya desainer cantik ini jadi kita bisa meneruskan pekerjaan kita hari ini."
Desainer? Perasaan baru melihatnya.
***
Alva mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. "Alva,” katanya. Elena menerima uluran tangan itu lalu tersenyum.
"Elena," ucap Elena ikut memperkenalkan diri.
Dia tersenyum? Mata Alva terpaku melihat sosok yang berada di depannya tersenyum. Bahkan tangannya belum juga melepaskan tangan mungil itu.
Mata Elena mengerjap beberapa kali, apakah ini si tuan muda yang tadi dibicarakan. Ia akan menjadi partnernya kali ini, benarkah? Rasanya Elena ingin pingsan saja. Ia cukup terpesona pada sosok di depannya, apalagi gaya rambut yang menurutnya cukup menarik perhatian. Rambut itu diikat sebagian ke belakang membentuk kuncir yang tak terlalu besar, dengan beberapa helai rambut bagian depan yang dibiarkan tergerai tapi dengan lengkungan yang sangat sempurna. Penataan rambut yang sangat bagus, ah Elena menyukai itu. Masih saja seperti ini, tak jarang alasan Elena tertarik pada seseorang itu berawal dari gaya rambutnya.
"Hei Alva Melviano!" suara Mei mengagetkan keduanya.
"Kalian bersalaman terlalu lama," tambah Mei seraya tersenyum lebar.
Alva dan Elena menoleh pada tangan mereka, Elena langsung menarik tangannya. Wajahnya bersemu merah karena malu. Alva yang melihat itu tersenyum karena Elena yang menurutnya menggemaskan.
"Ayo kita mulai,” seru Andres yang kini sudah mengambil kamera andalannya.
Semua properti telah disiapkan. Butik ini memiliki ruangan khusus yang luas untuk pemotretan jadi memudahkan mereka dalam penataan properti sesuai konsep yang telah disepakati.
Rasa canggung terus menjalar pada tubuh Elena. Padahal mereka baru berpose tanpa ada kontak fisik tapi tetap saja jantungnya tak karuan. Walaupun begitu Elena berusaha keras mengikuti arahan sang fotografer.
"Oh Elena. You are so great, i like it!" ucap Andres seraya melihat hasil jepretannya. Elena menghela nafas lega, untungnya ia dapat mengatur ketegangannya.
"Apa kamu sering berhadapan dengan kamera?" tanya Andres di sela sesi foto yang hanya memotret Elena saja.
"Mm, dikatakan sering juga tidak," jawab Elena yang kembali mengatur posisinya.
"Kamu sangat mudah diarahkan, dan tak jarang kamu bisa menyesuaikannya sendiri, posemu juga oke terima kasih sudah sangat membantu," ucap Andres lagi.
"Sama-sama tuan," ucap Elena seraya tersenyum.
"Masih ada dua gaun lagi Elena. Semangat!" Elena terkejut, dia kira hanya satu gaun saja. Ia hanya mampu mengangguk kikuk.
Alva yang masih berdiri disana terus memperhatikan Elena yang masih menjalankan pemotretan. Walaupun sebelumnya Andres sudah menyuruhnya berganti kostum, tapi Alva bersikeras untuk tetap disana memperhatikan Elena, seorang model dadakan tapi terlihat profesional.
***
Elena memandangi dirinya di depan cermin besar, ia merasa risih dengan gaun yang dipakainya. Gaun pertama itu aman-aman saja tapi kali ini mermaid wedding dress dengan strapless trumpet yang mengekspos jelas bahunya, dan belahan dadanya terlihat. Elena baru pertama kali menggunakan gaun, dan baru pertama kali mengenakan pakaian dengan jenis seperti ini. Walaupun ibunya seorang penjahit tapi belum pernah menjahit pakaian model gaun seperti ini dan ia pun belum pernah merancang gaun-gaun pengantin, Elena lebih banyak merancang pakaian kasual karena itu ia cocok bekerja di butik Mei. Ia merasa sangat gugup. Tapi jika dilihat-lihat tubuhnya memang tidak gemuk. Pinggangnya ramping walaupun tak seramping model pada umumnya. Dengan rambut yang digerai dan di curly bagian bawahnya menambah kesan anggun bagi penampilannya.
"Elena sudah siap?" Mata Mei membulat melihat penampilan Elena yang begitu mempesona.
"Oh darling, you're so beautiful." Mei menghampiri Elena yang masih memperhatikan penampilannya.
"Tapi nyonya, apakah ini tidak terlalu terbuka?" Mei memperhatikan bagian dada Elena, lalu menggeleng.
"Modelnya memang seperti ini sayang. Kamu terlihat sangat cantik dan sexy," ucap Mei lalu mengedipkan matanya dan tersenyum. Hal itu menambah keresahan bagi Elena.
"Sudah, ayo kita keluar. Mempelai pria sudah menunggu." Mei terkekeh geli begitu juga Elena. Memang seperti sedang foto prewedding saja. Tapi sayangnya bukan, batin Elena lalu disusul dengan kekehannya lagi.
"Oh ya, aku belum berkenalan dengan pemilik butik ini."
"Ka Rosie sedang ada urusan di luar kota, malam ini ia pulang. Untuk itu dia percayakan semua ini padaku," tutur Mei.
"Apa dia sudah tahu adanya pergantian model?" tanya Elena dan Mei pun mengangguk.
"Aku sudah memberitahunya, dan itu tak menimbulkan masalah sama sekali malah dia ingin bertemu denganmu dan mengucapkan terima kasih." Elena lega mendengarnya.
*
Elena berjalan menghampiri Andres, entah kenapa ia merasa semua mata tertuju padanya begitu juga pria tampan yang berdiri disamping Andres.
"Oh, you're so beautiful." Andres terlihat sangat mengagumi penampilan Elena.
"Thank you," ucap Elena.
Alva tak berkata atau berkutik, ia terus memperhatikan Elena yang sangat cantik, dengan balutan gaun yang mengekspos bahu cantiknya dan rambut hitam pekatnya yang tergerai indah dengan gelombang dibagian bawahnya dan kini mata Alva melirik bagian dadanya. Oh shit! Stop Alva. Alva langsung mengalihkan pandangannya.
"Ok jadi kalau ini, aku benar-benar minta sama kalian berdua harus bisa menciptakan feel seakan nyata. Elena anggaplah Alva sebagai orang yang kamu sangat cintai dan begitu juga kamu Alva dan sekarang pasti ada sentuhan-sentuhan kecil. Ok. Tak masalahkan Elena?" Mata Elena membulat, sentuhan? Sentuhan seperti apa?
"Ok tak masalah," ucap Alva.
Elena langsung menoleh dan mendapatkan Alva yang tersenyum miring, dan itu membuat jantung Elena berdegup cepat karena takut.
Entah keberapa kalinya ia harus menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan menenangkan jantungnya yang terus bergemuruh.
"Elena lebih dekat lagi," seru Andres.
Elena tak ingin terlalu dekat dengan Alva ini benar-benar membuatnya salah tingkah. Menyadari Elena tak mendekat sama sekali, Alva mendorong punggung gadis itu agar mendekat padanya. Elena yang belum siap menerima dorongan itu refleks menempelkan kedua tangannya pada dada bidang Alva yang terbalut tuksedo.
"Ok sip, Elena kamu melihat kearah lain dan kamu Alva, kamu pasti sudah tau." Andres mengedipkan sebelah matanya dan Alva tersenyum mengerti.
"Rileks aja," bisik Alva pada Elena. Elena hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Bagaimana bisa rileks, dekat tak berjarak seperti ini dengan orang yang ia kagumi ketampanannya.
Sebelum Elena datang, Andres memberitahu Alva pose apa saja yang harus dilakukan mereka berdua, dan kini Andres memberitahukannya pada Elena. Matanya sangat menyiratkan keterkejutan dan itu terlihat lucu dimata Alva.
Kini Alva dan Elena kembali berpose dan semua itu terus mengundang perhatian para pegawai yang lainnya. Tak sedikit diantara mereka merasa iri dengan Elena yang dapat menggantikan posisi model di samping Alva dan mereka memperlihatkan jelas kecemburuannya karena sang idola mereka bersama perempuan lain yaitu Elena.
Alva duduk di sebuah sofa yang sudah menjadi properti pendukung pemotretan. Ia mengulurkan tangan pada Elena agar segera duduk di pangkuannya. Kecanggungan terus melanda. Elena menerima uluran tangan itu lalu duduk menyamping di pangkuan Alva.
"Tolong itu bagian bawah gaunnya dirapikan," perintah Andres pada salah satu pegawai butik.
Elena mendekatkan wajahnya ke arah Alva, mata Alva fokus pada bibir mungil Elena. Kenapa ia merasa tergoda seperti ini, tak seperti biasanya. Elena sedikit memiringkan kepalanya lalu terpejam. Jika bukan karena arahan dari Andres Elena tak ingin melakukan ini, bibir yang nyaris bersentuhan. Percayalah jantung ini terus bekerja lebih cepat.
Kini gaun terakhir, dan apalagi ini? Elena semakin gelisah.
***
A-Line dress dengan bagian punggung terbuka sampai ke pinggang. Oh please, tak adakah gaun lain.
"Maaf, apakah harus gaun ini yang dipakai? Tak adakah gaun yang lain?" tanya Elena pada penata busana.
"Ia Nona, karena ini adalah koleksi terbaru kami," jawab wanita paruh baya itu tersenyum dan kembali membantu Elena mengenakannya. Elena pasrah saja, yang harus ia lakukan saat ini adalah segera menyelesaikan pekerjaan dadakan ini agar tak terlalu lama mengenakannya. Sungguh Elena tak nyaman.
Alva berjalan memasuki ruang rias sang model perempuan. Ia Pun terperangah melihat penampilan Elena. Elena sedang bercermin, menunggu aksesoris yang sedang dipasangkan pada sebagian rambutnya yang dikepang berbentuk bunga mawar. Alva semakin terperangah melihat punggung wanita itu yang terekspos jelas. Kaki Alva begitu saja melangkah mendekati Elena. Keterkejutan Elena yang tiba-tiba melihat Alva yang berjalan di belakangnya membuatnya langsung berbalik.
"Kamu lagi apa?" tanya Elena.
Alva berdehem dan berjalan semakin mendekat. "Udah siap?" Elena mengangguk kikuk. So awkward. Alva menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Ayo keluar," ajak Alva kemudian. Ia Pun berjalan mendahului, tapi tiba-tiba Alva kembali berbalik.
"Mmm perlu bantuan?" Elena tersenyum dan menggeleng. Oh shit! Your smile is so stunning.
"Oh ok." Alva kembali melangkah.
Lagi-lagi semua orang menatapnya intens, apalagi saat ini. Elena berjalan beriringan bersama Alva.
"Kalian seperti pengantin sungguhan," ujar Mei berjalan mendekat menghampiri Alva dan Elena yang terbatuk sedangkan Alva terkekeh geli.
Arahan kembali terdengar. Elena merasa lega karena kini jaraknya tak begitu dekat dengan Alva, ia bisa lebih fokus mengekspresikan dirinya. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama.
Kini Elena berdiri menghadap Alva membelakangi kamera, bertujuan untuk memperlihatkan bagian belakang gaun yang ia pakai. Punggungnya tidak terlalu terekspos jelas karena rambutnya yang terurai menutupi sebagian punggungnya yang terbuka. Alva meletakkan kedua tangannya di pinggang Elena, dengan wajah menghadap ke wajah Elena.
Tangan kanan Elena berada di samping pipi kiri Alva dan tangan kirinya berada di bahu kanan Alva.
"Elena lebih rileks ya," Andres berseru.
"Santai aja," ucap Alva membuat mata Elena ikut menatapnya dengan segenap kegugupannya, Elena berusaha untuk merilekskan jantungnya.
Setengah jam kemudian pemotretan selesai. Rasa lega menjalar ke seluruh tubuh Elena. Setelah mengganti gaun dengan pakaiannya kembali. Ia menghampiri Mei, yang sedang duduk di sofa.
"Oke sih tapi gak terima saja. Dia baru loh di butik Nyonya Mei. Tapi udah bisa deket-deket sama tuan muda."
"Beruntung banget dia. Tapi tetep gue gak rela."
"So' cantik ya gak."
Desas desus itu terdengar dari arah ruang rias, perasaan lega itu bercampur aduk dengan rasa sakit. Walaupun berusaha untuk biasa saja, tapi rasa tak nyaman tetap ada.
Elena izin pergi kembali ke butik Mei, walaupun sebelumnya Andres menahannya agar mengobrol dulu seraya minum teh. Tapi ia menolaknya dengan lembut.
"Kamu pasti lelah, ya sudah istirahat aja ya. Pakai ruang istirahat aku aja," kata Mei menawarkan ruang istirahatnya untuk Elena beristirahat. Elena kembali menolak, ia memilih untuk pulang ke apartemen. Beristirahat disana akan lebih baik.
Alva hanya diam seraya memperhatikan perbincangan antara Elena dan Mei. Ia tak bertanya atau menawarkan tumpangan. Takut terlalu terburu-buru pikirnya.
***
Elena memasuki apartemen, rasanya kegiatan hari ini sungguh membuatnya lelah. Ia Pun memilih untuk segera membersihkan badannya yang lengket. Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit, Elena keluar dengan menggunakan handuk yang ia lipatkan menutupi sebagian tubuhnya bagian dada dengan batas panjang diatas lutut. Elena berpikir hanya dirinya seoranglah yang berada di sana. Jadi, ia bebas melakukan apapun dan berpenampilan bagaimanapun. Kebiasaan yang masih berlanjut sampai sekarang. Ia selalu mengecek ponselnya terlebih dahulu seraya menunggu tubuhnya benar-benar kering. Berjalan menuju dapur dan menuangkan air putih, tenggorokan yang sedari tadi belum diisi air pun meronta karena kekeringannya. Meminta untuk segera diguyur oleh air mineral segar.
Elena tak biasa mengenakan pakaian di kamar mandi. Ia Pun menaiki lantai atas untuk mengenakan pakaian dikamar. Grwuk! Kini perutnya yang berdemo.
Setelah mengenakan sweater berwarna peach dan celana legging hitam. Ia kembali ke lantai bawah untuk menyiapkan makanan. Ia belum berbelanja untuk keperluan dapur, untung saja ketika di perjalanan pulang ia membeli makanan cepat saji. Jadi Elena hanya perlu menghangatkannya.
Drttt! Ponselnya bergetar.
"Halo ma," sapa Elena yang tanpa berpikir panjang ia langsung menjawab panggilan tersebut.
Elena menceritakan semua kegiatannya hari ini. Setiap hari mamanya pasti menelponnya atau bertukar pesan. Walaupun sudah besar, Naura terus memberikan perhatian penuh pada Elena. Ia selalu menanyakan banyak hal pada putri semata wayangnya itu termasuk tentang kegiatannya. Perhatian itu membuat Elena selalu merasa dekat dengan Naura. Walaupun jarak mereka jauh. Elena Pun selalu menjawab semua pertanyaan Naura dengan apa adanya. Seperti halnya hari ini, Naura cukup terkejut ketika Elena bercerita telah menjadi model dadakan sebuah butik ternama.
Elena anak tunggal dari pasangan Naura dan Haris. Ayah Elena lebih dulu meninggal mereka dua tahun lalu, karena takdir yang mengharuskan Haris meninggalkan Elena dan ibunya lebih awal. Sedangkan Naura bekerja sebagai penjahit di kampungnya, Elena selalu membantu Naura dalam pekerjaannya. Tak jarang para pelanggan Naura tertarik dan menggunakan rancangan milik Elena untuk pakaian mereka. Tak jarang pula dari mereka yang sengaja mendatangi Elena untuk dibuatkan rancangan khusus, dari situlah Elena mulai memperkenalkan rancangannya melalui media sosial.
***
Tok! Tok! Tok! Pintu ruangan pribadi Alva diketuk seseorang dan seorang wanita paruh baya yang berlenggang masuk begitu saja.
"Sudah jam makan siang, kenapa kamu belum juga menghentikan pekerjaanmu untuk sementara." Rosie duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
Alva tak menoleh sedikitpun ke arah Rosie. Ia terus sibuk dengan laptopnya dan earphone yang masih menempel di kedua lubang pendengarannya. Rosie hanya menggelengkan kepala melihat Alva yang selalu asik dengan dunianya sendiri.
"Mama kesini, mau ajak kamu makan siang. Mama juga udah undang Audy untuk bergabung." Alva kini menghentikan tangannya yang sedari tadi menari diatas keyboard.
"Ma harus berapa kali aku bilang, Alva sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama Audy. Stop jodoh-jodohin Alva sama dia."
"Mama cuman mau bantu kamu Alva, mau sampai kapan kamu gak serius dalam berhubungan sudah berapa wanita yang kamu ajak pacaran lalu besoknya kamu putuskan. Audy cantik, pintar dan dari keluarga terpandang. Ia termasuk wanita dalam kategori nyaris sempurna. Memang kamu mau cari yang seperti apa?" Rosie melipatkan kedua tangannya merasa kesal pada putranya.
"Ma tunggu waktu yang tepat, Alva akan menemukan seseorang yang Alva cari." Rosie yang sudah lelah dengan sikap anaknya memilih untuk bangkit.
"Terserahlah, Mama udah cape dengan sikap kamu yang seperti ini," Rosie yang hendak keluar menghentikan langkahnya dan kembali berjalan menuju sofa yang Alva tempati.
"Kemarin kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik. Andres sangat puas dengan hasilnya, katanya baru kali ini ia melihat wajahmu pada couple season begitu sangat alami, berbeda dari biasanya. Apa kamu sangat menikmatinya, penghayatan yang seperti apa yang kamu lakukan kemarin?"
"Mm, entahlah aku hanya melakukan apa yang hatiku bilang," ucap Alva seraya mengedikkan kedua bahunya.
"Sudahlah mama mau ke butik. Nanti malam ada pesta di rumah Audy, kamu temani mama datang kesana."
Setelah mengucapkan itu Rosie keluar dari ruangan Alva. Alva merasa kepalanya pusing karena mamanya selalu mendekatkan dirinya dengan Audy. Ia menangkup kepalanya oleh satu tangan ia tumpukan pada sandaran sofa. Tentang penghayatan, ia jadi kembali teringat saat kemarin menjalankan pemotretan bersama model dadakan itu. Elena.
***
Sore hari akan segera berakhir dan Alva masih menggulirkan mouse. Teringat akan permintaan mamanya tadi, membuat suasana hatinya terasa tak baik. Sungguh malas ia rasakan untuk menemani mamanya ke pesta keluarga Audy. Pesta apa sih. Kenapa mereka sering mengadakan pesta, batin Alva.
Alva memandangi langit-langit ruangan seraya mencari cara agar bisa pergi untuk menghindari acara makan malam membosankan itu. Tak lama sesuatu terbersit di pikirannya, rasanya sudah lama ia tak mengecek keadaan apartemen yang saat ini ditempati oleh karyawan butik Mei. Walau apartemen itu ia biarkan ditinggali oleh orang lain, tapi bukan berarti ia begitu saja membiarkan apartemen itu tanpa pengontrolannya.
Alva membiarkan apartemen itu di isi oleh orang lain karena tak lagi ia tempati. Sayang juga jika tak berpenghuni. Untuk itu ia tawarkan pada Hendrik putra pertama Mei, tapi Hendrik menolaknya karena saat ini ia telah memiliki rumah dan apartemennya sendiri.
Hari terakhir ia mengeceknya adalah seminggu yang lalu. Jadi, ia harus melihat rekaman video setelah hari itu. Alva melihatnya seraya memakan makanannya yang ia pesan lewat jasa pesan antar. Terlalu malas jika harus keluar mencari makan apalagi di luar sedang turun hujan ditambah ia sedang bosan dengan masakan rumah.
Satu sendok makanan berhasil masuk ke dalam mulutnya dengan mata yang mulai memperhatikan rekaman video pada layar laptop yang ada di depannya. Alva membulat ketika melihat seorang wanita memasuki apartemennya seraya menarik koper.
"Oh ini," kata Alva seraya mengangguk dan terus memperhatikan wanita itu yang masuk lebih dalam. Sayangnya wajah wanita itu tak terlihat jelas karena membelakangi kamera. Ia pun terus mengawasi setiap apa yang wanita itu lakukan sampai pada video hari kemarin. Alva terbatuk ketika melihatnya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melingkar di tubuhnya dan membungkus kepalanya. Handuk yang hanya sebatas dada dengan panjang sepaha. Ia berjalan-jalan di ruang tengah dengan ponsel yang ada di tangannya. Duduk diatas sofa masih dengan ponsel yang ia mainkan.
"Kenapa gak pake baju dulu aja sih," gerutu Alva. Tak lama setelah itu, wanita yang sedang ia awasi menaiki tangga menuju kamarnya. Alva tak membuka video yang ada di kamar. Tak mungkin ia melihatnya kan. Bisa dibilang setelah 20 menit, wanita tadi kembali ke lantai bawah, berjalan menuju dapur seraya ponsel yang baru saja ia tempelkan di telinganya.
"Apa dia sesibuk itu? Ponselnya selalu tak jauh dari tangannya," ucap Alva.
Alva beralih ke video CCTV hari ini. Seperti yang ia lakukan sebelumnya. Wanita itu selalu keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk pendeknya dan tak langsung menggunakan pakaiannya di kamar mandi, padahal kamar mandi di apartemen Alva lumayan besar dan tak masalah jika berdandan disana. Dan lagi-lagi ia berjalan-jalan di ruang tengah dan lagi-lagi hanya dengan menggunakan handuk dan memainkan ponsel.
"Bagaimana jika ada tamu, atau orang lain yang masuk begitu saja. Apa dia tak memikirkan keselamatannya," ucap Alva ditujukan untuk seseorang yang ada pada layar cctv tersebut.
Mengingat siapa saja yang bisa masuk. Mungkin hanya dirinya, Mei dan wanita itu karena Alva hanya memberitahu Mei tentang kata sandi apartemennya.
Mei adalah adik dari Rosie. Ia memang dekat dengan Mei, karena sejak dulu Rosie selalu menitipkan Alva pada Mei jika Rosie sedang ada pekerjaan di luar kota. Alva Pun lebih sering curhat pada Mei tentang apapun itu dan bisa dibilang Alva lebih dekat Mei daripada ibunya sendiri. Tak heran jika ia begitu saja menyerahkan apartemen itu pada Mei.
Drttt! Ponselnya bergetar. Mama.
"Ya ma?"
"Alva mama sebentar lagi pulang, jangan lupa untuk makan malam nanti.”
"Maaf ma, Alva sudah ada janji dari jauh-jauh hari. Felic aja ya yang temenin mama."
"Kamu ini, jangan cari alasan."
"Ma maaf ya Alva gak bisa ikut mama malam ini. Have fun ma, see you."
"Alva-"
Panggilan segera diputuskan oleh Alva. Sungguh tak sopan memang, tapi harus bagaimana lagi ia tak ingin bertemu dengan keluarga Audy apalagi dengan Audy. Alva menangkup kepalanya. Janji dengan siapa? Ia tak memiliki janji dengan siapapun. Alasan itu hanya ia buat-buat untuk menghindari acara makan malam.
***
"Elena, kamu belum pulang?" Mei berjalan menghampiri Elena di mejanya, matanya memperhatikan meja Elena yang rupanya sudah terlihat rapi.
"Baru mau Nyonya," jawab Elena seraya tersenyum. Lalu ia kembali menyimpan beberapa alat gambar yang belum ia simpan ke tempatnya.
"Tadi Rosie datang ke butik. Dia menanyakanmu, katanya mau bertemu. Tapi baru mau masuk butik ini, ponselnya sudah berdering mungkin lain kali kalian akan bertemu.”
Elena tersenyum dan mengangguk. "Ia Nyonya tidak apa-apa. Nyonya Rosie pasti sangat sibuk. Mendengar mau ketemu aku aja, sudah suatu kehormatan besar," Mei terkekeh.
"Ia dia memang sibuk. Butiknya memiliki cabang diluar kota bahkan luar negeri. Tak heran jika kita jarang bertemu dengannya," Elena mengangguk mendengar penjelasan Mei. Rosie boutique memang sudah menjadi bisnis besar bahkan sangat besar.
Setelah obrolan ringan Elena berpamitan untuk pulang. Hari ini ia memang keluar butik tepat jam 8 malam, karena butik sedang ramai dan ada pelanggan memintanya untuk merancang sebuah baju khusus untuknya.
***
Dua minggu telah ia lewati, baru selama itu ia tinggal di kota besar dan baru selama itu juga ia bekerja di butik Meisie.
Elena memasuki apartemen dengan berjalan gontai. Sangat lelah rasanya hari ini, siang tadi butik Meisie pemotretan untuk produk barunya dan Elena berkecimpung disana. Ia sibuk kesana kemari. Seperti biasa setelah merilekskan tubuhnya dengan mandi air dingin ia bersantai di ruang tengah sebelum mengenakan bajunya. Sekedar mengecek media sosial, membaca komik yang belum ia selesaikan bahkan membaca novel pada ponselnya.
Setelah air yang ada di tubuhnya benar-benar mengering Elena naik ke lantai atas mengenakan pakaian rumahnya lalu kembali ke dapur memasak sesuatu untuk makan malam. Elena tak pandai memasak, jadi ia membeli bahan-bahan yang ada di kulkas pun untuk makanan yang sekiranya ia bisa memasaknya dan tak membutuhkan waktu lama. Seperti telur, mie dan sayuran. Sedangkan daging, jujur ia tak membelinya karena itu terlalu memakan banyak waktu ketika menyajikannya.
Semenjak di kampong pun ia memang jarang membantu mamanya dalam hal urusan dapur, Elena lebih sering membantu hal lain seperti mencuci, menyapu, mengepel kecuali memasak. Jadi, kalau soal bersih-bersih Elena sangat ahli. Lihat saja apartemenemenemenemen ini ia usahakan untuk selalu bersih. Meja makan pun selalu bersih. Haha.
Setelah makan Elena menonton televisi, memberikan waktu sejenak pada perutnya sebelum merebahkan diri di atas ranjang nyaman itu. Baru kali ini ia menemukan ranjang yang nyaman selain ranjang miliknya.
Satu jam berlalu Elena Pun naik ke lantai atas. Menghempaskan tubuhnya dan menyelimutinya dengan nyaman.
***
Alva memasuki mobilnya, sungguh kepalanya berat sekali padahal ia sudah meminum obat yang resepnya diberikan oleh dokter yang ia sengaja datangkan ke tempat ia bekerja kali ini yaitu sebuah perusahaan salah satu produk pakaian olahraga yang sedang menjadikannya model produk baru mereka.
Alva datang dan pergi seorang diri, bahkan ia terpisah kendaraan dengan manajernya. Alva memang tak suka menggunakan sopir, ia lebih suka dan nyaman mengendarai mobilnya sendiri kecuali ada hal mendadak yang mengharuskannya memakai sopir.
Dokter menyarankan ia harus istirahat yang cukup, tapi pekerjaannya tak bisa ia tinggalkan begitu saja selama masih bisa dikerjakan Alva akan mengerjakannya tanpa lecet sedikitpun. Rosie dan Mei pun terus-menerus mengingatkan Alva beristirahat tapi karena Alva yang keras kepala ia terus bekerja dan pulang larut malam. Alasan ia melakukan ini adalah karena dengan ini ibunya dapat bangga terhadap dirinya.
Kepalanya sungguh sudah sangat berat. Kawasan ini, Alva sangat mengenalnya ia segera membelokkan mobilnya dan memarkirkannya di basement. Menelusuri koridor dan memencet PIN yang menjadi kata sandi apartemen tersebut.
Alva segera memasukinya melepaskan sepatunya dan naik ke lantai atas dengan pandangan yang sedikit mengabur. Alva menghempaskan tubuhnya diatas ranjang king size yang berada di sana memakai kain yang hangat itu sampai batas dada. Tapi tetap saja hawanya sangat dingin, ia menggigil terus mencari kehangatan dan menemukan seseorang yang sedang berbaring disana Alva memeluk orang itu, meminta suhu hangat dari tubuhnya.
Elena merasa terusik, ia merasakan getaran dari arah belakang dan sesuatu yang berat berada di pinggangnya.
"Apa sih?" Elena berusaha membuka matanya yang terasa sangat berat. Sontak ia terperanjat ketika ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Elena berbalik dan mendapatkan seseorang di sana. Matanya membulat mendapati orang yang ia kenal. Alva? Kenapa dia bisa ada disini?
"Alva! Kenapa kamu-" Elena segera bangkit tapi Alva kembali menariknya dan kembali memeluk Elena. Mata Elena semakin terbebelak. Tubuh Alva bergetar, Elena menoleh dan memperhatikan wajah Alva. Dia demam!
"Sebentar aku ambil air hangat dulu," ucap Elena yang kini mengangkat tangan Alva yang menahannya agar tidak pergi dan bersikeras untuk melepaskan rengkuhan itu.
Elena tak bisa diam saja. Ia segera mengambil air hangat dan handuk kecil lalu mengompres Alva.
Keterkejutan masih dirasakan Elena, bagaimana bisa Alva ada di sini, dan masuk ke apartemen emen emen emen ini. Apa jangan-jangan dia adalah pemilik tempat ini yang sebenarnya, alias keponakan Nyonya Mei. Sungguh Elena kembali terbelalak. Selama ini, ia ingin bertemu dengan pemilik apartemen ini tapi selalu saja ada hambatan ketika Mei akan mengatakannya dan tak jarang Elena lupa ketika akan menanyakannya kembali. Jadi selama ini dia sudah tinggal di tempat milik Alva.
Elena memperhatikan Alva yang mulai rileks tak terlalu menggigil seperti tadi. Ia kembali mencelupkan handuk itu ke dalam air hangat dan kembali menempelkannya pada kening Alva.
Matanya masih ingin tertutup. Elena menguap dan menoleh ke arah sofa yang ada di lantai bawah. Tapi, apakah akan baik-baik saja jika ia meninggalkan Alva seorang diri, dan juga tak mungkin dirinya tidur di samping alva. Elena pun bangkit dari sisi ranjang tersebut. Tapi ketika hendak melangkah tangannya tertarik dan menjadikannya berbaring di atas ranjang.
"Masih dingin, disini aja." Suara serak itu terdengar jelas di pendengaran Elena. Bagaimana tidak, Alva memeluknya, menempelkan tubuhnya pada tubuh Elena. Wajah Elena yang berhadapan dengan dada bidang Alva yang terbalut kaos putih itu menegang. Ia sulit menelan saliva nya.
"Tapi Va-"
"Suttt." Alva yang merasa terganggu meminta Elena untuk diam dengan mata terpejam.
Elena sedikit memundurkan tubuhnya, tak nyaman jika terlalu menempel. Rengkuhan Alva pada tubuhnya tak sedikit pun merenggang. Elena memilih untuk tetap membuka matanya menunggu Alva benar-benar terlelap, untuk itu ia bisa melepaskan rengkuhan Alva. Tapi rasa kantuknya ini sulit berkompromi dan akhirnya Elena memejamkan matanya karena rasa kantuk masih menguasai dirinya yang terbangun pada tengah malam seperti ini.
***
Alva membuka mata, kepalanya kini sudah tak terlalu berat. Pemandangan pertama pagi ini adalah wajah seorang wanita yang masih tertidur pulas. Alva memandangnya dalam diam. Memperhatikan setiap inci wajah cantik itu. Hmm sangat cantik dan juga menarik, gumamnya. Wanita yang menjadi rekannya pada pemotretan saat itu. Si model dadakan. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Tapi ia sangat sulit untuk beranjak, tempat ini terlalu nyaman untuk ditinggalkan. Alva memilih untuk memejamkan matanya kembali.
Elena menggerakkan kepalanya. Matanya perlahan terbuka. Wajah itu membuat jantungnya berdetak sangat cepat. Wajah yang menggiurkan untuk dipandangi. Membuat siapa pun terpesona padanya. Jangan lupakan beberapa helai rambut panjangnya menutupi wajah bagian atasnya. Elena mengerjap, tak seharusnya ia terus-menerus memandangi wajah Alva. Ia pun mengangkat tangan Alva yang berada di atas pinggangnya. Menyibakkan selimut dan pergi mandi. Ia membawa baju ganti, untuk ia pakai di kamar mandi. Tak mungkinkan ia keluar dengan hanya mengenakan handuk seperti yang biasa ia lakukan.
Setelah mandi, ia belum melihat Alva. Mungkin dia masih tidur. Elena membuka kulkasnya.
"Orang yang demam biasanya dibuatkan sup kan." Elena Pun mengeluarkan beberapa sayuran dan telur ayam. Tak ada daging di kulkas nya, jadi ia membuat sup hanya dengan sayuran saja dengan omelet yang akan menjadi teman si hidangan utama.
"Jadi, lo yang tinggal di apartemen gue?" Elena yang mendengar itu pun terlonjak kaget, untung saja ia tidak sedang memegang penggorengan atau pisau. Bisa-bisa itu membahayakannya. Ia membalikkan badan dan mendapati Alva yang sudah duduk di sana. Menumpukan kedua tangannya di meja bar.
"I..i..iya," jawab Elena gugup.
"Maaf supnya cuman sayuran aja, saya gak beli daging." Secara tidak langsung Elena menawari Alva makan.
"Saya gak pandai memasak, jadi kalo gak enak bilang aja, biar nanti saya beli makanan di luar."
Elena ikut duduk, berhadapan dengan Alva yang kini mengambil sendok untuk mencicipi sup yang ada disana.
"Mm, kurang garam." Mendengar itu Elena langsung mengambil garam dan menyerahkannya pada Alva. Alva mengambil setengah sendok garam dan kembali mengadukannya pada sup. Ia kembali mencicipi nya dan menganggukkan kepala sebuah isyarat bahwa rasanya kini sudah pas.
Alva pun mulai makan sedangkan Elena hanya diam memandangi Alva yang sedang makan, tak ada komentar.
Apakah makanannya baik-baik saja?
Fokusnya mengabur ketika Alva menyodorkan sendok yang berisi nasi dan sayur tersebut.
"Aaaa," Alva menyuruh Elena membuka mulutnya. Sungguh Elena terkejut, tapi ia langsung menggeleng seraya tersenyum.
"Duluan aja."
"Ayo makan sekarang, gue gak mau makan sendiri." Elena Pun mengangguk dan ikut makan.
"Maaf sebelumnya saya gak tau kalau pemilik apartemen ini adalah tuan," ucap Elena disela makannya. "Jadi, terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal disini, tuan."
"Mm." Alva kembali memasukkan omelet ke dalam mulutnya. Dia hanya bergumam singkat, apa dia gak suka aku tinggal disini?
"Maaf jika tuan muda keberatan saya bisa pindah secepatnya."
"Jangan," kata Alva cepat, dan itu membuat Elena terlonjak.
"Mm tinggal aja di sini. Sayang kalo gak ada penghuninya dan tolong jangan bicara formal sama gue santai aja, kita seumuran kan." Mata Elena membulat, benarkah?
"Umur lo berapa?"
"24," jawab Elena.
Alva mengangguk "Sama," ucapnya. Oh benarkah. "Panggil Alva aja." Elenapun mengangguk dan tersenyum. Ia melanjutkan makannya. Setelah selesai makan dan merapikan semua alat makan dan mencucinya. Ia menghampiri Alva yang sedang menonton tv diruang tengah. Elena naik untuk mempersiapkan diri pergi bekerja. Selesai bersia-siap ia kembali turun.
"Mm.. Alva aku berangkat, ada obat di atas nakas, kamu bisa minum itu."
Secara Alva pemilik apartemen tersebut, tak mungkinkan Elena menyuruh Alva pergi, ia memilih untuk pergi bekerja dengan membiarkan Alva yang masih duduk santai di sofa. Elena kembali membalikkan badannya.
"Mm Va. Makasih udah izinin aku tinggal disini," ucapnya seraya tersenyum.
"Mm," gumam Alva seraya mengangguk dan tersenyum. Setelah itu Elena kembali melanjutkan langkahnya keluar apartemen.
***
Elena merenggangkan otot-ototnya setelah beberapa jam berkutat pada rancangan barunya. Setelah ini ia bisa langsung pulang dan sebelumnya ia akan mampir ke supermarket untuk berbelanja bahan masakan, camilan dan juga minuman.
Kini Elena berada di supermarket yang tak jauh dari apartemen.
"Halo ma, apa kabar?"
"Baik sayang, kamu apa kabar? Mama kangen."
"Baik ma, aku lebih kangen ma. Mama lagi apa?"
Percakapan antara ibu dan anak pun berlanjut sampai Elena selesai berbelanja. Ia kembali menaiki taksi menuju apartemen, karena jika berjalan kaki jarak itu cukup jauh, dan rasanya ia sangat lelah.
Elena merapikan belanjaannya. Ia mengikuti cara mamanya yang selalu merapikannya langsung setelah berbelanja. Dulu ia sangat malas untuk melakukan hal mudah yang akan terasa sulit jika kita tak biasakan tapi sekarang ketika tinggal sendiri hal itu tak bisa dihindari dan ternyata itu menyenangkan juga. Menata semua bahan menjadi terlihat rapi dan bersih. Andai saja ini apartemen miliknya, pasti akan lebih menyenangkan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan tadi Elena pergi mandi, rambutnya yang panjang ia cepol asal agar tidak menyusahkannya ketika membersihkan diri. Mungkin sudah menjadi kebiasaannya, ia selalu lupa untuk membawa baju ganti ke kamar mandi. Untuk itu ia keluar menggunakan handuk yang dililitkan. Handuk berwarna putih dengan panjang diatas lutut.
Lagi-lagi kebiasaan memang sulit untuk diubah. Bukannya segera mengenakan pakaian ia malah duduk di sofa seraya memainkan ponselnya mengecek media sosial yang ia punya. Tenggorokan yang terasa kering membuat Elena bangkit berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Ia menuangkan air lalu meminumnya dengan jemari yang masih menari di layar ponsel.
***
Setelah menyelesaikan pemotretannya hari ini, Alva kembali mengunjungi apartemen, entahlah ia sangat ingin datang kesana. Mungkin merindukan suasana yang sudah lama ia tinggalkan atau karena seseorang yang berada disana. Alva terkekeh geli tentang pemikirannya sendiri.
Bukan kebiasaanya setelah bekerja langsung pulang. Biasanya ia akan berlama-lama di kantor agensi atau tidak ia akan pergi nongkrong bersama teman-temannya. Sengaja mencari-cari kegiatan di luar agar tak pulang cepat. Tapi kali ini, ia ingin segera pulang rasanya, walaupun bukan pulang kerumah besar itu, rumah yang terlihat baik-baik saja.
Ia membuka pintu apartemen, lalu memasukinya. Jaket yang sedari tadi ditenteng ia letakkan di atas sofa. Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di depan meja bar dengan tangan kanan memegang segelas air yang sedang ia minum dan tangan kirinya memegang ponsel. Dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan, menampilkan jelas pundak dan lehernya, karena rambut itu ia cepol asal. Handuk yang dikenakan pun hanya sebatas pahanya.
Oh shit! Apa dia nguji gue. Apa dia gak sadar gue datang. Alva berjalan mendekat tanpa mengeluarkan suara dari langkahnya.
***