Malam itu, Noela berhasil lolos dari Brandon. Itupun karena Brandonlah yang membiarkan Noela untuk melepaskan diri, dan kian terpacu untuk kembali merebut hati Noela yang sebelumnya pernah pernah ia patahkan.
Hingga keesokan harinya, Noela pun diam-diam pergi dari kota tersebut dan kembali ke kota D demi menghindari Brandon.
Kota D•
Kediaman Noela Sabrina•
Noela tinggal di sebuah rumah susun sederhana, dengan biaya yang tidak terlalu besar bagi seorang pekerja sepertinya. Meskipun penghasilan Noela sangat cukup untuk menyewa sebuah apartemen studio, namun Noela lebih memilih untuk berhemat dan menabung sebagian dari penghasilannya.
Bzzzttt... Nomor baru memanggil..
Melihat ada nomor tidak dikenal, Noela menjadi sedikit cemas. Cemas, jikalau itu ialah Brandon, si mantan kekasih brengsek.
Tiba-tiba masuk beberapa pesan beruntun, dan itu terus masuk ketika Noela semakin mengacuhkan panggilan maupun pesan dari nomor tersebut.
"Noela, ini aku Brandon. Apakah kau begitu sibuk?"
"Brengsek! Aku sudah berjuang mati-matian untuk bangkit dari keterpurukanku selama ini. Namun, pria ini tiba-tiba muncul kembali.." ucap Noela yang terlihat kian cemas.
Setelah beberapa hari kemudian...
Tak butuh waktu lama, Brandon mendapatkan alamat lengkap beserta dimana Noela bekerja.
Noela seorang anak broken home, dimana ayah dan ibunya telah bercerai dan memiliki kehidupan masing-masing. Ayahnya saat ini masih mendekam di balik jeruji besi, akibat kasus pengedar barang haram, sedangkan ibu Noela kini telah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga baru di luar negeri. Noela ditinggalkan di kediaman neneknya yang sudah renta, dan baru beberapa tahun lalu wafat. Sehingga meninggalkan banyak kesedihan mendalam dalam hidup Noela.
***
"Noela!" Ucap seseorang berseru memanggil nama Noela dari jarak lima puluh meter.
"Hermon!" Balas Noela sembari melambaikan tangannya membalas sapaan pria bernama Hermon tersebut.
Pria itu berlari ke arah Noela, dan spontan mendekap Noela yang baru saja kembali dari kelontong sayur terdekat.
"Aku sangat merindukanmu, Noe, bagaimana kabarmu saat ini?" Tanya Hermon yang terlihat cemas.
"Kabarku baik-baik saja. Mari, ke kediamanku yang tidak seberapa." Ucap Noela mengajak Hermon menuju kediamannya.
•••
Kediaman Noela Sabrina•
Mereka pun berbincang santai, karena Hermon ialah sahabat kecil Noe dan mereka terpisah sejak memasuki sekolah menengah atas. Dikarenakan Hermon harus mengikuti orang tuanya ke luar negeri. Hingga kini, Hermon sudah menjadi seorang pria mapan juga tampan rupawan. Meski demikian, Hermon tak akan pernah melupakan Noe selama hidupnya.
Apakah Noe begitu berharga bagi Hermon?
Hermon

"Aku turut sepenanggungan, atas kepergian nenek. Aku baru saja mendengarkan kabar tersebut, setelah aku memutuskan untuk kembali. Namun, kau sudah tak lagi berada di kota A. Aku pun berusaha mencarimu dan bertanya dari bibi Sabria."
"Ah, ya, aku memulai kehidupan baruku di kota ini sebagai batu pijakanku." Ucap Noela, dan terlihat jelas menyimpan banyak duka selama berada di kota A.
"Noe, maaf jika aku terdengar lancang. Hanya saja, kau berhak memilih hidup bahagia. Jika bibi sudah memilih kehidupan baru beliau, dan paman yang masih harus menanggung kesalahan dibalik jeruji besi. Kaupun berhak bahagia, Noe.." Ucap Hermon, sembari menepuk punggung tangan Noe.
"Terima kasih, Hermon. Namun, inilah kehidupanku, sangat jauh dari kehidupanmu, bukan?" Ucap Noe, seakan merasa kurang percaya diri akan kondisinya kini.
"Kau wanita hebat, Noe. Sejak kecil kau selalu unggul di kelas, sehingga tak sedikit anak lelaki menyukaimu. Bahkan di bidang olahraga pun, kau ialah salah satu tim terbaik sekolah. Aku masih mengingatnya dengan baik." Ucap Hermon memuji dan tersenyum bahagia tatkala mengingat kembali memori lama mereka.
Noe pun membalas dengan tawa haru bahagia.
"Bukankah kau selalu berada di posisi pertama, sedangkan aku diposisi kedua. Semua anak gadis merasa iri atas kedekatan kita, dan berlomba untuk mengirimimu surat melalui perantara ku. Sehingga, aku disebut 'si gadis perantara'.." ucap Noela disusul dengan suara tawa keduanya.
Setelah saling bernostalgia, Noe pun memasak makanan untuk keduanya. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan senja, begitulah lamanya Hermon berada di sana dengan sangat nyaman.
"Noe, terima kasih untuk makanan hari ini. Aku harus segera kembali ke hotel, karena pagi besok aku akan kembali ke kota B, untuk menemui pamanku. Aku akan lebih sering meneleponmu, dan kuharap dilain waktu kita bisa saling meluangkan waktu bersama." Ucap Hermon, dengan canggung mengusap puncak kepala Noe, lalu pergi dengan sejuta rindu yang masih tersisa.
Noe melambaikan tangannya dan hanya membalas permohonan Hermon dengan senyuman. Karena permohonan Hermon bisa diartikan sebagai 'bahwa Hermon ingin hubungan mereka lebih berkembang dari sekadar Sahabat masa kecil'.
***
•Perusahaan Penerbit Kota D•
"Selamat pagi, Tuan Dave." Ucap Noe menyapa si atasan tampannya.
Dave

"Selamat pagi nona Noela, kau terlihat sangat luar biasa dipertemukan waktu itu. Saya sangat bersyukur, karena berkat dirimu, citra perusahaan kita semakin membaik. Tak sedikit, pihak Gold Group memberikan sumbangsih kerjasama di hari depan." Ucap Dave bangga pada Noe.
"Terima kasih, tuan Dave. Semua ialah berkat bimbingan dari tuan yang sangat bijaksana pada kami." Balas Noela yang rendah hati.
"Nona Noela, Tuan CEO dari Gold Group ingin kau kembali mempresentasikan semua mengenai perusahaan kita besok hari. Saya mengandalkanmu, nona Noela." Ucap Dave memberikan semangat.
Tanpa banyak protes, Noela pun menyanggupinya dan tak pernah berburuk sangka akan semua yang dihadapinya meski terkesan sulit. Kesulitan hidup jauh lebih mencekik bagi Noe, itulah yang membuat Noe tumbuh menjadi sosok wanita tangguh.
Keesokan harinya...
Tibalah saat, dimana Noela akan mempresentasikan semua tugas tanggung jawab dari atasan Dave.
Si sebuah ruang rapat para petinggi perusahaan, Noe berada di tengah-tengah orang-orang hebat yang begitu menghargai kerja keras Noela.
Riuh tepuk tangan pun menyusul berakhirnya presentasi dari Noela.
"Baik, suatu kehormatan bagi kami, atas kerjasama dari perusahaan Gold Group. Untuk tuan Brandon Decafreo selaku pimpinan, kami sangat berterimakasih..--"
Tatkala mendengar nama tersebut, sekujur tubuh Noe bak tersambar petir. Semua terasa kaku dan juga lemas, rasa mual seakan mengocok seluruh isi perut Noe.

Karena ternyata, Brandon kini telah menjadi seorang CEO Chief Executive Officer Gold Group.
•••
Beberapa hari yang lalu, sebelum keberangkatan Brandon menuju kota D.
•Mansion Kediaman Decafreo Family•
"Ada apa, Brandon? Mengapa kau tiba-tiba menyetujui untuk menjadi
Chief Executive Officer?" Tanya Mr. Freo, ayah Brandon.
"Bukankah itu yang ayah sangat inginkan. Jadi, kurasa inilah waktu yang tepat untuk menjalankan tanggung jawab, sebagai putra pertama kebanggaan keluarga Decafreo." Ucap Brandon dengan bangga.
Semua anggota keluarganya pun tersenyum bahagia, karena Brandon sebelumnya tidak menyukai posisinya dan memilih untuk menjalankan bisnis santai sembari menikmati keindahan diberbagai negara bagian.
Namun, sadar jika Noela sudah sangat membencinya, dikarenakan kesalahan dimasa lalu mereka. Brandon pun memilih jalan kekuasaan, demi menaklukkan Noela.
Akankah rencana itu berhasil, ataukah Noela justru semakin menjauhinya?
***
Setelah memberikan sambutan pada Brandon, semua orangpun dikerahkan untuk segera menikmati makan siang bersama, terkecuali Noela yang masih harus berada di sisi Brandon.
"Nona Noela, seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, Tuan Brandon ingin nona sendiri yang menyampaikan semua rencana baik perusahaan. Karena, semua ialah kerja keras nona Noela. Anggap, ini adalah bentuk penghargaan dari perusahaan bagi nona Noela." Ucap Dave, lalu mempersilakan Brandon untuk berbicara berdua bersama Noela.
Di sebuah ruangan VIP, mereka duduk berhadapan di sofa yang jaraknya cukup dekat.
"Aku bangga, atas semua pencapaianmu selama ini. Kau bahkan telah menjadi orang kepercayaan perusahaan yang cukup ternama di kota D ini." Ucap Brandon memuji, dan Noela berusaha bersikap seprofesional mungkin.
"Noa, aku sangat merindukanmu.. dan aku bersyukur kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang sangat baik." Ucap Brandon, lalu meraih tangan Noela.
"Hentikan Tuan Brandon. Maksud kedatangan saya ialah untuk membicarakan kerjasama diantara kita. Mohon, kesampingkan urusan pribadi anda." Tegas Noela tanpa berkedip.
Brandon cukup tercengang dengan sikap tegas yang Noela tunjukkan padanya.
Setelah menyelesaikan segala urusan pekerjaan, Noela pun bergegas pergi dari hadapan Brandon. Namun Brandon nyatanya tak ingin menyerah begitu saja, Brandon terus mengejar Noela kemanapun dengan caranya sendiri.
•••
Noela diminta untuk pergi satu mobil bersama tim, dan ternyata hanya ada dirinya bersama Brandon dan dua orang supir juga asisten pribadi dari Brandon.
"Apa-apaan ini? Kemana perginya semua orang?" Ucap Noela resah, tatkala mendapati dirinya hanya berdua di kursi belakang, sedangkan dua bawahan Brandon berada di kursi depan. Brandon menutup akses antara kursi depan dan belakang bahkan mengaktifkan mode kedap suara.
"Bukankah urusan pekerjaan kita telah usai? Kini saatnya, urusan pribadi yang belum sempat terselesaikan." Ucap Brandon, dan terus menatap lekat ke arah Noela.
"Saya merasa sangat tidak nyaman, mohon untuk turun saja." Pinta Noela, namun Brandon enggan untuk menuruti keinginan dari Noela.
"Noa, aku minta maaf atas kekencanganku pada malam itu, aku hanya terbawa suasana."
"Malam mana, yang anda maksud, tuan?" Balas Noa tanpa membalas tatapan mata dari Brandon.
"Malam kelulusan beberapa tahun yang lalu. Aku harus pergi untuk mengikuti tes tertulis di sebuah perguruan tinggi, aku tidak sempat berpamitan dan.."
"Bodoh! Untuk apa anda mengungkit perihal masa lalu dan segala kebodohan dua orang remaja labil yang hendak beranjak dewasa. Bukankah itu suatu kebodohan besar, karena telah mencoba percaya pada ucapan buaya dari mulut lelaki tak bertanggungjawab!" Ketus Noela, dengan cukup emosi, tatkala mengingat kembali malam dimana Brandon telah merenggut kehormatannya.
"Aku mencoba untuk menghubungimu, namun kau pun menghilang tanpa kabar. Kau bahkan tak menggunakan sosial media satupun. Aku cukup kesulitan menemukanmu, hingga akhirnya aku pun menyerah begitu saja. Karena, kondisiku pun cukup sibuk, aku bahkan hanya fokus dengan pekerjaanku dan segala beban dibahuku." Ucap Brandon mencoba menjelaskan kondisinya kala itu.
"Ya, itu hanyalah sebuah kesalahan dimasa lalu. Jadi, tak perlu mengungkitnya kembali."
"Noa, tapi aku telah menghancurkan masa depanmu yang amat berharga, aku sangat bersalah. Karena itu, aku akan menebus semua kesalahanku."
"Baik, jika anda ingin menebusnya. Syaratnya ialah, anda jangan lagi mengusik kehidupan pribadi saya. Biarkan saya hidup tenang damai tanpa gangguan." Tegas Noela.
"Jika itu permintaanmu, maka tentu saja aku tidak dapat melakukannya. Karena tujuan utamaku datang ke kota ini ialah karena dirimu, Noa.." Brandon lagi-lagi mencoba untuk mencium Noela.
"Lagi-lagi anda melakukan hal yang amat memalukan! Brengsek!"
Plakh...
Noela menampar wajah tampan Brandon, dan terus memaksa agar mobil segera diberhentikan.
"Noa, aku sudah bertekad tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku akan menjagamu dan mencintaimu setiap saat.."
"Omong kosong murahan! Cepat turunkan aku!"
Bug bug... Noela menendangi kursi bagian depan dan bahkan membuka akses antara kursi depan belakang.
"Turunkan aku, atau aku akan menggila!" Tegas Noela yang terlihat sangat marah.
"Baiklah, kita akan segera turun di depan Kediamanmu. Tenanglah sayang.." ucap Brandon menenangkan.
"Siapa yang panggil sayang? Benar-benar menjijikan!" Cela Noela, dan membuat dua bawahan Brandon terdiam kaku, karena baru Noela wanita yang berani menghina Brandon.
Noela pun diberhentikan tepat di depan halaman rumah susun sederhananya. Noela bergegas untuk masuk meninggalkan Brandon bersama dua bawahannya.
"Tuan, sepertinya anda harus lebih bekerja keras lagi." Ucap asistennya dengan menahan senyum.
"Yah, karena Noelaku bukanlah wanita yang mudah luluh hanya dengan materi. Maka aku harus berjuang keras untuk itu." Ucap Brandon, seketika raut wajahnua berubah drastis.
Ketika berada bersama Noela, Brandon terlihat begitu hangat penyayang. Namun siapa sangka, jika pribadi aslinya cukup bengis dan itulah yang membuatnya juga disegani orang sekitar. Tak hanya bengis secara sembarangan tempat.
***
Apartemen Kediaman Brandon Decafreo•
Ugh.. akh.. hhhkk agak...
"Noelaku, aku sangat menginginkan lubang bawahmu yang hangat nan legit itu.." Brandon meracau, sembari terus melakukan masturbasi. Menarik turunkan tangannya hingga cairan kental menyembur ke area paha hingga seprei di tempat tidurnya berada.
Huhh...huhh... Deru napas penuh kepuasan, ketika mencapai titik klimaks.
"Ini tidaklah cukup.. aku benar-benar seperti binatang kelaparan, semenjak kejadian malam itu.." ucap Brandon merasa kacau akan hasrat yang selama ini ia salurkan dengan masturbasi manual.
Selama bertahun-tahun, Brandon juga tidak pernah memiliki seorang pun wanita disisinya, meskipun ada banyak wanita yang bahkan siap mengangkang untuknya walau hanya sekadar sebagai pelampiasan hasrat seksual saja. Namun, Brandon enggan untuk melakukan semua itu, Brandon sendiri pun tidak mengerti dengan dirinya. Mengapa dirinya sebegitu tidak mampunya untuk melupakan sosok Noela, gadis lugu yang telah ia nodai lalu tinggalkan begitu saja.
***
Hermon akhirnya kembali ke kota D untuk menemui Noela. Hermon memiliki bisnis di kota D namun tinggal di kota C. Dengan jarak beberapa jam, Hermon rela menempuh perjalanan demi menemui Noela. Mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa ceria.
Berjalan menyusuri hiruk pikuk keramaian kota, sembari menyantap ice cream berdua.
Tiba-tiba, Brandon muncul di hadapan keduanya ketika sedang berjalan menyusuri gang sempit.
"Sayang, aku sudah menunggumu cukup lama. Ternyata, kau bersama teman masa kecilmu ini." Ucap Brandon lalu merangkul Noela.

"Apa yang anda katakan.."
Tiba-tiba Brandon mengecup pipi Noela di hadapan Hermon dengan sengaja dan menatap ke arah Hermon, seakan tanda peringatan agar Hermon lebih berhati-hati padanya.
"Kau masih marah padaku, sayang? Maafkan aku, oke?"
"Lepaskan! Omong kosong apa yang anda katakan, Tuan Brandon. Jangan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak berarti." Tegas Noela lalu bergegas pergi bersama Hermon.
Hermon hanya terdiam, dan menghentikan langkah kakinya.
"Hermon, semua yang pria itu katakan hanyalah omong kosong. Jangan memercayainya!" Ucap Noela sedikit panik.

"Jikalau pun hal itu benar, mengapa kau harus berusaha untuk menyembunyikannya, Noa? Bukankah kita adalah sahabat sejak kecil, aku tidak akan berubah walau kau sudah bersama pria lain." Ucap Hermon dengan raut wajah kecewanya.

"Tidak Hermon, pria itu adalah teman sebayaku ketika berada di bangku sekolah tingkat atas. Dia sungguh jahil, dan dengan sengaja ingin mengerjaimu saja." Ucap Noela yang belum sempat menjelaskan segalanya pada Hermon.
"Noa sayang! Berhentilah berbohong pada teman kecilmu, kumohon maafkan aku dan akuilah aku di depan orang lain mulai saat ini. Oke!" Ucap Brandon, lalu kembali merangkul Noela.
"Maaf, aku hanyalah sahabat masa kecil Noa, silakan lanjutkan pembicaraan kalian. Aku pamit, Noe." Ucap Hermon, lalu melangkah pergi dengan perasaan kecewanya.
***