"Aku mencintaimu, dan sampai kapanpun akan tetap mencintaimu. Kumohon, jangan tinggalkan aku, sayang.."
Perlahan, dua remaja yang baru akan beranjak dewasa itupun mulai bercumbu dan si laki-laki pun mulai mengarahkan rudal miliknya ke arah liang senggama kekasih wanitanya.
Ugh... "Aku takut, aku belum siap menimang bayi.." ucap si gadis polos.
"Tenanglah sayang, hanya sekali ini saja, kita akan mencobanya perlahan." Ucapnya dengan segala bujuk rayu, hingga si gadis polospun melepaskan keperawanannya begitu saja.
🍀🍀🍀
"Begitulah ucapnya, ketika hendak merenggut kehormatanku.." ucap lirih seorang wanita muda, sembari menggoreskan penanya di atas kertas bergaris.
Wanita ini bernama Noela, wanita yang sudah sekian lama memilih untuk hidup sendiri dalam artian tidak memiliki kekasih. Tidak sedikit para pria yang mencoba untuk mendekati Noela, namun Noela enggan untuk menyambut perasaan mereka. Sepertinya, Noela masih terjebak di dalam rasa trauma di masa lalu. Yaitu ketika Noela akan memasuki perguruan tinggi, Noela harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Kehormatannya harus direnggut sebelum resmi menikah oleh si kekasih, hanya karena bujuk rayuan si kekasih.
Noela kini menjadi sosok yang sangat pemilih dan berhati-hati dalam bertindak. Noella telah berhasil meraih gelar sarjana dan sudah bekerja di salah satu perusahaan penerbit yang cukup ternama.
•••
•Perusahaan Penerbit Kota D•
"Noela, hari ini kita akan pergi ke sebuah perusahaan, dimana perusahaan tersebut akan mencetak banyak salinan buku." Ucap salah seorang atasan dari Noela.
"Baik, Tuan Dave, saya akan segera menyelesaikan pekerjaanku." Ucap Noela.
Yah, Noela merupakan karyawan yang tekun. Ia merupakan seorang editor yang cukup handal, mengingat Noela ialah seorang wanita.
Noela akhirnya menyelesaikan seluruh pekerjaannya, dan Noela akan pergi bersama tim untuk menghadiri pertemuan penting itu.
***
"Noela, hari ini kita akan bertemu dengan klien dari perusahaan yang cukup ternama. Aku mendengar informasi bahwa di sana ada banyak pria-pria tampan.." Ucap Thalita, rekan kerja sekaligus teman baik Noela.
"Thalita, kau masih saja sempat memikirkan pria, sedangkan kita ke sana untuk bekerja," balas Noela santai, sembari bermain ponsel.
Mereka yang saat ini sudah berada di dalam perjalanan menuju lokasi tujuan.
"Noela, kau juga harus memikirkan dirimu sendiri. Aku senang kalian fokus dengan pekerjaan, hanya saja masalah cinta itu penting." Timpal Dave, atasan dari Noela.
"Yah itu benar, tuan Dave. Sepertinya, Noela harus benar-benar bertemu pria yang mampu membuatnya menggila." Ejek Thalita, sembari merangkul Noella.
Noela hanya diam sembari tersenyum tipis.
***
Setelah beberapa saat kemudian...
•Perusahaan Gold Group•
Mereka pun tiba di sebuah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang.
"Tolong percepatan langkah kalian, rapat sudah dilaksanakan!" Ucap Arnold, sehingga tim mereka harus lebih mempercepat langkah.
•••
Saat tiba di sebuah aula utama, semua sudah berkumpul di sana, dan orang-orang yang hadir pun cukup banyak. Alhasil, tim Noela dipersilakan untuk duduk di barisan depan.
"Sudah datang diwaktu yang tepat akan dimulainya acara, kemudian diminta untuk duduk di barisan depan. Ah, aku malu.." ucap Thalita.
"Sudahlah, bukankah ini yang kau harapkan, agar pria-pria tampan di sini melihat ke arahmu.." balas Noela, mereka pun berusaha untuk menahan tawa masing-masing.
Di sepanjang acara berlangsung, ada pasang mata yang terus memperhatikan Noela, bahkan disaat Noela diminta untuk presentasi ke depan, sebagai seorang editor berkelas.
Acara sesi pertama pun berakhir, Noela dan tim dipersilakan untuk menikmati hidangan yang ada. Namum karena sudah lelah banyak berbicara di depan khalayak, Noela pun memilih untuk duduk diam di meja makan. Sementara yang lain sibuk bercengkerama dengan klien juga rekan-rekan lainnya.
"Noela," ucap seseorang yang sudah berdiri di samping meja makan Noela.
"Suara ini.." batin Noela, dan sekujur tubuh Noela seakan terasa kaku.
Ketika Noela mendongak, dan yah benar. Seseorang yang menyapa Noela ialah mantan kekasih yang sudah merenggut keperawanan Noella hingga membuat Noela harus menyandang status jomblo selama bertahun-tahun lamanya.
Sembari menarik kursi di depan Noela, "bolehkah aku duduk di sini?" tanyanya, sebut saja namanya Brandon.
"Ah, ya, silakan," jawab Noela canggung.
Tak sengaja mata Noela melirik ke arah id card yang sedang Brandon kenakan, di sana bertuliskan bahwa Brandon ialah seorang Direktur utama.
"Bagaimana kabarmu, sudah menikah?" tanya Brandon, dari tatapan matanya terlihat bahwa masih ada cinta di sana, begitu pula halnya dengan Noela yang masih canggung.
"Kabar saya sangat baik, seperti apa yang terlihat saat ini." Balas Noela dengan cukup ketus, sepertinya masih ada rasa kecewa dan dendam di kehidupan Noela.
Apa sebenarnya yang telah terjadi di masa lalu mereka?
"Ah, aku senang mendengarnya. Jika dilihat, kau sepertinya sudah menjadi wanita karir yang cukup sukses dalam bidangmu." Puji Brandon, dan lagi-lagi Noela hanya membalas dengan senyuman. Noela enggan untuk terlibat banyak pembicaraan dengan Brandon.
"Permisi, tuan Brandon, saya harus kembali bersama timku."
"Baiklah, selamat atas pencapaianmu!" Ucap Brandon, dan Noela meninggalkannya begitu saja.
Tangan Brandon pun memberikan kode pada salah seorang bawahannya.
"Yah, tuan memanggil saya?" tanya si asisten pribadinya.
"Tolong kau cari informasi selengkapnya mengenai wanita yang bernama Noela Sabrina itu. Aku ingin malam ini semua sudah ada, bonusmu akan sangat besar dan aku akan langsung mentransfernya malam ini juga." Titah Ron.
"Baik tuan," ucap si asisten.
•••
Malam pun tiba...
Karena ternyata acara berlangsung selama tiga hari dua malam, maka Noela beserta tim harus tetap berada di kota tersebut, dan mereka menginap di sebuah hotel seberang gedung perusahaan Gold Group.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Brandon memegang semua informasi tentang Noela selama beberapa tahun terakhir.
Di sebuah apartemen kediaman Brandon, ia duduk sembari menenggak segelas minuman beralkohol.
"Tidak memiliki kekasih selama bertahun-tahun sejak masuk perguruan tinggi tak satupun pria yang berhasil menjalin hubungan asmara dengannya.. bukankah ini sejak terakhir kami bersama.." ucap Brandon dengan wajah tersenyum licik.
"Noela, apakah kau benar-benar menutup pintu hatimu untuk pria lain dan terus menantiku.. hmmp.. mungkin ini saatnya aku kembali.."
Brandon memerintahkan bawahannya untuk membuat Noela bertemu dengannya malam ini juga di sebuah lokasi yang sudah ditentukan.
***
"Sudah malam begini, seharusnya mereka tahu waktu untuk bekerja dan beristirahat.." gumam Noela. Dengan alasan pekerjaan, akhirnya Noela pun bersedia untuk bertemu dengan kliennya, namun Noela tidak tahu bahwa ini adalah rencana Ron.
Tepat di sebuah tempat yang cukup sepi dan remang, yaitu di atas pinggir danau buatan.
"Kau masih sama, dan tidak berubah," ucap Brandon lalu langsung mendekap tubuh Noela bahkan mengecup tengkuk leher Noela dengan tidak tahu malu.
"Kau!" Noela berusaha melepaskan diri, namun Ron mendekap tubuh Noela dengan cukup erat.
"Lepaskan aku, kau bajingan!" Pekik Noela.
"Apakah kau masih membenciku, Noela?" ucap Brandon dan terus mencumbui Noela.
"Lepaskan, kau tidak tahu malu, lepaskan!" Pekik Noela, namun jemari nakal Brandon sudah merangsak masuk ke dalam celana dalam milik Noela.
Ahk.. "Kumohon hentikan.. jangan.." ucap Noela lirih.
"Biarkan aku menebus kesalahanku dimasa lalu.. aku tahu, kau masih mencintaiku, bukan?" ucap Brandon, dan mencoba untuk menyetubuhi Noela dari arah belakang.
Brandon membuat tubuh Noela berjongkok dan mulai mengeluarkan rudal kebanggaannya.
"Bagaimana mungkin kau melakukan hal ini, setelah bertahun-tahun menghilang.. kau bahkan telah merenggut masa depanku dan sekarang masih ingin kembali melakukannya! Kau benar-benar gila!" Lirih Noela, lalu berbalik untuk menghantam pelipis Brandon dengan menyundul menggunakan kepalanya.
***
Malam itu, Noela berhasil lolos dari Brandon. Itupun karena Brandonlah yang membiarkan Noela untuk melepaskan diri, dan kian terpacu untuk kembali merebut hati Noela yang sebelumnya pernah pernah ia patahkan.
Hingga keesokan harinya, Noela pun diam-diam pergi dari kota tersebut dan kembali ke kota D demi menghindari Brandon.
Kota D•
Kediaman Noela Sabrina•
Noela tinggal di sebuah rumah susun sederhana, dengan biaya yang tidak terlalu besar bagi seorang pekerja sepertinya. Meskipun penghasilan Noela sangat cukup untuk menyewa sebuah apartemen studio, namun Noela lebih memilih untuk berhemat dan menabung sebagian dari penghasilannya.
Bzzzttt... Nomor baru memanggil..
Melihat ada nomor tidak dikenal, Noela menjadi sedikit cemas. Cemas, jikalau itu ialah Brandon, si mantan kekasih brengsek.
Tiba-tiba masuk beberapa pesan beruntun, dan itu terus masuk ketika Noela semakin mengacuhkan panggilan maupun pesan dari nomor tersebut.
"Noela, ini aku Brandon. Apakah kau begitu sibuk?"
"Brengsek! Aku sudah berjuang mati-matian untuk bangkit dari keterpurukanku selama ini. Namun, pria ini tiba-tiba muncul kembali.." ucap Noela yang terlihat kian cemas.
Setelah beberapa hari kemudian...
Tak butuh waktu lama, Brandon mendapatkan alamat lengkap beserta dimana Noela bekerja.
Noela seorang anak broken home, dimana ayah dan ibunya telah bercerai dan memiliki kehidupan masing-masing. Ayahnya saat ini masih mendekam di balik jeruji besi, akibat kasus pengedar barang haram, sedangkan ibu Noela kini telah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga baru di luar negeri. Noela ditinggalkan di kediaman neneknya yang sudah renta, dan baru beberapa tahun lalu wafat. Sehingga meninggalkan banyak kesedihan mendalam dalam hidup Noela.
***
"Noela!" Ucap seseorang berseru memanggil nama Noela dari jarak lima puluh meter.
"Hermon!" Balas Noela sembari melambaikan tangannya membalas sapaan pria bernama Hermon tersebut.
Pria itu berlari ke arah Noela, dan spontan mendekap Noela yang baru saja kembali dari kelontong sayur terdekat.
"Aku sangat merindukanmu, Noe, bagaimana kabarmu saat ini?" Tanya Hermon yang terlihat cemas.
"Kabarku baik-baik saja. Mari, ke kediamanku yang tidak seberapa." Ucap Noela mengajak Hermon menuju kediamannya.
•••
Kediaman Noela Sabrina•
Mereka pun berbincang santai, karena Hermon ialah sahabat kecil Noe dan mereka terpisah sejak memasuki sekolah menengah atas. Dikarenakan Hermon harus mengikuti orang tuanya ke luar negeri. Hingga kini, Hermon sudah menjadi seorang pria mapan juga tampan rupawan. Meski demikian, Hermon tak akan pernah melupakan Noe selama hidupnya.
Apakah Noe begitu berharga bagi Hermon?
Hermon

"Aku turut sepenanggungan, atas kepergian nenek. Aku baru saja mendengarkan kabar tersebut, setelah aku memutuskan untuk kembali. Namun, kau sudah tak lagi berada di kota A. Aku pun berusaha mencarimu dan bertanya dari bibi Sabria."
"Ah, ya, aku memulai kehidupan baruku di kota ini sebagai batu pijakanku." Ucap Noela, dan terlihat jelas menyimpan banyak duka selama berada di kota A.
"Noe, maaf jika aku terdengar lancang. Hanya saja, kau berhak memilih hidup bahagia. Jika bibi sudah memilih kehidupan baru beliau, dan paman yang masih harus menanggung kesalahan dibalik jeruji besi. Kaupun berhak bahagia, Noe.." Ucap Hermon, sembari menepuk punggung tangan Noe.
"Terima kasih, Hermon. Namun, inilah kehidupanku, sangat jauh dari kehidupanmu, bukan?" Ucap Noe, seakan merasa kurang percaya diri akan kondisinya kini.
"Kau wanita hebat, Noe. Sejak kecil kau selalu unggul di kelas, sehingga tak sedikit anak lelaki menyukaimu. Bahkan di bidang olahraga pun, kau ialah salah satu tim terbaik sekolah. Aku masih mengingatnya dengan baik." Ucap Hermon memuji dan tersenyum bahagia tatkala mengingat kembali memori lama mereka.
Noe pun membalas dengan tawa haru bahagia.
"Bukankah kau selalu berada di posisi pertama, sedangkan aku diposisi kedua. Semua anak gadis merasa iri atas kedekatan kita, dan berlomba untuk mengirimimu surat melalui perantara ku. Sehingga, aku disebut 'si gadis perantara'.." ucap Noela disusul dengan suara tawa keduanya.
Setelah saling bernostalgia, Noe pun memasak makanan untuk keduanya. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan senja, begitulah lamanya Hermon berada di sana dengan sangat nyaman.
"Noe, terima kasih untuk makanan hari ini. Aku harus segera kembali ke hotel, karena pagi besok aku akan kembali ke kota B, untuk menemui pamanku. Aku akan lebih sering meneleponmu, dan kuharap dilain waktu kita bisa saling meluangkan waktu bersama." Ucap Hermon, dengan canggung mengusap puncak kepala Noe, lalu pergi dengan sejuta rindu yang masih tersisa.
Noe melambaikan tangannya dan hanya membalas permohonan Hermon dengan senyuman. Karena permohonan Hermon bisa diartikan sebagai 'bahwa Hermon ingin hubungan mereka lebih berkembang dari sekadar Sahabat masa kecil'.
***
•Perusahaan Penerbit Kota D•
"Selamat pagi, Tuan Dave." Ucap Noe menyapa si atasan tampannya.
Dave

"Selamat pagi nona Noela, kau terlihat sangat luar biasa dipertemukan waktu itu. Saya sangat bersyukur, karena berkat dirimu, citra perusahaan kita semakin membaik. Tak sedikit, pihak Gold Group memberikan sumbangsih kerjasama di hari depan." Ucap Dave bangga pada Noe.
"Terima kasih, tuan Dave. Semua ialah berkat bimbingan dari tuan yang sangat bijaksana pada kami." Balas Noela yang rendah hati.
"Nona Noela, Tuan CEO dari Gold Group ingin kau kembali mempresentasikan semua mengenai perusahaan kita besok hari. Saya mengandalkanmu, nona Noela." Ucap Dave memberikan semangat.
Tanpa banyak protes, Noela pun menyanggupinya dan tak pernah berburuk sangka akan semua yang dihadapinya meski terkesan sulit. Kesulitan hidup jauh lebih mencekik bagi Noe, itulah yang membuat Noe tumbuh menjadi sosok wanita tangguh.
Keesokan harinya...
Tibalah saat, dimana Noela akan mempresentasikan semua tugas tanggung jawab dari atasan Dave.
Si sebuah ruang rapat para petinggi perusahaan, Noe berada di tengah-tengah orang-orang hebat yang begitu menghargai kerja keras Noela.
Riuh tepuk tangan pun menyusul berakhirnya presentasi dari Noela.
"Baik, suatu kehormatan bagi kami, atas kerjasama dari perusahaan Gold Group. Untuk tuan Brandon Decafreo selaku pimpinan, kami sangat berterimakasih..--"
Tatkala mendengar nama tersebut, sekujur tubuh Noe bak tersambar petir. Semua terasa kaku dan juga lemas, rasa mual seakan mengocok seluruh isi perut Noe.

Karena ternyata, Brandon kini telah menjadi seorang CEO Chief Executive Officer Gold Group.
•••
Beberapa hari yang lalu, sebelum keberangkatan Brandon menuju kota D.
•Mansion Kediaman Decafreo Family•
"Ada apa, Brandon? Mengapa kau tiba-tiba menyetujui untuk menjadi
Chief Executive Officer?" Tanya Mr. Freo, ayah Brandon.
"Bukankah itu yang ayah sangat inginkan. Jadi, kurasa inilah waktu yang tepat untuk menjalankan tanggung jawab, sebagai putra pertama kebanggaan keluarga Decafreo." Ucap Brandon dengan bangga.
Semua anggota keluarganya pun tersenyum bahagia, karena Brandon sebelumnya tidak menyukai posisinya dan memilih untuk menjalankan bisnis santai sembari menikmati keindahan diberbagai negara bagian.
Namun, sadar jika Noela sudah sangat membencinya, dikarenakan kesalahan dimasa lalu mereka. Brandon pun memilih jalan kekuasaan, demi menaklukkan Noela.
Akankah rencana itu berhasil, ataukah Noela justru semakin menjauhinya?
***
Setelah memberikan sambutan pada Brandon, semua orangpun dikerahkan untuk segera menikmati makan siang bersama, terkecuali Noela yang masih harus berada di sisi Brandon.
"Nona Noela, seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, Tuan Brandon ingin nona sendiri yang menyampaikan semua rencana baik perusahaan. Karena, semua ialah kerja keras nona Noela. Anggap, ini adalah bentuk penghargaan dari perusahaan bagi nona Noela." Ucap Dave, lalu mempersilakan Brandon untuk berbicara berdua bersama Noela.
Di sebuah ruangan VIP, mereka duduk berhadapan di sofa yang jaraknya cukup dekat.
"Aku bangga, atas semua pencapaianmu selama ini. Kau bahkan telah menjadi orang kepercayaan perusahaan yang cukup ternama di kota D ini." Ucap Brandon memuji, dan Noela berusaha bersikap seprofesional mungkin.
"Noa, aku sangat merindukanmu.. dan aku bersyukur kita dipertemukan kembali dalam keadaan yang sangat baik." Ucap Brandon, lalu meraih tangan Noela.
"Hentikan Tuan Brandon. Maksud kedatangan saya ialah untuk membicarakan kerjasama diantara kita. Mohon, kesampingkan urusan pribadi anda." Tegas Noela tanpa berkedip.
Brandon cukup tercengang dengan sikap tegas yang Noela tunjukkan padanya.
Setelah menyelesaikan segala urusan pekerjaan, Noela pun bergegas pergi dari hadapan Brandon. Namun Brandon nyatanya tak ingin menyerah begitu saja, Brandon terus mengejar Noela kemanapun dengan caranya sendiri.
•••
Noela diminta untuk pergi satu mobil bersama tim, dan ternyata hanya ada dirinya bersama Brandon dan dua orang supir juga asisten pribadi dari Brandon.
"Apa-apaan ini? Kemana perginya semua orang?" Ucap Noela resah, tatkala mendapati dirinya hanya berdua di kursi belakang, sedangkan dua bawahan Brandon berada di kursi depan. Brandon menutup akses antara kursi depan dan belakang bahkan mengaktifkan mode kedap suara.
"Bukankah urusan pekerjaan kita telah usai? Kini saatnya, urusan pribadi yang belum sempat terselesaikan." Ucap Brandon, dan terus menatap lekat ke arah Noela.
"Saya merasa sangat tidak nyaman, mohon untuk turun saja." Pinta Noela, namun Brandon enggan untuk menuruti keinginan dari Noela.
"Noa, aku minta maaf atas kekencanganku pada malam itu, aku hanya terbawa suasana."
"Malam mana, yang anda maksud, tuan?" Balas Noa tanpa membalas tatapan mata dari Brandon.
"Malam kelulusan beberapa tahun yang lalu. Aku harus pergi untuk mengikuti tes tertulis di sebuah perguruan tinggi, aku tidak sempat berpamitan dan.."
"Bodoh! Untuk apa anda mengungkit perihal masa lalu dan segala kebodohan dua orang remaja labil yang hendak beranjak dewasa. Bukankah itu suatu kebodohan besar, karena telah mencoba percaya pada ucapan buaya dari mulut lelaki tak bertanggungjawab!" Ketus Noela, dengan cukup emosi, tatkala mengingat kembali malam dimana Brandon telah merenggut kehormatannya.
"Aku mencoba untuk menghubungimu, namun kau pun menghilang tanpa kabar. Kau bahkan tak menggunakan sosial media satupun. Aku cukup kesulitan menemukanmu, hingga akhirnya aku pun menyerah begitu saja. Karena, kondisiku pun cukup sibuk, aku bahkan hanya fokus dengan pekerjaanku dan segala beban dibahuku." Ucap Brandon mencoba menjelaskan kondisinya kala itu.
"Ya, itu hanyalah sebuah kesalahan dimasa lalu. Jadi, tak perlu mengungkitnya kembali."
"Noa, tapi aku telah menghancurkan masa depanmu yang amat berharga, aku sangat bersalah. Karena itu, aku akan menebus semua kesalahanku."
"Baik, jika anda ingin menebusnya. Syaratnya ialah, anda jangan lagi mengusik kehidupan pribadi saya. Biarkan saya hidup tenang damai tanpa gangguan." Tegas Noela.
"Jika itu permintaanmu, maka tentu saja aku tidak dapat melakukannya. Karena tujuan utamaku datang ke kota ini ialah karena dirimu, Noa.." Brandon lagi-lagi mencoba untuk mencium Noela.
"Lagi-lagi anda melakukan hal yang amat memalukan! Brengsek!"
Plakh...
Noela menampar wajah tampan Brandon, dan terus memaksa agar mobil segera diberhentikan.
"Noa, aku sudah bertekad tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku akan menjagamu dan mencintaimu setiap saat.."
"Omong kosong murahan! Cepat turunkan aku!"
Bug bug... Noela menendangi kursi bagian depan dan bahkan membuka akses antara kursi depan belakang.
"Turunkan aku, atau aku akan menggila!" Tegas Noela yang terlihat sangat marah.
"Baiklah, kita akan segera turun di depan Kediamanmu. Tenanglah sayang.." ucap Brandon menenangkan.
"Siapa yang panggil sayang? Benar-benar menjijikan!" Cela Noela, dan membuat dua bawahan Brandon terdiam kaku, karena baru Noela wanita yang berani menghina Brandon.
Noela pun diberhentikan tepat di depan halaman rumah susun sederhananya. Noela bergegas untuk masuk meninggalkan Brandon bersama dua bawahannya.
"Tuan, sepertinya anda harus lebih bekerja keras lagi." Ucap asistennya dengan menahan senyum.
"Yah, karena Noelaku bukanlah wanita yang mudah luluh hanya dengan materi. Maka aku harus berjuang keras untuk itu." Ucap Brandon, seketika raut wajahnua berubah drastis.
Ketika berada bersama Noela, Brandon terlihat begitu hangat penyayang. Namun siapa sangka, jika pribadi aslinya cukup bengis dan itulah yang membuatnya juga disegani orang sekitar. Tak hanya bengis secara sembarangan tempat.
***
Apartemen Kediaman Brandon Decafreo•
Ugh.. akh.. hhhkk agak...
"Noelaku, aku sangat menginginkan lubang bawahmu yang hangat nan legit itu.." Brandon meracau, sembari terus melakukan masturbasi. Menarik turunkan tangannya hingga cairan kental menyembur ke area paha hingga seprei di tempat tidurnya berada.
Huhh...huhh... Deru napas penuh kepuasan, ketika mencapai titik klimaks.
"Ini tidaklah cukup.. aku benar-benar seperti binatang kelaparan, semenjak kejadian malam itu.." ucap Brandon merasa kacau akan hasrat yang selama ini ia salurkan dengan masturbasi manual.
Selama bertahun-tahun, Brandon juga tidak pernah memiliki seorang pun wanita disisinya, meskipun ada banyak wanita yang bahkan siap mengangkang untuknya walau hanya sekadar sebagai pelampiasan hasrat seksual saja. Namun, Brandon enggan untuk melakukan semua itu, Brandon sendiri pun tidak mengerti dengan dirinya. Mengapa dirinya sebegitu tidak mampunya untuk melupakan sosok Noela, gadis lugu yang telah ia nodai lalu tinggalkan begitu saja.
***
Hermon akhirnya kembali ke kota D untuk menemui Noela. Hermon memiliki bisnis di kota D namun tinggal di kota C. Dengan jarak beberapa jam, Hermon rela menempuh perjalanan demi menemui Noela. Mereka pun menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa ceria.
Berjalan menyusuri hiruk pikuk keramaian kota, sembari menyantap ice cream berdua.
Tiba-tiba, Brandon muncul di hadapan keduanya ketika sedang berjalan menyusuri gang sempit.
"Sayang, aku sudah menunggumu cukup lama. Ternyata, kau bersama teman masa kecilmu ini." Ucap Brandon lalu merangkul Noela.

"Apa yang anda katakan.."
Tiba-tiba Brandon mengecup pipi Noela di hadapan Hermon dengan sengaja dan menatap ke arah Hermon, seakan tanda peringatan agar Hermon lebih berhati-hati padanya.
"Kau masih marah padaku, sayang? Maafkan aku, oke?"
"Lepaskan! Omong kosong apa yang anda katakan, Tuan Brandon. Jangan menimbulkan kesalahpahaman yang tidak berarti." Tegas Noela lalu bergegas pergi bersama Hermon.
Hermon hanya terdiam, dan menghentikan langkah kakinya.
"Hermon, semua yang pria itu katakan hanyalah omong kosong. Jangan memercayainya!" Ucap Noela sedikit panik.

"Jikalau pun hal itu benar, mengapa kau harus berusaha untuk menyembunyikannya, Noa? Bukankah kita adalah sahabat sejak kecil, aku tidak akan berubah walau kau sudah bersama pria lain." Ucap Hermon dengan raut wajah kecewanya.

"Tidak Hermon, pria itu adalah teman sebayaku ketika berada di bangku sekolah tingkat atas. Dia sungguh jahil, dan dengan sengaja ingin mengerjaimu saja." Ucap Noela yang belum sempat menjelaskan segalanya pada Hermon.
"Noa sayang! Berhentilah berbohong pada teman kecilmu, kumohon maafkan aku dan akuilah aku di depan orang lain mulai saat ini. Oke!" Ucap Brandon, lalu kembali merangkul Noela.
"Maaf, aku hanyalah sahabat masa kecil Noa, silakan lanjutkan pembicaraan kalian. Aku pamit, Noe." Ucap Hermon, lalu melangkah pergi dengan perasaan kecewanya.
***