Neng Ay
"Hmm ... Mbak, maaf Mbak ...."
Aku membantu Mbak itu berdiri, sambil cepat-cepat mengusap air mataku yang meleleh terus.
Di pesantren ini, aku tidak mengenal siapapun. Semua benar-benar terlihat begitu asing, begitu berbeda.
Aku lebih suka dengan Pondok Pesantrennya Uminya Gus Ammad. Yang meski harus sendiri, untuk tidur di kamar ndalemnya.
Namun aku, bagai menerima beribu ketenangan yang membuat aku bisa mendekat diri ke Allah dengan sholat sunahku.
"Iya tidak apa-apa, Dik. Mbak juga yang salah tadi tidak melihat kamu ...."
"Sakhsi ...."
Belum aku menjawab yang barusan dikatakan Mbak itu, dia sudah berlalu menghampiri seorang teman yang memanggilnya.
"Mas Ammad, kulo hanya ingin panjenengan ...."
Hatiku masih saja meronta memanggil nama yang sama, yaitu nama Mas Ammad. Bagaimana nama itu akan bisa terganti dengan nama Gus Wahyu? Aku bahkan seperti menduga, kalau nama Mas Ammad saja yang akan tetap ada.
Namun bagimana dengan masa depanku ini? Mau tidak mau, aku harus menggantikan nama Mas Ammad Menjadi nama Gus Wahyu.
Air mataku meleleh tiada henti, sementara kenangan itu selalu teringat dan datang tanpa mau pergi.
"Hari-hariku yang lelah, namun setiap kali aku melihatmu tersenyum ... maka hilanglah semua letihku."
Senyum Mas Ammad berasa terlihat di mana-mana.
Suara Mas Ammad menganggaung juga di mana-mana.
Kebersamaan yang tanpa sengaja itupun juga teringat dan mengalir terus di benakku.
Sunyinya malam yang syahdu membeku bersama ketakutan yang beradu di kala aku dengan Mas Ammad terjebak di ruangan itu. Hembusan angin yang terasa berbeda itu juga masih teringat jelas.
Aku ingin teriak namun tidak bisa. Mengeluh kepada siapa kah, aku?
Aku harus mengusap air mata ini, tidak ada yang boleh tahu kalau aku ini menangis mengingat Mas Ammad.
Karena aku di sini bukan hanya santri putri biasa namun aku adalah milik tunanganku.
Benar, Mas Wahyu.
Aku menuju tempat air wudhu dengan dada sesakku yang menahan tangis, lalu aku wudhu di sana.
Berasa semua air mataku tersapu bersama air wudhu itu, namun tetap saja menetes dengan deras kembali.
Selesai.
Aku mengambil mukenah, kemudian mendirikan sholat dan masih rokaat pertama hatiku berasa resah kembali. Air mataku malah semakin deras.
"Ya Allah, berikan ketenangan kepadaku. Semua ini begitu berat, aku seperti tiada kuat menjalani semua ini ...."
Aku bersujud dalam sholatku, membungkam tangisku di sana. Bersama air mata yang terus mengalir begitu saja.
Usai salam, aku melihat mukenah putih pemberian Mas Ammad yang di mana di bagian bawah dadaku basah penuh air mata.
Aku meraba mukenahku yang bagiannya tidak ada air mata, lalu mencium mukenahku itu.
Harum ini yang selalu mengingatkanku pada parfum Mas Ammad.
Mengingatkan kenanganku kembali. Kenangan yang bila mana aku samakan dengan kenangan-kenangan lain tidak akan dapat menyamai kenangan indah yang aku lalui bersama Mas Ammad.
"Aku mencintai Ay bukan karena nafsu, namun aku berharap dengan Ay aku bisa mengenal cinta yang Allah ridhoi."
Aku mengingat malam itu, suasananya begitu tenang. Begitu mendamaikanku. Aku tersenyum ketika pesan yang dikirim Mas Ammad itu aku membacanya ulang dan mencoba memahami maksud dari pesan itu.
Aku berasa malam itu bukanlah malam yang amat sepi tanpa kehadiran bulan.
Namun malam itu seperti malam panjang namun tidak pernah mengusik kata bahagia dalam hidup dan mimpiku.
Kalau memang Mas Ammad begitu mencintaiku dan Allah memang meridhoi hubungan cinta antara aku dengan Mas Ammad, lalu mengapa perpisahan ini haruslah terjadi?
Aku diam dengan ribuan air mata. Membisu dan mencoba menutupi luka-luka perpisahan yang terus merajamku. Di mana setiap pagi, siang dan malam menjalar bersama rinduku yang terus bersuara.
Apa yang bisa aku lakukan? Ini semua tidak semudah seperti membalik telapak tangan. Aku tidak pernah menyesal mengenal cinta Mas Ammad, namun aku hanya ingin bertanya kepada Allah.
Kenapa aku bisa dipertemukan dengan Mas Ammad lalu memisahkanku dengannya seperti ini?
Cinta itu begitu cepat, tanpa aku sadari keindahan cinta itu terasa terampas dari hidupku.
Cinta yang tiba-tiba bersemi dan aku rasa cinta yang akan menjadi masa depan terindah ternyata menjadi cinta yang aku kenang dengan kesedihan yang membara.
Ketika sedih itu, air mataku terusap dengan nasehat Mas Ammad yang mengalir. Ketika kesuksesan itu, Mas Ammad dengan bangga memberiku dukungan.
Ketika kegagalan itu, Mas Ammad mendampingiku agar aku tegar dan tetap kuat.
Ketika semua orang menjauh dariku, ada Mas Ammad yang mendekatiku dan mengajarkan apa itu cinta.
Semua terkenang dalam hatiku, hanyalah nama Mas Ammad yang kian mekar.
Meski perpisahan ini sudah terjadi, mengapa hatiku selalu yakin kalau Mas Ammad masih mencintaku dan akan terus mencintaiku? Mengapa aku begitu sulit melepas Mas Ammad?
Mengapa aku begitu terluka dengan perpisahan ini?
Sungguh terlalu dalamkah cintaku kepada Mas Ammad?
Ujian apa ini wahai tuhanku? Kenapa hati yang sudah terlanjur menyatu haruslah terpisah? Apa salah dua hati yang menyatu itu ya Allah?
"Dik, kamu tidak apa?"
Aku merasakan dari belakangku ada yang memegang pundak kananku.
Suara perempuan dan aku sepertinya barusan mendengar nada suara yang mirip dengan itu. Apakah Mbak kamar yang tidak sengaja aku buat jatuh tadi?
Aku mencoba mengusap air mataku dengan cepat. Lalu menghadap ke arah suara perempuan yang barusan menanyaiku. Apakah dia tahu kenapa alasan aku menangis?
"Kamu menangis?"
Pandanganku menunduk ke bawah. Air mata yang seharusnya aku sembunyikan justru malah mengalir lebih deras.
"Kamu kenapa, Dik?"
Mbak itu mengusap air mataku. Siapa Mbak ini? Aku tidak pernah mengenalnya dan hanya sekali bertemu dengannya ketika aku tidak sengaja menabraknya tadi. Kenapa Mbak ini bisa ke sini? Apakah tahu semua aku ini siapa?
"Tidak ada apa-apa, Mbak ...."
Aku memalingkan wajah setelah air mataku disekanya.
Aku tidak mau, ada orang lain tahu kalau aku memang lagi sedih. Termasuk Mbak yang sedang ada di hadapanku ini.
"Dengar, semua sudah pada tidur. Tinggal kamu Dik, yang sedang menangis terus di sini. Kamu tidak mau bubuk?"
Aku menggeleng dan kepalaku semakin menunduk.
Air mataku rasanya mulai kering, mataku terasa sembab seperti orang yang habis terkena beberapa pukulan.
Semua yang aku lihat juga begitu samar, dadaku sesak sehingga nafasku tersenggal-senggal.
Mbak ini, kenapa bisa ada di sini? Mengapa dia saja yang tahu kalau aku sedang menangis?
Benar kata Mbak ini, tanpa aku sadari ketika terbenam dalam tangisan. Ramainya pesantren mendadak terubah menjadi suara sunyi.
"Ikut, Mbak, yuk ... tidur sama, Mbak ...."
Aku menggeleng.
Aku tidak ingin pergi ke kamar dengan keadaanku yang seperti ini.
Aku tidak akan bisa menemui mereka teman-teman kamar baruku yang akan banyak bertanya kenapa aku menangis?
"Mbak pergi saja, aku tidak bisa ke kamar. Aku seperti orang yang habis dipukulin, Mbak. Tidak apa, Mbak pergi saja. Aku tidak ingin ada yang tau kalau aku sedang sedih."
"Kamu sedih karena apa, Dik?"
Daguku diangkat oleh Mbak yang ada di depanku.
Aku menelan ludah, sambil menyembunyikan mataku.
Badanku masih gemetar dan lemas. Akupun malas juga untuk beranjak dari mushola pesantren ini.
"Tidak apa-apa, Mbak ...."
Aku dipeluk erat oleh Mbak itu, kenapa aku merasa Mbak ini telah lama mengenalku dan aku tidak pernah tahu kalau Mbak ini lama mengenalku?
"Kamu jangan pernah menangis, Dik. Mbak akan juga menangis."
Aku dipeluk semakin erat oleh Mbak ini. Aku semakin bingung, mengapa ada rasa berbeda yang aku rasakan pada Mbak ini? Siapa Mbak ini sebenarnya?
"Kamu menangis karena perjodohan ini kan, Dik?"
Mbak ini melepas pelukannya yang erat. Kemudian menyeka air mataku yang kembali berlinang.
Lihat, ke dua matanya saja sudah berkaca-kaca dan tidak disekanya.
Namun justru menyeka air mataku.
"Mbak ini siapaku? Kenapa Mbak bisa tahu soal ini? Tidak ada yang tahu, selain aku dan keluarga di antara kami."
Telapak tangan kananku digenggam erat oleh Mbak ini, sepertinya Mbak ini akan menjelaskan sesuatu.
Namun apa?
"Aku adalah pengagum kamu, Dik. Tanpa sengaja menyayangi dan mendoakan kamu."
Aku tercekat. Pengagum? Mengapa menjadi pengagumku? Aku adalah orang yang tidak layak untuk dikagumi.
"Mbak itu berkata apa? Pengagum apa, Mbak?"
Telapak tanganku semakin digenggamnya rapat. Aku semakin heran. Baik-baik saja kan Mbak yang ada di depan aku saat ini?
"Iya, Dik. Benar ... aku dari awal mengenal kamu, aku berasa bangga banget. Aku tahu kamu tidak kenal aku siapa? Aku juga tahu kamu pasti heran. Seharusnya Mbak ini menjaga rahasia ini, rahasia di mana Mbak ini adalah pengagum kamu diam-diam."
"Apa yang hebat dari aku, Mbak?"
Aku menatap mata yang berkaca-kaca itu, sambil memberanikan diri meyeka air matanya.
Dari matanya itu, aku melihat sinar kejujuran dari Mbak ini. Aku meyakini itu.
Lihatlah, tangannya sampai gemetar menggenggam telapak tanganku.
"Akan aku ceritakan Dik, tapi Mbak mohon. Kamu jangan pernah membenci, Mbak ya ...."
Aku mengangguk.
Mengapa Mbak ini mengatakan itu? Ada apa sebenarnya?
"Bismillah, aku percaya sama Mbak. Kenapa?"
"Begini, Dik ... semenjak Gus Ammad mengungkapkan cintanya kepadamu. Mbak saat itu memang kecewa sangat kecewa berat. Mbak juga menangis seperti kamu. Tidak ada yang menenangkan hati Mbak yang sedang diam-diam sakit. Tetapi, Mbak tahu kalau memang Gus Ammad memilih kamu itu berarti kamu adalah orang yang solihah. Ternyata itu benar. Dari lubuk hati terdalam, Mbak ini tidak pernah membenci kamu. Justru Mbak ini diam-diam menganggap kamu Adik Kandung Mbak sendiri. Namun, Mbak tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan kamu."
Aku terdiam. Aku melihat air mata yang membendung di kelopak mata Mbak ini menetes. Tidak, itu bukan air mata buaya yang pura-pura. Namun lihatlah, suara dan pandangan matanya. Kamu pasti akan menemukan, di dalamnya ada suatu ketulusan.
"Lihat aku, Mbak."
"Iya, Dik."
"Mbak kenapa bisa sesabar itu? Kenapa Mbak tidak marah ketika aku menjadi pilihan dari Mas Ammad waktu itu? Justru Mbak menganggap aku sebagai Adik. Kenapa Mbak?"
"Mbak sudah bilang kan, kalau kamu dipilih Gus Ammad berarti kamu adalah wanita solihah. Ternyata benar bukan? Kamu langsung lari ke sini untuk menyembunyikan kesedihan kamu. Tolong berjanji sama Mbak, Dik. Jangan pernah menangis lagi. Mbak, nanti akan sedih."
"Aku tidak bisa berjanji, Mbak. Aku sudah mencintai Mas Ammad sampai Aku tidak bisa melupakan satupun kenangan dari Mas Ammad. Semua bayangan kenangan itu selalu menghampiriku, bahkan bayangan itu menyelinap tanpa perlu izin dariku. Aku sudah tidak kuat, Mbak."
"Aku tahu cinta kamu, Dik. Kamu tulus kan mencintai Gus Ammad? Mbak tahu hal itu, dari tingkah laku kamu."
"Lalu, apakah Mbak dulu mencintai Gus Ammad?"
"Gus Ammad baru di Pesantren As-Syamsiyah itu baru tiga tahun yang lalu, Dik. Mbak tidak tahu soal Gus Ammad lebih dalam. Namun yang Mbak tahu, Gus Ammad itu adalah orang yang tampan dan solih. Namun sangat dingin dengan yang namanya santri. Apalagi santriwati."
Aku mengangguk pelan.
"Brarti, Mbak dulu mencintai Gus Ammad diam-diam?"
"Iya, benar. Namun Mbak tahu kok, jalan rencana Allah itu bagaimana. Waktu Mbak pulang ke rumah. Ada seorang ustad yang ahli falaq bilang. Kalau aku memang tidak cocok dengan Gus Ammad. Namun katanya, ada seorang yang usianya si bawahku yang akan menjadi istri tercintanya Gus Ammad dan semenjak itu, aku ingin menemui kamu Dik. Ingin menyampaikan kamu adalah jodoh yang memang ditakdirkan untuk Gus Ammad. Meski hanya sekejab melihat wajah kamu, Mbak langsung mengenal benar wajah kamu seperti apa."
Aku kembali menunduk.
Sekarang apa gunanya kalimat yang dikatakan ustad yang ahli falaq itu, kalau memang kenyataannya aku tidak lagi dengan Mas Ammad Itu semua seperti harapan palsu saja.
"Dik, dengar Mbak ini ... kamu tidak perlu bersedih. Kalau kamu memang jodoh untuk Gus Ammad mengapa kamu tidak mempercayai kehendak Allah saja? Mbak yakin lebih seribu persen kamu adalah pilihan terbaiknya Gus Ammad. Kamu yang sabar Dik, jangan menyerah dulu."
Aku kembali dipeluknya dan terdiamlah aku dengan air mata yang mengucur kembali.
Entahlah ini jam berapa, namun aku seperti menemukan sandaran hati di mushola pesantren ini.
Setidaknya hatiku berasa sedikit tenang dengan sedikit dukungan dari orang yang tidak aku kenal namun menganggap aku seperti keluarga.
"Tidak tahu Mbak, namun harapan untuk ke Mas Ammadku seperti harapan yang sudah lama memupus. Aku sudah dipinang dengan anak kyai Abkhan yang menjadi pengasuh pesantren ini. Tidak akan pernah bisa yang namanya tunangan kalau sudah resmi itu dibatalkan. Itu sulit Kak, bahkan sangat tidak mungkin."
Aku baru saja bisa bersandar di bahu Mbak ini dengan hati yang penuh rasa berat. Bagaimana lagi? Mbak ini seperti meluluhkan hatiku. Membantu aku tabah dan sabar dalam ujian ini.
"Kamu jangan bilang seperti itu, Dik. Perjalanan kamu masih dua tahun lebih di sini. Kamu nanti bisa memipih mana yang baik untuk kamu."
"Bagaiamana Mbakku ini bisa mengerti? Ini sudah resmi, kak. Aku bukan lagi milik Mas Ammad. Aku milik Gus Wahyu."
"Mbak Sakshi nggak bisa berkata lagi, Dik. Namun Mbak berdoa semoga kamu disatukan seseorang yang bisa membuat kamu bahagia dan ingat ke Allah terus."
"Amin. Nama Mbak itu siapa. Apa memang sakshi?"
"Iya Dek, panggil saja. Mbak Sakshi."
Malam ini adalah malam di mana aku merasa sedih di mana aku juga mendapatkan perhatian yang bukan lagi di sebut perhatian teman.
Terima kasih, Tuhanku.
Hambamu ini tidaklah tahu seperti apa teka-teki yang engkau berikan.
Namun yang hambamu tahu ini, engkau memberi jalan dari pintu lain.
Soal Mbak Sakshi entah mengapa dari pertemuan yang sangat singkat saja.
Aku seperti mengenal Mbak Sakshi lebih dalam.
Bahkan aku seperti meyakini yang dikatakan Mbak Sakshi benar.
Kalaupun tidak benar, biarlah Allah yang mengatur jalannya waktu ini.
Karena pilihan dalam hatiku adalah Mas Ammad.
***
"Dik, bangun ... sholat tahajud dulu."
Aku mendengar suara Mbak Sakshi, maka aku buka mataku perlahan.
Samar-samar aku masih melihat wajah Mbak Sakshi yang segar seperti usai mandi pagi.
Pandangan mataku seakan seperti memburam dan berasa kulit bagian atas mata ini seperti membengkak karena air mata semalam.
Aku tidak menyangka kalau air mata semalam ternyata membuat pengaruh di mata. Namun bagaimana lagi, sekarang saja aku masih mengingat Mas Ammad.
Ya Allah, mengapa aku tidak pernah ikhlas untuk menggantikan nama pada hati ini?
"Iya, Mbak Sakshi ...."
Aku bangkit sambil melepas selimut yang masih melekat.
Angin dari kipas angin yang menempel di langit-langit itu seakan membelai tubuhku. Agak dingin juga untuk pagi ini.
Ke dua mataku rasanya sangat malas untuk terbuka karena bengkak sebab air mata tadi malam, namun kewajibanku sebagai santri pesantren ini yang membuat aku harus tetap membuka mata agar kegiatan terlaksana.
"Dik, kamu tidak apa-apa, kan? Mata kamu-"
"Tidak ada apa, Mbakku ...."
Aku tersenyum sambil mulai melipat selimut.
Rambutku masih acak-acakan, soal hijab yang aku pakai tadi malam mendadak hilang entah siapa yang memakai.
Tidak asing, mungkin dipinjam namun tidak bilang.
Aku tidak perlu khawatir soal itu. Memang tradisi pesantren begitu rata-rata.
Mereka entah pernah merasa takut kalau membawa tanpa bilang itu dosa atau tidak. Namun yang pasti, di pesantren itu adalah seperti kita disuruh belajar untuk ikhlas.
Semisal kalau hijab itu adalah milikku maka pasti nanti orang yang meminjam itu tanpa bilang itu juga yang akan memberikan hijab itu kembali padaku.
Tidak, tidak seperti hidup yang sekarang aku jalani ini.
Andai aku seperti barang yang dipinjam itu dan pemiliknya itu adalah Mas Ammad. Maka aku mungkin nanti akan dikembalikan kepada Mas Ammad kembali. Namun apakah benar itu akan tetjadi?
Sudah, jangan kamu buat pusing lagi Ay. Jalani jalanmu ini. Sementara abaikan hati kamu yang terus ingin menyampaikan kata rindu buat Mas Ammad.
Karena kamu mungkin bukan seperti barang yang dipinjam tanpa bilang itu, lalu dikembalikan pada pemiliknya lagi.
"Ay ... kamu memikirkan apa?"
Mbak Sakshi seperti menyadarkanku.
Sambil wajah geragapan aku menatap Mbak Sakshi dan ingin saja aku menjelaskan apa yang menjadi beban dipikiranku sesaat.
"Mbak, aku kenapa merasa akan dikembalikan kepada Mas Ammad, Tetapi aku sadar juga, kalau itu mustahil."
"Hssttt, pagi-pagi kok sudah bilang begitu. Sementara ini jangan kamu pikirkan itu lagi, ya. Kamu nanti pasti nangis lagi kalau memikirkan itu terus. Jangan dulu ya, Dik."
Aku mengangguk.
"Tetapi Kak-"
"Hsstt diam. Ayo kamu cepat mandi sana. Ke buru banyak yang antri kamar mandi loh. Yang sebelah utara kosong. Cepat kamu masukin sana ...."
***
Gus Ammad
"Mas, bangun yuk ... sholat sama Ay!"
Berasa kening ini ada yang meniup, kemudian berlajut ada yang mengusap kening ini dengan lembut.
Tangan yang lembut ini sudah jelas kalau ini adalah tangan Ay.
Apakah sepagi ini dia sudah mandi?
Keharuman Ay menyerbak di mana-mana dan aku sudah merasakan lagi.
Kecupan yang mendarat di keningku, setelah anak rambutku dibelainya perlahan.
"Ay ...."
Wajah cantik itu tersenyum merekah ketika pandanganku jatuh untuk menatapnya.
Ay masih sama.
Ketika senyum, cahaya matanya selalu meredup.
Ay begitu cantik.
Baju gamis dengan hijab pasmina yang serba hijau pupus itu, bagai membuat keanggunan buat Ay tersendiri.
Harum tubuh Ay bagai menenangkan.
Aku ingin memeluk Ay langsung rasanya.
"Sholat dulu, Sayang."
Tangan yang lembut itu kembali membelai rambutku. Kemudian bibir itu menempel di bibirku dengan nada yang pelan dan cukup lama.
Aku diam terpejam sambil meraba rasa bibir itu yang manis.
"Memang Ay sudah sholat?"
Aku bangun dari tidurku yang terlentang. Lallu tangan kananku menarik bagian punggung belakang Ay, sehingga Ay terduduklah dengan dengan dekapanku.
Aku memeluk Ay dari samping, semakin aku berusaha mendekatkan tubuhku. Semakin pula, Ay merapatkan tubuhnya padaku. Hangat ya, Ay?
Sesekali aku kecup kening itu, lalu turun ke tengah bibir Ay.
Aku tahu aku masih belum mandi kalau jam segini, tetapi Ay pasti selalu mau apa yang aku berikan atas dasar cinta untuk Ay. Bahkan aku hanya sekedar memeluk atau menciumnya saja, Ay sudah tersenyum.
Ndet-ndet ....
Ndet-ndet ....
Gawaiku tiba-tiba berbunyi.
Astaghfirullah, senua itu ternyata mimpi.
Aku mengangkat panggilan telpon.
Aku lihat di layar gawai, ternyata Mbak Risah yang menelpond. Memang jam segini ada apa Mbak Risah menelpond?
"Mad ... Ammad ...."
Aku terhenyak mendengar suara Mbak Risah yang tidak begitu jelas. Apa sinyalnya di sana buruk? yang aku dengar cuma manggil nama belakangku saja.
"Mbak ... ada apa?"
Panggilan terjeda, lalu kembali terhubung.
Ada hatiku yang seperti mengatakan kalau ada apa-apa dengan Mbak Risah. Memang ada apa?
"Mad ... Ammad ... bisa dengar?"
Nah, ini baru sedikit jelas, meski agak putus-putus.
Lagian memang ada apa jam segini telpon? Orang rumah sudah pada tidur kalau seperti ini. Kalau pun sholat, biasanya mepet sama jam subuh.
Untungnya aku langsung ngangkat.
"Iya, Mbak ... Ada apa?"
"Tolong sampaikan Abah sama Umi, Ibu mertuaku meninggal, Mad ...."
"Innalillahiwainnailaihiraji'un. Iya, Mbak ... sekaang Mbak ada di mana?"
Aku di sini tidak mendengar suara apa-apa, kecuali mendengar suara Mas Hasan, suaminya Mbak Risah yang menangis.
Apa masih di rumah sakit?
Aku tidak menyangka kalau Allah sudah menutup umur Ibu mertua dari Mbak Risah.
Aku kenal betul sama Ibu mertuanya Mbak Risah itu, orangnya baik dan ramah. Aku yang baru datang saja sibuk mengeluarkan semua makanan yang ada di al-maari. Padahal tujuanku mampir cuma mau silaturahmi sama maaf-maafan dan langsung pulang. Tetapi malah dibetah-betahin suruh mencicipi makanan yang sudah ditatanya di atas meja.
"Aku masih di rumah sakit, Mad."
"Iya, Mbak."
Tanpa salam Mbak Risah sudah menutup telpon.
Aku menghela nafas berat sambil memperhatikan laptop kerjaku yang belum aku masukan ke almari.
Mimpi yang barusan aku lalui tadi seakan nampak begitu nyata sampai aku tak sekalipun menyadari kalau memang itu mimpi.
Mungkin kalau Mbak Risah tadi telpon, aku tidak tahu cerita mimpi itu seperti apa. Tapi lupakan, aku ingin tidak memikirkan Lia terlebih dulu.
Gawai aku matikan. Lalu meletakkannya di atas meja, dekat dengan lampu tidur.
Aku bingung, mau ngabarin Umi sama Abah sekarang atau bagaimana? Apa menunggu besok waktu subuh, apa bagaimana? Mbak Risah tadi nyuruhnya suruh bilang ke Abah Umi tetapi jam segini Abah Umi itu, ya masih tidur.
***
Mbak Sakshi
"Kami meminta tolong, kepada kalian para pengurus pesantren putri. Terutama ketua pengurus! Kalian semua akan kami ajak untuk menjadi para penerima tamu. Besok pagi, kalian akan diberangkatkan dengan menggunakan bus mini. Jadi sebelum jam tujuh pagi, kalian sudah harus berada di lokasi. Oh iya, untuk ketua pengurus ... nanti santri putri yang bernama Ay Ay, suruh menuju ke ndalem untuk ketemu Umi."
"Baik, Gus ...."
Ay?
Kenapa dengan Ay? Kyai Abkhan ini mau mengajak kami menjadi penerima tamu? Apakah di suatu pernikahan? Hmm, sebentar.
Neng Nadah, dia kan katanya yang mau menikah dengan Gus Reza itu.
Apa Neng Nadah ya, yang kali ini menikah?
Kami yang para pengurus hanya bisa mengangguk dengan pandangan ke menatap teras yang berkapling.
Kami tidak berani bertanya kecuali yang sangat penting.
Mungkin aku akan ngasih tahu Ay saja, kan Ay nanti mau doajak ke ndalem.
***
Neng Ay
"Mas Wahyu?"
Aku melihat dari pagar pintu santri putri, aku melihat Abah Abkhan di depan sana dengan Mas Wahyu.
Mbak-mbak pengurus sepertinya membicarakan hal serius dengan Mas Wahyu dan Abah Abkhan.
Apa yang dibicarakan? Apa akan ada kegiatan baru di pesantren? Apa ada sesuatu untuk diurus para pengurus pesantren putri? Apakah ada tugas pembersihan?