Langit dirundung muram, seorang wanita dengan badannya terbungkus baju dan kerudung hitam, terduduk di atas sebuah pusara. Dia menangis histeris meratapi kepergian buah hatinya. Air matanya mengalir disertai derai air hujan yang tiba – tiba turun seakan ikut merasakan nestapa wanita itu.
“Alsya, kenapa tinggalin mama secepat ini ?” rintihnya sambil terpuruk di atas pusara. Ia tidak peduli dengan hujan yang semakin deras, badannya yang basah kuyup dan suasana mencekam di pemakaman yang sudah sepi pun tidak dia hiraukan.
Setelah dia merasa lelah menangis akhirnya Maya beranjak dari duduknya. Dengan langkah gontai dia melangkah pergi, sesekali dia menoleh ke belakang kearah pusara anaknya. “Mama pulang dulu ya sayang, besok Mama datang lagi tengok kamu” katanya sembari berlalu.
Ditengah perjalanannya dia berhenti sambil menengadahkan kepalanya, merasakan air hujan mengguyur wajahnya.
“ Tuhan kenapa semua ini terjadi ? Apa salahku hingga Engkau berikan cobaan sedahsyat ini?”teriaknya ditengah derasnya hujan.
“ Baru satu bulan yang lalu Kau ambil ibuku, sekarang anakku, aku tidak sanggup Tuhan” ratapan Maya yang memilukan hati.
Maya terduduk merasakan kakinya tak sanggup menopang beban badannya, ia terduduk hingga bajunya kotor penuh dengan lumpur tak dia hiraukan.
Dalam keterpurukannya dia teringat kata – kata Alsya, saat dia baru saja menjadi bulan – bulanan kemarahan Toni,
“Mama, mama harus kuat, Alsya selalu berdoa pada Tuhan agar mama diberikan kebahagiaan,” ujar Alsya dengan senyum manisnya sambil mengusap air mataku.
‘Oh Alsya, anak itu begitu cantik dan dewasa’ batin Maya
Akhirnya dia bangkit dan melangkahkan kakinya menuju rumah sembari terus memberikan semangat untuk dirinya sendiri, dia harus berjuang tidak ingin mengecewakan Alsya.
Sesampainya dirumah, dengan keadaan yang basah kuyup Maya masuk melalui pintu depan rumah. Rumah yang tidak terlalu besar, menjadi kenangannya bersama almarhum ibu dan anaknya. Dia melihat kesekeliling rumah mengenang Alsya dan ibunya. Seperti ada bayangan ketika dia melihat kursi di depan televisi, disana biasanya dia dan Alsya menonton televisi berdua sembari meminum segelas susu sebelum aku berangkat bekerja dan Alsya ke sekolah.
Kemudian dia menuju dapur, di dapur ini biasanya dia dan sang ibu bersenda gurau saat mencoba resep kue baru yang ketika matang rasa dan bentuknya menjadi aneh.
Maya membayangkan itu dengan tertawa kecil tapi matanya mengeluarkan air mata. Perasaan kangen tidak bisa terelakkan, kangen cerewetnya Alsya dan wajah ibunya yang teduh.
Maya tersadar drai lamunannya ketika merasakan badannya menggigil kedinginan karena baju yang dia kenakan memang basah kuyup. Maya kemudian mengambil handuk dari kamar mandi, dia heran karena sejak tadi tidak menjumpai suaminya. dia mencari ke semua ruangan dirumah, tapi tidak ada siapapun.
“ Kemana mas Toni, masih berkabung seperti ini malah keluyuran “ gumamnya sambil menggunakan handuk mengusap rambutnya yang basah.
Suaminya Toni memang suka keluyuran, dari pagi dia sudah pergi kemudian pulang tengah malam, begitu setiap hari,. Pernah suatu ketika tetangga memberitahukan keberadaan Toni yang sedang berada di area lokalisasi, aku mencoba untuk mengeceknya ketempat lokalisasi yang dimaksud. Ternyata benar, aku mendapati dia berada di depan pintu gerbang lokalisasi itu,tapi dia hanya diam sambil menyesap rokonya. Aku hanya melihatnya dari kejauhan tak berniat untuk menghampirinya, biarlah daripada ada keributan, karena setiap ribut dia akan melakukan kekerasan fisik terhadapku, maka dari itu Aku memilih diam dan mengalah saja walaupun sebenarnya hatiku sakit.
Setelah aku selesai mandi dan berganti baju, tiba – tiba Toni datang dengan keadaan badannya basah, bukan karena hujan, karena hujan sudah reda beberapa saat setelah aku sampai rumah, dia basah karena keringat.
“ Dari mana saja kamu Mas? Kenapa di suasana berkabung seperti ini kamu malah keluyuran, sebentar lagi pasti akan banyak orang datang kerumah untuk tahlilan Alsya?” Aku memberondongnya pertanyaan sambil menatapnya kesal.
Sambil sedikit ngos – ngosan dia menjawab “ Halah cerewet sekali kamu, aku mau dari mana, ngapain, bukan urusanmu!!”jawabnya dengan tegas dan melirikku tajam sambil melepaskan pakaiannya yang basah dan melemparkannya kearahku.
“Sudah, aku mau mandi!” katanya sambil berlalu memberikan pakaian kotornya kepadaku.
Alangkah terkejutnya aku mendapati bekas merah yang berada di dada nya dan lehernya, sontak aku menghentikannya dan bertanya perihal tanda merah itu.
“ Kamu habis main sama siapa Mas?Apa yang kamu lakukan?Dimana hati nuranimu, kita masih berkabung dan kamu sempat – sempatnya melakukan itu?”kataku dengan berderai air mata
“Jawab Mas!” bentakku
“Iya memang aku habis bercinta, kenapa memangnya?”Apa kamu juga menginginkannya?seringainya sambil menjambak rambutku.
Seketika raut wajahnya berubah menyeramkan, ditariknya aku kedalam kamar, dilucutilah semua pakainku. Aku berteriak memohon ampun padanya “ Ampun Mas, jangan siksa aku”, aku memohon padanya bersimpuh sembari menangkupkan kedua tanganku.
“Apa kamu bilang? Ampun?Aku akan mengampunimu tapi layani aku dulu, katanya sambil tersenyum menyeringai.
” Ampun Mas jangan, aku mohon “ kataku sambil terus memohon.
Jika dia sedang marah, dia akan melucuti pakaianku kemudian menyiksaku dengan pukulan dan tamparan, dan berakhir dengan pemerkosaan. Perlakuan ini aku terima setelah satu bulan kami menikah, perangainya berubah menjadi begitu menyeramkan. Entah apa penyebabnya, dia selalu marah – marah tidak jelas kepadaku dan ibuku dan tidak segan – segan menganiayaku bahkan didepan Alsya
Aku menangis membayangkan kejadian satu tahun yang lalu yang mengakibatkan kami harus menikah, Toni tiba – tiba berada di kamarku ketika aku sudah terlelap tidur, dia berusaha merenggut kesucianku, membuka pakaianku dengan kasar, dia kemudian menindihku dengan hanya memakai celana dalamnya sambil membekap mulutku. Tapi sebelum dia melakukan lebih jauh ibuku lebih dulu datang dan mendapati kami berdua bugil didalam kamar. Ibuku sangat murka, dia kira kami memang dengan sengaja melakukan maksiat, karena kami memang berpacaran waktu itu padahal Toni berusaha memperkosaku. Ibu tidak ingin mendengar penjelasanku, dan akhirnya terpaksa menikahkan aku dengan Toni, untuk menutupi aib.
“Panggilkan Rani, bawa dia kesini, Cepat! Bentaknya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Aku tersadar dari lamunanku. Dengan ekspresi bingung, aku cepat – cepat memakai bajuku. Tanpa bertanya aku keluar rumah untuk memanggilkan Rani.
Rani adalah tetanggaku yang seorang janda, wajahnya tidak terlalu cantik, tapi bentuk tubuhnya memang sangat menggoda.
‘Ada urusan apa Mas Toni dengan Rani?batinku
Sesampainya di depan rumah Rani aku langsung memanggil sambil mengetuk pintu.
“ Mbak Rani, mbaak.” Panggilku
Mbak Rani keluar dengan hanya mengenakan daster diatas lutut tanpa lengan, dengan rambut panjang yang basah. “Ada apa maya?” katanya sambil berjalan kearahku.
“ Mas Toni menyuruhku memanggilkamu untuk kerumah, aku tidak tahu untuk apa, karean aku tidak bertanya.” Jelasku.
Rani tersenyum sinis sambil memainkan ujung rambutnya.
“ Baiklah aku akan kesana” jawabnya sembari melangkah keluar yang sebelumnya mengunci pintu rumahnya.
Maya dan Rani menuju rumah berjalan kaki, selama perjalanan mereka juga tidak membicarakan apapun, walaupun Maya memendam rasa penasaran yang sangat besar.
Sesampainya dirumah, Mas Toni sudah selesai mandi, mengalungkan handuk di lehernya dan tersenyum menghampiri Rani.
“ Kemarilah sayang, Rani menghampiri Toni dan mereka saling berpagutan di depanku tanpa rasa malu dan bersalah. Aku terbelalak, badanku gemetaran menahan sakit dan amarah.
“Apa – apaan kalian!! Benar – benar tidak bermoral. Sejak kapan kalian berhubungan, aku istrimu Mas, kenapa kamu tega !! teriakku seperti orang kesurupan.
Aku sakit hati, aku marah, aku kecewa,
“ Rani pacarku, wajar kalau kami melakukan ini, aku menyukainya” ujar Mas Toni tanpa rasa bersalah.
Maya menangis dengan kencang, berteriak seperti orang kesurupan, mengacak – acak rambutnya sambil tertunduk berimpuh dilantai.
“ Pergi kalian!! Dasar manusia – manusia tidak punya hati! Enyahlah kalian!”teriak Maya sembari mengamuk melempar apapun yang ada didekatnya kearah Toni dan Rani.
Teriakan Maya membuat para tetangga berdatangan, karena menyadari hal itu, Toni dan Rani pergi begitu saja meninggalkan rumah karena khawatir warga akan menyerang mereka.
Datang seorang wanita paruh baya menghampiri Maya yang bersimpuh dilantai dengan tatapan kosong, Nenek Halimah mendekati Maya, kemudian memeluknya dengan erat sembari membelai rambut Maya. Nenek Halimah melihat semua yang terjadi di rumah itu, dia mengintip dibalik pintu, tapi tidak berani mendekat karena takut Toni akan berbuat kasar padanya, maka dia bergegas memanggil tetangga yang lain untuk datang kerumah Maya, dia takut Toni melakukan perbuatan kasar pada Maya seperti biasanya.
“Nek, kenapa Tuhan jahat nek, aku salah apa, kenapa semua ini menimpaku?” Maya menangis sejadi – jadinya di pelukan nenek halimah.
“ Sabar ya nduk, Tuhan tidak jahat, dibalik semua ini pasti ada hikmahnya, Tuhan sedang menyiapkan hal terindah untukmu nanti, nenek halimah berusaha menenangkan Maya.
Di malam ini, di saat semua telah terlelap, Maya seorang diri merenungi hidupnya. Melihat sinar Bulan yang sudah tampak di langit, tanpa ditemani cahaya bintang. Sepertinya yang juga hanya sendirian menghadapi hidup ini. Hanya ditemani nyanyian jangkrik yang saling bersahutan.
Alsya… Gumamnya lirih sambil kepalanya menyender di sisi jendela matanya menatap langit malam.
,Alsya gadis cantik berumur 10 tahun, anak yang aktif dan selalu ceria, berambut hitam sebahu, matanya yang coklat dan bulu mata yang lentik menambah kecantikannya. Alsya anak yang ditemukan Maya tergeletak dipinggir jalan bersimbah darah ketika dia baru pulang dari bekerja, sepertinya korban tabrak lari. Maya membawa Alsya ke rumah sakit, setelah sadar Alsya tidak ingat apapun. Menurut dokter Alsya mengalami gagar otak yang menyebabkan dia hilang ingatan.
Karena Maya tidak tahu harus mengantarnya kemana, maka Maya memutuskan untuk mengangkat Alsya menjadi anaknya, dan memberi dia nama Alsya.
Maya mengurus Alsya pasca kecelakaan dengan sangat telaten, dia ingin punya anak tapi belum di beri kepercayaan oleh Tuhan, mungkin kedatangan Alsya akan menjadi pengobat kesepian Maya karena suaminya jarang sekali pulang.
Tak terasa air matanya berderai membasahi pipinya, biasanya jika dia bersedih ibunya akan datang dan menenangkannya sembari memijit kakinya.
Dalam lamunan Maya, terlintas wajah ibunya yang teduh, memakai gamis dan kerudung panjang, ketika Maya menangis ibu akan datang membawakan teh hangat kekamarnya, mengelus – elus rambutnya, sebelum ibunya meninggal, ibu berkata “ Maafkan ibu Nak, yang tanpa mendengar penjelasanmu langsung menuduhmu yang bukan – bukan dan akhirnya kamu harus menikah dengan Toni” ibu menangis sesenggukan menyesali perbuatannya yang gegabah,
“ Waktu itu ketika ibu pulang dari pengajian, ibu di kejutkan dengan panggilan seorang pemuda yang ibu tidak kenal, dia berkata bahwa ada seseorang masuk kerumah melalui jendela, dia tidak berani menegur atau masuk dikarenakan pemuda itu bukanlah orang daerah ini, tanpa berpikir panjang ibu masuk kerumah dan melihat kesekitar ibu langsung menuju kamarmu, karena harta ibu dirumah ini cumin kamu Maya” cerita ibu sembari menangis tanpa henti.
“sudahlah bu, semua sudah terjadi, aku dan Mas Toni sebelumnya kan memang berhubungan jadi ibu tentu akan sangat panic dan mengira kami melakukan hal – hal yang tidak baik dalam posisi waktu itu”ucapku.
“ aku hanya tidak mengira bahwa Mas Toni dengan sekejap berubah sangat kasar, padahal dulu dia berujar amat sangat mencintaiku sebelum kejadian itu”lanjutku
***
Pagi ini sinar matahari tampak tak terlihat, karena sang mentari sedang bersembunyi diantara langit yang muram. Maya terbangun dari tidurnya, dia baru tersadar bahwa dia ketiduran diatas sajadah setelah sholat subuh tadi.
Maya kemudian bangkit, dia sama sekali tidak bergairah untuk keluar dari kamar, maka dari itu dia hanya beranjak merapikan alat sholatnya dan kemudian naik keatas ranjang kembali membungkus badannya dengan selimut. Kepalanya sangat berat karena dia kurang tidur dan semalaman tak hentinya menangis.
Ketika dia ingin memejamkan matanya kembali, terdengar sayup – sayup ketukan pintu dari arah luar. Dengan malas Maya turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ruang tamu, sebelum membuka pintu dia mengintim dari balik jendela menyingkap gorden bunga – bunga yang terantung di jendela itu. Berdiri nenek halimah dengan membawa rantang menghadap membelakangi pintu.
Maya memutar kunci pintu perlahan dan membuka pintu, nenek halimah kemudian membalikkan badan menatanp Maya dengan tatapan iba.
“Kamu sudah makan nduk?tanya nenek halimah
Maya hanya menggeleng dan keluar menuju kursi di depan teras, disusul oleh nenek halimah duduk disampingnya.
“ini nenek bawakan bubur dan lauk sambel krecek kesukaan kamu, kamu harus makan nduk agar tubuhmu kembali segar,”sahut nenek halimah.
“iya nek, terimakasih, nanti aku makan” jawab Maya sambil tertunduk lesu.
“Nduk, kedatangan nenek kesini juga ada keperluan lain, ada beberapa hal yang akan nenek ceritakan padamu Maya, salah satunya adalah rahasia yang di simpan oleh ibumu bertahun – tahun lamanya.”jelas nenek halimah panjang lebar.
Maya menatap nenek halimah,” Ada apa nek?’tanya Maya kemudian
“ Sebelum nenek bercerita pesan nenek kamu harus kuat ya nak, semua yang terjadi adalah skenario dari Tuhan, pasti ada hikmahnya dibalik lika – liku hidupmu”jelas nenek halimah.
Nenek Halimah menghembuskan nafas panjang, seakan apa yang akan diceritakannya adalah sesuatu yang besar dan penting.
‘Kamu bukan anak kandung Farida’kata nenek singkat
Maya membelalakan matanya menatap tajam kearah nenek halimah, dan tanpa terasa matanya basah karena air mata yang menetes deras.
‘Jangan membuatku hancur nek, nenek ja-jangan bercanda’jawab Maya sesenggukan.
‘Itulah kenyataannya Maya.’lanjut nenek halimah sambil menatap sayu kedepan.
Dua puluh tahun yang lalu, Farida hamil dan waktu hari perkiraan lahirnya sudah lewat. Farida kemudian memeriksakannya kerumah sakit dan ternyata anak yang berada didalam kandungannya telah meninggal. Hal itu dikarenakan sebulan sebelum waktu melahirkan Rusdi suaminya meninggal karena kecelakaan, dan Farida depresi sehingga berdampak pada bayi yang dikandungnya.
‘Setiap hari Farida datang kerumah sakit dan berdiri di depan ruangan bayi, melihat bayi – bayi lucu dalam box bayi, nenek dulu sangat khawatir pada mental Farida, nenek khawatir dia terguncang dengan masalah yang bertubi – tubi, ditinggalkan suaminya saat sedang hamil tua, kehilangan bayinya yang diharapkan bisa menemani hari – harinya, sedangkan di sini dia tidak ada kerabat siapapun.’
Maya mendengarkan cerita nenek halimah dengan seksama, dalam hatinya dia bergumam ‘ ternyata nasib ibu sungguh memilukan, dan ibu tidak pernah mengeluh sampai aku sebesar ini,’
‘Di hari ketiga saat dia kembali kerumah sakit, dia melihatmu yang baru saja lahir, mirip sekali dengan bayinya yang telah meninggal, gangguan mentalnya membuat Farida tidak bisa berfikir jernih dan nekat mengambil kau dan kabur meninggalkan rumah sakit’
‘Nenek orang satu - satunya yang tahu akan kenyataan sesungguhnya bahwa bayinya sudah meninggal tentu heran kenapa Farida menimang seorang bayi di depan rumahnya, spontan nenek mendekati Farida dan bertanya asal – usul bayi yang di bawanya,
‘setelah nenek desak, dia baru mau berkata jujur bahwa dia membawamu dari rumah sakit dan memohon kepada nenek untuk merahasiakan semua ini kalau tidak Farida mengancam akan buuh diri karena menurutnya sudah tidak ada alasan dia tetap hidup.’lanjut nenek halimah.
‘La-lalu a-apa nenek mengetahui siapa orang tua kandungku nek?’tanya Maya dengan masih berderai air mata.
‘Nenek tidak tahu banyak tentang orang tua kandungmu, waktu Farida menceritakan hal itu, nenek sebenarnya pergi kerumah sakit, ingin mengatakan bahwa bayi yang hilang diambil oleh Farida, tapi mengingat perkataan Farida bahwa ia akan bunuh diri jika semua ini terbongkar, maka nenek mengurungkan niat dan ikut – ikutan merahasiakan ini semua. Toh nenek yakin Farida akan menyayangimu dengan sepenuh hatinya.’
Maya tidak bisa menjelaskan apa perasaannya sekarang, sedih atau bahagia, sedih mendengar kenyataan bahwa ibu Farida bukan ibu kandungnya atau bahagia karena kenyataannya Maya masih memiliki orang tua.
‘Waktu nenek sampai dirumah sakit, memang suasana rumah sakit sangat kacau karena tersadar bahwa salah satu bayi yang berada di ruang perawatan bayi menghilang, nenek pura – pura bertanya pada perawat waktu itu, dan perawat menunjuk sepasang suami istri yang terduduk lemas di depan ruang perawatan bayi, sayangnya ibu tidak tahu siapa mereka Maya’lanjut nenek halimah.
Maya mengela nafasnya, berharap sesak di dadanya bisa sedikit mereda. Dia benar – benar tak menyangka bahwa hidupnya penuh dengan lika – liku seperti ini. Berat, ya, dia merasa tidak sanggup menjalani ini.
‘Maya, tenangkanlah pikiranmu, sekarang makanlah dahulu agar tubuhmu kembali segar, kamu harus bangkit Nak, jangan membuat Almarhum Alsya dan Almarhum ibumu sedih di alam sana.’
‘Jika kau berniat mencari kedua orang tuamu, kau bis amencari informasi kerumah sakit yang dimana kamu dilahirkan dulu, pasti rumah sakit masih menyimpan semua data – datanya’tutur nenek halimah membuat semangat Maya kembali bangkit.
‘Iya nek, terimakasih, entah apa yang terjadi jika nenek tidak ada, mungkin aku sudah depresi dan menjadi gila’jawab Maya
Nenek Halimah tersenyum dan pamit akan pulang kerumahnya. Aku masuk kerumah untuk makan dan beristirahat.
***
POV TONI
Namaku Antoni Wijaya, aku sangat menyayangi Aruni Maya yang sekarang sudah menjadi istriku karena kelicikanku. Ketika ibu Maya pergi dan hendak perjalanan pulang, aku bekerjasama dengan anak buahku membuat adegan agar seakan – akan aku akan memperkosa Maya yang kuketahui sedang berada dirumah sendirian.
Malam itu, aku mengendap masuk kerumah Maya melalui jendela depan dengan sangat mudah, karena sore hari ketika aku berkunjung kerumah Maya, aku dengan sengaja membuka kancing jendela tanpa diketahui Maya maupun ibunya.
Aku mengendap masuk menuju kamar Maya yang aku juga dengan sengaja menduplikat kunci kamar Maya tanpa sepengetahuan Maya.
Ketika aku sudah berada di kamarnya, temanku member kode dengan mengetuk jendela tiga kali, itu tandanya ibu Maya sudah dekat. Aku lancarkan aksiku, aku kemudian melucuti pakaian Maya dengan paksa hingga Maya terkejut kemudian bangun dan ketika Maya berusaha untuk berteriak aku sudah membekap mulutnya.
Aku yang udah melepas pakaian sebelumnya dan hanya mengenakan celana dalam, menindih badan Maya yang hanya tertinggal pakaian dalamnya saja. Maya memberontak hingga ibunya membuka pintu dan mendapati keadaan seperti itu.
Ibunya marah besar, dia mengira aku dan Maya melakukan maksiat, ibunya curiga karena yang ada di dalam kamar Maya adalah aku yang notabene memiliki hubungan special dengan anaknya. Dan aku yang bisa sangat mudah masuk kerumah padahal semua sudah dikunci dan kunci berada di tangan sang ibu.
Maya berusaha menjelaskan tapi tidak diberikan kesempatan oleh ibunya, dan aku puas dengan hasilnya, karena sesuai dengan keinginanku.
Ibu maya langsung menikahkan kami keesokan harinya tanpa ada acara apapun dan hanya dihadiri penghulu juga saksi dan wali nikah.
Tujuan dari rencanaku ini adalah agar aku bisa masuk kedalam keluarga ini dan melancarkan aksi – aksiku berikutnya. Karena ada dendam yang harus aku balaskan kepada keluarga ini.
***
Pagi ini kembali mendung, langit seakan ikut merasakan pilu dan muramnya kehidupan Maya. Maya terus berdoa pada Tuhan agar hari – hari esok lebih baik darpada hari – hari kemarin. Maya berharap akan ada secercah harapan baru bagi kehidupan Maya. Karena Maya percaya akan ada pelangi setelah hujan, dan air hujan yang menyejukkan pun berasal dari langit yang pekat.
Hari ini Maya bertekad mencari keberadaan orang tua kandungnya dengan mencari informasi ke rumah sakit yang diberitahukan oleh nenek halimah.
‘Bismillah’ ucap Maya sebelum berangkat meninggalkan rumah. Berharap Maya akan mendapat titik terang dan kabar baik mengenai jati diriya dankeberadaan orang tuanya.
Setelah satu jam berada di perjalanan, Maya telah sampai di depan rumah sakit, dia sejenak menatap kearah bangunan dan kesekeliling pelataran rumah sakit itu kemudian menuju meja informasi yang berada di dekat ruang UGD.
Maya harus mengantri terlebih dahulu dan duduk diruang tunggu yang ada di depan meja informasi. Sesekali Maya memperhatikan sekitarnya, dia melihat seorang bapak tua yang mungkin dia adalah salah satu pekerja kebersihan di rumah sakit ini, terbukti dia membawa sapu dan lap yang di bawa di pundaknya.
Kemudian tiba giliran Maya, dia duduk di kursi yang disediakan.