Bab 2

Tubuhnya, rasanya semuanya sakit. Menjadi seorang wanita artinya harus menjalankan semua kewajibannya dengan sangat baik.

Takdir seorang wanita telah ditentukan, dari dapur, sumur, dan ranjang, semuanya harus dilakukan dengan baik. Sedikit keluhan saja, maka wanita akan di cap sebagai sosok yang tak tahu diri, dan berdosa.

Iya, patriarki selalu ada dan tetap melekat begitu kuat. Tak akan bisa dipungkiri, bahwa wanita harus mempunyai pekerjaan yang kelewatan banyak, bahkan jika dia tidak bekerja kantor sekali pun.

Namun, tidak semua orang memahaminya. Memangnya, apa peduli mereka? Asal mereka mendapatkan posisi yang baik, maka mereka menganggap semua hal itu adil.

Siska menganggap menantunya—Vina lebih rendah dari anaknya. Bahwa dia ada dibawah kaki anaknya, seorang wanita bahkan wajar jika menjilati kaki pria. Tapi jika itu dia, dia akan menempatkan dirinya sendiri tinggi atau seimbang dengan pria itu.

Ya, double standart.

Kebanyakan manusia selalu begitu. Siska tidak akan peduli dengan perasaan Vina, walaupun dia tahu betapa kesulitannya Vina membersihkan rumah besar yang dia tempati tanpa bantuan siapa pun.

Pembantu? Haha, itu hanyalah dekorasi. Dia lebih senang jika para pembantu itu menginjak Vina, menorehkan luka perih pada dirinya.

Ingat, kewajiban seorang istri, patuh sama suami, dan suami harus patuh pada ibunya, bukan? Secara logika mereka, Vina harus patuh kepada Siska, ibu dari Gerry—suaminya.

Tadi sore, Siska melemparkannya satu bungkus nasi yang dia beli dengan harga sepuluh ribu. Siska pikir, Vina sewajarnya harus bersyukur dengan hal itu. Dia telah memberikan nya tempat bernaung, bahkan makanan.

Lucu.

Karna makanan itu tidak sama dengan apa yang mereka makan. Jika tidak ada Gerry di rumah, Siska sering menyembunyikan makanan. Melarang Vina maupun Crysta untuk makan bersama mereka. Satu meja bersama seorang gembel? Jangan harap.

“Itu, makan sama anakmu sana. Jangan dekat-dekat, nanti kami sial.” Siska menyeringai dengan sangat sinis. Dua anak perempuannya yaitu Leni dan Rani juga mentertawakan Vina.

Mata itu memandang dengan sangat rendah.

“Ibu terlalu baik padanya yang tidak berguna,” ujar Leni dengan senyuman tipis penuh merendahkan diri Vina.

Dia lupa, saat dulu, Vina sering membelikan Leni dan Rani barang-barang branded yang bahkan tidak pernah mereka pegang.

Saat itu, keduanya sangat menyanjung Vina. Memeluknya dengan hangat, sembari menggoda Vina untuk membelikan mereka barang lainnya. Begitulah Vina, dia mudah terbawa bujuk rayu dari mulut racun mereka semua.  Sekarang, sikap hangat mereka berubah menjadi sangat kasar.

“Ya, ibu tahu. Tapi jika gembel ini mati di sini, itu akan merepotkan.” Siska duduk di kursi untuk menyantpa makan siangnya.

“Pergilah. Nafsu makan kami akan hancur jika melihat wajahmu dan anakmu.” Seringaian itu terlalu kejam, menusuk dalam. Tapi Vina hanya diam sambil memegangi nasi bungkus yang dilempari ibu mertuanya.

“Hei, apa kau mau tulang?” nada suara Rani yang sangat dingin merayap di tekuk polos Vina. Gadis itu selalu menyeramkan, Vina takut ada hal buruk yang akan dia lakukan lagi pada Crysta. Jadi, dia buru-buru memeluk Crysta.

Plak!

Tulang paha ayam yang masih ada sedikit dagingnya dilemparkan mengenai kepala Vina.

Vina memandangi tulang itu.  Dulu daging ayam hanyalah makanan murah baginya. Tapi sekarang, daging ayam menjadi sangat sulit untuk dia gapai. Matanya bergetar karna memikirkan Crysta, seharusnya, dia bisa memberikan makanan enak dan penuh gizi untuk anaknya ini.

Namun, itu sangat sulit sekarang. Dia tidak mempunyai apa pun.

“Ibu ....” suara kecil dari mulut Crysta membuat matanya berkaca. Dia tidak sanggup dengan perlakuan ini, jadi dia buru-buru pergi membawa Crysta dan satu nasi bungkus dari ibu mertuanya.

Kedua masuk ke dalam kamar. Vina menahan sesegukannya, dia tidak ingin, anaknya yang masih polos ini menyadari dirinya yang sedang menangis. Ini terlalu kejam untuknya. Padahal Crslysta adalah darah daging dari mereka juga, setidaknya, oerlakukan Crysta dengan baik.

Di masa kecilnya yang harus menerima cinta yang besar, Crysta telah banyak mendapatkan kehilangan. Semua karna Siska, mertuanya yang mempunyai pengaruh terbesar di rumah tangga ini. Gerry sangat terlihat seperti bocah, tanpa ibunya, dia tidak bisa menentukan pilihan apa pun. Dia sangat percaya pada ibunya, hingga lupa tentang kewajibannya pada Vina dan Crysta.

Nasi bungkus itu hanya berlaukan sepotong telur dan sayur pucuk ubi, laku disiram dengan kuah yang sangat sedikit.

Vina menghela napas panjang. Setidaknya, hari ini dia mendapatkan nasi berlauk untuk anaknya.

“Crysta, ayo duduk dan makan,” ucap Vina lembut.

Crysta menurut pada ibunya, dia duduk di depan nasi bungkus yang telah di buka oleh Vina. Tangannya yang tampak kurus membuat Vina menahan tangisnya sekuat tenaga.

“Ibu tidak makan?” Crysta menatap ibunya lekat sebelum tangannya menyentuh nasi bungkus tersebut.

“Ibu sudah kenyang, Crysta.” Vina membela rambut anaknya dengan sangat lembut. Crysta merasa nyaman dengan perlakuan ibunya

“Apa kau ingin ibu menyuapimu?”

Crysta menggeleng.

“Baiklah. Habiskan nasinya, ya. Nanti mereka menangis,” Vina terkekeh keci dengan dipaksakan.

Mendapatkan satu nasi bungkus, tidak bisa untuk mereka berdua. Apalagi, sejak pagi Crysta belum makan. Sudah menjadi naluriah seorang ibu untuk membuat anaknya cukup terlebih dahulu.

Lebih baik yang merasakan sakit dan lapar adalah Vina, bukan Crysta. Anaknya yang seperti malaikat, dia tidak ingin Crysta sakit.

Vina memperhatikan Crysta yang sedang makan. Dia ingin, Crysta makan dengan baik dan tidak menyisakan apa pun. Sesuatu yang sulit dia dapatkan. Jangan tanya betapa kecewanya Vina pada dirinya sendiri karna tidak bisa memenuhi keperluan anaknya. Hatinya hancur.

**

Tubuhnya terhuyung, dia berjalan dengan tidak benar. Tubuh itu tidak seimbang, wajahnya memerah, dengan bau alkohol yang sangat pekat.

Lagi, Gerry pulang dengan keadaan mabuk. Saat begitu, tubuh Vina akan gemetar, karna dia yang biasanya menjadi sasaran dari kemarahan Gerry.

“Oh! Istri tidak bergunaku!”

Gerry menunjukkan Vina dengan kasar, matanya tajam dan wajahnya penuh amarah.

“Apa kau tahu, betapa sialnya aku menikahimu?!” Gerry melemparkan jasnya kuat ke  wajah Vina.

Vina tidak bisa terbiasa dengan perlakuan kasar Gerry. Dia selalu yakut dengan hal itu

“Lihat! Kau tidak berguna! Semuanya menjadi kacau karnamu!” Tangan besar Gerry meraup rambut Vina, menjambaknya kasar hingga Vina terjengkang ke belakang.

“AUH!” Vina merintih.

Untungnya, Crysta tidur di tempat lain. Sehingga dia tidak perlu melihat pemukulan yang selalu dilakukan oleh ayahnya.

“Kau mau berkilah apa?!” tubuh besar Gerry telah ada di depan Vina. Mengerikan! Mata Vina membelalak, dia tidak ingin dipukuli lagi.

Memar kemarin bahkan belum sembuh.

Orang-orang yang mendengarkan teriakan Vina tidak akan peduli. Karna mereka merasa, Vina pantas menerima semua perlakuan buruk itu.

“Ger-Gerry ... tenang dulu ....” Tubuhnya gemetar hebat. Tapi Gerry tidak peduli dengan rintihan Vina.

“Kau seharusnya lebih berguna! Semua masalahku yang menumpuk... Itu semua karnamu!”

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Vina, membuat sudut bibir kirinya berdarah. Sangat perih hingga air matanya mengalir lagi. Pipi itu memerah, dan akan menjadi memar nantinya. Seperti biasa, inilah makanan Vina.

“Gerry ... kumohon, maafkan aku ....” Vina bersujud di kaki Gerry. Dia tidak sanggup untuk menerima pukulan lagi. Tubuhnya sudah terasa sangat sakit.

Pria di depannya adalah suaminya. Dia menikah  karna cinta, Gerry pasti masih memiliki cinta padanya. Dia hanya perlu memohon untuk membuat hati Gerry luluh.

Gerry tersenyum, tapi senyuman itu semakin lama semakin terlihat mengerikan.

Kakinya yang panjang menendang tubuh Vina hingga terpental.

“Ugh ... sakit ....”

“Sakit?” Gerry tersenyum sambil berjongkok di depannya. Melukaimu Vina mampu membuat stresnya terkikis. Ada orang yang lebih menyedihkan dari dirinya, yaitu Vina, dia harus tetap menyedihkan. Karna dimata Gerry, Vina tidak pantas untuk bahagia, dan mampu berdiri di kakinya sendiri.

Kerja diluar, Gerry tidak menyukainya. Dia mengurung Vina untuk tetap di rumah, mengerjakan semua pekerjaan yang harusnya di lakukan oleh pembantunya. Melayani keperluannya, keperluan keluarganya, dan nafsunya. Semua harus dilakukan Vina, jika Vina berani membantah, sebuah tamparan akan mendarat di pipinya yang mulus.

“Kau hanya berguna di saat seperti ini ....” Kepunyaan Gerry menegang, dia menarik lengan Vina dengan kasar, lalu melemparkan tubuh mungil istrinya di atas kasur mereka.

“Jangan ... Gerr ....”

Plak!

BERSAMBUNG••••

Bab 3

Tamparan dari tangan seorang pria yang rajin berolahraga kembali mendarat di pipinya. Kepalanya merasa sangat pusing, otak di dalam kerangka kepalanya terasa bergoyang.

Dia tidak bisa melakukan apa pun lagi. Tidak bisa, bahkan menggerakkan satu jari pun sangat kesulitan.

Dada bidang itu, dia mengenalnya. Dulu, mendekapnya dengan sangat hangat. Sekarang terasa sangat mengerikan.

BREK!

Baju Vina di tarik dengan sangat kasar, membuat baju itu terpisah menjadi beberapa bagian. Kini tubuh bagian atasnya bertelanjang, memamerkan dua gunung kembarnya yang kenyal. Gerry menyentuh keduanya dengan kasar, menarik ujungnya dengan cepat.

Rintihan kesakitan Vina malah membuatnya lebih bernafsu.

Brek!

Lagi, dia menarik celana Vina. Kali ini tidak menyisakan sedikit pun pakaian yang melekat pada tubuh cantik penuh luka milik istrinya.

Ini miliknya. Istrinya tidak punya kuasa atas tubuhnya sendiri, semuanya, dialah yang menentukan. Memperlakukannya secara kasar, itu bukanlah masalah.

“Gerry ... tolong ... tenangkan dirimu ... hiks ....” Vina masih terisak, tapi Gerry tidak peduli.

Dia melebarkan kedua kaki Vina, dan meletakkan kepalanya di sana. Mengulum sesuatu yang akan membuat Vina merasa nikmat.

“Ah .... “ desahan kecil keluar dari mulutmu. Dia tidak bisa menahannya, walaupun tubuhnya sakit, tapi apa yang dilakukan oleh Gerry membuat tubuhnya bereaksi dengan baik.

Gerry mengusap mulutnya dengan telapak tangan secara kasar, menatap Vina yang keenakan dengan servisnya.

“Dasar jalang!” maki Gerry, lalu menarik paha Vina agar lubang miliknya lebih mendekat pada batang kepunyaannya.

Gerry menusukkan punyanya, kasar. Tubuh kecil itu menggelinjang. Melihat Vina sepertinya menikmati permainannya yang kasar, Gerry menambahkan tenaganya. Membuat semua tulang Vina yang sebelumnya seperti remuk menjadi lebih sakit.

Batang miliknya bergerak keluar masuk, dia mendesah kecil sambil menggigit bibirnya. Tubuh Vina memang sangat nikmat untuk dimainkan.

Dia mencondongkan tubuhnya, menarik rambut Vina sembari menggigiti bibir Vina.

“Ah ... ah ...” Gerry menikmati permainannya sendiri. Melihat darah segar yang keluar dari bibir Vina  dia semakin bernafsu. Tubuhnya memanas, dia menginginkan lebih dari ini.

Lalu dia melahap bibir Vina, hingga Vina kesulitan untuk bernapas.

**

Seperti biasa, setelah melakukan hubungan kelamin, Gerry tidak peduli padanya. Dia hanya memedulikan dirinya sendiri.

Tubuh penuh memar itu, kesulitan untuk bergerak. Seluruh tulangnya terasa sangat menyakitkan. Tapi, Gerry telah masuk ke dalam mandi, dan ini sudah pukul tujuh pagi.

Jika dia masih terbaring di atas kasur, maka semuanya akan menjadi lebih sulit. Mereka tidak akan peduli dengan apa yang terjadi padanya, yang jelas, dia harus menyiapkan semuanya.

Jadi, Vina memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Walaupun dengan gerakan kecil saja dia sangat kesakitan, dia harus menahannya. Wanita sudah ditakdirkan seperti itu.

Vina turun dari kasur, dia berjalan dengan tertatih. Saat melewati kaca besar, dia melihat wajah dan tubuhnya yang penuh memar. Bahkan wajahnya bengkak dengan memar yang parah. Alasan apa lagi yang harus dia berikan pada Crysta? Dia selalu berbohong pada Crysta, tidak ingin anaknya menjadi membenci ayahnya sendiri.

Vina memakai baju yang dia pilih dengan cepat, laku mempersiapkan baju yang akan digunakan oleh Gerry. Sebagai seorang istri, dia tidak boleh membuat suaminya malu, jadi dia memberikan yang terbaik untuk Gerry.

Dari latar belakang Vina sendiri, dia memahami dengan baik selera berpakaian yang memberikan kesan yang elegan, dan tampak berkarisma. Semua orang yang melihat gaya berpakaian Gerry memujinya

Tidak butuh waktu lama Gerry keluar dari kamar mandi. Handuk kecil melingkar di pinggangnya. Dia melihat Vina sekilas dengan sinis.

“Dasar wanita bodoh,” gunanya sendiri sambil mengambil baju yang telah di silakan Vina.

Vina membantu Gerry memakaikan baju, dia terlihat seperti Raja. Itulah yang memang diyakini oleh keluarganya, bahwa pria adalah raja. Vina hanya perlu patuh dan menutup mulutnya.

Semuanya selesai dengan rapi, bahkan Gerry mengagumi hasil kerja dari Vina. Hari ini akan menjadi hari yang baik, dia harus mengembalikan semua kerugiannya kemarin. Gerry membusungkan dadanya, dia percaya diri dengan kemampuannya yang sebenarnya tidak seberapa.

Padahal Vina ingin memberikan pendapat pada proyeknya, namun lagi-pagi Gerry meremehkan Vina. Menyuruhnya untuk tutup mulut dengan tamparan di wajahnya.

Sebuah tamparan lebih efektif untuk membuat Vina diam dan tunduk padanya, itulah ajaran ibu tersayang Gerry.

Dia menyetujuinya, melihat Vina yang menciut, dia menyukainya. Dialah pemegang kendali, sang pemegang titah yang hanya bisa digeser oleh ibunya.

“Gerry ....”suaranya pelan dan rendah, dia takut akan membuat Gerry marah.

Gerry meliriknya malas.

“Bisa tidak aku minta uang? Aku ingin membelikan Crysta camilan....”

Vina belajar dari masa lalu, jika dia mengatakan ingin memberikan Crysta makanan, makan Gerry akan berubah menjadi monster lagi. Dia akan memarahin Vina dan berkata, “memangnya ibuku tidak memberimu makan!? Tidak tahu di untung!”

Apa pun yang bersangkutan dengan ibunya, Gerry akan sangat marah.

Gerry memutar bola matanya jengah.

“Uang terus! Bisa apa pun nggak ada! Dasar jalang!” maki Gerry.

Sedetik kemudian, Gerry merogoh dompetnya, memeriksa uang di dompetnya lalu melemparkan ke wajah Vina dengan meremas uangnya terlebih dahulu.

“Tuh ambil! Jangan bisa minta terus, dasar tidak berguna!”

Vina menahan air matanya agar tidak terjatuh. Gerry sangat benci dengan wanita lemah, dia tidak suka melihat air mata Vina. Menurutnya, Vina hanyalah berpura-pura menangis untuk menghindari amarahnya.

Setelah Gerry meninggalkan kamar mereka, Vina mengambil uang yang dilemparkan oleh Gerry.

Lima puluh ribu ... itu selalu menjadi uang terbesar yang pernah Gerry berikan padanya.

Vina memegang uang itu dengan perasaan lega dan sedih secara bersamaan. Sekarang, uang lima puluh ribu yang dulu tidak dia anggap terasa sangat berarti.

Dengan uang ini, dia bisa membelikan Crysta makanan, dan beberapa kue yang enak untuknya. Ya, itu hanyalah kue dengan harga ribuan yang terkadang melewati jalan perumahan di dekatnya.

Vina bersyukur dengan uang kecil yang diberikan suaminya, dan berharap, Gerry akan berubah menjadi sosoknya yang baik seperti dahulu.

**

Situasi seperti sekarang memang tidak menyenangkan. Siska sedang memandanginya dengan angkuh, ketiga anaknya sedang duduk di meja makan dengan angkuh, menatapnya dengan sinis seperti tidak berharga.

Tidak ada satu pun orang yang mengkhawatirkan dirinya saat melihat lebam di wajahnya.

“Nyonya sudah bangun~” Siska sengaja mengatakan hal tersebut karna Vina kelupaan memaksakan sarapan mereka. Walaupun sekarang sarapan telah tersedia di meja makan.

Ya memang seharusnya begitu, yang menyiapkan sarapan adalah pekerjaan pembantu mereka.

“Maaf, ma, Vina tadi membereskan kasur,” ucapnya lembut tapi dibalas dengan tatapan mematikan dari Siska.

“Pintar kau menjawab ya!” Siska mendorong kasar kepala Vina dengan sendok beberapa kali. Tidak ada yang menghentikannya, bahkan Gerry sibuk mengunyah makanannya.

“Ma-maaf, ma ....” Vina hanya bisa terdiam dengan jemari yang saling bersentuhan. Menakutkan, apalagi yang akan mereka perbuat padanya.

Vina menelan ludah, dia tidak ingin semuanya menjadi lebih parah dari ini.

“Ibu!” panggil Crysta sambil memeluk kaki ibunya. Dia bermanja pada ibunya, laku mundur ketika mengetahu di depannya ada nenek yang tidak mencintai dirinya.

Menurut Crysta, Siska terlihat seperti monster. Dia tidak pernah memperlakukan Crysta dengan baik, bahkan beberapa kali, a Crysta di cubit olehnya hingga berbekas jelas.

“Anak ini juga sial!” hardik Siska, lalu meninggalkan mereka berdua.

Crysta memandang wajah ibunya yang sulit untuk dikenali. Tubuh mungilnya bergetar.

“Ibu jatuh di mana lagi?” Air mata terjatuh dari kedua bola mata jernih milik Crysta.

Vina tidak bisa mendiamkan ini, jadi dia memeluk Crysta untuk menenangkan dirinya.

“Ibu jatuh di kamar mandi. Ibu tidak apa, Crysta.” Vina mengecup pipinya sekali. Air mata itu tertahan, Crysta mencoba memahami ibunya.

“Ibu ...  Crysta harap, ibu tidak terluka lagi.” Kali ini Crysta yang memeluknya.

Vina mengangguk, dia juga menginginkan hal tersebut. Tapi pria itu, yang menjadi suaminya seakan tidak peduli.

Hatinya sudah jelas tertutup.

Setelah Vina mengambil sarapan untuk dirinya dan Crysta, mereka duduk di tempat lain. Duduk bersama mereka adalah sesuatu yang sangat mewah, dan tidak akan mungkin terjadi.

Mereka berdua makan di dapur, duduk di kursi reot berwarna coklat. Setidaknya, Vina hari ini tidak menahan rasa laparnya,  perubahan sikap Siska itu sangat ekstrem, terkadang dia tidak mengizinkan Runa untuk makan, terkadang lain dia memberikan makanan sisa untuknya.

“Anjing sudah sepantasnya memakan itu." Itulah yang sering dikatakan Siska sambil tertawa.

Tapi Vina tetap memakannya, dan memilah makanan yang lebih baik untuk Crysta. Ini adalah medan perangnya, dia harus membuat dirinya dan putrinya tetap hidup di tengah orang-orang yang kejam.

BERSAMBUNG••••

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED