Perpisahan selalu menyakitkan. Namun, terkadang perpisahan dapat menjadi satu-satunya pilihan agar semuanya bisa menjadi lebih baik. Hal itulah yang dialami dan dirasakan oleh Vanessa. Dia akan meninggalkan semua penyebab hari buruknya dan beralih ke kehidupan yang baru di tempat yang baru. Sekolah yang baru, demi impiannya.
Dalam perpisahan itu pun akan ada dua hati dan dua perasaan yang terpisahkan. Cinta yang mungkin memang tak bisa bersama dan hanya akan menjadi kenangan.
Inilah langkah berikutnya yang akan ditempuh oleh Vanessa.
"Makasih Pa, Papa udah mau temenin aku daftar ke sekolah baru."
"Iya Sayang. Kita tinggal tunggu pengumumannya ya... Tapi papa sekarang harus segera ke kantor. Ada klien yang nunggu papa. Ini bisnis penting, Sayang."
"Ya udah, gapapa kok Pa. Aku bisa pulang sendiri kok."
Vanessa pergi ke halte untuk menunggu bus. Tak disangka takdir mengirimkan seseorang untuk bertemu dengannya.
"Ehm... Vanessa? Gak nyangka bisa ketemu di sini."
"Pak... Pak Eksa."
"Iya, kamu gak lupa sama saya kan? Ehm, kamu kenapa di sini sendirian?"
"Saya lagi nunggu bus mau pulang, Pak. Papa tadi duluan ke kantor. Saya... Saya tadi abis daftar ke sekolah baru."
"Kamu gak kangen sama sekolah lama kamu?"
"Ya, saya juga gak tau, Pak. Lagian belum tentu ada yang inget sama saya kan?"
"Kamu salah Va, pasti banyak yang kangen sama kamu di sana kok, termasuk saya juga. Hm, saya anter kamu pulang aja yaa!"
Eksa adalah pria tampan berusia 25 tahun, guru Bahasa Inggris di sekolah lama Vanessa. Semasa Vanessa menjadi siswinya dulu, Eksa cukup mengenal dekat Vanessa. Seorang Vanessa mampu menarik perhatiannya, entah karena apa. Sayangnya pertemuan mereka harus begitu singkat akibat keputusan Vanessa memilih pindah sekolah.
Sejak pertemuan kembali mereka di halte itu, Vanessa dan Eksa makin dekat. Mereka jadi sering bertemu untuk makan bersama atau hanya sekadar mengobrol. Lambat laun, Eksa merasakan hal yang berbeda dan ingin segera menyudahi kegelisahan hatinya.
"Vanessa, saya mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Eee, iya ngomong aja Pak. Ada apa?"
"Va, mungkin saya gak pantes ngomong ini, tapi saya harus ngomong biar seenggaknya hati saya lega. Oke, saya gak bisa basa-basi lagi sekarang." Eksa menggenggam tangan Vanessa. "Vanessa, saya... Saya pengin kamu tau kalo saya sayang sama kamu. Saya pengin kamu jadi kekasih saya. Jadi calon pendamping hidup saya. Apa kamu mau?"
Vanessa terdiam sejenak, "Ehm... Eee Pak, ini??"
Vanessa sungguh terkejut, mengapa tiba-tiba mantan gurunya sekarang justru menyatakan cinta padanya setelah sekian lama Vanessa meninggalkan semua kenangan akan sekolah lamanya.
"Vanessa, saya serius. Saya sayang kamu. I love you. Va, would you be my girlfriend? Please, Va..."
"Pak, iyaa... Saya, saya mau terima Pak Eksa."
Vanessa pikir tak ada salahnya jika ia mencoba dulu menjalani hubungan itu dengan Eksa. Lagi pula menurutnya, Eksa adalah sosok pria dewasa yang baik. Vanessa pikir tak masalah punya hubungan dekat dengan pria yang lebih dewasa. Justru dengan itu mungkin hidupnya bisa lebih terarah dengan baik.
---
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hampir satu tahun Vanessa dan Eksa menjalin cinta. Dalam waktu yang tidak singkat itu hubungan mereka diwarnai dengan berbagai rasa dalam hidup, yang terkadang membuat mereka hampir berpisah. Namun, berkat kepekaan dan rasa saling pengertian mereka tetap memilih untuk bersama.
"Sayang, malem ini ada acara gak?"
"Ehm, gak ada sih. Emang kenapa?"
"Aku pengin ngajakin kamu ke acaranya Farel. Pak Farel, guru Bahasa Inggris kamu dulu di kelas sebelas, di sekolah kamu yang lama. Kamu masih inget kan Sayang?"
"Iya aku inget kok, Eksa."
"Terus gimana? Mau gak? Temenin aku ya! Please..."
"Ehmm... Ya udah aku mau."
Di acara Farel, seseorang yang seharusnya tidak muncul lagi dalam hidup Vanessa justru datang dan membawa kegelisahan dalam diri Eksa. Dia adalah Niko, mantan guru Bahasa Indonesia Vanessa di sekolah lamanya dulu.
Niko seusia Eksa. Parasnya pun tak kalah tampan dari Eksa. Eksa tahu, dulu Vanessa akrab sekali dengan Niko. Mereka begitu dekat meski kelihatannya hubungan mereka memang hanya sebatas guru dan siswi. Bahkan, siswa-siswi lain sering kali meledek kedekatan mereka hingga menjodoh-jodohkan mereka.
Eksa yang dulu melihatnya pun merasa sepertinya Niko memang memiliki perasaan lebih pada Vanessa, layaknya yang dirasakan Eksa sekarang. Ya.. Itu hanya keyakinan Eksa sendiri sebab tak pernah tersiar kabar bahwa Niko dan Vanessa jadian bahkan hingga kepindahan Vanessa.
Tiba-tiba Niko menghampiri mereka.
"Loh, Vanessa? Ini beneran kamu? Astaga, setelah sekian lama, semenjak kepindahan kamu, akhirnya kita bisa ketemu lagi di sini. Kamu apa kabar, Va?"
"Aku--aku baik, Pak."
"Tunggu, kamu dateng ke sini sama--"
"Dia dateng sama gue. Gue sama Vanessa pacaran udah hampir setahun," sahut Eksa menyela.
Mendengar kalimat Eksa, Niko begitu terkejut. Seperti ada rasa kecewa dan tak rela yang dirasakannya sekarang. Mungkinkah Niko berharap harusnya ia yang ada di posisi Eksa saat ini?
"Oh.. Selamat ya buat kalian berdua! Va, aku bener-bener gak nyangka kamu akhirnya jadian sama Eksa. Semoga kamu bahagia ya," ucap Niko.
Bayang-bayang akan kehadiran Niko masih ada dan sangat membuat Eksa maupun Vanessa gelisah. Namun, hubungan mereka tetap berjalan baik.
---
Tibalah saat anniversary mereka yang kesatu tahun. Eksa menyiapkan surprise yang indah untuk Vanessa. Acara makan malam romantis di tepi danau dan surprise kecil di apartement Eksa.
Eksa memberi hadiah yang manis untuk Vanessa, sebuah boneka teddy bear yang lucu, tak lupa mawar putih kesukaan Vanessa. Sementara Vanessa memberikan saputangan dengan jahitan tulisan nama mereka berdua yang dibuat sendiri olehnya.
"Sayang, gak kerasa kita udah setahun pacaran yaa..."
"Iya Eksa."
"Semoga kamu suka sama surprise dan hadiah dari aku ya, Sayang."
"Aku suka banget kok Eksa. Makasih buat semuanya yaa."
"It's okay Sayang. Pokoknya aku pengin kita bisa kayak gini terus, bisa rayain anniv kita tiap tahunnya. Aku sayang banget sama kamu Vanessa."
Vanessa hanya terdiam dan tak bisa berucap sedikitpun ketika mantan gurunya yang romantis itu memeluknya dengan erat. Vanessa hanya merasakan kehangatan dan timbul rasa tak ingin lepas dari dekapan Eksa-nya.
"Va, aku pikir kedekatan kita dulu akan ada artinya buat kamu. Aku pikir kita bisa punya rasa yang sama, tapi ternyata--"
"Pak Niko, tapi kita memang gak pernah punya hubungan apa pun selain antara guru dan siswi, memang gak pernah lebih dari itu kan, Pak?"
"Kenyataannya aku punya rasa lebih itu, Va. Aku sejak dulu berharap kita bisa punya hubungan lain selain guru dan siswi. Kata-kata sayang aku dulu ke kamu, itu bukan cuma candaan, itu serius dari hati aku. Tapi dulu kamu justru pergi. Dan kita--"
"Sekarang apa, Pak? Aku rasa semua itu gak penting lagi. Pak Niko tau kan, aku udah sama Pak Eksa sekarang."
"Vanessa.. Harusnya kita bisa--Va, setelah kedekatan kita selama ini, apa kamu yakin kamu juga gak punya rasa itu buat aku?"
Hening, Vanessa mendadak diam seribu bahasa, ia berlalu begitu saja meninggalkan pembicaraannya dengan Niko. Tampak raut wajah yang bingung bagaikan dilema dan wajah itu seakan mengatakan bahwa 'Aku mencintai dia dan dirinya'.
Dalam kegalauannya, suara dering ponselnya memecah semua lamunan. Siapakah yang ingin berbicara dengannya saat ini? Ternyata sang pangeran hatinya, Eksa.
"Halo... Vanessa, kamu lagi apa Sayang?"
"Eksa, aku gak lagi ngapa-ngapain kok. Ada apa?"
"Ehm emangnya gak boleh ya telepon pacar sendiri di saat lagi kangen?"
"Gak, gak bukan gitu kok Eksa. Maaf..."
"Ya udah gapapa Sayang. Oh ya, bentar lagi anniv kita yang kedua tahun kan? Pokoknya aku mau siapin sesuatu yang spesial buat kamu. Liat aja ntar ya Sayang."
"Iya Eksa, yaa udah ehmm maaf ya Eksa, aku banyak tugas sekolah nih."
"Oke deh sayang. Semangat belajarnya yah! Aku jemput kamu besok. I love you Sayang."
Eksa, dia sosok lelaki yang tampan, cerdas, bijak dan menyenangkan. Beberapa hari lagi peringatan hari jadinya dengan Vanessa yang kedua tahun. Waktu yang terhitung sejak Vanessa menerima cinta sang mantan gurunya.
•••
Semua yang Eksa lakukan dalam hidupnya hanya ia tujukan untuk satu tujuan yaitu membuat Vanessa bahagia. Mungkin tak ada cinta lain yang sebesar cintanya pada Vanessa.
Namun, hati Vanessa masih bergejolak. Ia masih memiliki perasaan yang membingungkan. Entah apa yang seharusnya dia lakukan. Hatinya tak bisa berdusta, cintanya saat ini bukan hanya untuk Eksa melainkan ada orang lain yang juga masih mengisi pikirannya.
"Vaness... Aku harus bicara sama kamu. Aku yakin kamu juga punya perasaan itu kan?"
"Maaf Pak Niko. Kita gak mungkin bisa."
"Aku gak mau kamu terus bohong sama aku kayak gini. Aku tau kamu juga sayang aku, Vanessa."
"IYA, AKU MEMANG SAYANG SAMA PAK NIKO. Tapi Pak--"
Vanessa mengakui rasa sayangnya pada Niko. Ia hampir terpengaruh untuk menjalin hubungan spesial dengan Niko karena terbawa perasaannya. Namun, Vanessa sadar bahwa itu semua salah.
"Pak Niko. Aku minta maaf. Aku sama sekali gak mau nyakitin perasaan Pak Eksa. Aku gak mau buat dia kecewa."
"Maksud kamu apa, Va? Kamu sendiri yang bilang kalo kamu juga sayang sama aku. Lalu apa salahnya ini?"
"Aku tau itu Pak. Tapi aku mohon, tolong... Mulai saat ini kita lebih baik berusaha lanjutin hidup kita masing-masing. Aku yakin kok, Pak Niko pasti akan dapetin kebahagiaan yang lebih besar, tanpa aku. Lupain aku Pak. Aku juga akan move on dan lupain Pak Niko. Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku mohon Pak Niko."
"Tapi... Vanessa aku gak bisa. Aku sayang kamu. VANESSA TUNGGU!!"
Vanessa benar-benar bertekad melupakan Niko dan hanya fokus dengan hubungannya bersama Eksa.
Di waktu Eksa sedang mengerjakan sesuatu di apartment-nya, Vanessa sang pujaan hatinya datang menemuinya.
"Loh, Sayang kamu di sini? Ada apa Sayang? Kalo mau ketemu aku tadi kenapa gak telepon aja? Kan aku bisa jemput kamu."
"Gak Eksa, aku emang sengaja langsung dateng. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Hemm... Ya udah ngomong aja Sayang. Ada apa sih? Sini-sini duduk dulu."
"Ehm aku bingung ngomongnya Eksa. Sebenernya... Ehh... Sebelumnya aku bener-bener minta maaf sama kamu. Soalnya …," Vanessa menceritakan semuanya, tentang perasaannya pada Niko yang hampir membuat cintanya ke Eksa goyah. Untungnya itu hanya hampir.
"Sayang. Aku tau kamu ngerasa bersalah, tapi ya udah lah. Itu udah berlalu kan? Sekarang yang terpenting kamu udah yakin buat tetep sama aku aja. Aku ngerti. Udah jangan sedih gitu dong! Aku maafin kamu kok. Sekarang kamu senyum, udah ya lupain aja... Love you!"
Eksa menenangkan Vanessa dengan memberinya pelukan hangat.
"Makasih Eksa..."
Eksa dan Vanessa menjalani hubungan mereka dengan saling pengertian di tengah perbedaan usia yang cukup jauh. Eksa bisa membimbing dan mengerti Vanessa yang kadang masih bersikap kekanakkan.
---
Suatu hari, Eksa mengajak Vanessa ke sekolah lamanya. Di sana ia bertemu dengan mantan guru Bahasa Inggris 'killer'-nya dulu di kelas sebelas, Farel Darrian. Mereka memang sudah sempat bertemu saat Eksa mengajak Vanessa ke acara Farel dulu tetapi mereka tak sempat bertegur sapa.
Farel juga salah satu guru muda nan tampan di sekolah Vanessa dulu selain Eksa dan Niko. Namun, tak begitu banyak siswi yang meliriknya atau mengidolakannya layaknya Eksa atau Niko. Ketampanan Farel seakan tertutupi oleh sikap killer-nya saat mengajar. Bahkan jika mendengar nama Farel, yang muncul di ingatan Vanessa hanyalah suasana tegang dan mencekam kala kelas Bahasa Inggris.
Siapa sangka, setelah lama berpisah dan baru bertatap muka lagi, selama ini ternyata Mr. Farel juga menyimpan rasa untuk Vanessa. Saat mereka kembali bertemu, mereka begitu canggung.
"Ehemm... Ada apaan nih? Sayang kamu di sini? Aku cariin kamu loh dari tadi. Kenapa Sayang? Kamu masih inget Farel kan? Dia--"
"Eh, iya aku masih inget. Eksa aku ke toilet dulu ya."
"Iya Sayang, jangan lama-lama ya. Aku tunggu di sini."
Vanessa pergi ke toilet.
"Rel, apa semua baik-baik aja? Vanessa tadi--"
"Gak ada apa-apa kok Eksa. Mungkin dia tadi cuma inget kesan buruk sama gue waktu dia masih sekolah di sini dulu."
"Oh... Gue pikir kenapa. Farel-Farel... Makanya kalo jadi guru jangan terlalu 'killer' dong! Jangan bikin murid lo pada takut gitu."
"Iya Eksa, gue ngerti kok. Semoga bahagia selalu buat hubungan kalian. Long life!"
"Thanks Bro."
Hari itu berlalu, sesampai di rumah, Vanessa memeriksa tasnya dan ia menemukan sebuah kartu ucapan yang berisi ungkapan perasaan Farel untuknya. Vanessa bingung dengan apa yang terjadi. Vanessa memutuskan untuk menemui Farel lagi dan meminta penjelasan atas semua itu.
"Pak Farel. Saya mau bicarain sesuatu."
"Vanessa. What happen? Kamu mau ngomong apa?"
"Pak Farel gak usah pura-pura gak tau. Saya mau penjelasan soal ini. Ini dari Pak Farel kan?" Vanessa memberikan kartu ucapan itu pada Farel.
I just wanna say I Love You and i hope you will love me too…
But, if you are happy with him, i will let you to love him and happy with him without me.
I JUST WANT TO SEE YOU HAPPY AND MAKE YOU SMILE.
Don’t forget to always happy and don’t care about my feelling
Because I LOVE YOU so much.
Love,
Mr. F
"Iya, tapi apa lagi yang perlu saya jelasin ke kamu? Saya yakin kamu paham banget sama arti kata-kata itu."
"Bukan gitu Pak. Saya tau, saya paham semua artinya tapi maksud Pak Farel kasih ini tuh apa?"
"Vanessa... Kamu jadi gak ngerti juga soal ini? Oke, saya jelasin semuanya. Saya--" Farel mendekati Vanessa, menyentuh bahunya dan menatapnya penuh cinta.
"Pak... Pak Farel ngapain Pak?"
"Va, saya... Saya tau ini semua gak mungkin. Tapi saya cuma pengin kamu tau tentang perasaan saya. Saya mau jujur sama kamu kalo saya... Saya sayang kamu Vanessa. I love you. Saya sangat mencintai kamu. Tapi kamu gak perlu peduli sama perasaan saya ini. Vaness, i just wanna see you happy, without me. Maybe you will happy ever after with Eksa. Lupain aja semuanya, seperti yang saya bilang, yang penting kamu dah tau semuanya dan kamu tetep bahagia."
Farel memberikan pelukan hangat untuk Vanessa.
Vanessa tidak ingin Eksa tahu tentang pertemuannya dengan Farel itu. Lagi pula Farel tidak memaksakan perasaannya pada Vanessa jadi Vanessa pikir tidak perlu memberitahukan hal itu pada Eksa.
Semua berjalan baik-baik saja hingga sekarang. Vanessa menjalani kehidupannya di sekolah dengan baik. Ia mengikuti semua pelajaran di sekolahnya dengan hati yang tenang.
•••
Hingga tiba saat yang menyedihkan, ayah Vanessa tiada karena sebuah kecelakaan. Vanessa pastinya begitu terpukul atas kejadian itu.
"Sayang... Stop! Udah jangan kayak gini. Kamu gak boleh gini Sayang. Nanti kamu bisa drop dan sakit lagi. Biarin papa kamu tenang di sana. Kalo kamu kayak gini, gimana kamu bisa jaga mama kamu Vaness?"
"Kenapa ini semua terjadi? Kenapa harus papa?"
"Vanessa Sayang, kita gak mungkin salahin takdir kan? Kamu gak sendirian Sayang, ada mama kamu dan masih ada aku, Eksa-kamu..."
"Pak Eksa..." Vanessa pingsan karena terlalu shock dan sedih.
"Vaness... Kamu kenapa? Vanessa Sayang bangun Sayang! Kita ke rumah sakit sekarang!"
Eksa membawa Vanessa ke rumah sakit. Di sana dokter memberitahu bahwa penyakit jantung yang diderita Vanessa sejak kecil makin parah.
"Eksa, aku kenapa?"
"Sayang, kamu tenang ya! Kamu pasti akan baik-baik aja. Sekarang kamu gak boleh stres, pokoknya harus jaga mood kamu dan minum obat yang teratur ya Sayang."
---
Di sekolah, Vanessa sedang terlibat konflik dengan guru olahraga yang merupakan mahasiswa PPL di sekolahnya. Itu karena Vanessa jarang mengikuti pelajaran olahraga akibat penyakit jantung yang dideritanya. Namun, Vanessa masih enggan memberitahu kondisinya yang sebenarnya pada orang-orang.
Hingga akhirnya suatu hari, Vanessa memaksakan diri untuk ikut pelajaran olahraga yang saat itu kegiatannya adalah lari jarak jauh. Saat itulah Vanessa pingsan dan akhirnya Pak Zennyar--guru PPL olahraga mengetahui semuanya di rumah sakit.
"Pak Zen, makasih udah bawa saya ke sini. Maaf kalo Pak Zen jadi harus repot gini."
"Gak, saya yang seharusnya minta maaf. Maksud saya, semua masalah antara kita di sekolah, saya... Ehm, saya baru tau kalo kamu beneran sakit."
"Iya gapapa Pak. Ee... Pak Zen tolong jangan kasih tau keluarga saya soal keadaan saya sekarang ya Pak. Saya gak mau buat mama saya jadi khawatir."
Zen mengangguk.
Zen yang tadinya angkuh dan tak peduli pada Vanessa, sekarang mulai berubah jadi sebaliknya. Bahkan, Zen seperti merasakan perasaan yang berbeda pada Vanessa. Namun, sepertinya tidak mungkin kalau itu cinta karena mereka masing-masing sudah punya pasangan. Vanessa dengan Eksa dan Zen dengan Tasya.
---
Waktu terus berlalu, semua peristiwa terjadi silih berganti. Saat ini Vanessa sedang kritis di rumah sakit. Dia butuh donor jantung sesegera mungkin. Saat itu pun, datang takdir dari Tuhan yang menyelamatkan hidup Vanessa. Seseorang mengalami kecelakaan dan memutuskan untuk mendonorkan jantungnya. Orang itu ternyata Tasya, kekasih Zen.
Operasi jantung berhasil, semua biaya operasi ditanggung oleh Eksa. Semenjak ayah Vanessa meninggal, perusahaan milik keluarga Vanessa mengalami kebangkrutan. Sehingga hidup Vanessa berubah, tidak semewah dulu. Bahkan ibu Vanessa kini harus memutar otak memulai usaha apa pun untuk melunasi utang-utang perusahaan dan membiayai hidup mereka ke depannya setelah tabungan yang mereka miliki habis.
Eksa lebih tenang karena kini Vanessa kesayangannya telah memiliki jantung baru.
***
Sekolah Vanessa telah usai. Saatnya Vanessa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Ia mendapat beasiswa untuk masuk ke sebuah universitas.
"Sayang, selamat yaa. Congratulation for your graduation."
"Makasih Eksa."
"Tapi kamu harus tetep jaga kesehatan ya, sesibuk apa pun kamu kuliah nanti, jangan lupa istirahat. Okee!"
Di kampus itu, Vanessa pun bertemu Zen. Ternyata itu juga kampus tempat Zen berkuliah. Zen sekarang merupakan mahasiswa tingkat akhir. Ia baru selesai menjalankan PPL di sekolah Vanessa. Kini ia lebih sering di kampus untuk menyelesaikan mata kuliahnya dan menyusun tugas akhir-nya. Semenjak kepergian Tasya, Zen jadi berubah lebih pendiam dan selalu suka menyendiri. Sampai detik ini, kenangan akan Tasya masih terus terbayang di benaknya.