Dalam ketakutan, aku menelepon Aidan.
Malam itu salju turun deras, dia datang menjemputku. Membawaku keluar dari neraka, dan berjanji akan memberiku sebuah rumah.
Aku ingin memiliki rumahku sendiri.
Selama dua tahun bersama, dia membujukku berkali-kali untuk menuruti nafsunya, dan berulang kali berjanji akan menikah denganku.
Namun setelah setengah tahun bertunangan, baru sekarang aku menyadari...
Selain cincin perak sederhana di jariku, aku bahkan belum pernah bertemu satu pun anggota keluarganya.
Pertunangan sialan, cinta sialan, dan aku…
Air mata mengaburkan pandanganku. Aku melepas cincin pertunangan itu dan melemparkannya ke tempat sampah.
'Aidan, aku tidak mau nikah denganmu lagi.'
Dua hari lagi, aku akan bergabung dalam proyek rahasia itu.
...
Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi untuk mengemasi barang bawaanku.
Aidan yang semalaman tak pulang, masuk ke kamar. Ia tertegun sebentar, lalu segera menarik tanganku.
"Kamu mau ke mana?"
Tanpa menatapnya, aku menjawab singkat, "Ujian akhir sudah dekat, aku mau pindah ke asrama."
Wajah Aidan sedikit melunak, lalu tangannya melingkar ke pinggangku dari belakang, nada suaranya menggoda, "Mau tinggal berapa lama? Kamu tahu kan, aku nggak bisa tahan kalau nggak ada kamu."
Dulu, aku mungkin akan tersipu dan menganggapnya manis.
Sekarang, entah kenapa, aku justru merasa mual.
Aku melepaskan diri dari pelukannya dan melanjutkan beres-beres barang.
Sekilas pandang dari Aidan jatuh pada jariku yang kini kosong, matanya seketika jadi dingin.
"Mana cincinmu? Mana? Kenapa nggak dipakai?"
Tiga pertanyaan beruntun itu membuatku sedikit kaget.
"Kotor, jadi aku lepas dulu."
Entah hanya perasaanku atau tidak, Aidan tampak mengembuskan napas lega.
Dia tersenyum dan dengan santai berjanji padaku, "Kalau sudah kotor, ya buang saja. Lagipula nggak berharga. Besok aku belikan yang lebih bagus."
Ya, memang tidak berharga.
Dua tahun lalu, Aidan melamarku di sebuah kamar hotel.
Setelah momen mesra kami, dengan mata masih sembap aku bertanya padanya, "Aidan, kamu akan menikahiku, kan?"
Aidan tertegun selama dua detik, lalu mengeluarkan sebuah cincin perak polos dari sakunya dan memasangkannya di jariku.
Tak ada bunga, tak ada tepuk tangan, apalagi berlutut satu kaki.
Tapi aku, bodohnya, tetap percaya dia akan memberiku kebahagiaan.
Kalau dipikir-pikir lagi, aku sungguh naif.
Setelah mengemasi koper, aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Tiba-tiba, ponselku bergetar karena notifikasi menandai.
Lira mengunggah video lamaran ke platform media sosialnya.
Dalam rekaman yang agak goyah itu, Aidan berlutut di tengah sorak-sorai orang-orang, dengan hati-hati menyematkan cincin berlian besar di jari Lira.
Di bawah cahaya lampu, berlian itu memantulkan kilau memukau, dan juga menusuk mataku.
Ketika aku keluar dan membuka ulang unggahannya, video itu sudah dihapus.
Yang tersisa hanyalah pesan permintaan maaf dari Lira.
[Kakak Ipar, jangan marah. Semua yang kami lalukan tadi malam hanya bercanda.]
[Aku nggak tahu kenapa bisa nggak sengaja menandai kamu. Tadinya kami udah sepakat nggak akan kasih tahu kamu.]
[Kakak Ipar, kamu nggak akan marah, kan?]
Kata-katanya, satu per satu, seperti pisau yang menari dengan nada menantang. Di luar, Aidan mengetuk.
"Ivy, kamu suka cincin model apa? Besok aku bawa kamu pilih, ya?"
Rasa perih yang menyesakkan seperti sebilah pisau tak kasat mata, menusuk jantungku yang sudah remuk berkali-kali.
Aku menarik napas panjang dan menjawab dengan suara tenang, "Oke."
...
Malamnya, Aidan entah kenapa tiba-tiba gila, dia bersikeras mengajakku menghadiri pesta perusahaan rekanan.
Selama dua tahun bersama, ini adalah pertama kalinya dia mau membawaku tampil di depan umum.
Pesta malam itu berlangsung dengan lancar, dan suasana hati Aidan juga tampak sangat baik.
Sampai Lira, gadis polos bak kelinci putih itu, menerobos masuk dan menjatuhkan gelas anggur merah seorang pengusaha.
Anggur itu tumpah ke seluruh tubuh sang pengusaha, membuat wajahnya langsung berubah gelap.
"Gimana sih kamu? Jalan nggak pakai mata?"
Mata Lira langsung memerah. Ia menatap Aidan dengan wajah penuh ketakutan dan rasa bersalah, tak mampu berkata sepatah kata pun.
Aidan mengerutkan kening, melindungi Lira di belakangnya dan berkata dengan nada kasar, "Dia masih muda. Tuan Charles, jangan diambil hati."
Kata-kata kering itu justru membuat wajah sang pengusaha makin kelam.
Ia menunjuk ke arah Lira yang bersembunyi di belakang Aidan, dan mencibir, "Baiklah, biarkan dia bersulang dan meminta maaf padaku, baru aku anggap selesai."
Lira menarik-narik baju Aidan seolah meminta bantuan, tapi tetap tak berbicara.
Aidan menepuk tangannya dengan lembut, mencoba menenangkannya. Lalu tiba-tiba menoleh ke arahku.
"Ivy, gantiin Lira bersulang untuk Tuan Charles."
Aku terpaku sesaat, lalu langsung menolak, "Kenapa harus aku?"
Aidan mengerutkan kening, ekspresinya menyiratkan bahwa aku kurang pengertian.
"Lira masih muda, dia belum pernah mengalami ini."
"Kamu beda, kamu sudah terbiasa."
Suasana sekitar langsung menjadi hening.
Para tamu saling memandang, mata mereka penuh rasa ingin tahu.
Sampai seseorang tak kuasa menahan diri untuk mengedipkan mata pada Aidan.
"Wah, nggak nyangka ya, masih muda tapi sudah begitu berpengalaman. Tuan Aidan benar-benar beruntung."
"Iya tuh. Tuan Aidan memang hebat. Para wanita di sekitarnya juga sangat ‘mampu’."
"Kita semua perlu belajar dari Tuan Aidan nih."
Kata-kata bernada cabul itu membuat wajahku semakin pucat.
Mata Aidan melotot. Tepat saat ia hendak berbicara, Lira pingsan.
Aidan langsung panik, menggendong Lira keluar.
Aku ditinggalkan sendirian, menghadapi tatapan semua orang yang semakin kurang ajar.
Akhirnya, Tuan Charles yang melangkah maju dan mengantarku keluar.
Saat kami berpamitan, ia menyerahkan mantelnya kepadaku dan berkata, "Nona, kamu masih muda."
Satu kalimat itu menghancurkan semua kepura-puraanku.
Sampai di rumah, aku berdiri lama di depan lemari.
Ada banyak barang di dalamnya, hampir semuanya hadiah dari Aidan.
Aku mengeluarkannya satu per satu dan meletakkannya di tempat tidur.
Gaun tidur renda merah adalah hadiah 100 hari hubungan kami.
Stoking panjang hitam adalah hadiah tahunan hubungan kami yang pertama.
Sepatu hak tinggi adalah hadiah ulang tahunku yang ke-20.
Semua hadiah itu diberi khusus untukku oleh Aidan.
Semua benda itu... menjadikanku objek pemuas hasrat.
Namun baru sekarang aku menyadari bahwa ini bukanlah cinta.
Ponselku tiba-tiba menyala. Pesan dari Aidan masuk.
[Lira sudah baikan, sebentar lagi aku menjemputmu.]
[Aku belikan cincin baru, nanti aku kasih pas pulang.]
[Tentang kejadian malam ini… maaf.]
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk, ternyata Profesor Leo.
"Ivy, ada perubahan. Kita harus berangkat satu hari lebih cepat."
"Mobil untuk menjemputmu ada di bawah. Kemasi barang-barangmu."
"Baik."
Aku menyeka air mata, mengangkat koper, dan meninggalkan tempat yang selama ini mengurungku.
Sebelum naik pesawat, aku mengirim pesan terakhir kepada Aidan.
[Aidan, aku tidak mencintaimu lagi.]
Detik berikutnya, kolom chat yang lama sunyi itu bergetar tanpa henti.