Bab 2

Setelah meninggalkan Azzura, Brian tak tahu harus pergi ke mana. Dia hanya masuk ke dalam mobil lantas menghidupkan mesin, keluar dari rumah besarnya itu. Sedang tujuan, Brian tak tahu akan ke mana.

Udara malam menemani perjalanan Brian malam ini. Sang Dewi Malam sedang menampakkan keindahannya. Langit yang cerah dengan ribuan bintang, menjadi saksi kegalauan hati lelaki itu. Jika bisa, dia akan mengumpat orang yang memintanya untuk menikah lagi. Tapi, sayangnya orang itu adalah Azzura, istrinya sendiri.

Tak mungkin dia melontarkan berbagai macam makian untuk wanita yang sangat dia cintai, ibu dari buah hatinya.

"Argh ...! Brengsek! Brengsek!" Brian memukul klakson mobilnya. Hingga membuat jalanan yang aslinya senyap, menjadi berisik karena bunyi yang berasal dari klakson mobilnya itu.

Jika sedang seperti ini, dia butuh sesuatu untuk menenangkannya. Segera Brian menepikan mobilnya di salah satu minimarket yang ada di pinggir jalan untuk membeli rokok. Ya, lelaki itu telah berhenti merokok sudah lama saat jatuh cinta 12 tahun yang lalu, tetapi entah dapat bisikan dari mana, dia ingin menikmatinya lagi malam ini.

"Selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?" Itulah sapaan khas yang Brian dengar saat memasuki minimarket ber-AC itu. Pelayan tersenyum ramah sembari kedua tangan ditelangkupkan di depan dada. Brian hanya ganti tersenyum tanpa menjawab.

Antrian di meja kasir lumayan penuh. Dengan wajah datar, lelaki itu ikut mengantri di sana, karena apa yang dia cari ada di belakang meja itu.

"Ck!" Brian menghindar ketika ada seorang yang seakan akan menabraknya. Dia bergerak ke samping kanan, namun ternyata kini dia malah terjebak di antara banyak orang.

'Kenapa tumben empet-empetan gini, sih?' tanya Brian dalam hati. Suasana hati Brian yang buruk bertambah buruk kini. Pria itu sampai bingung mesti menyingkir ke mana.

PLAK!!!

Netra Brian langsung melotot ketika dia merasakan sebuah tamparan mengenai pipinya. Segera saja dia mengangkat wajahnya untuk tahu siapa yang telah berani melakukan itu padanya. Brian merasa tak ada salah dengan siapa pun yang ada di sana.

Di hadapan Brian, berdiri seorang gadis cantik, berusia sekitar dua puluh tahun yang memiliki manik mata abu-abu. Yang bisa dibilang bukan warna mata asli orang Indonesia. Hidung mancung dengan bibir yang sedikit berisi semakin meyakinkan Brian jika wanita ini mungkin seorang turis. Tetapi, dengan alasan apa turis ini menamparnya?

Mata gadis itu melotot tajam ke arahnya. Oh ... sungguh, Brian sama sekali tak tahu di mana letak kesalahannya?

"Excuse me. What's my fault? So you slapped me?" Tak ingin langsung memaki, Brian ingin tahu alasan apa yang mendasari gadis itu menamparnya?

"Excuse me, Excuse me. Aku nggak ngerti apa yang Om omongin. Tapi, yang aku tahu Om itu telah ngelecehin saya, tahu nggak?" Mata Brian membelalak. Membulat sempurna mendengar omongan gadis itu.

'Ini, aku capek-capek pake bahasa Inggris, tahunya tuh anak nggak tahu. Dan dia bilang apa tadi?'

"Melecehkan?" Brian ingin tertawa mendengar tuduhan itu, "siapa yang melecehkan siapa di sini? Bahkan saya sama sekali tak menyentuh Anda!" bentak lelaki 35 tahun itu. Dia malu, karena sadar jika mereka kini telah menjadi tontonan pengunjung minimerket.

"Anda yang telah melecehkan saya. Saya tahu, saya memang cantik. Tapi, bukan berarti orang setampan Anda bisa seenaknya meremas bokong saya." Gadis itu tak kalah galak dari Brian. Tak peduli dengan pandangan aneh orang-orang, dia hanya tak ingin harga dirinya diinjak seperti ini.

"Jadi intinya Anda mengakui jika saya tampan?" Jujur, perasaan Brian saat ini antara ingin marah tetapi juga ingin ketawa.

"Eh!" Gadis itu menutup mulutnya menggunakan tangan. Dia tak menyangka jika dia keceplosan telah mengakui jika pria itu memang tampan, meski dia tahu usianya tak muda. "Intinya bukan itu. Intinya Om telah meremas bokong saya tanpa ijin!"

"Jadi kalau ijin, boleh nih?" Brian tidak tahu kenapa timbul perasaan ingin menggoda gadis itu. Dia sangat lucu dan juga cantik.

'Berhenti, Brian! Sejak kapan kamu peduli dengan wanita lain selain Azzura?' Brian segera saja mengenyahkan pikiran buruknya saat itu juga. Baru saja dia marah pada istrinya karena memaksa dia untuk menikah lagi, kenapa saat ini dia malah kagum pada wanita lain? Hal yang belum pernah terjadi sepanjang pernikahannya dengan Azzura.

"Ya, nggak gitu konsepnya, Bambang!" Sang gadis merasa geram karena orang tua yang ada di depannya ini malah ingin bermain-main dengannya. Ingin sekali gadis itu mencakar dan juga menendang Brian saat ini juga. Kenapa ada model lelaki model mesum dan juga gila seperti dia?

"Nama saya bukan Bambang--"

"Pak ... Bu .... Mohon maaf sekali, jangan membuat keributan di sini." Salah seorang pelayan menghampiri keduanya. Brian baru menyadari jika dirinya telah mempermalukan dirinya sendiri. Untuk apa juga dia meladeni bocah itu?

"Ini, Mas. Ada om-om mesum yang seenaknya saja meremas bokong saya." Dengan wajah kesal, sang gadis menunjuk ke arah Brian, membuat Brian langsung melotot.

"Maaf, Mas. Saya tidak melakukan itu," bantah Brian. Sungguh hari ini terasa begitu sial untuknya.

"Bohong! Mana ada maling ngaku!" Sang gadis tetap pada pendiriannya. Dia sangat yakin jika Brianlah yang telah meremas bokong nya tadi.

"Saya bukan maling dan saya tidak melakukan hal yang Anda tuduh!"

"Tapi---"

"Cukup!" Baik Brian maupun gadis itu melihat ke arah orang yang tengah berteriak itu. Seorang pria botak berusia sekitar 50 tahun dengan perut buncit menghampiri mereka.

"Malam, Pak," sapa pelayan yang menghampiri mereka tadi. Sepertinya pria itu manager atau mungkin malah pemilik Minimarket itu.

"Hm ... ada apa ini?" tanya pria botak itu dengan wajah garang. Dia melihat ke arah kedua orang pembuat onar bergantian.

"Ini, Pak Gibran, tadi mereka bertengkar karena Mbak ini telah menuduh Bapak ini melakukan pelecehan terhadap Mbak-nya," jelas pelayan itu sedikit takut. Sang pegawai menunggu reaksi yang akan ditunjukkan bos-nya.

"Pelecehan? Pelecehan seperti apa?" tanya Pak Gibran, dia ingin tahu lebih lanjut.

"Dia meremas bokong saya, Pak!" ujar si gadis. Dia harus mempertahankan harga dirinya.

"Bukan saya!" bantah Brian.

"Masih nggak mau ngaku, Om?" Si gadis melotot ke arah Brian.

Brian melihat ke arah Gibran, "Begini saja, Pak. Bapak Gibran ini pemilik Minimarket ini, bukan?" tanya Brian.

"Iya. Saya pemiliknya," jawab Gibran sambil membusungkan dadanya, seolah merasa bangga ada orang yang langsung tahu kedudukannya di sana dalam sekali lihat.

"Begini, Pak Gibran. Minimarket ini apakah memiliki CCTV?" Brian merutuki dirinya sendiri, kenapa baru kepikiran sekarang? Kenapa nggak sedari tadi?

"Tentu saja ada," jawab Pak Gibran segera.

"Boleh tidak Pak, kami mengeceknya untuk membuktikan siapa yang bersalah di sini? Saya nggak mau, ya, nama baik saya buruk gara-gara urusan dengan gadis ini." Brian menunjuk ke arah gadis yang masih menatapnya dengan tatapan bencinya. Benci terhadap orang yang telah melecehkannya. Seumur-umur, tak ada yang pernah menyentuh tubuhnya. Lha ini, orang asing dengan tidak sopannya melakukan itu.

Pak Gibran berpikir sejenak, dia melihat kedua orang itu bergantian. Lantas melihat ke arah pegawainya yang hanya masih menunduk.

"Wildan! Antar mereka ke ruang CCTV!" Pak Gibran memberi perintah pada karyawannya yang ternyata bernama Wildan itu.

"Baik, Pak!" Wildan mengangguk patuh. "Mari ikut saya!"

"Terima kasih banyak, Pak Gibran," ucap Brian.

Brian dan gadis itu mengikuti Wildan ke bagian dalam Minimarket itu.

"Ehm ... ehm ...!" Pak Gibran berdehem melihat ke arah pengunjung yang menonton drama gratis barusan, dan membuat mereka salah tingkah. Dia lalu kembali masuk ke ruangannya. Tak mau ikutan pusing dengan urusan mereka berdua.

Kini mereka bertiga telah berada di sebuah ruangan yang ada televisi yang menampilkan beberapa blok potongan gambar. Wildan duduk di kursi sedang kedua orang yang saling menatap sebal itu berdiri di belakangnya.

"Di mana tadi kejadiannya, Mbak?" tanya Widan pada si gadis.

"Di sini, Mas." Tunjuk si gadis pada salah satu rekaman yang menunjukkan TKP. Wildan langsung melihat rekaman tempat itu beberapa waktu yang lalu. Dari saat si gadis masuk ke Minimarket.

Kedua orang itu menyaksikan dengan seksama untuk membuktikan siapa yang bersalah dalam hal ini. Brian tak ingin namanya muncul di berita, 'Seorang pengusaha kaya terlibat skandal dengan bokong seorang gadis'. Mau ditaruh di mana mukanya jika menghadapi para investor?

"Nah! Dari sini, Mas. Si om-om mesum ini baru saja masuk. Pasti kali ini bakalan kebukti siapa yang salah di sini."

"Jangan panggil saya om-om mesum, dong. Belum juga terbukti kok udah yakin banget?" sewot Brian.

"Udah! Pokoknya saya yakin 200 persen jika Om yang telah melakukan tindakan tidak senonoh pada saya," ucap sang gadis dengan penuh percaya diri. Perasaannya sebagai seorang wanita tak usah diragukan lagi. Bahkan saat kucingnya di rumah hamil, dia bisa menebak dengan benar berapa jumlah anak yang dilahirkannya.

"Ck! Ya kali 200 persen," cibir Brian.

"Biarin! Mulut-mulut saya kenapa Om yang repot?"

"Ehm .. ehm ...! Bisa nggak, sih, kalian ini diam dulu? Nanti gambarnya kelewat, saya nggak mau, ya, disuruh muterin lagi." Widan merasa geram karena mereka berdua tak berhenti bertengkar, sudah seperti kucing dan tikus saja.

"Lihat, tuh!" seru Brian sambil melotot ke arah si gadis. Tak mau kalah, si gadis mencebik, balas melotot ke arah Brian.

"Tuh! Dari sini mulai pake matanya, Om. Siapa yang salah di sini!" tegas si gadis. Brian yang merasa tak bersalah bersikap biasa saja. Dia benar-benar membuka matanya lebar-lebar untuk membuktikan jika bukan dia yang melakukan itu.

"Ulangi, Mas! Itu sudah sampai saya ditampar. Putar adegan sebelumnya! Coba lihat siapa yang melakukan itu!"

Wildan menghela napas panjang. Dia harus sabar menghadapi kedua manusia absurd ini. Bagaimana bisa dia seapes ini, berurusan dengan dua orang yang sama-sama nggak mau ngalah.

Dengan amat sangat terpaksa, Wildan menuruti perintah Brian. Dia hanya ingin segera menyelesaikan ini semua dan kembali bekerja, melihat para pelanggan wanita yang cantik-cantik.

'Ah! Sudahlah, Wildan. Selesaikan ini dulu,' ucap Wildan dalam hati.

"Nah! Nah 'kan, lihat itu! Sudah kebukti sekarang, siapa yang salah?"

Bab 3

"Nah! Nah 'kan, lihat itu! Sudah kebukti sekarang, siapa yang salah?" Netra si gadis membola. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia merasa malu kali ini. Mau ditaruh di mana mukanya kali ini. Bisa-bisanya dia menuduh orang yang sama sekali tak bersalah.

"Mu-mungkin itu salah, Mas. C-coba putar lagi." Tidak! Dia tak boleh langsung percaya dengan apa yang dia lihat. CCTV itu 'kan belum HD, jadinya gambarnya masih blur. Mungkin tadi dia salah lihat.

"Ck! Masih belum percaya? Tu mata ilangin dulu beleknya biar jelas. Jangan sampai rabun!" Brian benar-benar kesal. Semua sudah terlihat dengan jelas, masih saja gadis itu belum mau menyerah untuk menuduhnya.

Sontak si gadis langsung mengusap sudut matanya, takut jika beneran ada belek di sana. Brian terkekeh saat melihat pemandangan itu, sungguh gadis itu membuatnya menjadi pribadi yang lain.

'Bego, lo, Vio. Om mesum itu 'kan cuma ngisengin kamu bilang kayak gitu. Mau aja lo dikerjain.' Gadis yang bernama Vio itu langsung saja mendelik ke arah Brian yang terlihat begitu senang kali ini. Sungguh saat ini, Vio benar-benar ingin mencekeknya agar dia berhenti terkekeh.

"Ck! Itu 'kan gambarnya nggak jelas. Mas, bisa ulang sekali lagi, nggak?" tanya Vio pada Wildan sambil mendekatkan wajahnya agar sejajar dengan Wildan.

"Eh, i-iya," jawab Wildan dengan gugup. Didekati gadis cantik dan seksi seperti Vio, tentu saja membuat tubuhnya gemetar kali ini.

'Gila! Gue bisa gila jika gadis ini mepet gue terus. Bisa-bisa beneran gue pepetin ke tembok lalu gue cipok, deh!' ucap Wildan dalam hati. Meski sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya menepis pikiran kotornya barusan. Baru seperti itu saja sel-sel mesum di diri Wildan bisa bangkit dengan sendirinya. Bagaimana jika sampai hal lain?

Wildan kembali memutar rekaman CCTV itu pada menit di mana Vio mendapat pelecehan seksual. Vio tersenyum, merasa senang karena Wildan mau menuruti ucapannya.

Tapi, Brian juga terlihat tenang karena rekaman CCTV itu nggak mungkin berubah sendiri dalam hitungan detik. Dan bukan dia yang telah meremas bokong Vio.

"STOP!"

"STOP!" ucap Brian dan Vio bersamaan. Mereka baru saja melihat saat-saat penting itu. Vio mengamati dengan seksama apa yang ada di depannya. Brian ada di belakangnya persis dan kedua tangannya berada di belakang sesaat sebelum Vio menampar Brian. Jadi di waktu itu, bukan lelaki yang ada di sampingnya itu yang bersalah. Tetapi, bapak-bapak yang mengenakan topi di sebelah kanannya.

"Brengsek!"

BRAK

Vio menggebrak meja yang ada di depan Wildan, membuat pemuda itu merasa ngeri saat ini. Begitu pula dengan Brian, wanita jika sedang marah, banteng ngamuk pun bakalan kalah.

"Sudah jelas 'kan sekarang? Siapa yang asal tuduh di sini?" cibir Brian. Vio memejam, dia tak sanggup menatap mata Brian. Dia sangat malu. Tapi, ada hal lain yang lebih penting kali ini.

"Saya minta maafnya besok saja. Saat ini saya harus mencari bapak-bapak yan sudah membuat bokong saya menjadi tidak perawan lagi." Setelah mengucapkan itu, Vio segera berlari ke luar ruangan itu. Dia celingukan mencari sosok yang muncul di CCTV.

Setelah kepergian Vio, Brian dan Wildan saling berpandangan, melongo, seakan baru saja melihat salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

"Apa kamu mengerti wanita?" tanya Brian pada Wildan.

Pemuda itu menggeleng, "Tidak, Pak. Itu yang membuat saya jomblo hingga saat ini."

Brian mengangguk lantas menepuk bahu Wildan pelan, "Makasih, ya."

Brian keluar dari ruangan itu dengan rasa bangga. Dia bukanlah om-om cabul pecinta bokong gadis. Tapi, dia adalah tipe pria setia pada satu wanita, Azzura.

Rasa ingin membeli rokok pun hilang begitu saja. Dia sudah kehilangan selera untuk menghisap benda silinder panjang itu. Yang khas aroma tembakau.

'Mungkin Tuhan nggak ngijinin aku untuk merokok lagi. Baru aja niat, udah dapet malu,' batin Brian. Dia kini tengah memasukkan kunci mobilnya ke dalam lubangnya. Dan memutar kunci itu ke kanan lantas mengemudikannya.

Dia merasa kesal dengan gadis yang baru saja dia temui. Kenapa ada modelan gadis seperti itu? Bisa-bisanya nuduh dan menyalahkannya atas kesalahan yang tidak dia perbuat.

Setelah sebelumnya pikiran Brian teralihkan, kini dia kembali teringat dengan Azzura. Dia sebenarnya kasihan, melihat istrinya itu sedang mode pengen ketika dia tinggalkan tadi. Namun, dia harus memberikan pelajaran untuk orang yang menyuruhnya menikah lagi. Meski itu istrinya sendiri. Meski jenis hukuman yang dia berikan, lain dari pada yang lain.

"Azzura ... apa sebenarnya yang ada di kepalamu?" gumam Brian seorang diri. Dia masih kesal. Ada dua kejadian yang membuatnya menjadi benar-benar kesal.

Mata Brian memicing, dia sepertinya melihat seseorang yang dia kenal sedang dalam keadaan tidak baik. Dia segera memperlambat laju mobilnya dan menepikan di pinggir jalan raya.

Dia dengan penuh marah berjalan ke arah orang itu.

"Hey! Apa-apaan kalian?!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED