Bab 1

(PoV Rumi)

"Dengan ini saya nyatakan gugatan saudara William Alansyah terhadap saudari Gayatri Rumi Rahardjo dikabulkan, mulai hari ini saudara William Alansyah dan saudari Gayatri Rumi Rahardjo resmi bercerai dan bukan lagi suami istri. Sidang ditutup," ucap Pak Hakim.

Palu sudah diketuk tiga kali. Aku menghela nafas panjang.

"Baiklah, semua sudah berakhir. Semoga setelah perceraian ini, semua masalah akan selesai. Aku harus bahagia, hidupku akan berlanjut dengan kebahagiaan," ucapku dalam hati. Memandang wajah mantan suamiku sekali lagi lalu memandang mantan ibu mertua dan mantan adik iparku sebelum beranjak pergi dari ruang persidangan.

***

Tiga tahun berlalu. Sejak peristiwa itu aku memutuskan untuk kembali ke Jogja. Mengemban label janda cantik sudah menjadi rutinitasku. Aku sudah mulai terbiasa, aku tak peduli orang mau bicara apa tentang aku, yang jelas aku tidak minta biaya hidup dari mereka. Aku bekerja sebagai agen di salah satu asuransi jiwa. Levelku sudah lumayan tinggi, jadi yah sudah bisa sombong sedikit.

Sebenarnya perceraian itu tak membuatku trauma untuk berumah tangga lagi tapi aku jadi lebih selektif saja. Ada beberapa pria yang mendekatiku, mayoritas mereka pengusaha dan selalu tertawa jika aku menceritakan perceraianku karena aku dituduh workaholic, tapi aku merasa belum ada yang cocok dengan hatiku.

Siang itu seperti biasa aku mencari nasabah disalah satu mall di Jogja. Aku memilih berada di salah satu Cafe dalam mall itu bersama dengan salah satu sahabatku, sesama agen.

"Rum, gimana target trip udah nutup?" tanya Nina padaku.

"Ya udah dong, sama uang saku juga udah aku tutup."

"Sombong amat lu! Ya kamu enak, Rum. Pria-pria kaya itu mau beli asuransi atau sekedar investasi di kamu. Lah aku, susah bener."

"Makanya jadi janda dong," selorohku.

"Ihh! Amit-amit deh, anakku udah 3. Kamu enak, cerai nggak ada anak," Nina beberapa kali mengetuk meja dan menjitak kepalanya. Aku hanya tersenyum getir melihatnya. Sungguh menjadi janda bukanlah sebuah pilihan hidup.

"Aku pesen kopi lagi deh, puyeng dari tadi nggak ada target. Kamu mau apa lagi, Nin?"

"Alah, target apalagi sih? Nggak usah deh, pusing kebanyakan kopi."

"Target lain. Mungkin aja ada yang mau jadi suami, hahaha. Ya udah aku pesen kopi dulu."

Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju tempat pemesanan. Segelas soy coffee late sudah ditangan. Aku memang sengaja menunggu dan melihat baristanya meracik minumanku. Saat aku membalikkan tubuhku, aku melihat ada seorang lelaki yang tidak asing namun sudah lama tak pernah jumpa.

"Sudah kuduga itu pasti kamu, Rumi," sapa pria itu padaku.

"Henry? Henry Prasetya?" tanyaku memastikan.

"Hai, Rumi. Nggak nyangka ya ketemu kamu disini."

"Apa kabar? Ya ampun, udah lama baget. Lagi ngapain di Jogja?"

"Aku baik. Kebetulan lagi ada kerjaan di sini."

"Ohh, oke."

"Boleh gabung nggak? Kamu duduk dimana?"

"Di sana tuh, aku tunggu ya." Aku menunjuk sebuah meja.

"Oke, Rum. Aku pesan dulu trus ke sana ya." Aku menggangguk kemudian kembali ke mejaku. Tak lama Nina memutuskan pergi karena ada keperluan mendadak, sebelum Henry datang.

Henry Prasetya, dia teman kuliahku di UNY dulu. Orangnya baik, kharismatik, lucu dan juga tampan. Teman-temanku dulu bahkan menyebut Henry sebagai keturunan ningrat karena rupanya yang jawa banget.

Wajahnya yang teduh dan bersahaja selaras dengan tuturnya yang lembut pasti membuat para wanita meleleh jika dekat dengannya. Henry menjadi idola kampus pada zaman itu. Aku cukup beruntung bisa mengenalnya dan berteman baik dengannya hingga lulus. Namun setelah itu Henry kembali ke kota asalnya yaitu Malang. Kami putus komunikasi, tak pernah lagi bertemu. Dan hari ini kami berkesempatan untuk berjumpa lagi. Akhirnya dari perjumpaan singkat hari ini kami saling bertukar nomor WhatsApp.

Obrolanku dan Henry berpindah ke WhatsApp. Menyenangkan sekali bertukar kabar dengan Henry, membicarakan masa sekarang dan masa lalu. Kini dia bekerja sebagai Manager di salah satu perusahaan ekspor-impor di Surabaya. Selama Henry mengurus pekerjaannya di Jogja, kami jadi sering bertemu untuk sekedar minum kopi ataupun makan. Dan dari pertemuan-pertemuan itu, pertemuan di hari terakhir Henry di Jogja menjadi hal yang tak terlupakan dalam hidupku.

"Rumi, besok pagi aku sudah harus kembali ke Surabaya," ucap Henry lembut. Terlihat guratan kesedihan di wajah tampannya.

"Iya, aku tahu. Kan udah ngomong kemarin."

"Aku bersyukur bisa dipertemukan lagi dengan kamu," lanjut Henry disertai senyumnya yang selalu manis.

"Hmm, masak? Aku lebih ke seneng sih ketemu kamu lagi."

"Rumi, sesungguhnya ada hal yang aku sembunyikan darimu sejak dulu."

"Jangan bilang kamu suka sama aku?" goda ku.

"Memang kenapa? Ada yang salah?"

"Emang bener? Hahaha."

"Bener, Rum."

"Ha? Apa sih, Hen? Nggak lucu 'lah."

"Ya emang nggak lucu. Aku 'kan nggak ngelawak. Aku serius."

Aku terdiam. Menatap Henry, mencoba mencari kebohongan melalui manik matanya, namun aku tak menemukannya. Aku cukup terkejut mendengar pernyataannya. Sungguh aku tak pernah menyangka dengan semua ini.

"Tapi aku janda, Henry," ucapku kemudian.

"So, what? Aku sudah pertimbangkan. Kamu bilang kamu nggak trauma 'kan dengan rumah tangga. Aku ingin menikahi kamu Rumi. Aku sudah menahan perasaan ini sejak kita kuliah. Aku rasa Tuhan merestuinya karena sudah mempertemukan aku dengan kamu lagi. Aku janji akan menjagamu. Sampai akhir nafasku."

"Aku memang nggak trauma untuk membuka hati lagi, berumah tangga lagi. Tapi aku nggak bisa grasak grusuk. Beri aku waktu ya."

"Of course, kapanpun kamu siap. Jadi kita pacaran nih sekarang?"

"Ha? Gimana?"

"Kita pacaran, Sayang."

"Cie, Sayang."

"Cie udah lama nggak ada yang manggil Sayang ya?"

"Ngajak berantem ya, hari pertama jadian loh ini."

"Hahaha."

Aku belum mengerti apakah keputusanku untuk menerima cinta Henry adalah keputusan yang tepat. Tapi aku tak ingin menjadi wanita munafik. Aku ingin memberi kesempatan pada Henry untuk membuktikan ucapannya. Siapa tahu Tuhan memang mengirimkan jodohku berupa Henry yang tampan dan baik itu. Ahh! Seandainya benar, aku pasti menjadi wanita yang sangat beruntung.

***

Kehadiran Nina membuyarkan lamunanku. Hanya membaca chat dari Henry saja bisa membuatku senyum-senyum sendiri dan membayangkan kebersamaanku dengan Henry. Seperti mengulang masa remaja yang sedang di mabuk asmara.

"Kasmaran ya?" tebak Nina yang sialnya sangat tepat.

"Emm." Aku hanya mengangkat bahu, tak memberi jawaban pasti pada Nina.

"Siapa orangnya? Client kamu ya?" Aku menggeleng. Lagi-lagi tak memberi jawaban pada Nina yang super kepo ini, membuat Nina mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Jatuh cinta bikin bisu ya?" sindirnya padaku.

"Masih pagi udah marah-marah aja nih, Bu Nina."

"Ya kamu ditanya jawabnya cuma angkat bahu 'lah, nggeleng 'lah. Sebel jadinya."

Aku membuka ponselku, mencari swafotoku bersama Henry, lalu menunjukkannya pada Nina. Mata Nina langsung melotot melihat foto itu.

"Ya Allah, Gusti. Kok ngguanteng tenan to, Rum. Wong ngendi iki?" (Ya Allah, Gusti. Kok ganteng bener, Rum? Orang mana ini?)

Aku tertawa melihat Nina. "Malang, tapi kerja di Surabaya."

"Edan! LDR dong? Tapi nggak papa, Rum. Tak dukung kalo sama yang ganteng kayak gini. Dari pada Pak Galih yang udah duda itu. Mending ini kemana-mana, Rum."

Aku hanya tersenyum mendengar kejujuran Nina. Pak Galih adalah client yang telah beberapa kali secara terang-terangan menyatakan jika menyukai ku. Tapi sayangnya aku tak memiliki ketertarikan yang sama dengannya.

Bab 2

(PoV Rumi)

Hubunganku dengan Henry berlanjut dengan LDR. Yah, jarak Surabaya dan Jogja memisahkan cinta kita. Tapi aku merasa Henry memang serius denganku. Terbukti, dua minggu sekali Henry selalu datang ke Jogja untuk menemui aku. Dan rencananya akhir tahun ini dia akan melamarku. Oh Tuhan, akhirnya segala penantian panjang ini akan segera berakhir.

Hari demi hari ku lalui dengan perasaan bahagia. Rasanya tidak sabar menunggu hari itu tiba. Terlihat berlebihan, tapi itulah kenyataannya.

Baiklah, karena Henry sudah sering bahkan selalu menjadi orang yang berkorban untuk saling bertemu. Kali ini aku akan memberikan kejutan kecil untuk Henry. Aku akan datang ke Surabaya. Meskipun berat, aku akan melakukannya demi Henry, lelaki baik itu.

***

Surabaya, akhirnya aku menginjakkan kaki di kota ini lagi setelah tiga tahun aku bercerai dengan Mas William Alansyah atau aku biasa menyebutnya Mas Wilan. Ya, dia adalah lelaki keturunan Tionghoa yang tinggal di Surabaya. Aku menjalani setahun pernikahanku di kota ini. Dulu aku bekerja sebagai marketing salah satu bank. Suatu ketika ada masalah di kantor, selama empat hari berturut-turut aku berangkat kantor jam 6 pagi dan pulang esoknya jam 4 pagi. Hasilnya aku diceraikan Mas Wilan karena aku menolak untuk resign. Hahaha, lucu memang kalau dikenang. Tapi ya sudahlah, semuanya sudah berlalu. Kini aku akan segera memulai hidupku yang baru dengan Henry dan mungkin saja aku akan tinggal lagi di kota ini, we'll see.

Aku memutuskan untuk menggunakan kereta api ke Surabaya. Selain karena bandaranya terlalu jauh, transportasi ini cukup nyaman saat ini. Sesampainya aku di Surabaya, aku segera menuju hotel yang sudah ku booking sebelumnya.

Dering telepon mengagetkanku, astaga sudah 4 jam aku tertidur. Saat tiba di kamar hotel aku langsung tidur karena kelelahan. Oh My God, ada 30 misscall dari Henry. Maafkan aku Henry.

"Kamu dari mana aja, Sayang?" tanya Henry padaku melalui sambungan telepon.

"Maaf tadi aku ketiduran, Hen."

"Habis ngapain memangnya?"

"Habis perjalanan jauh."

"Kamu keluar kota?"

"Iya."

"Tumben."

"Apanya?"

"Tumben keluar kota dan tumben nggak cerita."

"Iya,'kan mau bikin kejutan."

"Kejutan apa?"

"Datar banget sih, marah gitu kek. Hahaha."

"Kita bukan remaja bucin lagi, Sayang. Apa-apa harus pakai marah segala. Kamu dimana memangnya?"

"Tebak dong."

"Hmm, Semarang. Atau mana aku nggak tahu."

"Hahaha, aku di Prince Hotel jalan Basuki Rahmat."

"Ha? Kamu di Surabaya?."

"Yes. Kaget nggak?."

"Kaget 'lah."

"Tapi seneng 'kan?"

"Iya seneng. Hahaha. Aku kesana ya."

"Oke, aku lapar."

"Ya sudah, aku berangkat sekarang. Kamu siap-siap."

"Oke." Sambungan terputus.

Aku dan Henry memutuskan untuk makan di salah satu restoran steak enak di Surabaya. Lokasinya tak begitu jauh dari hotelku. Setelah selesai memesan makanan, aku pamit ke toilet. Tiba-tiba aku bertemu Mas Wilan di depan toilet saat aku akan kembali ke meja makanku. Wow, kejutan sekali, hal yang sangat ku hindari terjadi juga. Tak banyak yang berubah dari fisiknya, hanya saja mungkin penampilannya lebih stylish seperti seorang CEO muda.

Aku tak pernah lagi mendengar kabarnya semenjak perceraian itu. Hanya untuk sekedar menengok sosial medianya saja aku tak pernah. Aku sebenarnya tidak membencinya, hanya saja ada perasaan aneh yang menelusup setiap aku mengingat pernah hidup dengan lelaki berwajah oriental ini.

Blank, bertahun-tahun aku berpikir apa yang akan aku katakan jika aku bertemu Mas Wilan dan hari ini kejadian.

"Rumi. Gayatri Rumi 'kan?" panggil Mas Wilan yang sesungguhnya sama sekali tak kuinginkan. Tapi sudah begini, aku tak bisa menghindar.

"Iya, Mas Wil. Apa kabar?" jawabku dengan senyum yang ku paksakan.

"Wah! Lagi di Surabaya atau tinggal di Surabaya nih? Aku baik, kamu sendiri?"

"Lagi berkunjung aja. Tinggal masih di Jogja kok. Kabarku baik. Mas Wilan sendirian?"

"Aku sama orang kantor. Kamu disini sendiri?"

"Sama temen, Mas."

"Pacar ya?"

"Emm .."

"Kenalin dong."

Nah ini salah satu hal yang bikin aku malas ketemu Mas Wilan. Dia masih sama, tukang kepo. Tapi cepat atau lambat dia juga akan tahu calon suamiku. Dengan berat hati ku ajak Mas Wilan ke mejaku dan akan ku kenalkan dengan Henry. Berdebar sekali rasanya karena aku tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi setelah ini. Semoga saja Mas Wilan tidak ada maksud jahat terhadap hubunganku dan Henry.

"Lho Henry!" sapa Mas Wilan sebelum aku memperkenalkan Henry.

"Pak William!" Seketika wajah Henry berubah pucat.

"Kamu kenal sama Henry, Mas?"

"Kamu temannya Henry atau ... "

"Henry ini calon suamiku," ucapku bangga.

"Ha? Henry saya memang tidak berhak ikut campur urusan pribadi kamu. Tapi kali ini saya tidak bisa membiarkan mantan istri sekaligus sahabat terbaik saya kamu permainkan."

"Maksud kamu gimana, Mas Wil?"

"Sayang, sebaiknya kamu jauh-jauh dari Pak William. Dia pasti cemburu melihat kebahagiaan kita. Dia ingin merusak hubungan kita."

"Rumi, kita ini memang mantan suami istri. Tapi kita bukan musuh. Kamu sahabat terbaikku. Aku ingin melihat kamu bahagia tetapi bukan dengan bajingan ini."

"Ini ada apa sebenarnya?" Aku semakin bingung mendengar kalimat Mas Wilan. Terlebih melihat ekspresi wajah Henry yang ketakutan.

"Sayang, kamu harus percaya sama aku. Pak William hanya iri. Inget dia sudah nyakitin kamu. Dia sudah nggak percaya sama kamu. Dia sudah menceraikan kamu."

"Henry, stop ya. Mas Wilan tolong jelaskan!"

"Henry ini manager di perusahaanku. Bulan depan dia akan menikah dengan Renata. Sekretarisku yang sedang hamil anak Henry."

Mas Wilan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan undangan digital pernikahan antara Henry Prasetya dengan Renata Erliana. Lengkap dengan foto prewedding mesranya.

"Sayang, semua itu bohong. Pak William bohong sama kamu. Kamu harus percaya sama aku ya. Please."

Henry mengambil tanganku lalu menggenggamnya erat. Perasaanku sangat hancur saat ini. Tangisku sudah tak bisa lagi bersembunyi. Mungkin aku terlalu naif. Tak pernah sedikitpun curiga dengan Henry, sungguh semua terlihat sangat sempurna. Apalagi semua rencana-rencana indah yang telah Henry susun bersamaku. Betapa bodohnya aku. Untung saja lebih cepat ku tahu semua ini.

"Henry, aku nggak tahu harus berkomentar apa tentang ini. Aku tulus cinta sama kamu, bahkan aku tulus membuka hatiku untuk berumah tangga lagi bersamamu. Kamu ku kenal sebagai orang yang baik. Maka bertanggung jawablah atas apa yang kamu perbuat. Aku sangat berharap ini hanya mimpi buruk. Aku ingin mempercayai semua ucapan kamu, tapi semua bukti sudah sangat jelas. Jangan lari lagi Henry. Biar aku yang pergi."

"Aku cinta sama kamu, Rumi. Aku nggak cinta sama Renata. Dia menjebakku. Tolong, tolong jangan tinggalkan aku. Aku janji akan selesaikan masalahku dengan Renata. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, Rumi."

"Sudahlah Henry. Berbahagialah kamu. Tolong lepaskan aku." Aku berusaha melepaskan tangaku dari genggaman tangan Henry. Namun pegangannya sangat kuat. Melihat itu, Mas Wilan membantu menarik tanganku.

Tiba-tiba, Henry dengan kuat mendaratkan pukulan pada sudut bibir Mas Wilan. Mas Wilan jatuh tersungkur. Tak lama Mas Wilan bangun dan membalas pukulan Henry. Aksi saling pukul itu terhenti setelah aku berada di tengah mereka.

"Stop, cukup. Udah cukup. Tolong jangan berantem lagi. Urusan ini sudah selesai."

"Nggak, Sayang. Aku nggak peduli sekalipun dia atasanku. Dia sudah berani merusak hubungan kita."

"Heh! Harusnya kamu sadar atas perbuatan kamu. Jangan macam-macam dengan Rumi."

"Stop, berhenti semuanya. Aku nggak mau ketemu lagi sama kalian berdua."

Aku berlari keluar restoran. Segera kembali ke hotel menggunakan taxi. Malam yang sangat berat. Sakit, sedih dan malu. Semua bercampur jadi satu. Setelah ini aku harus tidur dan melupakan semuanya.

Bab 3

(PoV Rumi)

Entah, aku tak sanggup mendeskripsikan perasaanku saat ini. Hancur semuanya. Tapi aku masih bersyukur karena kebusukan Henry terbongkar ketika aku belum menikah dengannya. Baiklah, aku harus segera kembali ke Jogja, menata hidupku lagi.

"Tenang ya, Rumi. Jodohmu pasti akan datang lagi suatu saat nanti," monologku, mencoba menguatkan diri sendiri.

Sebelum aku pergi, aku mengunjungi sebuah tempat yang mungkin saja tak akan ku datangi lagi. Ya, taman sakura favoritku. Tempat yang selalu berhasil membuatku tenang, dulu. Aku ingin sedikit melupakan bebanku dan pulang ke Jogja dengan perasaan lebih baik.

Ku hirup udara pagi hari kota ini. Tenang sekali. Kenapa lagi-lagi aku harus pergi membawa luka hati. Apa aku tak pantas bahagia? Ahh sudahlah, tak berguna juga aku meratapi nasibku.

"Rumi!" Panggil seseorang, aku menoleh pada sumber suara. Seorang pria tepat di belakangku. Pria yang sesungguhnya tak ingin ku temui lagi, terlebih sejak kejadian semalam.

"Mas Wilan!"

"Aku kira kamu sudah kembali ke Jogja, Rum. Boleh aku duduk di situ?" Aku menggangguk dan Mas Wilan segera duduk di bangku yang sama denganku.

"Nanti sore aku berangkat, Mas. Kamu ngapain disini?"

"Entah kenapa pagi ini aku ingin sekali kesini. Mengingat kejadian semalam, aku khawatir dengan perasaanmu. Dan ternyata kamu malah sudah disini lebih dulu."

"Aku sudah lebih baik, Mas. Semua ini memang sangat sulit. Hubunganku dengan Henry sudah cukup serius. Tapi, ya aku harus lupakan." Aku tersenyum, menertawai diri sendiri di tengah kegetiran ini.

"Oh ya, aku turut berduka atas kepergian Mama Ageng. Beliau orang yang sangat baik sekali. Pernah menjadi menantunya adalah sebuah kehormatan untukku."

"Makasih, Mas. Kamu tahu dari mana kalau Mama udah pergi?"

"Aku ke Jogja beberapa waktu yang lalu. Aku mampir ke rumah yang di Jalan Paris, ternyata sudah ditempati oleh Mas Karno dan keluarganya. Aku ngobrol banyak dengan Mas Karno, Rum."

"Iya, rumah itu dibeli Mas Karno karena dia percaya suatu saat aku bisa membeli rumah itu kembali."

"Kamu kok nggak hubungin aku waktu Mama Ageng meninggal?"

"Maaf, Mas. Kejadian itu sangat berat buat aku. Nggak kepikiran ngabarin kamu."

"Ehh, kamu mau main ke rumahku? Ya mumpung kamu di Surabaya. Aku nggak tahu apa kamu akan kesini lagi atau tidak setelah semua kejadian ini. Ada Mama lho di rumah."

"Mama udah nggak di Singapura?" Ibu mertuaku dulu memang tinggal di Singapura untuk menemani adik iparku sekolah disana.

"Udah 2 tahun ini Mama di Surabaya. Gimana?"

"Ngg, gimana ya."

"Kenapa?"

"Ya udah, boleh deh. Tapi aku nggak bisa lama ya, Mas."

"Oke. Ayo." Mas Wilan berdiri dan mengulurkan tangannya. Aku meraih tangannya tapi segera aku lepaskan. Mas Wilan menyadari kegugupanku, dia berjalan lebih dulu di depanku.

Aku mengikuti langkah Mas Wilan menuju mobilnya. Sedikit takjub melihat mobil Mas Wilan yang sudah berganti dengan mobil sport keluaran terbaru sebuah brand ternama. Yang ku tahu harganya miliyaran rupiah. Dulu saat kami berpisah, Mas Wilan memang sedang merintis usaha ekspor-impor yang kini sepertinya sudah sukses.

"Rum, kenapa?" tanya Mas Wilan karena aku tak kunjung masuk mobilnya.

Aku tersenyum canggung, menyadari pikiranku telah berkelana sedikit jauh. "Maaf, Mas. Aku nggak papa kok." Aku segera masuk mobil, disusul Mas Wilan lalu mobil itu melesat pergi.

Mobil itu mulai memasuki perumahan rumah Mas Wilan. Perasaanku sangat berdebar seiring dengan kenangan-kenangan yang mulai hadir kembali. Aku terus saja memandang jalanan, banyak yang telah berubah rupanya.

Akhirnya kami sampai di depan rumah Mas Wilan. Aku memejamkan mata sebentar untuk menenangkan hatiku.

"Ayo, Rum."

"Iya, Mas."

Perlahan aku melangkahkan kaki memasuki rumah yang pernah menjadi tempat bahagiaku. Memori rumah ini memutar kembali di ingatanku bagai roll film. Tentang indahnya pernikahanku dengan Mas Wilan hingga hari kemurkaannya menalak cerai aku. Interior yang masih sama dengan saat aku tinggalkan dulu. Bahkan aroma pengharum ruangan yang masih sama kucium menambah obat rindu yang ku rasakan.

"Masya Allah, Nduk Rumi." Minda, ART Mas Wilan begitu terkejut melihat kedatanganku. Minda inilah yang memelukku erat hari itu saat Mas Wilan mengucapkan talak lalu pergi meninggalkan rumah. Minda terlihat semakin tua namun tetap cantik. Aku berhambur memeluk Minda.

"Rumi! Ya Allah, Nak. Ini Gayatri Rumi Rahardjo 'kan?" Kali ini Mama Arini yang langsung menangis melihat kedatanganku. Dia adalah Mama mertuaku, dulu. Aku juga segera memeluk beliau. Aku ingin tertawa sebenarnya mendengar Mama Arini menyebut lengkap namaku yang panjang itu. Dulu jika sedang menggodaku, Mama memang memanggil namaku selengkap itu. Lucu sekali.

"Sama siapa kamu, Rum?"

"Sama Wilan, Ma," sahut Mas Wilan yang muncul dari pintu depan. Aku memang masuk lebih dahulu karena Mas Wilan harus mengambil beberapa barang di bagasi mobilnya.

"Kok isa, Nyo? Ketemu ndek mana?" Mama Arini selalu memanggil Mas Wilan dengan sebutan Sinyo. (Kok bisa, Nyo? Ketemu dimana?)

"Panjang banget Mah critanya. Minda masak apa? Aku laper. Rumi juga kayaknya."

"Ya uwes, ayo makan dulu." (Ya sudah, ayo makan dulu)

Banyak yang kami ceritakan setelah makan siang. Tentang apa yang kami jalani setelah perpisahan itu. Dan hal yang sangat aku hindari terjadi. Mama membahas masa lalu kami dan tak lupa di akhir cerita Mama mengutarakan harapannya untuk Mas Wilan menikah lagi denganku.

Aku hanya tersenyum simpul. Mana mungkin itu dapat terjadi? Malam dimana aku bertemu Mas Wilan di restoran steak itu, dia duduk bersama dengan seorang perempuan. Setelah aku ingat lagi perempuan kemarin itu usianya terlihat jauh lebih muda dariku.

Ahh sudahlah, memang perempuan itu jauh lebih muda dan cantik dibandingkan denganku. Cocok dengan Mas Wilan yang masih saja tampan sejak dulu.

Dua jam lagi jadwal keberangkatan keretaku. Aku segera berpamitan pada Mama dan lagi, beliau menangis. Memintaku untuk tinggal di rumahnya semalam saja tak apa. Masih rindu katanya.

"Maaf, Ma. Tapi Rumi ada keperluan besok, jadi nggak bisa tinggal lebih lama," tolak ku.

"Wil, Mama masih kangen sama Rumi." Kali ini Mama merajuk pada Mas Wilan.

"Tolong ya, Rumi." Mas Wilan merajuk padaku. Memang ya ibu dan anak ini sedikit menyebalkan. Dengan berat hati kuputuskan untuk tinggal di rumah Mas Wilan. Tapi semalam saja, tidak lebih.

"Makasi, Rum. Mama seneng sekali. Kalau bisa lebih dari semalam usahain ya, Rum." Aku tersenyum menanggapi ucapan Mama Arini. Aku tak tahu harus bahagia atau sedih di perlakukan seperti ini.

***

Karena aku menginap di rumah Mas Wilan, jadi aku harus ke hotel untuk checkout dan mengambil barang-barangku. Aku di antar Mas Wilan. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Mungkin dia sedang berkonsentrasi dengan kemudi. Tapi aku, aku sangat berdebar. Berkali-kali aku meminta maaf pada jantungku karena telah membuatnya bekerja ekstra keras hari ini.

Aku masih asyik dengan lamunanku sampai aku mendengar intro sebuah lagu yang sangat aku kenal. Lagu Coldplay berjudul The Scientist sangat berhasil membawaku kembali ke masa lalu. Membuat rindu akan masa itu semakin besar. Mas Wilan memang sengaja menyalakan radionya. Kemudian dengan santainya Mas Wilan bernyanyi, meniruka suara vokalis itu. Astaga, apa dia sengaja?

Aku paling lemah untuk tidak ikut bernyanyi jika mendengar lagu ini. Ini adalah lagu favorit kami.

Aku akhirnya memberanikan diri untuk menatap Mas Wilan dan dia pun juga sedang menatapku. Kami bersilang pandangan.

"Kamu nggak nyayi? Masih suka 'kan sama lagu ini?"

"Masih kok, cuma lagi sakit tenggorokan," jawabku asal.

"Lhoh kamu sakit? Mau ke dokter?"

"Nggak usah, Mas. Aku minum vitamin sama banyakin air putih aja udah sembuh kok."

"Kalau mau ke dokter bilang ya." Aku mengangguk kemudian memejamkan mata untuk menikmati semua kenangan itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED