Sepuluh tahun yang lalu di salah satu ruang kosong kampus.....
Gadis muda itu membiarkan saja saat tangan pemuda yang dia cintai menjamah tubuhnya secara kasar.
Gadis itu memilih untuk memejamkan matanya karena merasa enggan untuk melihat tingkah binal yang tengah dia lakukan bersama pemuda yang memiliki pesona luar biasa.
Tubuh gadis itu berbaring pasrah di atas lantai ubin dingin dengan tindihan tubuh pemuda yang tengah dilanda nafsu.
Pemuda itu dalam keadaan sadar saat melakukan hal bejat ini. Dia menyadari bahwa seharusnya dia tidak menjamah tubuh gadis ini. Gadis yang sudah menjadi teman baiknya.
Namun akal sehat pemuda itu sudah hilang entah ke mana saat melihat tubuh polos, tanpa memakai busana, milik gadis muda yang menyerahkan tubuh secara sukarela padanya.
"Pelan-pelan Drew," Pekik gadis muda itu dengan jemari mencengkeram erat bahu pemuda yang berada di atas tubuhnya.
Andrew semakin gelap mata saat sekelebat ingatan percakapan yang terjadi semalam kembali hinggap di pikirannya.
Ucapan terakhir yang diucapkan sang kekasih sebelum memutuskan hubungan mereka.
"Kakak tiriku ternyata menyukaimu. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini."
Ya, Andrew merasa frustrasi karena kekasih yang telah dia kencani selama setahun terakhir ternyata memilih untuk melepas dirinya demi kakak tiri sang kekasih. Perempuan yang Andrew kenal sebagai teman baiknya.
Andrew berteriak memanggil nama Anna saat mencapai puncak pelepasan padahal sosok Zefanya yang tengah dia gagahi. Bukan Anna.
Zefanya, nama gadis itu, meneteskan air mata setelah mendengar nama Anna yang Andrew teriakan.
Zefanya menahan dengan telapak tangannya saat tubuh Andrew hendak menyetubuhinya lagi.
"Stop it. Aku tidak mau melakukan ini lagi," Isak Zefanya mendorong tubuh kekar Andrew yang masih berada di atas tubuhnya.
Andrew mendengus jijik, mengangkat tubuhnya menjauhi tubuh Zefanya.
Andrew bangkit berdiri lalu membelakangi Zefanya saat mengenakan pakaiannya kembali.
Zefanya berusaha untuk bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk namun dia merasa tidak sanggup melakukan hal sederhana seperti ini. Pangkal pahanya terasa kebas dan area kewanitaannya terasa perih. Mungkin telah sobek akibat hujaman demi hujaman tanpa henti yang Andrew berikan. Bahkan punggung Zefanya terasa remuk redam. Dia tengah terbaring tanpa alas di atas ubin keramik yang dingin dan keras. Tanpa bisa bergerak leluasa, Zefanya kembali berbaring dan menutup matanya dengan lengan.
&+&+&
Saat Andrew sudah selesai berpakaian, dia memilih menoleh sekilas ke balik punggungnya. Menatap tubuh telanjang Zefanya dengan tatapan hina dan untung saja Zefanya tidak melihat tatapan tersebut.
"Aku tidak menyangka bahwa kamu ternyata berhati licik. Rela melakukan segala cara untuk mendapatkan diriku," Cemooh Andrew membuang wajah ke arah lain.
Zefanya mendengar ucapan sarkas yang keluar dari mulut Andrew namun dia memilih untuk diam.
Dia lelah dan menyesal.
"Walaupun kamu sudah memberikan seluruh hati dan tubuh secara cuma-cuma untuk diriku tapi cintaku hanya untuk Anna. Gara-gara kamu, Anna memutuskan hubungan kami. Dasar tidak tahu malu. Tega merebut kekasih adikmu sendiri. Pantas saja tidak ada yang menyayangimu secara tulus. Jangan pernah coba-coba untuk muncul kembali di hadapanku jika tidak ingin kubuat menyesal," Jemari Andrew mengambil sebuah kamera video yang dia taruh di sudut ruangan dan telah menyala sebelum masuk ke ruang kelas kosong ini.
Andrew melangkah pergi tanpa menoleh untuk melihat Zefanya.
&+&+&
Zefanya perlahan bangkit berdiri dengan tubuh gemetar setelah berhasil mengatasi rasa sedih dan malu. Air mata sudah tidak lagi keluar.
Dengan langkah tertatih, dia mengenakan pakaiannya kembali. Setelah yakin akan penampilannya, dia melangkah keluar dari ruangan yang terbengkalai ini.
Dia berjalan menuju toilet yang letaknya masih di dekat area sini.
"Kak Zeya, dari mana saja Kak? sedari tadi aku cariin. Aku sudah memberitahu Andrew mengenai perasaan yang Kak Zeya simpan selama ini," Ucap Anna dengan nada senang.
Zefanya enggan bertemu dengan adik tirinya. Namun siapa yang duga bahwa Anna mengikutinya masuk ke dalam pintu toilet.
"Astaga, wajah Kak Zeya kenapa? Kakak habis menangis ya. Andrew menolak Kak Zeya?" Cerocos Anna yang menatap terperangah ke pantulan cermin yang memiliki ukuran raksasa di hadapan mereka.
Zefanya menguatkan hatinya untuk menghadapi Anna. Zefanya selama ini iri dengan kehidupan Anna. Bahkan Andrew saja lebih memilih Anna dibandingkan Zefanya.
"Andrew menolak cintaku. Dia hanya menyukaimu. Bisa kamu tinggalkan Kak Zeya sendirian?" Zefanya menolehkan kepala ke sisi kirinya.
Anna pun ikut menoleh menatap penuh iba mendengar kisah percintaan Zefanya yang gagal.
"Pria di dunia ini bukan hanya Andrew seorang, Kak. Masih banyak pria lain yang jauh lebih baik dari Andrew. Bahkan bila Andrew merangkak kembali pada Anna, Anna akan menolaknya. Demi solidaritas antara saudara," Anna memberikan senyum pengertian melihat wajah pucat Zefanya.
Anna mengikuti keinginan Zefanya dengan melangkah pergi dari toilet.
&+&+&
Zefanya menatap pantulan wajahnya di kaca cermin berukuran besar di depan matanya.
Tidak terlihat lagi wajah merona yang tadi sempat Zefanya lihat melalui cermin mini didalam kotak bedaknya sebelum menemui Andrew. Kini wajah Zefanya terlihat mengenaskan. Bibirnya mengalami luka sobek, hidungnya merah akibat menangis, lalu matanya juga tampak kosong.
Zefanya tidak merasa puas setelah bercinta dengan pemuda idamannya. Yang dia rasakan saat ini hanyalah perasaan hina karena sudah menjadi perusak hubungan antara Anna dengan Andrew.
Sekalipun Zefanya tahu tabiat Anna yang suka gonta ganti teman kencan, namun Zefanya tahu bahwa Andrew tulus menyayangi Anna.
Zefanya membasuh wajahnya dengan air dari keran di wastafel toilet. Mengambil kotak bedak yang berada di dalam tasnya. Merias ulang wajahnya dengan peralatan make up sederhana yang dia bawa kemanapun. Hanya sekotak bedak.
Setelah melihat kembali pantulan diri dari cermin, Zefanya merasa lebih baik. Dia memutuskan untuk segera pulang ke apartemen orangtuanya. Zefanya berjalan dengan tertatih menuju parkiran kampus.
Memasuki mobilnya dengan gerakan gusar lalu mengendarai mobilnya melintasi jalanan dengan kecepatan penuh.
&+&+&
Anna pergi menemui Andrew di ruang kelasnya, namun dia tidak dapat menemukan sosok Andrew di sana.
Anna memutuskan untuk kembali ke area parkir. Menemui kekasih barunya. Seorang asisten dosen yang cukup tampan. Asisten dosen yang tadi sempat dia tinggal sebentar untuk ke toilet ternyata masih berada di dalam mobilnya saat Anna kembali.
Pria muda itu tersenyum hangat saat tatapan matanya dan Anna bertemu. Anna merupakan mahasiswa junior yang cukup cantik dan nakal. Pria muda itu cukup puas saat berhasil menaklukkan Anna dalam waktu singkat. Anna terlihat tergila-gila padanya.
"Maaf ya sayang, kamu sudah menunggu lama," Anna berpindah tempat duduk dengan mengangkat pantatnya.
Kini tubuh Anna sudah berada di atas pangkuan pria muda itu. Wajah mereka saling berhadapan dan aura hasrat terlihat jelas dari pantulan mata masing-masing.
Pria muda itu menyukai gadis muda seperti Anna yang agresif dan menggoda. Dia tidak peduli bila saat ini mereka sedang berada di area parkir gedung kampus.
Mereka memutuskan untuk saling memuaskan di atas jok mobil milik Anna.
&+&+&
Bab 1
Di sekitar area ruang tunggu bandara, terlihat kesibukan hilir mudik orang berlalu-lalang, beberapa orang tampak sibuk mengurus bagasi, berbincang santai, adapula yang sibuk dengan gadget milik mereka.
Tempat ini memang identik sebagai tempat di mana para penumpang beristirahat sejenak.
Nampak terlihat dari antara lautan manusia yang berada di area tunggu ini, seorang wanita muda yang tengah duduk bersama anak lelakinya menikmati free time (waktu santai).
Mereka sebenarnya sedang menunggu muatan bagasi namun karena ada kendala di porter (pengangkut barang) jadi mereka duduk sejenak di antara deretan kursi yang hampir sudah terisi penuh oleh penumpang lain. Lokasi kursi ini tidak jauh dari tempat mereka harus mengambil koper barang bawaan mereka.
"Aku lelah, Ma," Ucap Anze, anak lelaki yang tengah mengelap dahi dengan lengan telanjangnya.
Zefanya juga merasakan hal yang sama dengan yang Anze, putranya, rasakan saat ini.
Perjalanan dari Jakarta menuju Texas mengharuskan mereka berada hampir dua puluh tujuh jam di dalam pesawat. Walaupun ada transit dua kali selama perjalanan, namun hal tersebut tidak memberi pengaruh banyak.
"Maafkan Mama yang sudah memaksamu untuk ikut kemari. Mama tidak tenang bila harus meninggalkanmu di Jakarta hanya bersama Nanny," Zefanya menjulurkan tangan untuk mengambil tisue di dalam tas.
Mengulurkan tangan gesitnya untuk mengelap keringat di kening anak lelakinya.
Anze membiarkan saja saat tangan Mama Zeya, panggilan Zefanya, mengelap keringat di wajahnya di bawah tatapan heran orang-orang di sekeliling mereka.
"Sorry Miss, This boy is your brother?" Tanya seorang nenek yang sudah memiliki keriput di wajahnya, dia duduk di samping Zefanya.
Mata nenek tua itu memandangi interaksi Zeya dengan Anze.
Zeya menoleh ke sampingnya begitupula Anze yang ikut mengarahkan pandangan ke arah si nenek tua.
Zeya tersenyum geli mendengar anggapan si nenek tua yang baru pertama kali dia temui hari ini.
Zefanya menggeleng dan berujar, "Not, he isn't my brother".
Sedari usia tiga tahun, Anze sudah memperlajari bahasa asing yaitu bahasa Inggris. Dia diminta oleh Mama Zeya untuk menguasai bahasa yang diakui dunia sebagai bahasa internasional.
Jadi Anze paham dengan makna pembicaraan yaitu ucapan kata antara si nenek tua dengan sang mama.
#Kenapa Mama Zeya suka disangka oleh orang-orang sebagai Kakak perempuanku# Anze menggerutu dalam hati.
Wajah si nenek tua terlihat terperangah saat mendengar penyangkalan yang keluar dari mulut Zeya.
"So, he is your children? Unbelievable. You're so young, Miss."
Zeya memaklumi ketidakpercayaan yang terlihat jelas dari wajah si nenek tua.
"I'm pregnant when i finished from campus. Almost ten years ago. I'm thirty years old. Not young again," Kekeh Zeya menganggap usia dan wajahnya yang tidak serasi sebagai kelakar belaka.
Usia Zeya memang hampir menginjak tiga puluh tahun namun wajahnya masih tampak seperti anak sekolah menengah atas alias SMA.
"So beautiful. Where is your husband?" Kening nenek tua ini mengerut dan mengedarkan kepala ke sekelilingnya.
Zeya mengerti bahwa nenek tua ini hanya bermaksud bertanya namun setiap ada orang yang menyinggung masalah suami, hati Zeya terkadang masih menyisahkan rasa perih.
"I'm single. Not yet married," Zeya memberi senyum manis yang memperlihatkan dua cekungan di pipi Zeya yang membuat Zeya terlihat lebih cantik.
Ucapan Zeya membuat si nenek tua tidak berani untuk bertanya lebih lanjut. Nenek tua memilih menghentikan percakapan mereka.
Nenek tua itu balas memberi senyuman tulus pada Zeya dan Anze.
Anak lelaki Zeya pun merasa sedih saat mendengar pengakuan mengenai status pernikahan Zeya yang belum pernah menikah.
"Kamu bukan anak yang tidak diinginkan. Mama sangat sayang sama Anze. Anze juga pasti merasakan kalau Mama sayang Anze, bukan?" Bisik Zeya yang menyadari bahwa Anze sedang dilanda kesedihan saat ini.
Anze menatap wajah Mama Zeya dan tatapan mereka saling bertemu. Anze mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Mama Zeya.
Zeya mengacak rambut hitam tebal milik putranya dan mendaratkan kecupan di kening putranya.
&√&√&
Dari balik kaca jendela taxi yang mereka tumpangi, Zefanya menatap takjub akan perubahan yang terjadi pada kota Dallas selama sepuluh tahun terakhir sejak dia pergi meninggalkan kota ini.
Dallas merupakan salah satu kota dari kota bagian Texas - Amerika Serikat, tempat di mana Zefanya mengenal pria jahat itu.
Andrew Park, lelaki pertama yang memperlakukan Zefanya dengan begitu perhatian ternyata tidak lebih dari seorang pria jahat.
Tega menyetubuhi Zefanya secara kasar di atas lantai ruangan kosong kampus lalu mencampakkan dirinya begitu saja.
Sekilas memori buruk tentang perlakuan Andrew hinggap di otak Zefanya saat taxi yang mereka tumpangi melintas di depan gedung universitas Dallas.
"Ma, masih jauhkah perjalanan kita menuju tempat menginap?" Tanya Anze yang juga ikut melihat pemandangan kota Texas dari balik kaca jendela mobil.
Suara Anze menyadarkan Zeya untuk kembali ke dimensi waktu saat ini membuat Zeya menutup jalan pikirannya atas masa lampau.
"Sebentar lagi kita akan segera tiba di hotel yang sudah Mama booking via online," Sahut Zeya menoleh ke penumpang yang duduk di sampingnya.
Putranya itu terlihat antusias saat memandangi jalanan kota Dallas.
"Kamu suka dengan kota ini?" Tanya Zeya.
Supir taksi yang membawa mereka sedari tadi mencuri dengar percakapan dua penumpang yang duduk di kursi belakang namun dia tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan gadis muda dan anak lelaki.
"Lumayan kalau untuk liburan. Anze lebih suka tinggal di Jakarta. Ya, walaupun jalanan kota Jakarta lebih sering dilewati sikomo," Kekeh Anze.
"Sikomo?" Mata Zeya membelalak terkejut.
#Kenapa putraku bisa mengenal bahasa umpatan sekasar itu# Keluh Zeya mendengar kosakata bahasa Anze.
Anze mengalihkan pandangan kembali dari kaca jendela mobil ke wajah Mama Zeya. Anze melepas tawa lebar saat sukses membuat Mama Zeya bingung.
"Sikomo itu macet, Mama."
Mendengar istilah kata macet yang dipelesetkan menjadi Sikomo, tentu membuat semua orangtua menjadi was-was. Apalagi Zeya yang sibuk bekerja selama ini. Zeya hanya takut Anze telah salah dalam memilih teman.
"Ya ampun Anze. Kamu hampir buat Mama meledak marah," Zeya mengurut dadanya seolah dapat menurunkan frekuensi kemarahan.
"Maaf ya Ma. Makanya Mama Zeya perlu belajar bahasa slang," Ujar Anze seolah memberi nasihat untuk Mama Zeya.
Zeya hanya bisa menggeleng melihat tingkah maupun ucapan putranya.
&√&√&
Ponsel Zefanya berdering saat Zefanya dan Anze masih berada di dalam taxi yang mereka tumpangi.
Zefanya merogoh saku tas bepergiannya untuk mengambil ponsel. Mata Zefanya melihat ID caller sebelum mengangkat panggilan masuk yang ternyata berasal dari Anna, adik tiri Zefanya.
"Dari Aunty Anna," Ucap Zeya memberitahu Anze yang tengah mengangkat dua alis mata. Seakan bertanya mengenai siapa si penelepon.
"Hi An, kami sudah hampir sampai di hotel. Ada apa?" Tanya Zeya tidak ingin berbasa-basi.
"Kak Zeya, besok pagi jam tujuh acara pemakaman Daddy. Jangan telat datang ya. Di Dallas Crematory lantai dasar. Perlu aku minta Andrew menjemput kalian?"
Deg...dada Zeya serasa dihantam palu raksasa saat mendengar nama Andrew dari mulut Anna.
#Apakah Andrew Park yang dimaksud Anna# Pikiran Zeya saat mendengar nama Andrew yaitu langsung berlari ke sosok ayah biologis Anze.
"Kak Zeya..." Tegur Anna dari sambungan telepon.
Mendengar keheningan tanpa sahutan balasan dari Zefanya, tentu saja membuat Anna yang sedang berada di ruang tamu apartemen bertanya heran.
"Oh tidak perlu. Kami akan hadir tepat waktu. Cuma kami akan berdiri agak jauh, mengingat keluarga Papa tidak menyukaiku selama ini," Ucap Zeya.
Anna memaklumi sikap yang diambil Zeya untuk menjaga jarak dari keluarga Daddy. Anna tidak ingin Zeya merasa tidak nyaman menghadiri upacara kremasi Daddy.
"It's okay. Aku bisa memaklumi. Kamu tahu kalau Andrew kembali ke Texas?" Ucap Anna terdengar antusias.
Zeya bisa memaklumi sikap Anna yang tampak antusias. Mengingat Anna saat ini seorang janda. Anna mungkin ingin kembali merajut kasih dengan Andrew. Jika Andrew yang Anna maksud sama dengan Andrew yang sering berkeliaran di otak Zeya.
Zeya menggeleng.
"Kak Zeya."
Zeya merutuki kebodohannya yang menggeleng kepalanya. Tentu saja Anna tidak bisa melihat gelengan kepalanya. Mereka sedang melakukan panggilan telepon bukan video.
"Aku tidak tahu. Andrew itu..." Ucapan Zeya terpotong saat Anna mengambil alih percakapan mereka.
"Andrew mantan kekasihku. Pria yang pernah Kak Zeya taksir," Kekeh Anna terdengar tanpa beban.
Ingin rasanya Zeya meminta supir taksi untuk membawa mereka kembali ke bandara.
Seorang Zefanya masih belum siap untuk bertemu Andrew kembali. Kenapa takdir seolah begitu kejam pada seorang Zefanya karena Andrew yang Anna maksud adalah Andrew Park.
&√&√&
Bab 2
Semenjak menjadi orangtua tunggal, Zefanya memiliki kebiasaan baru yang tidak dia lakukan semenjak remaja yaitu mudah terbangun di jam tertentu yang dia inginkan. Termasuk pagi ini.
Sinar mentari bahkan belum muncul dari tempat peraduannya saat Zefanya bangun dari atas tempat tidurnya.
Dia menoleh ke arah samping kanan ranjang, tempat di mana putranya masih tertidur lelap.
Entah harus merasa bersyukur atau sedih. Ketika menatap wajah bayi Anze untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa Anze sangat mirip dengan wajah Zefanya. Hanya rambut dan postur tulang Anze yang mirip dengan Andrew.
"Ma..." panggil Anze menggeliat tubuhnya dengan mata terbuka lebar.
Karena melamun, Zefanya tidak menyadari bahwa anak lelakinya sudah bangun tidur.
"Selamat pagi, Anze-nya Mama Zeya. Tumben kamu bangun sendiri tanpa dibangunkan Mama atau Nanny," Zeya menunduk untuk mengecup pipi tembab Anze.
Anze tersipu malu mendengar sindiran Mama Zeya. Anak kecil itu tahu kalau Mama Zeya sering kesal karena Anze malas bangun pagi.
"Anze tidak bisa tidur semalaman, Mama. Anze kangen rumah," Rengek Anze mendusel di dada Zeya.
#Bukan hanya kamu yang tidak bisa terlelap, Nak. Mama juga#
Zefanya mengusap kepala anaknya dengan rasa sayang. Menyalurkan kasih sayangnya melalui usapan.
Anze mendekap pingang Mama Zeya dengan erat, menduselkan wajahnya di dada sang mama.
Zefanya baru saja kehilangan pekerjaan tetapnya di Jakarta jadi dia hanya bisa menyewa kamar hotel termurah di wilayah Dallas.
Mata Zefanya menatap ke sekeliling interior kamar hotel tempatnya menginap. Memang terlihat kusam dan kumuh. Cat dinding yang terlihat mengelupas. Pendingin ruangan yang tidak berfungsi baik, serta kasur yang kasar. Tapi setidaknya Anze tidak mengeluh dengan keadaan kamar ini. Zefanya sengaja memilih kamar ini untuk menginap selama tiga malam karena masih bisa terjangkau oleh uang Zefanya.
"Mama mandi duluan ya. Kamu bisa berbaring lagi. Nanti kalau mama sudah selesai, mama akan membangunkan Anze," Zeya membaringkan tubuh anak lelakinya kembali ke atas ranjang.
Anze mengangguk dan memejamkan matanya kembali.
&√&√&
Zefanya bersama Anze tiba tepat waktu bersamaan dengan kehadiran keluarga besar papa Anna yang ternyata baru tiba juga di lokasi krematorium. Sebuah gedung luas yang terletak dekat dengan laut, dipergunakan untuk membakar tubuh jenazah yang sudah meninggal.
Makna dari kremasi itu sendiri adalah untuk menjadikan tubuh manusia menjadi abu dan abu tersebut dilarung ke laut lepas.
*Manusia terbuat dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu*
Mereka semua memang menganut agama katolik dan agama mereka pun tak melarang umat katolik untuk mengkremasikan tubuh orang yang telah berpulang.
Zefanya memilih untuk berdiri di sudut ruangan. Tertutup oleh tiang putih besar yang diperuntukkan untuk menyangga bangunan.
Baik Zefanya dan Anze kompak memakai kemeja putih dipadukan dengan celana hitam. Kedua ibu dan anak itu juga memakai kacamata hitam.
"Ma, kenapa kita tidak menghampiri Grandpa?" Tanya Anze mengamati orang-orang di sekitar aula.
Sebut saja Zefanya sebagai sosok pengecut. Zefanya tidak disukai oleh keluarga besar sang papa. Bahkan papa kandung Zefanya pun tidak begitu peduli pada Zefanya. Zefanya hanya takut merasakan kembali perasaan tertolak.
"Mereka tidak mengharapkan kehadiran kita, Anze," Mata Zefanya masih mengamati prosesi acara pelepasan jenazah.
Di dekat peti mati, nampak terlihat mama tiri Zeya bersama adik-adik papanya. Zeya masih belum melihat sosok Anna di area aula ini.
"Lalu untuk apa kita datang kemari jika kita tidak diinginkan, Mama."
Pertanyaan Anze memang terdengar masuk akal bahkan Zefanya bangga bahwa anak lelakinya paham dengan makna ucapannya.
Saat Zefanya hendak menjawab pernyataan Anze, sepasang manusia melewati tempat mereka berdiri.
Kedua orang itu tidak menyadari keberadaan Zeya dan Anze di sisi lain tiang.
Dua orang tersebut saling berangkulan. Tangan si pria berada di pinggang si wanita sementara tangan si wanita menggenggam tangan si pria yang melingkari pinggangnya.
Dua sosok yang Zeya tunggu akhirnya muncul di tempat ini.
"Bukankah itu aunty Anna. Apakah itu suami baru aunty Anna. Kita hampiri aunty Anna yuk," Anze meraih jemari tangan Zeya. Berusaha menarik Zeya agar bergerak dari posisi mereka saat ini.
Namun Zeya bergeming. Dia memaku tubuhnya agar tetap diam di tempat.
#Mama tidak mau Nak# Ingin rasanya Zeya memekik kencang saat menghadapi dilema seperti ini.
"Mama tidak mau Nak. Kita tetap di sini saja," Ucap Zeya terdengar tegas.
Anze pun tetap tidak mengerti mengapa Mama Zeya menghindari Aunty Anna. Anze selama hidupnya mengenal Aunty Anna-nya sebagai sosok bibi yang baik hati.
"Ayo Ma." Anze menarik-narik tangan Zeya.
"Don't do this Anze," Zeya menyentak jemari tangannya hingga terlepas dari genggaman Anze.
"What's happen with you, Mama?" Airmata Anze mulai mengalir turun di pipi tembabnya.
Zeya yang berhati lemah pun tidak tega melihat Anze menangis karena dibentak olehnya.
Zeya pun turut ikut menangis.
"Maafin Mama karena kali ini mama belum bisa memenuhi permintaanmu," Zeya merangkul pundak putranya.
Seharusnya Zeya mengikuti prosesi pembakaran jenazah sang papa hingga usai namun melihat kondisi Anze yang dilanda kesedihan, Zeya memutuskan untuk meninggalkan tempat krematorium saat ini.
Tidak ingin semakin sakit hati melihat kedekatan Anna dengan Andrew, Zeya tidak menoleh kembali ke arah balik punggungnya.
Sementara itu, Andrew mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sosok Zefanya. Wanita yang pernah dia sakiti di masa kuliahnya. Kakak dari Anna. Anak perempuan pertama dari almarhum. Namun Andrew tidak menemukan sosok Zefanya di antara para pelayat.
Ketika dia menoleh ke arah pintu, dia menatap terpaku punggung seorang wanita sedang bergandengan tangan dengan anak lelaki kecil berjalan keluar dari aula krematorium.
Andrew merasa mengenal akrab punggung wanita itu, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengejar wanita itu. Dia takut kecewa lagi bila mendapati bahwa wanita itu ternyata bukan sosok Zefanya yang dia cari.
#Lagipula Zefanya belum menikah. Tidak mungkin wanita itu Zeya-ku# Pikir Andrew.
"Kamu kenapa Drew?" Bisik Anna yang berdiri di samping Andrew.
"Aku tidak menemukan Zeya di antara para pelayat," Andrew ikut medekatkan tubuhnya agar dapat berbisik dengan Anna.
"Kak Zeya pasti datang. Dia sudah berada di Dallas sejak kemarin."
Ucapan Anna membuat Andrew menyadari bahwa kemungkinan itu ada.
Kemungkinan bahwa wanita yang dia lihat tadi itu adalah Zeya-nya.
Andrew berlari keluar bagai kesetanan. Anna hanya menatap bingung melihat tingkah aneh Andrew. Anna tidak ingin mengejar Andrew. Anna memilih tetap berdiri di posisinya untuk melihat prosesi kremasi.
Setelah berada di luar gedung sampai memutari lahan parkir, Andrew tidak menemukan sosok wanita bersama anak kecil.
Andrew kembali berlari, kali ini dia menuju ke arah depan gerbang gedung. Sayangnya Andrew terlambat lima menit karena Zeya bersama Anze sudah pergi menumpang taksi.
"Zeya...." Pekik Andrew berdiri di depan gedung terlihat frustrasi.
&√&√&