Bab 2

Setelah sarapan. Zeva berniat untuk segera pergi ke Rumah Makan Seafood tempatnya bekerja. Setengah jam lagi dia harus masuk, dia tidak bisa terlambat karena manager Rumah Makan itu sangat galak pada Zeva.

"Kenapa buru-buru? Kamu ada kegiatan lain?" Tanya Aliza

"Saya harus bekerja, saya tidak bisa terlambat"

"Di sekolah?"

"Bukan, di Rumah Makan Seafood"

"Dimana lokasinya?"

"Samping Universitas Madani" jawab Zeva

Aliza nampak terdiam. "Biar saya antarkan, kebetulan saya mau ke Universitas juga"

Mata Zeva membelalak. "Oh ya? Seriusan?"

"Iya, masa saya bohong. Ayo, nanti kamu terlambat"

"Terima kasih banyak, Aliza" ucap Zeva. Dia bersyukur sekali karena bertemu dengan orang baik seperti Aliza. Ia kepikiran dengan driver tadi pagi, dia bersedekah dan sekarang ia mendapatkan hasil dari sedekahnya, dengan tidak perlu mengeluarkan uang yang lumayan besar untuk ke tempat kerja selanjutnya.

Di perjalanan menuju ke Rumah Makan Seafood, ponsel Zeva bergetar. Ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan dan menelfon itu bergetar. Zeva mengeluarkannya dari tas, untuk mengecek siapa yang menghubunginya.

Mata Zeva membelalak. "Hah? Ti- tidak mungkin, ini tidak salah?" Lirihnya tidak percaya dengan apa yang ia lihat, dan ia kembali menatap layar ponselnya, membuat Aliza menatapnya.

"Ada apa Zeva?" Tanya Aliza

Zeva menggelengkan kepalanya. Mata Zeva semakin melebar saat melihat nama di layar ponselnya. 'Dosen Pembimbing Utama is Calling'

Ya, benar sekali! Dosen Pembimbing Utama Zeva yang terkenal killer dan dingin itu menelfonnya. Arez Bernando Buana, pembimbing Utama Zeva menghubunginya secara tiba-tiba. Zeva sama sekali tidak percaya jika dosennya tu akan menghubunginya, rasanya ia seperti sedang bermimpi di siang bolong.

"Apa saya mimpi? Aneh sekali kalau beliau sampai menelfon ku!" gumam Zeva mencubit pipinya sendiri, dan berakhir ia meringis karena sakit.

"Kenapa tidak di angkat Zeva? Angkat saja, mungkin penting" ucap Aliza

Zeva mengangguk, saat ia akan menekan tombol hijau di ponselnnya, panggilannya terputus. Zeva menghela napas, ingin menelpon balik namun dia tidak memiliki pulsa. "Ada apa ya sebenarnya?" Ia terus bertanya-tanya dengan rasa gelisah, dan ponselnya kembali bergetar membuat napasnya seakan berhenti.

"Ha- Halo, Pak. Selamat Pagi" salam Zeva dengan suara lirih dan terdengar gugup, ia berusaha berbicara setenang mungkin. Ia berhati-hati karena yang ia temani berbicara ini bukan lah dosen biasa.

"Belinda Zevaya, benar?" Tanya Arez dengan suara penuh penekanan, terdengar dingin dan ketus dari seberang sana. Tanpa membalas salam Zeva, pria itu langsung to the point menyebutkan nama lengkap Zeva, tanpa ada satu kata pun yang salah.

"I- Iya, Pak. Benar, saya Belinda Zevaya" jawab Zeva semakin gugup.

Wajar bukan? Memangnya siapa yang tidak gugup dan panik, jika tiba-tiba saja dihubungi oleh seorang dosen yang paling tampan, killer dan dingin seuniversitas?

Sepertinya Zeva tidak perlu menguraikan lebih panjang lagi bagaimana karakter dari dosennya itu. Pria itu terkenal sangat dingin, cuek dan ketus juga sangat mengerikan bagi Zeva. Bahkan dosennya yang bernama Arez ini terkenal dengan mulutnya yang pedas saat menyindir siapa pun.

Terdengar helaan napas berat di seberang sana. "MASALAH KAMU SEBENARNYA APA ZEVA?" Teriakan Arez membuat Zeva menjauhkan ponselnya.

"ZEVA, SAYA SUDAH MENUNGGU BEBERAPA MINGGU SKRIPSI KAMU. KENAPA TIDAK DATANG MEMERIKSA SKRIPSI MU HAH? APA KAMU TIDAK INGIN LULUS DARI KAMPUS? APA PERLU SAYA PERINGATKAN SEKALI LAGI BELINDA ZEVAYA, BAHWA SEMESTER DEPAN ADALAH SEMESTER TERAKHIR KAMU BERADA DI KAMPUS INI SEBELUM KAMU BENAR-BENAR DI DROP OUT DARI KAMPUS" ucap Arez dengan nada tinggi tanpa jeda sama sekali.

Zeva menelan salivanya kasar. Aliza bahkan bisa mendengar suara pria itu yang memarahi Zeva. Arez seakan tidak memberikan kesempatan untuk Zeva hanya untuk bernapas sebentar.

Zeva memejamkan matanya beberapa detik, dan mengambil napas dalam sebelum akhirnya ia memberikan respon dari ucapan Arez.

"Sebelumnya maafkan saya karena membuat Bapak sampai menunggu. Sebenarnya begini Pak... Sa- Saya bukannya tidak ada niatan untuk lulus dengan cepat. Saya juga tahu jika semester depan sudah menjadi semester terakhir bagi saya, tapi saya..." ucapan Zeva terhenti karena Arez langsung memotongnya.

"Sudah Zeva, saya tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan alasan atas kemalasan mu itu yang terlalu bertele-tele. Begini saja Zeva, jika memang kamu ingin segera lulus, saya bersedia membantu mu. Saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang juga!" seru Arez dengan tegas.

Mata Zeva membelalak. Ia bahkan belum menjelaskan semuanya, namun Arez sudah berpikiran jika dirinya hanya membuat alasan saja. Belum juga Zeva merespon, Arez langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Tut.. Tutt..

"Ya Allah, menyebalkan sekali" umpat Zeva mengusap wajahnya kasar.

Zeva kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia di buat semakin bingung sekarang, dia harus bekerja di Rumah Makan Seafood, dia tidak punya waktu lagi. Tetapi, di sisi lain, dia juga tidak bisa mengabaikan perintah dari Arez begitu saja, apalagi pria itu sudah mengatakan akan membantunya.

Zeva menghela napas berat, ia menggaruk alisya yang tidak gatal. Bingung dengan keadaan yang ia hadapi saat ini. Namun, di satu sisi dia juga merasa senang karena masih ada Arez yang mau peduli dan perhatian padanya di saat dirinya sudah hampir menyerah dengan kuliahnya.

"Kenapa Zeva? Apa ada masalah?" Tanya Aliza

Zeva menganggukkan kepalanya. "Aku harus ke kampus, dosen pembimbing ku sudah menghubungi ku dan meminta ku untuk ke ruangannya sekarang juga"

"Kamu kuliah?" Tanya Aliza yang lumayan kaget.

"Iya" jawab Zeva lirih.

"Hebat, kamu bisa kuliah sambil bekerja. Dimana kampus mu? Biar aku antarkan"

"Di Universitas Madani"

Aliza tersentak, "Kamu kuliah disana?" Tanyanya sedikit kaget, bukan apanya, Universitas Madani adalah Universitas Swasta, dan biaya kuliah di sana tidak lah murah.

"Saya dapat beasiswa, jadi saya bisa berkuliah disana. Namun beasiswa saya di cabut, karena saya sudah terlambat menyelesaikan kuliah saya dari waktu yang ditetapkan pihak kampus" jelas Zeva

"Itu yang buat kamu sampai bekerja?"

"Ya, bisa di bilang begitu"

"Aku bangga dengan kamu. Semoga kamu bisa cepat selesai, dan bisa bekerja di kantoran"

"Aamiin. Makasih"

Setibanya di halaman parkiran kampus. Zeva berpamitan pada Aliza. Terakhir kali ia menginjakkan kakinya di kampus, saat ia konsultsi masalah skripsinya dengan Arez, dan itu sudah tiga minggu yang lalu.

Zeva bergegas menuju ke ruangan Arez, dan Zeva berdiri di depan ruangan pria itu tepat setengah jam setelah pria itu menghubunginya untuk datang.

Zeva menarik napas dalam, sembari tangan satunya menggenggam sweater pink yang ia gunakan tadi.

Tok. Tok. Tok

Zeva mengetuk pintu lebih dulu, sebelum ia membuka pintu.

"Selamat siang Pak Arez" ucap Zeva dengan mata yang langsung tertuju pada meja pria itu yang dipenuhi dengan banyaknya berkas dan barang lainnya. Di atas meja juga terdapat papan nama yang bertuliskan Arez Bernando Buana, MBA.

"Zeva.."

"Iya, Bu. Pak Areznya dimana ya, Bu?" Tanya Zeva pada asisten Arez

"Beliau ada jadwal mengajar sejak setengah jam yang lalu, kamu mau bimbingan?"

"Iya, Bu"

"Ya sudah, tunggu saja diluar. Tadi Pak Arez sudah berpesan jika kamu datang suruh menunggu dulu diluar"

Zeva menganggukkan kepalanya. Ia duduk dengan gelisah di koridor. Ia lupa jika ia harus memberikan kabar pada manager di Rumah Makan Seafoodnya, sehingga ia langsung mengirimkan pesan pada managernya itu, dengan mengatakan ia harus izin sehari, dan atas izinnya itu ia harus menerima konsekuensi jika gajinya akan di potong tanpa adanya toleransi lagi. Ia pun bergegas ke toilet lebih dulu, untuk mencuci muka.

"Nando ada?" Tanya seorang wanita yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu.

"Tidak ada, Nyonya Aliza. Beliau lagi mengajar"

"Baiklah, saya akan tunggu" Aliza mendudukkan dirinya, di depan meja kerja Arez dan mengeluarkan alat makeupnya.

Regita___ Asisten dosen Arez hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa juga meminta Aliza untuk keluar.

Bab 3

Arez selesai mengajar, ia segera menuju ke ruang kerjanya. Dari kejauhan dia melihat koridor di depan ruangannya kosong, tak seorang pun ada yang duduk di sana. Padahal ia sudah meminta asistennya untuk meminta Zeva menunggu di depan.

Arez langsung membuka pintu. "Dia dimana? Belum datang juga? Kan saya minta dia menunggu di depan!" cecar Arez pada Regita.

"Saya sudah memintanya tunggu di depan, Pak" jawab Regita lirih.

"Ada apa sih? Kenapa marah-marah?" Aliza mendekati Arez dan langsung mencium pipi pria itu.

"Jaga sikap mu, Aliza. Ini di kampus!" tegur Arez

"Apaan sih, Nando. Aku kan..."

"Keluar dulu Regita, cari dia dan suruh keruangan saya sekarang!" titah Arez

Regita mengangguk dan segera keluar dengan kesal. Ia berkeliling fakultas untuk mencari keberadaan Zeva.

"Bikin apa kamu disini?" Tanya Arez ketus pada mantan istrinya itu. Ia mendorong Aliza untuk menjauh darinya, dan ia duduk di kursi kebesarannya.

"Memangnya tidak boleh aku kesini?"

"Apa saya perlu menjawabnya, Nyonya Aliza?" Tanya Arez menaikkan salah satu alisnya.

Aliza mengerucutkan bibirnya. "Aku minta maaf, Nando. Sudah empat tahun berlalu, dan kamu masih..."

"Masih apa, hah?" Arez menaikkan nada suaranya.

"Masih mengingatnya, aku sudah minta maaf dan aku berjanji untuk berubah. Kamu tidak kasihan dengan anak kita..."

"Kasian? Sekarang saya tanya balik, kamu kasian tidak sama anak ku? Tidak kan? Jangan bawa-bawa anak ku pada masalah mu itu. Kami sudah hidup bahagia, dan tidak perlu mengusik anak ku!"

"Dia anak ku juga, Nando"

"Kau hanya melahirkannya, tapi aku lah yang merawat dan menjaganya sejak kau meninggalkannya Aliza. Jangan lupakan itu!"

Aliza terdiam, dia kehabisan kata-kata. Memelas tidak akan membuat hati Arez Bernando Buana luluh atas pengkhianatan yang pernah ia lakukan empat tahun lalu.

"Pergi lah, saya banyak pekerjaan!" usir Arez membuka laptop di hadapannya.

"Nando..."

"Pergi, Aliza. Jangan sampai saya bersikap kasar padamu!" Mata Arez melotot, membuat Aliza memundurkan langkahnya dan pergi dengan perasaan kesal dari ruangan Arez.

Arez menyenderkan tubuhnya di kursi saat melihat Aliza meninggalkan ruangannya. Seketika teringat dengan mahasiswinya yang ia minta untuk menunggu di ruangannya. Arez keluar, dan mencari Regita. "Dia belum ada juga? Panggil Zeva sekarang. Dalam waktu 5 menit dia sudah harus ada di ruangan ku!" Titah Arez

Regita yang melihat wajah Arez dingin pun menegang, ia mengangguk dan berlari kecil mencari keberadaan Zeva, meskipun dia tidak tahu ke mana gadis itu pergi. Zeva keluar dari toilet, dari seberang koridor dia melihat Regita. Regita pun ikut menatapnya tak senang, dengan tajam.

"ZEVA KESINI SEKARANG!" Teriak Regita dengan suara tinggi.

Zeva berlari kencang. "I- iya Bu?"

"Darimana saja kamu hah? Pak Arez sudah memintamu menunggu, tapi kau malah pergi"

"Saya dari toilet Bu, bukannya Pak Arez masih di kelas? Waktu mengajarnya selesai sejam lagi kan?"

"Memangnya siapa kamu, mau atur jam mengajarnya Pak Arez. Sekarang ke ruangannya. Dalam waktu 5 menit kamu tidak tiba di sana, kamu tidak akan lulus!"

"Ba-baik Bu" Zeva berlari menuju ke ruangan Arez.

Tok

Tok

"Selamat pagi, Pak"

Arez mendongakkan kepalanya, tanpa membalas salam dari Zeva. Dengan perasaan takut Zeva mendekat dan hanya berdiri saja.

"Kau mau berdiri sampai besok?" Suara Arez terdengar dingin.

Zeva menelan salivanya kasar. "Sa-saya..."

"Duduk!" Titah Arez

Jantung Zeva berdetak semakin kencang, telapak tangannya mulai berkeringat.

"Apa alasan mu kali ini Zeva?" Tanya Arez menatapnya dengan dalam.

"Laptop saya rusak, Pak... Saya tidak bisa membuat skripsi saya..."

"Kenapa tidak diperbaiki?"

"Saya sedang menabung buat perbaiki laptop saya, Pak. Itulah kenapa saya bekerja, bukan keinginan saya juga untuk bermalas-malasan mengerjakan...."

"Sudah, semua mahasiswa seperti kamu selalu menggunakan alasan itu"

"Tapi saya betul-betul..."

"Kapan kamu bisa selesaikan skripsi kamu?"

"Saya tidak tau pasti, Pak"

"Yakin jawaban kamu itu? Kamu tau kan ini semester terakhir kamu?"

Zeva mengangguk, matanya berkaca-kaca mengingat perjuangannya selama ini bisa berkuliah. Namun, dia juga sudah putus asa, jika memang dia tidak bisa lulus.

"Saya pasrah, Pak. Saya tidak bisa memaksa, saya sudah berusaha untuk menyelesaikan skripsi saya..." Tangis Zeva pecah.

Arez terdiam, dia mendorong kotak tissue ke depan Zeva. Menunggu hingga gadis itu tenang. "Saya berniat membantu, tapi kembali ke diri kamu sendiri, kamu bisa menyelesaikan skripsi kamu atau tidak!"

"Saya harus bekerja, Pak"

"Lepaskan pekerjaan mu dan fokus untuk skripsimu"

"Tidak bisa, Pak. Saya harus bekerja untuk bisa membayar biaya skripsi dan perbaikan laptop saya"

"Kamu bekerja sampai jam berapa?"

"Sampai jam 12 malam Pak"

"Apa? Terus kamu yakin bisa menyelesaikan skripsimu itu?"

"Saya tidak yakin, Pak" jawab Zeva menghela napas.

Arez pun ikut menghela napasnya kasar. "Ya sudah, saya ada tawaran kerjaan buat kamu. Hanya dari pagi sampai sore, malam hari kamu bisa gunakan untuk mengerjakan skripsi mu"

"Pekerjaan apa itu, Pak?"

"Bekerja dirumah saya"

Zeva mengerutkan dahinya. Bekerja dirumah seorang duda tampan? Yang benar saja.

"Tapi Pak..."

"Jangan berpikiran yang macam-macam. Kerja kamu hanya menjaga putra saya setelah dia pulang sekolah"

"Maksud bapak saya jadi baby sitter?"

"Ya, bisa di bilang begitu. Kamu suka dengan anak kecil kan?"

"Suka, Pak. Saya juga bekerja di SD"

"Bagus. Kamu bisa perbaiki laptop kamu, sekarang ikut saya ke rumah!"

"Sekarang banget, Pak? Tapi, saya harus pergi bekerja"

"Siapa yang menyuruhmu bekerja ditempat lain? Keluar dari pekerjaanmu karena sekarang kamu bekerja di rumah ku!" Tegas Arez

"Memangnya gaji saya berapa pak?"

"Berapa yang kamu mau?" Tanya Arez kembali.

Mata Zeva membelalak. Mana dia tau berapa gaji yang harus ia minta. Zeva pun memilih untuk diam dan tidak menjawab apapun.

"8 juta? Atau kurang? 10 juta?"

Mata Zeva semakin melebar. "Bapak yang benar saja, masa gaji baby sitter sampai 10 juta pak? Apa iya?" Tanya Zeva tak percaya.

"Ya tidak tau, saya juga tidak pernah menggunakan jasa baby sitter. Bagaimana? 10 juta per bulan, deal?"

"Deal, Pak. Saya mau.." jawab Zeva semangat. Seketika rasa sedih dari sorotan matanya pun hilang.

"Oke! Tapi, saya boleh tanya sesuatu?"

"Tanya apa Pak?"

"Maaf sebelumnya, tapi orang tua kamu kemana? Kenapa kamu harus sampai bekerja paruh waktu untuk mencukupi kebutuhan hidup kamu? Atau kamu selama ini sering berfoya-foya?"

Zeva menggelengkan kepalanya lemah. "Sa-saya ini anak dari korban broken home, Pak. Sejak saya SMA orang tua saya memilih untuk bercerai. Awalnya saya masih tinggal dengan Mama saya, tapi karena ada satu hal yang membuat diri saya terancam untuk tinggal di sana, saya memilih untuk sendiri. Saya juga sudah berusaha untuk meminta uang Papa saya, namun jangankan direspon, telepon dan pesan saya pun tidak ada yang di balas sama sekali" Zeva tersenyum getir, matanya kembali berkaca-kaca mengingat bagaimana orang tuanya tega membiarkannya hidup sendirian tanpa siapa pun.

Arez menatap Zeva dalam. "Kamu tidak mengarang cerita, agar saya iba dengan kamu kan?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED